• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tsunami bahasa Jepang kedu. docx (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tsunami bahasa Jepang kedu. docx (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Tsunami

(bahasa Jepang:

津波

; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti

"ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan

permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa

disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah

laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat

ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi

ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan

500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut

dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang

berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga

sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter.

Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan

dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material

yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan,

tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan,

pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami

dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami

masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut

seismik".

Beberapa kondisi

meteorologis

, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang

disebut sebagai meteor

tsunami

yang ketinggiannya beberapa meter di atas gelombang laut

normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya

bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah

menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.

Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang

mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di

sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System

(IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.

Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan

beberapa pulau dapat tenggelam

(2)

Penyebab Terjadinya Tsunami

Tsunami terutama disebabkan oleh gempabumi di dasar laut. Tsunami yang dipicu akibat

tanah longsor di dasar laut, letusan gunungapi dasar laut, atau akibat jatuhnya meteor

jarang terjadi.

Namun tidak semua gempa bumi menyebabkan terjadinya Tsunami. Tsunami akan terjadi

bila:

• Pusat gempa terjadi di dasar laut.

• Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km.

• Kekuatan gempa mencapai lebih dari 7 skala richter.

Di Indonesia pernah juga terjadi tsunami akibat letusan Gunung Karkatau, sebuah gunung

yang terletak di tangah-tengah Selat Sunda. Kejadian ini terjadi pada tahun 1883, letusan

Gunung Krakatau di Indonesia mengakibatkan Tsunami yang dahsyat. Ketika gelombangnya

menyapu pantai Lampung dan Banten, kira-kira 5000 kapal hancur dan menenggelamkan

banyak pulau kecil. Gelombang setinggi 12 lantai gedung ini, kira-kira 40 m,

menghancurkan hampir 300 perkampungan dan menewaskan lebih dari 36000 orang.

Bahkan katanya bunyi letusan Gunung Krakatau ini mencapai Amerika Serikat.

http://carapedia.com/penyebab_ternya_tsunami_info1864.html

april 2013

Penyebab terjadinya tsunami : Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang 

menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa 

bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat 

gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh 

gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.

(3)

atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di 

pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang 

terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami 

mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya 

sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami

hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi 

gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. 

Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai 

dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga 

banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah 

lempeng benua.

Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat 

mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang 

menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik­turun 

secara tiba­tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. 

Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika 

ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya 

mencapai ratusan meter.

Pengertian Tsunami secara sederhana : Tsunami adalah serangkaian gelombang air 

laut yang dipicu oleh gempa bumi, tanah longsor yang terjadi dilaut ataupun dipantai, 

atau juga bisa disebabkan oleh letusan gunung berapi di laut. Untuk tsunami yang 

disebabkan karena gempa bumi, rangkaian gelombang air laut tersebut datang dalam 

kurun waktu antara 5 menit sampai 1 jam setelah gempa bumi yang terjadi di laut. 

Namun ada juga tsunami yang datang setelah beberapa jam terjadinya gempa, yang 

merupakan tsunami kiriman dari jarak yang jauh dari pusat gempa. Rangkaian 

gelombang tsunami datang secara tiba­tiba dan gelombang pertama belum tentu 

merupakan gelombang yang paling berbahaya, karena kedatangan gelombang tsunami

akan berlanjut dan tidak menutup kemungkinan gelombang berikutnya akan lebih 

besar. Tsunami akan menyapu semua pesisir pantai yang dilandanya, dan 

(4)

didekat pantai hingga nyawa manusia pun akan jadi korbannya. Ketinggian gelombang 

tsunami dapat mencapai hingga puluhan meter (tsunami di Aceh tahun 2004 memiliki 

ketinggian 30 meter), tergantung dari kondisi goegrafis tanah daerah terjangan tsunami 

tersebut.

Tanda­tanda Tsunami :

Gempa bumi. Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi dangkal didasar laut, 

sudah tentu tanda awalnya adalah terjadinya gempa dengan kekuatan minimal 6 skala 

richter dan episentrumnya berada di laut. Ini merupakan tanda awal yang harus selalu 

diwaspadai oleh masyarakat yang tinggal dipesisir pantai hingga beberapa kilometer 

dari pantai.

Keadaan air laut. Setelah terjadinya gempa yang memicu tsunami, air laut 

biasanya akan surut dengan tidak sewajarnya. Dasar laut, terumbu karang dan ikan 

terlihat karena surutnya air laut. Ini merupakan tanda­tanda bahwa gelombang besar 

sedang menuju pantai.

Suara Gemuruh. Ini merupakan tanda akhir sebelum tsunami menyapu pesisir, 

karena gelombang tsunami akan semakin tinggi ketika melewati perairan dangkal 

dengan disertai suara gemuruh. Bila pada saat kita mendengar suara gemuruh tsunami 

tersebut kita masih berada dipesisir pantai, sepertinya kita sudah terlambat untuk berlari

menuju tempat yang lebih tinggi karena itu bertanda bahwa tsunami sudah dekat.

Tsunami yang masih berada ditengah laut nyaris tidak dapat dirasakan oleh para 

nelayan, karena ketinggiannya hanya beberapa meter saja layaknya gelombang laut 

biasa. Akan tetapi energi gelombang laut tersebut sangat besar dan para nelayan tidak 

menyadari akan hal tersebut. Namun ketika gelombang tersebut mendekati pantai atau 

perairan dangkal, ketinggiannya akan naik hingga beberapa puluh meter dan siap untuk

menyapu daratan di pesisir pantai.

(5)

Pengertian & Proses Terjadinya Tsunami

Di Indonesia khususnya, kita teramat dekat dengan kata “Tsunami”.

Memang, bencana alam yang satu ini pernah menggoreskan luka yang

dalam bagi bangsa kita. Beberapa tahun yang lalu, ribuan nyawa

melayang tersapu Tsunami di Banda Aceh. Indonesia berduka, dunia

berduka. Tsunami sesungguhnya bukan milik Indonesia saja. Semua

Negara yang berbatasan dengan laut dan memiliki potensi gempa

yang tinggi rawan terkena tsunami. Salah satunya adalah negeri yang

digdaya dengan teknologi, Jepang. Sayangnya, meski tsunami sudah

demikian akrab, tapi tak sedikit di antara kita yang tak tahu pengertian

tsunami yang sesunggunya. Demikian halnya dengan proses terjadinya

tsunami itu sendiri. Artikel ini mencoba menjawab kedua persoalan

tersebut.

(6)

Kata “Tsunami” sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti Ombak

Besar (Tsu : pelabuhan dan Nami : gelombang). Adapan definisi yang

disepakati banyak orang adalah tsunami merupakan bencana alam

yang disebabkan oleh naiknya gelombang laut ke daratan dengan

kecepatan yang tinggi akibat adanya gempa yang berpusat di bawah

lautan. Gempa tersebut bisa saja diakibatkan oleh tanah yang longsor,

lempeng yang bergeser, gunung berapi yang mengalami erupsi serta

meteor yang jatuh di lautan. Tsunami ini biasanya terjadi apabila

besarnya gempa melebihi 7 skala richter. Tsunami ini cukup berbahaya,

utamanya bagi mereka yang bermukim di sekitaran pantai. Dengan

kekuatan besar, ia akan menyapu apa saja yang dilewatinya.

Proses

Terjadinya

Tsunami

Jika berbicara mengenai

proses terjadinya tsunami

, maka kita tentu

harus memulai dari penyebabnya, yakni gempa di wilayah lautan.

Tsunami selalu diawali suatu pergerakan dahsyat yang lazim kita sebut

gempa. Meski diketahui bahwa gempa ini ada beragam jenis, namun

90% tsunami disebabkan oleh pergerakan lempeng di dalam perut

bumi yang letaknya kebetulan ada di dalam wilayah lautan. Akan

tetapi perlu juga disebutkan, sejarah pernah merekam tsunami yang

dahsyat

akibat

meletusnya

Gunung

Krakatau.

Gempa yang terjadi di dalam perut bumi akan mengakibatkan

munculnya tekanan ke arah vertical sehingga dasar lautan akan naik

dan turun dalam rentang waktu yang singkat. Hal ini kemudian akan

memicu ketidakseimbangan pada air lautan yang kemudian terdorong

menjadi gelombang besar yang bergerak mencapai wilayah daratan.

Dengan tenaga yang besar yang ada pada gelombang air tersebut,

wajar saja jika bangunan di daratan bisa tersapu dengan mudahnya.

Gelombang tsunami ini merambat dengan kecepatan yang tak

terbayangkan. Ia bisa mencapai 500 sampai 1000 kilometer per jam di

lautan. Dan saat mencapai bibir pantai, kecepatannya berkurang

menjadi 50 sampai 30 kilometer per jam. Meski berkurang pesat,

namun kecepatan tersebut sudah bisa menyebabkan kerusakan yang

(7)

Jika kita mencermati

proses terjadinya tsunami,

tentu kita paham

bahwa tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Dengan

demikian, kita tak memiliki kendali untuk mencegah penyebab

tersebut. Namun, dengan persiapan dan kewaspadaan yang maksimal,

kita bisa meminimalisir dampak bencana tsunami ini sendiri. Contoh

yang baik sudah diperlihatkan Jepang. Meski rawan tsunami, namun

kesadaran rakyatnya mampu menekan jumlah korban akibat bencana

tersebut.

http://belajarilmugeografi.blogspot.com/2013/10/pengertian-proses-terjadinya-tsunami.html

Mitigasi Tsunami

Mitigasi Tsunami

Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan

terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat

dihindarkan. Mitigasi adalah dasar managemen situasi darurat. Mitigasi dapat

didefinisikan sebagai “

aksi yang mengurangi atau menghilangkan resiko jangka

panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia dan harta-benda

(FEMA, 2000). Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala pihak terkait pada

tingkat negara, masyarakat dan individu.

Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat diperlukan

ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam, merancang dan menerapkan

teknik peringatan bahaya, dan mempersiapkan daerah yang terancam untuk

mengurangi dampak negatif dari bahaya tersebut. Ketiga langkah penting tersebut:

1)

penilaian bahaya

(

hazard assessment

), 2)

peringatan

(

warning

), dan

3)

persiapan

(

preparedness

) adalah unsur utama model mitigasi. Unsur kunci lainnya

yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi tetapi sangat mendukung

adalah

penelitian

yang terkait (

tsunami-related research

).

Langkah-langkah mitigasinya:

1)

Menerbitkan peta wilayah rawan bencana

(8)

3)

Mengembangkan sumber daya manusia satuan pelaksana

4)

Mengadakan pelatihan penanggulangan bencana kepada masyarakat di wilayah rawan

bencana

5)

Mengadaka penyuluhan atas upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat di wilayah

rawan bencana

6)

Menyiapkan tempat penampungan sementara di jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana

7)

Memindahkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana ke tempat yang aman

8)

Membuat banguna untuk mengurangi dampak bencana

9)

Membentuk pos-pos siaga bencana

Penerapan teknologi informasi terhadap tanda-tanda bencana alam

1.

Radio komunikasi

Radio komunikasi adalah pilihan mutlak untuk komunikasi di tingkat lokal,terutama bagi

satuan tugas pelaksana penaggulangn bencana alam dan penangana pengungsi. Alat

ini minimal telah tersebar di seluruh wilayah rawan bencana.

2.

Telepon

Melalui telepon , semua pihak dapat berbagi informasi dan komunikasi dengan mudah

karena hampir semua masyarakat mempunyai telepon

3.

Pengeras suara

Pengeras suara merupakan pilihan untuk mengkomunikasikan kondisi kerawanan

bencana alam dalamcakupan wilayah yang sangat terbatas

4.

Kentongan

(9)

Menghindari Dampak Tsunami

a.

Sebelum terjadinya tsunami

Mengenali apa yang disebut tsunami

Memastikan struktur dan letak rumah

Jika tinggal atau berada di pantai, segera menjauhi pantai

Jika terjadi getaran atau gempa bumi, segera menjauhi pantai

Selalu sedia alat komunikasi

b.

Saat terjadi tsunami

Bila berada di dalam ruangan, segera keluar untuk menyelamatkan diri

Berlari menjauhi pantai

Berlari ke tempat yang aman atau tempat lebih tinggi

c.

Sesudah terjadi tsunami

Periksa jika ada keluarga yang hilang ataupun yang terluka

Minta pertolongan jika ada keluarga yang yang hilang atau terluka

Jangan berjalan di sekitar daerah tsunami atau pantai, karena kemungkinan terjadi

bahaya susulan

(10)

A. DEFINISI TSUNAMI

Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami = Gelombang. Jadi

Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Dalam imu kebumian terminology ini dikenal dan

baku secara umum. Secara singkat Tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan

periode panjang yang ditimbulkan oleh oleh suatu gangguan impulsive yang terjadi pada medium

laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik atau longsoran.

Gangguan impulsive tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu :

-- Gempa didasar laut,

-- Letusan Gunung api didasar laut, dan

-- Longsoran yang terjadi didasar laut.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsive bersifat transien yaitu

gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut lainnya

yang bersifat kontinyu, seperti gelmbang laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa.

Periode tsunami ini berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami mempunyai panjang

gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat gelombang tsunami di laut

dalam mencapai 500-1000 km/jam. Kecepatan penjalaran tsunami ini sangat tergantung dari

kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan kilometer. Apabila tsunami

mencapai pantai, kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah

pantai yang dilaluinya. Kalau ditengah laut tingi gelombang tsunami paling besar sekitar 5 meter,

maka pada saat mencapai pantai tinggi gelombang dapat mencapai puluhan meter.

B. IDENTIIKASI DAERAH RAWAN TSUNAMI

Analisis Bahaya Tsunami

Analisa bahaya tsunami ditujukan untuk mengidentifikasi daerah yang akan terkena bahaya

tsunami. Daerah bahaya tsunami tersebut dapat diidentifikasi dengan 2 (dua) metode :

-- Mensimulasikan hubungan antara pembangkit tsunami (gempa bumi, letusan gunung api,

longsoran dasar laut) dengan tinggi gelombang tsunami. Dari hasil simulasi tinggi gelombang

tsunami tersebut kemudian disimulasikan lebih lanjut dengan kondisi tata guna, topografi, morfologi

dasar laut serta bentuk dan struktur geologi lahan pesisir.

(11)

Analisis Tingkat Kerentanan terhadap Tsunami.

Analisa kerentanan ditujukan untuk mengidentifikasi dampak terjadinya tsunami yang berupa

jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi, baik dalam jangka pendek yang berupa hancurnya

pemukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun jangka panjang

yang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun kerusakan sumberdaya alam

lainnya.

Analisa kerentanan tersebut didasarkan beberapa aspek, antara lain tingkat kepadatan

pemukiman di daerah rawan tsunami, tingkat ketergantungan perekonomian masyarakat pada

sector kelautan, keterbatasan akses transportasi untuk evakuasi maupun penyelamatan serta

keterbatasan akses komunikasi.

Analisis Tingkat Ketahanan Terhadap Tsunami

Analisa tingkat ketahanan ditujukan untuk mengidentifikasi kemampuan pemerintah serta

masyarakat pada umumnya untuk merespn terjadinya bencana tsunami sehingga mampu

mengurangi dampaknya. Analisis tingkat ketahanan tersebut dapat diidentifikasi dari 3 (tiga) aspek,

yaitu :

Jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk

Kemampuan mobilias masyarakat dalam evakuasi dan penyelamatan, dan

Ketersedian peralatan yang dapat dipergunakan untuk evakuasi.

C. MITIGASI BENCANA TSUNAMI

Mitigasi

adalah segenap usaha untuk meminimalisir kerugian dan resiko akibat bencana

alam. Perlu kita sadari, bahwa gempa sangat jarang sekali membunuh, umumnya yang membunuh

itu adalah reruntuhan bangunan akibat gempa dan si korban tidak melindungi diri dari bangunan

tersebut.

Mitigasi dapat dilakukan dengan tiga tahapan yaitu : sebelum terjadi, ketika berlangsung

dan setelah terjadi gempa bumi.

1.

Sebelum terjadi gempa

- Kenalilah dengan baik TANDA-TANDA datangnya Tsunami, seperti:

à Air laut yang surut secara tiba-tiba

à Terciumnya bau garam yang menyengat secara tiba-tiba.

(12)

- Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik bangunan tahan

bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan mengembangkan beberapa insentif

anatara lain Retrofitting dan Relokasi.

- penanaman hutan mangrove/ green belt, disepanjang kawasan pantai dan perlindungan terumbu

karang

- Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan tsunami,

- Kebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman bencana,

- Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta

infrastruktur sarana dan prasarana,

- Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala local,

- Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat ketahanan,

sehingga dapat didesain komplek pemukiman “akrab bencana” yang memperhaikan berbagai

aspek,

- Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai,

- Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami,

- Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan,

- Pengembangan system peringatan dini adanya bahaya tsunami.

-

Kenali areal rumah, sekolah, tempat kerja, atau tempat lain yang beresiko.

-

Mengetahui pusat informasi bencana, seperti Posko Bencana, Palang Merah Indonesia, Tim SAR.

-

Siagakanlah peralatan seperti senter, kotak P3K, makanan instan dsb. Sediakan juga Radio, karena

pada saat tsunami alat komunikasi dan informasi lain seperti Telpon, HP, Televisi, Internet akan

terganggu. Radio yang hanya menggunakan baterai akan sangat berguna disaat bencana. Dan

kotak Persediaan Pengungsian tersebut dimasukan ke dalam suatu tempat yang mudah dibawa

(ransel punggung) dan disimpan di tempat yang mudah digapai pada saat tsunami berlangsung

seperti di belakang pintu keluar.

-

Catatlah telepon-telepon penting seperti Pemadam kebakaran, Rumah sakit dll.

2. Selama terjadi gempa

- Yang pertama sekali adalah DON’T BE PANIC, kuasai diri anda bahwa anda dapat lepas dari

bencana tersebut.

- Jika air laut surut secara tiba-tiba , JANGAN mengambil ikan yang ada di pantai.

- Jika berada di pantai atau di dekat pantai, panjat bangunan atau pohon yang tinggi, yang paling

dekat dari anda.

- Jika anda sedang berada di atas kapal di tengah laut, segera pacu kapal anda kearah laut yang

lebih jauh.

- Utamakan keselamatan jiwa daripada harta.

(13)

3. Sesudah terjadi gempa

- Periksa sekeliling anda, apakah ada kerusakan, baik itu listrik padam, kebocoran gas, dinding retak

dsbnya. Periksa juga apakah ada yang terluka. Jika ya, lakukanlah pertolongan pertama.

- Hindari bangunan yang kelihatannya hampir roboh atau berpotensi untuk roboh

- Jangan ke arah pantai sampai peringatan bahaya dicabut Banyak kali tsunami datang dalam 2

atau 3 kali.

- Cari posko bantuan terdekat.

- Carilah informasi tentang gempa tersebut, gunakanlah radio tadi.

http://tugasplhvildamega.blogspot.com/

desember 2011

MARCH 22, 2010

Identifikasi dan Mitigasi Bencana Tsunami

Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami = Gelombang. Jadi

Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Dalam imu kebumian terminology ini dikenal

dan baku secara umum. Secara singkat Tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang

laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh oleh suatu gangguan impulsive yang

terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik atau longsoran.

Gangguan impulsive tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu :

1.

Gempa didasar laut,

2.

Letusan Gunung api didasar laut, dan

3.

Longsoran yang terjadi didasar laut.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsive bersifat transien yaitu

gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut

lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelmbang laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik

benda angkasa. Periode tsunami ini berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami

mempunyai panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat

gelombang tsunami di laut dalam mencapai 500-1000 km/jam. Kecepatan penjalaran

tsunami ini sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung

mencapai ribuan kilometer. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya dapat

(14)

1.

IDENTIIKASI DAERAH RAWAN TSUNAMI

1.

Analisis Bahaya Tsunami

Analisa bahaya tsunami ditujukan untuk mengidentifikasi daerah yang akan terkena bahaya

tsunami. Daerah bahaya tsunami tersebut dapat diidentifikasi dengan 2 (dua) metode :

1.

Mensimulasikan hubungan antara pembangkit tsunami (gempa bumi, letusan gunung

api, longsoran dasar laut) dengan tinggi gelombang tsunami. Dari hasil simulasi tinggi

gelombang tsunami tersebut kemudian disimulasikan lebih lanjut dengan kondisi tata

guna, topografi, morfologi dasar laut serta bentuk dan struktur geologi lahan pesisir.

2.

Memetakan hubungan antara aktivitas gempa bumi, letusan gunung api, longsoran

dasar laut dengan terjadinya elombang tsunami berdasarkan sejarah terjadinya tsunami.

Dari hasil analisa tersebut kemudian diidentifikasi dan dipetakan lokasi yang terkena

dampak gelombang tsunami.

1.

Analisis Tingkat Kerentanan terhadap Tsunami.

Analisa kerentanan ditujukan untuk mengidentifikasi dampak terjadinya tsunami yang

berupa jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi, baik dalam jangka pendek yang berupa

hancurnya pemukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun

jangka panjang yang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun

kerusakan sumberdaya alam lainnya.

Analisa kerentanan tersebut didasarkan beberapa aspek, antara lain tingkat kepadatan

pemukiman di daerah rawan tsunami, tingkat ketergantungan perekonomian masyarakat

pada sector kelautan, keterbatasan akses transportasi untuk evakuasi maupun

penyelamatan serta keterbatasan akses komunikasi.

1.

Analisis Tingkat Ketahanan Terhadap Tsunami

Analisa tingkat ketahanan ditujukan untuk mengidentifikasi kemampuan pemerintah serta

masyarakat pada umumnya untuk merespn terjadinya bencana tsunami sehingga mampu

mengurangi dampaknya. Analisis tingkat ketahanan tersebut dapat diidentifikasi dari 3 (tiga)

aspek, yaitu :

1.

Jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk

2.

Kemampuan mobilias masyarakat dalam evakuasi dan penyelamatan, dan

3.

Ketersedian peralatan yang dapat dipergunakan untuk evakuasi.

1.

MITIGASI BENCANA TSUNAMI

1.

Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Struktural

(15)

gelombang tsunami, inventarisasi dan identifikasi kerusakan struktur bangunan, maka

upaya structural tersebut dapat dibedakan menjadi 2(dua) kelompok, yaitu :

1.

Alami, seperti penanaman hutan mangrove/ green belt, disepanjang kawasan pantai

dan perlindungan terumbu karang.

2.

Buatan,

3.

Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk

menahan tsunami,

4.

Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik

bangunan tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan

mengembangkan beberapa insentif anatara lain Retrofitting dan Relokasi.

1.

Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Non Struktural

Upaya Non structural merupakan upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan

pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi

structural maupun upaya lainnya. Upaya non structural tersebut meliputi antara lain :

1.

Kebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman

bencana,

2.

Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya)

serta infrastruktur sarana dan prasarana,

3.

Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala local,

4.

Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat

ketahanan, sehingga dapat didesain komplek pemukiman “akrab bencana” yang

memperhaikan berbagai aspek,

5.

Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan

pantai,

6.

Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami,

7.

Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan,

8.

Pengembangan system peringatan dini adanya bahaya tsunami.

Ancaman tsunami dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu ancaman tsunami jarak dekat

(local) dan ancaman tsunami jarak jauh. Kejadian tsunami di Indonesia pada umumnya

adalah tsunami local yang terjadi sekitar 10-20 ment setelah terjadinya gempa bumi

dirasakan oleh masyarakat setempat. Sedangkan tsunami jarak jauh terjadi 1-8 jam setelah

gempa dan masyarakat setempat tidak merasakan gempa buminya.

(16)

http://kskbiogama.wordpress.com/2010/03/22/identiikasi-dan-mitigasi-bencana-tsunami/

TSUNAMI, GELOMBANG PASANG DAN SEMPADAN PANTAI

Oleh : Djoko Marsono

PENDAHULUAN

Masih segar dalam ingatan masyarakat bencana tsunami yang melanda kawasan Aceh dan sekitarnya

sekitar dua tahun yang lalu. Betapa dahsyat bencana tersebut dapat ditandai dengan banyaknya korban

yang mencapai ratusan ribu jiwa, rusaknya sejumlah pemukiman, infrastruktur dan lain sebagainya, tanpa

kita bisa berbuat apa-apa. Semuanya terjadi begitu saja dalam bilangan menit, namun dampak kerusakan

dan korban sangat terasa menyesakkan bagi seluruh bangsa bahkan cenderung traumatis. Oleh karena itu

pada saat gempa dengan skala 5,9 skala Richter di Daerah Istimewa Yogyakarta 27 Mei yang lalu di saat

orang baru saja bangun dari tidur untuk memulai aktivitas kesehariannya, isu tsunami muncul dengan

mencekam hampir seluruh warga. Hal ini menggambarkan betapa traumatisnya masyarakat akan terjadinya

tsunami di Aceh yang begitu memilukan. Dan ternyata beberapa waktu kemudian benar-benar muncul

tsunami di Pangandaran yang dampaknya sampai di DIY dan sampai merenggut korban jiwa. Berita

seminggu terakhir masih menyisakan rasa was-was karena adanya gelombang pasang di pantai selatan DIY

yang juga mengakibatkan berbagai kerusakan.

Sumber informasi tentang kebumian mengisyaratkan bahwa kita berada pada jalur gempa tektonik. Para ahli

hampir semua sepakat bahwa masalah gempa dan tsunami tampak akrab dengan kondisi geografis negara

kita. Akan tetapi yang menarik perhatian adalah adanya kecenderungan besarnya dampak yang

ditimbulkannya, walaupun pada besaran dan jarak gempa yang sama. Atau paling tidak ada kawasan

dengan kondisi geografis sama tetapi dampak kerusakan bisa berbeda. Demikian pula pada jaman dulu

menurut sejarahnya dampak tsunami tidak separah yang sekarang. Sudah barang tentu situasi ini tidak akan

(17)

terhadap salah satu komponennya sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak kerusakan tsunami dan

atau gelombang pasang. Terlebih peluang terjadinya gelombang pasang akan semakin besar seiring dengan

semakin besarnya efek rumah kaca yang belum terselesaikan cara pengendaliannya.

EKOSISTEM ALAMI KAWASAN PANTAI

Menurut sejarahnya, pada saat ekosistem kawasan pantai belum dimanfaatkan atau masih asli, terdapat

beberapa tipe ekosistem alami (vegetasi hutan). Ekosistem ini memanjang mengikuti garis pantai di seluruh

pulau baik yang besar maupun yang kecil. Setiap tipe ekosistem ini mempunyai karakteristik yang berbeda

sesuai dengan kondisi ekologis setempat. Saat ini ekosistem tersebut sudah rusak karena dimanfaatkan jasa

ekonomisnya secara berlebihan, dan tidak mampu lagi berfungsi memberikan jasa lingkungannya. Dan dari

waktu ke waktu seiring dengan bertambahnya penduduk dan kesulitan ekonomi setiap ekosistem sumber

daya alam (termasuk ekosistem pantai) terus dimanfaatkan sehingga laju kerusakan sangat luar biasa.

Namun demikian sisa-sisa atau benteng terakhir ekosistem pantai ini masih dapat dinikmati di beberapa

cagar alam dan taman nasional yang mempunyai garis pantai.

Beberapa tipe ekosistem pantai yang dimaksud adalah mangove, hutan pantai dan gumuk pasir (sand dune)

beserta vegetasi prescapraenya. Setiap pantai di Indonesia (juga di DIY) memiliki ekosistem ini. Di kawasan

yang berlumpur, sedikit gelombang, dekat dengan aliran sungai dan dipengaruhi pasang surut air laut

tumbuh mangrove seperti di pantai utara Jawa, Segara Anakan dan cekungan sungai di Kulonprogo. Namun

di pantai terjal, ombak besar seperti sebagian besar wilayah DIY telah berkembang ekosistem hutan pantai

dan gumuk pasir dan prescaprae (dominasi rumput dan tanaman menjalar). Pada saat seperti ini kawasan

pantai memberikan jasa lingkungan yang optimal sesuai dengan kaidah ekologis yang mengatakan struktur

ekosistem menentukan fungsi ekosistem. Salah satu fungsi ekosistem tersebut adalah menahan gempuran

ombak dari laut termasuk tsunami dan gelombang pasang yang tinggi. Inilah yang menjadi salah satu sebab

mengapa pada jaman dulu tidak banyak kerusakan akibat tsunami dan gelombang pasang. Pada saat

tsunami Aceh kawasan ekosistem mangove masih terlihat utuh dan terbukti mampu menahannya. Oleh

karena itu secara otomatis dan terkesan sangat emosional pemerintah cq Departemen Kehutanan segera

merehabilitasi kawasan mangove di Aceh, seakan akan ini merupakan langkah terbaik dalam penanganan

pasca tsunami Aceh.

PENGELOLAAN SEMPADAN PANTAI

Sebenarnya kondisi ini sudah diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dengan melalui berbagai peraturan

perundangan. Sejak dikeluarkannya UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan

(18)

proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya dikatakan pemerintah akan mengatur dan menertibkan penggunaan dan pengelolaan tanah dan

di perairan yang terletak di kawasan sistem penyangga kehidupan tersebut. Berdasarkan perundangan ini

sebenarnya bola pengaturan ada di pihak pemerintah, namun perlu kemudian dicermati sampai dimanakah

pengaturan dijalankan.

Aturan perundangan tersebut kemudian dilengkapi dengan Keppres 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan

Kawasan Lindung (termasuk kawasan pantai), yaitu diatur jalur hijau pantai yang perlu ditetapkan, ditanami

dan dijaga dari kerusakan baik oleh manusia maupun alam. Oleh karena itu telah ditetapkan kawasan

perlindungan sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan

bentang pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertingggi ke arah darat. Jalur hijau semacam ini

mestinya ada bukan saja diatas kertas tapi juga ada di lapangan, ditetapkan, dikukuhkan dengan tata batas

dan berkekuatan hukum. Jika tidak ditindak lanjuti sampai tahap operasional, manfaat peraturan

perundangan itu tidak dapat dirasakan bagi kesejahteraan masyarakat di tempat tersebut. Masalahnya yaitu

sampai dimana ketentuan ini dilaksanakan. Kekuatan hukum lain adalah UU No 24 tahun 1992 tentang

Penataan Ruang yang menyatakan bahwa penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya adalah

merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang ditetapkan dengan Peraturan

Pemerintah, namun arahan pengelolaan hutan lindung dan budidaya dilakukan melalui Rencana Tata Ruang

Wilayah Propinsi Daerah Tk I yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dengan demikian jika dicermati

akan tampak bahwa landasan hukum kawasan perlindungan pantai di kawasan selatan DIY ini belum

sempurna, apalagi tahap operasional. Inilah kenyataan yang dijumpai di kawqasan pantai yang berpeluang

tsunami dan gelombang pasang tersebut. Sudah barang tentu penegakan hukum setiap peraturan

perundangan sangat penting menyusul jika telah disahkan/dikukuhkan kawasan perlindungan pantai

tersebut. Tanpa penegakan hukum yang konsisten aturan perundangan tidak akan berarti sedikitpun.

Dengan telah disahkannya kawasan lindung pantai maka tahap berikutnya adalah dilakukan Rencana

Pengelolaan Kawasaan Lindung. Rencana ini dapat menjadi pedoman seluruh stakeholder agar bisa

berpartisipasi aktif dalam mengelola kawasan. Ini sangat relevan dengan paradigma akuntabilitas publik

yang telah menjadi paradigma pemerintah dalam mengelola sumber daya alam, menuju pembangunan

berkelanjutan berbasis masyarakat. Ternyata partisipasi masyarakat sebenarnya sudah mulai muncul dengan

penanaman cemara udang di pantai selatan DIY walau masih dalam skala kecil. Yang perlu disarankan disini

sebenarnya bukan harus menanam cemara udang tetapi membangun ekosistem kawasan pantai yang

unggul sesuai dengan karakteristik ekologis kawasan setempat. Demikian pula partisipasi internasional yang

diprakarsai Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY dengan mengundang Sumitomo merupakan langkah yang

(19)

saja dari segi lingkungan tetapi juga mampu memberikan dampak positif peningkatan produksi pertanian

melalui teknik tertentu yang tidak disampaikan disini.

Demikianlah sekilas tentang perlindungan sempadan pantai yang mestinya tidak digarap secara sporadis

dan sesaat seperti sekarang ini tetapi mestinya dirancang melalui landasan hukum dan rancangan baku dan

menjadi pedoman bagi seluruh stakeholder. Dengan paradigma partisipatif dan akuntabilitas/keterbukaan

seperti ini Insya Alllah perlindungan kawasan pantai akan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat

pantai. Tapi kapan mulainya ya, saya tidak bisa menjawabnya.

Referensi

Dokumen terkait

Variabel ekspor pada persamaan regresi di atas menunjukkan koefisien regresi dengan nilai -1,379. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ekspor mempunyai pengaruh

6.8 Walau apapun yang dinyatakan di sini adalah sebaliknya, sekiranya terdapat baki tersedia yang tidak mencukupi di dalam Akaun untuk membayar sebarang Transaksi yang

Pemeriksaan kadar SGPT dapat menggunakan sampel serum dan harus segera dianalisis, penundaan pemeriksaan sampel akan mengakibatkan adanya perubahan kadar yang

a) Komponen (Faktor) 1 terdiri dari: Variabel Gaya Hidup pernyataan nomor 3 yaitu Media sosial digunakan untuk mencari informasi (GH3) sebesar (0,579), :Gaya Hidup

Perilaku kekerasan merupakan stressor yang dihadapi oleh seseorang, yang ditunjukkan dengan perilaku aktual melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain, maupun

Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi yang tidak dicatat pada nilai wajar karena nilai

SDVDU 7RELQ¶V 4 HPLWHQ Hal ini disebabkan karena perusahaan dengan tingkat pengembalian ekuitas yang baik maka akan memperoleh respon baik juga dari pasar, hal ini sejalan

aktif berpartisipasi selama proses pembelajaran berlangsung, meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan tanggung jawab, dan berdampak pada hasil belajar