• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN PEKERJAAN K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN PEKERJAAN K"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN, PEKERJAAN, KETERPAPARAN MEDIA MASSA TENTANG KB dan KEPUTUSAN UNTUK MEMBATASI

ANAK TERHADAP PROPORSI WANITA USIA SUBUR YANG TIDAK MENGGUNAKAN KB DI INDONESIA

(dibuat untuk memenuhi tugas papper Analisis Regresi) DOSEN PEMBIMBING : Bapak Agung Priyo Utomo S.Si., M.T.

OLEH :

Tsuraya Mumtaz (13.7893) Dina Atika Rahmawati (13.7585)

Andri Setyono (13.7489) Naufal Asykarulloh (13.7744)

3SK4

(2)

I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Over population (Kelebihan penduduk) adalah keadaan wilayah tertentu selama waktu yang terbatas, dimana bahan-bahan keperluan hidup tidak mencukupi kebutuhan wilayah tersebut secara layak. Kondisi ini dapat berakibat buruk bagi kelangsungan hidup penduduk di wilayah yang bersangkutan. Dengan adanya overpopulation, maka penduduk akan memperoleh kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok hidupnya dan nantinya akan berindikasi pada standar hidup yang rendah.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang mengalami masalah tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia sampai dengan tahun 2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa. Sementara pada tahun 2015 diperkirakan jumlah penduduknya kembali meningkat hingga mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia masih cukup tinggi. Dengan angka ini, Indonesia bahkan mampu menduduki peringkat ke-4 Negara dengan jumlah penduduk tebanyak di dunia setelah Cina dengan 1,355 miliar jiwa, India 1,236 miliar jiwa, dan Amerika Serikat dengan 318.892 juta jiwa.

(3)

Dalam rangka menyelesaikan masalah pertumbuhan tersebut, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya nyata yaitu dengan menggalakan progam KB atau Keluarga Berencana. Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluaga berkualitas.

Salah satu cara yang paling efektif dalam menyokong keberhasilan program pengaturan kehamilan dalam KB adalah dengan peraturan pengunaan alat kontrasepsi bagi seluruh wanita usia subur yang sudah menikah. Hingga saat ini, sudah terdapat cukup banyak jenis alat kontrasepsi yang dapat digunakan, diantaranya adalah pil KB, suntik KB, IUD atau Spiral, Kondom, Susuk atau Norplant, Vagina Diafragma, Spermatisida, Cervical Cap dll.

Di Indonesia sendiri, jumlah wanita usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Riskesdas pada Tahun 2013, cakupan KB aktif secara nasional adalah sebesar 75,88%. Dimana dari 33 provinsi, ada 15 provinsi yang cakupannya masih berada dibawah cakupan nasional. Provinsi Bengkulu merupakan provinsi dengan cakupan tertinggi sebesar 87,70% sementara provinsi Papua adalah provinsi dengan cakupan terendah yaitu hanya sebesar 67,15%.

(4)

tingkat fertilitas akan semakin sulit dikendalikan dan masalah overpopulation akan terus melanda.

Berdasarkan hasil SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) yang dilakukan oleh BPS, beberapa alasan yang dikemukakan oleh kelompok perempuan usia 10-49 tahun berstatus kawin yang menjawab tidak pernah sama sekali menggunakan KB atau menjawab pernah tapi tidak menggunakan lagi adalah : dilarang pasangan, kekurangan pengetahuan, kekurangan akses, dilarang agama, mahal, sulit diperloleh, belum mempunyai anak, ingin punya anak, takut efek samping, tidak menginginkan, keterpaparan media massa tentang keluarga berencana dan tidak perlu lagi menggunakan alat kontrasepsi.

Dari sekian banyak alasan di atas menurut kami terdapat alasan yng paling berpengaruh yaitu pengetahuan. Banyak perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi karena terbatasnya pengetahuan tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi. Tidak ada satupun metoda kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien. Oleh karena itu berbagai faktor harus dipertimbangkan baik mengenai keuntungan maupun efek samping dari pemakaian kontrasepsi.

(5)

ketersediaan keluarga berencana. Penelitian yang dilakukan oleh Pastuty (2005) menyebutkan bahwa terdapat hubungan paritas dengan pemakaian metode kontrasepsi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dijelaskan semakin tinggi anak yang pernah dilahirkan maka akan memberikan peluang lebih banyak keinginan ibu untuk membatasi kelahiran. Jumlah anak juga akan mempengaruhi sikap terhadap keluarga berencana.

Selain itu, perempuan yang bekerja dan ikut berpartisipasi dalam menyumbang sumber perekonomian keluarga cenderung lebih mengatur kesuburannya, dengan memiliki satu anak atau bahkan tidak sama sekali, persaingan dalam karir dan pekerjaan bahkan kebijakan dari tempat kerja membuat mereka memilih untuk tidak mempunyai anak, sehingga mereka harus memilih kontrasepsi yang paling efektif dan berlangsung dalam waktu yang lama.

Dan alasan terakhir yang juga berpengaruh besar dalam pengambilan keputusan wanita usia subur untuk menggunakan alat kontrasepsi adalah keterpaapran media massa seorang wanita terhadap keluarag berencana (KB). Semakin besar informasi media massa tentang pentingnya keluarga berencana dan manfaat apa saja yang diperoleh dari menerapkan program keluarga berencana maka semakin besar wanita untuk memutuskan menggunakan alat kontrasepsi.

Oleh karena itu, pada penelitian ini kami akan memfokuskan pada empat variable yang kami anggap dapat memepengaruhi proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB dengan melihat bagaimana hubungan tiga varibel bisa mempengaruhi proporsi wanita yang tidak menggunakan KB.

Y = persentase wanita usia subur yang tidak menggunakan KB X1 = persentase wanita usia subur yang memiliki pengetahuan

tentang KB

X2 = persentase wanita usia subur yang bekerja

(6)

X4 = persentase wanita usia subur yang membatasi jumlah anak 1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah terdapat multikolinieritas diantara variable bebas

2. Bagaimana pengaruh variabel wanita usia subur yang tidak memiliki pengetahuan tentang KB terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB

3. Bagaimana pengaruh variabel wanita usia subur yang tidak diizinkan suami untuk menggunakan KB terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB

4. Bagaimana pengaruh variabel wanita usia subur yang tidak memiliki akses KB terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB 5. Bagaiamana pengaruh ketiga variabel ( proporsi wanita usia subur yang

tidak memiliki pengetahuan tentang KB, proporsi wanita usia subur yang tidak diizinkan suami untuk menggunakan KB dan proporsi , wanita usia subur yang tidak memiliki akses KB ) terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengidentifikasi hubungan proporsi wanita usia subur yang tidak memiliki pengetahuan tentang KB terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB

2. Untuk mengetahui pengaruh proporsi wanita usia subur yang tidak diizinkan suami untuk menggunakan KB terhadap proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB

(7)

II. KAJIAN TEORI

2.1 Kerangka Teoritis 2.1.1 Konsep Pengetahuan

Menurut Bloom, Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Sementara menurut Mubarok (2007), Pengetahuan adalah hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang malakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu obyek tertentu.

(8)

merupakan domain yang paling penting dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang (Overt behavior).

Dalam penelitian ini, pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan seorang wanita usia subur mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan alat kontrasepsi, baik jenis, cara penggunaan maupun manfaat penggunaannya. Seorang wanita usia subur dikatakan ‘tahu’ apabila Ia setidaknya pernah merasakan keberadaan alat kontrasepsi tersebut dengan indera yang dimilikinya, seperti pengelihatan, pendengaran dll.

Dengan berlandas pada konsep Overt behavior yang telah dijelaskan diatas, maka pengetahuan wanita usia subur akan alat kontrasepsi kami perkirakan akan mempengaruhi keputusan wanita tersebut dalam menentukan untuk menggunakan alat kontrasepsi atau tidak. Asumsi ini juga diperkuat oleh beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kedua variabel tersebut diatas saling berhubungan.

Diantaranya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Rinda Ika Maiharti dan Kuspriyanto, dalam jurnalnya yang berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan dan Pendapatan dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi pada PUS di Kecamatan Jenu dan Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban”, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan metode kontrasepsi pada PUS di Kecamatan Jenu dan Jatirogo.

2.1.2 Konsep Wanita Bekerja

(9)

Menurut Omas Ihromi, wanita pekerja adalah mereka yang hasil karyanya akan mendapat imbalan uang. Meskipun imbalan tersebut tidak langsung diterimanya. Ciri-ciri dari wanita pekerja inilah ditekankan pada hasil berupa imbalan keuangan, pekerjaannya tidak harus ikut dengan orang lain ia bias bekerja sendiri yang terpenting dari hasil pekerjaannya menghasilkan uang dan keudukannya bias lebih tinggi dan lebih rendah dari wanita karir , seperti wanita yang terlibat dalam perdagangan

Berdasarkan hasil penelitian Muchtar dan Purnomo (2009), wanita yang bekerja mempunyai fertilitas sedikit lebih tinggi disbanding wanita yang tidak bekerja (2,5 dibanding 2,3 anak), dan pengaruh pekerjaan terhadap fertilitas signifikan (p<0,05). Bila dilihat menurut kelompok jumlah anak lahir hidup menunjukkan bahwa umumnya wanita yang bekerja mempunyai jumlah anak lahir hidup 3 anak atau lebih, sedangkan wanita yang tidak bekerja umumnya belum mempunyai anak dan mempunyai antara 1-2 anak.

Partisipasi wanita kawin / pernah kawin berstatus bekerja secara persentase tertinggi terdapat pada wanita yang mempunyai tambahan anak yang dilahirkan 13 orang dibandingkan wanita kawin / pernah kawin tidak bekerja, yang tertinggi kedua terdapat pada tambahan anak 8 orang. Dari hasil penelitian juga didapatkan secara umum wanita kawin / pernah kawin di Provinsi Aceh status bekerja, persentase lebih dari 50 persen pada setiap tambahan anak yang dilahirkan (Nasir, 2012).

2.1.3 Konsep Membatasi Jumlah Anak

(10)

caranya tersendiri ( Bulatao dan Lee , 1983 ) . Sehingga membatasi jumlah anak adalah menghentikan kelahiran ( secara permanen ) setelah keturunan mencapai jumlah tertentu, dengan menggunakan berbagai sarana yang diperkirakan bias mencegah kehamilan. Tujuannya untuk memperkecil (membatasi) jumlah keturunan dengan menghentikannya setelah (mencapai) jumlah yang ditentukan. (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114, Majallatu lBuhuutsil Islaamiyyah).

2.1.4 Konsep Keterpaparan Media Massa Tentang KB

Media massa menurut Cangara (2003) adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat komunikasi mekanis seperti suratkabar , film , radio , dan televisi. Media massa memiliki peran penting dalam memberikan sumber informasi bagi masyarakat. Menurut bungin (2001), pengaruh media massa terdiri dari tiga yaitu kognitif (mempengaruhi pengetahuan ) , afektif ( mengubah emosi dan perasaan sehingga dapat membentuk sikap masyarakat), dan prilaku. Dan menurut Liliwerin (2007) peran media massa adalah institusi social yang berperan untuk menyebarkan informasi dan sebagai agen social proses pembetukan diri yang berkaitan dengan dunia social luas.

Sehingga dapat disimpulkan keterpaparan media massa tentang KB merupakan pengaruh yang diberikan oleh media massa pada masyrakat tentang Keluarga Berencana, sehingga dapat merubah pola piker dan prilaku sesuai dengan apa yang disampaikan media massa pada masyarakat. Dalam penelitian ini, wanita yang telah terpapar media massa tentang KB akan cenderung merubah pola piker dan perilaku bahwa KB itu merupakan program yang penting perlu didukung sehingga mereka mengikuti untuk melakukan program KB.

(11)

Berdasarkan teori diatas, diketahui bahwa ketiga faktor baik pengetahuan, dukungan suami, dan akses telah memiliki dasar yang kuat dalam hal pengaruhnya terhadap keputusan wanita usia subur untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi, maka kerangka pikir yang dapat dibuat adalah sebagai berikut:

Sumber : Diolah peneliti Pengetahuan WUS

(berstatuskawin) mengenaialatkontrasepsi

WanitaUsiaSubur yangBekeja

WanitaUsia Subur yang Membatasi Jumlah Anak

Keputusan WUS (berstatus

kawin) untuk tidak

menggunakan alat

kontrasepsi

WanitaUsia Subur yang Terpapar Oleh Media

(12)

III. METODOLOGI 3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk lintas wilayah (Cross Section). Data diperoleh dari publikasi hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada Tahun 2012, yang dilakukan oleh BPS. Data tersebut meliputi Persentase wanita pernah menikah yang tidak menggunakan alat kontrasepsi, persentase wanita pernah menikah yang memiliki pengetahuan tentang alat kontrasepsi, persentase wanita pernah menikah yang bekerja, dan persentase wanita pernah menikah yang terpapar media massa mengenai keluarga berencana. Dimana masing-masing data disajikan dalam tingkat provinsi, sehingga unit observasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 33 provinsi di Indonesia.

3.2 Metode Analisis

(13)

beberapa kasus, variabel respon yang diamati memiliki keterkaitan dengan hasil pengamatan di wilayah yang berbeda, terutama wilayah yang berdekatan.

Adanya hubungan spasial dalam variabel respon akan menyebabkan pendugaan menjadi tidak tepat karena asumsi keacakan suatu error dilanggar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu model regresi yang memasukkan hubungan spasial antar wilayah ke dalam model. Adanya informasi hubungan spasial antar wilayah menyebabkan perlu adanya keragaman spasial ke dalam model, sehingga model yang digunakan adalah model regresi spasial.

Model regresi spasial tersebut didasarkan pada efek lag spasial dan error spasial dengan menggunakan pendekatan area. Komponen yang mendasar dari model spasial adalah matriks pembobot spasial, matriks ini mencerminkan adanya hubungan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya (Arbia, 2006). Pada penelitian ini, matriks pembobot spasial yang digunakan adalah pembobot spasial Queen.

3.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Menurut (Draper dan Smith,1992) Hubungan antara satu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen dapat dinyatakan dalam model regresi linier. Secara umum hubungan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut :

Y = +

+

+

+ ... +

+ (1)

ɛ

Dimana, Y variabel dependen, sedangkan , ... parameter yang tidak diketahui, X variabel independen dan  adalah error regresi. . Jika dilakukan pengamatan sebanyak n, maka model pengamatan ke-i adalah :

(14)

Metode penaksiran parameter model pada persamaan (2) adalah dengan metode least square (Draper and Smith,1992). Bentuk penaksiran least square dari parameter tersebut adalah :

β (cap) = ( ) (3) yang harus diuji terlebih dahulu, diantaranya :

1. Asumsi Normalitas

(

IIDN(0, 2 I)). regresi yang memiliki varian tidak konstan. Pada pemeriksaannya, diharapkan asumsi ini tidak terpenuhi karena model regresi linier berganda memiliki asumsi varian residual yang konstan (homoskedastisitas).

3. Asumsi Autokorelasi

Asumsi Autokorelasi merupakan asumsi residual yang memiliki komponen/nilai yang berkorelasi berdasarkan waktu (urutan waktu) pada himpunan data itu sendiri. Proses Auto korelasi terjadi ketika kovarian antara error ke i dengan error ke j tidak sama dengan nol.

4. Asumsi Multikolinieritas

Asumsi Multikolinieritas adalah asumsi yan menunjukkan adanya hubungan linier yang kuat diantara beberapa variabel prediktor (bebas) dalam suatu model regresi linier berganda. Pada asumsi ini, diharapkan asumsi multikolinieritas tidak terpenuhi.

(15)

Model umum regresi spasial dinyatakan pada persamaan (Lesage,1999; dan Anselin 1988)

Dimana :

Y : matriks variabel respon yang berukuran (n x 1) X : matrik variabel bebas, berukuran (n x (p+1))

 : vektor koefisien parameter regresi berukuran (p+1)x1  : koefisien autoregresi lag spasial

λ : koefisien autoregresi lag pada error yang bernilai  λ  1

u : vektor error yang diasumsikan mengandung autokorelasi berukuran n x 1

 : vektor error yang berukuran n x 1, yang berdistribusi normal

dengan mean nol dan varians I

W : matriks pembobot spasial yang berukuran n x n n : banyaknya amatan/lokasi

Terdapat empat model yang bisa dibentuk dari model umum regresi spasial sebagai berikut:

(1) Jika =0, λ =0 maka persamaan (6) menjadi : Y = XB +  (7) Persamaan ini disebut model spasial Ordinary Least Square (OLS). (2) Jika ≠0, λ =0 maka persamaan (6) menjadi : Y = WY + XB + (8) Persamaan disebut sebagai regresi Spasial Lag Model (SLM) atau Spatial Autoregressive Models (SAR).

(3) Jika =0, λ ≠0 maka persamaan (6) menjadi : Y = XB + λ Wu +  (9) Persamaan disebut juga regresi Spatial Error Model (SEM).

(4) Jika ≠0, λ ≠0 maka persamaan (6) menjadi : Y = WY + X + u, u= λ Wu +  (10) Persamaan disebut General Spatial Model atau Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA).

(16)

ketetanggaan. Pembentukan matriks keterkaitan spasial (matrik W) dapat menggunakan berbagai teknik pembobotan.

(17)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Asumsi

4.1.1 Uji Normalitas

Uji Normalitas pada penelitian kali ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi GeoDa dimana uji yang digunakan adalah Uji Jarque-Bera. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Dari hasil diatas, kita dapat memperoleh p-value untuk uji normalitas yang dilakukan yaitu sebesar 0,48854. Angka tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi(α) yang digunakan yaitu sebesar 0,05. Artinya, Gagal tolak Ho atau dalam kata lain error berdistribusi normal, dan asumsi Normalitas terpenuhi.

4.1.2 Asumsi Heteroskedastisitas

Untuk menguji asumsi ini, kami juga menggunakan aplikasi GeoDa. Uji yang digunakan adalah Breusch-Pagan Test dan Koenker Bassett Test, dimana hasilnya adalah sebagai berikut :

Dari hasil diatas, kita dapat mengetahui bahwa p-value untuk kedua tes masing-masing adalah sebesar 0,58442 dan 0,23025. Dimana angka tersebut lebih besar daripada tingkat siginifikansi (α) yang digunakan yaitu sebesar 0,05. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa gagal tolak Ho atau dengan kata lain, tidak terdapat gejala heteroskedastisitas.

(18)

Asumsi autokorelasi dapat dilihat dari besarnya indeks moran. Untuk mendapatkan indeks moran, kita kembali menggunakan aplikasi GeoDa. Dimana hasilnya adalah sebagai berikut:

Indeks moran beriksar antara -1 sampai 1. Suatu penelitian dikatakan tidak memiliki autokorelasi apablia indeks moran adalah nol. Dan memiliki autokorelasi yang kuat apabila angkanya mendekati -1 atau 1. Berdasarkan hasil diatas, indeks moran untuk penelitian ini adalah sebesar 0,358918. Artinya, terdapat autokorelasi. Namun, autokorelasi tersebut bersifat lemah dan tidak terlalu berpengaruh.

4.1.4 Asumsi Multikolinieritas

GeoDa juga dapat digunakan untuk mendeteksi apakah terdapat multikolinieritas atau tidak. Hasil yang diperoleh untuk pengujian asumsi ini adalah sebagai berikut:

(19)

4.2 Metode Ordinary Least Square (OLS) atau Regresi Linier Berganda

Setelah dilakukan uji asumsi, kita dapat menyatakan bahwa model OLS cocok untuk digunakan pada kasus ini. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan GeoDa untuk model OLS adalah sebagai berikut:

Kita dapat melihat bahwa dari 4 variabel bebas yang diuji, hanya terdapat 2 variabel yang signifikan, yaitu persentase wanita yang memiliki pengetahuan mengenai alat kontrasepsi dan persentase wanita yang membatasi jumlah anak. Hal tersebut dikarenakan, 2 variabel bebas lain yaitu media massa dan wanita yang bekerja memiliki korelasi yang kecil terhadap variabel respon yaitu masing-masing hanya sebesar -0,078 dan 0,267. Oleh karena itu dilakukan pengujian lagi dengan mengeluarkan kedua variabel yang tidak signifikan, dan didapatkan hasil sebagai berikut:

(20)

= 138,7418 – (0,65282) – (0,3930236) +

Dimana :

= Persentase wanita pernah kawin yang tidak menggunakan alat kontrasepsi

= Persentase wanita pernah kawin yang memiliki pengetahuan mengenai alat kontrasepsi

= Persentase wanita pernah kawin yang berencana membatasi jumlah anak

= Error untuk pengamatan ke-i

Dari model diatas kita dapat mengetahui bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebasnya adalah negatif. =138,7418, artinya ketika tidak ada variabel bebas yang mempengaruhi, variabel respon adalah sebesar 138,7418. =(-0,65282), artinya ketika variabel lain konstan, persentase wanita pernah kawin yang tidak menggunakan alat kontrasepsi akan berkurang sebesar 0,65282 tiap kenaikan 1 persen wanita pernah kawin yang memiliki pengetahuan mengenai alat kontrasepsi. =(-0,3930236), artinya ketika variabel lain konstan, persentase wanita pernah kawin yang tidak menggunakan alat kontrasepsi akan berkurang sebesar 0,3930236 tiap kenaikan 1 persen wanita pernah kawin yang berencana membatasi jumlah anak.

(21)

menggunakan alat kontrasepsi yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas yaitu persentase wanita pernah kawin yang memiliki pengetahuan terhadap alat kontrasepsi dan persentase wanita pernah kawin yang ingin membatasi jumlah anak terhadap adalah sebesar 51,3247%, sementara sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.

4.3 Model Regresi Spasial

Untuk dapat menggunakan Spatial Regression Model , maka kita harus terlebih dahulu menuji signifikansi dari Lagrange Multiplier (lag), Lagrange Multiplier(error) dan Lagrange Multiplier(SARMA). Dengan aplikasi GeoDa, kita mendapatkan hasil seperti dibawah ini:

Dari hasil diatas, dapat diketahui bahwa tidak ada Lagrange Multiplier yang signifikan, baik lag, error maupun SARMA dengan tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat dependensi spasial dalam data. Oleh karena itu, pada kasus ini peneliti hanya menggunakan model OLS atau yang biasa kita sebut Regresi Linier Berganda sebagai acuan analisis.

(22)

Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa R-squared yang dihasilkan pada model ini lebih besar daripada model OLS. Namun signifikansi Likelihood Ratio Test yang dihasilkan adalah sebesar 0,68641, yaitu lebih besar dari tingkat signifikansi (α) yang digunakan yaitu 0,05. Yang artinya gagal tolak Ho. Kita juga dapat melihat nilai AICc pada model ini, yaitu sebesar 220,371. Dimana angka ini lebih besar daripada AICc untuk kedua model lainnya. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa spatial lag kurang cocok digunakan dalam kasus ini.

(23)

Apabila kita melihat pada nilai AICc, model ini memberikan nilai AICc yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan model OLS, yang menandakan bahwa model ini lebih baik. Namun, untuk mendeteksi apakah model spatial error cocok digunakan atau tidak , kita juga dapat melihat pada lambda. Dari hasil diatas,signifikansi lambda adalah sebesar 0,22790 yangmana lebih besar daripada tingkat signifikansi (α) yaitu sebesar 0,05, yang menunjukkan bahwa lambda tidak signifikan.

Oleh karena itulah, model spatial error juga kurang cocok digunakan pada kasus ini, mesipun R-squared yang dihasilkan lebih tinggi dari model yang lain.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan dan Diskusi

1. Seluruh variabel yang digunakan dalam penulisan paper ( proporsi wanita usia subur yang tidak menggunakan KB (Y1), proporsi wanita usia subur yang memiliki pengetahuan tentang KB (X1), proporsi wanita usia subur yang bekerja(X2), proporsi wanita usia subur yang terkena paparan media massa tentang keluarga berencana(X3), proporsi wanita usia subur yang membatasi jumlah anak (X4) ) telah memenuhi asumsi normalitas dengan tingkat signifikansi(α) yang digunakan yaitu sebesar 0,05. Artinya telah memenuhi syarat untuk model regresi linier yang baik

2. Tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada variabel bebasnya dengan tingkat siginifikansi (α) sebesar 0,05 (artinya memiliki variabel residual yang konstan).

3. Pada variable bebasnya terdapat autokorelasi sebesar 0.358918 , tetapi bersifat lemah dan tidak berpengaruh.

(24)

5. Dari 4 variabel bebas yang diuji dalam Regresi Linier Berganda , terdapat 2 variabel yang signifikan, yaitu persentase wanita yang memiliki pengetahuan mengenai alat kontrasepsi dan persentase wanita yang membatasi jumlah anak. Hal tersebut dikarenakan, 2 variabel bebas lain yaitu media massa dan wanita yang bekerja memiliki korelasi yang kecil terhadap variabel respon.

6. Setelah dilakukan pengujian lagi dengan mengeluarkan kedua variabel yang tidak signifikan , diketahui bahwa hubungan antara variabel bebas (X1 dan X4) dengan variabel tidak bebasnya adalah negatif.

= 138,7418 – (0,65282) – (0,3930236) +

7. Tidak terdapat dependensi spasial dalam data. Oleh karena itu, pada kasus ini peneliti hanya menggunakan model OLS atau yang biasa kita sebut Regresi Linier Berganda sebagai acuan analisis

5.2 Saran

1. Bagi Pemerintah. Dalam kebijakannya untuk mengurangi angka pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi , seharusnya Pemerintah dapat mengevaluasi kembali proses sosialisasi tentang pentingnya program KB kepada masyarakat Indonesia. Untuk selanjutnya , harus dihasilkan proses pemahaman masyarakat terhadap KB yang maksimal dan menyeluruh . Sebab ketidaktahuan pemahaman pentingnya KB bagi keluarga, menjadi faktor utama kurangnya penggunaan KB yang berakibat pada tingginya angka kelahiran penduduk.

2. Bagi Pemerintah kembali, Sebaiknya juga memberikan proporsi yang lebih banyak dan jelas bagi kaum wanita untuk mendapat jatah pekerjaan dan tempat bekerja, baik dalam instansi pemerintahan, perusahaan, industri, dsb. Misalkan dengan membuat aturan perundangan khusus yang mengatur hal tersebut. Sesuai penelitian kami bahwa wanita yang bekerja (berkarir) mempunyai kecenderungan untuk membatasi keturunannya. 3. Bagi peneliti, sejujurnya cukup sulit untuk dapat memperoleh variabel

(25)

variabel variabel lain yang berpengaruh. Hasil penelitian ini besar manfaatnya bagi Pemerintah dalam mengambil kebijakan guna mengatasi masalah kependudukan di Indonesia.

Daftar Pustaka

Astuti, Eni, dkk.2014.Deskriptif Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Wanita Usia Subur(WUS) Tidak Meggunakan Alat Kontrasepsi. Akademi Kebidanan YLPP : Purwokerto.

Marliza, Anastasia.2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu Untuk Menggunakan Implant Sebagai Alat Kontrasepsi Di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Universitas Pengairan : Medan.

Salviana,dkk.2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi Rendahnya Minat Untuk Menggunakan Metode Kotrasepsi Hormonal (Implan) Pada Akseptor KB di Puskesmas Kassi-Kassi Masakar. Makasar.

Bab II “Tinjauan Pustaka”.24 Februari 2016. (Online:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31811/4/Chapter%20II.pdf.)

Bab II “Tinjauan Pustaka”.24 Februari 2016. (Online :

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/47515/4/Chapter%20II.pdf)

Inayati Nur Fatmah, Drs. Hery Tri Sutanto, M.Si. Pemodelan Faktor-Faktor yang mempengaruhi Balita Gizi Buruk di Jawa Timur Dengan Pendekatan Regresi Spasial.

(26)

Denny Nurdiansyah. 2014. Uji Asumsi Klasik Regresi Linier. (Online :

Referensi

Dokumen terkait

Auditors should perform procedures designed to obtain sufficient appropriate audit evidence that all material subsequent events up to the date of the audit report which

Dan studi ini dipusatkan pada fungsionalitas dalam Paviliun Jantung RS X. Hasil temuannya ialah Paviliun ini sudah memenuhi standar, hal ini terlihat pada terpenuhinya checklist

Oleh karena itu dirasa perlu untuk mengatur keseimbangan baru antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten kota, maka pada tahun 2014 ditetapkan UU 23 tahun 2014

Cerita Malin Kundang adalah sebuah legenda yang hidup di Minangkabau, wilayah budaya yang luasnya meliputi kurang lebih wilayah Provinsi Sumatra Barat. Legenda ini

Maka interpretasinya adalah, Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel faktor individu, dan faktor teknologi secara simultan/bersama berpengaruh signifikan terhadap

Siklus regeneratif menggunakan uap yang diekstraksi dari turbin untuk memanaskan fluida kerja pada tingkat keadaan cair jenuh yang dipompakan menuju boiler,

Berdasarkan asas di atas, penulis menganalisis bahwa 40 (empat puluh) putusan undang-undang yang bertentangan dengan UUD 1945 yang dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi pada

Pada tabel 3.33 dan 3.40 akan menggambarkan mengenai hambatan waktu yang ditemui oleh lansia Kota Surabaya pada saat memenuhi kebutuhan informasinya, yang berisi