• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMUNIKASI DAN KEPUASAN KERJA P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KOMUNIKASI DAN KEPUASAN KERJA P"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMUNIKASI DAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI

TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA KANTOR INSPEKTORAT

PROVINSI SULAWESI TENGGARA

OLEH : JACOB BREEMER

NIDN: 0921126803

ABSTRAK

Pengaruh Komunikasi i dan Kepuasan Kerja Pegawai Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Pembimbing : Muhammad Syarief dan Nasrul.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) pengaruh secara bersama – sama antara komunikasi organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. (2) pengaruh secara parsial antara komunikasi organisasi terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. (3) pengaruh secara parsial antara kepuasan kerja terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data auditor sebanyak 52 dan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.

Hasil penelitian diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain (1) Komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama (simultan) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Komunikasi yang baik dalam iklim organisasi dan rasa puas dalam melaksanakan pekerjaan audit akan meningkatkan kinerja auditor. (2) Komunikasi organisasi yang diukur dengan subvariabel kepercayaan, pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam komunikasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. (3) Kepuasan kerja yang diukur dengan subvariabel kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap sikap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kata Kunci. Komunikasi Organisasi, Kepuasan Kerja Dan Kinerja Auditor.

PENDAHULUAN

Dalam sebuah organisasi, komunikasi organisasi akan menggambarkan suasana kerja organisasi atau sejumlah perasaan dan sikap -sikap orang yang bekerja dalam organisasi. Dalam penelitian ini yang dimaksud iklim komunikasi organisasi merupakan suatu citra makro, abstrak dan gabungan dari suatu fenomena global yang disebut komunikasi organisasi (Muhammad 2007: 86-87). Penelitian yang dilakukan Reeding (2010) menunjukkan bahwa iklim komunikasi lebih luas dari persepsi pegawai terhadap kualitas hubungan dan komunikasi dalam organisasi serta tingkat pengaruh dan keterlibatan. Reeding juga mengatakan bahwa komunikasi organisasi jauh lebih penting daripada keterampilan atau teknik - teknik komunikasi semata - mata dalam menciptakan suatu organisasi yang efektif (Kriyantono 2009 : 316). Hal ini sama seperti yang terjadi pada Inspektorat Daerah yang menggunakan komunikasi untuk berbagai tujuan sesuai dengan lingkup kerja Inspektorat Daerah.

(2)

tanggapan seseorang terhadap beragam lingkungan kerja yang dihadapinya. Kepuasan kerja dan komunikasi yang positif akan menciptakan kinerja pegawai dalam suatu organisasi dengan baik. Organisasi merupakan kualitas yang relatif abadi dari lingkungan internal organisasi yang dialami oleh anggota - anggotanya, mempengaruhi tingkah laku mereka serta dapat diuraikan dalam istilah nilai-nilai suatu set karakteristik tertentu dari lingkungan. Pada inspektorat, sebagian pegawai diberikan jabatan auditor untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja keuangan pada pemerintahan daerah. Komunikasi yang terjadi pada para auditor komunukasi berdasarkan jenis pekerjaan yang dilaksanakan.

Kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai yang muncul dari kombinasi berbagai faktor, diantaranya kepuasan dengan pekerjaan yang dikerjakan, gaji yang diterima, sikap atasan dan perilaku rekan sekerja. Hal ini diyakini banyak organisasi sebagai faktor utama kepuasan kerja auditor pada inspektorat, karena ada sebagian pegawai yang merasa bahwa kepuasan dari sebuah pekerjaan diperoleh ketika mereka telah menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya sebagai tugas pokoknya. Terdapat berbagai faktor yang juga berpengaruh cukup kuat dalam kepuasan kerja pegawai seperti adanya kepuasan dengan ketepatan informasi, kepuasan dengan kemampuan seseorang yang menyarankan penyempurnaan, kepuasan dengan efisiensi bermacam - macam saluran komunikasi, kepuasan dengan kualitas media, kepuasan dengan cara komunikasi teman sekerja, kepuasan dengan keterlibatan dalam komunikasi organisasi sebagai suatu kesatuan. (Muhammad : 2007). Indikator yang digunakan untuk mengukur kepuasan kerja menurut Robbins (2007 : 342) adalah kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap sikap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja.

Obyek penelitian ini adalah auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara, karena selain kompetensi yang dimiliki, integritas dan akuntabilitas yang harus dimiliki oleh auditor, maka iklim komunikasi sebagaimana ini penting pada setiap organisasi, sangatlah penting mengingat iklim komunikasi organisasi menjelaskan tentang keterlibatan pegawai dalam pengambilan keputusan, bagaimana cara melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan, kepercayaan yang terbangun dalam organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung kinerja Bastian (2006 : 149).

Sehubungan kinerja auditor, maka kepuasan kerja dalam bekerja merupakan faktor penting yang selalu menjadi perhatian untuk mewujudkan hasil kerja yang diharapkan, karena terkadang seorang auditor merasa puas dengan terselesaikannya pekerjaaan yang merupakan tugas pokoknya. Demikian pula dengan auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara, faktor yang membuat auditor yang merasa puas dengan pekerjaannya adalah ketika mereka mampu menyelesaikan tugas pemeriksaan yang dibebankan pada mereka dan mampu mencapai target pelaporan tahunan yang menjadi tugas penting mereka dalam melakukan pemeriksaan Bastian (2006 : 219).

Pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah daerah Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini terdiri dari auditor ahli, auditor fungsional dengan berbagai latar belakang pendidikan dan tingkat pengalaman kerja. Hal ini patut untuk di perhatikan bahwa pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara perlu pengkaderisasian tenaga pemeriksa atau auditor internal yang handal di bidangnya. Kinerja yang di laksanakan oleh auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini masih menjadi perhatian utama, karena masih banyaknya temuan audit yang tidak terdeteksi oleh aparat inspektorat sebagai auditor internal.

(3)

Kinerja merupakan gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program / kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi organisasi. Kinerja merupakan kondisi yang harus di ketahui dan di informasikan kepada pihak-pihak tertentu sehingga dapat di peroleh informasi tentang tingkat pencapaian hasil suatu instansi di hubungkan dengan visi yang di emban suatu organisasi serta mengetahui dampak positif dan negatif suatu kebijakan operasional yang diambil (Mangkunegara, 2005 : 77).

Berdasarkan tugas auditor sebagai audit internal pemerintah, maka inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara perlu di dukung oleh kinerja yaitu kemampuan dalam menemukan dan kemampuan dalam melaporkan hasil temuan auditornya. Auditor memiliki peran penting dalam menjalankan fungsi pemeriksaan. Oleh karena itu menurut Mahmudi. (2007 : 102) seorang auditor harus mampu mengembangkan iklim komunikasi yang baik dengan atasannya dan unit tempat ia akan memeriksa dan harus memiliki kepuasan terhadap pekerjaan itu dengan tidak ada tekanan dari manapun.

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebuit diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama – sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.? 2. Apakah komunikasi organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.?

3. Apakah kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.?

1.2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah yang telah di sajikan, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh secara bersama – sama antara komunikasi organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara komunikasi organisasi terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

3. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara kepuasan kerja terhadap kinerja auditor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

1.3. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini berdasarkan tujuan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan mengenai faktor - faktor yang dapat mempengaruhi kinerja auditor terutama di kantor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Manfaat bagi pemerintah dalam hal ini pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang hal – hal yang dapat mempengaruhi kinerja pegawainya.

3. Bagi kemajuan ilmu pengetahuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan literatur dan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Komunikasi

(4)

Hovland, Janis dan Kelley dalam Muhammad (2007 : 2), mengatakan bahwa

communication is the process by which an individual transmits stimully (usually verbal) to modify the behavior of other individuals. Dengan kata-kata lain komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain.

Kata signal maksudnya adalah signal yang berupa verbal dan nonverbal yang mempunyai aturan tertentu. Dengan adanya aturan ini menjadikan orang yang menerima signal yang telah mengetahui aturannya akan dapat memahami maksud dari signal yang diterimanya Jadi, dalam berkomunikasi diperlukan kesamaan makna antara komunikator dan komunikan, karena bila terdapat kesamaan makna, komunikasi akan berlangsung dengan baik. Jelasnya jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka terdapat hubungan yang komunikatif.

Proses komunikasi ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses, yaitu pengemasan isi pesan dan lambang. Isi pesan pada umumnya adalah pikiran, sedangkan lambang umumnya adalah bahasa (Elvinaro : 31). Kemudian pesan tersebut ditransmisikan kepada komunikan. Apabila komunikan mengerti isi pesan atau pikiran komunikator, maka komunikasi terjadi. Sebaliknya bilamana komunikan tidak mengerti, maka komunikasi pun tidak terjadi.

Pada proses komunikasi ini dapat diklasifikasikan secara dua tahap, yakni sebagai berikut :

a. Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media atau saluran. Adapun lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung dapat menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Pada proses komunikasi secara primer adalah bahasa yang paling banyak digunakan, sebab bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain, apakah itu berbentuk ide, gagasan, informasi atau opini.

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Pentingnya peranan media, yakni media sekunder dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya dalam mencapai sasaran yaitu komunikan, karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari proses komunikasi primer, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator, harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang digunakan. Proses komunikasi secara sekunder ini dalam menjangkau sasarannya dengan menggunakan media massa yang mempunyai sirkulasi yang luas dan memiliki daya keserempakan. Seperti surat kabar, televisi siaran, radio, film, leaftlet, brosur, dan lain-lain.

c. Proses komunikasi secara linear

(5)

d. Proses komunikasi secara sirkular

Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan proses sirkular itu adalah terjadinya feed back atau umpan balik yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator. Oleh karena itu ada kalanya feed back tersebut mengalir dari komunikan ke komunikator itu adalah respon atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang diterima dari komunikator.

Konsep umpan balik ini dalam proses komunikasi amat penting karena dengan terjadinya umpan balik komunikator mengetahui apakah komunikasi itu berhasil atau gagal, dengan kata lain apakah umpan balik itu positif atau negatif. Bila positif komunikator patut gembira, sebaliknya jika negatif menjadi permasalahan, sehingga komunikator harus mengulangi lagi dengan perbaikan gaya komunikasinya sampai menimbulkan umpan balik positif.

2. Konsep Komunikasi Organisasi

Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian kerja dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab dan organisasi adalah sistem hubungan yang terstruktur yang mengkoordinasi usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dari pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa organisasi merupakan suatu sistem yang mengkoordinasikan kegiatan - kegiatan dan mencapai tujuan bersama atau tujuan umum. (Nurudin. (2007 : 23).

Komunikasi dan keberhasilan organisasi sangat berhubungan, memperbaiki komunikasi organisasi berarti memperbaiki organisasi. Suatu organisasi ideal terbentuk dari unsur-unsur universal, unsur-unsur universal ini dapat ditemukan dan digunakan untuk mengubah suatu organisasi, unsur-unsur ini berkaitan dengan hasil organisasi yang diharapkan dan komunikasi adalah satu dari unsur-unsur organisasi. Tujuan utama dalam mempelajari komunikasi adalah memperbaiki organisasi.

Studi komunikasi organisasi adalah studi mengenai cara orang memandang obyek -obyek, juga studi mengenai obyek - obyek itu sendiri Pace & Faules, (2005 : 3). Yang penting adalah bahwa orang - orang yang berbeda berperilaku dengan cara - cara yang berbeda terhadap apa yang mereka anggap objek yang layak diamati, dan perbedaan - perbedaan tersebut adalah berdasarkan pada bagaimana orang - orang berpikir tentang obyek - obyek itu. Suatu obyek sosial adalah sekadar obyek yang mempunyai makna bagi suatu kolektivitas atau menuntut tindakan oleh manusia.

Komunikasi organisasi adalah suatu disiplin studi yang dapat mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat(Pace & Faules, 2005 : 25). Secara fungsional komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit - unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi dalam hubungan - hubungan hierarkis antara satu dengan yang lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan (Pace & Faules, 2005 : 31).

Redding mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Dan menurut Katz dan Kahn bahwa komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam suatu organisasi (Muhammad, 2007 : 65).

(6)

3. Konsep Kepuasan Kerja

Ada beberapa pendapat mengenai definisi kepuasan kerja, adalah sebagai beriku : a) Menurut Marihot T.E. Hariandja (2005 : 290), adalah sejauh mana individu merasakan

secara positif/negatif berbagai macam faktor / dimensi dari tugas-tugas dalam pekerjaannya. Menurut A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007 : 117), kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong / tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.

b) Menurut L. Mathis & John H. Jakson terjemahan Jimmy Sadeli & Bayu Prawira (2011 : 98) mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. Menurut Veithzal Rivai (2010 : 475) kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang/tidak senang, puas/tidak puas dalam bekerja.

Salah satu model teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja, yaitu teori yang dikemukakan oleh Junaedi Edi, 2006 : 66) yang dikenal dengan equity model theory/teori kesetaraan. Intinya teori ini menjelaskan kepuasan dan ketidakpuasan dengan pembayaran perbedaan antara jumlah yang diterima dengan jumlah yang dipersepsikan oleh pegawai lain merupakan penyebab utama terjadinya ketidakpuasan. Untuk itu pada dasarnya ada 3 tingkatan pegawai, yaitu :

a) Memenuhi kebutuhan dasar pegawai.

b) Memenuhi harapan pegawai sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin mau pindah ke tempat lain.

c) Memenuhi keinginan pegawai dengan mendapat lebih dari apa yang diharapkan. Menurut Veithzal Rivai (2004 : 480), teori kepuasan kerja antara lain :

a. Teori Ketidaksetaraan (Discrepancy Theory)

Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara sesuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Sehingga apabila kepuasannya diperoleh melebihi yang diterimanya maka orang akan lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy tetapi merupakan discrepancy yang positif. Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang dianggap akan didapatkan dengan apa yang dicapai.

b. Teori Keadilan (Equety Theory)

Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas/tidak puas, tergantung pada ada/tidak adanya keadilan (equity)dalam suatu sistem, khususnya sistem kerja. Menurut teori ini komponen utama dalam teori keadilan adalah input, hasil, keadilan, dan ketidakadilan. Input adalah faktor bernilai bagi pegawai yang dianggap mendukung pekerjaannya seperti, pendidikan, pengalaman, kecakapan, jumlah tugas&peralatan/perlengkapan yang dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaannya. Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh seorang karyawan yang diperolehnya dari pekerjaannya, seperti : upah/gaji, keuntungan sampingan, symbol, status, penghargaan,&kesempatan untuk berhasil atau aktualisasi diri.

c. Teori 2 faktor (Two Factor Theory)

(7)

Menurut Sedarmayanti, 2007 : 291), faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah sebagai berikut :

a) Gaji. yaitu jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil.

b) Pekerjaan itu sendiri. yaitu Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen yang memuaskan

c) Rekan sekerja. yaitu teman - teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat menyenangkan/tidak menyenangkan.

d) Atasan. yaitu seseorang yang senantiasa memberi perintah/petunjuk dalam pelaksanaan kerja. Cara - cara atasan dapat tidak menyenangkan bagi seseorang menyenangkan dan hal ini dapat mempengaruhi kepuasan kerja.

e) Promosi. yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan. Seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan yang besar untuk naik jabatan/tidak. Proses kenaikan jabatan kurang terbuka, ini juga dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja karyawan.

f) Lingkungan kerja. yaitu Lingkungan Fisik & Psikologis. Untuk meningkatkan kepuasan kerja pegawai, perusahaan harus merespon kebutuhan pegawai dan hal ini sekali lagi secara tidak langsung telah dilakukan pada berbagai kegiatan manajemen sumber daya manusia seperti dijelaskan sebelumnya. Namun demikian, tindakan lain masih perlu dilakukan dengan cara yang disebut peningkatan kualitas kehidupan kerja.

4. Konsep Kinerja Pegawai

Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Berdasarkan keputusan lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 239/IX/6/8/2003, kinerja merupakan gambaran mengenai sejauh mana keberhasilan / kegagalan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi suatu entitas. Kinerja instansi pemerintahan adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah yang meneidentifikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang telah di tetapkan ( LAN,2003 ).

Istilah kinerja dari kata Inggris yaitu ‘performance’. Menurut (Ulum, Ihyaul. 2009). Kinerja atau performance merupakan perilaku dari seseorang yang secara langsung berhubungan dengan aktifitas hasil kerja, pencapaian tugas dimana istilah tugas berasal dari pemikiran aktifitas yang dibutuhkan oleh pekerja. Bebrapa defenisi kinerja menurut para ahli sebagai berikut :

a) Menurut Bambang Kusriyanto dalam Anwar Prabu Mangkunegara (2005: 9) “Kinerja adalah perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu (lazimnya per jam).” Sedangkan menurut Faustino Cardosa Gomes dalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, (2005: 9) “ Definisi kinerja sebagai ungkapan seperti output, efisiensi serta efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas.”

b) Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2005: 9) sendiri bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kinerja Sumber Daya Manusia adalah prestasi kerja, atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM per satuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

(8)

peran. Jika peran yang dimainkan seseorang individu tidak diketahui dengan jelas atau nampak samar, maka setiap individu tidak akan mengetahui secara persis apa yang diharapkannya.

Beberapa Definisi pengukuran kinerja berdasarkan pendapat para ahli yaitu sebagai berikut Menurut Anwar Prabu Mangkunegara 2005:9, kinerja diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

5. Kerangka Konseptual

Gambar 3.1. Kerangka konseptual

6. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1 : Komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama – sama atau secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

H2 : Komunikasi organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kierja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

H3 : Kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Komunikasi Organisasi (X1) Wayne Pace (2005)

1. Kepercayaan ( trust )

2. Pengambilan keputusan partisipatif

3. Keterbukaan dalam komunikasi

Kinerja Auditor (Y) Bernadine dalam Mas’ud, (2004).

1. Kualitas, 2. Kuantitas, 3. Ketepatan waktu,

4. Efektifitas; danKemandirian

Kepuasan Kerja (X2) Robbins (2007).

1. Kepuasan terhadap Gaji,

(9)

METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian

Penelitian ini akan meneliti tentang pengaruh komunikasi organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja auditor pada kantor inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Untuk mengetahui hal tersebut, maka digunakan metode deskriptif dalam bentuk studi pengaruh (correlation studies) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

Danim Sudarwan, (2010 : 15) menjelaskan mengenai metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang di selidiki dengan menggambarkan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta - fakta itu pada tahap permulaan tertuju pada usaha mengemukakan gejala - gejala secara lengkap dalam aspek yang diselidiki, agar jelas keadaan atau kondisinya. Penemuan gejala - gejala itu berarti juga tidak sekedar menunjukan distribusinya, akan tetapi termasuk usaha mengemukakan hubungannya satu dengan lain dalam aspek - aspek yang diselidiki.

2. Populasi dan sampel Penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara yang berjumlah 52 orang.

Dengan sedikitnya jumlah populasi yang ada, maka sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi, yaitu sebanyak 52 orang auditor dengan teknik penentuan sampelnya menggunakan metode sensus. atau dikenal juga dengan istilah

sampling jenuh adalah teknik pengambilan sampel yang menjadikan semua populasi digunakan sebagai sampel.

3. Jenis dan sumber data

Data primer adalah data atau informasi yang berkaitan dengan penelitian ini dan diperoleh secara langsung tanpa melalui perantara dari sumber asli/utama untuk menjawab pertanyaan penelitian, yang kemudian dikembangkan dengan pemahaman sendiri oleh penulis di dalam mengambil kesimpulan. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dengan sumber lain dengan pendekatan studi kepustakaan melalui literatur - literatur, buku - buku, catatan dan laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan maupun data instansi atau badan yang berhubungan dengan obyek penelitian.

4. Metode pengumpulan data

Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini di lakukan dengan cara : a) Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan melakukan interaksi atau hubungan

langsung dengan responden. Data wawancara dalam penelitian ini berupa interaksi kepada responden yang berkaitan dengan kajian berdasarkan hasil – hasil penelitian. b) Dokumentasi, yaitu pengambilan data yang telah di dokumentasikan oleh pihak

inpektorat Provinsi Sulawesi Tenggara yang relevan dengan penelitian ini.

c) Kuisioner, yaitu kumpulan pertanyaan yang di susun berdasarkan indikator penelitian terdahulu dan di sesuaikan dengan keadaan obyek penelitian saat ini. Pernyataan dalam kuisioner untuk masing - masing variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala Likert, yaitu suatu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

5. Metode analisis data

Model regresi linear berganda menurut Sugiyono (2009 : 92) dalam bukunya ekonometrika suatu pendekatan aplikatif adalah sebagai berikut :

^

Y

=

a

+

β

1

x

1

+

β

2

x

2

+

....

βixi

+

¿

Keterangan:

Y = variabel terikat

a = konstanta

(10)

X1, dan X2 = variabel bebas

ε = eror

Dari persamaan tersebut di aplikasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

^

Y

=

a

+

β

1

x

1

+

β

2

x

2

+

ε

Dimana: ^

Y = Kinerja Auditor

a = Konstanta

X1 = Komunikasi organisasi

X2 = Kepuasan Kerja

β

1

...

β

2

...

= Koefisien regresi ε = Faktor kesalahan atau eror.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Statistik

Hasil analisis deskripsi statistik tentang pengaruh komunikasi organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara dengan menggunakan data yang dikumpulkan melalui kuisioner yang diukur dengan skala likert berdasarkan skor yang ditetapkan. Penetapan skor rata-rata diberikan batasan nilai yang diinterprestasi sebagai berikut :

Tabel 1 Dasar Interpretasi Skor

No. Nilai Skor Interpretasi

1. X ≤ 1,5 Berada pada daerah sangat negatif/sangat rendah 2. 1,5 < X ≤ 2,5 Berada pada daerah negatif/ rendah

3. 2,5 < X ≤ 3,5 Berada pada daerah tengah-tengah/cukup rendah 4. 3,5 < X ≤ 4,5 Berada pada daerah positif/ tinggi

5. X ≥ 4,5 Berada pada daerah sangat positif/ sangat tinggi Sumber : Arikunto (dimodifikasi) 1998.

Tabel 5.3 menunjukkan batasan skor dari tanggapan responden berada pada nilai skor 3,5 < X ≤ 4,5 yaitu kriteria positif dan tinggi dan bermakna bahwa semua tanggapan responden dalam penelitian ini adalah positif dan tinggi.

2. Hasil Analisis

Penggunaan model regresi untuk menguji pengaruh komunikasi organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel. Berdasarkan hasil analisis dengan program SPSS 19 diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2.Hasil Perhitungan Koefisien Regresi

Variabel Bebas Coefficient RegresiStrandardized t-hitung t-signifikan

X1 0,781 4,619 0,025

X2 0,883 6,737 0,000

R-Square = 0,923

R = 0,961

F-hitung = 293,181

F-Signifikan = 0,000

a (Constanta) = 1,851

N = 52

α = 0,05

(11)

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda yang disajikan pada tabel 5.19 diperoleh persamaan regresi linear berganda Pengaruh Komunikasi Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara adalah :

Y = 0,781X1+ 0,883X2

Persamaan tersebut menggambarkan pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dimana setiap perubahan yang terjadi terhadap nilai X1, dan X2,

yang disebabkan oleh naik atau turunnya nilai koefisien regresi (β) akan memberikan pengaruh terhadap nilai Y. Untuk jelasnya dapat diintepretasikan sebagai berikut :

a. Nilai koefisien variabel X1 adalah positif. Hal ini berarti semakin baik iklim komunikasi

organisasi, maka kinerja auditor akan meningkat.

Nilai koefisien (b) dari komunikasi organisasi yang positif bermakna bahwa komunikasi organisasi yang terdiri dari indikator kepercayaan, pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam komunikasi memberi pengaruh yang signifikan yaitu 0,781 terhadap kualitas kinerja auditor auditor Inspektorat Provinsil Sulawesi Tenggara. Masing-masing indikator dari variabel komunikasi organisasi dalam penelitian ini memiliki makna sebagai berikut :

a) Kepercayaan sebagai indikator dari komunikasi organisasi membentuk rasa saling percaya adi antara auditor untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

b) pengambilan keputusan partisipatif sebagai indikator dari iklim komunikasi organisai mendukung kegiatan auditor dalam pengambilan keputusan bersama (partisipatif) untuk menentukan hasil kerja atau tujuan hasil yang akan dicapai. c) Keterbukaan dalam komunikasi sebagai indikator dari komunikasi organisasi

membentuk sikap terbuka dalam berkomunikasi di antara auditor yang ada pada Inspektorat Provinsil Sulawesi Tenggara.

b. Nilai X2 adalah kepuasan kerja yang bernilai positif yang berarti bahwa semakin baik

pelaksanaan pekerjaan auditor, maka akan semakin puas dengan hasil kerja yang dicapai. Nilai koefisien regresi (b) dari kepuasan kerja adalah positif bermakna bahwa kepuasan kerja auditor yang didukung dengan indikator kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap sikap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja, mempunyai pengaruh yang signifikan yaitu 0,883 terhadap kualitas kinerja auditor Inspektorat Provinsil Sulawesi Tenggara. Maksudnya adalah apabila semakin puas auditor dalam bekerja maka semakin baik kinerja auditor tersebut dalam melaksanakan pekerjaan. Pengaruh dari kepuasan kerja terhadap kinerja auditor yang menunjukkan pengaruh positif, bermakna bahwa perubahan kinerja ditentukan oleh adanya peningkatan kepuasan kerja auditor.

c. Pengujian Hipotesis

Hasil analisis regresi pada lampiran hasil analisis statistik SPSS yang diringkas pada tabel 4.20 dapat diinterpretasikan Pengaruh Komunikasi Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap kinerja auditor pada kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara yang dijelaskan sebagai berikut :

1) Komunikasi organisasi (X1) memiliki nilai p-value = 0,025 < 0,050, artinya

komunikasi organisasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

2) Kepuasan Kerja (X2) memiliki nilai p-value = 0,000 < 0,05 artinya signifikan, artinya

kepuasan kerja secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Nilai R (angka koefisien korelasi ) sebesar 0,961 menunjukkan korelasi hubungan antara variabel komunikasi organisasi (X1), dan kepuasan kerja (X2) terhadap kinerja

auditor (Y) pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sangat kuat berada di atas 0,5. Hasil analisis korelasi (R) menunjukkan bahwa komunikasi organisasi (X1), dan

(12)

yang akan dicapai dalam pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai kualitas hasil kerja yang diinginkan dengan menyelesaikan kuantitas pekerjaan yang dihadapi dengan teliti, dan melakukan pekerjaan secara efektif dan mandiri untuk melaksanaan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab.

Pengujian simultan (Anova Test) bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F dari variabel komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil uji F menunjukkan nilai p-value 0,000 < 0,005, Disini berarti komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Nilai R² ( R-Square ) atau koefisien Determinas sebesar 0,923 menunjukkan bahwa 92,3 % variasi dari kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara dijelaskan oleh variabel iklim komunikasi organisasi dan kepuasan kerja sedangkan sisanya 7,7% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Nilai koefisien determinasi (R2) yang mencapai

92,3% menunjukkan bahwa secara keseluruhan perubahan peningkatan kinerja auditor dipengaruhi oleh iklim komunikasi organisasi dan kepuasan kerja.

3. Pembahasan

a. Pengaruh Komunikasi Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Auditor Komunikasi organisasi dan kepuasan kerja dalam penelitian ini variabel independen yang diduga berpengaruh secara simultan terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengaruh yang simultan atau uji Anova dalam Regresi Linear Berganda seperti yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan adanya gabungan dari dua atau lebih variabel indpenden berbeda yang dapat memberikan perubahan meningkat atau menurun kepada variabel dependen. Hasil analisis dalam penelitian ini ditemukan bahwa komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama atau secara simultan memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pengaruh ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang meningkat pada kedua variabel. Peningkatan komunikasi organisasi, akan membuat kinerja auditor meningkat karena adanya kepercayaan, pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam berkomunikasi.

Pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara membutuhkan kepercayaan, pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam berkomunikasi untuk dapat melaksanakan tugas pemeriksaan sesuai dengan pedoman kerja dan jabatan auditor yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:PER/220/M.PAN/2008 tentang jabatan fungsional auditor dan angka kreditnya. Pelaksanaan tugas secara profesional dari seorang auditor adalah kombinasi dari kompetensi, sikap dan tindakan. Auditor adalah Jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggungjawab, dan wewenang untuk melakukan pengawasan intern pada instansi pemerintah, lembaga dan/atau pihak lain yang didalamnya terdapat kepentingan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil dengan hak dan kewajiban yang diberikan secara penuh oleh pejabat yang berwenang.

(13)

keterbukaan dalam berkomunikasi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kerja.

Proses komunikasi dalam organisasi kerja seperti pada Inspektorat secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan para auditor kepada rekan sekerja dan atasan dengan menggunakan komunikasi langsung maupun dalam bentuk laporan hasil kerja. Kemampuan kerja yang ditunjukkan oleh seorang auditor didukung oleh jabatan yang didelegasikan kepadanya sehingga komunikasinya organisasi yang terbangun adalah kepercayaan, kemampuan melakukan pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam berkomunikasi.

Perubahan yang terjadi pada pengaruh pada perubahan pengaruh positif ditandai dengan koefisien regresi (b) yang bernilai positif dan signifikansi α < 0,005 yang mengindikasikan bahwa perubahan yang terjadi pada kinerja auditor disebabkan oleh peningkatan komunikasi organisasi dan kepuasan kerja auditor. Variabel independen yang terdiri dari iklim komunikasi organisasi dan kepuasan kerja memiliki pengaruh yang dapat mengubah kinerja auditor.

Hasil penelitian dari Antony Akhmad Z.A (2013) menunjukkan bahwa komunikasi organisasi dan kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kinerja pegawai pada Badan Ketahanan Pangan.

Berdasarkan hasil penelitian, konsep teori dan hasil terdahulu, maka dapat dikemukakan bahwa komunikasi organisasi dan kepuasan kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja auditor. Dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis pertama dapat dibuktikan.

b. Pengaruh Komunikasi Organisasi terhadap Kinerja Auditor

Auditor Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan komunikasi dengan sesama rekan kerja, atas dan pihak lain yang diperiksa oleh auditor. Komunikasi yang terbangun dalam kegiatan organisasi adalah komunikasi langsung berupa diskusi, dan wawancara sedangkan komunikas tidak langsung disajikan melalui laporan hasil kerja (LHK) sebagai bagian dari laporan hasil pemeriksaan (LHP). Pengukuran variabel komunikasi organisasi dilakukan melalui subvariabel kepercayaan, pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam berkomunikasi.

Komunikasi organisasi dihadapkan dengan sikap dan perilaku pegawai yang pada inspektorat dalam membangun kepercayaan untuk bekerja dengan baik, melakukan pengambilan keputusan dengan baik, dan bersikap terbuka dalam berkomunikasi karena tidak semua pegawai memiliki kompetensi yang sama sehingga perlu ada peningkatan komunikasi organisasi dari waktu kerja.

Deskripsi variabel komunikasi organisasi menunjukkan bahwa butir pernyataan dari subvariabel komunikasi organisasi yang dikaji memiliki nilai skor 3,50 – 4,5 yang berada pada kategori tinggi dengan nilai validitas lebih besar dari 0,30 dan nilai reliabilitas lebih besar dari 0,60. Sementara itu hasil uji regresi menunjukkan bahwa variabel iklim komunikasi organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat. Dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis kedua dapat dibuktikan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Menurut Wayne Pace (2005 : 163) dalam buku komunikasi organisasi menjelaskan bahwa indikator yang perlu di teliti dalam sistem komunikasi pada sebuah organisasi, adalah sebagai berikut :

1. Kepercayaan ( trust )

(14)

2. Pengambilan keputusan partisipatif

Komunikasi dengan tujuan pengambilan keputusan merupakan komunikasi pertanggung jawaban atas hasil pekerjaan yang dikerjakan untuk diperoleh keputusan atas hasil kerja.

3.Keterbukaan dalam komunikasi

Komunikasi yang terbuka membuat para komunikan dan komunikator saling mengetahui dan memahami pesan yang terbentuk untuk melaksanakan perbaikan, revisi atau imovasi pada masa mendatang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mia Aulia Hasan (2011) bahwa komunikasi organisasi mempunyai hubungan yang erat dengan kinerja pegawai.

Berdasarkan hasil penelitian, konsep teori dan penelitian relevan yang dikemukakan tersebut, maka dapat diperoleh bahwa iklim komunikasi organisasi merupakan variabel yang berpengaruh terhadap kinerja auditor. Untuk itu diperlukan adalah peningkatan komunikasi organisasi melalui peningkatan kepercayaan dalam bekerja, kemampuan melakukan pengambilan keputusan partisipatif dan keterbukaan dalam berkomunikasi dengan baik pada masa mendatang.

c. Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Auditor

Kepuasan kerja yang menjadi salah satu variabel yang berpengaruh terhadap kinerja auditor menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan. Kedua variabel tersebut saling meningkat artinya ketika kepuasan kerja auditor meningkat, maka kinerja mereka meningkat. Hal terlihat dari kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja.

Kepuasan kerja pada auditor akan mendorong mereka untuk bekerja secara efektif dan efisien. Gaji yang lancar diterima setiap bulan ditambah dengan tunjangan kerja auditor, pedoman kerja mereka jelas dalam melaksanakan pemeriksaan, adanya perintah kerja yang jelas, dan kerja sama dengan rekan sekerja membuat para auditor akan termotivasi untuk bekerja dengan baik tetapi ada kalanya auditor tidak mendapat tujangan dan hanya perintah kerja tanpa ada pedoman kerja yang mengakibatkan hasil kerja menjadi tidak efektif dan efisien.

Deskripsi variabel kepuasan kerja menunjukkan bahwa butir pernyataan dari subvariabel kepuasan kerja yang meliputi kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap sikap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja, memiliki nilai skor 3,50 – 4,5 yang berada pada kategori tinggi dengan nilai validitas lebih besar dari 0,30 dan nilai reliabilitas lebih besar dari 0,60. Sementara itu hasil uji regresi menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor Inspektorat. Dengan demikian diperoleh bahwa hipotesis kedua dapat dibuktikan.

Hasil penelitian ini didukung pendapat Luthan (2006) yang mendefinisikasi kepuasan kerja sebagai keadaan yang menyenangkan atau emosi positif yang dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang. Kepuasan kerja dihasilkan dari persepsi pekerja mengenai seberapa baik pekerjaan mereka kerja dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Hasil penelitian Dian Kristianto dkk (2011) menyebutkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai dengan komitmen organisasi sebagai variabel intervening yang mendukung terbentuknya kepuasan kerja pegawai dalam melaksanakan pekerjaan pada unit kerja yang ditempati.

(15)

meningkatkan kinerja auditor. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor, dengan demikian hipotesis ketiga dapat dibuktikan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Komunikasi organisasi dan kepuasan kerja secara bersama (simultan) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara. Komunikasi yang baik dalam iklim organisasi dan rasa puas dalam melaksanakan pekerjaan audit akan meningkatkan kinerja auditor yang meliputi kualitas dalam bekerja, kuantitas menyelesaikan pekerjaan, ketepatan waktu dan efektivitas serta mandiri dalam bekerja. 2. Komunikasi organisasi yang diukur dengan indikator kepercayaan, pengambilan keputusan

partisipatif dan keterbukaan dalam komunikasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

3. Kepuasan kerja yang diukur dengan indikator kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri, kepuasan terhadap sikap atasan dan kepuasan terhadap rekan kerja secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. Taufiq, 2011, Manajemen Strategik Kosep dan Aplikasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Anwar Prabu Mangkunegara, 2007, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk perusahaan. : PT. Remaja Rosdakarya. Bandung,

Bastian, Indra, 2006, Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.

Bastian, Indra, 2006, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintahan Daerah di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta.

Denny, Richard, 2006. Kiat Komunikasi yang Efektif dan Impresif. Gramedia, Jakarta. Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek). Bandung: Remaja

Rosdakarya

Elvinaro, Ardianto. (2008). Komunikasi Massa Suatu Penghantar. Bandung: Simbiosa Rektama Media.

Gibson, James L et al 2006, “Organizations (Behavior, Structure, Processes),” Twelfth Edition, McGrow Hill

Hamidi. (2007). Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: Universitas Muhammdiyah Malang.

Husien Umar, 2004, Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis; Bandung: Alfabeta. Husein Umar, 2002, Petunjuk Lengkap Membuat Skripsi dan Tesis;Rajawali Pers.

Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government di Lingkungan Pemerintah.

Junaedi Edi, 2006. Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. KHI Industries Cigading-Cilegon Banten, UNIKOM, Bandung.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun 1993tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum.

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi, (Alih Bahasa V.A Yuwono, dkk), EdisiBahasa Indonesia, Yogyakarta: ANDI.

Marihot Tua Efendi Hariandja, 2005, Manajemen Sumber Daya Manusia. Grasindo. Jakarta. Mathis, Robert L & John H. Jackson ( Terjemahan Jimmy Sadeli dan Bayu Prawira), 2001.

(16)

Moh, As’ad, 2004, “Psikologi Industri”, Liberti, Yogyakarta.

Muhammad, Arni, 2007. Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara, Jakarta.

Nurudin. (2007). Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pace, F. Wayne dan Don F. Faules. (2005). Komunikasi organisasi : Strategi

meningkatkan kinerja perusahaan. Jakarta : Penerbit Erlangga.

R. Wayne Pace, Don F. Faulos, Komunikasi Organisasi: Strategi meningkatkan kinerja perusahaan (editor Deddy Mulyana, MA, Ph.D.), PT Remaja Rosdakarya Bandung 2006.

Robbins, Stephen P. 2006.Teori Organisasi Struktur; Desain & Aplikasi. Jakarta, Arcen

Robbins, Stephen P. 2007. Perilaku Organiasi. Alih Bahasa Hadyana Pujaatmaka, dkk. Penerbit Prenhallindo : Jakarta

Sedarmayanti, 2007, Sumber Daya Manusia Dan Produktivitas Kerja. CV. Mandar Maju. Bandung.

Sihotang, A, 2007, Manajemen Sumber Daya Manusia. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

T. Handoko, 2001. Manajemen Personalia Manajemen Sumber Daya Manusia, BPSE, Yogyakarta

Umi Nariamawati, 2007, Riset Manjemen Sumber Daya Manusia; Jakarta: Agung Media. Umi Narimawati, 2006, Jurnal Trikonomika Fakultas Ekonomi Unpas: Bandung

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara

Veithzal Rivai, 2008, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan dari teori ke praktik. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Gambar

Gambar 3.1. Kerangka konseptual
Tabel 1  Dasar Interpretasi Skor

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel komitmen kerja mempunyai nilai koefisien paling besar, sehingga variabel komitmen

kepuasan kerja maka kinerja pegawai akan mengalami peningkatan sebesar 3,355. 2) Nilai koefisien regresi untuk variabel gaya kepemimpinan (GK) adalah 0,322

Pada pengujian pengaruh variabel kepuasan kerja dan turnover intention dihasilkan nilai koefisien regresi sebesar -0,263 dan nilai signifikansi (0,000) &lt; 0,05

Dalam penelitian ini, analisis regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis apakah kepuasan kerja (gaji, promosi, rekan kerja, dan atasan) berpengaruh

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Kepuasan Kerja berpengaruh negatif terhadap Turnover Intention karyawan dengan koefisien regresi sebesar -0,367 dan nilai t hitung

Dari persamaan regresi linier berganda ini, maka dapat diketahui bahwa koefisien regresi untuk variabel kompensasi dan kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah positif, dengan

Hasil penelitian ini diperoleh dengan nilai koefisien determinasi R2 sebesar 85,8% dari variabel kepuasan gaji/pendapatan, kepuasan kerja, dan lingkungan kerja terhadap komitmen

Nilai koefisien regresi Kompensasi b3 sebesar 0,439 hal ini menunjukkan Kompensasi berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja artinya jika Kompensasi semakin baik maka akan