i
SAYAP ANJING
KARYA TRIYANTO TRIWIKROMO:
ANALISIS SEMIOTIKA BARTHESIAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan
guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Disusun oleh
Muhammad Wahyudianto C 0202046
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
ii
SAYAP ANJING
KARYA TRIYANTO TRIWIKROMO:
ANALISIS SEMIOTIKA BARTHESIAN
Disusun oleh:
MUHAMMAD WAHYUDIANTO C 0202046
Telah disetujui oleh pembimbing
Pembimbing
Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum. NIP 19640918 198903 1 001
Mengetahui
Ketua Jurusan Sastra Indonesia
iii
SAYAP ANJING
KARYA TRIYANTO TRIWIKROMO:
ANALISIS SEMIOTIKA BARTHESIAN
Disusun oleh:
MUHAMMAD WAHYUDIANTO C 0202046
Telah disetujui oleh Tim Penguji Skripsi
Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Pada Tanggal 22 Pebruari 2010
Jabatan Nama Tanda Tangan
Ketua Dra. Chattri Sigit Widyastuti, M.Hum. ……… NIP 19641231 199403 2 005
Sekretaris Dwi Susanto, S.S., M.Hum. ………
NIP 19810706 200604 1 002
Penguji I Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum. ………. NIP 19640918 198903 1 001
Penguji II Dra. Murtini, M.S. …………....
NIP 19570714 198303 2 001
Dekan
Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret
iv
PERNYATAAN
Nama : Muhammad Wahyudianto NIM : C0202046
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Sayap Anjing Karya Triyanto Triwikromo: Analisis Semiotika Barthesian adalah betul-betul karya sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.
Surakarta, 10 Februari 2010 Yang membuat pernyataan,
v
MOTTO:
Merekalah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah: 5)
vi
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada yang tercinta:
- Bapak dan Ibuku, doa-doamu adalah cambuk semangat yang selalu membekas dalam diriku, semoga kelak aku dapat memberi teladan seperti yang engkau
berdua berikan kepada anak-anakmu.
- Adik-adikku: Doel dan Nur. Maafkan aku atas keterlambatan janjiku serta teladanku yang tidak baik, semoga kalian dapat mengerti.
vii
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan segala puji kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan rahmat serta ridho-Nya kepada penulis hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari semua pihak. Penulis dengan setulus hati mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ini. Dalam kesempatan ini dengan setulus hati menghaturkan terima kasih kepada:
1. Drs. Sudarno, M.A. selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa yang telah memberikan izin untuk kelancaran penelitian ini.
2. Drs. Ahmad Taufiq, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia yang telah memberikan izin untuk mewujudkan penelitian ini menjadi sebuah skripsi. 3. Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum. selaku pembimbing yang senantiasa sabar,
tulus, dan ikhlas memberikan motivasi, bimbingan, dan saran-saran untuk perbaikan skripsi ini hingga selesainya skripsi ini.
4. Drs. Hanifullah Syukri, M.Hum. selaku pembimbing akademik yang memberikan motivasi dan teladan untuk selalu tetap bersemangat.
5. Bapak dan ibu dosen Jurusan Sastra Indonesia khususnya dan Fakultas Sastra dan Seni Rupa pada umumnya yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sehingga bermanfaat dalam menyusun skripsi ini.
viii
7. Adit dan keluarga yang telah berkenan memberikan segala bantuan berupa, perhatian, semangat, kesempatan, juga keleluasaan dalam penggunaan sarana dan prasarana kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Mujiono, Dwi Siti, Agus, Alfan, Anung, Cilik, Eed, Rani, Egda, Reszo, Well, Dimas, Toyib, Kang Bambang, Kang Indra, Kang Taksin, serta saudara-saudara dan teman-teman khususnya di KMF FSSR yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan segala motivasi dan bantuan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terwujud.
9. Keluarga besar Sasindo FSSR UNS, khususnya Sasindo‘02 yang telah berbagi dalam suka dan duka, juga segala kebahagiaan, kegilaan, dan kenangan yang selalu kunantikan, serta tak lupa teman-teman lain di FSSR UNS, terima kasih selama ini atas saling berbagi dalam segalanya dengan kalian.
10.Semua pihak yang tak berkesempatan disebutkan satu per satu oleh penulis, yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga segala dukungan moral dan spiritual, serta amal baik dari semua pihak yang telah diberikan kepada penulis mendapat pahala dari Allah SWT.
Surakarta, 10 Februari 2010
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... . iii
HALAMAN PERNYATAAN……….... iv
HALAMAN MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
ABSTRAK ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan Masalah ... 7
C. Perumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 8
F. Sistematika Penulisan ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 11
A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Pustaka ... 12
x
2. Lima Kode Semiotik Barthes ... 17
C. Kerangka Pikir ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 21
A. Pendekatan ... 21
B. Objek Penelitian ... 22
C. Sumber Data ... 22
D. Teknik Pengumpulan Data ... 23
E. Teknik Analisis Data ... 23
1. Pengumpulan Data ... 23
2. Reduksi Data... 23
3. Penyajian Data ... 24
4. Tahap Penarikan Simpulan ... 24
BAB IV IDENTIFIKASI KODE-KODE DAN PENAFSIRAN MAKNA.... 25
A. Identifikasi Kode-kode pada Leksia-leksia Sayap Anjing... 25
B. Penafsiran Makna Sayap Anjing ... 42
BAB V PENUTUP ... 63
A. Simpulan ... 63
B. Saran... ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
xi
ABSTRAK
Muhammad Wahyudianto. C 0202046. 2010. Sayap Anjing Karya Triyanto Triwikromo: Analisis Semiotika Barthesian. Skripsi Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Permasalahan yang dibahas dalam penulisan ini, adalah (a) bagaimana identifikasi kode-kode pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo berdasarkan lima kode semiotik Barthes? (b) bagaimana pengkajian cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo berdasarkan hasil identifikasi kode-kode semiotik Barthes?
Tujuan penulisan ini adalah (a) menemukan dan mendeskripsikan kode-kode semiotik Barthes yang terdapat pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo. (b) menemukan dan mengkaji makna yang terkandung dalam cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah (a) jenis penelitian menggunakan metode kualitatif. (b) bentuk penelitian cerpen Sayap Anjing terarah pada penelitian kualitatif bersifat deskriptif. (c) sumber data penelitian ini adalah cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2003. Cerpen Sayap Anjing terdiri dari 144 halaman. Data berupa kata, kalimat berbentuk ungkapan, dan dialog antara tokoh yang berkaitan dengan tujuan penelitian. (d) teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka. (e) teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Kesimpulan analisis meliputi: pertama, banyak makna yang dapat dihasilkan dari teks yang tertulis walaupun dalam cerita yang pendek. Adanya kepadatan makna yang mampu tersirat di dalam cerita pendek melalui tokoh cerita maupun latar yang menghiasi jalan ceritanya merupakan tanda dari watak atau keadaan tertentu yang masing-masing sarat akan makna; Ke dua, Sayap Anjing
merupakan karya sastra yang bersifat writerly. Setelah membaca Sayap Anjing, para pembaca dapat menghasilkan makna tersendiri. Tidak tertutup kemungkinan bahwa makna yang dihasilkan antara seorang pembaca dengan pembaca lain akan berbeda, tetapi sifat writerly inilah yang merupakan keutamaan sebuah teks. Teks
Sayap Anjing tidak semata-mata hanya dibaca begitu saja, tetapi dapat dihasilkan makna oleh para pembaca apabila dikaji lebih lanjut. Makna yang didapatkan oleh para pembaca setelah menjalani proses membaca teks inilah yang menjadikan
xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan ekspresi pengarang yang menggunakan media bahasa. Setiap ungkapan bahasa, termasuk sebuah teks, mengacu pada sesuatu seperti setiap sistem tanda, maka bahasa, termasuk sebuah teks pun mempunyai fungsi acuan, dan acuan teks tersebut merupakan bagian gambaran mengenai dunia yang ada dalam angan-angan kita (Luxemburg dkk, 1992:91). Teks atau gambaran mengenai dunia yang ada dalam angan-angan inilah yang terkandung dalam karya sastra. Teks yang merupakan gambaran mengenai dunia yang ada dalam angan-angan kita ini erat kaitannya dengan khayalan atau imajinasi. Teks-teks yang mengandung unsur-unsur khayalan disebut Teks-teks-Teks-teks fiksi (Luxemburg dkk, 1992:19).
xiii
Karya sastra sebagai cerminan kehidupan disajikan dengan memadukan unsur imajinasi, keindahan, dan kepekaan mendeskripsikan keadaan yang terjadi. Pengarang melalui karyanya bercerita tentang interaksi-interaksi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan juga lingkungannya. Tiap-tiap karya sastra memiliki pesan dan amanat masing-masing yang disampaikan pada masyarakat sebagai suatu peringatan, pelajaran atau introspeksi diri.
Peristiwa-peristiwa dalam karya sastra sebagai refleksi kehidupan masyarakat seringkali menjadi sumber yang menginspirasi pengarang. Pengarang merefleksikan ke dalam karyanya dengan gaya dan sesuai keyakinannya sendiri. ―Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, yang telah diyakini ‗keabsahannya‘ sesuai dengan pandangan terhadap
masalah hidup dan kehidupan‖ (Burhan Nurgiyantoro, 2002:5). Karya sastra tak
perlu dicocokkan dan dicari fakta sebagai bukti kebenarannya karena kenyataan dalam karya sastra bersifat fiksi, tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian bersifat imajinatif. Imajinasi dalam karya sastra muncul karena fungsi dari karya sastra itu sendiri. Rene Wellek dan Austin Warren (1993:278) berpendapat bahwa ―Realitas dalam karya fiksi, yakni ilusi kenyataan dan kesan meyakinkan kepada pembaca, tidaklah selalu merupakan kenyataan sehari-hari.‖
Pengarang dengan gaya bahasanya terkadang menyampaikan pesan sosial, terlalu berlebihan, seperti ‗anak kecil yang suka ngarang‘, merekonstruksi
xiv
bersifat asal-asalan saja, simbolisasi dimunculkan pengarang dalam karya sastra. Zainuddin Fananie mengungkapkan bahwa pemakaian tokoh hewan atau pun tumbuhan bertujuan untuk mengiaskan kegiatan manusia. Pemunculan simbolisasi ini selain bertujuan untuk mendapatkan kebebasan menyampaikan pesan pada pembaca melalui interpretasi makna dari simbol-simbol yang ada juga menjadi semacam gaya bahasa dari pengarang. Karya sastra merupakan sistem tanda tingkat ke dua dengan bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertamanya (Budiman, 1999:66). Karena merupakan sistem tanda tingkat ke dua, karya sastra terkadang tidak dapat dipahami maknanya secara langsung, ada makna tersirat dalam suatu karya sastra yang untuk mengetahuinya diperlukan pengkajian lebih dalam.
Bentuk karya sastra yang akan dianalisis dalam skripsi ini adalah cerpen. Hal yang terpenting dalam cerpen adalah ceritanya harus padat, dalam hal ini, diperlukan suatu kepaduan antara tokoh (-tokoh) dan konflik, dalam cerita yang pendek dengan penceritaan yang ringkas dikarenakan atas suatu tuntutan akan kemampuan mengemukakan lebih banyak (secara implisit) dari apa yang sekedar diceritakan. Cerpen mengimplisitkan isi yang lebih luas dari sekedar apa yang diceritakan. Tanda-tanda yang terdapat di dalam cerpen harus diungkap untuk mendapatkan makna yang tersirat di dalamnya. Cerpen dapat memberi kesan lebih karena ―kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan
xv
Semiotik adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem-sistem lambang dan perlambangan. Berkaitan dengan tanda, bahasa juga merupakan sistem tanda (Luxemburg dkk, 1992:45). Bahasa merupakan sistem tanda tingkat pertama atau primer yang digunakan dalam penciptaan karya sastra sehingga karya sastra merupakan sistem tanda tingkat ke dua atau sekunder setelah bahasa (Teeuw, 1984:99).
Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa karya sastra tidak dapat secara langsung dipahami karena bahasa yang digunakan dalam sastra merupakan bahasa sekunder, yaitu bahasa yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang tertulis, tetapi mempunyai makna yang tersirat yang terkandung di balik kata-kata yang tertulis. Hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Dalam penelitian ini akan dianalisis cerpen dengan analisis semiotik. Karya sastra merupakan sistem tanda yang bias dimaknai secara berbeda oleh setiap pembaca. Oleh karena itu analisis semiotik akan dapat digunakan untuk mengungkap makna yang tersirat tersebut.
Penulis menganalisis cerpen Sayap Anjing dari kumpulan cerita pendek
xvi
Triyanto Triwikromo dikenal sebagai seorang sastrawan, ia bekerja sebagai redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ia juga aktif dalam pertemuan teater dan sastra antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung
(2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.
Triyanto adalah seorang penyair yang giat menulis cerpen dan puisi. Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpen-cerpennya dalam beberapa buku antologi bersama, antara lain antologi
Panorama Dunia Keranda (1991), Kasidah Jalan (1994). Kumpulan-kumpulan cerpennya antara lain Rezim Seks (1987), Pintu Tertutup Salju (bersama Herlino Soleman tahun 2000), Ragaula (2002), Anak-anak Mengasah Pisau (2003),
Malam Sepasang Lampion (2004). Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau-Children Sharpening the Knives (kumpulan cerpen dwibahasa Indonesia-Inggris) direspon oleh pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, oleh A.S. Kurnia menjadi karya trimatra, oleh pemusik Seno menjadi lagu, oleh Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan oleh sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri).
xvii
pendekatan semiotik. Ia berpendapat bahwa menulis fiksi pada hakikatnya adalah bernegoisasi yang tak kunjung henti dengan sesuatu yang selalu kita sembunyikan atau bunuh dalam kehidupan. Menurutnya, dalam kehidupan lain (di dunia fiksi), sang maha derita muncul sebagai mumi atau arwah yang minta dibangkitkan secara terus-menerus dan bentuk negoisasi ini mengandung pengertian bahwa sebagai pengarang, ia tidak mau hanya menjadi kendaraan mumi-mumi yang mengerikan itu. Dengan begitu, di tengah pertempuran antar kepentingan itu ia masih bisa menarikan bahasa, memainkan point of view-nya. Bagi Triyanto, peristiwa dan cerita tidak boleh ditenggelamkan oleh berita karena jika yang demikian itu terjadi maka hanya akan menjadi ―cerpen topikal‖ saja yang tidak
akan pernah mengalami peristiwa literer (Triyanto, 2003:viii-xii).
xviii
Cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo yang dijadikan kajian dalam analisis ini adalah cerpen yang diambil dari kumpulan cerpen dengan judul yang sama yaitu, Sayap Anjing. Pemilihan judul cerpen yang dilakukan penulis didasarkan pada anggapan-anggapan dalam kumpulan cerpen ini mengenai modus seperti modus realitas (Sayap Anjing; Mata Sunyi Perempuan Takroni; Cermin Pasir; Monumen; Cinta Tak Mati-mati), modus fantasi (Ninabobo Televisi; Litani Kebinasaan; Sepanjang Waktu dalam Penyaliban-Mu; Masuklah ke Telingaku, Ayah; dan Cinta Sepasang Kupu-kupu), atau pun paduan dari keduanya (Sayap Anjing dan Cermin Pasir). Dari berbagai modus tersebut, penulis memilih modus paduan antara realitas dan fantasi dalam cerpen Sayap Anjing untuk diteliti. Tanda-tanda yang digunakan Triyanto dalam menulis cerpen Sayap Anjing atas inspirasinya dari buku karangan Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi bertajuk
Syarhu Kaasyifatus Sajaa „alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulid Diini Wal Fiqhi
(kemudian teks itu diindonesiakan menjadi 10 Sifat Keteladanan Anjing oleh Drs Nipan Abdul Hakim), dan dalam mengkaji segala hal yang berkaitan dengan anjing yang langsung dimetaforakan pada perilaku manusia, sangat menarik bagi penulis untuk mengkaji lebih dalam di antara ketiga belas cerpen-cerpen Triyanto lainnya yang ada dalam kumpulan cerpen ini.
B. Pembatasan Masalah
xix
dilakukan pengkajian terhadap makna kode-kode pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing berdasarkan hasil identifikasi kode-kode semiotik Barthes tersebut untuk menemukan makna yang dikandungnya.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan judul yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana identifikasi kode-kode pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing
karya Triyanto Triwikromo berdasarkan lima kode semiotik Barthes?
2. Bagaimana pengkajian terhadap makna kode-kode pada leksia-leksia cerpen
Sayap Anjing berdasarkan hasil identifikasi kode-kode semiotik Barthes untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya?
D. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah yang ada, tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi kode-kode pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo.
2. Mengkaji makna kode-kode pada leksia-leksia cerpen Sayap Anjing
xx
E. Manfaat Penelitian
Penelitian pada hakikatnya diharapkan memiliki manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis.
Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Penelitian ini diharapkan mampu memperluas wawasan pembaca,
khususnya di bidang sastra dalam menemukan makna yang disiratkan oleh pengarang dalam setiap karya yang dibuatnya.
2. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang sastra Indonesia pada umumnya dan pengkajian semiotik dengan teori semiotik Roland Barthes pada khususnya.
Manfaat Praktis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang kajian ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan berkembangnya pola hidup masyarakat tentang pentingnya mengolah segi lahir dan batin manusia dalam kehidupan, bagaimana harus bersikap, bagaimana harus berhubungan dengan makhluk ciptaan lain, bagaimana manusia bertindak sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, baik pengembangan dan penyimpangannya yang terjadi dari zaman ke zaman.
xxi
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penelitian mempermudah dan mengarahkan hasil penelitian agar tidak menyimpang dari pembahasan yang akan diteliti. Penelitian yang sistematis akan membantu penelitian dan pembacaaan serta pemahaman terhadap hasil penelitian. Sistematika penelitian pada penelitian ini disusun sebagai berikut.
Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi (a) latar belakang masalah, (b) pembatasan masalah, (c) perumusan masalah, (d) tujuan penelitian, (e) manfaat penelitian, dan (f) sistematika penulisan.
Bab kedua berisi kajian pustaka dan kerangka pikir, yang memuat penelitian-penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini, serta kajian teori semiotik Roland Barthes yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas penelitian ini.
Bab ketiga adalah metode penelitian yang memberikan penjelasan mengenai jenis penelitian, bentuk penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penyajian analisis data, dan penarikan kesimpulan.
Bab keempat berisi hasil analisis, yang memuat tentang analisis cerpen
xxii
xxiii
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Aryanto (2007) berjudul Aspek Moral Dalam Kumpulan Cerpen Sayap Anjing Karya Triyanto Triwikromo: Tinjauan
xxiv
B. Kajian Pustaka
Roland Barthes adalah seorang ahli teori semiotik dari Perancis yang mendefinisikan kesusastraan (dalam sebuah esai awalnya) sebagai ―sebuah pesan
pemaknaan hal-hal dan bukan maknanya. Ia menggemakan definisi Roman Jacobson tentang ―yang poetic‖ sebagai ―perangkat dari pesan‖, akan tetapi
Barthes lebih menekankan pada prosa pemaknaan. Peneliti semiotik memandang bahasanya sendiri sebagai wacana ―tatanan ke dua‖ yang beroperasi terhadap bahasa-objek yang merupakan ―tatanan pertama‖. Bahasa tatanan ke dua juga disebut metabahasa. Barthes melepaskan pengarang dari semua status metafisik dan pengarang itu direduksi menjadi tempat (persimpangan jalan) bahasa, yang merupakan gudang kutipan, ulangan gema, dan rujukan yang tak terbatas, saling bersimpangan. Oleh karena itu, pembaca bebas memasuki teks dari arah manapun dan tidak ada rute yang benar (Selden, 1991:71).
xxv
yaitu teks itu sendiri. Pertama-tama teks tersebut akan dipenggal-penggal terlebih dahulu menjadi beberapa leksia/satuan bacaan tertentu. Leksia ini berupa satu kata, beberapa kata, satu kalimat, beberapa kalimat, sebuah paragraf, atau beberapa paragraf. Dengan memenggal-menggal teks itu maka pengarang tak lagi menjadi perhatian, dan teks itu bukan lagi menjadi milik pengarang, tetapi sudah menjadi milik pembaca. Dengan begitu tidak perlu lagi bersibuk diri mencari makna-makna yang (mungkin) disembunyikan pengarang. Bagaimana pembaca memproduksi makna itu yang nantinya akan menghasilkan kejamakan sehingga semiotiklah yang akan menunjukkan sebanyak mungkin makna yang dihasilkan, Barthes menyebut proses ini sebagai semiolog yang memasuki ―dapur makna‖ (Kurniawan, 2001:94).
xxvi
Tanda berhubungan dengan sistem bahasa tingkat ke dua yang berupa konotasi (Barthes, 1981:42). Di samping sistem signifikasi tingkat ke dua yang disebut konpotasi, ada sistem signifikasi tingkat pertama yang merupakan dasar dari sistem ke dua yang disebut denotasi (Barthes, 1981:89). Denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah, makna yang ―sesungguhnya‖, bahkan kadang
kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut juga sebagai denotasi ini biasanya mengacu pada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, di dalam semiotik Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan sistem signifikasi tingkat ke dua (Budiman, 1999:22). Konotasi menurut Barthes biasanya mengacu pada makna yang menempel pada suatu kata karena sejarah pemakaiannya. Akan tetapi, di dalam semiotiknya, konotasi dikembalikan lagi secara retoris karena menurutnya terdapat dua sistem signifikasi. Sistem pertama berada dalam lapis denotasi, sedangkan sistem ke dua berada dalam lapis konotasi. Sebuah sistem konotasi adalah sistem yang lapis ekspresinya sendiri sudah berupa sistem penandaan, pada umumnya kasus-kasus konotasi terdiri dari sistem-sistem kompleks yang di dalamnya bahasa menjadi sistem pertama, misalnya seperti yang terlihat dalam sastra. Konotasi sebagai sistem tersendiri, tersusun oleh penanda-penanda, petanda-petanda, serta proses yang memadukan keduanya yaitu peoses signifikasi (Budiman, 1999:65-66).
xxvii
inilah yang akan dibongkar melalui semiotik Barthes untuk menemukan makna sebanyak-banyaknya, dan untuk dapat melakukannya diperlukan adanya suatu sistem pikiran atau suatu kode yang memungkinkan (Budiman, 1999:62).
Dalam semiotik Barthes terdapat kode-kode yang digunakan untuk memahami teks. Barthes menilai teks dengan dua cara yaitu secara writerly dan
readerly. Writerly maksudnya adalah setelah membaca suatu teks, pembaca dapat ―menulis‖ dalam hal ini menghasilkan makna yang tidak berhubungan dengan pengarang.
Di lain pihak, readrely adalah apa yang dapat terbaca, tetapi tidak dapat ditulis (pembaca sebagai konsumen). Menurutnya writerly lebih bernilai karena tujuan dari karya sastra adalah untuk membuat pembaca tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen teks, dalam hal ini sebagai produsen makna (Barthes, 1990:4).
Langkah-langkah yang dilakukan Barthes dalam menghasilkan makna teks adalah dengan membagi teks itu menjadi leksia-leksia. Setelah dibagi menjadi leksia-leksia selanjutnya hasil pembagian tersebut diidentifikasi ke dalam lima kode yaitu kode hermeneutik (HER), kode semantik (SEM), kode simbolik (SIM), kode proaretik atau kode aksi/action (AKS), dan kode kultural atau referensial (REF). Secara rinci pembahasan subbab ini adalah sebagai berikut.
1. Pembagian Leksia
xxviii
teks, yang apabila diisolasikan dapat berdampak atau memiliki fungsi yang khas dibandingkan dengan potongan-potongan teks lain di sekitarnya (Budiman, 1999:69). Barthes menyatakan bahwa potongan ini bersifat arbitrer dan tidak ada tanggung jawab secara metodologis di dalamnya, asalkan di dalamnya terkandung hubungan antara penanda dan petanda. Leksia ini bisa terdiri dari beberapa kata atau beberapa kalimat terbaik yang cukup digunakan untuk penggalian makna, dimensinya, batasan empirisnya, dan penilaiannya yang akan tergantung pada kepadatan konotasinya. Barthes tidak memberikan aturan yang pasti dalam pemenggalan teks menjadi leksia-leksia, karenanya diperlukan kriteria yang lain sebagai arahan dalam pemenggalan teks sebagai berikut.
1. Kriteria Pemusatan
Suatu penggalan teks dapat dikatakan leksia bila penggalan itu terpusat pada satu titik perhatian, yaitu peristiwa yang sama, satu tokoh yang sama, dan satu masalah yang sama.
2. Kriteria Koherensi
Suatu leksia yang baik merupakan pemenggalan teks yang mampu mengurung suatu kurun waktu dan ruang yang koheren, yaitu dapat berupa suatu hal, keadaan, peristiwa, dalam ruang waktu yang sama.
3. Kriteria Batasan Formal
xxix
yang menandai pergantian paragraf, dan tanda-tanda formal yang lain yang menandai pergantian suatu masalah.
4. Kriteria Signifikasi
Leksia sebaiknya merupakan penggalan yang benar-benar signifikasi bagi narasi sehingga satu leksia dapat menandai satu narasi.
2. Lima Kode Semiotik Barthes
Setelah membagi cerpen SayapAnjing menjadi leksia-leksia, leksia-leksia yang telah didapatkan kemudian diidentifikasi dengan lima kode semiotik Barthes untuk dapat dikaji dan ditemukan maknanya. Kode semiotik Barthes ada lima, kode-kode tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kode Hermeneutik (HER)
xxx
menunda munculnya jawaban; (6) jawaban sebagian, istilah untuk kode yang secara tidak utuh memberikan jawaban; (7) jawaban, istilah untuk kode yang memberikan jawaban sepenuhnya. Perlu dicatat bahwa tidak semua kode hermeneutik tersusun secara urut dan lengkap seperti itu (Rahmad Widada, 1999:28).
2. Kode Semantik (SEM)
Kode ini mengindikasikan karakter tempat atau objek (Barthes, 1990:19). Kode ini merupakan penanda yang mengacu pada gambaran-gambaran mengenai kondisi psikologis tokoh, suasana atmosferik, suatu tempat atau objek tertentu. Kode semantik merupakan penanda bagi dunia konotasi yang di dalamnya mengalir kesan atau nilai rasa tertentu. Contohnya adalah sebuah potret tokoh yang mengesankan bahwa ia dalah seorang pemarah tanpa terucap kata pemarah itu sendiri (Rahmad Widada, 1999:28-29).
3. Kode Simbolik (SIM)
Kode ini merupakan wilayah yang banyak makna dan pemaknaan itu dapat dibolak-balik. Melalui kode ini pembaca dapat memasuki banyak pemaknaan untuk mengerti kandungan isi dan problematika secara mendalam (Barthes, 1990:13).
4. Kode Proaretik atau Kode Aksi/Action (AKS)
xxxi
judul aksinya (misalnya perjalan, pembunuhan, pertemuan). Judul aksi ini ada karena adanya pemberian nama, penamaan ini lebih didasari oleh pengalaman empiris dibanding pengalaman rasio (Barthes, 1990:19).
5. Kode Kultural atau Kode Referensial (REF)
Dengan kode ini kita akan dapat melakukan pemaknaan menggunakan referensi atau pengetahuan. Dalam menggambarkan perhatian pada kode ini, kita hanya mengindikasikan tipe dari pengetahuan (misalnya secara fisika, fisologi, kedokteran, sastra, sejarah, dan sebagainya) yang dipilih tanpa merekonstruksi lebih lanjut budaya yang diekspresikan (Barthes, 1990:20).
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini akan menganalisis cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Ttriwikromo dengan pendekatan semiotik Barthes. Pendekatan semiotik ditempuh dengan cara menganalisis tanda-tanda yang dihadirkan pengarang yang terdapat dalam karyanya. Setelah serangkaian analisis tersebut dilaksanakan, maka akan didapat suatu pemahaman tentang tanda-tanda tersebut untuk mengetahui isi atau kandungan di dalamnya. Langkah kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Membagi cerpen Sayap Anjing ke dalam leksia-leksia agar mempermudah analisis tanda-tanda yang diberikan pengarang.
xxxii
3. Selanjutnya mengambil penafsiran akan makna yang terkandung dalam cerpen Sayap Anjing berdasarkan identifikasi-identifikasi kode pada leksia-leksianya.
Setelah diselesaikan langkah-langkah tersebut, akan diperoleh suatu kesimpulan yang sekaligus merupakan hasil dari penelitian ini. Bagan kerangka pikir adalah sebagai berikut.
Cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo
Leksia
Simpulan Penemuan Makna
Leksia Leksia
Identifikasi kode
xxxiii
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan bentuk penelitian yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif merupakan jenis penelitian yang data-datanya berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka (Lexy J. Moleong, 2001:6). Metode kualitatif dapat digolongkan ke dalam metode deskriptif yang penerapannya bersifat menuturkan, memaparkan, memberikan analisis, dan menafsirkan (Soediro Satoto, 1995:15). Penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak mengutamakan angka-angka, akan tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antarkonsep yang sedang dikaji secara empiris. Penelitian kualitatif dilakukan secara deskriptif, artinya terurai dalam bentuk kata-kata, bukan berbentuk angka (Suwardi Endraswara, 2004:5).
xxxiv
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan semiotik Barthes. Alasan penulis menggunakan pendekatan ini karena pendekatan semiotik Barthes sesuai dengan permasalahan yang dianalisis oleh penulis. Dengan pendekatan Semiotik Barthes permasalahan pengungkapan makna dalam cerpen
Sayap Anjing dapat dilakukan dengan maksimal. Hal tersebut dikarenakan pendekatan semiotik Barthes menggunakan tahapan-tahapan analisis, yaitu (1) membagi teks dalam leksia-leksia dengan kriteria-kriteria sebagai arahan pemenggalan teks (kriteria pemusatan, kriteria koherensi, kriteria batasan formal, dan kriteria signifikasi), (2) identifikasi kode-kode dari leksia-leksia yang telah didapatkan (kode hermeneutik (HER), kode semantik (SEM), kode simbolik (SIM), kode proaretik atau kode aksi/action (AKS), dan kode kultural atau referensial (REF)).
C. Objek Penelitian
Objek material dalam penelitian ini adalah cerpen Sayap Anjing karya Truyanto Triwikromo yang berada dalam kumpulan cerpen berjudul Sayap Anjing, pada halaman 32-43, diterbitkan pada tahun 2003 oleh Penerbit Buku Kompas. Objek formal penelitiaan ini adalah leksia-leksia cerpen Sayap Anjing.
D. Sumber Data
xxxv
Anjing yang diterbitkan pada tahun 2003 oleh Penerbit Buku Kompas. Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku, artikel-artikel, kitab tafsir yang berhubungan topik penulisan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka. Teknik pustaka merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data yang berkaitan dengan cerpen Sayap Anjing dan teori semiotik Roland Barthes. Pengumpulan data melalui teknik kajian pustaka ini dilakukan dengan mencari, mengumpulkan, mempelajari/membaca, dan mencatat informasi dari buku-buku dan artikel-arikel yang berkaitan dengan penelitian ini.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode yang dikemukakan oleh Miles & Hubberman yaitu dengan analisis interaktif yang meliputi pengumpulan dan klasifikasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi sebagai berikut (Miles & Hubberman:16)
1. Pengumpulan Data
xxxvi
pada cerpen Sayap Anjing, yakni dilakukan dengan mencatat, baik dari buku-buku bacaan maupun artikel.
2. Reduksi data
Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara tertentu sehingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi.
3. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan dan pengambilan tindakan.
4. Tahap Penarikan Simpulan
xxxvii
BAB IV
IDENTIFIKASI KODE-KODE DAN PENAFSIRAN MAKNA
A. Identifikasi Kode-kode pada Leksia-leksia Sayap Anjing
Setelah cerpen dibagi ke dalam leksia-leksia, langkah selanjutnya dilakukan pengidentifikasian kode yang ada dalam leksia-leksia tersebut. Dalam identifikasi ini akan dilihat kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik, kode proaretik atau kode aksi, dan kode kultural atau kode referensial yang ada dalam leksia-leksia tersebut. Identifikasi leksia-leksia yang ada dalam cerpen
Sayap Anjing adalah sebagai berikut. (1) Sayap Anjing. (hlm. 32)
Leksia ini merupakan judul dari cerpen. Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik. Kode hermeneutik yang terkandung dalam leksia ini adalah teka-teki pentemaan. Bila membaca judul tersebut, dalam diri pembaca akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang dimaksud sayap anjing itu? Nama atau julukan seseorangkah? Mengapa atau bagaimana sehingga dinamai sayap anjing?
(2) Bersama ribuan orang yang berbaring atau tiduran seperti mayat-mayat harum, saya menelantang mirip Isa yang tersalib, ketika anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi indah itu terbang mengepak-ngepakkan sayap hijau di atas masjid Haram. (hlm. 32)
xxxviii
Dalam hukum Islam, anjing, celeng, dan babi termasuk binatang haram dan diperintahkan untuk dibunuh, sedangkan monyet binatang pengganggu yang harus dijauhi atau dibunuh jika diperlukan, akan tetapi di sini anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi mempunyai sayap-sayap dan bebas berterbangan di atas masjid Haram. Maka terlihat adanya oposisi antara suci dengan haram; yang seharusnya dibunuh atau dijauhi dengan bebas berterbangan; dan yang seharusnya tidak dapat terbang dengan yang dapat terbang.
(3) ―Lihat, Ustad, mereka menyisir langit menembus kelam.‖
Ustad Muharor kaget. Jari-jarinya masih meniti tasbih. Bibirnya melantunkan zikir. Karena terus-menerus dilabrak pemandangan tak terduga, dia segera duduk dan secepat mungkin mendongakkan kepala. ―Masya Allah, pejamkan mata sampeyan. Kita sedang berhadapan dengan iblis!‖ (hlm. 32)
Kode yang ada dalam leksia ini adalah kode hermeneutik. Dalam leksia ini terdapat pernyataan yang kurang sesuai atau yang disebut penundaan jawaban dari Ustad Muharor atas pertanyaan si tokoh saya. Kalimat “Masya Allah, pejamkan
mata sampeyan. Kita sedang berhadapan dengan iblis!” yang diucapkan Ustad Muharor merupakan sebuah pengacauan pikiran si tokoh saya yang sedang takjub melihat kejadian aneh akan tetapi dianggap oleh Ustad Muharor hal itu sebagai godaan iblis, sedangkan penundaan jawaban ada pada penjelasan Ustad Muharor yang meminta sekali lagi pada si tokoh saya untuk memejamkan mata dan menjelaskan sauatu kisah zaman Nabi terdahulu dengan singkat dan tidak terperinci mengenai hubungannya dengan kejadian yang baru terjadi sehingga membuat si tokoh saya kebingungan.
xxxix
―Ya, iblis! Sangat mungkin para iblis menggoda sampeyan,‖ mata
Ustad Muharor mengatup.
―Bagaimana mungkin di Makah ada iblis?‖
―Justru di tempat paling suci iblis dibiarkan berkeliaran.‖
Dan anjing-anjing, babi, celeng, dan monyet-monyet itu? Anjing-anjing cantik itu, wahai, lihatlah ustad, moncongnya begitu lembut, tak berlendir, kaki-kakinya bersinar. Mereka tak menggonggong. Mereka malah seperti sedang melantunkan nafiri purba. (hlm. 32-33)
Kode yang ada dalam leksia ini adalah kode semantik dimana terdapat suasana percakapan antara tokoh saya dengan Ustad Muharor yang bertentangan. Hal ini ditunjukkan pada kalimat “Bagaimana mungkin di Makah ada iblis?” dan
“Justru di tempat paling suci iblis dibiarkan berkeliaran.” Tokoh saya melihat kejadian itu dengan takjub sementara si Ustad hanya berzikir dan kemudian menyuruh si tokoh saya yang sedang takjub melihat kejadian aneh tersebut untuk memejamkan kedua matanya.
(5) Ustad Muharor tak merespons igauan saya. Matanya masih mengatup. Bibirnya bergetar dahsyat.
―Sungguh, sekali lagi pejamkan mata sampeyan. Di sini Nabi pun digoda iblis. Mereka meminta Nabi membelah bulan. Andai tak mau, andai Nabi tak membelah dan menancapkan bulan-bulan indah itu di atas awan Jabal Abiqubais dan Jabal Hindi, kita tak mungkin tidur-tiduran di lantai atas Masjidil Haram yang sejuk dan teduh ini.‖
(hlm. 33)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik berupa penundaan jawaban dari Ustad Muharor untuk menunda jawaban atas igauan si tokoh saya. Hal ini ditunjukkan pada kalimat “Sungguh, sekali lagi pejamkan
mata sampeyan. Di sini Nabi pun digoda iblis. Mereka meminta Nabi membelah
xl
indah itu di atas awan Jabal Abiqubais dan Jabal Hindi, kita tak mungkin
tidur-tiduran di lantai atas Masjidil Haram yang sejuk dan teduh ini.”
(6) Saya abaikan ucapan Ustad Muharor. Saya lebih tertarik melacak dari mana anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi bersayap itu terbang. Dan, masya Allah, ternyata mereka berasal dari beberapa kepala orang-orang yang sedang melakukan tawaf sehabis isya. Mula-mula dari kepala orang-orang yang mengelilingi Kakbah itu timbul asap. Asap itu kemudian membentuk moncong, kepala, tubuh, ekor, kaki, dan sayap-sayap hijau berkilauan. ―Lihat, Ustad! Lihat! Sayap-sayap itu diselimuti spektrum warna-warni. Kenapa
sampeyantak mau melihat?‖
Tak tahan mendengar igauan saya, Ustad Muharor bergegas menghalang-halangi mata saya dengan Alquran. Saya menyerah. Membiarkan kegelapan melabrak. Membiarkan pemandangan menakjubkan itu menghilang.
―Sudahlah, sampeyanmungkin kurang tidur!‘
Lagi-lagi saya abaikan nasihat ustad muda yang pernah kuliah di Ummul Qura University itu. Dan karena tahu gelagat saya, ketika bergegas ke Hotel Elaf Kindah—tempat istirah sejuk di Makah yang panas itu—dia mencerocos tak keruan. ―Abu Jahal pun dilahirkan dan memerangi Nabi di sini. Jadi, sekali lagi, percayalah, setiap saat iblis bisa menemani sampeyan.‖ (hlm. 33-34)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik. Di tempat suci yang seharusnya digunakan orang-orang untuk beribadah justru yang ada di dalamnya bukan manusia, melainkan anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi yang seharusnya tidak diperbolehkan masuk karena akan mengotori dan membuat tempat ibadah menjadi tidak berfungsi dengan semestinya. Hal ini ditunjukkan pada kalimat Saya abaikan ucapan Ustad Muharor. Saya lebih tertarik melacak dari mana anjing-anjing, monyet-monyet,
celeng-celeng, dan babi-babi bersayap itu terbang. Dan, masya Allah, ternyata
mereka berasal dari beberapa kepala orang-orang yang sedang melakukan tawaf
xli
timbul asap. Asap itu kemudian membentuk moncong, kepala, tubuh, ekor, kaki,
dan sayap-sayap hijau berkilauan. Dalam hal ini terdapat oposisi antara yang seharusnya ada/menggunakan tempat ibadah (manusia) sebagaimana mestinya dengan yang seharusnya tidak ada/tidak memakai tempat ibadah (selain manusia: anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi) seperti yang dinyatakan dalam leksia ini.
(7) Akhirnya agak bergidik juga saya mendengarkan segala ucapan Ustad Muharor. Karena itu, begitu menyusuri jalanan padat yang menghubungkan Masjidil Haram dan hotel, saya memilih membisu dan memejamkan mata. Saya takut jangan-jangan telah menjadi anjing, babi, atau celeng. Saya takut sayap-sayap hijau berkilauan telah tumbuh di kedua bahu saya. (hlm. 34)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode semantik. Dalam leksia ini terdapat suatu nilai rasa tertentu mengenai keadaan psikis si tokoh saya yang terlalu kalut dan tidak menggunakan pikiran yang panjang sehingga ia sangat merasa tidak ingin berubah menjadi anjing, babi, atau celeng. Ia mulai takut jika ia berubah menjadi anjing, babi, atau celeng., atau jika di kedua bahunya tumbuh sayap-sayap hijau.
(8) Subuh tanpa anjing, babi, dan celeng bersayap baru saja saya lalui. Tanpa Ustad Muharor, saya melenggang menyusuri jalanan Makah yang telah dipenuhi para pedagang Takroni2 yang menjajakan
sajadah, abaya3, kopiah, dan suvenir-suvenir khas Arab. Karena ingin
merasakan kegagapan manusia asing di wilayah yang serba asing, saya menyisir Pasar Seng. Siapa tahu di keriuhan orang-orang yang bertransaksi, saya menemukan jawaban atas misteri anjing, monyet, babi, atau celeng bersayap itu.
Karena tak mendapat kejutan, saya bergegas ke hotel. Saya berharap bertemu Gus Mus5 agar segera bisa mempertanyakan perihal
xlii
Kode aksi berperan dalam leksia ini, yaitu aksi si tokoh saya menyisir Pasar Seng berharap untuk menemukan jawaban serta bergegas menuju lobi hotel untuk menemui Gus Mus guna bertanya dan menemukan jawaban perihal anjing-anjing, celeng-celeng, babi-babi, dan kera-kera bersayap hijau. Hal ini ditunjukkan pada kalimat Karena ingin merasakan kegagapan manusia asing di wilayah yang serba asing, saya menyisir Pasar Seng. Siapa tahu di keriuhan
orang-orang yang bertransaksi, saya menemukan jawaban atas misteri anjing,
monyet, babi, atau celeng bersayap itu.
(9) Sayang, dua jam menunggu di lobi, Gus Mus tak juga muncul. Meski demikian, saya melihat Akbar Tanjung bercakap-cakap dengan Jusuf Kalla dan beberapa menteri. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan. Yang jelas jari-jari Akbar terus-menerus meniti tasbih seakan-akan tak punya waktu lagi untuk berzikir atau menyebut asma Allah berulang-ulang.
Mendadak Gus Mus bersama istri dan kedua putrinya nongol dari pintu lift. Tentu saja saya ingin segera mengisahkan anjing-anjing bersayap hijau itu sambil menikmati kopi atau sekadar bercakap tentang masa lalu lintas Makah yang semrawut. Tetapi Gus Mus tampak terburu-buru meninggalkan Makah. Karena itu, saya pun teronggok dan membisu batu hingga salat Zuhur tiba. (hlm. 35)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik. Terdapat pengacauan dan penundaan jawaban teka-teki seperti pada leksia ini. Pengacauan ini ditunjukkan dengan kalimat Meski demikian, saya melihat Akbar Tanjung bercakap-cakap dengan Jusuf Kalla dan beberapa menteri. Tak jelas apa yang
mereka perbincangkan. Penundaan jawaban ditunjukkan dengan kegagalan si tokoh saya menemui Gus Mus.
orang-xliii
orang Arab yang berkerumun di kawasan itu menengadahkan wajah ke langit, melakukan sujud syukur,dan berkali-kali menyebut asma Allah sambil berlari-lari dan mengepak-ngepakkan tangan. (hlm. 35-36)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik, kode ini ditunjukkan dengan kalimat orang-orang Arab bekerumun di kawasan Pantai Laut Merah menengadahkan wajah mereka ke langit, melakukan sujud syukur,
dan berkali-kali menyebut nama Allah sambil berlari-lari dan
mengepak-ngepakkan tangan.
(11) Tak seperti mereka yang berjumpalitan bagai anak kecil, saya hanya tafakur memandang kegelapan laut. Tetapi mendadak Ustad Muharor menjerit, ―Anjing! Awas ada anjing!‖ seraya mengacungkan telunjuknya ke arah saya.
Tak ada makhluk lain menyembul dari kegelapan. Tak ada kucing atau ikan-ikan aneh meloncat ke daratan. Apakah saya telah menjadi anjing? (hlm. 36)
Kode yang ada pada leksia ini adalah kode simbolik. Kode ini ditunjukkan oleh pernyataan Ustad Muharor yang menjerit “Anjing! Awas ada Anjing!” seraya mengacungkan jari telunjuk ke arah si tokoh saya. Hal ini jelas merupakan tanda dengan ditambahnya pernyataan si tokoh saya tentang tidak adanya makhluk lain yang timbul dari kegelapan atau pun kucing atau ikan-ikan aneh yang melompat ke daratan.
(12) Saya tak peduli apakah saya memang sekadar celeng atau anjing. Jika ternyata saya cuma anjing, saya akan bangga menerima takdir itu. (hlm. 36)
xliv
pernyataan perolehan jawaban sementara dan bertambah rumitnya gambaran psikologis si tokoh saya.
(13) Anjing pun memiliki sifat indah yang justru jarang dimiliki oleh manusia-manusia beradab. Anjing itu gemar mengosongkan perut, sedikit tidur pada saat malam mendera, tak pernah hengkang dari pintu sang pemilik, zuhud, dan bersyukur sekalipun hidup di tempat paling hina.
Anjing pun tahan lapar, tak pernah mendendam kepada sang pemilik, rela menyingkir ke tempat lain jika medan kehidupannya direbut makhluk lain, menyenangkan orang yang memberi makan, dan ke mana pun pergi pantang membawa bekal. Ia benar-benar memasrahkan kehidupannya kepada Allah6. (hlm. 36)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik. Terdapat oposisi antara sifat anjing dengan sifat manusia. Dalam leksia ini ditunjukkan sifat-sifat mulia anjing yang seharusnya dimiliki oleh manusia, yang telah diperintahkan dalam ajaran agama, dan yang selama ini tertutupi oleh konvensi persepsi negatif kita terhadap anjing.
(14) ―Tetapi kamu hanya anjing kurap!‖ selengking suara menyelusup ke gendang telinga.
Anjing kurap? Ah, mungkin saya memang anjing kurap. Kalau bukan anjing, tak mungkin mata saya ditampar oleh seonggok tahi ketika hendak beol di toilet Bandara King Abdul Aziz.
Kalau saya menusia terpuji, tak mungkin selangkangan saya sobek saat melakukan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.
―Itu karena kau sedang memetik dosa zakar,‖ suara itu melengking lagi.
Dosa zakar? Ya, barangkali saya memang harus mendapatkan azab semacam itu. Dalam bercumbu saya memang seperti anjing. Rakus dan berangasan. Tetapi tidak bolehkah saya bertobat?
―Bertobat? Bagaimana mungkin seekor anjing bisa bertobat? (hlm. 37)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik. Dalam leksia ini ditunjukkan dengan kalimat “Bertobat? Bagaimana mungkin seekor anjing
xlv
anjing dengan membawa persepsi negatif kita sebagai orang-orang yang tidak menyukai pola hidup anjing yang sering membuang kotoran dan melakukan kegiatan kawin di sembarang tempat, anjing sering dilempari sesuatu agar menjauh dari kita.
(15) Tak saya jawab ledekan itu. Saya melenggang menyusuri pantai dan berharap hujan segera menghapus kegersangan jiwa saya yang kian rawan. Dan karena tak seorang pun mengikuti, saya langsung berlari ke Masjid Rahma. Saya ingin bangunan indah terapung di pinggir pantai itu segera memeluk anjing rabun yang tak berdaya menyongsong malam beku. (hlm. 37)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode semantik. Gambaran keadaan psikologis si tokoh saya yang semakin tidak keruan berkenaan dengan pencarian jawaban perihal anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi bersayap karena semakin ia memperoleh suatu pengetahuan atau dapat disebut juga kesadaran akan dirinya, maka semakin bertambah bingung pula dan pasrah dalam membuat suatu kesimpulan tentang apa yang selama ini dicarinya dan atas segala hal yang tidak baik yang telah dilakukannya. Kode ini ditunjukkan dengan kalimat saya langsung berlari ke Masjid Rahma. Saya ingin bangunan indah terapung di pinggir pantai itu segera memeluk anjing rabun yang tak
berdaya menyongsong malam beku.
(16) Menjelang pulang ke Tanah Air, saya mampir ke Pasar Balad. Di
xlvi
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik. Kode ini menunjukkan adanya opsisi dengan adanya suasana si tokoh saya yang menjelang pulang ke tanah air, ia mampir ke Pasar Balad dan melihat orang-orang tidak lagi berzikir pada Allah lagi. Keadaan ini merupakan suatu ironi mengingat Pasar Balad masih berada di sekitaran Makah, tempat paling dimuliakan Allah, dan dalam suasana bulan haji di mana hanya ada satu tempat untuk menunaikannya. Kode ini ditunjukkan dengan kalimat Di supermarket modern di kawasan kota internasional Jeddah itu berseliweran orang-orang dari berbagai penjuru dunia.
Wajah-wajah mereka tak lagi bercahaya. Bibir-bibir mereka tak lagi
mengumandangkan zikir atau nada-nada indah yang mengingatkan kita kepada
Allah semata.
(17) ―Jangan-jangan celeng pun bisa berkeliaran di sini,‖ saya menerocos. ―Sssst. Kita memang sudah dikembalikan Allah ke dunia semula. Mau jadi anjing atau babi, jadi monyet atau sufi terserah sampeyan,‖ Ustad Muharor
meneror saya lagi.
―Wah, kalau begitu, saya akan menjadi anjing saja. Silakan Ustad jadi sufinya,‖ teriak saya sambil meninggalkan pria lembut yang masih terbengong-bengong itu. (hlm. 38)
Kode pada leksia ini adalah kode hermeneutik. Kalimat “Sssst. Kita
memang sudah dikembalikan Allah ke dunia semula. Mau jadi anjing atau babi,
xlvii
(18) Begitulah, akhirnya saya pun berkeliaran ke berbagai lorong menatap segala manusia yang berseliweran dengan mata nanar. Karena tak ingin diteror oleh anjing-anjing bersayap, saya justru berkali-kali membanyol di hadapan pedagang Arab.
―Ada pakaian untuk anjing?‖ saya bertanya ―Untuk anjing?‖
―Ya, anjing seukuran saya!‖
―Ah, Tuan bergurau. Silakan beli di toko lain saja‖
Tak terlalu sering banyolan itu saya lontarkan. Saya memang tak ingin menyakiti hati orang lain dan lebih suka berjalan bergegas ke berbagai lorong dan koridor yang dijubeli oleh dengus manusia-manusia aneh dari berbagai penjuru dunia itu. (hlm. 38)
Pernyataaan si tokoh saya “Ada pakaian untuk anjing?” dan “Ya, anjing
seukuran saya!” yang ditunjukkan dengan perasaan dan tingkah lakunya dalam menghadapi dilema yang ia hadapi merupakan gambaran suasana atmosferik pada jiwa si tokoh saya. Hal ini merupakan kode semantik dalam leksia ini.
(19) Mendadak pemandangan aneh yang senantiasa menguntit ingatan melabrak lagi. Ya, di kerumunan manusia dari berbagai bangsa itu, saya dikepung oleh anjing-anjing bersayap hijau. Mereka mendengus-dengus. Tidak! Tidak! Mereka mungkin menyanyi. Mereka mungkin sedang menyenandungkan nafiri yang tak tepermanai. Masya Allah! Ternyata bukan hanya anjing yang melolong. Saya juga melihat babi-babi cantik, celeng-celeng kencana, dan monyet-monyet berbulu emas melenggang di antara pakaian-pakaian indah yang dijajakan. (hlm. 38-39)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik yang berupa penundaan jawaban oleh si tokoh saya karena ia lebih memilih untuk terpana pada kejadian yang tidak wajar itu lagi dan menunda pencarian jawaban atas misteri tersebut. Hal ini ditunjukkan pada kalimat Masya Allah! Ternyata bukan hanya anjing yang melolong. Saya juga melihat babi-babi cantik, celeng-celeng
kencana, dan monyet-monyet berbulu emas melenggang di antara
xlviii
(20) “Don‟t be surprised. Wondering only takes you away from
enlightment! I am Morgan. I‟ll show you the mistery of the green
-winged dogs.”
Tak saya respons ucapan perempuan asing berambut pirang yang hanya mengenakan kerudung transparan dan abaya bermotif lukisan kadal-kadal khas Aborigin itu. Tetapi saya ingin mendengarkan ceritanya. Saya ingin dia berkisah tentang anjing-anjing bersayap indah, babi-babi cantik, celeng-celeng kencana, dan monyet-monyet berbulu emas itu. (hlm. 39)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik berupa jawaban istilah untuk kode yang memberikan jawaban sepenuhnya, hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Morgan kepada si tokoh saya dengan kalimat “Don‟t
be surprised. Wondering only takes you away from enlightment! I am Morgan. I‟ll
show you the mistery of the green-winged dogs.”
(21) Ya, sudah kukatakan kepadamu: namaku Morgan. Dulu aku tinggal Kent Road Rosebay, Sydney, di antara puluhan anjing berbulu indah. Setiap malam aku harus memelototkan mata di antara lampu-lampu remang bar-bar di Kings Cross, karena mesti hidup dari duit dan kenakalan para pejantan yang mendengus-dengus di kamarku semalaman. Ya, mereka menganggapku sebagai pelacur, namun sebenarnya aku penari erotis. Aku memang butuh duit, namun lebih butuh kelembutan pria-pria kencana yang selalu bersedia membelikan anjing-anjing berbulu indah itu. (hlm.39)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode hermeneutik yang berupa pengacauan pertanyaan dan penundaan jawaban yang menimbulkan teka-teki baru bagi si tokoh saya dengan adanya lanjutan cerita Morgan pada kalimat Ya, mereka menganggapku sebagai pelacur, namun sebenarnya aku penari erotis. Aku
memang butuh duit, namun lebih butuh kelembutan pria-pria kencana yang selalu
bersedia membelikan anjing-anjing berbulu indah itu.
mendesah-xlix
desah, aku menciumi moncong binatang berlendir itu, hingga orang-orang melongo, hingga mereka mendesis-desis tak keruan.
Kalau tak ada pria kencana yang mengajak kencan, selalu binatang-binatang itu kuajak jalan-jalan. Kadang-kadang kuseret mereka menyusuri lorong-lorong Kings Cross. Kadang-kadang kuajak mereka menyisir Bondi Beach atau menikmati kilau cahaya yang bersilang tempur di kaca-kaca gedung Darling Harbour yang kian menawan. (hlm. 39-40)
Cerita Morgan dengan anjingnya merupakan kode semantik dalam leksia ini. Karena cinta pada anjing, aku kerap membawa binatang-binatang kecil yang indah itu ke panggung pertunjukan. Sambil mendesah-desah, aku menciumi
moncong binatang berlendir itu, hingga orang-orang melongo, hingga mereka
mendesis-desis tak keruan merupakan gambaran-gambaran mengenai kondisi psikologis, suasana atmosferik tokoh Morgan yang merupakan penyayang anjing menjadi penanda bagi dunia konotasi yang di dalamnya mengalir kesan atau nilai rasa tertentu.
(23) Tetapi tak bisa kegemaran itu kunikmati sepanjang hari sepanjang malam. Tiba-tiba hampir setiap malam anjing di Sydney mati dengan cara-cara mengenaskan. Mulut mereka membuncahkan lender. Perut mereka melebam. Bulu-bulu dan kulitnya mengelupas. ―Pasti ada yang meracun makanan mereka,‖ kataku kepada dokter yang berupaya menyelamatkan anjing-anjing itu.
Bukan hanya itu. Anjing-anjing pun tak ada lagi yang berkeliaran di Kings Cross. Kalaupun ada seonggok bangkai. Ya, bangkai yang usus-usus di perutnya memburai atau kepalanya pecah dihantam peluru. Siapa yang membunuh anjing-anjing itu? Tak ada yang tahu. Mungkin polisi. Mungkin preman iseng.
l
Kode simbolik pada leksia ini ditunjukkan dengan pernyataan Morgan
Untunglah pada suatu malam aku memergoki pembantaian yang mereka lakukan.
Anehnya, di wajah-wajah para pembantai itu melekat topeng-topeng anjing
bermoncong panjang. Lebih aneh lagi, para pembantai mengenakan kostum serba
hijau dan di kedua bahu mereka tumbuh sayap hijau berkilauan. Kode simbolik dalam leksia ini juga menunjukkan suatu oposisi, yaitu antara pembunuh dan penyayang binatang (anjing) yang semakin menyiratkan suatu ketegangan cerita.
Sebenarnya jika disimak, pernyatakan Morgan melalui ceritanya adalah suatu rangkaian jawaban si tokoh saya dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam leksia ini digambarkan si tokoh saya sedikit sudah mulai mendapatkan pencerahan akan masalah yang dihadapinya melalui cerita pengalaman hidup Morgan.
(24) Apakah mereka berdoa saat membunuh anjing-anjing itu? Entahlah. Yang jelas (ini senantiasa kudengar), mereka bilang, ―Ini bukan dunia
anjing. Mereka harus dienyahkan!‖ (hlm. 41)
Kode semantik juga terdapat dalam leksia ini, terdapat suatu konotasi nilai rasa tertentu dari pernyataan dalam leksia ini. Dari pertanyaan si tokoh saya yang menyiratkan nilai rasa bahwa ia penganut muslim serta dari pernyataan Morgan yang penyayang anjing maka akan terdapat suatu pro-kontra dalam penyelesaian masalah.
(25) Sejak itu, aku tak berani keluyuran di Kings Cross. Di samping tak tahan melihat pembantaian anjing-anjing tak berdosa, badan dan jiwaku memang telah pegal untuk menari, mendesis, mendesah, atau sekadar melenguh-lenguh di dancing floor yang temaram.
li
pada saat malam mendera, ndhongkrok di pintu, zuhud, dan tidur di dekat tong sampah.
Aku juga mulai mahir menahan lapar, tak pernah mendendam kepada orang-orang yang meledekku, rela menyingkir ke tempat lain jika medan kehidupanku direbut makhluk lain, menyenangkan orang yang melemparkan makanan, dan ke mana pun pergi pantang membawa bekal. Sebagai perempuan anjing, aku benar-benar memasrahkan kehidupanku pada Allah. (hlm. 41)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah simbolik, gambaran mengenai kondisi psikologis tokoh Morgan yang mencerminkan sifat prihatin, takut, serta kekalutan yang melanda dirinya dengan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anjing mempengaruhi pola pikir baru terhadap si tokoh saya dalam mengambil keputusan untuk mengambil sikap dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Hal ini ditunjukkan pada kalimat Ya, sejak itu aku lebih suka membenamkan diri di kamar. Menatap sekujur tubuh di cermin dan merasakan
berbagai metamorfosis yang kuharapkan. Yang jelas, aku jadi jarang mandi, tak
suka merias wajah dan menata rambut, kian gemar mengosongkan perut, sedikit
tidur pada saat malam mendera, ndhongkrok di pintu, zuhud, dan tidur di dekat
tong sampah. Aku juga mulai mahir menahan lapar, tak pernah mendendam
kepada orang-orang yang meledekku, rela menyingkir ke tempat lain jika medan
kehidupanku direbut makhluk lain, menyenangkan orang yang melemparkan
makanan, dan ke mana pun pergi pantang membawa bekal. Sebagai perempuan
anjing, aku benar-benar memasrahkan kehidupanku pada Allah.
lii
Kode pada leksia ini adalah kode semantik. Dengan pemikiran Morgan yang merasa dunianya tersisihkan lalu ia meninggalkan Sidney tempatnya yang dahulu ia hidup menuju Jeddah, tempat dimana anjing tidak bebas berkeliaran, dengan perasaan penuh dilema karena masih membawa sifat penyayang anjing serta keinginan yang cukup kuat untuk bertahan hidup sehingga mengharuskan ia menghadapi peperangan di hatinya untuk menyisihkan semua idealisme hidupnya. Hal ini mendukung terciptanya suasana atmosferik yang mempengaruhi pola pikir baru terhadap Morgan.
(27) Kenyataannya? Kenyataannya aku bertemu sampeyan. Kenyataannya kali pertama aku memasuki Jeddah yang riuh, aku justru mendengar lolong anjing. Cukup lama aku hanya mendengarkan suaranya. Cukup lama aku berhasrat mendapatkan sosok indah itu. (hlm. 41-42)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode simbolik. Kode ini menunjukkan adanya oposisi antara tempat yang seharusnya tidak ada anjing/anjing tidak bebas bekeliaran dengan tempat dimana anjing dapat berkeliaran dengan bebas. Hal ini menandakan bahwa seharusnya Jeddah yang merupakan kota tempat dimana kiblat beribadahnya penganut muslim berada menjadi tidak suci lagi dengan adanya anjing yang diharamkan.
(28) ―Jadi, Anda menganggap saya anjing?‖
Tunggu dulu! Jangan memotong ceritaku. Setelah cukup lama tinggal di Jeddah dan mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris, aku kerap menyisir Pantai Laut Merah untuk mengenang pasir-pasir Bondi Beach, angin sejuk Darling Harbour. Nah, di tempat itulah, aku melihat beberapa ekor anjing, celeng, babi, dan monyet bersayap hijau muncul dari kepala orang-orang yang menunaikan haji. Mereka melesat menembus malam dan kukira membumbung menuju Masjidil Haram. Ternyata tak ada Avalon. Avalon hanyalah mimpi buruk yang seharusnya tak kuburu sepanjang hidup.
liii merupakan kode semantik pada leksia ini. Hal ini menunjukkan keragu-raguan pada si tokoh saya akan dirinya seolah-olah telah berubah menjadi anjing. Si tokoh saya berpikir bahwa semua tingkah laku manusia yang tidak menggunakan kemanusiaannya berarti mempunyai kesamaan dengan anjing.
(29) Saya telah bertingkah seperti anjing? Entahlah. Justru pertanyaan semacam itulah yang ingin saya tanyakan kepada Gus Mus hingga sekarang, hingga ada orang-orang yang begitu dingin membantai manusia di Legian, Bali.
Ya, bukan tidak mungkin sesaat sebelum meledakkan Sari Club dan Paddy‘s Café, para pembantai menganggap orang-orang asing yang berkerumun dan mendengus-dengus di bawah lampu maram itu sekadar anjing-anjing, celeng, babi, atau monyet yang layak dienyahkan. Ah, tetapi kenapa para pembantai itu mengenakan topeng-topeng anjing bermoncong panjang? Mengapa di kedua bahu mereka tumbuh sayap-sayap hijau berkilauan?
Siapa mereka, Allah? Iblis? Malaikat? Preman iseng? Siapa mereka, Gusti? Tentara kerajaan-Mu? Lawan abadi yang sulit Kautaklukan? (hlm. 42-43)
liv
(30) Malam, anjing, babi, dan celeng pun mendengus berulang-ulang. (hlm. 43)
Kode yang terdapat dalam leksia ini adalah kode semantik yang berupa gambaran suasana yang biasa terjadi. Kode ini menjadi tanda akhir suatu cerita setelah adanya berbagai kejadian yang di luar kebiasaan menurut si tokoh saya.
Setelah kode-kode yang ada dalam cerpen Sayap Anjing diidentifikasi, selanjutnya yang harus dilakukan adalah penafsiran cerpen berdasar arahan kode-kode tersebut. Penafsiran cerpen Sayap Anjing akan diuraikan dalam sub bab berikut.
B. Penafsiran Makna Sayap Anjing
Setelah membagi cerpen Sayap Anjing menjadi leksia-leksia dan mengidentifikasi kode-kode semiotik yang ada dalam leksia-leksia tersebut, langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah menafsirkan makna cerpen. Penafsiran makna yang ada dalam cerpen ini dilakukan dengan bantuan hasil identifikasi kode-kode leksia-leksia. Ketika leksia-leksia diidentifikasi kodenya, hasilnya akan menyiratkan berbagai permasalahan yang terkandung dalam Sayap Anjing Sebagai wujud pemaknaan permasalahan dalam Sayap Anjing akan diuraikan diuraikan sebagai berikut:
1. Arti kata “sayap”dan “anjing”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke dua, disebutkan bahwa sayap adalah bagian tubuh beberapa binatang (burung, dsb.) yang
lv
Kata sayap dalam cerpen ini mempunyai makna alat atau sarana yang digunakan untuk mendukung suatu kegiatan. Sayap di sini juga dapat diartikan sebagai simbol kekuatan atau keperkasaan akan suatu hal yang mempunyainya yang tentunya sesuai dengan penggunaannya sehingga kata sayap mempunyai konotasi positif atau diartikan sebagai sesuatu yang baik sesuai dengan manfaat.
anjing (canis familiaris) adalah binatang yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dsb. (hlm.40)
Kata anjing dalam cerpen ini mempunyai konotasi makna yang seimbang sesuai dengan konteks kalimat yang digunakan. Kata anjing mempunyai konotasi positif jika kata tersebut menunjuk pada kegunaan atau manfaat binatang anjing dalam membantu kehidupan manusia. Kata anjing akan berkonotasi negatif ketika digunakan sebagai penunjuk pada kelakuan-kelakuan anjing yang tidak baik dan digunakan sebagai penunjuk manusia yang berkelakuan dan mempunyai sifat-sifat buruk seperti yang biasa anjing lakukan seperti menjilat, kawin di sembarang tempat dengan sembarang jenis anjing, membuang kotoran di sembarang tempat, dan sebagainya.
Selain itu, arti kata dari binatang-binatang yang disebutkan dalam cerpen yang ini menurut KBBI cetakan ke dua adalah: