• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

PENGANTAR REDAKSI

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat-Nya segala yang kita lakukan dengan kerja keras dapat terlaksana dengan baik. Jurnal Etnoreflika Volume 2 Nomor 2 bulan Juni tahun 2013 telah terbit dengan menyajikan 9 (sembilan) tulisan. Ke sembilan tulisan tersebut merupakan hasil penelitian dari sejumlah dosen dengan berbagai disiplin ilmu, yakni sosial dan budaya yang berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Jurnal Etnoreflika Volume 2 Nomor 2, Juni 2013, memuat tulisan sebagai berikut:

 Kajian Ritual Melaut dan Perubahannya pada Orang Bajo di Desa Tanjung Pinang Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna.

 Fenomena Eksploitasi Agraris oleh Kaum Kapital Domestik (Sebuah Studi Kasus di Wilayah Perkebunan Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara.

 Konstruksi Budaya Suku Toraja “Rambu Solo” di Tengah Masyarakat Suku Tolaki Mekongga di Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka.

 Bagi Hasil Tanah Pertanian yang Dibebani Hak Gadai dalam Budaya Pertanian Masyarakat.

 Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan (Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari).

 Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir di Kota Kendari.

 Dinamika Mepeduluhi Masyarakat Wawonii di Desa Langara Iwawo Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe.

 Pekerja Seks Komersial (Studi tentang Hubungan Germo dan PSK di Pagar Seng, Lorong Alam Jaya, Jalan R. Soeprapto Mandonga Kendari)

 Implementasi Kebijakan dan Tingkat Keberhasilan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) di Kelurahan Bende Kota Kendari.

Semoga sajian dalam jurnal ini, dapat memberikan kontribusi, informasi maupun wawasan baru dalam bidang sosial dan budaya khususnya di daerah Sulawesi Tenggara.

(4)

Volume 2, Nomor 2, Juni 2013

DAFTAR ISI

Hj. Wakuasa La Ode Aris Peribadi

Marsia Sumule Genggong Hj. Erni Qomariah Heryanti Hj. Suharty Roslan Jabalnur Syamsumarlin L.M. Kamaluddin Aksyah Hasniah Muhammad Yusuf 192-202 203-211 212-222 223-230 231-239 240-245 246-257 258-272 273-284

Kajian Ritual Melaut dan

Perubahannya pada Orang Bajo di Desa Tanjung Pinang Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna

Fenomena Eksploitasi Agraris oleh Kaum Kapital Domestik (Sebuah Studi Kasus di Wilayah Perkebunan Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara

Konstruksi Budaya Suku Toraja

Rambu Solo” di Tengah Masyarakat

Suku Tolaki Mekongga di Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka

Bagi Hasil Tanah Pertanian yang Dibebani Hak Gadai dalam Budaya Pertanian Masyarakat

Eksistensi Passompe’ di Daerah

Perantauan (Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari)

Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir di Kota Kendari

Dinamika Mepeduluhi Masyarakat

Wawonii di Desa Langara Iwawo Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe

Pekerja Seks Komersial (Studi tentang Hubungan Germo dan PSK di Pagar Seng, Lorong Alam Jaya, Jalan R. Soeprapto Mandonga Kendari) Implementasi Kebijakan dan Tingkat Keberhasilan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) di Kelurahan Bende Kota Kendari

(5)

ETNOREFLIKA

VOLUME 2 No. 2. Juni 2013. Halaman 231-239

231

EKSISTENSI

PASSOMPE’

DI DAERAH PERANTAUAN

(Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari)

1

Hj. Suharty Roslan2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk eksistensiperantau etnik Bugis (Passompe’Ugi) di tempat perantauan, selain itu bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis misi budaya perantau etnik Bugis untuk menempati suatu wilayah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam migrasi yang bersifat permanen, perantau Bugis cenderung memilih pekerjaan dan pemukiman dalam mana mereka dapat menyelenggarakan misi budaya merantau mereka, yaitu mencari kekayaan, pengetahuan dan pengalaman untuk menguasai suatu wilayah di daerah rantau. Berdagang dan pertukangan mandiri, merupakan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai untuk orang-orang yang menghargai kemerdekaan pribadi, seperti orang Bugis. Kecenderungan ini sesuai dengan pola pemukiman mereka yang mengikuti pembangunan pusat-pusat pasar di kota. Pedagang-pedagang Bugis memperkuat posisi mereka dengan jalan memupuk modal dan membeli tanah di rantau. Strategi ini mendorong mereka lebih mendahulukan alam rantau ketimbang alam kampung halaman, teristimewa dalam hal investasi kekayaan.Oleh karena itu terdapat kecenderungan perantau Bugis untuk menetap di daerah rantau dan melihat alam rantau sebagai tempat tinggal yang permanen. Keberhasilan dan kegagalan perantau akan diukur dari sejauhmana perantau dapat memenuhi misi budaya perantauan mereka.

Kata kunci: eksistensi pasompe’, misi budaya

ABSTRACT

The objective of this research is to describe and to analyze the form of existence and cultural mission of the migrant community (Businesses Ethnic) to occupya territory. The results showed that the existence of the migrant community could be seen from decision and choice they made in line with the occupation and settlement. Occupation preferences were performed by searching for available opportunities of informal sector in the urban area. The choice of occupation influences a selection of the settlement area. Settlement preferences of the migrants followed an expansion of shopping center at the center of city, in economy market sector. Tendency of the migrants to stay in the migration area and to view it as the permanent dwelling was the characteristic of permanent migration. This tendency was consistent with the cultural mission of the migrants based on the territory expansion. For the migrants, the migration area ideally becomes a part of their homes. This strategy made the migrants take more emphasis on the migration area than their original areas. Success and failure of the migrants could be measured by to which extent they could meet their mission of migration culture.

Key Word: pasompe’ existence, culture mission

1Hasil Penelitian

(6)

Etnoreflika, Vol. 2, No. 2, Juni 2013: 231-239

232

A. PENDAHULUAN

Merantau (voluntary migration), rupakan fenomena sosial yang dapat me-nyangkut perpindahan berbagai kelompok etnik. Voluntary migration dapat ditemui pada kelompok etnik Minangkabau, Bugis, Batak, Banjar, dan lain-lain. Perpindahan kelompok etnik dari daerah asal ke berbagai kota dan pemukiman baru dapat mewarnai kemajemukan masyarakat di tempat-tempat yang dituju. Kemajemukan etnik tersebut dapat memunculkan dampak sosial, eko-nomi, dan dampak lain yang berhubungan dengan ''penguasaan" suatu wilayah. Be-bagai catatan demografis dan hasil nelitian menunjukkan bahwa dampak pe-rantauan kelompok-kelompok etnik dapat menimbulkan berbagai kesenjangan dan pe-mborosan sumberdaya manusia dan alami, baik di kampung halaman yang mereka tinggalkan, maupun di daerah rantau yang dimukimi.

Orang-orang Bugis dikenal sebagai pelaut ulung dan mempunyai reputasi tradisional sebagai perantau. Mereka hidup merantau dari satu tempat ke tempat lain. Apabila di tempat rantau dirasa cocok, maka mereka akan menetap. Namun de-mikian, ada pula yang pindah ke tempat lain apabila tidak memperoleh hasil dan merasa malu pulang ke kampung halaman. Mereka lebih memilih tinggal di tempat tersebut dengan menerima kenyataan yangdihadapinya. Dilain pihak, ada yang kembali ke tempat asalnya setelah mem-peroleh hasil yang cukup untuk menunjang kelangsungan hidup keluarganya.

Pada masyarakat Bugis terdapat tra-disi lao'-pallao'-pallaong (Mattulada, 1999). Lao' adalah kewajiban seorang laki-laki Bugis atau orang Sulawesi Selatan pada umumnya untuk pergi dari daerahnya, pallao' merupakan sebutan untuk lao' yang menjadi pengembara. Apabila dalam peng-embaraan untuk mendapatkan pekerjaan, maka lao' disebut pallaong; apabila peng-embaraansampai di pantai, maka ia akan

menjadi nelayan atau pelayar; apabila peng-embaraannya di daratan pedalaman, mereka akan menjadi petani; dan apabila mencapai kota, mereka akan menjadi niagawan.

Jejak usaha etnik Bugis sudah terpe-takan jauh sebelum republik ini berdiri. Hal ini dapat dibuktikan, bahwahampir setiap daerah dapat dijumpai perkampungan etnik Bugis, atau beberapa orang Bugis yang berbaur dengan masyarakat setempat. Etnik Bugis sudah sangat lama mendiami daerah perantauan, bahkan ada yang belum pernah menginjakkan kakinya di tanah Bugis. Hal ini disebabkanmereka dilahirkan dan dibe-sarkan di tempat perantauan orang tuanya. Dengan kata lain hanya nenek moyang me-rekalah yang berasal dari Bugis. Perkam-pungan-perkampungan Bugis semacam ini banyak ditemukan diwilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, Palembang, Lampung, Jawa Timur, Jakarta Utara, dan lain-lain. Etnik Bugis ini datang dan menetap di peran-tauannya dengan membawa adat istiadat dan budayanya, serta membaur dengan masyarakat dari etnik lainnya di perantauan (Basri, 1995).Mereka mempunyai misi budaya (cultural mission), yang merupakan bagian integral dari tradisi rantaunya (mig-rasi). Misi budaya dapat diartikan sebagai seperangkat tujuan yang didasarkan pada nilai-nilai yang dominan dari pandangan dunia (cosmology) suatu masyarakat, di mana anggota masyarakat itu diharapkan untuk mencapainya. Misi budaya merantau etnik Bugis didasarkan pada perluasan teritorial, sehingga cenderung memandang daerah rantau sebagai tempat menetap yang permanen (Hamu, 1994). Berbeda dengan orang Minangkabau yang mempunyai misi budaya memperkaya dan memperkuat alam Minangkabau (Pelly, 1998).

Dengan demikian, misi budaya orang Bugis dalam melihat alam rantau meru-pakan perluasan dari alam kampung hala-man. Dengan kata lain, mereka memperluas kampung halaman untuk mendirikan

(7)

kera-Hj. Suharty Roslan - Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan: Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari

233 jaan-kerajaan pribadi, oleh karena itu pola perantauan mereka disebut juga sebagai perantauan yang ekspansionis (Hamu, 1994). Menurut pandangan kosmologi or-ang Bugis, alam rantau yor-ang dikuasai di-anggap bagian integral dari alam kampung halaman. Lebih lanjut dijelaskan, orang Bugis dalam merantau adalah kolonialis. Merantau lalu mendatangkan sanak ke-luarga kemudian membangun tempat ting-gal di tempat baru yang berarti membangun koloni.

Fokus tulisan ini adalah pengaruh rasa memiliki misi budaya dalam merantau terhadap strategi-strategi adaptasi perantau dalam kehidupan kota. Tulisan ini akan mengungkapkan upaya yang dilakukan et-nik Bugis dalam menghadapi tantangan di daerah baru, yang berhubungan dengan preferensi perantau atas pekerjaan dan pe-mukimandi Kota Kendari. Selain itu, akan diperlihatkan kebertahanan loyalitas etnik Bugis yang sudah ada sejak lama di pe-rantauan dan hubungannya dengan daerah asal.

Tujuan penulisan ini yaitu untukmendeskripsikandanmenganalisiseksi s-tensi perantau etnik Bugis (Passompe’ Ugi)didaerah perantauan, serta mengiden-tifikasi dan menganalisis misi budaya perantau etnik Bugis untuk menempati suatu wilayah di Kota Kendari.

B. METODE PENELITIAN

Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu yaitu para perantau dari etnik Bugis yang sudah berdomisili selama minimal 25 tahun di Kota Kendari, dengan pertimbangan bahwa mereka telah ber-adaptasi cukup lama dengan lingkungan di daerah perantauan, baik beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun ling-kungan sosial. Di samping itu diasumsikan bahwa mereka dapat menunjukkan eksis-tensi atau keberadaan mereka sebagai hasil dari strategi adaptasi yang telah di lakukan. Penentuan informan dalam

peneli-tian ini dengan menggunakan tekhnik “snow ball sampling” (bola salju). Dengan demikian, sebelum penentuan informan yang akan memberikan informasi yang berkaitan dengan tujuan penelitian, ter-lebih dahulu mengadakan observasi awal dan penjajagan kepada key informan atau informan pangkal, dan beberapa anggota masyarakat, dengan cara menanyakan ke-pada mereka tentang siapa yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Dari cara tersebut maka akan diketahui informan yang ditunjuk yaitu antara lain: para perantau dari etnik Bugis yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan di daerah perantauan.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang dititik beratkan pada pengumpulan data kualitatif. Pengumpulan data secara kualitatif memberikan peluang yang lebih besar ke-pada pemakainya untuk mengembangkan pertanyaan atau melakukan improvisasi da-lam mencari data demi memahami masalah secara akurat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui tiga cara, yaitu observasi, wawan cara mendalam dan penelaahan ter -hadap dokumen tertulis.

Teknik analisis data dalam peneli-tian ini menggunakan teknik analisis des-kriptif kualitatif. Dalam penelitian kualitatif ini, pengolahan dan analisis data dilakukan secara bersamaan. Pada tahap selanjut-nya, dilakukan analisis data agar menjadi informasi yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan permasalahan penelitian. Un-tuk menganalisis data yang telah diklasifi-kasi atau dikategorisasi, selanjutnya dilaku-kan interpretasi, yaitu dengan melakudilaku-kan penafsiran atau memberi makna ter-hadap data atau fakta yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

(8)

Etnoreflika, Vol. 2, No. 2, Juni 2013: 231-239

234

C. EKSISTENSI PERANTAU BUGIS

(PASSOMPE UGI’) DI

PERANTAU-AN

1. Gambaran Aktivitas Ekonomi

Kelom-pok Etnik

Dapat dijelaskan bahwa, di Kelu-rahan Sanua Kecamatan Kendari terdapat spesialisasi pekerjaan menurut daerah asal pendatang dan menurut jenis atau status gerak penduduk. Di samping sebagai pe-dagang dan pengusaha-pengusaha besar di Kota Kendari, di kalangan etnik Bugis ter-dapat pula pedagang kecil-kecilanseperti pengecer, pabbalu-balu atau pagadde-gadde (penjual dengan modal yang minim di kedai atau kios-kios darurat, pappalele (pedagang perantara/tengkulak) dan peda-gang kaki lima. Selain etnik Bugis yang menguasai pekerjaan di sektor perda-gangan, etnik Cina juga menggeluti bidang ini. Akan tetapi dalam proses pengem-bangan usaha, kedua etnik ini tidaklah bersaing apalagi saling menjatuhkan. Hal ini disebabkan oleh sasaran konsumen mereka berbeda, demikian pula dengan pemilihan lokasi usaha mereka yang tidak sama. Pedagang dari etnik Bugis mem-punyai sasaran konsumen dari kelas mene-ngah ke bawah, dan lokasi perdagangannya kebanyakan terkonsentrasi di los-los/kios-kios di dalam pasar Sentral Kota Kendari. Sebaliknya, pengusaha Cina memilih kon-sumen dari kalangan menengah ke atas, dan lokasi perdagangannya pada toko-toko be-sar seperti super market dan toserba yang letaknya di pinggir jalan besar, atau di dalam ruko (rumah tinggal sekaligus toko yang berlantai dua atau tiga).

Perantau dari berbagai daerah Bugis di Surawesi Selatan, tidak semua merantau dengan keahlian, keterampilan, dan modal yang cukup, karena itu sukar bagi ke-banyakan mereka untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, akan tetapi dengan kemauan dan kerja keras yang pantang menyerah mereka dapat memperoleh pekerjaan. Para perantau Bugis

di Kelurahan Sanua yang berasal dari Bone, Wajo, Sidrap, Pangkep, Sinjai, Palopo dan lain-lain, sebagian besar (kurang lebih 80 %) terserap pada sektor tersier, seperti perdagangan, penjahit, angkutan, dan jasa (Kepala Kelurahan Sanua).

Menurut beberapa informan serta dari hasil pengamatan,banyak pemuda dari etnik Bugis yang sekarang ini memilih studi (melanjutkan pendidikan) di kedokteran, hukum, tekhnik. Mereka mempunyai ke-inginan untuk berkarir sebagai dosen, dokter, notaris publik, teknik, dan kon-sultan, bukan lagi sebagai usahawan atau pedagang. Tentu saja kebanyakan dari me-reka mengetahui pekerjaan-pekerjaan orang tua mereka. Namun setelah lulus dari per-guruan tinggi, mereka tidak tertarik lagi kepada pekerjaan-pekerjaan itu. Mereka mengetahui bahwa situasi perdagangan besar itu sulit, dan mereka melihat ada pe-luang-peluang lain di luar dunia per-dagangan. Profesi sebagai dokter, dosen, ahli hukum, dan teknik ini menurut mereka sangat sesuai dengan etos etnik Bugis karena menjanjikan kebebasan pribadi, mendorong kreativitas, dan memberikan tantangan. Dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan ini diperhitungkan akan mem-perkuat identitas etnik Bugis sebagai orang yang kreatif dan mandiri.

Keberhasilan para perantau Bugis saat ini, diperoleh dengan bekerja keras untuk mengatasi berbagai rintangan di daerah rantau. Pada awal kedatangannya, perantau biasanya mengalami berbagai rin-tangan dalam melanjutkan kehidupan. Mi-salnya, kendala yang datang dari perantau itu sendiriyang pada umumnya tidak me-miliki bekal secukupnya, sehingga usaha yang akan mereka rintis benar-benar di-mulai dari bawah. Namun demikian, sema-ngat siri’ yang berkobar-kobar mereka akhirnya mampu mengatasi kendala-kendala tersebut. Dalam wawancara dengan para informan, mereka mengungkapkan motto berupa ungkapan yang masih

(9)

di-Hj. Suharty Roslan - Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan: Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari

235 percayai oleh para "pallao", yaitu: "resopa natinulu' na temmangingng' naletei pam-mase Dewata kuae" artinya: Hanya dengan bekerja sekuat tenaga, ketekunan dan ke-tidakbosanan, yang dititi oleh anugerah Tuhan yang Maha Esa.

Setelah beberapa kali berganti jenis usaha, barulah kemudian mereka meman-tapkan pada salah satu bidang. Untung atau rugi dalam berdagang merupakan hal biasa bagi mereka, karena itulah mereka selalu tekun dan sabar dalam melakukan peker-jaannya, meskipun mungkin pekerjaan itu tidak akan pernah mau mereka lakukan jika berada di kampung halaman, karena diang-gap tidak pantas, akan tetapi jika sudah berada di rantau orang, apapun jenis peker-jaannya akan dikerjakan tanpa perasaan malu dan gengsi. Hal ini disebabkan karena, mereka sangat mencela orang yang mati karena kelaparan di daerah rantau, mereka yang menghadapi keadaan demikian akan berpegang pada ungkapan. "Le'bini mate ma'darae, nemate temm-anre": (lebih baik mati berdarah, daripada mati kelaparan).

2. Gambaran Pola pemukiman

Passom-pe’Ugi (Perantau Etnik Bugis)

Kehidupan berkelompok para pen-datang dari etnik yang sama didorong oleh dua faktor yaitu faktor hubungan keke-rabatan dan perasaan kesukuan/kedaerahan yang kuat, dan faktor ekonomi. Kehidupan berkelompok atau terkonsentrasinya warga kelompok etnik ini dilakukan pula oleh etnik Bugis juga dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, yang pada intinya ingin membangun suatu perkampungan etnik Bugis dengan identitas kulturalnya yang tetap dipertahankan (disarikan dari hasil wawancara).

Etnik Bugis yang baru pertama datang di Kendari cenderung memilih tem-pat tinggal yang dekat dengan pusat per-belanjaan.Hal ini disebabkan oleh motivasi mereka merantau adalah untuk menjadi

seorang pedagang yang sukses. Pada mula-nya mereka menyewa atau membeli tanah/-rumah-rumah rakyat dari pemilik lama dimanapemiliknya sebagian besar adalah etnik Tolaki dalam hal ini penduduk asli yang ingin menyewakan atau menjualnya sehingga dapat pindah ke tempat yang lebih baik, jauh dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu sibuk dan hiruk-pikuk. Oleh karena itu, mereka tidak mengubah struktur fisik kampung di sekeliling pasar, mereka hanya mengambil alih rumah sekaligus tanahnya. Populasi etnik Bugis di sekitar pasar terus bertambah seiring waktu sampai pada kerumunan kampung Bugis tersebut mengelilingi pusat perbelanjaan.

Kecenderungan etnik Bugis yang memandang daerah rantau sebagai tempat tinggal permanen, maka setelah menempati rumah dan tanah yang disewa selama satu atau dua tahun, mereka kemudian memu-tuskan untuk membelinya kemudian dirom-bak atau diperbaiki. Jika masih terdapat cukup tanah di sekeliling rumah, mereka akan mengijinkan apabila ditempati oleh keluarga mereka terutama yang datang dari kampung halaman untuk membuat rumah di tanah itu juga.

Kelompok etnik Bugis kini menjadi populasi mayoritas di Kelurahan Sanua, populasi etnik Tolaki, dan etnik lainnya berkurang sampai seperempat jumlah popu-lasi etnik Bugis. Etnik Tolaki jumlahnya sangat sedikit, karena mereka terus menjual tanahnya kepada etnik Bugis dan Cina. Bagi etnik Tolaki, orang-orang keturunan Cina dan perantau Bugis dianggap sebagai calon pembeli yang paling diharapkan di daerah itu, karena mereka berani membeli dengan harga tinggi dan membayarnya tunai.

3. Gambaran Peranan Kerabat, Teman

dan Asosiasi Perantau Bugis (

Pas-sompe’ Ugi) di Rantau

Adanya kerabat atau teman yang sudah terlebih dahulu menetap di

(10)

peran-Etnoreflika, Vol. 2, No. 2, Juni 2013: 231-239

236 tauan, sangat mempengaruhi keputusan orang Bugis untuk merantau. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa aspek informasi tentang kondisi di daerah rantau sangat penting bagi para perantau baru. Informasi yang dibutuhkan tersebut, dipe-roleh dari para kerabat atau teman dekat yang telah menetap di perantauan.

Pengamatan lebih mendalam me-ngenai peranan kerabat atau teman di pe-rantauan menyimpulkan bahwa hanya ter-batas pada kunjungan belaka, bahkan bagi perantau yang baru datang ke daerah rantau, oleh kerabat atau temannya menyediakan rumah sendiri sebagai tempat tinggal sebe-lum mereka mendapatkan tempat tinggal te-tap. Lamanya perantau baru menetap seme-ntara di rumah kerabat atau teman, sekitar tiga bulan hingga satu tahun, tergantung dari berapa lama mereka memperoleh pe-kerjaan. Pada umumnya mereka tidak suka menetap di rumah teman atau kerabat, karena merasa enggan terlalu lama menyu-sahkan tuan rumah. Setelah mereka dapat menyesuaikan diri di rantau, maka dengan segera akan berusaha sendiri dan mencari tempat tinggal yang tetap.

Selain itu, satu hal yang penting pula adalah peranan kerabat dan teman dalam membantu pendatang baru mencari pekerjaan di perantauan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan di pe-rantauan, kerabat dan teman mempunyai peranan utama dalam membantu perantau baru mencari pekerjaan. Hampir seluruh informan menyatakan bahwa untuk men-dapatkan pekerjaan pertama di kota ini, mereka dibantu oleh kerabat dan teman yang lebih dahulu menetap di daerah ini. Demikian besar peranan kerabat dan teman dalam membantu pendatang-pendatang ba-ru dalam melakukan penyesuaian diri terha-dap kehidupan di daerah rantau.

Selain peranan kerabat dan teman yang membantu perantau baru dalam me-nyesuaikan diri di kota Kendari, terdapat pula berbagai asosiasi kedaerahan yang

juga cukup berperanan. Pada kenyataannya migran-migran di kota Kendari yang me-miliki budaya yang berbeda dengan budaya tuan rumah, cenderung bergabung dalam berbagai asosiasi atau persekutuan. Karena itu, pada kelompok etnik Bugis di Kota Kendari ditemukan berbagai asosiasi yang terbentuk secara spontan (voluntary asso-ciation). Persekutuan-persekutuan atau aso-siasi tersebut terbentuk atas dasar adanya hubungan kekerabatan, asal daerah yang sama, dan hubungan tinggal dekat. Dengan adanya persekutuan ini, para migran merasa tetap dekat dengan daerah asal.

Persekutuan etnik dan kedaerahan orang Bugis banyak dijumpai di kota Ken-dari. Persekutuan-persekutuan kedaerahan ini didasarkan atas nama daerah (kabu-paten) asal perantau Bugis tersebut. Perse-kutuan kedaerahan etnik Bugis di Kendari, misalnya Kesatuan Masyarakat Bone, tuan Masyarakat Sidenreng Rappang, Kesa-tuan Masyarakat Wajo, dan lain-lain. Perse-kutuan atau kerukunan-kerukunan ini mem-punyai tujuan antara lain membantu masya-rakat dari daerahnya di kota Kendari untuk mencapai kesejahteraan, membantu pelajar dan mahasiswa asal daerahnya, dan mem-pererat rasa kekeluargaan diantara masya-rakatnya.

D. PERANAN MISI BUDAYA DALAM

MEMPENGARUHI STRATEGI

ADAPTASI ETNIK BUGIS DI PE-RANTAUAN

Misi budaya perantau serta efeknya terhadap praktek perantauan itu sendiri nampak pada strategi adaptasi dan hu-bungan kelompok etnik tersebut dengan kampung asal mereka. Etnik Bugis dan etnik Minangkabau mendorong anggota masyarakatnya merantau (bermigrasi) guna memenuhi misi budaya perantau mereka. Keberhasilan atau kegagalan perantau itu, ditentukan oleh seberapa jauh misi budaya tersebut tercapai. Dengan kata lain, misi budaya merupakan rujukan (reference) dari

(11)

Hj. Suharty Roslan - Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan: Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari

237 keberhasilan atau kegagalan perantauan se-seorang. Seperti halnya orang Minang-kabau, orang Bugis juga mempunyai misi budaya (cultural mission) yang merupakan bagian integral dari tradisi perantauan (mig-rasi) mereka. Seperti yang sudah diutarakan pada ulasan sebelumnya, bahwa misi bu-daya perantau etnik Bugis adalah perluasan teritoral.

Dalam kosmologi etnik Bugis, di-kenal dua alam yaitu Tanah Ugi (Bugis World) dan Tanah Rantau (Migratory World). Etnik Bugis melihat alam rantau sebagai perluasan dari alam kampung hala-man. Misi perantauan etnik Bugis ialah me-mperluas kampung halaman untuk mendi-rikan perkampungan-perkampungan Bugis (wanua) di Tanah Rantau. Sebab itu pola perantauan mereka disebut juga sebagai perantauan (migrasi) yang ekspansionis. Menurut pandangan kosmologis mereka, alam rantau yang dikuasai dianggap sebagai bagian integral dari alam kampung halaman (Tanah ugi) (Hamu, 1999: Abustam, 1989).

Dua dunia dalam kosmologi etnik Bugis yaitu tanah ugi dan tanah rantau tersebut, dihubungkan oleh kesadaran ada-nya suatu misi budaya yang memunculkan tradisi migrasi menetap, yang menganggap daerah rantau sebagai tempat tinggal per-manen. Tradisi ekspansif migrasi Bugis me-miliki akar-akarnya dalam kosmologi mere-ka. Kompleks harga diri (siri’) seperti di-jelaskan dalam studi ini adalah suatu kon-sep kosmologis yang mengekspresikan Sa-ling ketergantungan antara manusia dan tanah. Bagi etnik Bugis, untuk memperoleh perwujudan dari kompleks ini mereka harus rnendirikan perkampungan Bugis (wanua). Menurut Pelly, motto dari tradisi migrasi ekspansionis ini adalah cari tanah dan cari anak, karena keduanya merupakan simbol-simbol kekuasaan dan kemakmuran. Temu-an tentTemu-ang misi budaya merTemu-antau etnik Bugis ini hampir sama dengan penelitian Pelly (1989) tentang misi budaya merantau etnik Batak Mandailing.

Untuk dapat mewujudkan misi bu-daya mereka, banyak perantau Bugis yang membawa modal dari kampung halaman mereka setelah melihat dan mengetahui ada peluang untuk berhasil di rantau. Sebagian dari mereka menjual tanah, sawah atau ru-mah mereka (hal ini tidak pernah dilakukan oleh orang Minangkabau) untuk dijadikan bekal di daerah rantau. Karena itu bila sese-orang membawa uang dari daerah asal yang diperoleh dari menjual harta pusaka, mere-ka harus membeli tanah di daerah rantau yang mereka anggap sebagai pengganti tanah di kampung halaman. Oleh karena itu, etnik Bugis terikat erat dengan tanah yang mereka miliki di rantau.Bagi etnik Bugis tanah dan kekayaan menyimbolkan kekuasaan dan martabat yang dianggap se-bagai hasil dari harga diri (siri’). Kompleks harga diri tersebut menggerakkan etnik Bugis dalam merantau untuk meluaskan wilayah mereka yang juga ditafsirkan se-bagai keinginan untuk menjadi "nomor satu".

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa etnik Bugis yang berhasil di rantau tidak mempunyai hubungan fungsional de-ngan pembangunan di daerah asal. Mereka tidak memiliki beban adat dan moral, atau misi budaya perantauan seperti orang Minangkabau, untuk memboyong sebagian harta mereka ke kampung halaman. Hal ini disebabkan, sesungguhnya bagi mereka alam rantau yang dikuasai telah merupakan bagian alam Bugis (Tanah ugi). Dengan kata lain dalam tradisi migrasi Bugis, daerah rantau secara ideal adalah kampung halaman kedua mereka.

Perantau yang gagal tidak akan diterima dengan hormat oleh sesama orang kampung, mereka dianggap gagal men-jalankan misi. Penduduk di kampung hala-man akan menyebut mereka “de’gaga siri’na” (tidak mempunyai malu), karena dianggap tidak mampu mengatasi dan me-nghadapi masalah di rantau. Oleh sebab itu perantau yang belum berhasil, tidak akan

(12)

Etnoreflika, Vol. 2, No. 2, Juni 2013: 231-239

238 pulang ke daerah asal karena merasa sangat malu. Mereka akan terus berusaha dan larut di perantauan, atau akan berpindah ke dae-rah perantauan yang lain. Inilah salah satu penyebab dari migrasi perrnanen oleh seba-gian etnik Bugis.

Pengaruh misi budaya merantau etnik Bugis terhadap keputusan dan pilihan yang menggambarkan strategi-strategi adaptasi para perantau etnik Bugis untuk mengatasi rintangan di daerah rantau dapat dilihat dari keputusan dan pilihan mereka pada pekerjaan dan pemukiman di Kota Kendari.

E.PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Etnik Bugis yang menetap di daerah rantau cenderung memilih tempat tinggal (permukiman) yang terkonsentrasi di dekat pusat perbelanjaan. Hal ini di-sesuaikan dengan preferensi pekerjaan mereka. Kehidupan berkelompok etnik Bugis dipengaruhi oleh faktor hubungan kekerabatan dan kesukuan yang kuat dan faktor ekonomi, yang pada dasarnya ingin membangun suatu perkampungan warga etnik Bugis dengan identitas kul-tural yang tetap dipertahankan.

2. Di perantauan, kerabat dan teman mem-punyai peranan utama dalam membantu perantau baru untuk melakukan penye-suaian diri terhadap kehidupan di rantau. Peranan kerabat dan teman, antara lain menyediakan tempat pemukiman semen-tara, dan membantu mencari pekerjaan bagi penatang baru. Selain itu, terdapat pula berbagai asosiasi kedaerahan yang cukup berperanan bagi perantau baru untuk penyesuaian diri di daerah rantau. 3. Dalam migrasi yang bersifat permanen,

perantau Bugis cenderung memilih pe-kerjaan dan pemukiman dimana mereka dapat menyelenggarakan misi budaya rantauyaitu mencari kekayaan, penge-tahuan, dan pengalaman untuk

meng-uasai suatu wiiayah di daerah rantau. Berdagang dan pertukangan mandiri merupakan pekerjaan yang sesuai untuk orang-orang yang menghargai kemer-dekaan pribadi, seperti etnik Bugis. Ke-cenderungan ini sesuai dengan pola pe-mukiman mereka yang mengikuti pem-bangunan pusat-pusat pasar di kota. Pedagang-pedagang Bugis memperkuat posisi mereka dengan jalan memupuk modal dan membeli tanah di rantau. Strategi ini mendorong mereka lebih mendahulukan alam rantau daripada alam kampung halaman terutama dalam hal investasi kekayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Andi Zainal. 1993. Persepsi Orang Bugis Makassar Tentang Hukum, Negara dan Dunia Luar . Bandung: Alumni.

Abustam, Muh. Idrus.1999. Gerak Pend-uduk, Pembangunan dan Peruba-han Sosial.Jakarta: UI Press.

Basri, Muhammad. 1995. Adaptasi Ma-syarakat Bugis Di Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Bandung: Depdikbud Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Bennet, W.John. 1976. The Ecological Transition: Cultural Anthro-pology and Human Adaptation. New York: Pergamon Pressinc.

Bintarto. 1993.Urbanisasi dan Permasa-lahannya. Jakarta: PT Rineka Cipta. Ellen, Roy. 1982. Environment, Subsistence

and Sistem. University Of Kent at Canterbury: Cambridge University Press.

Iko,Makoto. 1999. Usaha Orang Bugis di Luar Sulawesidalam Majalah Sau-dagar Peta Bisnis Orang Sulsel. Nomor Perdana Th.1.29 juli 1999. Mantra, dkk. 1998.Pengaruh Migrasi

(13)

Hj. Suharty Roslan - Eksistensi Passompe’ di Daerah Perantauan: Studi tentang Misi Budaya Perantau Etnik Bugis di Kota Kendari

239 Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Bali. Jakarta: Depdik-bud.

Mattulada. 1995. Latoa: Suatu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi politik Orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.

Mattulada. 1999. Jejak panjang Saudagar Bugis-Makassar. Dalam majalah Saudagar. Peta Bisnis Orang Sulsel. Nomor Perdana Th.1.29 juli 1999. Naim, Mukhtar, 1994. Merantau pola

Migrasi Suku Minangkabau. Yog-yakarta: Gajah Mada Press.

Pelly, Usman. 1998. Urbanisasi Adaptasi; Peranan Misi Budaya Minang-kabau dan Mandailing. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Poespowardojo,Soerjanto. 1998. Stra-tegi KebudayaanSuatu Pendekat-an Filosofis.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Priyono, Omni S. 1998. Suatu Kerangka Teoritis Tentang Masalah Pem-bauran Bangsa. Dalam Analisa No. 9 ThXIII. Jakarta.

Zulvita, Eva. 1995. Adaptasi SosialBudaya Transmigrasi Spontan Orang Bugis di Jambi. Jakarta: Depdikbud.

(14)
(15)

Referensi

Dokumen terkait

Strategi distributor terkadang juga menyalahi aturan Herbalife yaitu mereka tidak merekrut konsumennya hanya memberikan saran kepada konsumennya untuk membeli

Populasi Gempol memiliki rendemen biodiesel tertinggi yaitu 88,49% lebih tinggi dari populasi Cileuweung sebesar 86,42% dan populasi Baribis sebesar 63,16%

Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian utama dari pelayanan keperawatan yang diberikan pada pasien, oleh karena itu kualitas pelayanan keperawatan

Tobat ( al-taubah ) terdapat dalam Q.S. Menurut para sufi dosa adalah pemisah antara seorang hamba dengan Tuhannya karena dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah

Salah satu tolok ukm keberhasilull prosts pembelajatan palla petgwuan tiuggi adalah nilai Indeks Pre stasi Kumulatif Untuk mempertahankan nilai IPK yang balli.,

Hasil analisis multidimensi scaling (MDS) tingkat perkembangan kawasan agropolitan menunjukkan bahwa kawasan Agropolitan Desa Perpat Kabupaten Belitung yang

kitab baik bahasa jawa maupun indonesia juga menulis hal-hal yang penting.3 Hasil penelitian dan kajian teori yang sudah dipaparkan adanya kesamaan teori dan hasil penelitian,

Diagram aliran data pada Gambar 7, terdapat empat pengguna yang berhubungan dengan proses bisnis akreditasi, sehingga hak akses terhadap sistem dapat dibuat sebagai berikut: (1) KARS,