• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Yenrizal Komunikasi Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Yenrizal Komunikasi Lingkungan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Komunikasi Lingkungan Dalam Antisipasi Bencana

di Desa Tanah Pilih, Kabupaten Banyuasin,

Sumatera Selatan

Oleh : Yenrizal

(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah Palembang, email : [email protected], [email protected])

Pendahuluan

Bencana alam adalah fenomena yang selama ini kerap melanda berbagai wilayah, khususnya di Indonesia. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, gunung meletus, dan sebagainya. Data dari BNPB menyebutkan bahwa untuk Juni 2017 saja tercatat setidaknya sudah ada 1.368 peristiwa, dan banjir serta tanah longsor berada di peringkat pertama, menyusul gelombang pasang/rob, gempa bumi serta puting beliung. Ini merupakan fakta yang tak terbantahkan dan selalu berpotensi untuk terjadi di masa-masa selanjutnya.

Tidak hanya satu wilayah atau provinsi saja, bencana bisa ada dimana saja. Ini terkait dengan variasi gejala alam yang terus bertambah. Sebagai contoh, fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa dikatakan fenomena yang baru muncul sejak 20 tahun terakhir, sebelumnya karhutla tidak terlalu besar. Begitu juga dengan gelombang pasang dan tanah longsor, adalah fenomena yang selalu menguat dari tahun ke tahun.

(2)

itu, gelombang pasang, banjir, rob, juga aspek yang harus dicermati. Khusus gelombang pasang/rob dan banjir umumnya berada di wilayah perairan, yang merupakan kawasan dominan di provinsi ini.

Karakteristik Sumatera Selatan memang memiliki keragaman kawasan daratan dan perairan. Komposisinya hampir berimbang, dimana sebelah timur berbatasan dengan pantai timur Sumatera, sehingga menjadikan daerah ini sebagai kawasan dataran rendah. Sebagian lagi berada di daerah dataran tinggi, tepatnya perlintasan Bukit Barisan. Data dari BPS Sumatera Selatan menunjukkan bahwa ketinggian daerah ini berkisar 0-289 m dpl. Terbanyak adalah daerah dataran rendah.

Atas dasar itu, maka penduduk yang mendiami daerah ini juga memiliki variasi pada tradisi dan kebiasaan. Begitu pula dengan keragaman etnik, karena memang daerah ini kerap menjadi daerah yang didatangi oleh warga lain. Posisi pada jalur Selat Bangka dan banyaknya sungai-sungai besar menyebabkan daerah ini menjadi jalur yang strategis. Keragaman etnis ini banyak ditemukan di daerah perairan, terutama Kabupaten Banyuasin, Palembang, Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Etnis disinyalir sebagian besar sudah ada sejak lama, mendiami wilayah-wilayah yang sekarang berada daerah pinggiran.

Keterkaitan antara penduduk dengan lingkungan merupakan sebuah keniscayaan. Sebuah model dari AT Rambo (1984) telah menunjukkan hal tersebut yang disebutnya sebagai social system-ecosystem interaction models. Pada model ini, Rambo percaya bahwa antara manusia dengan lingkungan memiliki interaksi yang rapat, yang dibagi menjadi interaksi energi, materi, dan informasi. Lingkungan bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dinamis mengikuti perlakuan yang diberikan oleh manusia.

(3)

interaksi dengan lingkungan ini.

Gagasan di atas juga yang menjadi landasan berpikir dalam penelitian ini, dimana pernah disampaikan bahwa salah satu kajian penting dalam komunikasi lingkungan adalah Etnoekologi Komunikasi (Yenrizal, 2015), yaitu sebuah perspektif dalam melihat sudut pandang hubungan manusia dengan lingkungan dalam perspektif manusia itu sendiri. Tekanannya adalah pada keterkaitan dan keterhubungan yang terjadi, sehingga fokus yang dicapai adalah keseimbangan dan keserasian hubungan. Komunikasi lingkungan bukan sekedar berbicara bagaimana menjaga lingkungan, namun juga pada aspek kemampuan belajar dan beradaptasi manusia dengan lingkungan tersebut (Yenrizal, 2017).

Pada konteks inilah, penelitian ini memfokuskan diri, terutama melihat lokasi Desa Tanah Pilih, Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Desa ini merupakan desa terluar di Sumsel, berada di perbatasan dengan Jambi, tepatnya di pesisir timur Selat Bangka. Saat ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS). Sebagai desa dataran rendah, daerah ini sangat akrab dengan pasang surut air laut. Saban hari selalu saja luapan air laut masuk hingga ke kolong-kolong rumah penduduk. Tak heran, ancaman gelombang pasang, abrasi pantai menjadi hal yang terbiasa dihadapi masyarakat. Air pasang ini tidak hanya ke wilayah pemukiman, tetapi juga sampai ke kebun-kebun yang dikelola warga. Disinilah diperlukannya kemampuan tersendiri dalam memaknai fenomena alam, sehingga bencana air pasang, rusaknya lahan pertanian, bisa diantisipasi.

(4)

Tanah Pilih tentang lingkungan sekitar mereka sebagai antisipasi terhadap potensi bencana yang bakal terjadi. Terkait dengan hal itu juga ditekankan pada aspek bentuk-bentuk konkrit apa saja pemaknaan tersebut diwujudkan oleh masyarakat setempat.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode etnograi komunikasi. Perspektif untuk melihat ini menggunakan kerangka etnoekologi komunikasi (Yenrizal, 2015), yaitu melihat permasalahan dalam sudut pandang masyarakat setempat, yang kemudian dijadikan sebagai makna bersama untuk kepentingan kehidupan mereka.

Secara praktis, peneliti berada dalam kehidupan masyarakat Desa Tanah Pilih pada periode waktu tertentu, berinteraksi dengan warga setempat, mengalami dan mengamati bagaimana masyarakat hidup dalam lingkungan setempat. Berbagai terminologi-terminologi lokal, kebiasaan-kebiasaan, pola-pola lokal, dan hubungan yang terbentuk menjadi bahan amatan penting dalam penelitian ini.

Pada tahap akhir, seluruh data dianalisis menggunakan tradisi dalam penelitian kualitatif, sebagaimana Creswell (1998) menjelaskan tentang analisis data pada penelitian etnograi. Analisis berlangsung selama periode penelitian tersebut dilakukan, mulai dari tahapan penelitian lapangan hingga penulisan laporan. Diskusi teman sejawat juga menjadi aspek penting dalam analisis, karena akan membantu dalam penguatan analisis.

Pembahasan

Desa Tanah Pilih merupakan sebuah kawasan dataran rendah yang secara administratif masuk dalam Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Daerah ini bisa dikatakan ditempati oleh satu kelompok etnis yang homogen, tetapi bukan dari etnis Sumsel. Penduduk yang mendiaminya adalah etnis Bugis, Sulawesi Selatan.

(5)

lokal di Sumsel dulunya). Pesirah selaku kepala Marga memberikan lahan kepada kelompok di daerah Sungai Terusan Dalam. Disinilah awal kehidupan bermula. Delapan orang pendatang yang dikoordinir oleh H Bawang, mulai membuka hutan. Kondisi saat itu masih hutan belantara dengan alur-alur sungai yang dalam dan banyak binatang buas. Harimau, Beruang, Ular, serta Buaya adalah satwa liar yang kerap mengintai. Sejak 1969 hingga 2000, warga menetap di wilayah ini. Sampai kemudian di tahun 2000, mereka pindah ke pinggiran Sungai Benuh, sekitar 5 km dari Sungai Terusan Dalam, dikarenakan terjadinya abrasi pantai dan pendangkalan Sungai Terusan Dalam. Lokasi pindah yang baru disebut dengan Tanah Pilih, sebuah daerah yang memang dianggap pilihan terbaik bagi warga.

Secara administratif desa ini cukup luas, walaupun sampai sekarang tidak ada data pasti. Penduduk meyakini bahwa awalnya desa seluas 74,2 Km2, namun sekarang tersisa sekitar 30.000 Ha. Hal ini disebabkan adanya penetapan kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang yang masuk dalam wilayah desa. Tahun 2014, Desa Tanah Pilih di inclave (dikeluarkan)dari kawasan TNBS. Batas administratif desa ini adalah Sebelah Barat berbatasan dengan TNBS dan Desa Muara Merang, Timur dengan Selat Bangka/Laut Cina Selatan, Utara dengan Desa Sungai Benuh, Jambi, dan Selatan dengan Sungai Tiram, TNBS. Jumlah penduduk saat ini mencapai 1.445 jiwa yang saat ini sudah memiliki tambahan dari beberapa warga lain yang datang dan bermukim untuk mencari ikan. Pendatang ini umumnya berada terpisah dari pemukiman penduduk asli, bermukim di sepanjang Sungai Benuh.

(6)

dengan Selat Bangka. Profesi nelayan dilakukan oleh hampir seluruh warga Desa Tanah Pilih. Dimasing-masing rumah warga juga terdapat gedung sarang burung walet, yang merupakan sumber penghasilan sampingan yang juga sangat menjanjikan. Oleh karena itu, kondisi ekonomi masyarakat bisa dikatakan sangat baik, kendati dari sisi aksesibilitas dan telekomunikasi sangat terbatas sekali.

Desa ini tidak bisa dilalui lewat jalur darat, terutama dari Palembang. Satu-satunya transportasi hanyalah dari jalur sungai dan laut. Dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampai ke lokasi ini dari Palembang. Sementara jaringan telekomunikasi tidak ada sama sekali. Warga harus pergi ke desa sebelah untuk bisa melakukan hubungan telepon. Kondisi ini tidaklah menjadi hambatan dalam pengembangan ekonomi warga sekitar. Hasil bumi yang sangat baik, begitu juga dengan hasil perikanan yang sangat menjanjikan, bisa membuat perekonomian berjalan baik.

Posisi desa yang berada di pinggiran Selat Bangka menyebabkan desa ini merupakan desa dengan karakteristik pasang surut. Di sore hari, sekitar pukul 18.00 WIB hingga ke subuh sekitar pukul 6.00, aliran air Sungai Benuh dan aliran air laut akan masuk sampai ke kolong-kolong rumah warga. Selain waktu tersebut, air akan surut dan hamparan tanah di bawah rumah akan mudah terlihat. Disinilah konteks bencana alam menjadi sangat mudah menerpa masyarakat. Tipe bencana yang dialami adalah pasang surut air, kekeringan dan abrasi pantai. Inilah yang dulu pernah menyebabkan masyarakat pindah pemukiman ke Sungai Benuh. Bencana ini memang tidak menimbulkan korban jiwa secara langsung, tetapi berpengaruh besar terhadap kondisi perekonomian. Oleh karena itu, bagaimana masyarakat memaknai lingkungannya menjadi sangat penting sekali.

(7)

Masing-masing kawasan yang dikelola masyarakat tersebut memiliki peruntukan dan mendapat perlakuan tersendiri. Kawasan parit air merupakan kawasan yang pertama sekali dikelola masyarakat. Hasil wawancara serta pengamatan lapangan menunjukkan bahwa parit-parit air ini merupakan unsur pertama yang dibuka warga, bahkan sejak mendiami kawasan di Sungai Terusan Dalam. Parit-parit ini dibuat memanjang dengan muara ke arah Sungai Terusan Dalam dan Sungai Benuh. Panjang masing-masing parit berkisar 5 km dari bibir sungai dengan lebar berkisar 1 - 1,5 meter. Tentu saja ini memerlukan pekerjaan berat dan luar biasa di awal pembukaan wilayah sekitar tahun 1969-1970. Di saat segalanya sangat terbatas, belum ada teknologi, masih berupa hutan rimba, banyaknya ancaman binatang buas, masyarakat sudah melakukan pembuatan parit.

Pembuatan parit dilakukan dengan menggali tanah dengan terlebih dahulu membersihkan bagian-bagian tertentu, termasuk menebang pohon. Ini harus dilakukan karena aliran air pasang surut akan masuk dengan mudah ke semua wilayah, sehingga setiap pasang, air akan menggenang. Kedalaman parit awalnya berkisar 1 – 1,5 meter. Pada saat ini sudah dilakukan pendalaman parit hingga mencapai 2 meter.

Bagi masyarakat pembuatan parit ini adalah pengetahuan yang diperoleh dengan melihat kondisi wilayah. Penjelasan dari Paduapai (76 th), tokoh pendiri awal kawasan yang masih hidup saat ini menyebutkan bahwa saat awal datang ke lokasi ini, yang pertama dicermati adalah keadaan tanah dan air. Saat itu tanah terlihat basah dan di sore hari terendam air, terutama kawasan pinggiran sungai. Luapan air yang sebagian terasa asin ini juga masuk sampai ke daerah daratan, lokasi yang diprediksi masyarakat bisa menjadi lahan pertanian. Atas dasar itulah masyarakat kemudian membangun parit-parit, yang ditujukan sebagai saluran penampungan air, sehingga air laut dan air sungai yang asam tidak masuk ke daratan.

(8)

dengan laut, mereka membuat persawahan.

Pengetahuan tentang pembuatan parit diyakini warga bermula dari pengamatan terhadap kondisi lingkungan yang ada. Dalam bahasa lain, ini adalah wujud dari pemaknaan terhadap fenomena lingkungan. Pemaknaan ini ternyata tidak berlangsung begitu saja, tetapi adalah proses yang kemudian dirembugkan dan dimusyawarahkan. Paduapai menyebutkan bahwa mereka (pendatang awal) kerap berkumpul dan bersama-sama mengerjakan pembuatan parit. Kumpul-kumpul ini dilakukan saban hari mengingat bahwa realitas lingkungan tidak bisa dipastikan, realitas alam kerap berubah-rubah. Mereka biasanya berkumpul di pondok-pondok yang sudah dibuat, memperbincangkan kondisi yang ada, dan kemudian melaksanakannya. Pemimpin saat itu adalah H Bawang, tokoh yang dianggap pemimpin kelompok.

Pemaknaan masyarakat terhadap kondisi alam menjadi penting, dan inilah esensi komunikasi lingkungan yang dilakukan warga. Bentuk pemaknaan yang dilakukan, paling utama adalah dengan membagi zonasi wilayah, yaitu zona pemukiman dan aktiitas sosial masyarakat (pinggiran Sungai Benuh), zona perkebunan kelapa dan pisang (dibelakang pemukiman) dan zona persawahan di bagian belakang perkebunan kelapa. Zona ini disesuaikan dengan kondisi alam, terutama pasang surut air laut dan ketinggian daratan. Selain itu, zona penangkapan ikan berada di laut atau Selat Bangka.

(9)

Wujud pemaknaan seperti di atas tidak berlangsung begitu saja, tetapi terus diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Generasi awal sudah memulai dengan membuat parit dan membagi zona-zona yang ada. Selanjutnya ini diteruskan pada generasi berikut. Meneruskan ini merupakan peristiwa komunikasi tersendiri, yang berlangsung dari beberapa tahapan dan klasiikasi masyarakat. Proses “mewariskan” pemaknaan ini yang kemudian menjadi fenomena komunikasi lingkungan dalam antisipasi bencana.

Klasiikasi pertama adalah pada sesama generasi tua/dewasa. Umumnya ini adalah warga dengan kelompok usia 40 tahun ke atas. Komunitas ini cukup banyak, mereka membentuk kelompok tersendiri secara informal, tidak terbentuk dalam suatu organisasi khusus. Kelompok ini biasanya bertemu pada sore dan malam hari di pinggiran sungai, sembari menunggu beberapa kapal nelayan yang pulang melaut. Pertemuan ini memang tidak rutin, karena tidak semua warga ikut, tetapi dengan luas wilayah yang relatif kecil dan pemukiman yang mengelompok, informasi bisa menyebar secara cepat. Selain itu kelompok ini rutin bertemu pada saat sholat magrib dan sholat Jum’at di masjid desa. Ini adalah masa pertemuan yang paling mendasar. Selain itu pertemuan juga berlangsung pada saat adanya acara keramaian di desa, seperti pernikahan, ataupun acara kematian warga. Mereka selalu hadir dan berkumpul.

Topik-topik yang dibicarakan adalah seputar kehidupan sehari-hari, terutama tentang kondisi laut dan kondisi lahan pertanian. Disinilah masalah bencana berupa abrasi pantai dan ketinggian air laut menjadi topik menarik bagi warga. Warga terbiasa untuk memperbincangkan masalah ketinggian gelombang laut, kekuatan angin, yang kemudian ini akan berefek pada kondisi lahan pertanian yang dikelola warga. Obrolan biasanya berlangsung santai dan dalam kondisi yang setara. Sikap egaliter dimunculkan disini, kendati ada perangkat desa sebagai pemimpin formal, tetapi semua warga diperbolehkan untuk mengemukakan pendapatnya.

(10)

dan penurunan nilai-nilai lingkungan pada generasi muda dilakukan secara langsung, terutama dengan mengajak mereka untuk ikut dalam mengolah lahan. Hal ini tampak secara nyata bagaimana keterlibatan kelompok anak muda dalam berkebun dan bersawah, begitu juga dengan aktiitas ke laut. Bahkan untuk aktiitas melaut, generasi muda inilah yang menjadi andalan pada saat ini.

Kelompok remaja biasanya berkumpul pada kegiatan olahraga, yang lazim dilakukan adalah sepakbola dan bola voli. Mereka memiliki lapangan sendiri dan melaksanakan aktiitasnya di sore hari. Disinilah obrolan tentang lingkungan dan kondisi keseharian biasanya berlangsung.

Pola komunikasi yang berlangsung menunjukkan fenomena multitahap dan berjenjang sesuai kelompoknya. Secara sederhana bisa dilihat dari bagan berikut.

Bagan 1. Pola Komunikasi Lingkungan dalam Antisipasi Bencana pada Masyarakat Desa Tanah Pilih

Sumber : hasil analisa penelitian lapangan, 2017

(11)

diberikan masyarakat. Sejak 2015, sudah muncul pula potensi bencana lain yaitu kebakaran hutan saat musim kemarau.

Guna mengantisipasi luapan air laut dan sungai yang akan menganggu dan mengancam pemukiman warga, dilakukan dengan cara beradaptasi dengan kondisi lokal. Mereka tidak melawan atau melakukan rekayasa-rekayasa teknologi, tetapi menyesuaikan dengan fenomena alam yang ada. Cara terbaik adalah membangun pemukiman dan perkampungan dengan posisi tidak memijak tanah. Semua rumah dan bangunan yang ada di desa ini berada di atas tanah, bahkan juga dengan lorong dan jalan di dalam desa. Pengecualian hanya jalan menuju kebun, karena posisinya sudah sedikit lebih tinggi dari permukaan air. Ketinggian pemukiman dari permukaan tanah berkisar 1-2,5 meter. Perhitungan ini dibuat dari perkiraan ketinggian air saat pasang.

Sudah sangat lazim jika lorong dan jalan desa terbuat dari kayu-kayu yang disusun, dan dibawahnya air sungai akan leluasa untuk masuk ketika pasang terjadi. Bahkan di bawah jalan-jalan kayu tersebut juga menjadi tempat penyimpanan kayu warga, yang sengaja merendam kayu agar tidak lapuk dan tahan lama.

Pengetahuan tentang penataan permukiman, termasuk mengatur bentuk rumah yang semuanya berbentuk panggung adalah bentuk dari pemaknaan masyarakat terhadap kondisi alam. Mereka menyadari sekali bahwa tidak akan mungkin melawan kondisi alam yang ada, apakah dengan jalan menimbun rawa atau membendung sungai untuk menciptakan daratan. Melakukan itu akan sia-sia sama sekali dan tentu saja semakin memperkuat abrasi dan pendangkalan pantai yang akan terjadi. Model seperti ini bisa dibandingkan dengan penelitian Lahajir (2001) tentang masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, yang menunjukkan model pemukiman panggung didasarkan pada keamanan dan kenyaman warga.

(12)

sama dan sederajat.

Wujud dalam memaknai lingkungan, terutama dengan pembuatan parit diwariskan terus ke generasi selanjutnya dan harus terus dipelihara. Untuk ini, warga membuat organisasi khusus yang disebutnya Kelompok Parit. Masing-masing kelompok dikoordinir oleh seorang Ketua Parit, sementara anggotanya adalah semua warga yang memiliki kebun di sepanjang parit. Keanggotaan ini diperluas dengan melibatkan semua anak-anak muda yang orangtuanya berkebun disekitar parit tersebut. Pada konteks ini, pewarisan sistem parit dan sistem permukiman di atas tanah terus diwariskan dan ini menjadi peristiwa komunikasi yang berkelanjutan. Antisipasi bencana bisa terus dilakukan, karena parit yang dibuat dan pola permukiman mengikuti bentuk topograi alam serta adaptif dengan alur air masuk dan keluar.

Apa yang dilakukan warga Tanah Pilih, adalah fakta-fakta komunikasi lingkungan yang bersifat egaliter dan ramah terhadap kondisi alam. Apabila dikonirmasikan dengan gagasan dari Jurin (2010), ini merupakan bentuk proses komunikasi yang berlansung setiap saat. Fenomena lingkungan selalu terjadi dan tidak bisa diputus pada satu waktu saja. Memaknai lingkungan adalah peristiwa yang berkelanjutan, serta punya nilai strategis untuk selalu diwariskan. Jurin kemudian menyebut ini dengan istilah environmental educations, yang mengarah pada aspek pendidikan secara khusus kepada kelompok tertentu agar melek lingkungan. Tetapi pada konteks ini, pendidikan lingkungan bisa saja terjadi sebagaimana Jurin, namun prosesnya tidaklah formal dan punya momentum khusus. Pemaknaan lingkungan di masyarakat terjadi pada setiap saat dan setiap waktu. Kiranya inilah yang kemudian cocok dengan gagasan bahwa komunikasi tersebut bersifat simbolik dan manusia selalu memproduksi simbol-simbol tentang lingkungannya (Blumer, 1969). Paham interaksionisme simbolik secara tegas muncul disini, dimana bagi masyarakat Tanah Pilih, air pasang dan gelombang laut bukanlah simbol yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang harus dijadikan sahabat dan diberikan ruang gerak. Adanya parit adalah bentuk pemaknaan simbolik bahwa air punya kepentingan tertentu.

(13)

manfaat penting bagi warga, adalah makna yang diberikan masyarakat tersebut terhadap air. Mereka memaknai air sebagai sumber kehidupan, karena itu ruang gerak air harus diberikan keleluasaan. Poding (46 th), warga Tanah Pilih mengaku bahwa air masuk ke bawah rumah atau bahkan sampai ke kebun adalah hal yang biasa dan memang begitulah seharusnya. Justru Poding dan warga lain akan merasa kesulitan jika air tidak pasang. Kesulitan utama adalah soal transportasi dan aktiitas ke sungai yang terganggu. Selain itu, lahan perkebunan bisa jadi akan kering, dan itu berpotensi besar terjadinya kebakaran di musim kemarau.

Gagasan seperti ini, kemudian berkorelasi pula dengan gagasan yang dimunculkan oleh Florr (2004) bahwa masyarakat akan memaknai lingkungan sesuai konteks budaya dan tradisinya. Ini tidak bisa dilepaskan, karena itulah wujud jati diri masyarakat. Komunitas Bugis dengan tradisi melaut serta bertani kelapa (tradisi di tepi pantai), melekat secara kuat. Tradisi ini banyak berhubungan dengan kesesuaian terhadap lingkungan. Kelapa bisa tumbuh baik jika punya asupan air yang pas dan memiliki jarak tanam yang sesuai, termasuk curah hujan dan Ph tanah (Aristya, 2016). Ini berhubungan langsung dengan garis pantai dan kebiasaan melaut. Kelapa hanya membutuhkan perawatan dalam rentang umur 0 – 3 tahun, setelah itu relatif kuat dan tidak perlu perawatan khusus. Perawatan inipun tidak butuh waktu yang banyak, oleh karena itu waktu luang dimanfaatkan untuk terus pergi ke laut. Intensitas yang cukup tinggi dengan laut menyebabkan warga juga merasa bahwa laut adalah bagian integral dalam kehidupan mereka, dengan kata lain laut adalah sahabat dan sumber kehidupan. Oleh karena itu, masuknya air laut ke kebun kelapa dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya terjadi. Ini pemahaman emic

dari masyarakat. Sementara secara ethic bisa dilihat bahwa tanaman kelapa yang dekat dengan pantai, cenderung tumbuh subur karena tanah berpasir dan Ph tanah berkisar 5-8 (ILO UNDP, 2013). Disinilah tampak bahwa tradisi nelayan yang akrab dengan laut, diteruskan dengan tradisi bertanam kelapa yang juga akrab dengan ekosistem laut.

(14)

dikenal juga dengan istilah pembuatan saluran irigasi, sebagaimana bisa dilihat pada hasil riset Prabowo (2014), Nurul Huda (2012), dan Purwanto (2006). Kajian-kajian lain juga banyak yang menunjukkan bagaimana menyalurkan air pada daerah persawahan dan perkebunan. Tetapi dalam konteks menyesuaikan masuk dan keluarnya air, guna bisa mengatur ritme pertanian dan kemudian menjadi penyubur pula bagi tanaman, kiranya hanya lazim di daerah pesisir pantai. Tanah Pilih adalah salah satunya, terutama yang memadukan karakteristik pasang surut dan pembangunan parit.

Melalui metode pembangunan parit, sampai saat ini kehidupan masyarakat di Tanah Pilih bisa berjalan dengan baik. Perekonomian terjaga dan cukup makmur. Setidaknya ini tampak dari tingkat pendapatan masyarakat yang berkisar Rp.200.000 s.d. Rp. 500.000 per hari. Ini sangat mencukupi bagi warga yang hidup di daerah pedesaan seperti ini.

Penutup

Persoalan bencana yang dihadapi warga adalah luapan air laut saat terjadi pasang surut. Ini merupakan masalah tahunan yang selalu datang. Bentuk pemaknaan masyarakat terhadap fenomena ini adalah menyesuaikan diri dengan fenomena alam. Mereka tidak melakukan perlawanan, tetapi memaknainya sebagai sesuatu yang lumrah dan memang gejala alam. Air dimaknai sebagai unsur yang akan bermanfaat asalkan dikelola dengan baik. Makna ini muncul dari pengamatan secara terus menerus mengikuti ritme kehidupan. Pemaknaan ini diteruskan dari generasi tua ke generasi muda secara langsung dan dalam proses yang informal. Perubahan-perubahan pemaknaan bisa saja terjadi dan itu berlangsung dalam dialog-dialog informal sesama masyarakat dalam ajang-ajang informal juga. Wujud nyata dari proses pemaknaan adalah dengan dibangunnya parit-parit, pembuatan permukiman di atas tanah (panggung), dan pengaturan klasiikasi permukiman. Masyarakat mengidentiikasi perubahan fenomena alam adalah sesuatu yang memang harusnya terjadi dan mereka kemudian menyesuaikan diri.

(15)

setempat yang berkelindan dengan nilai kearifan lokal, semestinya dilestarikan dan terus diwariskan ke generasi berikutnya. Pola pelestarian ini bisa dilakukan dengan meminimalisir kehadiran perkebunan-perkebunan berskala besar, karena akan berefek negatif terhadap keselamatan lingkungan setempat. Secara akademis bisa pula disarankan bahwa kajian-kajian komunikasi lingkungan sudah semestinya diperbanyak dan diperkuat dengan melihat variasi-variasi pada masyarakat lokal.

Datar Pustaka

Ahimsa-Putra, Heddi Shri, 2012. Etno Bencana, Etno Sains untuk Kajian Bencana, dalam Respon Masyarakat Loka atas Bencana, Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono (ed.), Penerbit Mizan dan CRCS UGM, Bandung.

Aristya, Vina Eka, Djoko Prajitno, Supriyatna, dan Taryono, Kajian Aspek Budaya dan Identiikasi Keragaman Morfologi Tanaman Kelapa di Kebumen, https://jurnal.ugm.ac.id/jbp/article/ viewFile/1606/pdf_30, diakses tanggal 12 Juli 2017

Blumer, Herbert. 1969. Simbolic Interactionism: Perspective and Method. New Jersey: Prentice Hall

Brosius J Peter, George W Lovelace dan Gerald Marten, 1986,

Ethnoecology : An Approach to Understanding Traditional Agricultural Knowledge, dalam Gerarld Marten, Traditional Agriculture in Southeast Asia, A Human Ecological Perspective,

Westview Press, Colorado

Conklin, Harold, 1963, he Study of Shiting Cultivation, Washington DC.

Cox, Robert, 2010, Environment Communication and Public Sphere, Second Edition, Sage Publications, USA

(16)

Environmental Management, University of the Philippines.

Huda, Nurul, Donny Harisuseno, dan Dwi Priyantono, 2012, Kajian Sistem Pemberian Air Irigasi sebagai Dasar Penyusunan Jadwal Rotasi pada Daerah Irigasi Tumpang Kabupaten Malang, Jurnal Teknik Pengairan, Volume 3, Nomor 2, Desember 2012.

Jurin, Richard, Donny Roush, and Jef Danter., 2010, Environmental Communications, Skill and Principles for Natural Resources Managers, Scientist, and Engineer, Springer Doerdrecht Heidelberg, Newyork London.

Lahajir, 2001, Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang,

Galang Press, Yogyakarta

Littlejohn, Stephen W. 1996. heories of Human Communication. USA: Wadsworth Publising Company

Prabowo, Agung, Sigid Supadmo Arif, Lilik Sutiarso, Bambang Purwantara. 2014. Model Simulasi Pengembangan Sistem Irigasi untuk Tanaman Jagung di Lahan Sawah dan Lahan Kering, Studi Kasus pada Usaha Tani Jagung di Kabupaten Kediri, Jurnal Agritech, Volume 34, Nomor 2, Mei 2014.

Purwanto dan Jazaul Ikhsan. 2016. Analisis Kebutuhan Air Irigasi pada Daerah Bendung Mrican, Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, Volume 9, No 1, 2016

Rambo, A Terry dan Percy Sajise (ed.), 1984, An Introduction to Human Ecology Research on Agricultural Systems in Southeast Asia,

University of the Philippines, University Publication Program, College, Laguna, Philippines

Gambar

Gambar 1. Pola Pemukiman Warga Desa Tanah Pilih

Referensi

Dokumen terkait

menyebabkan adanya perbedaan reaksi terhadap.. Mahasiswa yang memiliki kepribadian ketabahan memiliki daya tahan terhadap suber stres yang lebih tinggi dari pada

Yang kemudian ditunjukan pula oleh pencapaian Standar Kelulusan (SKL) bagi peserta UN dan US. Kenyataannya, walau supervisi akademik sering dilaksanakan oleh Kepala

Nilai R/C rasio atas biaya tunai yang diperoleh pada usahatani penangkaran benih padi berlabel adalah 3,75 yang artinya dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan petani

Berdasarkan hasil analisis Data pengamatan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kascing dan pupuk hayati cair memberikan pengaruh yang

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya selaku Pejabat Pengguna Anggaran/Kuasa Pejabat Pengguna Anggaran, menyatakan bertanggung jawab penuh atas satuan biaya yang

Sedangkan menurut ulama yang lain menyatakan bahwa harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah nuqud (emas dan perak), barang tambang dan temuan, harta perdagangan

Fungsi yang dimiliki perpustakaan SDN 54 Banda Aceh diantaranya: mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan setiap satu minggu satu kali pada waktu jam pelajaran

Perubahan nilai THI menurun kembali dalam kondisi sedang/cukup nyaman pada sore hari di lokasi tegakan sengon buto, tegakan campuran dan tegakan beringin.Sementara, lokasi lapangan