• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewiraswastaan dan Etika Bisnis Teori da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kewiraswastaan dan Etika Bisnis Teori da"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Kewiraswastaan dan Etika Bisnis: Teori dan Perkembangannya

Jacobus R. Kuntag (2014) ([email protected])

ABSTRAK

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan kajian tentang perkembangan literatur yang terkait dengan bidang kewiraswastaan, khususnya pada konteks bisnis keluarga. Perkembangan bidang kewiraswastaan telah melahirkan berbagai teori, perspektif dan praktik yang berbeda. Pada suatu sisi, banyak dijumpai temuan yang berbeda dan tumpang tindih. Di sisi yang lain, sebagian wiraswasta masih belum puas dengan temuan yang ada. Hal yang diakui bahwa dalam memenuhi tuntutan inovasi dan adaptasi teknologi kadang terjadi pelanggaran aturan yang memunculkan banyak perdebatan antara kreativitas dan etika berbisnis. Sebagai kesimpulan untuk makalah ini, teori yang berkembang dari gaya tradisional hingga gaya modern saat ini belum mampu memberikan kesepakatan yang memuaskan akademisi dan praktisi. Namun banyak penelitian yang membuktikan bahwa sebagian besar temuan empiris yang dilakukan masuk akal untuk perkembangan ekonomi dan dapat diimplementasikan untuk merangsang pertumbuhan kewiraswastaan saat ini. Kata Kunci: kewiraswastaan, bisnis keluarga, inovasi dan teknologi, etika bisnis.

1. Pendahuluan

Saat ini, wiraswasta (entrepreneur) dianggap menjadi sosok yang menghantui model ekonomi. Dikatakan ‘menghantui’ karena sejumlah literatur yang mengungkap perkembangan kewiraswastaan (entrepreneurship) telah mengaburkan teori ekonomi yang banyak dipelajari dan diakui sebelumnya secara universal. Namun yang diakui juga bahwa, bahkan jika para wiraswasta tidak mengambil kendali perubahan ekonomi, atau dengan kata lain mereka hanya mengubah arah bisnis mereka sendiri, kita tidak akan menikmati pertumbuhan ekonomi dengan cara yang lebih baik saat ini.

(2)

Penelitian dalam bidang kewiraswastaan telah banyak dilakukan dalam konteks yang berbeda-beda (Baumol, 1993; Brenkert, 2009; Debicki et al., 2009; Gartner, 2007; Venkataraman, 2004), bahkan di antaranya mengalami tumpang tindih dikarenakan pertumbuhan dalam adaptasi yang sama beberapa tahun terakhir ini. Kewiraswastaan telah mendominasi perekonomian dunia, dan tampaknya studi ilmiah yang belakangan dilakukan dirasakan sudah terlambat. Akibatnya, kebutuhan yang baru muncul secara sistematis, bahwa diperlukan evaluasi dari kontribusi para peneliti sebelumnya dan bagaimana keterkaitan dari setiap kontribusi penelitian yang ada, serta apa manfaat dari evaluasi tersebut.

Debicki et al. (2009) mencoba menjawab tuntutan kebutuhan tersebut dengan cara mengidentifikasi sejumlah penelitian terdahulu yang telah memberikan kontribusi pada bidang kewiraswastaan dan berfokus pada konteks bisnis keluarga, serta institusi di mana sejumlah penelitian sebelumnya dilakukan. Mereka menganalisis isi dari bidang yang dipelajari selama periode tahun 2001-2007. Akhirnya, dengan melakukan analisis hubungan-jaringan di antara sejumlah penelitian terdahulu, mereka memberikan pemahaman yang lebih bernuansa, yaitu mengapa para ilmuwan dan institusi telah menjadi lebih produktif, dan mengapa beberapa topik tertentu menerima perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya.

Baik bisnis kecil maupun bisnis keluarga, banyak orang di setiap belahan dunia telah gencar meluncurkan bisnis baru berkat teknologi yang menyediakan akses mudah ke pasar lokal dan global pada saat mereka baru memulai bisnis (start-up). Bahkan, di negara-negara berkembang yang tidak dikenal sebagai sarang-sarang aktivitas kewiraswastaan telah menjadi rumah bagi para wiraswasta dengan bisnis baru yang menjanjikan. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa di setiap negara dengan sarang aktivitas kewiraswastaan berkat adanya infrastruktur yang nyata seperti sistem hukum, pasar modal yang transparan, sistem telekomunikasi dan transportasi yang canggih, dan sebagainya. Sejumlah faktor tersebut memang merupakan prasyarat yang diperlukan bagi kewiraswastaan berbasis teknologi.

(3)

untuk menciptakan semua prasyarat lain dalam rangka pertumbuhan. Namun mengingat bahwa salah satu sifat dari kewiraswastaan adalah ketidakberwujudan (intangible), Venkataraman (2004) berpendapat bahwa seharusnya pemerintah menyertai upaya tak berwujud lainnya. Modal risiko diharapkan akan menghasilkan kekayaan yang besar, jika disertai dengan akses ke ide-ide baru, model peran, forum informal, peluang-peluang khusus, jaring pengaman, akses ke pasar besar, dan kepemimpinan eksekutif.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya perkembangan teknologi juga telah memunculkan pelanggaran-pelanggaran dengan alasan inovasi dan untuk meraih keunggulan kompetitif. Secara khusus, Brenkert (2009) membahas keterkaitan antara pelanggaran aturan oleh para wiraswasta ini dengan etika yang sebenarnya dalam berbisnis. Telah banyak contoh dari sejumlah studi empiris yang mengungkap sejumlah pelanggaran, tetapi bagaimana hal melanggar aturan itu dalam kaitannya dengan etika kewiraswastaan menjadi hal menarik yang dikaji lebih jauh. Brenkert (2009) memandang bahwa etika kewiraswastaan yang berbasis-kebijakan dimana dalam sejumlah kasus salah secara moral, tetap saja dapat diterima secara etis; dan bahwa hal itu berdampak tidak hanya bagi ekonomi, tetapi juga bagi moralitas seseorang.

Pentingnya menciptakan lingkungan pekerjaan yang positif sudah menjadi hal penting dalam sebuah organisasi, dan untuk menciptakan lingkungan yang jujur dan berintegritas selalu dimulai dari bagian puncak sebuah organisasi. Ini mengisyaratkan bahwa para pemilik bisnis seharusnya memberi contoh yang sempurna untuk semua anggota perusahaan. Selain berusaha membangun semangat kerja yang tinggi di kalangan para karyawan, pemilik bisnis juga menetapkan standar perilaku etis. Lingkungan kerja di mana seluruh karyawan melihat diri mereka sendiri sebagai bagian penting dari tim yang sekaligus mencegah mereka untuk berpindah.

(4)

2. Perkembangan Teoretis

2.1. Perkembangan Teori Kewiraswastaan

Sejauh ini, belum ada yang mampu menjelaskan konstruk sebenarnya dari teori kewiraswastaan di bidang ekonomi, bahkan jika sejumlah besar ilmuwan dikumpulkan untuk memahami dan merumuskan kebijakannya. Apabila dilihat dari subjek dan sifatnya, banyak teori ekonomi dan manajemen yang tidak mampu menjelaskan keterbatasannya. Sebagaimana dicatat oleh Baumol (1993, p. 198) bahwa tampaknya hanya sebagian kecil teori ekonomi dan manajemen yang masih dapat diterima secara masuk akal untuk digunakan dalam mengkaji secara lebih mendalam teori kewiraswastaan. Demikian pula dalam konteks bisnis keluarga yang saat ini telah mendominasi ekonomi dunia, Brenkert (2009, p. 151) mencatat bahwa upaya untuk menjelaskan teori dirasakan sudah terlambat, melainkan yang dibutuhkan saat ini adalah evaluasi dan mencari hubungan di antara penemuan yang ada.

Tidak diragukan lagi, buku yang paling menonjol adalah Schumpeter dengan judul: “Theory of Economic Development” yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1912. Meskipun bukunya yang paling biasa dikutip, definisi Schumpeter tentang wiraswasta bukan kontribusi yang paling penting dari tulisannya. Konsep Schumpeter tentang wiraswasta adalah “sui generis”, yaitu sebuah konstruk, sebuah tipe ideal yang digunakan Schumpeter untuk menjelaskan teorinya tentang pembangunan ekonomi.

Baumol (1993) dalam temuannya menyimpulkan bahwa pengamatan teori ekonomi yang dapat dan tidak dapat diperikirakan mungkin bisa dicapai. Ia menunjukkan bahwa, teori kewiraswastaan tidak hanya menjadi aspirasi di masa depan―tetapi teori kewiraswastaan itu sebenarnya sudah ada dan sedang diperluas, dan bahwa teori kewiraswastaan itu sementara berkembang. Sebagian besar dari apa yang dikaji berfokus pada inovasi kewiraswastaan, yang secara khusus menunjukkan keprihatinannya dalam pertumbuhan ekonomi dan kemajuan produktivitas (p. 199).

(5)

memberikan dorongan dan meningkatkan kontribusi para wiraswasta dalam rangka pertumbuhan produktivitas dan daya saing ekonomi.

Sementara studi yang dilakukan oleh Shane & Venkataraman (2000) dapat dikatakan memberikan kontribusi yang signifikan untuk teori kewiraswastaan, dan bahwa studi mereka memiliki implikasi penting bagi para peneliti di bidang kewiraswastaan juga diakui oleh Gartner (2007, p. 231). Tidak hanya itu, temuan lain Venkataraman (2004) dalam konteks techno-entrepreneur dibahas secara khusus dalam makalah ini. Shane & Venkataraman (2000) mengemukakan tujuan dari penelitian bidang kewiraswastaan dengan menjelaskan terlebih dahulu apa fokus dari kewiraswastaan, serta menunjukkan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Mereka mendefinisikan penelitian kewiraswastaan sebagai suatu pengujian ilmiah tentang bagaimana, oleh siapa, dan dengan dampak apa, peluang untuk membuat barang dan jasa di masa mendatang ditemukan, dievaluasi, dan dieksplorasi.

Selanjutnya, Gartner (2007) menggunakan enam keputusan spesifikasi kunci untuk penelitian kewiraswastaan, yaitu: tujuan, perspektif teoretis, fokus, tingkat analisis, kerangka waktu, dan metodologi. Salah satu wawasan penting yang dikemukakan Gartner (2007, p. 229) adalah bahwa “keputusan-keputusan spesifikasi desain tersebut saling terkait, dan tidak dapat dibuat secara mandiri”. Sehubungan dengan pendapat tersebut, Gartner (2007) menjelaskan pilihan perspektif teoretis dalam kewiraswastaan bergantung pada asumsi yang dibuat.

Beberapa pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “dapatkah teori kewiraswastaan mencakup bentuk-bentuk organisasi yang beragam seperti bisnis baru, bisnis kecil, dan bisnis keluarga?” Dapatkah teori kewiraswastaan mencakup pengaturan seperti pekerjaan yang dilakukan mandiri, manajemen perusahaan, dan suksesi manajemen?” Sayangnya, tidak ada cara teoretis yang sempurna untuk menghubungkan semua kepentingan penelitian yang berbeda secara bersama-sama.

2.2. Bisnis Keluarga

(6)

pendapat yang mengatakan anggota keluarga tidak penting untuk keberhasilan kewiraswastaan seperti yang diyakini sebelumnya. Hanya anggota dari beberapa kelompok etnis minoritas yang dapat mengandalkan dukungan keuangan dari anggota keluarga. Memang, terlalu mengandalkan anggota keluarga dapat menempatkan wiraswasta yang baru lahir menuju pada kerugian.

Studi mengenai bisnis keluarga telah banyak dilakukan, bahkan telah mengalami tumpang tindih dikarenakan pertumbuhannya yang sama dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisnis keluarga telah mendominasi perekonomian dunia, dan tampaknya studi ilmiah yang belakangan dilakukan dirasakan sudah terlambat. Akibatnya, kebutuhan yang baru muncul secara sistematis bahwa diperlukan evaluasi dari kontribusi para peneliti dan menunjukkan keterkaitan atas kontribusi yang ada, serta mengambil manfaat dari evaluasi tersebut.

Debicki et al. (2009) membahas kebutuhan ini dengan mengidentifikasi sejumlah penelitian terdahulu yang telah memberikan kontribusi pada bidang bisnis keluarga serta berbagai institusi di mana penelitian-penelitian terdahulu dilakukan. Mereka juga menganalisis apa isi dari bidang yang dipelajari selama periode tahun 2001-2007. Secara khusus, studi yang mereka lakukan berfokus pada 30 jurnal manajemen yang dipublikasikan selama periode tahun 2001-2007.

Debicki et al. (2009) mengidentifikasi sejumlah penelitian terdahulu yang karyanya telah menghasilkan kontribusi besar terhadap perkembangan bisnis keluarga. Mereka menunjukkan bahwa pada umumnya penelitian di bidang bisnis keluarga dapat dikelompokkan pada enam kegiatan utama penelitian yang diurutkan berdasarkan pada jumlah cakupan yang lebih banyak dilakukan, yaitu tujuan dan sasaran, perumusan strategi dan konten, implementasi strategi dan kontrol, manajemen, topik-topik lain yang relevan dengan manajemen strategik, dan terakhir topik-topik lainnya yang tidak relevan dengan manajemen strategik. Topik-topik yang dibahas untuk tujuan dan sasaran, seperti tujuan ekonomi, tujuan non-ekonomi, dan proses formulasi tujuan.

(7)

penelitian bisnis keluarga, temuan mereka dapat memberikan pembenaran untuk investasi berkelanjutan dan mungkin merangsang minat para pemangku kepentingan eksternal untuk menyediakan investasi tambahan di masa depan.

Meskipun komunitas penelitian bisnis keluarga telah bertumbuh, tetapi sejumlah penelitian terdahulu masih dianggap sedikit dan keterkaitannya lemah, yang memberi kesan bahwa difusi pengetahuan akan sangat bertumbuh dengan cepat dalam tahun-tahun mendatang dan bahwa upaya-upaya lebih lanjut diperlukan untuk memperluas komunitas tersebut. Karena analisis jaringan menggambarkan pentingnya jaringan ilmiah untuk kemajuan penelitian, temuan Debicki et al. (2009) diharapkan dapat mendorong para akademisi dan institusi lainnya untuk terhubung dengan jaringan tersebut serta membangun jaringan baru mereka sendiri.

Terakhir, dengan menganalisis bidang topik yang telah dibahas dalam penelitian bisnis keluarga dan membandingkan cakupan tersebut dengan periode sebelumnya, Debicki et al. (2009) mengidentifikasi tren penelitian dan area yang layak untuk penyelidikan lebih lanjut. Karena tren dan kesenjangan ini berkaitan dengan individu, institusi, dan jaringan yang terlibat dalam penelitian bisnis keluarga, temuan mereka diharapkan dapat merangsang para ilmuwan dalam jaringan yang ada dan baru muncul untuk membangun momentum yang diperoleh di area penyelidikan tertentu serta menggabungkan bidang topik baru dalam wadah mereka untuk mengisi kesenjangan ini dalam pengetahuan yang diidentifikasi.

2.3. Inovasi dan Teknologi

(8)

banyak barang dan jasa dengan lebih sedikit sumber daya, dan sebagainya. Maksud dari “wiraswasta yang berinovasi” bukan berarti “penyelenggaraan perusahaan” (Baumol, 1993, p. 199), yang mana benar-benar terpisah dari model standar perusahaan. Peran dari penyelenggaraan perusahaan, meskipun sering kali diragukan, pada saat yang sama sangat dekat dengan peran manajer. Sementara aktivitas manajemen itu sendiri, meskipun jarang disebutkan secara eksplisit dalam kebanyakan model standar perusahaan, tetap saja aktivitas manajemen dapat menjadi fokus utama analisis dalam inovasi kewiraswastaan.

Sebagai contoh, Baumol (1993) menyelidiki waktu optimal dari suatu pengenalan sebuah inovasi. Dalam praktiknya, inovasi merupakan proses yang berkesinambungan. Semakin lama jeda waktu dalam transfer produk baru dari fasilitas LITBANG ke manufaktur dan pemasaran, maka produk akan semakin memungkinkan untuk ditingkatkan. Namun jeda waktu ini juga memberikan kesempatan kompetitor meningkatkan produknya. Ia menunjukkan bagaimana trade-off ini dapat dianalisis secara sistematis, dan menghasilkan beberapa temuan mengejutkan tentang keputusan yang optimal untuk waktu optimal dari suatu pengenalan produk baru.

Kesulitannya adalah pada saat menganalisis dan menggambarkan inovasi secara umum. Berdasarkan apa yang diamati bahwa individu dapat bersikap sembarangan hanya menjadi seperti pengulangan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya. Inovator memerlukan pengenalan atas apa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan biasanya tak terduga. Sebaliknya, input yang digunakan cenderung sama untuk saat itu di banyak cara yang sama seperti yang digunakan sebelumnya, dan logika dari keputusan-keputusan untuk menggunakannya pun tidak mengalami perubahan yang konstan. Misalnya, ketika manajemen mempertimbangkan akan meminjam dana tambahan, dan menggunakannya seolah mengulangi perhitungan yang mungkin sudah dilakukan beberapa kali sebelumnya. Perhitungan nilai saat itu dan pertimbangan terkait input lainnya tetap tidak berubah secara fundamental. Seorang inovator dapat dengan mudah menunjukkan proses, sementara yang lainnya menentukan persyaratan optimal sebelum membuat keputusan proses (p. 199).

(9)

yang beroperasi di medan pertempuran (Baumol, 1993, p. 199), yaitu di mana ada keuntungan besar yang mengejutkan atau di mana setiap orang harus bersiap untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan yang tak terduga.

Teori perusahaan telah dilandaskan hasilnya hampir sepenuhnya pada premis optimasi Baumol (1993, p. 200). Sebagai contoh, perusahaan merekrut jumlah pekerja yang memaksimalkan laba, mempertahankan jumlah persediaan yang optimal, membagi modal secara optimal di antara variasi produk―yang merupakan lini produk yang menguntungkan. Matematikawan telah menawarkan seperangkat alat yang kuat kepada bidang ilmu ekonomi dalam menganalisis keputusan secara optimal, termasuk kalkulus diferensial, pemrograman matematika, dan teori permainan. Ekonom, pada gilirannya, telah menempatkan alat-alat organisasi yang digunakan dengan baik dalam memperjelas teori tentang memaksimalkan laba perusahaan. Sebagian besar penemuan dalam inovasi dan teknologi telah menunjukkan hasil yang mengejutkan, dan terbukti berguna dalam aplikasinya sebagai alat konsultasi dan ilmu manajemen.

Namun alasan-alasan yang disebutkan untuk wiraswasta yang berinovasi itulah yang justru tidak diterima dari teori ekonomi formal perusahaan. Karena terus-menerus berubah, para peneliti sering kali mengalami kesulitan dalam menyediakan gambaran umum tentang apa yang wiraswasta lakukan. Hal ini, pada gilirannya, menghalangi setiap kesimpulan yang dibutuhkan seperti mendeskripsikannya dalam bahasa matematika. Berbagai pilihan yang tersedia bagi wiraswasta pada waktu tertentu tidak diketahui, dan konsekuensi dari pilihan apa pun belum dapat dijelajahi secara lebih luas. Dengan demikian, dasar untuk perhitungan optimasi biasanya tidak disertakan. Seakan ada ruang tersendiri yang disediakan bagi wiraswasta yang berinovasi dan ketergantungannya pada firasat dan naluri, yang tidak dihilangkan di dalam teori perusahaan (Baumol, 1993, p. 200).

(10)

ventura dan investor modal risiko lainnya, maka pemerintah yang mendanai ide-ide berani dan risiko dari bisnis-bisnis kecil. Akibatnya, para penerima dana tersebut masuk ke waralaba, jasa rumah tangga, eceran, atau toko kelontong, restoran, dan produk atau jasa tiruan lainnya. Orang-orang berbakat yang ingin berinovasi atau berbakat terpaksa berimigrasi ke tempat-tempat di mana mereka lebih mudah meraih dana risiko tersebut. Masalah ini yang menjadi salah satu perhatian penting saat ini karena hambatan yang membatasi mobilitas modal, tenaga kerja, dan bakat intelektual. Menurut Venkataraman (2004), upaya untuk menumbuhkan para wiraswasta yang berinovasi dan berbasis teknologi pemerintah tidak hanya dengan memberikan modal risiko, tetapi juga disertai dengan tujuh infrastruktur yang tidak berwujud yang saling menunjang, dimulai dari kepemimpinan eksekutif, akses ke ide-ide baru, model-model peran, forum informal, peluang-peluang khusus-kawasan, jaring pengaman, dan akses ke pasar besar.

Persoalan yang dikemukakan Venkataraman (2004, p. 166) adalah bagaimana ketujuh infrastruktur tidak berwujud tersebut datang bersama-sama dalam sebuah daerah yang tidak memilikinya? Mengandalkan kekuatan spontan atau alami mungkin tidak menjadi solusi untuk beberapa daerah karena mungkin masalah-masalah yang dihadapi perlu diatasi sebelumnya. Jelas, beberapa intervensi pemerintah yang diperlukan. Ketika berpikir tentang intervensi, maka yang penting adalah pemikiran pemerintah dan peran mereka dalam menciptakan infrastruktur tidak berwujud yang diperlukan untuk kewiraswastaan berbasis teknologi. Apabila pemerintah bersedia menyediakan infrastruktur tidak berwujud, maka akan memunculkan mentalitas hak.

(11)

pemimpin eksekutif dari lembaga publik, dan juga pemerintah meningkatkan pasar, universitas, dan lembaga-lembaga publik lainnya.

Tujuan yang diharapkan adalah untuk secepatnya dan secara efektif memecahkan batasan-batasan yang ada serta menciptakan lingkungan yang sesuai dan mendukung struktur untuk mendorong inovasi. Sementara kepemimpinan visioner juga berguna, yang lebih penting lagi adalah kepemimpinan eksekutif sebagaimana disarankan dalam temuan (Venkataraman, 2004). Perhitungan yang dilakukan secara bersama-sama oleh para pemimpin daerah, dan bekerja secara bersama-sama akan menghasilkan kesempatan yang lebih besar untuk sukses daripada bekerja melalui preferensi sempit di antara lembaga secara sendiri-sendiri.

2.4. Etika Bisnis dalam Kewiraswastaan

Bagian ini membahas secara khusus mengenai etika dalam berbisnis. Apabila argumen pada bagian sebelumnya berlaku, maka tidak ada teori kewiraswastaan yang menjanjikan untuk bisa membantu kita dalam menjelaskan bagaimana jika wiraswasta tidak berinovasi, atau memberikan konstruk sistematis yang menunjukkan bagaimana wiraswasta yang berinovasi bisa meningkatkan kinerja. Setidaknya, menurut Baumol (1993, p. 201), masih ada yang berharap untuk mempelajari lebih lanjut mengenai inovasi dalam kewiraswastaan. Pertama, mereka ingin menemukan atribut-atribut yang cenderung membuat seseorang memulai karier sebagai inovator, serta atribut-atribut yang berhubungan dengan keberhasilan. Kedua, mereka ingin mencari tahu bagaimana saat pengaturan institusi atau fenomena sosial atau ekonomi memengaruhi kuantitas kewiraswastaan, arah yang diperlukan, dan kemungkinan keberhasilannya, yang mungkin pada saat yang sama juga mempelajari efek timbal baliknya.

(12)

mereka ambil. Namun para pemimpin yang berbasis-nilai melakukan lebih dari sekadar mengikuti aturan; hati nurani mereka mendikte bahwa mereka seharusnya melakukan apa yang benar (Scarborough, 2012).

Banyak negara berkembang yang ditandai dengan adaptasi budaya dan tradisi yang mengikat. Orang-orang paling berbakat justru berada pada posisi yang tidak dihargai untuk membuat taruhan berani (Venkataraman, 2004, p. 154). Menurut Brenkert (2009), ada sesuatu yang lebih kompleks terjadi secara alami menyangkut etika bisnis dalam kewiraswastaan. Isu kompleksitas ini ditandai dari sejumlah pandangan wiraswasta bahwa aturan moral yang bersih dan perilaku pelanggaran ini masih dapat diterima dalam kewiraswastaan. Sebagai contoh, dalam konteks “kompetitif”, seorang wiraswasta dapat melanggar aturan mengenai pengungkapan kebenaran (atau publisitas) dan pengambilan janji (atau sumpah), tetapi tindakan mereka dapat diterima sebagai hal yang wajar dilakukan oleh para wiraswasta.

Dalam kasus “Izin dan Pengampunan” (Permission dan Forgiveness), wiraswasta mungkin melanggar aturan yang seharusnya dan tindakan mereka itu bisa saja diampuni. Beberapa tindakan yang diambil oleh para wiraswasta bisa mengubah konteks sehingga “yang benar bisa menjadi salah” atau “yang salah bisa menjadi benar” (istilah untuk “Pygmalion Effects”). Contoh lain dalam kasus “Tangan Kotor” (istilah untuk “Dirty Hands”), kedua keputusan alternatif bisa saja salah. Terakhir, dalam kasus “Tricksterism”, melanggar aturan juga dapat menjadi bagian dari tradisi-lintas budaya, yang diterima, jika bukan dihormati, untuk mempermainkan “sistem” dalam rangka mempromosikan proyek atau program.

(13)

3. Perspektif dan Praktik Kewiraswastaan

Schumpeter telah menunjukkan kontribusi besar dalam sejumlah literatur kewiraswastaan dan perkembangan teori kewiraswastaan saat ini. Pemikiran Schumpeter yang lebih penting pada perkembangan teori ekonomi, dan seiring berkembangnya teori kewiraswastaan telah melahirkan banyak persepsi dan praktik yang berbeda. Kita bisa, dan tentu saja, mendiskripsikan penelitian yang ada sebelumnya pada apa yang diterapkan oleh para wiraswasta pada masa lalu. Tetapi deskripsi yang dapat dijelaskan hanya tentang kewiraswastaan itu, dan sebagaimana diketahui bahwa apa pun inovasi yang dilakukan para wiraswasta saat ini, jelas berbeda dengan apa yang dilakukan para wiraswasta sebelumnya (Baumol, 1993, p. 199). Studi lapangan akan terlayani dengan lebih baik jika masalah dari perspektif teoretis ditujukan langsung dan asumsi-asumsi yang tidak tertulis dihindari.

Salah satu hal penting setiap kali akan mengembangkan teori dalam penelitian kewiraswastaan bergantung pada apakah kita (peneliti) menyadari asumsi yang kita buat mengenai fenomena ini. Beberapa bukti menunjukkan bahwa para peneliti di bidang kewiraswastaan tidak menyadari asumsi mereka. Gartner (2007) menemukan bahwa para peneliti di bidang kewiraswastaan memegang keyakinan yang sangat berbeda tentang sifat kewiraswastaan, dan bahwa para peneliti memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang “terdiri dari apakah” kewiraswastaan itu―sebagai sebuah fenomena.

Pengamatan yang sama juga menunjukkan mengapa sangat sulit bagi sebuah sekolah bisnis untuk melatih para siswa menjadi wiraswasta yang berinovasi (Baumol, 1993, p. 200). Sekolah-sekolah juga dapat melengkapi diri untuk mengajar tentang kewiraswastaan pada masa lalu. Memang, tindakan mengajar seseorang tentang apa yang para wiraswasta lakukan dulu, atau menggambarkannya dalam sebuah buku teks, cenderung mengubahnya dari tindakan inovatif kewiraswastaan ke dalam sebuah tindakan rutin manajemen. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan tugas manajemen, yang jelas-jelas sangat penting, tetapi untuk membedakan antara aktivitas manajemen dan aktivitas wiraswasta.

(14)

memikirkan masalah yang mengintegrasikan pandangan berbeda dari suatu fenomena yang besar dan kompleks. Tersirat dalam penemuan Gartner (2007) adalah ketakutan bahwa penelitian yang didasarkan pada pandangan yang berbeda ini akan mengacaukan hasil dan gagasan penelitian. Menyaring temuan yang berbeda tanpa menyadari atribut-atribut umum yang mendasari kewiraswastaan hanya akan menambah lapisan kebingungan. Sebagai catatan penting di sini bahwa menjelaskan secara eksplisit tentang apa yang kita (peneliti) yakini, dapat dimulai dengan memahami bagaimana semua bagian yang berbeda ini dapat menjadi suatu kesatuan.

Hal penting yang digarisbawahi dalam makalah ini adalah beberapa temuan dapat membuka wawasan kita tentang arah penelitian dalam bidang kewiraswastaan yang sebenarnya. Seperti spesifikasi tujuan dalam Shane & Venkataraman (2000) yang sangat berbeda dari banyak topik dan isu-isu yang muncul untuk mencakup konteks tertentu penelitian kewiraswastaan saat ini, seperti yang dijelaskan dalam domain khusus: penciptaan dan manajemen bisnis baru, bisnis kecil, bisnis keluarga, serta karakteristik-karakteristik dan masalah-masalah khusus wiraswasta. Spesifikasi tujuan mereka secara signifikan mempersempit konteks penelitian kewiraswastaan. Sebagai contoh, Shane & Venkataraman (2000, p. 217) menekankan bahwa penelitian kewiraswastaan tidak harus berfokus hanya pada kinerja relatif dari individu atau perusahaan dalam konteks bisnis kecil atau bisnis baru, tetapi juga pada bisnis keluarga; dan mereka juga menunjukkan bahwa jenis penelitian kewiraswastaan lebih tepat dimasukkan dalam domain manajemen strategik.

(15)

Fokus penelitian Gartner (2007) pada bidang kewiraswastaan mengacu dari pendapat sebelumnya dari Shane & Venkataraman (2000) yang fokus utamanya pada individu dan peluang-peluang yang dapat dihasilkan oleh suatu bisnis atau perusahaan. Alasan yang dikemukakannya yaitu karena “pengorganisasian” yang lebih besar kemungkinannya untuk dipahami juga sebagai penciptaan bisnis atau perusahaan (Gartner, 2007, p. 233).

Sering kali dikatakan bahwa untuk menciptakan bisnis atau perusahaan, seseorang harus melanggar aturan sehingga ia dapat mengambil keuntungan dari setiap peluang yang diidentifikasi atau setiap peluang baru yang bisa diciptakan. Akibatnya, para wiraswasta mengalami dilema moral, terlebih karena melanggar aturan berhubungan langsung dalam konteks hukum dan moral. Praktik yang demikian memunculkan persepsi tentang orang-orang yang dikatakan licik, penipu, dan sebagainya. Namun kenyataannya, beberapa pelanggaran yang terjadi, dari segi hukum dan moral, hanya menjadi bagian dari mitologi kewiraswastaan. Kelihatannya, tanpa tindakan yang berani dan atau licik, proses produksi dan kesuksesan perusahaan tidak akan tercapai. Akibatnya, anekdot tersebut tidak melahirkan kesepakatan yang berlaku untuk aturan hukum dan moral yang ada.

Bagaimanapun juga, ada banyak praktik bisnis yang tidak melanggar aturan, khususnya mereka yang paling taat dengan hukum dan moral. Di sisi lain, praktik yang melanggar aturan muncul belakangan dan dijadikan sebagai alasan bahwa mereka melakukannya untuk memanfaatkan peluang dan atau membenarkan keadaan; atau hanya sebagian dari tubuh organisasi yang melanggar aturan, sedangkan yang lainnya tidak melanggar aturan. Namun dalam beberapa kasus tertentu, sering kali hanya dengan melakukan perbandingan atas prinsip-prinsip yang diterapkan oleh suatu organisasi dengan organisasi yang lain, muncul pembenaran bahwa ada organisasi yang melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, semua pandangan yang muncul biasanya mengandalkan aturan-aturan yang umum dan universal, dan pada akhirnya sangat sulit bagi kita untuk memperoleh gagasan yang spesifik mana yang seharusnya diikuti dan diterapkan.

(16)

mungkin timbul dan menjadi semakin kacau dan sulit (Gartner, 2007). Mungkin tidak ada teori kewiraswastaan yang dapat mencerminkan semua pendapat para peneliti, seperti apa yang selama ini dipraktikkan. Namun sebagaimana disampaikan Baumol (1993, p. 210) bahwa seseorang dapat membawa teori kewiraswastaan pada analisis teori lebih lanjut, hanya jika batasan-batasan itu dipahami dan dihormati.

Untuk alasan yang tersirat, Baumol (1993, p. 200) mencatat bahwa kewiraswastaan yang mengorganisasi-perusahaan dapat diajarkan dalam kurikulum bisnis. Misalnya, apa yang harus dipertimbangkan oleh calon wiraswasta sebelum memulai suatu bisnis baru. Tentu saja, yang dapat diajarkan tidak hanya prinsip-prinsip yang muncul dari model ekonomi, tetapi juga berbagai pertimbangan terkait lainnya, seperti pembatasan hukum, pengaruh serikat buruh dan politik, dan sejumlah hal penting dan yang relevan lainnya. Hal yang sama dapat dikatakan pada bagaimana keputusan yang akan dihadapi oleh calon wiraswasta ini setelah perusahaan beroperasi. Karena teori aktivitas wiraswasta yang mengorganisasi-perusahaan tidak hanya ada, tetapi juga berkembang, maka sekolah-sekolah bisnis tidak kekurangan subjek untuk bahan pelajaran kewiraswastaan.

Perlu dicatat pula bahwa ada kemiripan yang erat antara wiraswasta yang mengorganisasi-perusahaan dengan manajemen perusahaan; memang, tidak berarti bahwa ada sesuatu yang bisa diperoleh dengan mencari persamaan antara keduanya (Baumol, 1993, p. 200). Namun, yang penting adalah bahwa apa yang wiraswasta lakukan, umumnya juga dilakukan oleh orang-orang manajemen. Aktivitas mereka, hingga batasan tertentu, akan berubah menjadi rutinitas. Sehingga dari banyak hal yang dapat mereka lakukan, konsekuensinya, manfaat yang ditimbulkan sama-sama perlu dianalisis dengan alat-alat perhitungan optimalisasi.

4. Kesimpulan

(17)

secara baik artikel-artikel penelitian yang berkontribusi besar pada periode tahun 2001-2007. Pada dasarnya, bisnis keluarga memiliki prinsip yang sama dengan bisnis pribadi dalam hal inovasi, teknologi, dan etika bisnis.

Secara khusus, bahasan dalam makalah ini terkait inovasi, teknologi, dan etika bisnis. Dalam perkembangannya, bidang kewiraswastaan telah memunculkan banyak pemikiran yang kadang berdiri sendiri dan ada yang saling tumpang tindih, sehingga baik teori maupun persepsi yang muncul terjadi kompleksitas.

Gaya kewiraswastaan tradisional umumnya ditandai oleh kurangnya teori yang mampu menjelaskan isu-isu dalam bidang kewiraswastaan. Kebanyakan temuan penelitian hanya menghasilkan sejumlah anggapan dan sedikitnya studi empiris tidak dapat digeneralisasikan untuk kewiraswastaan (Baumol, 1993). Sebagai contoh, ada sejumlah praktik dalam kewiraswastaan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori ekonomi dan teori manajemen yang umum dipelajari dan diterima sebagai konsep yang berlaku universal. Selain itu, upaya untuk menerapkan etika bisnis dalam kewiraswastaan juga sangat sulit dilakukan dan hanya mengaburkan persepsi (Brenkert, 2009). Akibatnya, banyak pelaku bisnis yang kurang puas dengan teori yang ada. Mereka yang melakukan inovasi dengan cara melanggar aturan justru yang meraih keunggulan kompetitif.

Bagaimanapun juga, telah banyak penelitian yang menawarkan gagasan-gagasan baru pada tahun-tahun berikutnya. Salah satu pandangan yang dapat dibenarkan adalah bahwa teori kewiraswastaan akan selalu mengalami kompleksitas ke depannya. Aturan hukum dan moral yang sebelumnya dianggap sensitif di kalangan para wiraswasta mulai mendapatkan kejelasan dengan dibuatnya kesepakatan-kesepakatan tertentu, terbukti dengan munculnya beberapa istilah dalam organisasi yang intinya menerima bahwa “yang salah bisa menjadi benar” dan “yang benar bisa menjadi salah” dan membenarkan bahwa inovasi dapat tercipta dari pandangan tersebut (Brenkert, 2009) tanpa melanggar nilai-nilai dan keyakinan organisasi.

(18)

muncul adalah bagaimana wiraswasta dapat meningkatkan kemampuan menyerap pengetahuan dengan lebih baik, dan bagaimana memberikan rangsangan kepada calon wiraswasta untuk mengakui bahwa pekerjaan tersebut sangat bernilai tinggi.

Sayangnya, baik di era sebelum tahun 2001 maupun di era sesudah tahun 2001, bidang kewiraswastaan tidak terlalu diyakini mencapai kejelasan teori. Namun penulis menghormati temuan bahwa setidaknya ada beberapa pendapat yang dapat diterima secara masuk akal. Di luar dari anekdot dan bukti-bukti pelanggaran yang menjadi perdebatan perihal etika dan moral, bagaimanapun juga, tujuan organisasi adalah untuk mencapai produktivitas. Hanya saja, cara-cara untuk mencapainya dengan inovasi dan penyerapan teknologi diperlukan upaya yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lainnya.

Saran bagi para akademisi adalah perhatian yang lebih kritis pada asumsi yang dikemukakan sebelum mencoba untuk membangun atau mengembangkan teori. Persoalannya adalah bagaimana para peneliti dapat mengumpulkan berbagai temuan yang berbeda dan membentuknya menjadi suatu kesatuan. Jika tidak memungkinkan, maka sebaiknya dilakukan evaluasi dan mencari koneksi di antara temuan yang ada.

(19)

REFERENSI

Baumol, William J. (1993). Formal entrepreneurship theory in economics: Existence and bounds. Journal of Business Venturing, 8(3), 197-210. doi:

10.1016/0883-9026(93)90027-3

Brenkert, George G. (2009). Innovation, rule breaking and the ethics of entrepreneurship. Journal of Business Venturing, 24(5), 448-464. doi:

10.1016/j.jbusvent.2008.04.004

Debicki, Bart J., et al. (2009). Family business research in the new millenium. Family Business Review, 22(2), 151-166.

Gartner, William B. (2007). Is There an Elephant in Entrepreneurship? Blind Assumptions in Theory Development*. In Á. Cuervo, D. Ribeiro & S. Roig (Eds.),

Entrepreneurship (pp. 229-242): Springer Berlin Heidelberg.

Scarborough, Norman M. (2012). Effective Small Business Management: An

Entrepreneurial Approach (10th ed.). Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.

Shane, Scott., & Venkataraman, Sankaran. (2000). The promise of entrepreneurship as a field of research. Academy of Management Review, 25(1), 217-226.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah kompetensi literasi informasi yang dimiliki mahasiswa memiliki hubungan positif dengan kemampuan

Kondisi nyata yang terjadi di SD Negeri 41 Ampenan terhadap 6 (enam) guru kelas sebelum diadakan tindakan dalam upaya merubah mindset guru dari pola belajar guru

Uang yang diperoleh dari ganti kerugian pelanggaran sangsi dipergunakan untuk kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Apabila kegiatan usaha menimbulkan pencemaran

Perpindahan vertikal pada tanah dasar dengan sirtu dan tanah serta beton styrofoam ringan sebagai timbunan yang ditinjau dari pusat fondasi terhadap kedalaman. Perpindahan vertikal

Penelitian bertujuan mengetahui kemampuan tumbuhan akuatik Acanthus ilicifolius terhadap paparan logam berat Pb dan Cd, serta konsentrasi yang terdapat pada bagian

UML adalah se uah ahasa ya g telah e jadi sta dar dala i dustri u tuk visualisasi era a g dan mendokumentasikan sistem piranti lunak.. Sistem

Dari data dan analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa kehadiran MNC kelapa sawit memiliki konsekuensi yang serius terkait dengan adanya lajunya deforestasi

Dari penelitian yang telah dilakukan variabel yang paling baik untuk mendapatkan biogasolin melalui proses hydrocraking dengan bahan baku minyak jarak pagar