• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pintar Pengembangan Regulasi Desa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Buku Pintar Pengembangan Regulasi Desa"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

Andi Sandi Ant. T.T.

Widyo Hari Murdianto

Pengembangan

Regulasi Desa

(2)

Andi Sandi Ant. T.T. Widyo Hari Murdianto

Pengembangan

Regulasi Desa

BUKU PINTAR

(3)

Buku Pintar

PENGEMBANGAN REGULASI DESA Penulis FPPD : Andi Sandi Ant. T.T.

Widyo Hari Murdianto Kontributor : Hakim, APKD Buton Utara

Cosmos Kaka Baiya, Yayasan Bahtera Sumba Barat Marcelinus M. Rana, Sekdes Sumba Barat Daya Penyunting : Sutoro Eko Yunanto

Reviewer : Madekhan Penata Letak : Candra coret Desain Cover : Budi & Erni llustras : Atmi & Erni

Copyleft@Diperkenankan untuk melakukan modifikasi,

penggandaan maupun penyebarluasan buku ini untuk kepentingan pendidikan dan bukan untuk kepentingan komersial dengan tetap mencantumkan atribut penulis dan keterangan dokumen ini secara lengkap.

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD) Jl. Karangnangka No. 175 Dusun Demangan Desa Maguwoharjo Kec. Depok Sleman Yogyakarta Telp./fax: 0274 4333665, mbl: 0811 250 3790 Email: [email protected]

Website: http//www. forumdesa.org

Cetakan Pertama : Januari 2014

(4)

KATA PENGANTAR

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

D

esa didefinisikan secara legal formal berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagai ‘kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengurus dan mengatur”. Definisi desa itu menegaskan relasi-relasi sosial di desa maupun tata kelo-la desa harus berkelo-landaskan norma-norma hukum. Secara legal, desa memiliki mandat hukum untuk dapat menyusun aturan hukumnya sendiri atau disebut produk hukum desa.

(5)

bersedia menerima dan mengakui secara sukarela segala kewenangan, keputusan atau kebijakan publik di desanya.

Buku Pintar Pengembangan Regulasi Desa yang disu-sun FPPD bersama ACCESS ini dapat menjadi sumber ba-caan bagi pemerintah desa, BPD, warga desa maupun ka-langan pemerintah daerah. Lebih-lebih pada masa transisi menuju diterapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, para pihak yang berkepentingan de-ngan terwujudnya Desa Mandiri harus mampu memaham i prosedur hukum berkaitan dengan pengembangan regula-si Desa.

Kekuatan Buku Pintar ini ada tiga hal. Pertama, buku ini memberikan informasi kebijakan secara lengkap ten-tang konsep dan kedudukan regulasi desa dengan baha-sa yang sederhana. Kedua, buku ini dapat mengantarkan para pembaca untuk lebih mudah berpartisipasi dalam proses-proses penyusunan Regulasi Desa. Ketiga, buku ini memuat contoh-contoh pengembangan penyusunan re-gu lasi berupa Peraturan Desa.

(6)

Dikarenakan aturan pelaksanaan Undang-Undang No-mor 6 Tahun 2014 tentang Desa belum ada, maka Buku Pintar ini dapat menjadi bahan bacaan bagi Pemerintah Daerah untuk menindaklanjuti ketentuan pasal 62 PP No. 72/2005 tentang Desa dan ketentuan pasal 19 ayat (1) Per-mendagri No. 29/2007 tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa yaitu mene-tapkan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Produk Hu kum Desa. Peraturan Daerah dimaksud harus tetap ada sebagai pedoman atau landasan yuridis bagi pemerintah-an desa dalam menyusun dpemerintah-an menciptakpemerintah-an tertib pemben-tukan peraturan perundang-undangan serta mem beri ke-pas tian hukum mengenai prosedur dan teknis pe nyu sunan yang harus ditaati dalam pembentukan peraturan per un-dang-undangan di desa.

Jakarta, Januari 2014

DIREKTUR JENDERAL

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA

(7)
(8)

KATA PENGANTAR ACCESS

Kemandirian desa, mendukung demokratisasi desa, kearifan lokal, partisipasi, keadilan gender, penanggulangan kemiskinan, dan akuntabilitas

pembangunan desa

K

emampuan desa untuk mengelola pembangunan le-bih mandiri yang didukung oleh semua unsur dan sumber daya desa sangat penting bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat, terlebih bagi masyarakat miskin di desa. Desa yang dapat menjalankan pengelolaan pemba-ngunan secara mandiri bukan hanya mampu menggerak-kan seluruh aset sumber daya yang dimiliki desa, tetapi desa juga akan mampu memperbaiki kebutuhan dasar warga, kebutuhan penghidupan, memperjuangkan hak warga dan menata kehidupan secara berkelanjutan.

(9)

juga masyarakat desa - baik laki-laki maupun perempuan - untuk menata desanya. Buku ini juga menarik untuk di-baca kawan-kawan para pegiat pemberdayaan masyarakat dan desa, fasilitator desa, dan rekan-rekan Lembaga Swa-daya Masyarakat peduli desa. Terlebih dengan lahirnya Un-dang UnUn-dang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka kehadiran buku-buku pintar ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi pemberdayaan desa.

Serial buku pintar meliputi 1) Pengembangan Kewe-nang an (Urusan) Desa, 2) Pengelolaan Aset Desa, 3) Pe-ngem bangan Regulasi Desa, 4) Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Demokrasi Desa, 5) Perencanaan dan Penganggaran Desa, 6) Pengelolaan dan Pertanggungjawa-ban Keuangan Desa, 7) PengemPertanggungjawa-bangan dan Pengelolaan BUMDesa, 8) Sistem Administrasi dan Informasi Desa, 9) Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Desa, dan 10) Re-posisi Peran Publik Perempuan di Desa. Buku-buku pintar tersebut disusun terutama berdasarkan pengalaman desa dan daerah wilayah kerja Program ACCESS Tahap II.

(10)

Terakhir, kami sampaikan terima kasih sebesar-besar-nya kepada tim Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD) yang telah menghimpun serial buku dalam rangka memberi bahan kepada pelaku dan pejuang di desa dan daerah untuk membantu mereka mengelola desa dengan menghargai kearifan lokal serta memanfaatkan peluang yang diberikan melalui UU Desa menuju desa yang de-mokra tis, berkeadilan gender, dan bebas dari kemiskinan berbagai segi. Semoga buku-buku tersebut dapat menam-bah khazanah pengetahuan bagi pelaku dan pegiat pem-bangunan desa di Indonesia.

Paul Boon

(11)
(12)

B

uku pintar ini pertama-tama bertujuan mengajak pem baca untuk memahami arti regulasi. Regula si pada prinsipnya pengaturan. Pengaturan dapat ke lom pokkan berdasar bentuk dan isi. Pengaturan yang di-da sarkan padi-da bentuk di-dapat dibagi dua yaitu pengaturan ter tulis dan tidak tertulis. Pengaturan tidak tertulis misalnya tata krama, tata susila, dan hukum adat. Pengaturan tertulis misalnya Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, dan Peraturan Desa.

Berdasar isinya, pengaturan berupa peraturan dan ke-putusan. Ciri khas sebuah peraturan yaitu isi dan subs tan-sinya bersifat umum dan abstrak sehingga belum dapat di-tentukan secara spesifik siapa yang dituju (addresat-nya). Sifat abstrak dapat dilihat dari belum dapat ditentukannya perbuatan, tindakan, ataupun kegiatan yang dikenai oleh peraturan tersebut. Dalam keputusan, subyek, perbuatan, dan tindakan sudah dapat ditentukan karena sifat dasar

se-KATA PENGANTAR

(13)

buah keputusan adalah individual, kongkret, dan final. Sifat individual artinya sebuah keputusan telah menyebut kan subyeknya secara spesifik. Sifat kongkret sebuah keputus-an telah dapat ditentukkeputus-an perbuatkeputus-an, tindakkeputus-an, dkeputus-an kegiat-annya. Sedangkan final artinya sebuah keputusan ketika ditandangani oleh pejabat yang bersangkutan, langsung dapat berlaku dan tidak dibutuhkan pengesahan dari pihak lain lagi.

Berdasar kedua kategorisasi diatas, pemaknaan regu-lasi dalam buku pintar ini hanya akan difokuskan pada pe-ngaturan yang bersifat tertulis dan berisi peraturan, sehing-ga tidak akan membahas mengenai peraturan tidak tertulis dan berisi keputusan. Regulasi, di Indonesia, diartikan se-bagai sumber hukum formal berupa peraturan perundang-un dangan yang memiliki beberapa perundang-unsur, yaitu merupakan suatu peraturan yang tertulis, dibentuk oleh lembaga ne-gara atau pejabat yang berwenang, dan mengikat umum. Lantas bagaimanakah kewenangan desa dalam mengem-bangkan regulasi desa ini?

(14)

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sebagai sebuah produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh berten-tangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh merugikan kepentingan umum. Sebagai sebuah produk politik, Peraturan Desa disusun secara demokratis dan par-tisipatif, yakni proses penyusunannya melibatkan partisipa-si masyarakat. Masyarakat mempunyai hak untuk meng-usulkan atau memberi masukan kepada BPD maupun ke pala desa dalam proses penyusunan Peraturan Desa.

Sebagai sebuah buku pintar, buku ini juga tidak se-batas pada pemahaman konsep-konsep teoritis yang ada. Buku ini dilengkapi dengan panduan contoh-contoh maupun gambaran tentang pengembangan regulasi desa itu sendiri, baik dilihat dari sisi pemerintah desa maupun masyarakat desa sendiri. Dalam buku pintar ini juga di-gambarkan bahwa inisiasi regulasi desa yang berupa pem-buatan Peraturan Desa berasal dari masyarakat itu sendiri khususnya desa-desa dampingan ACCESS. Selain itu, bu-ku pintar ini dilengkapi dengan panduan dan contoh ba-gaimana menyusun Peraturan Desa yang benar. Akhirnya selamat membaca semoga bermanfaat bagi para pemikir, penggerak, dan pecinta desa.

(15)
(16)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PMD ... iii

KATA PENGANTAR ACCESS ... vii

KATA PENGANTAR FPPD ... xi

DAFTAR ISI ... xv

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I PENGERTIAN REGULASI DAN REGULASI DESA ... 1

A. Apa itu Regulasi ? ... 1

B. Regulasi Desa ... 10

BAB II MANFAAT, FUNGSI DAN RUANG LINGKUP REGULASI DESA ... 19

A. Manfaat, Fungsi dan Prinsip Regulasi Desa ... 19

(17)

BAB III JENIS DAN MEKANISME PEMBENTUKAN

REGULASI DESA ... 27

A. Jenis-Jenis Regulasi Desa ... 27

B. Mekanisme Pembentukan Regulasi Desa 30 BAB IV REGULASI DESA PARTISIPATIF ... 61

BAB V PENGAWASAN REGULASI DESA ... 79

BAB VI PENUTUP ... 85

SUMBER BACAAN ... 87

TENTANG PENULIS ... 89

PROFIL FPPD ... 91

(18)

DAFTAR SINGKATAN

BPD : Badan Permusyawaratan Desa

APB Desa : Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa FGD : Focus Group Discussion

KPL : Kader Peduli Lingkungan UU : Undang-Undang

(19)
(20)

A. Apa itu Regulasi ?

Regulasi pada prinsipnya dibutuhkan oleh suatu syarakat agar tata kehidupan dan hubungan di dalam ma-sya rakat menjadi lebih tertib, aman, dan harmonis. Hal ini tidak dapat dilepaskan karena manusia selain makhluk indi-vidu juga makhluk sosial. Regulasi juga diperlukan dalam rangka menjamin adanya kepastian bahwa hak seseorang tidak dilanggar oleh orang lain.

Apa Sebenarnya Regulasi Itu ?

Regulasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada lah pengaturan. Pengaturan dapat dikelompokkan ber-da sarkan bentuk ber-dan isi. Pengaturan berber-dasar bentuk ber-

da-BAB I

(21)
(22)

dalam sebuah Peraturan Daerah yang menentukan “setiap orang dilarang membuang sampah di sungai”. Oleh kare-nanya, tidak bisa ditentukan secara kongkret siapa yang dikenai oleh ketentuan itu.

(23)

Apabila melihat kedua kategorisasi di atas, dalam buku ini, yang dimaknai sebagai regulasi hanya akan difokuskan pada pengaturan yang tertulis dan berisi peraturan, sehing-ga tidak akan membahas mengenai pensehing-gaturan yang tidak tertulis dan berisi keputusan.

Regulasi di Indonesia diartikan sebagai sumber hu-kum formal berupa peraturan perundang-undangan yang memiliki beberapa unsur, yaitu merupakan suatu peraturan yang tertulis, dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang, dan mengikat umum.

Bagaimanakah Ruang Lingkup Regulasi Itu?

(24)

Bagaimanakah Produk Regulasi Desa dalam Sistem Hukum Nasional?

(25)

Bagaimanakah Eksistensi ataupun Kedudukan Peratur an Desa?

Eksistensi Peraturan Desa dijamin oleh Pasal 69 UU No. 6/2014 tentang Desa. Oleh karenanya, berdasar pada ketentuan Pasal 8 UU No. 12 Tahun 2011, Peraturan Desa diakui keberadaannya dan mempunyai ke kuat an hukum mengikat karena dijamin eksistensinya oleh pasal 69 UU No. 6/2014.

Sejauh mana Kewenangan Desa dalam Menyusun Produk Regulasi Desa?

(26)

kewe-nangan yang melekat pada desa. Oleh karenanya, desa mem punyai kewenangan (mengatur, mengurus, dan ber-tanggung jawab) untuk menyusun peraturan atau regulasi desa. Peraturan Desa disusun oleh Kepala Desa dan BPD sebagai kerangka kebijakan dan hukum bagi penyelengga-raan pemerintahan dan pembangunan desa. Penyusunan Peraturan Desa merupakan penjabaran atas berbagai kewe-nangan yang dimiliki desa, tentu berdasarkan kepada ke-butuhan dan kondisi desa setempat, serta mengacu pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sebagai sebuah produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh berten-tangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh merugikan kepentingan umum. Sebagai sebuah produk politik, Peraturan Desa disusun secara demokratis dan par-tisipatif, yakni proses penyusunannya melibatkan partisipa-si masyarakat. Masyarakat mempunyai hak untuk meng-usul kan atau memberi masukan kepada BPD maupun ke pala desa dalam proses penyusunan Peraturan Desa.

Apa Prinsip Pembentukan Peraturan Perundang-un-dangan?

(27)

a. Kejelasan Tujuan. Setiap peratur an perundang-un-dangan yang akan dibentuk harus mempunyai tujuan yang jelas. Selain itu, juga ditentukan bagaimana tu-juan tersebut akan dicapai dengan di tetapkannya per-aturan perundang-undangan tersebut.

b. Kelembagaan atau Organ Pembentuk yang Tepat. Pem bentuk sebuah peraturan perundang-undangan harus dibentuk oleh lembaga atau pejabat yang diberi kewenangan untuk membentuk peraturan perundang-undangan. Tanpa kewenangan, sebuah per aturan per-undang-undangan yang dibentuk oleh lem baga atau pejabat yang tidak berwenang akan menyebabkan per-aturan perundang-undangan tersebut batal demi hu-kum atau dengan bahasa yang sederha na, peraturan tersebut dianggap tidak pernah ada.

c. Kesesuaian Antara Jenis dan Materi Muatan. Setiap peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk, antara materi yang diatur harus di se suaikan dengan bentuk peraturan perundang-un dang annya. Misalnya, untuk menetapkan sanksi pida na hanya dapat diatur dalam produk hukum yang disebut Undang-Undang atau Peraturan Daerah. Jika hal tersebut dilanggar, maka akan menyebabkan peraturan perundang-un-dangan tersebut juga akan batal demi hukum.

(28)

pene-rap an atau pelaksanaan peraturan tersebut. Oleh ka-re nanya, aspek kemampuan aparatur atau lembaga yang ditugaskan untuk melaksanakan peraturan terse-but harus diperhatikan. Selain itu, masyarakat dapat menerima dan mematuhi peraturan tersebut. Singkat-nya, aspek filosofis (tujuan dibentuknya peraturan ter-sebut), as pek sosiologis (keadaan masyarakatnya), dan aspek yu ridis (aspek hukum pembentuk, pelaksa-na, dan objek peraturan) harus dijadikan perhatian. e. Kedaya-gunaan dan Kehasil-gunaan. Prinsip

kedaya-gu naan dan kehasil-kedaya-gunaan adalah bahwa peraturan dibuat karena memang dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbang-sa, dan bernegara. Oleh karenanya, jika suatu tujuan dapat diwujudkan tanpa pembentukan peraturan, ma-ka tidak perlu dibentuk peraturannya sehingga pem-bentukan peraturan itu haruslah dijadikan pilihan ter-akhir dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. f. Kejelasan Rumusan. Sebuah peraturan harus

meme-nuhi persyaratan teknis penyusun an, sistematika dan pi lihan kata atau terminologi, ser ta bahasa hukumnya jelas, kongkret dan mudah di mengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

(29)

bersifat transparan dan terbuka sehingga harus meli-batkan sebanyak mungkin pihak yang terkait dengan peraturan tersebut.

B. Regulasi Desa

Apa yang dimaksud dengan Peraturan Desa?

(30)

Meskipun konsepsi “pengaturan” atau rules sudah di-kenal jauh hari dalam masyarakat, namun bentuk atau for-matnya belum menggunakan pola sebagaimana yang ada saat ini. Konsepsi rules tersebut biasanya dibentuk dalam bentuk larangan untuk keluar malam atau pada waktu men jelang malam; tidak boleh menebang pohon besar; dan lain sebagainya. Larangan-larangan ini sebenarnya me rupakan bagian dari konsepsi rules atau pengaturan.

Pembentukan pengaturan pada level desa sebenar nya sudah pernah dilakukan ataupun sudah menjadi kebia sa-an masyarakat, namun hsa-anya bentuknya saja ysa-ang diubah. Ada kewajiban untuk mengacu pada peraturan di aras yang lebih tinggi, yaitu oleh Pasal 69 UU No. 6/2014 tentang De-sa. Dalam Pasal 1 ang ka 7 UU tentang Desa ditentukan bahwa “Peraturan Desa adalah peraturan perundang-un-dangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa”. Konsekuensinya, sebuah peraturan desa adalah sebuah per aturan perundang-undangan sehingga bentuk, pola, dan proses pembentukannya juga harus memenuhi keten-tuan yang berlaku dalam pembentukan sebuah peraturan per undang-undangan.

(31)

karenanya, Peraturan Desa dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perunun dang-an ydang-ang lebih tinggi. Dalam proses pembentukdang-annya pun sangat penting untuk memberikan kesempatan dan partisi-pasi masyarakat desa, sebab peraturan ini akan meng ikat dan berdampak langsung kepada masyarakat desa. Oleh sebab itu, masyarakat berhak memberikan ma suk an secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan Rancangan Peraturan Desa.

Asas-Asas Apa yang Harus Dipenuhi dalam Menyusun Regulasi Desa?

Peraturan Desa juga harus disusun berdasarkan asas-asas materi muatannya atau substansinya. Asas materi muatan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No. 12 Ta-hun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-un-dangan, meliputi:

1. Asas pengayoman, setiap materi muatan, atau yang sering disebut dengan substansi atau isi dari sebuah per aturan perundang-undangan, harus berfungsi mem be rikan perlindungan dalam rangka mencipta-kan ke ten tram an pada masyarakat.

(32)

dan martabat setiap warga negara dan pen duduk Indo-nesia secara proporsional.

3. Asas kebangsaan, setiap materi muatan per aturan per undang-undangan harus mencerminkan si fat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhi nekaan) dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesa tu an Repu-blik Indonesia.

4. Asas kekeluargaan, setiap materi muatan peratur an perundang-undangan harus mencerminkan mu sya-wa rah untuk mencapai mufakat dalam setiap pe ng-am bilan keputusan.

5. Asas kenusantaraan, setiap materi muatan peratur-an perundperatur-ang-undperatur-angperatur-an senperatur-antiasa memperhatikperatur-an kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi mu atan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasi-o nal yang berdasarkan Pancasila.

6. Asas bhinneka tunggal ika, materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan kera-gam an penduduk, akera-gama, suku dan golongan, kondi-si khusus daerah, dan budaya khususnya yang me-nyang kut masalah-masalah sensitif dalam kehidup an, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(33)

8. Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan peme-rintahan, setiap materi muatan peraturan per undang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status so-sial.

9. Asas ketertiban dan kepastian hukum, setiap ma teri muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat me lalui ja-minan adanya kepastian hukum.

10. Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, yaitu setiap materi muatan peraturan perundang-un-dangan harus mencerminkan keseimbangan, kese-rasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan ne-gara.

Landasan Apa yang Diperlukan agar Regulasi dapat Berlaku Efektif?

(34)

pi kiran dalam perumusan substansi pengaturan Peraturan Desa. Hal ini sangat sesuai dengan butir-butir konsep yang dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo bahwa hukum atau perundang-undangan akan dapat berlaku secara efek-tif apabila memenuhi tiga daya laku sekaligus yaitu filosofis, yuridis, dan sosiologis. Di samping itu, juga harus diperha-tikan efektifitas/daya lakunya secara ekonomis dan politis.

Masing-masing unsur atau landasan daya laku terse-but dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Landasan filosofis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintahan desa jangan sam-pai bertentangan dengan nilai-nilai hakiki di tengah masyarakat, misal agama dan adat istiadat;

b. Daya laku yuridis berarti bahwa perundang-undangan tersebut harus sesuai dengan asas-asas hukum yang berlaku dan dalam proses penyusunannya sesuai de-ngan aturan main yang ada. Asas-asas hukum umum yang dimaksud disini misalnya adalah asas “non-ret-roaktif”, “lex specialis derogat lex generalis”; lex su-perior derogat lex inferior; dan “lex posteriori derogat lex priori”;

(35)

d. Landasan ekonomis, agar produk hukum yang diter-bit kan oleh pemerintahan desa dapat berla ku sesuai dengan tuntutan ekonomis masyarakat dan menca kup berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat, misalkan kehutanan dan pelestarian sumber daya alam;

e. Landasan politis, agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintahan desa dapat berjalan sesuai dengan tujuan tanpa menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat.

Tidak dipenuhinya kelima unsur daya laku tersebut akan berakibat tidak dapat berlakunya hukum dan perun-dang-undangan secara efektif. Kebanyakan produk hukum yang ada saat ini hanyalah berlaku secara yuridis tetapi tidak berlaku secara filosofis dan sosiologis. Ketidaktaatan asas dan keterbatasan kapasitas daerah dalam penyusun an produk hukum yang demikian ini dalam banyak hal meng-hambat pencapaian tujuan otonomi daerah. Keterlibatan masyarakat akan sangat menentukan aspek keberlakuan hukum secara efektif.

(36)

Bagaimana Kedudukan Peraturan Desa dalam Sistem Perundang-undangan Nasional Pasca Keluarnya UU No. 12 Tahun 2011?

Kedudukan Peraturan Desa sebenarnya masih terma-suk dalam peraturan perundang-undangan. Hal ini didasar-kan pada ketentuan Pasal 8 UU Nomor 12 Tahun 2011:

(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusya-waratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Ba dan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yu-disial, Bank In do nesia, menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Un-dang-Undang, Dewan Per wakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Dae-rah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.

(37)

Sebelum berlakunya UU Nomor 12 Tahun 2011, Per-aturan Desa merupakan salah satu kategori PerPer-aturan Dae-rah yang termasuk jenis peraturan perundangan-undangan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (2) huruf c UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

(38)

A. Manfaat, Fungsi dan Prinsip Regulasi Desa

Sebagai produk hukum di tingkat paling bawah, regu la-si desa dalam bentuk Peraturan Desa tentunya akan mem-bawa manfaat tidak hanya bagi pemerintah desa melain kan juga masyarakat desa setempat.

Apa Manfaat Regulasi Desa?

Regulasi berfungsi sebagai pedoman kerja atau bahan acuan bagi semua pihak dalam penyelenggaraan kegiatan di desa. Diharapkan dengan adanya pedoman, ada arah penyelenggaraan kegiatan di desa. Adanya regulasi desa yang dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiat-an desa maka secara hukum dkegiat-an prosedur, terdapat legiti-masi yang memayunginya.

BAB II

(39)

a. Terciptanya tatanan kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang di desa. Tata kehidupan yang serasi, se la ras, dan seimbang di desa dalam arti hubungan an -ta ra warga masyarakat dengan pemerin-tah a-tau an-tar war ga dengan warga lainnya terbangun dalam si tuasi yang setara sesuai dengan kedudukan dan ke we nangan ma sing-masing. Regulasi desa diciptakan untuk melin-dungi hubungan yang berdasarkan ke seta raan tersebut se hingga harmonisasi betul-betul a kan terwujud di de sa. b. Memudahkan pencapaian tujuan. Adanya regulasi

de-sa juga memudahkan dede-sa untuk mencapai tujuannya. Hal ini dikarenakan dengan regulasi ada kepastian atau-pun payung hukum untuk mewujudkan tujuan ter se-but. Karena untuk mewujudkan tujuan, desa tentunya mempunyai kegiatan ataupun program-program yang akan dilaksanakan. Tentu saja untuk melaksanakan pro gram dibutuhkan payung hukum sebagai jaminan akan pelaksanaannya.

(40)

akan salah arah. Tanpa adanya regulasi desa, pe ngen-da lian ngen-dan pengawasan tingen-dak akan berjalan.

d. Sebagai dasar pengenaan sanksi atau hukuman. Regu-lasi desa juga bermanfaat untuk memberikan sanksi dan hukuman bagi siapa saja yang melanggar. Hal ini berarti bahwa regulasi desa bertindak untuk menertib-kan masyarakat. Tanpa adanya sanksi dan hukuman yang jelas masyarakat akan kacau karena tidak ada hukum yang mengatur.

(41)

Apa Fungsi Regulasi Desa?

Regulasi desa juga mempunyai fungsi menggerakkan semua pemangku kepentingan yang ada di desa.

Fungsi regulasi desa:

a. Pengaturan mengenai kewenangan desa;

b. Sebagai pembatas apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh pemerintah desa maupun masyarakat;

c. Menegaskan pola-pola hubungan antar lembaga di de sa;

d. Mengatur pengelolaan barang-barang publik di desa; e. Mengatur aturan main kompetisi politik;

f. Memberikan perlindungan terhadap lingkungan; g. Menegaskan sumber-sumber penerimaan desa; dan h. Memastikan penyelesaian masalah dan penanganan

konflik.

Prinsip Apa yang Harus Dipenuhi dalam Penyusunan Regulasi Desa?

a. Peraturan Desa harus bersifat konstitusional, arti nya membatasi yang berkuasa dan melindungi yang le-mah;

(42)

d. Memudahkan, artinya memberi ruang kepada ma sya-rakat untuk mengembangkan kreasi, potensi, inovasi dan mendapatkan akses, serta memberi insentif; e. Membatasi artinya mencegah eksploitasi terhadap

sum ber daya alam dan warga masyarakat;

f. Membatasi penyalahgunaan kekuasaan dan mencegah dominasi; serta

g. Mendorong pemberdayaan masyarakat artinya mem-beri ruang partisipasi masyarakat, dan melindungi mi-noritas.

B. Materi Muatan dalam Regulasi Desa

Berkaitan dengan asas-asas materi muatan, ada sisi lain yang harus dipahami oleh pengemban kewenangan dalam membentuk Peraturan Desa. Pengemban kewe-nang an harus memahami segala macam seluk beluk dan la tar belakang permasalahan dan muatan yang akan diatur oleh Peraturan Desa tersebut. Hal ini akan terkait erat de-ngan implementasi asas-asas tersebut.

Muatan Materi Apa yang Dimuat dalam Peraturan Desa?

(43)

a. Menetapkan ketentuan-ketentuan yang bersifat mengatur.

b. Menetapkan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat desa.

c. Menetapkan segala sesuatu yang membebani keuangan desa dan masyarakat desa.

2. Materi Peraturan Desa dapat memuat masalah-ma-salah yang berkembang di desa yang perlu pengatur-annya.

3. Semua materi Peraturan Desa tidak boleh bertentang-an dengbertentang-an peraturbertentang-an perundbertentang-ang-undbertentang-angbertentang-an ybertentang-ang lebih tinggi.

(44)

ber-tentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagaimana di-tentukan dalam Pasal 69 ayat (2) UU No. 6/2014. Kalau kita melihat pasal 69 ayat (1), jenis peraturan yang ada di desa terdiri atas Peraturan Desa, peraturan bersama Kepa-la Desa, dan peraturan KepaKepa-la Desa.

Rancangan Peraturan Desa yang termaktub dalam ma-teri regulasi desa dapat diprakarsai oleh Pemerintah Desa atau berasal dari usul inisiatif anggota BPD. Masyarakat berhak memberikan masukan baik secara tertulis maupun lisan terhadap Rancangan Peraturan Desa. Rancangan mu atan regulasi desa yang telah disiapkan oleh kepala desa disampaikan dengan surat pengantar kepada BPD oleh kepala desa. Sedangkan Rancangan Peraturan Desa yang disiapkan oleh BPD disampaikan oleh pimpinan BPD kepada Kepala Desa.

Materi yang diatur adalah semua obyek yang diatur se-cara sistematik sesuai dengan luas lingkup dan pendekat-an ypendekat-ang dipergunakpendekat-an.

Landasan Apa yang Diperlukan dalam Menyusun Mate ri Peraturan Desa?

(45)

b. Landasan filosofis, artinya alasan yang mendasari di-terbitkannya Peraturan Desa.

c. Landasan sosiologis, maksudnya agar Perdes yang diterbitkannya jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat, misalnya adat istiadat, agama.

d. Landasan politis, maksudnya agar peraturan desa yang diterbitkan dapat berjalan sesuai dengan tujuan.

(46)

A. Jenis-Jenis Regulasi Desa

Regulasi desa sebagai sebuah produk peraturan yang ada di desa mempunyai beberapa jenis.

Apa Jenis Produk Regulasi Desa?

1. Peraturan Desa

Peraturan Desa menurut Pasal 1 angka 7 UU No. 6/2014 tentang Desa adalah peraturan perundang-undang-an yperundang-undang-ang ditetapkperundang-undang-an oleh Kepala Desa setelah dibahas dperundang-undang-an disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.

Peraturan Desa bersifat umum sehingga mengatur se-gala hal yang menjadi kewenangan desa dan juga meng-ikat semua orang yang berada dalam lingkup desa. Meski-pun dapat mengatur segala hal yang menjadi kewenangan

BAB III

(47)

desa, namun sebuah peraturan desa harus mematuhi asas dan prinsip dasar pembentukan suatu peraturan perun-dang-undangan. Oleh karenanya, peraturan desa harus me ngindahkan batasan ataupun larangan yang ditentukan oleh peraturan yang lebih tinggi derajatnya berdasarkan hi-rarki peraturan.

Pembentukan suatu peraturan bukan hanya didasar-kan pada kebutuhan saja, tetapi juga harus didasardidasar-kan pada peraturan yang lebih tinggi atau harus berlandaskan hukum atau mempunyai landasan yuridis.

(48)

2. Peraturan Kepala Desa

(49)

3. Peraturan Bersama Kepala Desa

Selain kedua jenis peraturan di atas, di Desa juga di-kenalkan Peraturan Bersama Kepala Desa dalam Pasal 70 UU No. 6/2014 tentang Desa. Peraturan Bersama ini meru-pakan peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Desa dari 2 (dua) Desa atau lebih yang mela kukan kerja sama antar-Desa.

B. Mekanisme Pembentukan Regulasi Desa

Dengan berlakunya UU No. 6/2014 tentang Desa yang telah dise tujui bersama oleh DPR dan Presiden pada 18 Desember 2013, fungsi Badan Permusyawaratan Desa adalah membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersa ma Kepala Desa; menampung dan menyalur-kan aspi rasi masyarakat Desa; dan melakumenyalur-kan pengawasan kinerja Ke pala Desa.

Fungsi menampung dan menyalurkan aspirasi dan fungsi menetapkan Peraturan Desa yang dimiliki Badan Permusyawaratan Desa merupakan sarana penting bagi pe lembagaan partisipasi masyarakat dalam proses pemba-ngunan desa.

(50)

seba-gai mitra kepala desa dalam pembahasan Rancangan Per-aturan Desa.

Sejak lahirnya Peraturan Desa sebagai landasan hu-kum bagi penyelenggaraan pemerintahan di desa, pem-ben tukannya lebih banyak atau bahkan hampir seluruhnya disusun oleh pemerintah desa tanpa melibatkan lembaga legislatif di tingkat desa, apalagi melibatkan masyarakat. Pa-dahal demokratisasi pembentukan perundang-undang an bukan saja menjadi kebutuhan di aras nasional namun juga di aras lokal seperti di level desa. Sejalan dengan berkem-bangnya otonomi daerah atau otonomi masyarakat, di de-sa belum dirade-sa adanya peranan anggota BPD yang signi-fikan dalam melaksanakan fungsi legislasinya. Demikian ju ga peran masyarakat dirasa masih sangat minim dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di tingkat desa.

(51)

pertemuan yang secara rutin dan adat kebiasaan yang se-ring dilakukan oleh masyarakat desa.

Dalam pasal 69 angka 3 UU No. 6/2014 tentang Desa disebutkan bahwa peraturan desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama BPD. Ke-se pakatan ini mempunyai maksud bahwa ada ruang pe-ngembangan demokrasi di desa. Kesepakatan membuka pintu bahwa pe merintah desa dan BPD untuk bertemu me ngadakan musyawarah dalam menemukan titik temu. Apabila tidak terjadi kesepakatan atau dalam arti BPD tidak menyepakati peraturan desa, maka peraturan desa tetap tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah desa.

Bagaimanakah Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa?

Peraturan desa/regulasi desa dalam penyusunannya mempunyai mekanisme yang harus dilakukan. Mekanisme tersebut meliputi:

1. Mekanisme dan Alur dalam Tahap Persiapan dan Pembahasan:

a. Rancangan Peraturan Desa diprakasai oleh Pe me-rintah Desa dan dapat berasal dari usul inisiatif anggota BPD;

(52)

c. Masukan secara tertulis maupun lisan dari ma sya-rakat dapat dilakukan dalam proses penyusun an Rancangan Peraturan Desa;

d. Rancangan Peraturan Desa dibahas secara bersa-ma oleh pemerintah desa dan BPD;

e. Rancangan Peraturan Desa yang berasal dari pe-me rintah desa, dapat ditarik kembali sebelum di-ba has bersama BPD;

f. Khusus untuk peraturan desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, pungutan, tata ru-ang, dan organisasi Pemerintah Desa harus men-dapatkan eva luasi dari Bupati/Walikota sebelum ditetapkan menjadi Peraturan Desa harus dievalu-asi oleh Bupati/Walikota. Hdievalu-asil evaludievalu-asi rancangan Peraturan Desa disampaikan oleh bupati/walikota kepada kepala desa paling lama 20 (dua puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Desa tersebut di-terima.

2. Alur Pengesahan dan Penetapan:

a. Rancangan Peraturan Desa yang telah disetujui bersama oleh kepala desa dan BPD disampaikan oleh pimpinan BPD kepada kepala desa untuk di-tetapkan menjadi Peraturan Desa;

(53)

c. Rancangan Peraturan Desa wajib ditetapkan oleh kepala desa dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tersebut; d. Peraturan Desa wajib mencantumkan batas waktu

penetapan pelaksanaan;

e. Peraturan Desa sejak ditetapkan dinyatakan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, kecuali ditentukan lain di dalam Pera-turan Desa tersebut; dan

f. Peraturan Desa tidak boleh berlaku surut.

3. Penyampaian dan Penyebarluasan Peraturan Desa:

a. Peraturan Desa dilarang bertentangan dengan ke-pentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;

b. Peraturan Desa dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan; c. Peraturan Desa diumumkan dalam Berita Desa

atau Lembaran Desa;

d. Pengumuman Peraturan Desa dilakukan oleh se-kre taris desa;

(54)

f. Penyebarluasan ini bertujuan untuk mewujudkan asas transparansi dan akuntabilitas oleh pemerin-tah desa; dan

g. Penyebarluasan ini bisa dilakukan dengan berba-gai metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi desa.

Mekanisme dalam penyusunan regulasi desa tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah desa dengan BPD, na-mun juga melibatkan unsur supra desa dan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi desa mempunyai tem pat yang strategis untuk menentukan arah penyelengga raan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan baik di level desa maupun pada level supra-desa. Kotak di bawah ini merupakan contoh produk regulasi desa yaitu Peraturan Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lom-bok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Senggigi yang merupakan desa dampingan ACCESS telah mampu menghasilkan Peraturan Desa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

(55)
(56)
(57)

Kepala desa bersama BPD melakukan Drafting/perte-muan untuk membangun kesepakatan

(58)
(59)
(60)

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

KECAMATAN BATULAYAR

KEPALA DESA SENGGIGI

Kantor : Jl. Raya Senggigi - Kerandangan Kode Pos : 83355

PERATURAN DESA SENGGIGI KECAMATAN BATULAYAR KABUPATEN LOMBOK BARAT

NOMOR 1 TAHUN 2011

TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA DESA SENGGIGI

Menimbang : a. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa adalah Rencana Operasional Tahun-an daripada program umum Pemerintah-an dPemerintah-an PembPemerintah-angunPemerintah-an Desa yPemerintah-ang dija-bar kan dalam perkiraan batas tertinggi Pe nerimaan dan Pengeluaran Keuangan Desa;

(61)

Mengingat : 1. Undang-undang nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perun-dang-undangan (Lembaran Negara Repu-blik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tam bahan Lembaran Negara Republik In-do nesia Nomor 4389);

2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Ne gara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Nega-ra Republik Indonesia Nomor 4437) seba-gaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Pe netapan Peraturan Pemerintah Peng-ganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerin-tahan Daerah menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lem-baran Negara Republik Indonesia Nomor 4548 );

(62)

4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Repu-blik Indonesia Nomor 4587);

5. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1999 tentang Pedoman Umum Pengaturan mengenai Desa;

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pemben-tukan dan Mekanisme Penyusunan Per-aturan Desa;

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Admins-trasi Desa;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Penge-lolaan Keuangan Desa;

9. Peraturan Daerah Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Desa an-tara Kabupaten dan Desa;

(63)

11. Peaturan Daerah Nomor 9 Tahun 2001 Tentang Peraturan Desa;

12. Keputusan Bupati Lombok Barat Nomor 41 Tahun 2001 Tentang Pedoman Penyu-sunan Pendapatan dan Belanja Desa.

Dengan Persetujuan Bersama

BADAN PERMUSYAWARATAN DESA SENGGIGI dan

KEPALA DESA SENGGIGI

MEMUTUSKAN :

(64)

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Desa ini yang dimaksud dengan :

1. Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjut-nya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hu-kum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwe-nang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sis-tem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indone-sia.

2. Pemerintahan Desa adalah Penyelenggara Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Per-musyawaratan Desa ( BPD ) dalam mengatur dan men-gurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan di hormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perang-kat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

4. Kepala Desa adalah Kepala Pemerintahan di Desa. 5. Badan Permusyawaratan Desa atau sebutan lainnya

(65)

merupakan perwujudan demokrasi dalam Penyeleng-garaan Pemerintahan Desa;

6. Dana perimbangan adalah pengertian sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerin-tah Pusat dan Daerah.

7. Alokasi Dana Desa adalah Dana yang dialokasikan oleh Pemerintah kabupaten untuk desa yang bersum-ber dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Dae-rah yang diterima oleh Kabupaten.

8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APBDes adalah Rencana Keuangan Tahunan Pemerintah Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa, yang ditetapkan dengan Peraturan Desa.

9. Peraturan Desa adalah Peraturan Perundang–undan-gan yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa.

BAB II

SUMBER PENDAPATAN

Pasal 2

Sumber pendapatan Desa diperoleh dari : 1. Pemerintah : - Pusat

(66)

2. Pendapatan Asli Desa berupa : - Hasil Kekayaan Desa

- Hasil-hasil yang sah yang diatur dalam Peraturan Desa

BAB III

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

Pasal 3

(1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa terdiri atas bagian Penerimaan dan bagian Pengeluaran.

(2) Anggaran Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah terdiri atas Pengeluaran Rutin dan Pengeluaran Pembangunan.

Pasal 4

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa terdiri dari : (1) Penerimaan :

Rp.3.280.100.000,-(2) Pengeluaran : - Rutin Rp. - Pembangunan Rp.

2.689.600.000,-Pasal 5

(67)

(2) Pos-pos sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut :

a. Pos sisa perhitungan anggaran tahun lalu b. Pos Penerimaan Pendapatan Asli Desa c. Pos Pemberian Pemerintah Pusat d. Pos Pemberian Pemerintah Provinsi e. Pos Pemberian Pemerintah Kabupaten f. Pos lain-lain pendapatan yang sah

Pasal 6

(1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa bagian pe-nge luaran terdiri dari 2 (dua) bagian adalah sebagai be rikut;

a. Bagian Pengeluaran Rutin

b. Bagian Pengeluaran Pembangunan

(2) Bagian Pengeluaran Rutin sebagaimana dimaksud pa-da ayat (1), huruf a, apa-dalah terdiri pa-dari 6 (enam) Pos. (3) Pos-pos sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 ) adalah

sebagai berikut :

a. Pos Belanja Pegawai b. Pos Belanja Barang c. Pos Belanja Pemeliharaan d. Pos Biaya Perjalanan Dinas e. Pos Belanja Lain-lain

(68)

(4) Bagian Pengeluaran Pembangunan sebagaimana di-maksud pada ayat (1), hurup b, adalah terdiri dari 6 (enam) Pos.

(5) Pos-pos sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah se bagai berikut ;

a. Pos Prasarana Pemerintahan Desa b. Pos Prasarana Produksi

c. Pos Prasarana Perhubungan d. Pos Prasarana Pemasaran e. Pos Prasarana Sosial

f. Pos Prasarana Pembangunan lain

Pasal 7

Uraian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tahun ang-garan 2011 yang terdiri dari bagian penerimaan, bagian pengeluaran rutin dan pengeluran pembangunan adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Desa ini.

Pasal 8

(69)

(2) Kepala Desa dilarang melakukan pengeluaran atas be-ban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selain yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dikecualikan untuk hal-hal yang di-pandang sangat perlu untuk kepentingan umum yang bersifat penting dan mendesak.

Pasal 9

Sumber Pendapatan Desa dari Pendapatan Asli Desa dan bantuan Pemerintah Pusat, bantuan Pemerintah Provinsi dan bantuan Pemerintah Kabupaten dikelola oleh Pemerin-tah Desa dan dimanfaatkan untuk kepentingan penyeleng-garaan dan pembangunan desa.

BAB IV

PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

Pasal 10

(70)

Pasal 11

Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa seba-gaimana dimaksud pada pasal 9, diatur dengan Peraturan Desa sekurkurangnya tiga bulan sebelum tahun ang-garan berakhir.

BAB V

KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP

Pasal 12

(1) Dengan berlakunya Peraturan Desa ini, maka semua ketentuan yang menyangkut mengenai Anggaran Pe-ne rimaan dan Pengeluaran Keuangan Desa serta ke-ten tuan lain yang berke-tentangan dengan Peraturan ini di nyatakan tidak berlaku lagi.

(2) Hal-hal lain yang belum cukup diatur dalam Peraturan Desa ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Kepala Desa yang ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa.

Pasal 13

(1) Peraturan Desa ini mulai berlaku pada tanggal ditetap-kan.

(71)

penem-patan dalam lembaran Berita Daerah Kabupaten Lom-bok Barat

DiKeluarkan di Senggigi Pada tanggal Januari 2011

KEPALA DESA SENGGIGI

( H. MUSTAKIR AHMAD )

Diundangkan di Gerung Pada tanggal 2011

SEKRETARIS DESA SENGGIGI

( M U S T A H I Q )

NIP.19790605 201001 1 007

(72)

LAMPIRAN I PERATURAN DESA SENGGIGI NOMOR : 1 Tahun 2011

TANGGAL : 1 Januari 2011

PENERIMAAN PENDAPATAN

POS SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN TAHUN LALU

Pos Penerimaan Pendapatan Asli Desa: Pungutan Administrasi Surat-surat keterang an Surat Keterangan Jual Beli,Hibah,Gadai, Warisan, Sporadik

Surat-surat Keterangan lainnya

Swadaya dan partisipasi masyarakat

0,-Pos Penerimaan dari Pemerintah Pusat Bantuan dari Pemerintah Pusat Dana Raskin

Pos Penerimaan dari Pemerintah Provinsi

Bantuan dari Pemerintah Provinsi 446.000.000

(73)

KODE

Pos Penerimaan dari Pemerintah Kabupaten Dana Alokasi Dana Desa ( ADD )

Dana PNPM Mandiri

Dana PNPM Generasi Sehat dan Cerdas Dana P2SPP

Dana PPIP

Pembagian Hasil Pengelolaan Limbah Sampah antara Desa & UPTD Kebersihan dan Pertamanan Kab. Lombok Barat

Tunjangan Penghasilan Aparat Desa : Kepala Desa

Kepala- Kepala Urusan Kepala Dusun 4. Penghulu Desa

Insentif pengganti tanah Pecatu Kepala Desa

200.000.000

Pos Lain-lain Pendapatan yang sah

(74)

LAMPIRAN II PERATURAN DESA SENGGIGI NOMOR : 1 Tahun 2011

TANGGAL : 1 Januari 2011

BELANJA RUTIN

POS BELANJA PEGAWAI :

Penghasilan Aparatur Desa terdiri dari : a. Dari Penerimaan APB Desa :

• Honor Kepala Desa

• Honor Sekretaris Desa

• Honor Kepala Urusan

• Honor Staf Pembantu • Honor Penjaga Kantor

• Honor Linmas Desa

• Honor Tenaga Keamanan Desa

• Honor Tenaga Kebersihan Desa

• Honor Ketua BPD

• Honor Wakil Ketua

• Honor Sekretaris BPD

• Honor Anggota BPD 4 orang

• Honor Ketua dan Anggota LPM

• Honor 4 orang Kepala Dusun

• Honor 4 Orang Penghulu Dusun

• Honor Penghulu Desa

• Honor 17 orang Ketua RT

b. Dari Penerimaan Kabupaten :

• Tunjangan Kepala Desa

• Tunjangan Kepala Urusan

• Tunjangan Kepala Dusun

• Tunjangan Penghulu Desa

• Insentif Tanah Pecatu Kepala Desa

(75)

14.400.000,-KODE Pengadaan Perlengkapan Keamanan Pengadaan 1 Unit Komputer

4.500.000,-Pengecetan Gedung Kantor Desa

Pemiliharaan Kendaraan milik Desa Pemeliharaan Peralatan Kantor Desa

(76)

KODE

Tunjangan Hari Raya dan Operasional 1. Kepala Desa

2. Sekretaris Desa

3. Kepala Urusan dan Staf Pembantu 4. Kepala Dusun

5. Ketua RT

6. Badan Permusyawaratan Desa

7. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) 8. Penghulu Desa

9. Penghulu Dusun Biaya Rapat Dinas

Biaya Rapat LPJ Kepala Desa

Biaya kegiatan hari-hari besar Agama & Nasio-nal

Biaya Fotocopy surat-surat

Biaya Bayar Rekening Listrik Dana Layatan Kemasyarakatan Dana Kesehatan Perangkat Desa

2.500.000.-POS BIAYA TAK TERDUGA

Biaya Tak Terduga 30.000.000

Jumlah 30.000.000

TOTAL JUMLAH 590.500.000

KEPALA DESA SENGGIGI

(77)

LAMPIRAN III PERATURAN DESA SENGGIGI NOMOR : 1 Tahun 2011

TANGGAL : 1 Januari 2011

BELANJA PEMBANGUNAN

POS PRASARANA PEMERINTAHAN DESA Pemasangan kramik gedung Kantor Desa Lanjutan Pembangunan Kantor Desa Penembokan Kantor Desa

Pengadaan Air bersih bagi 1 Dusun 100.000.000

Jumlah 100.000.000 Pembangunan jembatan di Mangsit 3 x 5 M Pembukaan jalan di Mangsit 200 M Pembangunan rabat jalan di Mangsit 250 M Penalutan pinggir Jalan dan pinggir kali di Ke-randangan 350 M

Pembangunan rabat jalan di Kerandangan 100M Pembukaan jalan di Senggigi 500 m

Pembangunan rabat jalan di Senggigi 150 m

Peningkatan jalan ekonomi di Loco, Senggigi

dan Mangsit 900 m

Pembangunan rabat jalan di Loco 1500 m

(78)

KODE

Pembangunan tempat asongan di Senggigi & Mangsit

Bantuan modal untuk nelayan, petani dan

pedagang kecil

Bantuan modal Simpan Pinjam untuk Perempu-an (SPP)

POS PRASARANA SOSIAL DAN BUDAYA Bantuan dana dan perlengkapan PKBM, TPQ, PAUD dan TK

Pembangunan TK di Mangsit Lanjutan pemba-ngunan masjid dan musholla di 4 dusun Bantuan honor guru TK dan SD

Bantuan Penunjang kegiatan Lomba Desa ting

-kat Kecamatan

Pemasangan lampu penerang jalan umum (PJU) 4 Dusun

(79)
(80)

P

roses pembahasan dan penentuan Peraturan Desa secara teoritis dapat dilakukan melalui dua jalur, yai-tu jalur lembaga permusyawaratan Desa (BPD) dan pemerintah desa (Kepala Desa). Karena kedua lembaga ter -sebut penentuannya dilakukan oleh rakyat di desa baik me-la lui pemilihan me-langsung maupun musyawarah, maka seca-ra politis seca-rakyat memiliki hak untuk berpartisipasi.

Bagaimana Proses Pembahasan dan Penentuan Per-aturan Desa yang Partisipatif?

Pembentukan regulasi desa terkait pengelolaan parti-sipasi rakyat di desa merupakan sesuatu yang tidak bisa diundur-undur lagi. Hal ini perlu segera diwujudkan karena perangkat peraturan yang ada belum bahkan tidak membe-rikan akses dan ruang yang jelas bagi rakyat di desa untuk

BAB IV

(81)

terlibat dalam proses pembentukan Peraturan Desa. Kalau pun ada, hanyalah landasan bahwa rakyat memiliki hak un-tuk berpartisipasi dalam pembahasan dan pembenun-tukan Peraturan Desa. Tentang bagaimana mekanisme dan tata caranya belum ada pengaturan secara khusus. (Ibnu Tri Cahyono, 2005: 4)

Pemerintah yang baik menjamin hak masyarakat umum untuk mendapatkan pelayanan umum seperti ke-se hatan, pendidikan, perumahan dan pelayanan publik yang lainnya. Tanpa pemerintahan yang baik, sangatlah sulit untuk mewujudkan pelayanan publik dengan kualitas yang baik. Ciri-ciri dan kewajiban pemerintahan yang baik: bersifat menolong, bergantung pada tata aturan, bersifat terbuka (transparan), harus bertanggung jawab (responsi-ble), menghargai dana publik (atau uang rakyat), bersifat responsif, menawarkan informasi, dan bersifat adil.

(82)

Penghormatan terhadap kewibawaan (supremasi) hukum dan perangkatnya dan hak asasi manusia, serta: c) Berba-gai hal lainnya yang diharapkan oleh rakyat dari pemerin-tah yang melayani kepentingan khalayak.

Pembuatan Perdes dalam konteks untuk menunjang kemandirian desa ditujukan dalam kerangka:

a. Melindungi dan memperluas ruang otonomi dan kebe-basan masyarakat;

b. Membatasi kekuasaan (kewenangan dan intervensi) pe-me rintah daerah dan pusat, serta pe-melindungi hak-hak prakarsa masyarakat desa;

c. Menjamin kekebasan masyarakat desa;

(83)

e. Menjamin partisipasi masyarakat desa dalam proses pengambilan keputusan antara lain, dengan memasti-kan bahwa masyarakat desa terwakili kepentingannya dalam Badan Permusyawaratan Desa;

f. Memfasilitasi perbaikan dan pengembangan kondisi sosial politik dan sosial ekonomi masyarakat desa.

Bagaimana Langkah Menyusun Peraturan Desa yang Partisipatif?

Tujuan penyusunan Peraturan Desa secara partisipatif agar dihasilkan Peraturan Desa yang memenuhi aspek ke-berlakuan hukum dan dapat dilaksanakan sesuai tujuan pembentukannya. Partisipasi masyarakat dapat berupa ma sukan dan sumbang pikiran dalam perumusan subs-tan si pengaturan Peraturan Desa. Peraturan Desa yang par tisipatif dapat dilakukan dengan jalan sebagai berikut:

a. Identifikasi persoalan di masyarakat;

b. Menerima masukan masyarakat/keterlibatan masya-rakat dalam proses penyusunan regulasi desa;

c. Membuat topik Regulasi Desa;

d. Membuat draft atau kerangka umum regulasi desa; e. Konsultasi publik;

f. Regulasi desa dengan kearifan lokal;

g. Revisi dari draft perdes hasil konsultasi publik;

(84)

(menurut UU No. 6/2014 tentang Desa menyebutkan bahwa penetapan regulasi desa menjadi sebuah kese-pa katan antara Pemerintah Desa dengan BPD)

i. Implementasi regulasi desa; hambatan dan dukungan.

(85)

Kotak 1.

Dian adalah sosok perempuan berumur sekitar 24 tahun yang mampu bersekolah sampai jenjang SMA. Walaupun di

Desa Bonto Maccini jauh dari kota, tapi semangat dan spirit

yang selalu tumbuh di dalam diri Dian membuat dia

mam-pu menyelesaikan pedidikannya. Sosok peremmam-puan seperti Dian semestinya harus ada di setiap desa agar bisa menjadi motivator perubahan.

Pengalaman organisasi pertama Dian sebagai KPL (Kader

Peduli Lingkungan), sekaligus juga sibuk menjadi staf kantor Kecamatan Sinoa Kabupaten Bantaeng. Dian terlibat di Pro

-gram Led Lolo Gading karena menggantikan salah seorang

KPL atas nama Hasnadi. Setelah Dian mendapat

rekomen-dasi dari Hasnadi dan warga Desa Bonto Maccini, maka Dian mulai berani aktif melakukan sosialisasi (FGD) di tingkat ko -munitas. Hal tersebut karena Dian merasa baru ada

man-dat sosial yang ada pada dirinya karena diberi kepercayaan

penuh oleh warga.

Spirit inilah yang Dian jadikan sebagai motivasi sehingga mampu menggali informasi terkait kearifan lokal yang ada di Desa Bonto Maccini. Dengan modal hasil pelatihan yang

diadakan oleh Led Lolo Gading maka Dian sudah mulai

(86)

Selanjutnya Dian mulai terlibat di berbagai kegiatan yang

diadakan oleh warga Desa Bonto Maccini seperti kegiatan pengajian, takziah dan kegiatan-kegiatan di kantor

kecamat-an. Ide-ide Dian mulai diakomodasi oleh pihak pengambil kebijakan. Menurut warga dan pemerintah, ide-ide yang

digagas oleh Dian mampu mendorong perubahan yang ce -pat melalui isu-isu pengembangan lingkungan yang berbasis pengembangan lingkungan hidup. Hal tersebut dilakukan melalui inisiasi kader-kader peduli lingkungan dan inisiasi

kebijakan berbasis kearifan lokal yang dituangkan dalam

(87)

Dian merasakan perubahan yang cukup besar pada dirinya,

karena Dian merasa pengembangan kapasitas dan

keteram-pilannya meningkat cukup pesat. Ini karena hasil gembleng-an tgembleng-anpa henti oleh lembaga Led Lolo Gading ygembleng-ang selalu melibatkan KPL dalam segala pelatihan dan pertemuan yang sifatnya memberdayakan KPL. Dengan modal keterampilan yang dimiliki, maka Dian memiliki harapan yang cukup besar

yaitu Perdes Lingkungan yang digagas bersama warga Desa

Bonto Maccini dapat diterapkan dengan baik dan masif agar Desa Bonto Maccini kembali HIJAU.

(88)

se-hingga sumber daya laut dapat direhabilitasi, diproteksi, dan dikelola secara berkelanjutan. Perdes tersebut bukan mengisolasi terumbu karang dari pemanfaatan warga desa, tetapi mengatur tata kelola pemanfaatan terumbu karang secara baik dan berkelanjutan. Hal prinsip yang di-atur dalam Perdes adalah mengdi-atur tentang daerah mana yang boleh diambil terumbu karangnya, serta daerah mana yang tidak boleh.

Perdes pengelolaan terumbu karang ini bisa dicatat se-bagai terobosan atau inovasi yang dilakukan oleh Pemerin-tah Desa Bola. Dikatakan inovasi karena Perdes menjadi ja-lan keluar yang menjamin kepastian hukum atas perlakuan terhadap sumber daya laut di sekitar desa.

Pengalaman Dian dan Desa Bola tersebut menunjuk-kan semangat pengaturan desa, sehingga menginisiasi pe-nyusunan Peraturan Desa yang partisipatif.

(89)

sebuah peraturan harus didasarkan pada kenyataan, dan kenyataan itu perlu diatur. Pengaturan itu dapat membantu masyarakat untuk dapat keluar dari permasalahan yang mereka alami selama ini. Peraturan bukan beban, tetapi peraturan harus menjadi solusi untuk keluar dari per-masalahan riil yang dihadapi oleh masyarakat.

Kotak 2:

Inovasi Perdes yang partisipatif juga muncul dalam peman-faatan potensi obyek wisata. Pemerintah Desa Eela Haji

menggali dan mengembangkan potensi obyek wisata

pan-tai yang terletak di wilayah desanya. Pengembangan ini

ti-dak mempergunakan program/kegiatan dan anggaran dari APBD kabupaten, provinsi maupun pemerintah pusat. Pe-ngem bangan ini dilakukan oleh desa untuk meningkatkan

pendapatan asli desa dan memberikan alternatif sumber

penghidupan bagi warga desa. Upaya tersebut diwujudkan

dalam bentuk pembuatan Rancangan Perdes tentang

Pe-nge lolaan Obyek Wisata Pantai Mantatahe.

Sebenarnya, Pantai Mantatahe merupakan salah satu obyek wisata yang akan dikembangkan oleh Pemerintah Kabupa-ten Buton sebagai kawasan kunjungan wisata. Pengelolaan

(90)

Sa-yangnya, dalam menyusun rencana program pengembang-an obyek wisata Ppengembang-antai Mpengembang-antatahe, pemerintah daerah

ti-dak melibatkan pemerintah dan masyarakat desa.

Rancangan yang tidak partisipatif tersebut akhirnya dito

-lak oleh masyarakat Eela Haji. Peno-lakan di-lakukan secara

langsung kepada pemerintah kabupaten. Meskipun respon

kabupaten tidak jelas dan pembangunan infrastruktur di Pantai Mantatahe yang rencananya akan dilakukan pihak ketiga, sampai sekarang jaga belum dilaksanakan. “Keko -songan” pengelolaan tersebut melandasi pemerintah desa untuk mengelola Pantai Mantatahe sebagai obyek wisata

yang ada di Desa Eela Haji.

Dari pengelolaan yang sudah dilakukan, pemasukan yang

diperoleh desa dari Pantai Mantatahe sekarang ini menca -pai Rp 600 ribu per minggu. Untuk memperbaiki akses jalan

ke Pantai Mantatahe, pemerintah desa memanfaatkan dana

PNPM. Dengan dikelolanya Pantai Mantatahe oleh desa,

maka para pedagang yang berasal dari Desa Eela Haji bisa

(91)
(92)

kotak 3:

Contoh Awig-awig di Dusun Baturiti, Desa Mambalan

AWIG-AWIG DUSUN BATURITI TENTANG

KEAMANAN AN KETERTIBAN, KESEHATAN LINGKUNGAN, PENDIDIKAN DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN LAINNYA

Bab I Ketentuan Umum

Pasal 1

Dalam awig-awig ini yang dimaksud dengan : a. Desa adalah desa Mambalan

b. Kades adalah Kepala Desa Mambalan

c. Dusun adalah Dusun Baturiti d. Kadus adalah Kepala Dusun Baturiti

e. Ketua RT adalah Ketua RT yang ada dalam bagian

wilayah Dusun Baturiti

(93)

g. Bantuan atau pelayanan oleh aparat dusun atau desa

adalah bantuan berupa administrasi seperti surat me -nyurat, maupun bantuan moril maupun materiil. h. Tamu yang bermalam adalah orang atau sekelompok

orang, baik yang sudah dikenal maupun yang baru

dike-nal serta tidak ada hubungan famili atau kekeluarga an

yang bermaksud akan bermalam dirumah warga.

Bab II Azas dan Tujuan

Pasal 2

(1) Awig-awig ini berazaskan iman dan taqwa yang dilandasi oleh rasa kekeluargaan, kebersamaan, kegotongroyon-gan serta rasa saling asah, saling asih dan saling asuh.

(2) Awig-awig ini bertujuan :

a. menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh

warga dusun,

b. mencapai kehidupan yang sehat lahir maupun

ba-tin,

c. menuju masyarakat yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan,

(94)

Bab III

Hak dan Kewajiban Warga Dusun Pasal 3

Bidang Keamanan dan Ketertiban

(1) Setiap warga masyarakat dusun wajib ikut serta men

-jaga keamanan dan ketertiban lingkungan

(2) Setiap warga masyarakat Dusun Baturiti diwajibkan

me miliki kentongan

(3) Setiap warga masyarakat yang kedatangan tamu dari

luar wilayah Desa Mambalan yang bermaksud meng-inap/menetap sementara maka warga masyarakat tersebut wajib melaporkan kepada Ketua RT dengan

membawa Kartu Identitas tamu yang bersangkutan.

(4) Setiap warga yang bertamu (midang) dibatasi sampai

dengan Pukul : 22.00 WITA.

(5) Setiap warga masyarakat dilarang melakukan kegiatan

yang dapat meresahkan masyarakat antara lain: a. Judi didalam kampung

b. Mabuk – mabukan

(95)

a. Bagi masyarakat yang tidak melaksanakan

kewa-jiban pada poin 1 maka akan diberikan tegur an oleh

kepala dusun, apabila teguran tidak diin dah kan se -lama 3 kali maka warga tersebut akan dikenakan denda berupa uang sejumlah

Rp.10.000,-b. Bagi masyarakat yang tidak melaksanakan

kewa-jiban pada poin 2 maka akan diberikan teguran langsung oleh ketua RT,apabila teguran tersebut

tidak diindahkan maka kepala dusun tidak ber -tanggung jawab apabila terjadi sesuatu yang da-pat merugikan warga tersebut.

c. Bagi masyarakat yang tidak mentaati poin 4 maka

akan diberikan teguran langsung oleh Ketua RT atau kepala dusun dan apabila teguran tersebut

tidak diindahkan maka Kepala Dusun akan

mela-por kan kepada pihak kepolisian.

Pasal 4

Bidang Kesehatan Lingkungan

(1) Setiap diatur pada ayat 1, 2, 3, dan 4 diberikan sangsi

sebagai berikut :

a. Setiap warga yang tidak aktif melaksanakan go -tong royong dan setelah diberikan peringatan

(96)

mengindahkan maka akan dikenakan sangsi yaitu membersihkan tempat ibadah.

b. Setiap warga yang tidak aktif membawa Balitanya ke Posyandu selama 3 (tiga) kali berturut-turut ma ka dikenakan sangsi tidak akan diberikan ban -tuan apabila ada ban-tuan pemerintah terkait

de-ngan fasilitas kesehatan anak.

c. Setiap ibu-ibu yang melahirkan pada dukun tidak terlatih, apabila terjadi sesuatu dalam melahirkan maka tidak akan diberikan Surat Rujukan

Kesehat-an dari Puskesmas.

Pasal 5

Bidang Pendidikan

(1) Setiap orang tua yang memiliki anak wajib belajar 9 ta -hun diwajibkan menyekolahkan anaknya

(2) Setiap warga masyarakat yang tidak mampu

melanjut-kan putra-putrinya ke jenjang pendidimelanjut-kan yang lebih

tinggi, hendaknya orang tua yang bersangkutan

mela-ku kan pendekatan kepada kepala Dusun atau Kepala

Desa untuk kiranya dapat dicarikan bapak asuh/angkat agar anak tersebut dapat melanjutkan pendidikannya

(97)

(3) Apabila ada warga masyarakat yang tidak mau melan jutkan

pendidikan anaknya yang disebabkan oleh karena kondisi ekonomi/kurang mampu, maka kepala dusun/desa dapat

mencarikan alternatif agar anak ter sebut dapat bersekolah

kembali sebagaimana anak-anak yang lain.

(4) Setiap sekolah-sekolah yang ada di wilayah Desa Mam -balan agar memprioritaskan warga yang ada di wilayah Desa Mambalan

(5) Setiap warga masyarakat yang merasa masih belum

mampu membaca dan atau menulis huruf latin, wajib mengikuti program Keaksaraan Fungsional (Paket A).

(6) Setiap warga masyarakat yang tidak mematuhi atau

tidak melaksanakan anjuran sebagaimana ayat (1)

sampai dengan ayat (3), maka akan diberikan teguran

dan nasihat oleh kepala dusun sebanyak 3 (tiga) kali.

(7) Apabila teguran tersebut tidak dipatuhi, maka yang ber

-sangkutan tidak akan dilayani segala kebutuhan yang

berhubungan dengan administrasi (surat menyurat).

Dirumuskan di : Dusun Baturiti

Pada Tanggal : November 2009

Kepala Dusun Baturiti

(98)

Apa Tujuan Pengawasan Regulasi Desa?

Regulasi desa memerlukan pengawasan. Pengawasan sangat penting dilakukan untuk melihat apakah regulasi tersebut bertentangan atau berbenturan dengan peraturan yang lebih tinggi.

Tujuan pengawasan produk hukum desa adalah untuk mewujudkan sinkronisasi dan harmonisasi produk hukum dalam satu kesatuan sistem hukum nasional agar pelaksa-naan pemerintahan desa berjalan sesuai standar dan kebi-jakan Pemerintah.

Pengawasan produk hukum desa sebagaimana dimak-sud dilaksanakan melalui kegiatan:

a. Evaluasi; b. Klarifikasi; dan c. Pengendalian.

BAB V

(99)

Apa yang disebut dengan evaluasi, klarifikasi dan pen-gendalian? Siapa yang melakukan pengawasan terhadap regulasi desa?

Apa yang Dimaksud dengan Evaluasi

Peratur-an Desa?

Evaluasi pada hakekatnya merupakan pengkajian dan penilaian terhadap Rancangan Peraturan Desa untuk meng-etahui kesesuaian dengan peraturan perundang-undang an yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Sedang kan kla-ri fikasi adalah pengkajian dan penilaian terha dap Per aturan Desa untuk mengetahui kesesuaian dengan peratur an per undang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Pengendalian adalah pengawasan terhadap produk hu kum desa yang telah ditetapkan melalui monitoring dan inventarisasi.

Jenis rancangan peraturan desa apakah yang

perlu dievaluasi?

(100)

a. Rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa; b. Rancangan Peraturan Desa tentang Pungutan Desa; c. Rancangan Peraturan Desa tentang Organisasi

Peme-rintah Desa; dan

d. Rancangan Peraturan Desa tentang Penataan Ruang.

Klarifikasi dilakukan terhadap semua Peraturan Desa dan Peraturan Lurah/Kepala Desa yang telah ditetapkan. Kepala Desa dan Lurah menyampaikan Peraturan Desa dan Peraturan kepala desa secara tertulis kepada bupati melalui camat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. Setelah di tetapkan, camat menyampaikan Peraturan Desa dan Per aturan kepala desa ke Bagian Hukum disertai pendapat atas catatan yang dianggap perlu. Pengendalian dilakukan terhadap semua peraturan perundang-undangan di tingkat desa.

Pengendalian dilaksanakan melalui monitoring terha-dap:

a. Tindak lanjut hasil evaluasi terhadap Peraturan Desa; b. Tindak lanjut hasil klarifikasi terhadap Peraturan Desa

dan Peraturan kepala desa;

c. Tindak lanjut pembatalan Peraturan Desa; dan

(101)

Untuk melaksanakan monitoring sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) dibentuk tim monitoring yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Tim monitoring sebagaima-na dimaksud pada ayat (1) dikoordisebagaima-nasikan oleh Bagian Pemerintahan Desa dan terdiri dari pejabat dan/ atau staf Bagian Pemerintahan Desa, Bagian Hukum dan instansi terkait lainnya sesuai kebutuhan.

Bagaimana Proses Evaluasi Dijalankan?

(102)
(103)

Siapa yang Berhak Mengawasi Pelaksanaan

Regulasi Desa?

(104)

R

egulasi desa akan dapat berjalan dengan baik kalau ada dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan regulasi desa tidak hanya menjadi tugas pemerintah desa, BPD juga mempunyai peran untuk mengajukan Per-aturan Desa.

Peraturan Desa disusun untuk memberikan arah dan pedoman bagi penyelenggaraan pemerintahan, pem ba ngun-an dngun-an pemberdayangun-an di desa. Selain itu pengembngun-ang ngun-an re-gulasi desa juga merupakan bagian dari kewenangan yang dimiliki oleh desa.

Untuk menghasilkan produk regulasi desa yang baik, partisipasi masyarakat menjadi hal yang penting. Keterlibat-an masyarakat dalam menyusun regulasi desa hendaknya dimulai pada saat pembuatan Rancangan Peraturan Desa. Adanya keterlibatan masyarakat menunjukan bahwa Per-aturan Desa disusun secara partisipatif.

BAB VI

Referensi

Dokumen terkait

disertakan pada wadah pangan baik itu didalam maupun diluar kemasan pangan sebagaimana sesuai dengan aturan yang terdapat dalam Pasal 2 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun

Dalam moral terdapat ajaran-ajaran yang didapat dari beberapa sumber. Ajaran tersebut memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok

Deskripsi atau uraian penemuan biasanya memuat ringkasan singkat dan jelas mengenai keteknologian yang diungkapkan dalam paten, seperti bidang teknik penemuan,

Aturan dalam penyusunan tes pilihan ganda antara lain: (1) stem harus bermakna dan menyajikan masalah yang pasti, (2) nyatakan stem dengan bahasa sederhana dan

Selain itu, dalam Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 1 menjelaskan bahwa ”Buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di satuan pendidikan dasar dan menengah

ketidak tegasan dari aparatur desa dalam memberikan arahan berdasarkan apa yang telah di uraikan tersebut, dimana aturan dispensasi telah jelas di nyatakan dalam Pasal 7 Undang-Undang

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa: 1 terdapat miskonsepsi Besaran dan Satuan dalam buku ajar yang diteliti yaitu konsep Dimensi pada buku I dan Aturan Angka Penting