• Tidak ada hasil yang ditemukan

KIAI HAJI AHMAD DAHLAN TELADAN DAN SUMBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KIAI HAJI AHMAD DAHLAN TELADAN DAN SUMBA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KIAI HAJI AHMAD DAHLAN: TELADAN DAN SUMBANGSIHNYA BAGI PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA

Makalah Untuk Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Islam Indonesia

Disusun oleh:

Alfathan Wira S. (1406576370)

Irsyad Mohammad (1406572063)

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bila kita berbicara mengenai organisasi umat Islam terbesar di Indonesia, pasti yang terlintas di pikiran kita tertuju pada dua organisasi besar yang sudah lama ada di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua organisasi Islam besar ini adalah perkumpulan umat Islam yang besar dan sudah banyak memberikan pengaruh dan sumbangsihnya bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Salah satu organisasi Islam besar dan masih eksis hingga saat ini adalah Muhammadiyah. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-’alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.1

Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 M, atau bertepatan dengan tanggal 6 Zulhijah 1330 H. Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH. Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Selain itu peran Muhammadiyah lebih ditujukan kepada peningkatan pendidikan umat yang diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama

(3)

menjadi Kweek School Muhammadiyah. Peran sosok KH. Ahmad Dahlan dalam pembentukan Muhammadiyah sangat besar. Beliaulah yang memiliki gagasan untuk mendirikan suatu wadah perkumpulan umat Islam untuk memurnikan kembali ajaran Islam di daerahnya yang saat itu diwarnai kehidupan yang jauh dari syariat Islam. Untuk itu dalam tulisan ini akan dibahas seluk-beluk kehidupan KH. Ahmad Dahlan mulai dari kehidupan masa kecil, masa remaja, hingga ia memutuskan untuk mendirikan Muhammadiyah serta sumbangsihnya bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini disusun dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu: 1. Bagaimana kehidupan KH. Ahmad Dahlan semasa kecil hingga dewasa? 2. Bagaimana latar belakang KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah? 3. Bagaimana peran dan sumbangsih KH. Ahmad Dahlan bagi perkembangan

Muhammadiyah dan pemikiran Islam di Indonesia?

1.3 Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam Indonesia yang diajarkan oleh Dr. Abdurakhman, M.Hum. Selain itu makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi bagaimana kehidupan dan teladan dari KH. Ahmad Dahlan serta peran dan sumbangsihnya bagi pendirian Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia juga bagi perkembangan pemikiran umat Islam di Indonesia.

(4)

ISI

2.1 Kehidupan KH. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1265 H atau 1868 M dengan nama asli Mohammad Darwisj.2 Mohammad Darwisj (KH. Ahmad Dahlan) lahir dari keluarga ulama yang taat beragama Islam. Ayahnya bernama KH. Abu Bakar bin KH. Sulaiman yang masih satu garis keturunan dengan Maulana Malik Ibrahim, seorang mubaligh pertama yang menyiarkan Islam di Pulau Jawa. Sedangkan ibunya juga berasal dari keturunan ulama besar di Jawa. Mohammad Darwisj adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dan merupakan anak laki-laki pertama. Sebagai seorang anak laki-laki pertama yang diidam-idamkan oleh orang tuanya, Mohammad Darwisj kecil menjadi anak yang disayang oleh ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Meski begitu, Mohammad Darwisj kecil tidak menjadi anak yang manja, ia justru patuh pada perintah orang tuanya dan jarang berselisih dengan saudara-saudaranya.

Semasa kecil Mohammad Darwisj adalah pribadi yang penuh kegembiraan. Mohammad Darwisj sering bermain dengan teman-temannya. Ia pun disukai teman-temannya karena ia merupakan pribadi yang jujur dan suka menolong. Jiwa sosial sudah tertanam di dalam diri Mohammad Darwisj. Ia tidak suka berkelahi, bahkan ketika ada temannya yang berkelahi ialah yang mendamaikannya. Mohammad Darwisj juga adalah anak yang pandai dan kreatif. Ia pandai membuat mainan. Hasil karyanya itu tidak hanya digunakan oleh dirinya sendiri tetapi juga oleh teman-temannya. Hal ini membuat Mohammad Darwisj makin disukai teman-temannya. Mohammad Darwisj tergolong anak yang cerdas, suka memperhatikan ketika belajar dan mencatat, bila ada yang belum dimengerti ia akan bertanya.

Sebagai anak yang tinggal di Kauman, Mohammad Darwisj memperoleh pendidikan agama yang sangat baik. Perhatian terhadap agama sungguh besar.

(5)

Dorongan untuk mempelajari agama Islam tumbuh seiring lingkungannya yang Islami. Mohammad Darwisj mulai belajar mengaji sejak umur tujuh tahun. Setiap petang ia belajar mengaji dengan tekun. Latar belakang pendidikan Mohammad Darwisj ialah pesantren. Memang pada saat itu tidak ada anak-anak Kauman yang sekolah di sekolah gubernemen karena sekolah di tempat itu akan dianggap kafir. Setelah agak dewasa Mohammad Darwisj mulai belajar ilmu-ilmu lain seperti

fiqih, ilmu falaq, ilmu hadits, ilmu qiro’ah, dan ilmu-ilmu non agama seperti ilmu bisa dan racun binatang. Mohammad Darwisj menuntut ilmu-imu tersebut dari ulama-ulama besar di Jawa bahkan hingga ke ulama di Bukittinggi.

Pada usia limabelas tahun, Mohammad Darwisj berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mohammad Darwisj tidak hanya menunaikan ibadah haji tetapi ia juga bermukim selama lima tahun untuk mendalami ilmu agama seperti qiro’ah, tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, ilmu falaq, bahasa Arab, dan sebagainya. Selama di tanah suci ia banyak mempelajari kitab-kitab karangan Jamaludin Al Afgani, Syekh Mohammad Abduh, maupun Sayid Rasyid Ridha. Ketiga tokoh tersebut terkenal dengan ide pembaruan Islam, yaitu ide untuk memurnikan kembali ajaran Islam yang menyimpang dari ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Mohammad Darwisj kemudian banyak mengilhami ajaran-ajaran mereka dan membawanya sepulang dari Mekah untuk diterapkan di lingkungan tempat tinggalnya.

(6)

untuk menentukan arah kiblat sholat. Kemudian pada tahun 1902 KH. Ahmad Dahlan kembali berangkat ke Mekah selama dua tahun. Disana dia memantapkan ilmunya terutama mengenai masalah pembaruan Islam. Ia sempat bertemu dengan Sayid Rasyid Ridha, seorang tokoh pemikir pembaruan Islam. Keduanya bertukar pikiran mengenai masalah pembaruan Islam dan pembicaraan ini sangat berguna untuk menentukan langkah KH. Ahmad Dahlan selanjutnya.

Dua tahun kemudian KH. Ahmad Dahlan kemudian kembali pulang ke tanah air. Setibanya di Kauman, ia kemudian mengajarkan ilmu yang sudah dipelajarinya ke berbagai kalangan di Kauman, terutama anak-anak. Tak lama kemudian, ayahnya yaitu KH. Abubakar wafat, KH. Ahmad Dahlan pun menggantikan posisi ayahnya sebagai ketib atau khatib di Masjid Agung. Tugas KH. Ahmad Dahlan sebagai ketib hanya memberikan khotbah sekali dalam sebulan. Selain bertugas sebagai ketib, KH. Ahmad Dahlan juga melakukan usaha dengan membuat dan memperdagangkan batik. Ia berdagang batik ke berbagai daerah seperti ke Jawa Barat, Jawa Timur, maupun ke Sumatera. Beliau berdagang batik sekaligus melakukan syiar Islam. Di tiap daerah yang dikunjunginya ia selalu menemui ulama yang ada disana untuk bertukar pikiran tentang keadaan umat Islam. Beliau selalu mengajukan masalah apakah umat Islam di Hindia Belanda saat itu sudah benar-benar hidup sesuai ajaran Nabi Muhammad atau belum.

2.2 Latar Belakang KH. Ahmad Dahlan Mendirikan Muhammadiyah

(7)

Dahlan ingin mengembalikan pemikiran umat Islam dari taklid ke pemikiran rasional dalam memahami ajaran Islam. Apalagi pada saat itu tingkat pemahaman Islam masyarakat Kauman masih rendah. Walaupun banyak kiai-kiai tetapi mereka masih berpegang pada ajaran-ajaran yang kuno dan tidak berkembang. Mereka masih memercayai ritual-ritual yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam, seperti tahlilan dan lainnya. Praktek kehidupan di Kauman khususnya dan di Jawa pada umumnya masih berpegang pada ajaran-ajaran mistik. Selain itu terdapat pengaruh percampuran ajaran Islam dan Hindu-Buddha sebagai agama yang lebih dulu ada daripada Islam, seperti yang terlihat pada upacara pernikahan dan kematian. Percampuran ini menyebabkan kekaburan antara ajaran Islam dan bukan Islam.

Kondisi tersebut mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan perubahan kehidupan masyarakat yang kabur dan kacau terkait dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Dengan mengembalikan pemahaman masyarakat kepada ajaran Islam maka kehidupan mereka pun akan lebih terarah. KH. Ahmad Dahlan memang bercita untuk mendirikan suatu perkumpulan. Tetapi cita-cita itu tidak langsung diwujudkan secara langsung tetapi bertahap. Beliau menekankan terlebih dahulu pada bidang pendidikan. Beliau pun mendirikan Sekolah Muhammadiyah pada tahun 1911. Sekolah tersebut meniru konsep pendidikan ala Belanda dengan memakai gedung sebagai tempat belajar. Beliau juga menggunakan papan tulis dan meja sebagai alat belajar. Di Sekolah Muhammadiyah selain diajarkan ilmu-ilmu agama juga diajarkan ilmu-ilmu umum seperti ilmu berhitung, ilmu bumi, ilmu anatomi manusia dan lainnya. Hal ini tentu dianggap tak lazim oleh kiai-kiai lain di Kauman dan menganggap KH. Ahmad Dahlan sudah mengajak kepada kekafiran kepada anak-anak, padahal tidak seperti itu maksud dari KH. Ahmad Dahlan. Hal itu semata-mata untuk menghilangkan paradigma di kalangan kiai yang sudah senior bahwa Islam tidak harus diajarkan dengan cara-cara yang kuno dan kolot.

(8)

organisasi yang bertujuan untuk melaksanakan cita-cita pembaruan umat Islam. Salah satu yang mendesak KH. Ahmad Dahlan tersebut adalah Sekolah Guru Jetis Yogyakarta yang menyarankan untuk mewujudkan cita-citanya dalam kehidupan umat Islam.3 KH. Ahmad Dahlan ingin mengajak umat Islam untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Atas bantuan para sahabat dan murid-muridnya, pada tanggal 18 November 1912 didirikanlah sebuah organisasi yang bernama Muhammadiyah, sama seperti sekolah yang beliau dirikan setahun sebelumnya. Secara garis besar Muhammadiyah berusaha untuk menghidupkan kembali ajaran Islam yang asli dan murni serta menetapkan ajaran Islam sebagai pandangan hidup dalam kehidupan individu dan masyarakat.4

Pada awal pendiriannya, Muhammadiyah menetapkan maksud dan tujuan pendiriannya dalam anggaran dasar yang tertulis sebagai berikut:

1. Memajukan serta menggembirakan pelajaran dan pengajaran agama Islam dalam kalangan sekutu-sekutunya,

2. Memajukan serta menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam dalam kalangan sekutu-sekutunya.5

Walaupun ditulis dengan kata-kata yang sederhana, tetapi dapat mengenai dan sesuai dengan masalah yang aktual pada masa itu. Pada masa itu umat Islam sedang berada dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak adanya pemahaman pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Maka dari itu Muhammadiyah bercita-cita untuk menganjurkan agar masyarakat Islam mempelajari agamanya dengan baik. KH. Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah menganjurkan agar umat Islam kembali pada ajaran yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits. Sedangkan hal-hal lain yang tida bersumber dari keduanya hendaknya ditinggalkan. Dalam melaksanakan tujuan itu Muhammadiyah membuka berbagai sekolah dan madrasah, pengajian, tabligh, cerama-ceramah hingga keluar masuk kampung dan desa-desa.

3 Kutoyo, Sutrisno. 1985. Kiai Haji Ahmad Dahlan. Jakarta: Depdikbud, hal. 63 4 Ibid, hal. 65

(9)

2.3 Peran dan Sumbangsih KH. Ahmad Dahlan Bagi Perkembangan Muhammadiyah dan Pemikiran Islam di Indonesia

K.H. Ahmad Dahlan memiliki jasa besar dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia, terutama di bidang modernisasi Islam. Sebelum kita membicarakan lebih lanjut mengenai modernisasi Islam, alangkah lebih baiknya kita memahami zeitgeist pada masa itu. Seperti yang dijelaskan dalam halaman-halaman sebelumnya, umat Islam di Indonesia khususnya Pulau Jawa berada dalam kejumudan dan terjebak dalam praktek takhayul, bid’ah, churofat (TBC). Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya pendidikan di kalangan umat Islam, sedangkan umat Islam yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang memadai hanya golongan priyayi dan itu pun di sekolah-sekolah Belanda yang tentu saja tidak dibekali dengan pendidikan Islam yang memadai.

Berangkat dari permasalahan ini kemudian K.H. Ahmad Dahlan memutuskan untuk melakukan gerakan pembaharuan dalam umat Islam di Indonesia, agar umat Islam mendapatkan kembali harga dirinya dan mampu menghadapi tuntutan zaman. Langkah pembaharuan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan ialah mendirikan organisasi Islam dengan struktur yang modern. Dalam merealisasikan hal tersebut K.H. Ahmad Dahlan kemudian bergabung dengan Boedi Oetomo, serta banyak bergaul dengan orang-orang Boedi Oetomo. Hal ini dikerjakannya dengan tujuan untuk mempelajari struktur organisasi modern6. Tentu saja bergabungya K.H. Ahmad Dahlan ke dalam Boedi Oetomo tidak serta merta membuatnya dapat memuluskan tujuannya, tidak jarang ia dijuluki “kiai kafir” karena kedekatannya dengan Boedi Oetomo7.

Kendati demikian K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah sekalipun memikirkan persepsi buruk orang lain tentangnya. Ia berusaha agar misi

6 Kuntowijoyo dalam pengantarnya untuk buku Marhaenis Muhammadiyah karya Abdul Munir Mulkhan.

(10)

dakwahnya dapat berhasil. Langkah-langkah lain yang beliau lakukan, ialah mendekati anak-anak priyayi yang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintahan kolonial. Ia berusaha mendakwahkan Islam kepada mereka. Sebab ia sadar, bahwa anak-anak priyayi ini memiliki pendidikan yang jauh lebih baik daripada masyarakat umumnya. Mereka hanya minus, pemahaman mereka tentang masalah keislaman.

Langkah kedua dalam pembaharuan yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan selain mendirikan organisasi Islam dengan struktur yang modern, ialah membentuk sekolah Islam. Sekolah yang ia dirikan berbeda dengan sekolah-sekolah Islam umumnya pada saat itu yang berbentuk pesantren. Sekolah yang ia dirikan melakukan pengajaran dengan sistem pendidikan Barat, lengkap dengan bangku dan kursi. Serta pengetahuan tentang ilmu pengetahuan non-agama8. Langkah yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan Islam ini membuat Muhammadiyah kemudian mendapat label “Islam Modernis9.”

Pembentukan sekolah-sekolah dengan menggunakan sistem pengajaran dengan bangku kursi layaknya sekolah-sekolah di Barat. Tentunya mendapatkan kecaman dari orang-orang yang belum memahami maksud Kiai Dahlan, sehingga Kiai Dahlan harus menyaksikan sekolahnya dibakar sembari dicaci kiai kafir oleh para penentangnya10. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat K.H. Ahmad Dahlan, ia senantiasa terus bergerak dalam mengembangkan pendidikan Islam yang dipadukannya dengan sistem sekolah-sekolah Barat. Harapannya ialah menciptakan generasi Islam yang berpendidikan modern, mampu mengaktualisasi tantangan zaman, serta memiliki nilai-nilai keislaman11.

Sumbangsih pemikirannya yang menurut kelompok kami yang paling besar ialah memberantas TBC. Memberantas TBC yang dilakukan oleh K.H.

8 Ricklefs, M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi, hal 368

9 Label ini pada era sekarang masih dapat dikritisi. Sebab NU yang mendapatkan label “Islam Tradisionalis” nyatanya bersikap jauh lebih terbuka daripada Muhammadiyah. Memahami label ini tentunya perlu memahami zeitgeist pada saat abad 20 awal di Hindia-Belanda. Dengan begitu dapat dipahami raison d’etre dari penyematan label ini kepada Muhammadiyah.

10 Mulkhan, Abdul Munir. 1990. Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah.

Yogyakarta: Percetakan Persatuan, hal 87

11 Suwarno. 2016. Pembaruan Pendidikan Islam Sayyid Ahmad Khan dan KH Ahmad Dahlan.

(11)

Ahmad Dahlan, bukan saja melalui pendidikan atau pembuatan lembaga-lembaga pendidikan. Melainkan melalui conscientização (gerakan penyadaran) kepada masyarakat12. Masalah TBC di kalangan umat Islam demikian mengkhawatirkan, seringkali para elite-elite agama Islam tidak melakukan langkah serius dalam menghilangakan TBC ini, justru memelihara mitos-mitos untuk memperkuat posisi elite-elite agama ini. Bila kita berkaca pada sejarah, memang dalam beberapa kasus dalam sejarah peradaban manusia terutama sejarah peradaban Islam khususnya, seringkali penguasa berkolaborasi dengan para elite-elite agama untuk memantapkan kekuasaannya dengan legitimasi agama. Hal ini kemudian melahirkan ekses-ekses yakni masyarakat yang jatuh pada kejumudan. Ali Syari’ati seorang cendekiawan dari Iran, merumuskan mengenai fenomena ini yang ia sebut sebagai “Trinitas kekuasaan13.” Ia merumuskan bahwa masyarakat terbagi atas piramida kekuasaan dalam trinitas yang menjauhkan manusia dari tauhid tersebut, yaitu Fir’aun (pemimpin yang zalim), Qorun (orang kaya yang tamak/semena-mena/kaum mustakbirin), dan Bal’am (ulama/intelektual yang menjadi alat kekuasaan/spindoctor).14

Melenyapkan mistifikasi ulama bukanlah hal yang mudah pada masa itu. Hal yang pertama dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan, ialah menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh untuk hal tersebut. Misalkan ia mau mendatangi sendiri murid-muridnya untuk mengajarkan mengenai agama ataupun bertabligh. Dengan posisi K.H. Ahmad Dahlan yang telah menjadi Ketua Hoofd-Bestuur

Muhammadiyah dan khatib pada Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta, sudah semestinya murid-muridnya yang mendatangi K.H. Ahmad Dahlan langsung. Pada masa itu fenomena guru mencari murid, merupakan suatu tindakan yang dianggap “kelancangan” dan juga aib sosial-budaya. Namun hal demikian tidak dianggap sebagai kelancangan bagi K.H. Ahmad Dahlan, ia ingin menunjukkan

12 Ibid, 67.

(12)

bahwa ulama itu seperti manusia biasa cuma kebetulan memiliki ilmu agama yang lebih ketimbang orang-orang pada umumnya15.

Tabligh model semacam ini yang pada saat ini dianggap biasa, pada saat itu dianggap perbuatan luar biasa. Tabligh semacam itu memiliki implikasi dalam usaha untuk menghilangkan TBC yakni bentuk perlawanan tak langsung terhadap

idolatry (perlawanan terhadap pemujaan tokoh) dan juga perlawanan tak langsung terhadap mistifikasi agama (agama dibuat misterius). Kendati praktek TBC masih tetap berlangsung dalam masyarakat, bahkan dengan bentuk yang lebih canggih seperti aplikasi primbon yang dapat diunduh di smartphone ataupun situs-situs primbon di internet. Namun langkah K.H. Ahmad Dahlan, untuk memberantas TBC memiliki sumbangsih besar bagi modernisasi Islam. Sebab umat Islam sekarang ini dapat membedakan mana yang agama dan mana yang mistis. Sudah barang tentu pendidikan modern tidak akan dapat terlaksana, apabila umat Islam memiliki kepercayaan terhadap TBC dalam kadar yang tidak wajar16.

Sumbangsih yang terakhir akan dibicarakan disini ialah pemberdayaan wanita dan juga program-program pemberdayaan masyarakat. K.H. Ahmad Dahlan memiliki concern yang sangat besar terhadap pemberdayaan wanita, ia rela dan mau memiliki murid kaum wanita. Bahkan ia pun selalu mengikutsertakan istrinya Siti Walidah, dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah17. Bahkan K.H. Ahmad Dahlan pun membuat organisasi otonom

15 Op.Cit. 19 dalam pengantar Kuntowijoyo untuk buku Abdul Munir Mulkhan. Ia pun menjelaskan dengan artikel Koran Bromartani pada tanggal 8 September 1915, diberitakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan mengantar sekelompok murid-muridnya baik laki-laki maupun perempuan untuk berekreasi ke Taman Sriwedari, Solo.

16 Pada kondisi kekinian dapat kita jumpai orang-orang yang memiliki kepercayaan terhadap TBC di lingkungan akademik sekalipun. Namun orang-orang yang percaya pada sekte-sekte, juga percaya terhadap TBC namun berasal dari lingkungan akademik. Mereka ini memiliki pemahaman akan hal-hal rasional yang cukup besar juga. Jadi bisa dikatakan pada beberapa masyarakat kelas menengah di perkotaan, mereka tidak sepenuhnya dapat menghilangkan praktek TBC paling tidak mereka menganutnya dalam kadar yang wajar. Sehingga mereka dapat memilah mana yang rasional maupun tidak. Dengan adanya akses pendidikan yang lebih besar di zaman sekarang, dibandingkan dengan zaman K.H. Ahmad Dahlan atau sebelumnya – Singkatnya orang menjadi klenik dengan kesadarannya sendiri seringkali bukan karena ditipu oleh segelintir orang-orang karena, tiadanya akses terhadap pendidikan.

(13)

untuk kaum wanita dalam Muhammadiyah, yaitu organisasi Aisyiyah yang didirikannya pada tahun 1917.

Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Muhammadiyah antara lain pembuatan panti asuhan, pembuatan rumah sakit dan klinik, modal usaha untuk kaum mustadh’afin. Dalam menyelenggarakan program ini K.H. Ahmad Dahlan, bersedia bekerjasama dengan golongan non-Muslim sekalipun. Bahkan Muhammadiyah, menerima tenaga relawan dokter yang beberapa di antaranya merupakan orang Belanda maupun etnis Tionghoa18. Sikap keterbukaan untuk kemaslahatan umat tersebut, menjadi salah satu sumbangsih K.H. Ahmad Dahlan. Sebab pada saat itu tentunya umat Islam menaruh curiga terhadap etnis Tionghoa maupun orang-orang Belanda, namun K.H. Ahmad Dahlan memberi contoh dalam urusan kemaslahatan umat kerjasama dengan non-Muslim sekalipun boleh.

2.4. Muhammadiyah Kontemporer

Pasca meninggalnya K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah berkembang menjadi ormas Islam terbesar nomor dua di Indonesia setelah NU. Muhammadiyah telah melahirkan berbagai anggota yang bergerak di berbagai bidang dan profesi. Juga telah melahirkan berbagai tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsekuensi logis dari sebuah organisasi besar pastinya anggotanya memiliki karakteristik beragam, begitu juga Muhammadiyah. Dalam penelitiannya Abdul Munir Mulkhan19 (2010) ia membagi Muhammadiyah ke dalam empat varian:

1. Kelompok K.H. Ahmad Dahlan yaitu orang-orang Muhammadiyah yang toleran terhadap praktek TBC, namun mereka enggan mengerjakan praktek tersebut. Mereka hanya menganjurkan dan mendakwahkan agar praktek TBC itu ditinggalkan.

18 Op.Cit. 26

(14)

2. Kelompok Al-Ikhlas yaitu golongan Muhammadiyah yang tidak mau mengerjakan TBC dan menentang adanya TBC. Kelompok ini merupakan golongan minor di Muhammadiyah, secara tampak luar mereka agak mirip dengan golongan Salafi.

3. Kelompok Munu (Muhammadiyah-NU) merupakan kelompok Muhammadiyah, namun masih melakukan praktek tahlilan ataupun Maulid Barzanji dan juga ritual-ritual lain yang biasa dilakukan oleh kaum Nahdliyin. Kelompok ini muncul awalnya di daerah-daerah yang memiliki kultur NU yang kuat, namun tidak tersedia pendidikan menengah pertama hingga tingkat atas dari pemerintah. Sehingga anak-anak yang sudah menyelesaikan pendidikannya di SD-Inpres, kemudian dikirimkan orang tuanya ke SMP ataupun SMA milik Muhammadiyah yang kebetulan merupakan satu-satunya sekolah SMP/SMA di daerah tersebut. Dari sinilah mulai terjadi sinkretisme antara NU dengan Muhammadiyah. Misalkan pada sosok mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin ia pernah menjadi ketua IPNU Cabang Sumbawa. Kemudian ia pun menjadi anggota IMM dan pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah (1989-1993). Meskipun dalam prakteknya keislamannya ia lebih condong ke Muhammadiyah, namun pengalamannya sebagai ketua IPNU cabang Sumbawa pastinya ada pengaruh ajaran NU yang masuk dalam pemikirannya20.

4. Kelompok Muhammadiyah Nasionalis atau disebut juga Marhaenis-Muhammadiyah (Marmud). Kelompok Marmud ini pertama muncul dalam penelitian Abdul Munir Mulkhan, saat ia meneliti Muhammadiyah di Desa Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia melihat pada warga desa ini mereka memiliki praktek sinkretisme antara ajaran Muhammadiyah dengan NU (Munu), namun bukan saja itu. Warga desa ini memiliki tipologi ideologi

(15)

yang cenderung pada partai nasionalis seperti PDI21, bukan hanya itu namun pengurus Muhammadiyah setempat melakukan pemberdayaan kaum tani dengan menggunakan pendekatan ajaran Marhaenisme. Sehingga terciptalah kemudian dalam masyarakat di desa ini, sebuah teologi petani. Di Desa Wuluhan, praktek teologi petani tersebut dijalankan oleh sebuah koperasi desa yang dikelola oleh Muhammadiyah. Namun dalam praktek politik nyata, tidaklah jarang kader ataupun simpatisan Muhammadiyah kemudian aktif di parpol nasionalis.

Dalam tubuh Muhammadiyah pun belakangan ini terjadi pertentangan dalam bidang furu’iyah antara Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki. Memang kalau kita lihat di Muhammadiyah belakangan, mulai terbagi atas kedua mazhab furu’iyah tersebut. Berikut analisa terhadap kedua mazhab furu’iyah tersebut: 1. Di kampus yang dimiliki Muhammadiyah seperti Universitas Prof. Dr. Buya

Hamka (UHAMKA) terdapat tulisan dilarang merokok di area kampus. Juga dalam kompleks UHAMKA, kemudian UMY beberapa kampus-kampus yang dimiliki Muhammadiyah terdapat tulisan demikian. Juga civitas academica kampus-kampus tersebut tidak merokok di area kampus. Mengapa demikian? Sebab di dalam Muhammadiyah sendiri ada kecendrungan ikut Mazhab Syafi’i, kebetulan Syafi’i Ma’arif sendiri tidak merokok.

2. Kendati di lingkungan kampus-kampus yang dimiliki Muhammadiyah menerapkan larangan yang begitu ketat terhadap rokok. Tidak serta merta mahasiswa turut pada aturan tersebut, banyak mahasiswa kampus UHAMKA ataupun UMY yang merokok di luar lingkungan kampus. Bahkan dekat kampus, juga dengan satpam yang bekerja pada institusi tersebut. Hal ini tentu bukan sebagai bentuk pembangkangan mereka terhadap ajaran Mazhab Syafi’I, namun karena mereka pengikut Mazhab Maliki. Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, sebagai teladan utama Mazhab Maliki. Ia merupakan tokoh

(16)

Muhammadiyah, juga sebagai mantan Mendiknas (2001-2004), Menteri Agama (1998-1999), pejabat ad-interim Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (2004), mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (1983-2000) dan sekarnag menjabat sebagai Anggota Wantimpres. Tentu sebagai mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan Mantan Menteri Agama, tidak diragukan lagi kemuhamadiyahannya dan juga keislamannya. Sebagai mantan pengurus di PP Muhammadiyah, ia dikenal sebagai juga sebagai perokok berat. Cendekiawan Muhammadiyah terkemuka yang juga pengikut Mazhab Maliki ialah Prof. Dr. H.Abdul Munir Mulkhan, guru besar UIN Sunan Kalijaga tersebut dikenal sebagai orang yang tidak bisa melepaskan diri dari rokoknya, ia pun perokok berat sama dengan Malik Fadjar. Seringkali apabila terdapat seorang perokok, seringkali diidentikkan dengan Nahdliyin. Meskipun Muhammadiyah secara de jure mengharamkan rokok, namun terdapat sejumlah anggota Muhammadiyah yang merupakan perokok bahkan diantaranya perokok berat seperti Abdul Munir Mulkhan dan Malik Fadjar.

(17)

KESIMPULAN

Kiprah K.H. Ahmad Dahlan yang demikian besar dalam perkembangan Islam di Indonesia dan juga pembaharuan di bidang pendidikan. Kemudian memunculkan semangat kebangsaan, tidak sedikit kader-kader Muhammadiyah yang kemudian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia baik secara fisik maupun non-fisik. Juga ketika Indonesia merdeka, banyak orang-orang Muhammadiyah yang turut aktif mengisi kemerdekaan.

Tidak salah bila kemudian K.H. Ahmad Dahlan diangkat sebagai Pahlawan Nasional, pada tahun 1961 oleh Presiden Soekarno. Hal tersebut sudah merupakan keputusan yang tepat. Mengingat begi besar jasa K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah masih tetap bertahan hingga sekarang, bahkan kadernya masih ada yang aktif di dalam politik nasional seperti mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. H. Amien Rais. Kita harapkan kedepannya keberadaan Muhammadiyah senantiasa membawa kemaslahatan bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia.

(18)

Kutoyo, Sutrisno. 1985. Kiai Haji Ahmad Dahlan. Jakarta: Depdikbud.

Mulkhan, Abdul Munir. 2010. Marhaenis Muhammadiyah. Yogyakarta: Galang Press Noer, Deliar. 1972. Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942. London:

Oxford Press

Notosusanto, Nugroho, dkk. 2011. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka

Pringgodigdo, A.G. 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat

Ricklefs, M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Shariati, Ali. 1984. Tugas Cendekiawan Muslim, terj. Amien Rais. Jakarta: Rajawali Stevens, T.H. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia-Belanda dan

Indonesia 1764-1962. Jakarta: Sinar Harapan

Suwarno. 2016. Pembaruan Pendidikan Islam Sayyid Ahmad Khan dan KH Ahmad Dahlan. Yogyakarta: UMP Press & Suara Muhammadiyah

Tashadi, dkk. 1999. Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Ir. Soekarno dan K.H. Ahmad Dahlan. Jakarta: Depdikbud.

Referensi

Dokumen terkait

Yakup, MS dengan judul “Pengelolaan Hara dan Pemupukan Pada Budidaya Tanaman Jagung (Zea mays L.) Di Lahan Kering” telah diterima dan untuk dapat dipresentasikan pada Seminar

Larutan ekstrak kasar Teripang digunakan untuk pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer, yaitu pengujian antimikroba dengan

Capaian indikator kinerja pada kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah ini mencapai target 99.96 % dengan realisasi sebesar Rp 280.991.420, dari

Selanjutnya, terkait periode ijihad dalam sejarah berdasarkan penjelasan tersebut di atas, menegaskan bahwa kondisi lingkungan Imam Malik adalah kondisi lingkungan yang

Latasir adalah lapis penutup permukaan jalan yang terdiri atas agregat halus atau pasir atau campuran keduanya dan aspal keras yang dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam

Saya pernah mencoba untuk melakukan pencarian kembali udang Cirolana marosina di Gua Saripa, di kawasan karst Maros, tempat yang sama saat Louis Dehaveng menunjukkan hewan itu

Dorongan internal yang cukup menonjol dalam mempengaruhi pilihan karier kaum gay adalah kebutuhan akan rasa aman dari lingkungan.. Sedangkan yang eksternal adanya

humas untuk merumuskan strategi media relations yang lebih baik, melalui pembentukan hubungan antarpribadi dengan jurnalis yang didasari atas.