• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Budaya Masyarakat Belanda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Latar Belakang Budaya Masyarakat Belanda"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LATAR BELAKANG SOSIAL MASYARAKAT

BELANDA TERHADAP LEGALISASI PERNIKAHAN SESAMA

JENIS DARI PERSPEKTIF ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI

Pengantar Penelitian Ilmiah

Genta Maulana Mansyur

Ilmu Hubungan Internasional

1406618833

Universitas Indonesia

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia memiliki hak yang terinternalisasi sejak mereka dilahirkan di dunia sebagai seorang individu dengan pilihan untuk mendapatkan kebebasan. Salah satu hak mendasar yang harus dimiliki setiap manusia adalah kebebasan untuk mencintai individu lain dan melakukan legalisasi hubungan percintaan mereka dalam lembaga sosial berupa pernikahan tanpa melihat jenis kelamin, suku, ras, agama atau kelompok sosial yang melatar-belakangi keduanya (Tahmindjis 2014, 121). Tetapi, hak ini kerap kali dilanggar karena tidak terdapatya hukum legal tertulis yang dibuat untuk menjamin hak tersebut dapat diperoleh oleh semua manusia. Sampai pada tahun 2001, dunia digemparkan oleh putusan kontroversial pengadilan Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis di seluruh wilayah negara Belanda dan persemakmurannya (CNN News, 2001). Peristiwa ini membawa kabar gembira bagi kaum LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) di sana, bahkan di dunia, karena hubungan mereka dapat dilegalisasi seperti laiknya kaum heteroseksual; manusia pada umumnya.

(3)

1. Belanda Sedangkan, terdapat 13 negara yang meskipun belum melegalkan pernikahan sesama jenis, memberikan perlindungan kepada kaum LGBT untuk mendapatkan jaminan layanan umum sebagai keluarga, Ibid. yakni :

1. Kolombia

(4)
(5)

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Hak Asasi Manusia

Menurut Jack Donnely (2003), Hak Asasi Manusia adalah hak fundamental yang tak dapat dicabut dari manusia sebagaimana kodratnya sebagai mahluk hidup yang bebas. Ini secara implisit mengatakan bahwa Hak asasi adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memiliki hak tersebut bukan karena diberikan kepadanya oleh pihak manapun atau berdasarkan hukum alam, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia dan hak itu merupakan pemberian dari tuhan yang maha esa.

II.2 Perspektif Antropologis

Dalam antropologi, dibahas hubungan antar manusia berdasarkan kultur yang terbentuk dari proses evolusi kebudayaan selama berabad-abad, sehingga menjadi dasar pemikiran antar individu dalam menentukan reaksi atas apa yang mereka dapati dalam kehidupan sehari-hari. Warga Belanda, sebagai masyarakat barat kontemporer, menurut Kottak;

“Contemporary Western societies stress the notion that romantic love is necessary for a good marriage. Increasingly this idea characterizes other cultures as well. Described in this chapter’s “Appreciating Anthropology” is a cross-cultural study that found romantic ardor to be wide- spread. The mass media and migration increasingly spread Western ideas about the importance of love for marriage to other societies. However, marriages in the non-Western societies where anthropology grew up, even when cemented by passion, remain the concern of social groups rather than mere individuals. The scope of marriage extends from the social to the political. Strategic marriages are tried and true ways of establishing alliances between groups.”

(6)

memiliki, pernikahan tetap saja lebih merupakan kepentingan grup sosial daripada kedua individu yang menikah. Perbedaan ini disebabkan karena pada masyarakat timur, lingkup pernikahan melebar dari kebutuhan sosial individual menjadi kepentingan politis grup sosial di mana kedua individu tersebut tinggal. (Kottak 2010, 271).

Dari pendapat di atas, dapat ditentukan bahwa pengadilan Belanda melegalkan pernikahan sesama jenis, dari perspektif antropologis, dilatar-belakangi kebudayaan dan nilai etis warga Belanda yang berhaluan barat kontemporer. Alasan ini pula yang menyebabkan negara-negara di Asia dan Afrika (non-barat kontemporer) urung, bahkan menolak, untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, karena latar belakang kultural di area tersebut masih menitik-beratkan pernikahan sebagai kepentingan penanaman status sosial di sana.

II.3 Perspektif Sosiologis

Dalam sosiologi terdapat kajian mengenai masyarakat multikultural, yaitu sistem himpunan masyarakat di suatu area tertentu yang terdiri dari berbagai kelompok dengan latar belakang kebudayaan yang bebeda. Masyarakat multikultural merupakan ragam masyarakat yang paling rentan terkena konflik intra anggota kelompok. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pandangan yang terdapat dalam perbedaan kultur antar masyarakat menyebabkan setiap kelompok anggota masyarakat memiliki perspektif masing-masing dalam menghadapi sebuah kasus tertentu. Untuk menciptakan perdamaian di tengah masyarakat multikultural, menurut Piere L. van den Berghe (1987), harus terdapat toleransi yang baik di antara para.

(7)

harus terdapat toleransi yang baik, termasuk mengenai perbedaan orientasi seksual. Menariknya, warga Belanda telah sadar akan pentingnya toleransi; didukung oleh hasil voting yang dilakukan oleh dewan legislatif Belanda pada tahun 2000, yang menunjukkan bahwa 109 anggota setuju untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, melampaui 33 anggota yang tidak setuju (New York Times, 2000).

Tingkat toleransi yang dimiliki oleh warga Belanda juga dapat diketahui dari hasil survey yang dilakukan oleh IFOP (Institut français d'opinion publique; institut riset internasional Perancis) pada Juni, 2013, menunjukkan bahwa 85% warga Belanda masih tidak berkeberatan tentang legalisasi pernikahan sesama jenis bahkan setelah lebih dari satu decade putusan tersebut dibuat (IFOP, 2014). Hasil tersebut dapat menjustifikasi bahwa latar belakang sosiologis warga Belanda yang sangat toleran mendukung penuh terhadap legalisasi pernikahan sesama jenis di sana.

(8)

BAB III

PENUTUP

III.1 Simpulan

Terdapat dua alasan utama warga Belanda mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis berdasarkan perspektif antropologis dan sosiologis yang dapat penulis simpulkan, yakni:

1. Dari perspektif antropologis, Belanda melegalkan pernikahan sesama jenis karena budaya masyarakatnya yang berhaluan barat kontemporer menekankan kepentingan rasa cinta romantis agar terciptanya pernikahan yang baik.

2. Dari perspektif sosiologis, kesadaran masyarakat Belanda akan pentingnya toleransi dalam multikulturalisme yang terdapat di antara mereka membuat wacana legalisasi pernikahan sesama jenis didukung dengan baik

Dari dua alasan di atas, dapat dikatakan bahwa latar belakang budaya dan pola pikir masyarakat Belanda memang mendukung dilegalkannya pernikahan sesama jenis. Dukungan latar belakang sosial tersebut diperkuat oleh hasil voting dewan legislatif, sebagai wakil rakyat, yang menunjukkan bahwa 109 anggota dewan menyetujui legalisasi pernikahan sesama jenis, melampaui 33 orang yang menentang mosi tersebut. Sehingga, pengadilan Belanda dapat melakukan legalisasi terhadap pernikahan sesama jenis pada tahun 2001.

III.2 Saran

(9)

1. Memperluas cakupan negara sampel tidak hanya di negara Belanda, tetapi di negara-negara lain yang juga melegalkan pernikahan sesama jenis agar data yang didapatkan menjadi lebih valid dan dapat digeneralisasi.

2. Mencari pula alasan-alasan yang melatar-belakangi negara-negara lain urung membuat kebijakan legalitas pernikahan sesama jenis, atau bahkan negara yang jelas mengilegalkan praktek pernikahan sesama jenis agar terdapat pembanding yang memperjelas perbedaan pola pikir atau pandangan yang ada.

3. Perspektif pengkajian alasan diperluas dari cabang keilmuan lain seperti psikologi, ekonomi, politik, agama, atau sejarah agar karya tulis yang dibuat dapat menjadi lebih informatif bagi akademisi dari berbagai kalangan dan spesialisasi kelimuan.

4. Dasar pembahasan alasan dari masing-masing perspektif diperkaya tidak hanya dari satu atau dua sumber teori ahli, mengingat terdapat pula perbedaan sudut pandang para ilmuan meski dalam satu bidang keilmuan yang sama.

(10)

BIBLIOGRAFI

Berghe , Pierre L. van den. 1987. The Ethnic Phenomenon. Wesport: Greenwood.

Donnely, Jack. 2003. Universal Human Rights in Theory and Practice, 2nc Edition. New York: Cornell University Press.

Kottak, Conrad Phillip. 2010. Cultural anthropology: Appreciating cultural diversit, 14th Edition. New York: McGraw-Hill.

Tahmindjis, Phillip. 2014. Sexuality and Human Rights: A Global Overview. London: Routledge.

“Dutch Legislators Approve Full Marriage Rights for Gays.” New York Times, 13 September 2000. http://www.nytimes.com/2000/09/13/world/dutch-legislators-approve-full-marriage-rights-for-gays.html?

scp=2&sq=Norway+Gay+Marriages&st=nyt. (18 September 2014.)

“Droitisation sur la plan sociétal ? Des opinions publiques européennes qui, sauf exception, sont massivement acquises au droit au mariage et à l’adoption pour les couples homosexuels.” Enquête sur la droitisation des opinions publiques. http://www.ifop.com/media/poll/2255-1-study_file.pdf. (19 September 2014.)

“Freedom to Marry Internationally.” Freedom to Marry Organization

http://www.freedomtomarry.org/landscape/entry/c/international. (15 September

2014.)

“Same Sex Marriage Legalized in Amsterdam.” CNN News, 1 April 2001.

http://transcripts.cnn.com/TRANSCRIPTS/0104/01/sm.10.html. (16 September

(11)

DAFTAR GAMBAR

1. Hal. 3. Figure 1. Peta persebaran negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis berdasarkan dukungan pemerintah atau otoritas setempat.

Gambar

Figure  1. Peta persebaran neegara yang melegalkan pernikahan sesama jenis berdasarkandukungan pemerintah atau otoritas setempat.
Figure 2. Grafik hasil survey dukungan warga Belanda terhadap pernikahan sesama jenis

Referensi

Dokumen terkait

Dengan bimbingan guru, siswa dapat menceritakan kembali isi teks cerita narasi tentang menjaga keselamatan bekerja di rumah dengan bahasa yang santun.. Dengan tanya jawab, siswa

Skripsi yang berjudul: Perbandingan Hasil Belajar Matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Missouri Mathematics Project (MMP) dan Pembelajaran Konvensional pada

Jika anda tertarik untuk membudidayakan tanaman buah berwarna merah ini, anda tidak perlu khawatir karena pada kesempatan kali ini JualBenihMurah.com akan memberikan ulasan

Gambar 3.1 Kerangka Kerja Pada gambaran perilaku ibu tentang pemenuhan gizi ibu hamil per trimester di BPM Gunarmi kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo……… 60.

Pada hari ini Senin tanggal delapan bulan Oktober tahun dua ribu dua belas, kami Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Barang Tim 6 Unit Layanan Pengadaan

secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian, jenis, karakteristik, lingkup usaha jasa wisata; serta hubungan antara berbagai usaha jasa wisata guna

Dari teknologi ini, hanya tekanan tinggi telah terbukti berkesan dalam menghapuskan semua spora dan enzim disamping mengekalkan tahap mutu yang sama atau lebih

5) melaporkan hasil pelaksanaan wasrik yang menjadi tugas dan kewajibannya kepada Irjen TNI; dan.. 6) Irops dibantu oleh empat orang Inspektur Utama yang