• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gotong Royong Pemberdayaan Hak Asasi Man

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gotong Royong Pemberdayaan Hak Asasi Man"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Gotong Royong : Pemberdayaan, Hak Asasi Manusia dan Keadilan Sosial

Disusun oleh :

Bonifatius Tulus Sunyoto, S.Sos, M.Sc

I. Pendahuluan

Pembangunan sebagai sebuah pemberdayaan masyarakat tentunya tidak bisa lepas dari konsep pemikiran bahwa pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan keberdayaan/kekuatan dari yang kurang berdaya. Pernyataan ini mengandung 2 konsep penting, yaitu: kekuasaan/kekuatan (power) dan ketidakberdayaan (disadvantage) terhadap akses sumber daya (resource endowments). Sebuah pemberdayaan mutlak untuk mendistribusikan kekuasaan dari kaum “berpunya” kepada kaum “tak berpunya”, dan sebagainya. Dalam pendistribusian “power” dari yang berdaya kepada yang tidak berdaya bisa melalui berbagai hal salah satunya adalah gotong royong. Konsep gotong royong yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia sebagai alternative cara pemberdayaan masyarakat akan dicoba dibahas dalam tulisan ini dalam konteks sebagai pemberdayaan, selain itu gotong royong akan dicoba dipahami dari prespektif Hak asasi Manusia dan Keadilan Sosial.

II. Pemahaman Gotong royong.

Kata gotong royong pada awalnya hidup dalam masyarakat yang hidup dalam mata pencaharian sebagai petani tradisional. Ketika petani menggarap tanah, mereka memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk mencangkul tanah, menanam benih, mengatur saluran air, memupuk tanaman dan menyiangi tanaman. Demikian juga pada saat musim panen tiba. Warga masyarakat bergotong royong memetik padi, mengeringkannya, dan memasukkannya ke dalam lumbung.

(2)

masing-masing pekerjaan. Adanya kerjasama semacam ini merupakan suatu bukti adanya keselarasan hidup antar sesama bagi komunitas, terutama yang masih menghormati dan menjalankan nilai-nilai kehidupan, yang biasanya dilakukan oleh komunitas perdesaan atau komunitas tradisional. (Pasya, 2013).

Dalam konteks kesatuan bangsa, Indonesia sebagai sebuah kesatuan tujuan membangun kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang digali oleh Ir. Sukarno, di dalamnya mengandung lima sila yaitu :

1. Ketuhanan yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan Sosial bagi seluruh Indonesia

Bila diintrepretasikan kelima sila itu bisa menjadi satu makna saja yaitu Gotong -royong. (Adams, 1996). Sukarno mengartikan Gotong royong yaitu pembantingan-tulang bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama (Adams, 1966).

(3)

Gotong-royong sebagai bentuk solidaritas sosial, terbentuk karena adanya bantuan dari pihak lain, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok, sehingga di dalamnya terdapat sikap loyal dari setiap warga sebagai satu kesatuan.(Subejo, 2013)

III. Gotong royong sebagai Pemberdayaan

Indonesia pada era tahun-tahun awal kemerdekaan semangat kebersamaan untuk saling rela berkorban dan saling membantu (gotong royong) demi kepentingan bangsa dan negara sangat dijunjung tinggi. Modal sosial inilah sebenarnya yang bisa menjadi sebuah alternative untuk membangun keterpurukan bangsa Indonesia dari penjajahan. Semangat “Hololobis Kuntul Baris” membawa manusia Indonesia seutuhnya menjadi sebuah kesatuan bangsa yang holistic. Semangat gotong royong, saling membantu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi menjadi sebuah modal sosial yang saat itu dibanggakan.

Pembangunan dimana tujuannya adalah kesejahteraan bagi rakyat merupakan kondisi kehidupan terbaik , terpenuhi kebutuhan materi untuk hidup, kebutuhan spiritual, kebutuhan sosial dengan tatanan yang teratur, konflik dalam kehidupan dapat dikelola, keamanan dapat terjamin, keadilan ditegakan, tidak ada kesenjangan ekonomi. Semuanya ini dapat tercipta dalam kehidupan bersama baik dalam keluarga, komunitas maupun masyarakat luas apabila masyarakat masih memiliki modal sosial yaitu semangat kebersamaan dalam konteks ini gotong royong. Sebuah kekurangan ekonomi seseorang dalam sebuah masyarakat yang masih kuat jiwa gotong royongnya akan bisa diatasi secara bersama-sama oleh komunitas itu. Sebuah kesulitan individu akan menjadi tanggungan bersama dalam komunitas.

(4)

dalam satu kesatuan wilayah atau kekerabatan. Dalam hal ini Koentjaraningrat (Sajogyo,1992) mengemukakan kegiatan gotong-royong di pedesaan sebagai berikut,

1. Dalam hal kematian, sakit, atau kecelakaan, di mana keluarga yang sedang menderita itu mendapat pertolongan berupa tenaga dan benda dari tetangga-tetangganya dan orang lain sedesa;

2. Dalam hal pekerjaan sekitar rumah tangga, misalnya memperbaiki atap rumah, mengganti dinding rumah, membersihkan rumah dari hama tikus, menggali sumur, dsb., untuk mana pemilik rumah dapat minta bantuan tetangga-tetangganya yang dekat dengan memberi bantuan makanan; 3. Dalam hal pesta-pesta, misalnya pada waktu mengawinkan anaknya,

bantuan tidak hanya dapat diminta dari kaum kerabatnya, tetapi juga dari tetangga-tetangganya, untuk mempersiapkan dan penyelenggaraan pestanya;

4. Dalam mengerjakan pekerjaan yang berguna untuk kepentingan umum dalam masyarakat desa, seperti memperbaiki jalan, jembatan, bendungan irigasi, bangunan umum dsb., untuk mana penduduk desa dapat tergerak untuk bekerja bakti atas perintah dari kepala desa.

(5)

berfokus pada penyediaan saran belajar siswa yang kurang mampu (contoh : buku tulis, sepatu,seragam dsb). Sebuah share kekuatan terjadi dalam program ini.

Sebagai sebuah modal social, gotong royong terbangun ketika ada kepercayaan terhadap sebuah norma bahwa ketika seseorang terlibat dalam membantu kepentingan umum atau kepentingan individu lain yang berkesusahan maka ketika seseorang itu berkesusahan maka orang lain akan bersama-sama membantu. Azas timbal balik untuk saling menyalurkan kekuatan / tenaga kepada yang tidak berdaya.

Gotong-royong banyak dipengaruhi oleh rasa kebersamaan antar warga komunitas yang dilakukan secara sukarela tanpa adanya jaminan berupa upah atau pembayaran dalam bentuk lainnya, sehingga gotong-royong ini tidak selamanya perlu dibentuk kepanitiaan secara resmi melainkan cukup adanya pemberitahuan pada warga komunitas mengenai kegiatan dan waktu pelaksanaannya, kemudian pekerjaan dilaksanakan setelah selesai bubar dengan sendirinya. Adapun keuntungan adanya gotong-royong ini yaitu pekerjaan menjadi mudah dan ringan dibandingkan apabila dilakukan secara perorangan; memperkuat dan mempererat hubungan antar warga komunitas di mana mereka berada bahkan dengan kerabatnya yang telah bertempat tinggal di tempat lain, dan; menyatukan seluruh warga komunitas yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, gotong-royong dapat dilakukan untuk meringankan pekerjaan di lahan pertanian, meringankan pekerjaan di dalam acara yang berhubungan dengan pesta yang dilakukan salah satu warga komunitas, ataupun bahu membahu dalam membuat dan menyediakan kebutuhan bersama.(Pasya, 2013). Fakta seperti yang diungkapkan menggambarkan gotong royong sangat identik dengan pemberdayaan karena pemberdayaan memiliki dua pemahaman yang pertama sebagai upaya memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, dan yang kedua upaya memberikan kemampuan atau keberdayaan. (Sunartiningsih,2004)

(6)

mereka belajar dan menggunakan keterampilan dalam melobi, penggunaan media, terlibat dalam kegiatan politik, memahami bagaimana “sebuah sistem bekerja” dan sebagainya (Ife, 2006).

IV. Gotong royong dalam gagasan Hak Asasi Manusia

Gotong-royong dalam bentuk tolong menolong dilakukan secara sukarela untuk membantu orang lain, tetapi ada suatu kewajiban sosial yang memaksa secara moral bagi seseorang yang telah mendapat pertolongan tersebut untuk kembali menolong orang yang pernah menolongnya, sehingga saling tolong menolong ini menjadi meluas tanpa melihat orang yang pernah menolongnya atau tidak. Dengan demikian, bahwa tolong menolong ini merupakan suatu usaha untuk menanam budi baik terhadap orang lain tanpa adanya imbalan jasa atau kompensasi secara langsung atas pekerjaan itu yang bersifat kebendaan, begitupula yang ditolong akan merasa berhutang budi terhadap orang yang pernah menolongnya, sehingga terjadilah keseimbangan berupa bantuan tenaga yang diperoleh bila suatu saat akan melakukan pekerjaan yang sama. Apabila seseorang tidak mau terlibat dalam kegiatan gotong royong di wilayahnya maka akan ada sanksi sosial sebagai konsekuensi dari sebuah penyimpangan dari norma yang sudah disepakati dari gotong royong sebagai modal sosial.

Sanksi dan pemaksaan terhadap hak individu inilah yang sering dikritik oleh beberapa ahli barat khususnya yang beraliran liberal sebagai sebuah pelanggaran HAM. Hak Asasi Manusia dalam pandangan liberal barat hak individu (HAM) merupakan sebuah konsep dimana setiap individu dapat bebas melakukan apa yang mereka senangi, sehingga segala macam pengengkangan terhadap hak bersikap dan berperilaku individu dalam suatu komunitas dipandang sebagai sebuah pelanggran Hak Asasi Manusia.

(7)

keputusan yang membuat seseorang bisa memenuhi kewajibannya kepada orang lain. Maka hak kebebasan adalah paradoks dari hak untuk memenuhi kewajiban-kewajiban. Dalam konteks sebuah bangsa Ife (2006) mengungkapkan Hak Asasi Manusia menunjukan kewajiban Negara untuk warga negaranya dan warga Negara terhadap warga Negara yang lain, dimana Negara memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa HAM warga Negara dilindungi dan diwujudkan, melalui penyediaan layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, jaminan pendapatan, kesempatan ekonomi dan perlindungan lingkungan serta warga Negara mampu menghargai pewujudan HAM warga Negara yang lain. Dalam gagasan ini terkandung sebuah makna bahwa setiap negara dan warga negara mempunyai kewajiban untuk mampu melindungi kebutuhan dasar warga negara yang lain, gotong royong memungkinkan aplikasi perlindungan pemenuhan hak dasar warga negara yang tidak mampu.

(8)

V. Gotong Royong Dalam Perspektif Keadilan Sosial

Sila kelima dari Pancasila berbunyi “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, yang menyiratkan bahwa sebuah masyarakat Indonesia yang memiliki kesetaraan sosial merupakan sebuah dasar dibentuknya Negara Republik Indonesia. berbicara mengenai Keadialn Sosial kita harus bisa mengingat kembali mengenai konsep Teori keadilan dikembangkan oleh John Rawls (Ife, 2006) dengan tiga prinsip keadilan, yaitu: kesetaraan dalam kebutuhan dasar, kesetaraan untuk mendapatkan kesempatan untuk kemajuan, dan diskriminasi positif bagi mereka yang tidak beruntung dalam rangka menjamin kesetaraan. Hal prinsip yang perlu dicatat tentang prinsip-prinsip Rawl adalah bahwa prinsip-prinsip tersebut secara normal akan dipahami sebagai hal yang diterapkan kepada individu-individu. Akan tetapi analisis dari suatu perspektif individual hanyalah salah satu cara untuk memahami isu-isu sosial dan keadilan sosial.

Gotong royong sebagai sebuah gerakan masyarakat memiliki tiga prinsip keadilan yang dikemukakan oleh John Rawls.

1. Gotong royong mampu membuat kesetaraan dalam kebutuhan dasar

(9)

dalam kehidupan bersama, desa selalu memiliki institusi resolusi konflik. Harmoni menjadi bagian yang didambakan untuk memahami kesejahteraan. Saling menjamin antartetangga jika terjadi kesulitan.

2. Gotong royong mampu memenuhi kesetaraan untuk mendapatkan kesempatan untuk kemajuan

Sebuah komunitas yang memiliki nilai gotong royong yang masih tinggi akan memberikan kesempatan bagi anggotanya yang tidak berdaya memiliki kesempatan untuk bisa lebih berdaya (maju) dengan disokong oleh kebersamaan dalam komunitas tersebut. Program UPPKS (Usaha Peningkatan Perekonomian Keluarga Sejahtera) yang diluncurkan oleh BKKBN mungkin sebagai salah satu bentuk apresiasi dari system “gotong royong” untuk bisa memberikan kesempatan berusaha mencapai kehidupan ekonomi yang lebih baik melalui penggunaan stimulant bantuan dana bagi kader-kader KB supaya bisa bersama membuat usaha ekonomi. Kader-kader KB diajak untuk mengatasi kesulitan ekonomi secara bersama dengan menanggalkan sikap individualism. Usaha yang dikembangkan menjadi sebuah usaha bersama untuk perbaikan ekonomi secara bersama. Dengan semangat gotong royong pencapaian untuk mendapatkan kesempatan maju akan didorong oleh komunitas, dimana dalam komunitas ini akan saling berbagi kemampuan (ekonomi, manajerial, ketrampilan dll) untuk bisa meningkatkan kapasitas dan kompetensi anggota komunitas sehingga tercapai sebuah keadilan sosial.

3. Gotong royong menjamin diskriminasi positif bagi mereka yang tidak beruntung dalam rangka menjamin kesetaraan

(10)

diberikan pada warga atau orang yang mengalami musibah merupakan kewajiban yang harus dipikul bersama dan harus dipelihara sepanjang masa dan tanpa adanya permintaan dari warga yang mengalami musibah tersebut. Dengan demikian, bahwa tolong menolong dalam menghadapi bencana dianggap kewajiban sebagai umat manusia untuk menolong antar tanpa adanya rasa pamrih dari orang yang pernah ditolongnya. (Pasya, 2013)

Realita yang ada saat ini masyarakat Gunung Kidul -sebagai sebuah komunitas yang masih kuat nilai gotong royongnya- ketika mereka menengok sanak keluarganya atau tetangganya yang sedang menderita sakit dan harus dirawat di rumah sakit, mereka satu persatu menyisihkan uangnya untuk diberikan kepada si sakit atau keluarganya. Ini adalah sebuah rasionalitas dimana penderitaan dipikul secara bersama-sama oleh anggota komunitas. Kiranya banyak hal yang ditegakkan oleh komunitas ini sebagai sebuah institusi kesejahteraan. Atau bagi anak-anak desa atau kampung biaya pendidikan seringkali juga dibantu oleh keluarga yang mampu.

VI. Penutup.

Gotong royong sebagai salah satu cirri khas masyarakat di Indonesia ternyata merupakan sebuah tawaran yang jitu dalam pembangunan dengan konsep pemberdayaan. Karena gotong royong mencakup sebuah alternative strategi pembangunan yang berprinsip pada pemberdayaan. Perlu kita mengerti juga bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan pembangunan secara ekonomi atau fisik semata tetapi juga mencakup pembangunan spirit dan kompetensi manusia. Gotong royong mampu memberikan sebuah warna solusi bagi pembangunan manusia secara holistic karena di dalamnya mencakup dasar dari pembangunan sebagai Hak asasi manusia dan pembangunan sebagai sebuah proses mencapai keadilan sosial.

(11)
(12)

Daftar Pustaka

1. Adams, Cindy. 1966. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Gunung Agung. Jakarta

2. Friedmann, John 1992. EMPOWERMENT The Politics of Alternative Development. Blacwell Publisher. USA

3. Ife, Jim & Frank Tesoriero. 2006 Community Development. Pearson Education. Australia.

4. Pasya, Gurniwan Kamil. 2013 Gotong Royong Dalam Kehidupan Masyarakat.

Universitas Pendidikan Indonesia.

5. Sajogyo dan Sajogyo, Pudjiwati. 1992. Sosiologi Pedesaan. Jilid 1 dan 2. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

6. Subejo. 2011 Behaviours and Mentality of Japanese Community in Coping natural Disasters. The Jakarta Post. Jakarta.

7. ___________, 2013 Power of Community : Bagi Pembangunan Pertanian dan Perekonomian di Indonesia. UGM. Yogyakarta.

8. Sunartiningsih, Agnes (ed.). 2004 Strategi pemberdayaan Masyarakat. Aditya Media. Yogyakarta

9. Susetiawan. 2009 Working Paper : Pembangunan Dan Kesejahteraan Masyarakat: Sebuah Ketidakberdayaan Para Pihak Melawan Konstruksi Neoliberalisme. PSPK UGM. Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Penguatan Kelembagaan Gotong Royong Dalam Perspektif Sosio Budaya Bangsa: Suatu Revitalisasi Adat Istiadat Dalam Peneyelenggaraan Pemerintahan.. Forum Penelitian Agro

Pada bagian ini akan dibahas tentang teori yang mendasari penelitian ini. Penelitian tentang pengaruh Mall Armada Town Square terhadap Pasar Tradisional

Di Indonesia dikenal dengan penduduk yang ramah tamah dan memiliki sikap kekeluargaan yang kuat, gotong royong serta kepedulian terhadap sesama bangsa Indonesia

Istilah gotong royong untuk pertama kali tampak dalam bentuk tulisan dalam karangan-karangan tentang hukum adat dan juga dalam karangan-karangan tentang aspek sosial

Dari konteks penelitian yang dipaparkan di atas, yang terdiri dari keunikan-keunikan efektivitas dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat KUR di BRI Unit Gotong Royong saat mengembangkan