LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENILAIAN KERUSAKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L)
DORPAIMA LUMBANGAOL 05121007028
A
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kebutuhan pangan di Indonesia memang cukup besar, salah satunya adalah buah terung yang dikonsumsi sebagai sayur. Terung sudah cukup populer di Indonesia. Hampir semua kalangan dari berbagai daerah di Indonesia mengkonsumsi buah ini. Dari catatan sejarah, daerah/Negara sebagai asal tanaman terung terletak di Asia, yakni India dan Birma. Menurut penelitian, sejak ratusan tahun lalu, terung mulanya hanya tumbuh liar. Namun kemudian setelah diketahui rasanya enak dan bermanfaat terung kemudian dibudidayakan di daerah tersebut. Di Afrika juga ditemukan plasma nutfah (sumber genetik) tanaman terung. Salah satunya adalah engkol (solanum marcrocarpon). Jadi hakikatnya, tanaman terung merupakan tanaman asli daerah tropis.
Pada abad ke V, bersamaan dengan perdagangan jenis sayuran sub tropis lain, di daerah Cina sudah dibudidayakan tanaman terung. Kemudian tanaman ini menyebar ke kawasan Asia lain seperti Malaysia, juga ke kawasan Afrika Timur, Afrika Tengah, Afrika Barat, Amerika Selatan, Karibia dan spanyol. Sedangkan di Indonesia tanaman terung terpusat di Jawa dan Sumatera. Namun kini terung sudah dibudidayakan di berbagai daearah di daerah di Indonesia, maupun daerah-daerah lain di berbagai belahan dunia.
Namun ada tigal hal yang membuat budidaya terung kurang berkembang, yakni : 1. Benihnya masih banyak diimpor dari luar nengeri yang daya kecambahnya
2. Masih ada beberapa varietas yang kurang tahan panas. 3. Semua varietas banyak diserang hama busuk buah
Untuk mengatasinya penulis melakukan percobaan cara budidaya terung dan pengusahaan perawatan tanaman terung sehingga menjadi produk yang berkualitas tinggi. Sementara itu prospek pengembangan usaha tanaman terung bernilai tinggi, karena selain mempunyai nilai gizi yang tinggi juga mempunyai nilai yang tinggi pula. Tanaman terung juga dikenal sebagai tanaman yang banayak menghasilkan (money maker). Pengenbangan budidaya tanaman terung tentu saja dapat mendukung upaya petani dalam memperoleh hasil secara ekonomi yang memuaskan, pengembangan argo bisnis, peningkatan gizi masyarakat, perluasan tenaga kerja, serta peningkatan pendapata Negara dari pembatasan impor dan memacu pertumbuhan ekspor. Wilayah tropis di Indonesi merupakan keunggulan komperatif.
B. Tujuan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Terung (Solanum melongena L)
Terung (Solanum melongena L) termasuk famili Solanaceae,Tanaman Terung berbentuk perdu ,tanaman ini berakara tunggang dengan akar samping yang dangkal , batangnya bercabang banyak dan berbulu agak kasar.batangnya agak keras dan lebih kekar dari batang tomat.
Terung termsuk tanaman sayuran dataran rendah semusim.terung berbungan sempurna dengan benang sarinya tidak berlekatan ( lepas ) jumlah bunga terung dalam satu tandan banyak .umumny bunganya berwarna ungu ,tetapi ada pula yang berwarna putih .sementara buahnya tunggal,tetapi ada pula varietas terung yang buahnya antara 2 – 3 setiap tandan.bentuk buahnya beraneka ragam , diantaranya bulat, lonjong atau bulat panjang, warna buahnya ungu tetapi adapula yang berwarna putih dan hijau bergaris putih ,setelah tua, buah berwarna kekuningan dan berbiji banyak. Daging buah terung kenyal , tidak berair seperti tomat.di dalamnya mengandung vitamin A, vitamin B dan Vitamin C.
dipanen menurut Kader (2001) adalah terbentuknya warna merah atau kuning secara penuh, bergantung pada kultivarnya, atau berumur 21-24 minggu setelah penyerbukan.
1. Sistematika Tanaman
Terong merupakan tanaman jenis perdu yang umumnya setahun (annual). Terong yang merupakan famili solanaceae atau nama latinnya solanum melongena. tingginya mencapai 60-90 meter. Buahnya biasanya dijadikan sayur-sayuran yang bernilai gizi tinggi. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis yang ditanam.
Klasifikasi Solanum melongena Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan) Genus: Solanum
2. Botani Tanaman
Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri mengandung banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu boleh dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung alkaloid nikotin. Ini tidaklah mengherankan karena terong adalah saudara dekat tembakau.
Asal-usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.
Terung mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, apabila dipelihara dengan baik dan menggunakan bibit unggul, dalam satu hektar bisa dihasilkan kurang lebih 30 ton terung. Oleh karena itu terung sangat potensial untuk dikembangkan dengan lebih meningkatkan produktivitasnya. Terung mempunyai prospek dan potensi yang sangat menjanjikan apabila dikelola secara agribisnis.
3. Syarat Tumbuh a. Iklim
Dapat tumbuh didataran rendah sampai tinggi dengan suhu udara berkisar antara 22 – 30 derajat. Mendapatkan sinar matahari yang cukup.
Jenis tanah adalah lempung berpasir, dengan aerasi yang baik dan pH antara 6-7.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan tempat
Praktikum ini dilakukan pada minggu pertama bulan September-November. Percobaan budidaya tanaman terong ini dilakukan di lahan Dasar-Dasar Penyakit Tumbuhan Jurusan Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Inderelaya.
B. Alat dan Bahan
Dalam praktikum ini alat yang digunakan adalah: a) Cangkul b) Pisau c) Baki d) Polibag. Dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: a) Benih terong b) aquadest c) pupuk.
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam percobaan budidaya tanaman terong ini adalah:
1. Sediakan benih yang akan disemaikan, perkirakan benih dapat tumbuh menjadi bibit yang baik sebanyak 10 tanaman per orang dalam satu kelompok.
3. Siramilah persemaian secara rutin dan rawat dengan baik dengan memerhatikan ketersediaan cahaya.
4. Setelah tanaman dalam semaian telah tumbuh dengan baik dan dapat ditanam, pindahkanlah tanaman tersebut kedalam tanah yang telah dibersihkan, digemburkan tanahnya.
5. Rawatlah tanaman tersebut , sirami secara rutin dan berikan kompos atau pupuk untuk membantu pertumbuhannya.
6. Amati bagaimana perkembangan tanaman tersebut. Dan serangan hama apa saja yang menyerang dan gejala kerusakannya.
Cara kerja perhitungan kerusakan pada tanaman:
Adapaun cara kerja pada pelaksanaan kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Praktikan dibawa ke lapangan yaitu lahan percobaan jurusan Hama Penyakit Tumbuhan dan amatilah tanaman yang ada di lapangan tersebut sesuai dengan pembagian yang telah dilakukan sebelumnya.
2. Bloklah tanaman yang sakit tersebut, dan beri penjelasan mengenai cara perhitungan kerusakan mutlak (presentasi kerusakan) dan kerusakan bervariasi (intensitas serangan).
3. Untuk perhitungan kerusakan mutlak (presentasi kerusakan) dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
P = n x 100 % N
Dimana:
P = Presentase atau intensitas seranga (%)
N = Banyaknya seluruh tanaman atau bagian tanaman atau buah atau tunas
4. Untuk perhitungan kerusakan bervariasi (intensitas serangan) dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
I = ∑ (n x v ) x 100 % Z x N
Dimana:
I = intensitas seranga (%)
n = Banyaknya tanaman atau bagian tanaman seperti bagian batang, bagian daun, bagian polong yang diamati dari tiap kategori serangan.
v = Nilai skala dari tiap kategori
Z = Nilai skala dari tiap kategori tertinggi
Tanaman 8
Perhitungan kerusakan mutlak
P = Nn X 100 %
P = 9
9 X 100 % = 100 %
Perhitungan kerusakan bervariasi
I = ε(n x v)
z x N X 100 %
I = ε(0x0)+(1x0)+(2x1)+ (3x2)+(4x6)
4x9 X 100 %
= 32
36 x 100 % = 88 %
Tanaman 9
Perhitungan kerusakan mutlak
P = Nn X 100 %
P = 79 X 100 % = 77,7 %
I = ε(n x v)
z x N X 100 %
I = ε(0x2)+(1x1)+(2x1)+(3x2)+(4x3)
4x9 X 100 %
= 21
36 x100 % = 58 %
Tanaman 10
Perhitungan kerusakan mutlak
P = Nn X 100 %
P = 69 X 100 % = 66,6%
Perhitungan kerusakan bervariasi
I = ε(n x v)
z x N X 100 %
I = ε(0x2)+(1x1)+(2x1)+(3x2)+(4x2)
4x9 X 100 %
B. Pembahasan
Penyakit pada tanaman terung a. Rebah Semai
Rebah semai biasa menyerang tanaman terong pada fase pembibitan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.
b. Layu bakteri
Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan
bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau
Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis sesuai pada kemasan.
d. Busuk Phytoptora
Busuk phytopthora menyerang semua bagian tanaman. Batang yang terserang ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun terong yang terserang seperti tersiram air panas. Sedangan serangan pada buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.
e. Bercak daun
streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.
f. Antraknosa
Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.
Hama pada tanaman terung a. Ulat tanah
ulat pemotong. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam
b. Ulat grayak
Ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
c. Ulat buah
Ulat menyerang terong dengan cara mengebor buah sambil memakannya. Buah yang terserang akhirnya berlubang. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil,
kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
d. Kutu daun
Kutu daun mengisap cairan tanaman terutama pada daun yang masih muda, kotoran dari kutu ini berasa manis sehingga menggundang semut. Daun yang terserang mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, tiametoksam, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
f. Kumbang kuning
Tanaman terong menjadi inang dari kumbang ini, kumbang berwarna kuning dengan
seluruh tubuh diselimuti seperti duri. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil,
kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan
g. Lalat buah
Lalat buah menyerang buah terong dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur inilah yang akhirnya menggerogoti buah terong sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin,
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang budidaya dan manfaat terung dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Tanaman terung dapat tumbuh disetiap jenis tanah dengan ketinggian tempat 1-1200mbpl dengan suhu optimal 18-25C dan derajat keasaman (Ph) 5-6.
2. Lahan yang akan ditanami perlu dipersiapkan dengan pembajakan dan pengairan dan penggaruan serta pembuatan bedengan kasar dan pemberian kapur pertanian untuk penyesuaian Ph tanah. Selajutnya pemasangan mulsa PHP dan pembuatan lubang tanaman.
dengan mulsa PHP. Setelah berkecamabah, benih disungkup menggunakan plastic transparan. Benih perlu disemprot dengan fungisida berbahan aktiv inidakloprid pada umur 15 hss.bibit yang sudah memiliki 4 daun siap dipindah kelahan.
4. Penyulaman dilakukan samapai dengan umur tanaman 2 minggu. Perempelan unas dilakukan sampai dengan pembentukan cabang. Cabang yang dipelihara adalah cabang produktif.
5. Penyakit pada tanaman terung meliputi rebah semai, layu bakteri, layu fosarium, busuk phyptotora, bercak daun dan antraknosa. Hama pada tanaman terung antara lain ulat tanah, ulat grayak, ulat buah, kutu daun, kutu kebul, kembang kuning dan lalat buah.
6. Buah terung bermanfaat sebagai sumber vitamin, mengurangi resiko seranagn jantung, mencegah aterosklerosis, menurunkan hipertensi, penurun kolesterol dan mencegah diabetes
B. Saran
Berdasarkan penelitian budidaya dan manfaat terung yang telah dilakukan, maka penulis menyarankan :
1. Perlu dilakukan percobaan tentang cara lain budidaya terung.
2. Perlu dilakukan percobaan tentang cara dan proses pemanfaatan terung.
DAFTAR PUSTAKA
Djojo Suwito. S. 2000. Azolla, Pertanian Organik dan Multiguna. Kanisius : Yogyakarta
http://bangkittani.com/kiat-sukses/tanaman-kailan-digemari-wisatawan. Diakses pada tanggal 28 November 2013.
Kader, R. 2001. Holtikultura. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology. New York Sunarjono, H. H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.