• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP KARYA TUGAS AKHIR - Perancangan Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” Adaptasi dari Biografi Wiji Thukul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP KARYA TUGAS AKHIR - Perancangan Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” Adaptasi dari Biografi Wiji Thukul"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user KONSEP KARYA

TUGAS AKHIR

PERANCANGAN NOVEL GRAFIS

“SANG PENYAIR TINGGAL NAMA?”

ADAPTASI DARI BIOGRAFI WIJI THUKUL

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan

guna Mencapai Gelar Sarjana pada Jurusan Desain Komunikasi Visual

Oleh :

SIGIT SETIAWAN C0706047

DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

PERSETUJUAN

Konsep Karya Tugas Akhir dengan Judul

PERANCANGAN NOVEL GRAFIS “SANG PENYAIR TINGGAL NAMA?” ADAPTASI DARI BIOGRAFI WIJI THUKUL

disetujui untuk dipertahankan di hadapan penguji

Pembimbing I, Pembimbing II,

Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn Anugrah Irfan Ismail, S.Sn NIP. 19711115 200604 1 001 NIP. 19830702 200812 003

Mengetahui Koordinator TA,

(3)

commit to user

PENGESAHAN

Konsep Karya Tugas Akhir

PERANCANGAN NOVEL GRAFIS “SANG PENYAIR TINGGAL NAMA?” ADAPTASI DARI BIOGRAFI WIJI THUKUL

Dinyatakan Lulus Ujian Tugas Akhir oleh Tim Penguji dalam Sidang Ujian Tugas Akhir

Pada hari Senin, 28 Mei 2012 Tim Penguji,

Ketua Sidang Ujian Tugas Akhir

Drs. M. Suharto. M.Sn ( ) NIP. 19561220 198603 1 003

Sekretaris Sidang Ujian Tugas Akhir

Esty Wulandari, S.Sos, M.Si ( )

NIP. 19791109 200801 2 015

Pembimbing I Tugas Akhir

Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn ( )

NIP. 19711115 200604 1 001

Pembimbing II Tugas Akhir

(4)

commit to user

PERSEMBAHAN

Dengan penuh ketulusan kupersembahkan karya sederhana ini untuk :

(5)

commit to user

MOTTO

Jangan buang waktu mas!

(6)

commit to user

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat

dan bimbingan serta ridho yang telah diberikan sehingga penulis dapat

menyelesaikan Karya Tugas Akhir ini dengan lancar, tak lupa pada kesempatan

ini pula tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

memberikan dukungan dan bantuan baik materiil maupun spirituil kepada:

1. Drs. Riyadi Santosa.M.Ed.P.hD selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa

UNS.

2. Drs. M. Suharto. M.Sn selaku Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual serta

selaku Pembimbing Akademik.

3. Drs. Ahmad Adib, M. Hum, Ph.D selaku Koordinator Tugas Akhir.

4. Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn selaku Pembimbing I.

5. Anugrah Irfan Ismail, S.Sn selaku Pembimbing II.

6. Staf TU bidang akademik Jurusan Desain Komunikasi Visual.

7. Mbak Pon (Si Pon) istri dari Wiji Thukul, Wani dan Fajar Merah

8. Teman-teman Desain Komunikasi Visual UNS, terima kasih banyak untuk

dukungannya.

9. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan konsep tugas

akhir ini masih banyak kekurangan dan banyak hal yang harus penulis pelajari.

(7)

commit to user

membangun dan dapat membuat lebih baik. Akhirnya penulis berharap bahwa apa

yang telah penulis susun dapat memberi manfaat yang baik bagi siapa saja yang

membaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Surakarta, 1 Juni 2012

Penulis,

(8)

commit to user

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

(9)

commit to user

A. Identifikasi Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama” ... 35

(10)

commit to user

E. Referensi Visual Karya ... 57

F. Metode Pembuatan Karya ... 66

1. Halaman Isi ... 66

2. Sampul ... 69

G. Media Promosi dan Media Placement ... 72

1. Media Promosi ... 72

2. Media Placement ... 75

3. Prediksi Biaya ... 78

BAB V. VISUALISASI KARYA ... 80

BAB VI. PENUTUP ... 93

DAFTAR PUSTAKA ...

(11)

commit to user

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 : AnalisisSWOT ... 40

(12)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 : Cover Novel Grafis “ A Contract With GOD” ... 9

Gambar 2 : Cover Novel Bergambar “Mat ROMEO” ... 11

Gambar 3 : Cover Novel Grafis “CHE” ... 37

Gambar 4 : Cover Novel Grafis “ Selamat Pagi Urbaz” ... 39

Gambar 5 : Dyah Sujirah (Si Pon) ... 54

Gambar 6 : Lawu Warta ... 55

Gambar 7 : Murtidjono... 55

Gambar 8 : Halim HD ... 56

Gambar 9 : Referensi Grafis Woodcut ... 58

Gambar 10 : Referensi Grafis Woodcut ... 59

Gambar 11 : Referensi Grafis Woodcut ... 59

Gambar 12 : Referensi Grafis Woodcut ... 60

Gambar 13 : Referensi Grafis Woodcut ... 60

Gambar 14 : Referensi Grafis Woodcut ... 61

Gambar 15 : Referensi Desain Kontruktifisme ... 62

Gambar 16 : Referensi Desain Kontruktifisme ... 63

Gambar 17 : Referensi Desain Kontruktifisme ... 63

Gambar 18 : Referensi Desain Kontruktifisme Kolase ... 64

Gambar 19 : Referensi Desain Kontruktifisme Kolase ... 64

Gambar 20 : Referensi Desain Kontruktifisme Kolase ... 65

(13)

commit to user

PERANCANGAN NOVEL GRAFIS “SANG PENYAIR TINGGAL NAMA?” ADAPTASI DARI BIOGRAFI WIJI THUKUL

Sigit Setiawan 1

Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn 2 , Anugrah Irfan Ismail, S.Sn 3

ABSTRAK

Sigit Setiawan, 2012. Pengantar Tugas Akhir ini berjudul Perancangan

Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama” Adaptasi dari Biografi Wiji Thukul.

Novel grafis merupakan sebuah produk sastra bergambar yang sekarang menjadi sebuah topik yang baru dalam perbincangan mengenai produk buku bacaan. Yang membuat novel grafis berbeda dengan komik atau buku bergambar pada umumnya terletak pada cara penyajian visual ilustrasinya yang cenderung lebih idealis, sedangkan pada sisi penceritaan novel grafis lebih memiliki cerita yang berbobot dan kompleks. Dari penjelasan tersebut novel grafis dipilih menjadi media yang mampu merepresentasikan cerita sejarah dengan lebih modern dan memiliki daya tarik dari pada buku bergambar pada umumnya.

Selama ini cerita sejarah yang pernah dibuat dalam format buku bergambar kebanyakan masih mengangkat cerita pahlawan kemerdekaan, dan masih menggunakan format komik. Pada intinya seiring berjalannya waktu sejarah akan terus berkembang. Indonesia sendiri memiliki catatan sejarah baru setelah masa kemerdekaan, salah satunya pada masa kejatuhan ORDE BARU di tahun 1998. dalam peristiwa tersebut terdapat sebuah nama yang cukup dikenal dikalangan orang-orang politik dan seniman. Adalah Wiji Thukul, seorang seniman yang akhirnya terjun ke dunia perpolitikan dan menjadi salah satu pendongkrak pemikiran rakyat yang telah lama diberangus oleh pemerintah untuk bangkit. Wiji Thukul berjuang melalui puisi-puisi yang ditulisnya berdasar apa yang dilihat dan dialami dia sendiri. Dari latar belakang kehidupan Wiji Thukul yang miskin dan seba kekurangan akan menjadi sebuah cerita menarik ketika dihadapkan pada sebuah fakta bahwa Wiji Thukul adalah duri bagi selera makan pemerintahan yang korup. Hingga akhirnya Wiji Thukul dikabarkan hilang diculik seiring runtuhnya pemerintahan ORDE BARU.

Akan menjadi sebuah kolaborasi yang menarik saat sebuah buku bergambar berformat novel grafis mengangkat cerita dari Indonesia dan mampu menceritakan tokoh lokal serta berlatar belakang sejarah setelah masa kemerdekaan. Mengingat hal tersebut maka dirancanglah sebuah novel grafis

“Sang Penyair Tinggal Nama?” adaptasi dari biografi Wiji Thukul yang nantinya

diharapkan akan dapat menjadi sebuah produk lokal yang mampu bersaing di pasaran dan sekaligus akan mampu mendongkrak semangat produk buku bergambar dalam negeri.

1

Mahasiswa Jurusan Deskomvis, Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS dengan NIM C0706047

2

Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn, sebagai Pembimbing I

3

(14)

commit to user

DESIGN OF GRAPHIC NOVEL “SANG PENYAIR TINGGAL NAMA” ADAPTED FROM WIJI THUKUL’S BIOGRAPHY

Sigit Setiawan 4

Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn 5 , Anugrah Irfan Ismail, S.Sn 6

ABSTRACT

Sigit Setiawan, 2012. This Introduction to Final Project is entitled Design of Graphic Novel “Sang Penyair Tinggal Nama” Adapted from Wiji Thukul’s Biography. Graphic Novel is a pictorial literary product becoming the new topic in discussion about reading source products to date. What make the graphic novel different from comic or common pictorial book are its visual illustration presentation tending to be more idealistic and its complex and high-quality storytelling aspect. From the explanation above, the graphic novel is chosen as the media that can represent the historical story more modernly and has more appeal than the common pictorial books.

So far, most historical stories ever made into pictorial book format still raised the independence hero story and still used comic format. Essentially, as the time progresses, history will develop continuously, one of which during NEW ORDER collapse in 1998. In that event there was a name sufficiently famous among the politicians and artists. He was Wiji Thukul, an artist plunged into politics and became the one jacking the public thought that had been muzzled by the government. Wiji Thukul struggled with the poetries he wrote based on what he saw and experienced by himself. From his background of life, Wiji Thukul who was poor and disadvantaged would become an interesting story when confronted with the fact that he was the thorn for the corrupt government’s appetite. Till finally, Wiji Thukul was said as lost and kidnapped along with the new order government collapse.

But, it will become an interesting collaboration when a pictorial book in graphic novel format raises Indonesian story and can tell about the local figure as well as used historical background post independence time. Recalling that, a graphic novel “Sang Penyair Tinggal Nama?” was designed adapted from Wiji Thukul’s Biography that in turn is expected to become a local produce that can compete in the market and can jack the spirit of domestic pictorial book product.

4

Student of Visual Communication Design Department, Faculty of Letters, Sebelas Maret University,

Student Number C0706047

5Hermansyah Muttaqin, S.Sn, M.Sn, as The First Consultant 6

(15)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Perkembangan desain grafis dewasa ini semakin beragam, terlihat dengan

banyaknya produk-produk desain grafis yang ditemui di pasaran. Buku sebagai

salah satu produknya, desain grafis dalam sebuah buku yang memiliki visual

bagus tentunya akan lebih menarik perhatian khalayak dibandingkan dengan buku

yang dirancang atau tampilan visualnya seadanya saja. Banyak sekali ragam jenis

buku yang dapat ditemui di toko-toko buku, salah satunya adalah Novel Grafis.

Novel grafis merupakan salah satu jenis produk sastra gambar yang

mengadopsi cerita dari novel yang sudah ada ataupun kembali menghadirkan

cerita yang baru dengan bahasa novel dan visualisasi penceritaan isinya. Novel

grafis lebih mencerminkan kebebasan berkarya sastra visual dalam

penggarapannya. Terlihat dari keragaman gaya visual beberapa novel grafis impor

yang telah banyak beredar di pasaran selama ini. Antara lain seperti “Palestina

Membara” karya Joe Sacco, “Rampokan Jawa” karya Peter Van Dongen, “ A

Contract With God” karya Will Eisner, dan masih banyak lagi judul-judul novel

grafis yang memiliki karakter gambar dan cara bercerita yang berbeda-beda.

Di Indonesia sendiri perkembangan mengenai novel grafis tidak begitu

(16)

commit to user

digunakan oleh beberapa cergamis di indonesia. Produk novel grafis buatan

Indonesia yang sudah beredar kebanyakan mengadopsi cerita fiksi modern yang

dikembangkan sendiri oleh si pengarang novel grafis.

Keberadaan novel grafis sebagai sebuah pendongkrak geliat pekerja kreatif

dibidang cergam diharapkan akan dapat pula menumbuhkan minat baca

masyarakat terhadap produk lokal. Selain itu karena pengemasan sebuah bentuk

novel lebih menarik dengan adanya banyak gambar tentunya akan meningkatkan

penjualan cergam bergenre novel grafis dipasaran.

Namun berbeda dengan keinginan serta kenyataan yang ada, di toko-toko

buku ternyata masih jarang didapati novel grafis buatan Indonesia. Banyaknya

novel grafis yang terdapat di toko-toko buku saat ini didominasi novel grafis

buatan luar atau merupakan produk impor. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan

untuk mampu menciptakan produk novel grafis buatan lokal yang mampu

menghadirkan tokoh lokal sehingga akan mampu menarik minat pecinta cergam

dan komik untuk menyenangi produk lokal.

Beberapa cerita mengenai Indonesia sangat menarik apabila dapat disajikan

dalam bentuk novel grafis. Dengan dibantu visual yang menarik tentunya akan

menjadi sebuah produk yang patut dibanggakan. Cerita-cerita yang pernah

diangkat dalam cergam antara lain mengenai perjuangan para pahlawan

kemerdekaan. Beberapa penerbit sukses mengemas buku cergam secara menarik

dan sesuai target, seperti serial cergam pendidikan yang dirilis oleh penerbit lokal

Elexmedia. Tetapi banyak juga buku yang masih mengalami kesulitan dalam

(17)

penerbit-commit to user

penerbit lokal yang tergolong masih kecil. Namun cerita mengenai pejuang

setelah masa kemerdekaan belum banyak dibuat. Untuk itu perlu dibuat novel

grafis dengan mengangkat cerita dari perjuangan-perjuangan tokoh-tokoh setelah

masa kemerdekaan, salah satunya adalah Wiji Tukul. Sehingga akan sangat

menarik apabila cerita mengenai beliau dijadikan sebuah novel grafis yang

nantinya akan menimbulkan ketertarikan minat masyarakat.

Penulis akan mengemas cerita mengenai Wiji Tukul dalam format Novel

Grafis seperti yang dijelaskan diatas. Penulis berusaha memecahkan masalah

dengan merancang sebuah buku novel grafis tentang Wiji Tukul dengan beberapa

pengembangan. Diharapkan dengan adanya pengembangan cerita akan membantu

menumbuhkan mental dan mampu berfikir kedepan lebih kritis.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan rangkuman masalah diatas, maka rumusan masalah yang dapat

disimpulkan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana merancang novel grafis lokal yang memiliki keseriusan bercerita,

serta mampu menghadirkan tokoh lokal dan mampu menghadirkan ilustrasi

yang mewakili karakter cerita?

2. Bagaimana memilih media promosi yang sesuai untuk mendukung penjualan

produk novel grafis ”Sang Penyair Tinggal Nama?” di pasaran, agar menarik

(18)

commit to user

C.

Tujuan

Adapun tujuan perancangannya yang ingin dicapai adalah :

1. Merancang novel grafis lokal yang memiliki keseriusan bercerita, serta

mampu menghadirkan tokoh lokal dan mampu menghadirkan ilustrasi yang

mewakili karakter isi cerita.

2. Memilih media promosi yang sesuai untuk mendukung penjualan produk

novel grafis ”Sang Penyair Tinggal Nama” di pasaran, agar menarik minat

pembeli.

D.

Target Market dan Target Audience

1. Target Market

a. Geografi

Mencangkup seluruh wilayah nasional Indonesia.

b. Demografi

Target market menurut demografi adalah :

1) Dewasa usia 20-25 tahun.

2) Jenis kelamin : Pria

3) Pendidikan : pelajar s/d mahasiswa

(19)

commit to user 2. Target Audience

Target audience menurut psikografi meliputi :

a. Pelajar dan mahasiswa yang senang membaca komik atau novel grafis

produk impor dan tertarik dengan komik atau novel grafis buatan lokal.

E.

Target Karya

1. Karya utama berupa Novel Grafis sejarah

2. ATL (Above The Line)

a. Iklan majalah

b. Spanduk

3. BTL (Below The Line)

a. Poster promo

b. X - Banner

c. Merchandise

1) Kaos

2) Stiker cover laptop

d. Gimmick

1) Pembatas buku

2) Poster gift

3) Stiker

(20)

commit to user

4. Digital Media

Melalui Media jejaring sosial (membuat page di facebook)

F.

Metodologi Penelitian

1. Wawancara

Yaitu tehnik pengumpulan data dengan cara bertanya langsung kepada

responden secara lisan.

2. Studi Pustaka

Yaitu tehnik data dengan menggunakan literatur – literatur yang

relevan dengan penelitian.

(21)

commit to user

7

BAB II

KAJIAN TEORI

A.

Novel Grafis

1. Awal Mula Novel Grafis

a. Sejarah Novel Grafis di Barat

”Saya duduk dan coba membuat sebuah buku yang akan tampak

sebagaimana lazimnya sebuah buku, dan sekaligus ingin mengerjakan

komik dengan tema yang sebelumnya tidak pernah dibuat,” ungkap

seorang komikus Will Eisner dalam sebuah wawancara dengan Time.

Wawancara itu dilakukan dalam rangkaian peringatan 25 tahun lahirnya

novel grafis di Amerika Serikat.

Ketika akhirnya karya itu selesai dan coba ditawarkannya ke

beberapa penerbit, Eisner yang khawatir hasil kerjanya itu akan ditolak

sebagai sebuah komik, mengatakan bahwa apa yang ia kerjakan itu adalah

sebuah ”novel grafis”. Penerbit yang didatangi kontan menolaknya

lantaran tetap menganggap karya Eisner itu sebuah komik. Sekian waktu

mencari, beruntung sebuah penerbit kecil akhirnya bersedia

menerbitkannya. Saat diterbitkan, dalam sampul dibubuhkan keterangan

”Sebuah Novel Grafis”.

Itulah sekelumit kisah terbakukannya istilah novel grafis. Peristiwa

(22)

commit to user

yang dianggap menjadi pionir novel grafis dalam konteks industri komik

di Amerika Serikat dalam kurun dua dekade ini. (sastra-Indonesia.com)

Banyak yang menampik karya Will Eisner, A Contract With God

(1978), sebagai “novel grafis” pertama. Stephen Weiner, dalam Faster

Than a Speeding Bullet: The Rise of the Graphic Novel, menulis: “Novel

grafis” modern pertama ditulis dan digambar oleh seorang kartunis

veteran, Wil Eisner, yang melahirkan istlah ini saat mencoba membujuk

redaksi di Bantam Books untuk menerbitkan sebuah buku komik yang

ditulis setebal buku lazimnya.

Pandangan ini menjadi pandangan resmi atau mainstream sejarah

komik di Amerika. Majalah Time, baik dalam edisi cetak maupun dalam

edisi on line, termasuk yang meyakini hal ini. Dalam Time edisi on line itu

pula (berkatilah internet!) masuk tanggapan dari sejarawan komik R.C.

Harvey yang menyebutkan bahwa Will Eisner bukanlah orang pertama

yang menggunakan istilah “novel grafis”. Lebih dari itu, menurut Harvey,

cetakan pertama A Contract With God sama sekali tidak mencantumkan

sebutan “novel grafis” di cover maupun dalam pengantar. Menurut

Harvey, setelah 1978, istilah “novel grafis” mulai banyak dipakai dan

barulah dalam cetakan selanjutnya istilah itu dilekatkan pada buku

tersebut. Jadi, menurut Harvey, kehadiran A Contract With God bukanlah

(23)

commit to user

Gambar 1 : Cover Novel Grafis “ A Contract With GOD” Sumber : Internet/Wikipedia/Sejarah Novel Grafis

Lebih jauh lagi, Harvey menerangkan, istilah ini pertama kali

digunakan oleh Richard Kyle pada November 1964, dalam sebuah

newsletter yang diedarkan pada para anggota Amateur Press Association.

Dan saat pertama sebuah komik panjang diidentifikasi sebagai “novel

grafis” adalah pada 1976, ketika terbit Beyond Time and Again karya

George Metzger, yang mencantumkan istilah ini pada halaman judul dan

bagian lipat sampul bukunya.

Pengulas komik majalah Time, Andrew Arnold, mengakui fakta

sejarah itu, tapi kukuh menetapkan karya Eisner itu sebagai novel grafis

pertama. Setelah mengonfirmasi dengan Eisner, memang kata “novel

grafis” tidak dicantumkan di edisi pertama, yang merupakan edisi hard

cover. Tapi kata ini dicantumkan dalam edisi soft cover, yang terbit pada

1978 juga. Jadi dari segi waktu, memang tepat bahwa kata “novel grafis”

(24)

commit to user

Di samping itu, Eisner mengakui pada Time bahwa ia bukanlah yang

pertama menciptakan istilah maupun format novel grafis. Ini sejalan

dengan uraian tentang novel-novel grafis Eisner dalam The Will Eisner

Companion: “Eisner memopulerkan istilah “novel grafis” ketika berusaha

menarik minat redaksi di Bantam Books kepada proyeknya (membuat

komik berbentuk buku untuk orang dewasa) beberapa tahun sebelum

(1978). Redaksi Bantam menolak, tapi istilah itu terus melekat”. Namun

Eisner berkata, “Saya tak bisa mengklaim bahwa saya yang menciptakan

novel grafis, tapi saya rasa waktu itu saya sedang berada dalam posisi

mengubah arah komik.” Menurut Arnold lebih lanjut, dalam responnya itu

terhadap e-mail Harvey, karya Eisner itu diterbitkan di luar sistem komik

(Amerika) yang telah ada, dan jelas merupakan comix pertama yang

dengan sadar beraspirasi mencapai status sastrawi. Dengan mencantumkan

istilah “novel grafis” di sampul depan, Eisner telah mengkristalkan konsep

“novel grafis”.

Lepas dari kontroversial tentang siapa yang pertama menciptakan

istilah novel grafis, perkembangan pada novel grafis yang terjadi di era

modern saat ini khususnya di Amerika semakin bertambah. Amerika yang

dulu terbiasa dengan format komik strip tipis kini banyak sekali

melahirkan karya komik tebal berbasis novel grafis.

Banyak sekali karya novel grafis yang dihasilkan dan dianggap

sebagai sebuah karya sastra seni. Hingga tahun 2010 berbagai judul novel

(25)

commit to user

yang sukses hingga mendapat penghargaan bergengsi di Amerika seperti

Joe Sacco dengan karyannya “Palestine” yang menang di ajang American

Book Award 1996.

b. Sejarah Novel Grafis di Indonesia

Kalau saja para penulis luar negri itu menengok wacana komik

Indonesia mereka mungkin akan tertarik pada sebuah fakta yang diangkat

oleh Seno Gumira Ajidarma: tujuh tahun sebelum A Contract with God,

Teguh Santosa sudah menyebutkan komiknya, Mat Romeo (1971), sebagai

“novel bergambar”.

Gambar 2 : Cover Novel Bergambar “Mat ROMEO” Sumber : Internet/ Wikipedia/ Sejarah Novel Grafis

Seno jelas memadankan istilah Teguh itu dengan istilah “novel

grafis” ala Eisner. Penelaahan lebih mendalam akan menunjukkan

keberbedaan dua istilah itu, tapi sementara ini cukuplah kita berhenti pada

(26)

commit to user

ini memang tak jelas. Ini berpengaruh pada peneguhan soal manakah

novel grafis pertama?

Hikmat Darmawan, seorang pengamat komik di Indonesia, memberi

ciri lebih pada novel grafis sebagai karya komik yang memiliki ”ambisi

sastrawi”. Menurut Hikmat, pengertian ini jadi tolok ukur yang akan

mensyaratkan bobot kualitas sastra dari karya yang disebut sebagai novel

grafis dan membedakannya dengan komik-komik biasa. Dengan

pengertian ini, dari segi format dan aspek sastrawinya, Hikmat

beranggapan bahwa sebetulnya komik wayang Mahabarata karya RA

Kosasih yang tidak pernah kekurangan penggemar sejak era 1960-an itu

merupakan juga salah satu bentuk novel grafis di Indonesia. Hanya saja,

alur ceritanya bukan merupakan karya otentik RA Kosasih karena

merupakan interpretasi grafis terhadap kisah klasik Mahabarata ke dalam

bentuk komik.

Menurut Hikmat, berkat komik Mahabarata ini, sesungguhnya

masyarakat Indonesia sudah lebih terbiasa dengan format novel grafis.

Sementara di Amerika Serikat sendiri masyarakatnya lebih terbiasa

dengan format komik superhero dengan jumlah halaman yang relatif tipis.

”Ambisi sastrawi” memang mau tidak mau mendobrak tradisi industri

komik biasa yang terbiasa memasung komikusnya dengan jumlah

halaman yang dibatasi demi efisiensi biaya pencetakan. Bahkan kini

penikmat novel grafis di Amerika Serikat sudah biasa dengan karya-karya

(27)

commit to user

tampaknya format novel grafis masih merupakan suatu genre baru yang

harus lebih memperkenalkan diri pada publik pembaca. Meskipun

demikian para seniman novelis grafis di Indonesia sudah berani untuk

mencoba menghadirkan produk novel grafis buatannya sendiri, seperti

“Selamat Pagi Urbaz” karya Beng Rahardian di tahun 2004 lalu dan Seno

Gumira Ajidarma, yang melahirkan novel grafis Jakarta 2039.

2. Pengertian Novel Grafis

Dalam penggalan kalimat yang dinyatakan oleh Will Eisner yang

dianggap sebagai pencetus istilah novel grafis, maka dapat dijabarkan kedalam

bentuk arti untuk istilah novel grafis. “Novel grafis adalah sebuah buku cerita

yang memiliki kandungan cerita yang berbobot serta menggunakan visual

atau gambar dalam penyajiannya”.

Novel grafis layaknya komik biasanya dicetak pada kertas dan disusun

dalam bentuk buku dilengkapi dengan cerita berupa teks dan gambar.

Biasanya isi cerita yang terkandung dalam novel grafis membutuhkan tingkat

berfikir lebih dewasa karena ceritanya yang cenderung serius.

B.

Komponen Novel Grafis

1. Halaman Depan (Cover)

Sebagai sebuah produk dari desain grafis tentunya sangat perlu

(28)

commit to user

istilah “jualah buku melalui sampulnya”, istilah ini muncul karena

kecenderungan orang sekarang senang dengan coba-coba. Sebuah buku yang

dipajang ditoko dengan laminasi plastik tentu saja akan akan mempersulit

pembeli yang ingin mengetahui isinya. Dalam hal tersebut peran sebuah

sampul sangat penting dalam hal menarik perhatian pembeli. Berikut syarat

cover yang baik :

a. Harus dapat mewakili isi cerita

b. Ada kesan misterius sehingga memberi rasa penasaran

c. Atraktif dan dinamis

2. Halaman Isi

a. Panel/ Frame

Berbentuk bingkai atau garis yang berfungsi sebagai pembatas antar

adegan dalam satu halaman novel grafis, komik dan cergam atau untuk

memusatkan perhatian pembaca dari panel per panel (Tatsu Maki, 2002:

69). Bentuk dari panel dapat berupa garis simetris maupun ekspresif. Panel

dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

1) Panel tertutup

Membatasi satu adegan dengan garis pembatas yang saling

sambung hinga tertutup. Biasanya bisa berupa garis tebal, tipis ,

(29)

commit to user

2) Panel terbuka

Garis yang membatasi satu adegan dan tidak selalu tertutup, dapat

terbuka disatu sisi atau tanpa garis sama sekali.

b. Balon kata

Merupakan tempat untuk meletakkan dialog. Umumnya berbentuk

bulat atau lonjong. Untuk myampaikan emosi tertentu, bentuknya dapat

lebih variatif lagi.

c. Narasi

Menerangkan tentang waktu, tempat kejadian, situasi dalam satu

adegan. Narasi sangat berhubungan dengan plot atau jalan cerita.

d. Efek suara/ Sound effect

Pemberian efek suara yang pas dapat membantu dalam penyampaian

maksud.

e. Gang

Merupakan jarak antara panel satu dengan yang lain untuk

memisahkan tiap adegan.

f. Timing

Merupakan jarak langkah yang dibutuhkan pembaca komik/ cergam

untuk menikmati suatu rentetan kejadian atau adegan yang melibatkan

pembaca untuk aktif menikmati panel demi panel sebelum mencapai

klimaks pada panel terakhir. Sudut pandang biasanya diambil dari saat ke

saat, waktu ke waktu, tempat ke tempat, aksi ke aksi, subjek ke subjek, dan

(30)

commit to user 3. Karakter Tokoh Cerita

Seorang pembuat novel grafis, komik atau cergam yang terkenal pada

dasarnya sudah membangun dengan kuat karakter tokoh yang mereka buat.

Penulis menganggap bahwa kejelasan suatu karakter tokoh mulai dari fisik

juga sifat akan mempermudah pembaca untuk masuk kedalam cerita yang ada.

Akan tetapi untuk membangun suatu karakter tetap harus mengacu terhadap

selera konsumen, khususnya untuk produk yang tidak segmented. Karena

apabila karekter yang susah payah dibangun tidak disukai oleh pasar, bisa jadi

produk komik, cergam atau pun novel grafis tidak dengan mudah laku di

pasaran. Setelah mengetahui selera konsumen, komikus atau cergamis akan

mampu membuat karakter tokoh dengan ciri khasnya sendiri. Karakter

tersebut meliputi karakter watak dan fisik, seperti penjelasan berikut :

a. Karakter Kepreibadian/Watak

1) Tokoh utama atau Protagonis

Merupakan pemeran utama, penuntun cerita dari awal sampai akhir

cerita.

2) Tokoh lawan atau Antagonis

Merupakan pemeran pendukung, lawan dari tokoh utama. Biasanya

menjadi penghalang atau penentang tokoh Protagonis.

3) Tokoh sanpingan atau Tritagonis

Adalah tokoh peran tambahan, tidak begitu diperhatikan tapi

keberadaannya sangat diperlukan. Fungsinya sebegai pelengkap yang

(31)

commit to user

b. Karakter Fisik

Karakter fisik sangat beragam, biasanyaberdasarkan bentuk postur

tubuh, ciri fisik khusus, cara berpakaian, dan dapat dilihat dari aksesoris

pendukungnya. Sebagai contoh, dalam sebuah cerita heroic, seperti dalam

cerita Superman atau Batman tokoh protagonis memiliki mimik wajah

yang sempurna, sedangkan untuk tokoh antagonis biasanya memilki wajah

dan bentuk tubuh yang menyeramkan, terkadang berwujud monster.

4. Teknik

Untuk memahami sebuah representasi bentuk visual ada baiknya perlu

mengenal tentang aliran-aliran serta estetika dalam seni rupa. Hal tersebut

menjadi faktor yang nantinya menentukan seberapa besar sebuah cita rasa

karya asli Indonesia terasa dalam novel garafis.

a. Gaya Gambar Komik dan Novel Grafis.

Dalam pembuatan karya novel grafis teknik gambar akan menjadi

sebuah faktor penilaian pasar, sehingga perlu di perhatikan kesesuaian

pemakaian teknik gambar yang tepat sehingga produk novel grafis tetap

dipandang sebagai sebuah bentuk novel grafis dan bukan komik.

Meskipun tidak ingin disebut sebagai sebuah bentuk komik gaya gambar

yang berpengaruh tentu saja masih berhubungan dengan cergam atau pun

komik, teknik dalam komik atau cergam yang dapat membantu dalam

(32)

commit to user

1) Teknik realis, atau gambar yang menyerupai bentuk aslinya,

kebanyakan digunakan oleh komik-komik dan novel grafis buatan

Amerika dan Cina.

2) Teknik kartun, dalam bahasa inggris kartun berarti lucu. Gambar ini

menampilkan obyek jauh dari sebenarnya atau tidak nyata. Teknik

kartun ini banyak digunakan pada :

a) Komik Eropa atau kartun Eropa

b) Komik Jepang dengan bentuk kartun yang biasa disebut manga

c) Komik Korea yang biasa disebut manhwa

Untuk gaya komik Jepang dan Korea kartun dimodifikasi dengan

bentuk yang mendekati realis, sehingga timbul gaya semi realis yang

banyak digunakan oleh komikus sekarang.

b. Sketsa

Skets, menurut H.W Fowler dalam “ The Oxford Dictionary” berasal

dari bahasa latin Skhedies extrempore yang berarti “begitu saja tanpa

persiapan”. Sedangkan menurut Peter dan Linda Murray, Sketsa adalah

merupakan rancangan kasar dari suatu komposisi atau sebagian dari

komposisi, dibuat sebagai pemuasan pribadi si seniman terhadap skala,

komposisi sinar, dan sebagainya yang merupakan percobaan untuk suatu

karya dengan skala sesungguhnya, tetapi hal tersebut harus benar-benar

diketahui atau dikenal lewat studi (Suatmadji, 2000: 5). Sketsa merupakan

awal dari sebuah goresan kasar sebagai model permulaan dari ide

(33)

commit to user

c. Tipografidan Balon Kata

Tipografi merupakan jenis gaya atau tipe huruf. Huruf adalah bagian

terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah sebagian kecil dari

sebuah gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat

pemilihan kata yang menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan

dalam pemlihan huruf. R.C Harvey, seorang sarjana komik menyatakan

bahwa kombinasi berseni dari kata dan gambar terliput dalam semua

definisi tentang komik, yang tentu saja hal tersebut berhubungan juga

dengan karya novel grafis yang merupakan produk sastra dan seni rupa.

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi:

1) Roman, pada awalnya adalah kumpulan huruf kapital seperti yang

biasa ditemui di pilar dan prasasti Romawi, namun kemudian

definisinya berkembang menjadi seluruh huruf yang mempunyai ciri

tegak dan didominasi garis lurus kaku.

a) Serif, dengan ciri memiliki serif di ujungnya. Selain membantu

keterbacaan, serif juga memudahkan saat huruf diukir ke batu.

b) Egyptian, atau populer dengan sebutan slab serif. Cirinya adalah

kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan

ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan

adalah kokoh, kuat, kekar dan stabil.

c) Sans Serif, dengan ciri tanpa sirip/serif, dan memiliki ketebalan

huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh

(34)

commit to user

2) Script, merupakan goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas

atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang

ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.

3) Miscellaneous, merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang

sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif.

Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

Kata menunjukan perasaan, sensasi, dan konsep abstrak yang tidak

bias ditunjukan lewat gambar, berhubungan langsung dengan rasa dan

nuansa suara manusia. Ketika kata dan gambar bergantung mereka

menciptakan gagasan dan sensasi baru.

Kedinamisan gambar dan kata haruslah seimbang dan bekerja sama

menjalin cerita. Biasanya dalam cerita bergambar kata dipadukan secara

grafis dalam balon dialog atau kata. Balon kata disebut sebagai “alat putus

asa” ; sebuah usaha” menangkap dan menampilkan elemen yang sangat

halus, yaitu suara”. ( Will Eisner, 1985: 73) Balon kata tidak ada dalam

dunia nyata, namun pada komik balon kata mengapung seperti objek fisik.

Balon kata umumnya berbentuk bulat atau lonjong. Beberapa menanggapi

paradoks ini dengan mengurangi tampilan fisik balon menggunakan garis

batas tipis atau bahkan tanpa garis. Sementara yang lain menerima balon

kata dan menampilkannya dalam bentuk yang lebih bebas dan berinteraksi

dengan gambar lain. (Scott McCloud, 2008: 142) Untuk menyampaikan

(35)

commit to user

d. Layout

Layout merupakan pengaturan untuk menempatkan berbagai unsur

komposisi, misalnya huruf teks, garis, objek, gambar, dan sebagainya.

Dalam layout dibagi menjadi tiga bagian:

1) Layout buku, yaitu pembagian adegan dalam sebuah buku yang

disesuaikan dengan tema cerita atau alur cerita dan jumlah halaman

keseluruhan.

2) Layout halaman, yaitu pembagian atau penempatan adegan cerita

yang sesuai dengan alur cerita dalam satu halaman.

3) Layout panel, yaitu penempatan suatu adegan cerita dalam sebuah

panel yang disesuaikan dengan plot cerita.

e. Panel

Panel adalah kotak tempat gambar diletakan. Biasanya dalam satu

halaman komik terdapat beberapa panel sekaligus, namun tidak serupa

dengan novel grafis yang lebih bebas dan terkadang lebih sedikit panel

dalam satu halaman. Umumnya bentuk panel adalah segi empat, namun

sering kali ditemukan berbagai macan variasibentuk panel. (Esvandiari

Sant, 2005: 4) oleh karena buku dalam bahasa Indonesia dibaca dari kiri ke

kanan, maka arah pembuatan panel akan mengikuti huruf “Z”.

f. Closure

Closure adalah fenomena mengamati bagian-bagian dengan

memandangnya sebagai keseluruhan. Closure berfungsi sebagai

(36)

commit to user

bergambar, akan saling mendukung dan tersusun menjadi satu kisah yang

utuh. Beberapa closure merupakan tindakan yang disengaja oleh si

pencerita untuk menciptakan ketegangan atau tantangan pada penonton.

Beberapa golongan closure adalah sebagai berikut :

1) Waktu ke waktu

Peralihan ini merupakan closure yang sangat sedikit.

2) Aksi ke aksi

Peralihan satu subjek dalam suatu proses

3) Subjek ke subjek

Peralihan dala satu adegan atau gagasan yang memerlukan

keikutsertaan pembaca agar peralihan tersebut bermakna.

4) Adegan ke adegan

Peralihan ini membawa kita melintasi ruang dan waktu. Peralihan

jenis ini sering diperlukan pemikiran deduktif.

5) Aspek ke aspek

Peralihan ini tak mengenal waktu dan mengatur pandangan yang

mengembang terhadap aspek tempat, gagasan, dan suasana hati yang

berbeda. Peralihan ini tidak bertindak sebagai jembatan peristiwa

yang terpisah, melainkan pembaca harus merangkai pecahan-pecahan

peristiwa yang tersebar menjadi tunggal.

6) Non sequitur

Peralihan ini tidak menunjukan hubungan yang logis antara panelnya.

(37)

commit to user

elastis. Dengan memperlihatkan sedikit atau tidak sama sekali suatu

peristiwa, dan hanya memberi petunjuk kepada pembaca, pencerita

dapat membangkitkan imajinasi pembaca.

g. Warna

Warna merupakan komponen yang penting untuk mewujudkan atau

menciptakan suasana yang diinginkan. Pewarnaan dalam sebuah cerita

yang bergambar akan membantu memberi narasi tentang situasi yang

sedang terjadi, suasana hati, serta momen yang ingin ditampilkan.

Perlu diperhatikan ketika memberi pewarnaan dalam cerita bergambar

harus disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan, karena warna

memiliki suasana yang berbeda-beda. beberapa contoh suasana wana yang

mewakilinya:

1) Warna hangat (merah, orange) ; suasana panas dan kuat.

2) Warna Sejuk (biru, hijau) ; suasana dingin dan tenang.

3) Warna terang (warna dengan tambahan putih di dalamnya) ; suasana

cerah dan kebebasan.

4) Warna gelap (warna dengan tambahan hitam di dalamnya) ; suasana

suram dan mistik.

5) Warna-warni (full color) ; suasana kegembiraan dan keceriaan.

Komposisi warna harus direncanakan dengan matang, sebab komposisi

warna menentukan tamoilan keseluruhan dari pesan yang ingin

disampaikan. Dalam cerita bergambar terdapat dua macam gaya

(38)

commit to user

1) Style datar, seperti pada film kartun Jepang (Anime). Ini merupakan

teknik basic, meskipun demikian tetap perlu diperhatikan

pengetahuan dan pemahaman tentang bayangan cahaya. Untuk

membuat gabar tampak tiga dimensi digunakan warna gelap dan

terang. Semakin banyak warna yang digunakan gambar akan

semakin hidup.

2) Realistic Style, yaitu dimana komikus membuat gambar tampak

hidup dan mendekati kenyataan. Biasanya colorist akan banyak

memakai piranti air brush dan paint brush untuk hasil yang lebih

detail.

C.

Perbedaan Novel Grafis dan Komik

Novel grafis merupakan sebuah produk buku bergambar seperti layaknya

komik yang banyak dikenal masyarakat, namun demikian istilah novel grafis ingin

berdiri sendiri sebagai sebuah genre yang berbeda dengan komik atau cergam

pada umumnya. Muatan tema dalam novel grafis yang ditujukan untuk pembaca

dewasa memang menjadi salah satu ciri yang membedakannya dengan komik

biasa. Selain itu, biasanya novel grafis memiliki garis cerita yang panjang dan

kompleks, meski definisi-definisi ini bukanlah suatu batasan yang kaku.

Dari segala hal yang diperbincangkan dalam artikel-artikel yang ditemui

penulis khususnya dari internet, maka jika dibuat table perbedaan antara Novel

(39)

commit to user

Aspek Novel Grafis Komik

Fisik Novel grafis cenderung lebih

tebal atau dengan ukuran buku

lebih besar

Komik yang kebanyakan

ditemui memiliki bentuk fisik

buku yang lebih tipis

terkadang kecil seperti

komik-komik jepang.

Cerita Dari sudut cerita, novel

grafis memiliki tema

yang lebih serius,

berbobot atau kompleks

seperti halnya karya

sastra novel.

Cara bercerita juga

memiliki ciri yang

berbeda dengan komik.

Novel grafis lebih

idealis dalam

menyampaikan

ceritanya atau berkesan

lebih bebas daripada

komik.

Komik cenderung

memiliki cerita yang

lebih ringan. Berlatar

komedi, drama

percintaan ataupun

kisah-kisah seperti

super hero.

Cara bercerita komik

biasanya lebih santai,

mendramatisir, dan

lebih teratur dengan

pengantar panel-panel

gambar yang tersusun

berurutan.

(40)

commit to user

selalu tersusun dari panel-panel

gambar peristiwa yang saling

berurutan dan terkait satu

dengan yang lain.

menjadi cirri adalah

gambar-bgambar yang tersusun dalam

panel yang saling berurutan

dan terkait.

Target Market yang menjadi target

produk novel grafis adalah

dewasa, karena sesuai dengan

cerita yang berbobot dan

kompleks.

Target market komik lebih

bervariasi, antara anak-anak

hingga dewasa.

D.

Penerbit dan

Marketing

1. Penerbit

Novel Grafis selama ini masih dianggap sebagai produk komik, padahal

jika dilihat dan diperhatikan sangatlah berbeda. Meskipun demikian tempat

penerbitan tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Beberapa penerbit

besar lokal sekarang sudah mulai membuka kesempatan bagi para komikus,

cergamis, dan seniman novel grafis untuk memproduksi karya mereka. Jumlah

produk novel grafis buatan lokal masih sangat kurang dibandingkan dengan

(41)

commit to user

Potensi sumber daya seniman yang mampu membuat novel grafis, komik

maupun cergam semakin bertambah, sehingga perlu drpikirkan strategi

pembinaan, pengembangan dan pemasaran yang berintegrasi agar produk

khususnya jenis novel grafis buatan lokal juga memiliki peluang yang besar di

pasar serta menjadi sebuah produk yang profitable dan ini merupakan tugas

penerbit.

2. Pemasar (Marketing)

Marketing merupakan titik krusial untuk memasarkan suatu produk. Bagi

sebuah buku novel grafis sangat diperlukan peran serta pemasar (Marketing),

dimana memasarkan novel grafis berarti juga memasarkan semua hal yang

berkaitan dengan sebuah novel grafis. Buku novel grafis, artis Novel grafis,

merchandise novel grafis, bazar dan segala macam bentuk kegiatan yang dapat

menarik minat masyarakat terhadap produk novel grafis lokal.

Elemen-elemen masyarakat yang sudah terbentuk dalam jaringan atau

networking akan mampu untuk bekerjasama mengembangkan pemasaran

produk novel grafis lokal. Elemen tesebut terdiri dari beberapa kelompok

pekerja, yaitu:

a. Mobilisator

Adalah mereka yang bekerja dan memiliki tugas untuk menggerakan

anggota-anggotanya dalam melakukan kegiatan terkait dengan dunia novel

(42)

commit to user

b. Komunikator

Mereka yang memiliki keahlian komunikasi dalam kegiatan public

relation yang bertugas menjebatani informasi dari kegiatan yang dilakukan

dengan masarakat umum. Komunikator memiliki peran penting dalam

menyampaikan keberadaan artis novel grafis kepada publik, diharapkan

mereka dapat menjadi pusat keluar masuknya informasi tentang segala

sesuatu yang terkait dengan kegiatan dunia artis novel grafis.

c. Mediator

Mereka adalah tim dengan keahlian komunikasi dan mampu

membina hubungan dengan media, donatur, sponsor atau investor terkait

dengan kegiatan pemasaran novel grafis.

d. Distirbutor

Distribusi media promosi/ informasi kegiatan seperti brosur, poster,

katalog serta cara penayaluran karya-karya novel grafis buatan lokal agar

sampai ditangan masyarakat umum menjadi tanggung jawab kelompok

distributor.

e. Promotor

Adalah penyedia pendukung financial, termasuk didalamnya

donatur, sponsor, atau bahkan investor yang bersedia menyandang dana

untuk kegiatan terkait novel grafis. Keberadaan kelompok promotor adalah

sangat penting dalam mendukung berlangsungnya strategi dan

(43)

commit to user

E.

Potensi Novel Grafis

Novel grafis lebih cocok untuk disebut sebagai karya seni sastra yang idealis.

Sebuah produk seni grafis yang menggabungkan elemen sastra di dalamnya

hingga menjadikannya sebuah produk yang berbeda dengan kecenderungan buku

cerita bergambar atau komik pada umumnya. Visual yang dihadirkan dalam novel

grafis tidak selalu mengejar keinginan pasar, namun lebih pada keinginan atau

selera pencipta sendiri.

Beberapa novel grafis yang telah beredar seperti “V For Vendetta” atau

“Rampokan Jawa” memiliki idealisme karyanya sendiri dalam penyajiannya.

Meskipun demikian peminat karya-karya novel grafis tetap banyak. Tidak hanya

terasa idealisme dalam visual, namun juga dalam sastra dengan cerita yang

disajikan, mengandung bahasa sastra yang lebih serius dan kompleks. Fakta

tersebut menjadi sebuah peluang bagi para komikus atau seniman untuk sekedar

keluar jalur dari pakem komik yang ada selama ini.

Meskipun disebut sebagai karya idealis novel grafis tetap memiliki sentuhan

kekayaan visual yang mampu menarik perhatian masyarakat. Novel grafis

merupakan apresiasi dari ambisi sastra dan seni grafis yang kemudian melebur

menjadi satu dalam konsep buku bergambar yang mampu menghadirkan suasana

(44)

commit to user

F.

Promosi

1. Tinjauan Promosi

Kata Promosi berasal dari bahasa latin, yaitu Promovera (Promotion) yang

dalam bahasa Inggris diterjemahkan: to move forward advance, dimana

terjemahan secara fungsional sasaran promosi adalah merangsang pembelian

di tempat, (immediately stimulating purchase), kata tersebut pertama kali

digunakan oleh Daniel Strach (Renald Khasali, 1995: 10)

Kata promosi mempunyai arti untuk memberitahu, membujuk atau

mengingat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989: 68), promosi difungsikan

sebagai kelanjutan dari publikasi sehingga para calon konsumen tidak hanya

mengenal produk yang ditawarkan, tetapi juga mau berbuat atau bertindak

sesuai dengan pesan yang disampaikan dalam alat promosi tersebut

Promosi menjadi salah satu faktor penentu berhasil tidaknya suatu

program pemasaran, meskipun sebuah produsen bisa menciptakan suatu

produk yang bagus, dengan kwalitas yang tinggi, kemasan yang baik, logo

yang menarik, dan lain-lain, tetapi bila tidak ditunjang dengan adanya upaya

promosi akan sulit untuk dapat meraih kesuksesan dari hasil penjualan di

pasaran. Melalui promosi dapat dijelaskan kepada para calon konsumen

mengenai keunggulan dari produk tersebut dan lebih mengena kepada sasaran.

Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam perencanaan promosi menurut

(45)

commit to user

a. Menentukan target yang hendak dicapai.

b. Menciptakan dan merumuskan pesan promosi yang akan dilancarkan.

c. Memilih dan menyeleksi saluran komunikasi dan media massa yang akan

digunakan.

d. Menyediakan anggaran promosi untuk memperlancar kegiatan promosi

dalam bermacam-macam pasar.

e. Membuat program pelaksanaan promosi yang akan dilakukan

Setiap usaha pasti memiliki tujuan, dan berikut ini merupakan beberapa

tujuan dari sebuah promosi :

1) Melahirkan atau meningkatkan kesadaran pembeli akan suatu produk

atau merek

2) Mempengaruhi sikap pembeli terhadap suat perusahaan, produk atau

merek

3) Meningkatkan penetrasi merek dalam suatu segmen yang dipilih

4) Meraih peningkatan penjualan dari pangsa pasar untuk konsumen

sasaran dan calon konsumen sasaran

5) Mendorong pembeli agar mau kembali membeli suatu merek

6) Menggiring pembeli untuk mencoba suatu merek baru

7) Menarik konsumen-konsumen baru

Setiap manusia mempunyai karakteristik mental maupun fisik yang

berbeda-beda, oleh sebab itu sangat diperlukan sekali perencanaan yang

(46)

commit to user

tercapainya keinginan tersebut diperlukan keputusan-keputusan yang

mendukung dan jelas sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.

Resep promosi (Promotion Mix) yang sampai sekarang banyak dianut adalah :

a. Periklanan (advertising)

b. Penjualan personal (personal selling)

c. Promosi penjualan (sales promotion)

d. Publisitas (publicity) (Rhenald Khasali, 1995 : 10)

Begitu pula untuk menetapkan sasaran dan tujuan diperlukan pemikiran.

Perencanaan merupakan penentu tujuan dan mengidentifikasikan metode yang

tujuannya agar dapat dicapai. Semua perencanaan perlu pemikiran cermat dan

bermetode. Pemikiran yang cermat dan bermetode dengan sendirinya adalah

hasil sampingan yang bermanfaat dari suatu perencanaan. (Frans Gromang,

1989 : 45)

Secara konvensional, perencanaan didahului oleh analisis mengenai

kekuatan, kelemahan, peluang, bahaya atau resiko yang dihadapi. (Joe

Setyawan, 1993 : 120)

2. Tinjauan Media

Kata media, berasal dari bahasa Latin, bentuk jamak dari medium secara

harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah suatu alat yang dipakai

sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan pesan (message) atau

informasi dari suatu sumber (resource) kepad penerimanya (reciver)

(47)

commit to user

merupakan segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai

perantara, sarana, alat untuk proses komunikasi belajar mengajar.

3. Media Promosi

Media promosi meliputi segenap perangkat yang dapat memuat atau

membawa pesan - pesan penjualan kepada calon konsumen yang menjadi

sasaran.

Media pada komunikasi periklanan ini dapat dibedakan atas 2 media yaitu :

a. Media Lini Atas (above the line), merupakan jenis iklan yang

mengharuskan pembayaran komisi kepada biro iklan. Media lini atas ini

meliputi :

1) Televisi

Merupakan media audio visual yang dapat menjangkau khalayak

secara luas dan mempengaruhi daya persepsi masyarakat akan segala

informasi yang ditayangkan.

2) Surat Kabar

Merupakan media visual yang memuat hal-hal actual meliputi

jangkauan lokal, regional, dan nasional. Surat kabar ini memuat

informasi dan komunikasi yang praktis dan dapat di bawa ke

mana-mana.

3) Majalah

Merupakan media yang difungsikan sebagai media dengan segmen

(48)

commit to user

digunakan sebagai media penyampaian iklan yang bagus karena

penggunaan bahan yang bermutu tinggi sehingga citra produk yang

ditawarkan akan lebih hidup.

4) Outdoor (media luar ruang)

Fungsi utama media ini adalah sebagai iklan untuk mengingatkan

atau sebagai media sekunder untuk mendukung kampanye di media

cetak maupun elektronik (pengulang kampanye dari media utama).

Media ini dapat bertahan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan,

bahkan tahunan, contoh : billboard, baliho, spanduk, neonsign, street

banner dan lain sebagainya.

b. Media Lini Bawah (below the line), merupakan media-media yang tidak

memberi komisi dan pembayaran sepenuhnya berdasarkan biaya-biaya

operasi plus sekian persen keuntungan. Media ini dapat merupakan media

yang bersifat menunjang atau melengkapi dan sering dicampur adukkan

dengan pengertian media above the line sebagai media primer dan below

the line sebagai media sekunder, tergantung pada apa yang akan

diiklankan. Adapun media lini bawah / below the line ini meliputi dari

direct mail, pameran-pameran, promosi penjualan, perangkat display

ditempat penjualan langsung ( point-of-sale ), selebaran pengumuman /

media yang lain seperti kalender, folder, stiker, poster, dan lain-lain.

(49)

commit to user

35

BAB III

IDENTIFIKASI DATA

A.

Identifikasi Tokoh Utama

1. Biografi Singkat

Wiji Tukul, yang bernama asli Wiji Widodo lahir di kampung

Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963. Dia adalah seorang sastrawan dan aktivis

yang sangat kritis terhadap pemerintah. Wiji Thukul lahir dari keluarga yang

sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai tukang becak. Meskipun lahir dari

keluarga yang terhitung kurang mampu, Wiji Tukul adalah seorang anak

yang rajin dan memiliki talenta di bidang seni sastra. Saat Sekolah Dasar

(SD), ia mulai membuat puisi karangannya sendiri. Ia tertarik pada dunia seni

peran teater ketika duduk di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

(SLTP).

Perkenalannya dengan dunia seni sastra membuat sejarah hidupnya

berubah. Lewat karya-karya sastranya, ia membuat puisi-puisi tajam

mengkritik kebijakan pemerintah saat itu. Bersama kaum buruh dan

mahasiswa ia memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraan untuk rakyat

kecil.

Novel grafis Wiji Thukul ingin memperlihatkan semangat perjuangan

(50)

commit to user

pemerintah. Tokoh sentral dalam novel grafis ini adalah Wiji Thukul sendiri,

dimana alur ceritanya mengarah pada perjalanan hidup Wiji Thukul.

2. Prestasi dari Karya Puisinya Setelah Dia dikabarkan Hilang

Wiji tukul tidak hanya mendapatkan apresiasi dari dalam negri saja, dia

juga mencuri perhatian publik internasional yang kemudian memberinya

segudang penghargaan, antara lain :

a. Tahun 1989, dia mendapatkan kehormatan dan diundang membaca puisi di

Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.

b.Tahun 1991, ia mendapatkan penghargaan dengan tampil ngamen puisi

pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda,

Jakarta).

c. Tahun 1991, Puisinya “mencari Tanah Lapang” memperoleh Wertheim

Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama

WS Rendra.

d.Tahun 2002, Wiji Tukul kembali mendapat penghargaan, dia dianugerahi

penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002"

e. Tahun 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh

(51)

commit to user

B.

Study Komparasi

Novel grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” merupakan buku novel

bergambar yang menceritakan kisah hidup Wiji Tukul pra peristiwa kerusuhan

Mei 1998 silam. Berlatar belakang masa reformasi ‟98, novel grafis yang mungkin

bisa juga disebut sebagai graphic biography ini ingin menyuguhkan kisah dibalik

kerusuhan yang meruntuhkan rezim orde baru tersebut. Sebagai studi

perbandingan guna melancarkan pembuatan novel grafis “Sang Penyair Tinggal

Nama?” ini maka diperlukan beberapa buku novel grafis yang mengangkat tema

sama, yaitu :

1. Novel Grafis Barat “CHE”

a. Judul : CHE

b. Pengarang : Spain Rodriguez

c. Penerbit : Penerbit Gramedia Pustaka Utama

d. Tahun terbit : 2009

e. Jumlah Halaman : 152 halaman

(52)

commit to user

Novel grafis ini merupakan biografi mengenai tokoh pergerakan Che

Guevara. Buku ini masuk subkategori graphic biography. Ceritanya mengenai

pergerakan yang dilakukan oleh Che Guevara sebagai seorang pemimpin

gerilya Kuba.

Guevara sering diejek sebagai tampilan lancar idealisme salah tempat, oleh

militer Fulgencio Batista, warisan sejarah Che berfungsi sebagai tandingan

yang relevan dengan ambisi kekaisaran Amerika pemimpin di Amerika Latin

dan seterusnya. Karya seni yang kuat dari Spanyol, Rodriguez menerangkan

kehidupan Che dan pengalaman yang membentuk dirinya, dari perjalanan

sepeda motornya melalui Amerika Latin, naik nya menjadi terkenal sebagai

pemimpin dalam gerakan revolusioner Fidel Castro, dan perjalanannya di

Afrika, keterlibatannya dalam pemberontakan yang menyebabkan

kematiannya di Bolivia.

2. Novel Grafis Indonesia “Selamat Pagi Urbaz”,

a. Judul : Selamat Pagi Urbaz

b. Pengarang : Beng Rahadian

c. Penerbit : Terrant Books

d. Tahun terbit : 2009

(53)

commit to user

Gambar 4 : Cover Novel Grafis “ Selamat Pagi Urbaz” Sumber : Dokumen Pribadi Gus Medi (Scan Gambar)

Novel grafis “Selamat Pagi Urbaz” adalah novel grafis lokal yang

memiliki latar penceritaan mengenai kehidupan urban di Jogja melalui

kacamata pena Beng Rahadian. Cerita ini mengkritik mengenai kehidupan

urban dengan menyentil semua aspek kehidupan yang tercatat dalam diary

penulisnya. Selamat Pagi Urbaz merupakan sebuah novel grafis yang punya

gaya filosofis-puitis-idealis . Di komik ini, jadi mengingatkan kita betapa

pentignya mencatat setiap peristiwa yang dialami dalam kehidupan.

Dari beberapa buku yang diambil sebagai sarana studi komparasi yang akan

dilakukan, diharapkan akan membantu dalam pembuatan novel grafis “Sang

Penyair Tinggal Nama?” supaya lebih bermutu dan berkualitas.

C.

Analisis SWOT

Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” yang akan dibuat oleh penulis

(54)

commit to user

tema yang diangkat adalah perjuangan pada masa setelah kemerdekaan. Cerita ini

berlatar belakang pada era sebelum dan menjelang reformasi menurunkan

presiden Soeharto dan menghacurkan rezim-rezim orde baru yang berkuasa saat

itu. Sebagai sebuah tema yang baru serta melalui konsep novel grafis yang masih

jarang digunakan oleh pembuat cerita bergambar di Indonesia, akan sangat

berpeluang sekali di pasaran apabila novel grafis tentang Wiji Tukul ini sukses

dalam pengerjaannya.

Sebagai tahap untuk meraih keberhasilan perancangan serta pembuatan

novel gafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” ini, maka diperlukan ketepatan dalam

analisa untuk melihat peluang serta potensinya di pasaran. Berikut analisa produk

novel grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” melalui perbandingan dengan novel

grafis “CHE” dan “Selamat Pagi Urbaz” dengan analisis SWOT :

(55)
(56)
(57)
(58)
(59)

commit to user

argumen dan

pandangan

masyarakat

terhadap

kekacauan

tahun ‟98.

dikalangan

masyarakat,

bahkan

politisi.

Terlalu

provokatif

penjualannya.

D.

Positioning

Sebagai produk novel grafis yang masih begitu baru di Indonesia maka

novel grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” diposisikan sebagai sebuah produk

lokal yang akan menjajal pasar dalam negeri. Novel grafis ini akan menjadi

produk yang memberi pengetahuan serta hiburan kepada pembaca, dengan tujuan

untuk memberi tahu pembaca tentang perjuangan Wiji Tukul serta puisi-puisinya

yang mampu mengobarkan semangat para mahasiswa dan masyarakat di masa

reformasi 1998. Sehingga positioning yang tepat untuk perancangan novel grafis

“Sang Penyair Tinggal Nama?” ini adalah sebagai novel grafis Indonesia pertama

(60)

commit to user

E.

Unique Selling Preposition

Novel Grafis “Sang Penyair Tinggal Nama?” memiliki tema yang berbeda

dengan kebanyakan novel grafis buatan lokal maupun manca negara. Tema yang

diangkat adalah mengenai sejarah Indonesia setelah masa kemerdekaan. Sebagai

sebuah produk asli Indonesia dengan tokoh pribumi yang berasal dari kota kecil di

Jawa Tengah yaitu Solo, maka novel grafis ini akan menjadi pioner produk dalam

negeri yang mengangkat tokoh lokal dalam sebuah konsep buku Novel Grafis.

Novel Grafis ini memiliki unsur pembeda daripada novel grafis yang lain,

yaitu dalam hal cara penceritaan, cara visual dan cara penyajian. Penceritaan

menggunakan konsep buku catatan, kemudian dalam segi visual, konsep yang

diangkat adalah grafis-kolase. Yaitu perpaduan seni grafis dan teknik tempel foto

dan gambar atau teknik kolase. Konsep visual tersebut untuk menjelaskan

perjalanan hidup tokoh utamanya yang berangkat dari dunia sastra seni yang

kemudian merambah ke kekisruhan dunia politik. Dari segi penyajian, buku ini

akan menggunakan kemasan sampul seperti buku catatan atau diary agar

membedakannya dengan buku komik ataupun buku sejenis yang lainnya.

Sebagai sebuah produk yang memiliki kandungan sastra dan seni rupa maka

sudah barang tentu menjadi sebuah keunggulan bagi novel grafis “Sang Penyair

Tinggal Nama?” untuk unjuk gigi dalam pasar lokal dengan menyuguhkan karya

(61)

commit to user

47

BAB IV

KONSEP PERANCANGAN KREATIF

NOVEL GRAFIS “

SANG PENYAIR TINGGAL NAMA?

A.

Ide Dasar

Kurang bergairahnya produksi cergam lokal membuat Indonesia dibanjiri oleh

kehadiran buku-buku cergam impor. Dampaknya semakin tersisihnya produk

lokal sehingga secara otomatis selera masyarakat menjadi berubah. Padahal

peluang untuk produk lokal masih sangat terbuka lebar.

Berdasar kondisi tersebut, dibuatlah sebuah buku bergambar dengan format

novel grafis dengan tokoh yang dangkat adalah “Wiji Thukul”. Cerita Wiji Thukul merupakan kisah nyata tentang sebuah perjuangan setelah masa kemerdekaan.

Cerita yang menarik mengenai sejarah tidak harus selalu membahas tentang tokoh

pejuang kemerdekaan RI. Sejarah perjuangan setelah masa kemerdekaan pun akan

menarik pula untuk disuguhkan kepada konsumen.

(62)

commit to user

B.

Sinopsis

Reformasi sebagai bagian sejarah besar bangsa Indonesia, berawal dari

terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat masyarakat resah akan

kinerja pemerintah. Dewan Perwakilan Rakyat yang harusnya mampu menjadi

penyampai aspirasi rakyat justru malah mengkhianati suara rakyat. Semua elemen

masyarakat turun ke jalan menagih janji para wakil rakyat yang sibuk mengurusi

kepentingannya sendiri.

Pemerintahan Soeharto selama 32 tahun merupakan sebuah rekayasa

kedamaian. Pada bulan Mei 1998, demonstrasi besar-besaran terjadi di seluruh

wilayah Indonesia. Banyak mahasiswa dan aktivis dari berbagai daerah di Jawa

berbondong-bondong bergabung dengan para demonstran di Jakarta. Tujuan

mereka adalah reformasi pemerintahan yang sangat otoriter. Dalam kekacauan

Mei ’98, banyak sekali aktivis dan mahasiswa yang melakukan aksi protes diculik oleh agen-agen pemerintah. Wiji Thukul sebagai seorang aktivis yang dianggap

vokal juga termasuk dalam daftar orang yang hilang diculik.. Bermula dari

peristiwa 27 Juli 1996 hingga Mei 1998, sejumlah aktivis banyak yang ditangkap,

diculik dan hilang termasuk Wiji Thukul. Siapa Wiji Thukul sebenarnya?

Cerita ini berawal di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963, dengan

lahirnya Wiji Widodo. Wiji Widodo terlahir dari keluarga yang sederhana, dimana

orang tuannya bekerja sebagai tukang becak. Meskipun lahir dari keluarga yang

kurang mampu, Wiji Widodo adalah anak yang rajin dan memiliki bakat dibidang

Gambar

Tabel 1 : Analisis SWOT  ...............................................................................
Gambar 1 : Cover Novel Grafis “ A Contract With GOD”
Gambar 2 : Cover Novel Bergambar “Mat ROMEO”Sumber : Internet/ Wikipedia/ Sejarah Novel Grafis
gambar yang tersusun
+7

Referensi

Dokumen terkait