• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat daerah perlu mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. masyarakat daerah perlu mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah dan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Bahasa Jawa sebagai kebanggaan, lam bang identita s, alat perhubunga n di m asyarakat daerah perlu m endapatka n perha tian khusus oleh pem erintah dan warga negara supaya terus hidup dan dipakai se bagai ba hasa ibu ole h m asyara kat Jawa pada khususnya m aupun m asyarakat Indonesia pada um um nya. Hal itu sebagai sa lah satu langkah da lam m enjalankan am anah U ndang -Unda ng Dasar 1945.

Bahasa Jawa m erupakan salah satu dari ratusa n bahkan ribuan bahasa daerah yang te lah hidup dan berkem bang selam a berabad-abad di Indonesia. Di dalam hubungannya denga n kedudukan bahasa Indone sia, baha sa Jawa berkedudukan sebaga i bahasa daerah. Di dalam kedudukannya seba gai bahasa daerah, bahasa Jawa berfungsi seba gai lam bang keba nggaan daerah, lam bang identitas daerah, dan alat perhubungan di dalam keluarga dan m asyarakat daerah (Halim ,1976:145).

M enurut Poedjosoedarm a (2001:37) bahasa Jawa sebaga i bahasa yang m em iliki tradisi sastra dan m em punya i m artabat yang tinggi. Koentjaraningrat (1994:20) m enyatakan bahwa baha sa Jawa sudah m em iliki tradisi kesusasteraan sejak abad ke 8. Nam un perkem ba ngannya, bahasa Jawa sem akin ke hila ngan perannya sejak dialihka n fungsinya sebaga i baha sa daerah. Bahasa Jawa sem akin hari sem akin m enurun frekue nsi pem akaiannya da lam kehi dupa n berm asyarakat.

(2)

Beberapa penelitia n m enunjukka n bahwa gejala m enurunnya m inat m asyarakat Jawa terhadap pem akaian bahasa Jawa disebabkan oleh be berapa faktor. Pertam a, pengaruh globa lisasi (Fernandez,1993:2), dan kedua ya itu pe ngaruh m odernisa si yang m endorong kem ajuan teknologi (Poe djosoedarm a, 1979:61). Kedua faktor penyebab m enurunnya m ina t m asyarakat Jawa terhadap pem akaian bahasa Jawa tersebut ada lah faktor eksternal baha sa yang m em ungkinkan m unculnya perubahan.

Terdapat se jum lah faktor yang berperan sangat besar dalam m enentukan kelangsunga n hidup suatu bahasa. Satu di antaranya adalah ke bija kan bahasa yang digariskan oleh pem erintah yang dilaksana kan lewat lem baga ya ng paling berkom peten dalam bidang ke bahasaan di antaranya yaitu Pusa t Pem binaan Bahasa ataupun Balai Bahasa di setiap daerah. M enurut W ijana (2006:30) secara jujur dalam hal ini perlu kirannya diakui bahwa garis ke bija kan ini m em iliki nilai positif. Denga n adanya garis kebijakan inilah berjuta -juta rakyat Indonesia dari etnis yang sangat beragam sekarang ini m em iliki bahasa persatuan, bahka n hanya bahasalah sekarang yang m ungkin m em persatuka n bangsa ini di tenga h –te ngah konflik etnik yang a kan m em bawa ke am bang kehancuran. T idak dapat dibayangkan keadaannya bila bangsa ini m enggunakan beberapa baha sa sebagai bahasa resm i. Hanya saja m em ang pelaksanaan garis kebijakan yang sem ata-m ata m enekankan pem binaan dan pengem ba ngan bahasa nasional, tanpa secara serius m elakukan pem binaan dan pengem bangan ba hasa-bahasa daerah akan lam bat laun m enyebabkan sem akin m elem ahnya peranan bahasa daerah, dan pada akhirnya akan m em bawa kepunaha n bagi bahasa daerah itu. Ha l ini secara tidak langsung

(3)

m erupakan peram pasan hak hidup m asyarakat pendukung baha sa -bahasa lokal bersangkutan.

Untuk m elakukan pem buktian m ina t m asyarakat Jawa terhadap pem akaian bahasa Jawa, sala h satunya dengan cara m eneliti cam pur kode dan alih kode di suatu kelom pok m asyarakat. Penelitian ini aka n m eneliti peristiwa cam pur kode dan alih kode pada ana k-anak. Hal ini disebabkan anak-anak ada lah pelangsung dan penerus dalam rangka pe lestaria n pem akaia n ba hasa Ja wa. Dapat dikatakan, jika anak-anak m enggunakan baha sa Jawa denga n baik, m aka kelangsungan hidup bahasa Jawa akan tetap terus hidup dan berkem bang. Nam un sebaliknya, jika kurang baik dan tidak ada usaha yang serius dalam m enanga ni hal tersebut m aka dikha watirka n kela ngsungannya akan terganggu. Jika dibiarkan terus-m enerus, bisa dim ungkinkan baha sa Jawa tidak aka n la gi dipakai sebagai alat kom unika si oleh generasi penerus m asyarakat Jawa. Baik atau kurang baik dalam m enggunaka n baha sa Jawa dapat diam bil hal positifnya, ya itu dapat diketahui faktor-faktor yang m enyebabka n hal tersebut. Faktor-faktor tersebut dapat dijadikan seba gai bahan dalam rangka m em perbaiki atau m eningka tkan penggunaan bahasa Jawa.

Tahap perkem bangan bahasa se orang ada lah suatu proses yang berlangsung terus m enerus dan m elalui berba gai tahapan. M asing-m asing tahapan selalu m engalam i perkem bangan ke arah bentuk bahasa yang lebih sem purna. Perkem bangan bahasa anak da pat dipengaruhi ole h keadaan dan situasi bahasa di lingkungan, sehingga anak dalam perkem bangannya akan m engenal bahasa lingkungan. Da lam lingkungan tersebut ana k berinteraksi dan m enggunakan

(4)

bahasa untuk m elakukan kom unikasi dengan m asyarakat di lingkung an sekitar. Interaksi yang terjadi m engguna kan bahasa dengan berbagai m acam bentuk dan ragam bahasa m enurut keperlua n bahasa dan la wan berbaha sa. Jadi, lingkungan sekitar seperti lingkunga n keluarga, m asyarakat sekitar rum ah, sekolah, dan la in sebagainya sanga t berpengaruh terhadap cam pur kode dan a lih kode dalam percakapan pada anak-anak.

Penelitia n cam pur kode dan alih kode pada percakapan a nak-anak dilaksanakan di Tam an Kanak-kanak Aisyiyah Busta nul Atfa l (disingka t = TK ABA) di Kecam atan W a tes Kabupaten Kulon Progo. Diharapkan usia siswa TK dapat m ewakili usia anak-anak. Pem iliha n lokasi pene litian di TK ABA yaitu karena m enurut data dari BPS dalam gabungan riset bersam a Pem da K ulon Progo m enunjukkan TK ABA m erupakan T K yang jum lahnya terba nyak di kecam a tan W ates, jadi dengan m engam bil sam pel di TK ABA diharapkan dapat m ewakili anak-anak di Kecam atan W ates Kabupaten Kulon Progo.

Penelitia n ini m erupa kan pene litian studi kasus di la pangan m enggunakan pendekatan kualita tif. Dalam hal ini m eneliti cam pur kode dan alih kode dalam percakapan siswa TK ABA di Kecam atan W ates. Da lam penelitian ini akan m elihat peristiwa cam pur kode da n alih kode yang terja di da lam percakapan. Selain itu juga m elihat pengaruh ya ng m elatar belakangi kem uncula n situa si cam pur kode dan alih kode.

(5)

1.2 Rumusan M asalah

Penelitia n ini m engka ji fenom ena ke bahasaan da lam hal cam pur kode dan alih kode dari sudut pandang sosiolinguistik. Untuk m em batasi agar penelitian ini lebih terarah m aka m asalah yang akan dibahas adalah se bagai berikut.

a. Bagaim ana kondisi w ilayah di Kecam atan W ates Kabupaten Kulon Progo dan TK ABA dalam m em pengaruhi cam pur kode dan alih kode?

b. Bagaim ana cam pur kode dan a lih kode yang m unc ul dalam percakapan siswa TK ABA di Kecam atan W ates Kabupaten Kulon Progo dan apa saja faktor yang m em pengaruhinya?

1.3 Tujuan Penelitian

Dengan m em perhatika n latar belakang dan perum usan m asalah sebagaim ana dikem ukakan sebe lum nya, tujuan pe nelitian ini adalah se bagai berikut.

a. M engetahui kondisi w ilayah Kecam atan W ates dan TK ABA yang ada di daerah tersebut.

b. M engetahui kem unculan cam pur kode dan alih kode dalam percakapan siswa TK ABA di Kecam atan W ates Kabupaten Kulon Progo dan faktor yang m em pengaruhinya.

(6)

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Karena keterbata san peneliti m aka dari beberapa m asalah d an tujuan penelitian di atas, ruang lingkup dibatasi pada siswa TK ABA di kecam atan W ates kabupate n Kulon Progo. Data ya ng diam bil dari 6 TK AB A yang berada di kecam atan W ates kabupaten Kulon Progo, yaitu T K ABA Kaum an, T K ABA Gadingan, TK ABA Dobangsan, T K AB A Kasa triyan, TK ABA Bendungan, TK ABA Serangrejo.

1.5 M anfaat Penelitian

Penelitia n ini m em iliki beberapa m anfaat yang akan dibagi dalam dua kategori, yaitu m anfaat penelitian secara teoritis da n praktis.

1.5.1 M anfaat Teoretis

Cam pur kode dan alih kode adalah sebuah cabang ilm u linguistik yang m enjelaskan tentang peralihan pe nggunaan satu bahasa ke ba hasa la in. Secara teoretis, penelitian ini akan m em berikan sebuah penge tahuan baru dalam bidang ilm u linguistik yang m engkaji cam pur kode da n alih kode dalam percakapan anak-anak. Lebih dari itu, pene litian ini juga m erupakan salah satu upaya untuk pengem bangan bida ng m akro linguistik dalam ranah kebudayaan se perti apa pengaruh sosia l terhadap penggunaan bahasa anak -anak.

1.5.2 M anfaat Praktis

Seorang akadem isi sudah sewajarnya m enjunjung tinggi Tri Dharm a Perguruan Tinggi, penelitian, pengajaran, pengabdian. Penelitia n ini m erupakan

(7)

salah sa tu bentuk im plikasi dari Tri D harm a Perguruan T inggi tersebut sehingga secara langsung m em berikan m anfaat praktis. Ditam ba h lagi penelitian ini dibuat bukan seba gai sebuah m anfaat m aterial tetapi lebih pada m anfaat im aterial, yaitu share knowledge atau apa sa ja yang harus diperhatikan dalam pengajaran bahasa di TK. Sela in itu juga sebagai m asukkan baha s pengajaran ba hasa Jawa pada anak dan pengayaka n m ateri pem belajaran bahasa Jawa.

1.6 Tinjuan Pustaka

Berikut ada lah be berapa tem uan pustaka yang dija dika n acuan untuk m endukung pe nelitian ini. Berisi te ntang penelitian yang m elibatkan a nak-anak sebagai bahan ka jian pene litian dan pene litian tentang alih kode dan cam pur kode.

Purwo (1989) m engadaka n penelitan tenta ng perkem ba ngan ba hasa anak dari lahir sam pai pra sekola h. Penelitian ini m engungkapka n bahwa m em asuki usia enam tahun anak suda h siap m engguna kan ba hasanya untuk b elajar di sekolah dasar dan sudah siap untuk m em pelajari bahasa tulis. Lebih spe sifik lagi anak usia enam tahun sudah m em iliki kem am puan dasar berbaha sa yaitu berbicara, m em baca, m enyim ak, dan m enulis. W alaupun kem am puannya m asih terbatas tidak se perti orang de wasa.

Purwo (1991) m eneliti tenta ng pe rkem bangan pragm atik dan ta ta bahasa anak. Penelitia n tersebut pengungkapka n bahwa a nak tidak sekedar m eniru m entah-m entah m odel ba hasa yang digunakan ole h orang dewasa m elainkan m em punyai ka idah tersendiri dalam m enyusun bahasa. anak-anak m em iliki cara tersendiri dalam m enyusun ta ta bahasa. M odel-m ode l yang disusun tidak serta m erta seperti tata bahasa orang de wasa, akan tetapi m aksud dari bahasa tersebut

(8)

seperti yang dim aksudkan ole h orang dewa sa. Pengaruh lingku nga n dalam hal ini orang dewasa sanga t m em pengaruhi anak-ana k dalam m enyusun tata bahasa.

Dardjow ijoyo (2000) m engadakan pengam atan dan pe ngkajian pem erolehan bahasa m ulai ta hun pertam a hingga tahun kelim a usia cucunya, Echa. Dardjowijoyo (2005:49-50) dalam penelitiannya m enyataka n bahwa pada anak usia 4-5 tahun, anak telah m engalam i berbagai perkem bangan dalam bidan g fonologi, m orfologi, sintaksis, leksikon, dan pragm atik. Dalam fonologi, anak usia TK telah m enguasai ham pir sem ua bunyi bahasa Indone sia. Da ri segi m orfologi, anak usia lim a tahun tam pak telah m engem bangkan verba dengan lebih cepat dan lebih produktif dari pa da kategori lain, dan ragam bahasa ya ng dipakai m asih tetap inform al m eskipun sudah m ulai m uncul bentuk -bentuk form al. Dari se gi sintaksis, anak m ulai m enguasai frasa da n kalim at m eskipun sebagian be sar m asih bertipe kalim at tunggal. Perkem bangan leksikon anak yang bertam bah de ngan pesat tersebut disebabkan karena fakta m asukan dari lingkungan term asuk di dalam nya sosialisasi dengan tem an sebaya. Selain itu adalah kem am puan anak yang dapat m em bedakan hal-hal di alam sekitarnya dengan lebih baik.

Bolonyai (1999) dalam Internationa l Jurnal of Bilingualism m enulis artikel berjudul In - Between Language: language s Shif/M aintenance in Childhood Bilingualism. Bolonyai m engutarakan konsekuensi struktural kontak inten sif dalam perkem banga n ba hasa 1 dan baha sa 2 pada suatu lingkungan. Hal yang akan terjadi anak-ana k akan m engalam i perkem bangan bahasa ya ng lebih dom inan pa da bahasa 2.

(9)

Kepirianto (2002) denga n judul pene litian B ahasa Tutur Anak Pada Masyarakat B ilingual Studi Kasus Anak Um ur 8 Tahun . Penelitian ini m erupakan studi kasus pada sebuah keluarga di Kota Sem arang Jawa Tengah. Subyek penelitian ini yaitu, 2 orang anak peneliti yang bernam a Ulfa dan Titin. Pene litian ini m endeskripsikan pem erolehan bahasa tutur a nak m eliputi pem erolehan fonologi, m orfologi, sintaksis, dan variasi tutur . Bahasa tutur anak bilingual itu m irip dengan bahasa tutur yang dipa kai m asyarakat di lingkungan anak. Nam un, terkadang ba hasa tutur anak m asih seperti baha sa tutur yang dituturkan ketika anak m asih kecil. Pem erolehan fonologi baha sa tutur anak m irip denga n bahasa orang dewasa. Pem erolehan m orfologi bahasa tutur sudah dikua sai oleh anak. Pem erolehan sintaksis pa da a nak m asih belum sem purna da n bersifa t inform al. Variasi tutur anak yaitu ragam inform al dengan tutur ringkas. Dalam pene litian ini juga ditem ukan ada nya register untuk m enyatakan berbagai tujuan dan topik. Selain itu juga ditem ukan alih kode sebagai akibat tutur bilingua l pada anak.

Prihandini (2002) m eneliti tentang Penggunaan Bahasa A nak-Anak TK 0 (nol) kecil TK Syuhada Yogy akarta um ur 4-5 tahun dalam hal tingkat penggunaan bahasa bidang fonologi, m orfosintaksis, dan leksikal. Ha sil dalam penelitia n ini m enunjukkan bahwa ana k m em peroleh 3 ba hasa yaitu, ba hasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Arab. Nam un dem ikian, anak -anak belum m am pu untuk m em bedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain , khususnya antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. B ahasa arab digunakan dalam doa dan salam . Dalam hal ini, nam paknya lingkungan sa ngat berperan pengaruhnya. Tipe -tipe bahasa yang diperoleh tergantung baha sa apa yang ada di lingkungannya. Bahasa

(10)

Indonesia banyak digunakan dalam ragam inform al. Dalam bahasa Jawa, tingkat ngoko paling banyak digunakan karena anak-anak berada dalam sua sana inform al dan m ereka bicara denga n tem an-tem an sebaya. Pada bidang fonologi, anak -anak telah m em peroleh pola bunyi yaitu, voka l, konsonan dan struktur suku ka ta. Sedangkan un tuk m orfosintaksis anak-a nak telah m em peroleh te ntang afiksasi dan reduplikasi. Tipe afiksasi yaitu, prefiks, infiks, dan konfiks.

Nicoladis dan Ge nesce ( 1999) dalam Parental D iscourse and Code Mixing in B ilingual Chlidre n m elakukan penelitia n di M ontreal. M ereka m eneliti lim a anggo ta keluarga bilingual Perancis-Inggris sejak berusia 2,0-2,6 tahun. Penelitia n tersebut dipusatkan pa da dua ha l. Pertam a, m eneliti tentang hubungan antara gaya tangga pan ora ng tua da n kecepata n cam pur kode a nak. Kedua, m eneliti pengaruh suatu tangga pan terte ntu terhadap cam pur kode anak dalam percakapan berikutnya.

Rahardi (1996) dalam tesisnya yang berjudul Kode dan Alih Kode Dalam Wacana Jual Beli Sandang pada Masy arakat T utut B ilingual dan Diglasik di Wilay ah Kodya Yogy akarta m engungkapkan bentuk da n arah alih kode yang dilakukan oleh para penjual pa kaian serta m enjelaskan alasan beralih kode. Subyek penelitian adalah para penjual sanda ng di Y ogyakarta.

M enurut W idjaja kusum ah (1981) dalam Chaer (2010: 112-113) terjadinya alih kode dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia dikarenakan 12 faktor, yaitu kehadiran orang ketiga, perpindaha n topik dari yang nonte knis ke yang teknis, beralihnya suasana berbicara, ingin dianggap “terpe lajar”, ingin menjauhkan jarak, m enghindarkan ada nya be ntuk kasar dan ha lus dalam baha sa Sunda,

(11)

m engutip pem bicaraan orang lain, terpengaruh lawan bicara ya ng beralih ke bahasa Indonesia, m itra berbicaranya lebih m udah, berada di tem pat um um , m enunjukkan bahasa pertam anya buka n ba hasa Sunda, dan beralih m edia /sarana berbicara. Penyebab alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda juga dikarenakan 12 faktor, yaitu, perginya orang ketiga, topiknya beralih dari hal teknis ke hal nonte knis, sua sana beralih dari resm i ke tidak resm i dan dari situa si kesundaan ke keindone siaan, m erasa ga njil untuk tida k berba hasa Sunda de ngan orang sekam pung, ingin m endekatkan jarak, ingin beradab -adab de ngan m enggunaka n bahasa S unda ha lus dan berakrab -akra b denga n bahasa S unda kasar, m engutip dari peristiwa bicara lain, terpengar uh la wan bicara yang berbahasa Sunda, perginya ge nerasi m uda, m erasa di rum ah sendiri, ingin m enunjukkan bahasa pertam anya, dan beralih bicara biasa tanpa alat -alat se perti telepon.

Berdasarkan paparan di ata s beberapa penelitian tersebut da pat dijadikan sebagai acuan da lam kaitannya te ntang penelitia n bahasa ana k-anak terutam a tentang penelitia n cam pur kode dan alih kode dalam percakapan siswa TK ABA di Kecam atan W ates Kabupa ten Kulon Progo.

1.7 K erangka Teori

Dalam penelitian ini akan m engguna kan teori utam a dan teori sekunder untuk m enga nalisis da ta yang ditem ukan sebagai sebua h upaya untuk m enjawab rum usan m asalah di ata s. Penelitian ini m enggunakan te ori-teori sosiolinguistik. Kridalaksana (1993:201) menyatakan bahwa “sosiolinguistik” adalah cabang ilmu yang m em pelajari hubungan dan saling pengaruh antara perila ku baha sa dan

(12)

perilaku sosia l. M enurut Chaer (2010:2) definisi sosiolinguistik adalah cabang ilm u linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilm u sosiologi, de ngan obyek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosia l di dalam sua tu m asyarakat tutur.

Sosiolinguistik se bagai cabang ilm u linguistik m em andang atau m enem patkan kedudukan baha sa dalam hubungannya dengan pem akai bahasa di dalam m asyarakat, karena dalam kehidupan berm asy arakat m anusia tidak la gi sebagai individu, aka n te tapi sebaga i m asyarakat sosia l. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh m anusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di se kitarnya. Siapa yang berbicara, yang m ana ba hasa itu, dan kapan (Fishm an, 1975:15). Dalam kajian sosiolinguistik, ada beberapa te ori yang m elingkupinya seperti alih kode dan cam pur kode. Pada penelitia n ini teori alih kode atau cam pur kode akan dijadikan teori utam a.

Kode m enurut Krida laksana (1993:87) ada lah lam bang atau sistem ungka pan yang dipakai untuk m enggam barkan m akna terte ntu , sistem bahasa dalam suatu m asyaraka t, atau variasi tertentu dalam suatu bahasa. Kode m enurut Poedjosoedarm o (1982:30) adalah suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya m em punyai cirri khas sesuai de ngan latar belakang penutur, rela si penutur dengan lawa n bicara, dan situasi tutur yang ada. Jadi, dalam kode itu terdapat unsur ba hasa, seperti kalim at, ka ta, m orfem , dan fonem . Kode berbentuk varian ba hasa yang secara nya ta dipakai berkom unikasi anggota suatu m asyarakat bahasa (Poedjosoedarm o, 1982:30). Dalam sebuah ba hasa dapat terkandung beberapa buah kode yang m erupa kan varian bahasa itu. Bagi m asyarakat bilingual

(13)

atau m ultilingual , inventarisasi kode itu m enjadi lebih luas da n m encakup varian dua bahasa atau lebih (Poedjosoedarm o, 1982:30) .

Alih kode adalah peristiwa pergantian bahasa yang digunaka n dalam situasi percakapan seperti berubahnya dari ragam santai ke ragam resm i atau sebaliknya, dan bisa juga dari sa tu bahasa ke ba hasa lain (Chaer, 2010: 106). Sedangkan cam pur kode pada dasarnya tida k berbeda jauh denga n alih kode, yaitu perubahan ragam bahasa. Nam un, untuk m enjelaskan perbedaan yang secara signifikan antara alih kode dan cam pur kode belum bisa ditarik secara tegas. Untuk penjela san m engenai cam pur kode m engikuti Fasold (1984) yang m enawarkan kriteria gram atika untuk m em bedakan cam pur kode dan alih kode. Kalau seseora ng m enggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah m elakukan cam pur kode, tetapi apabila satu kla usa je las-jelas m em iliki unsur gram atika satu bahasa dan klausa berikutnya disusun m enurut struktur gram atika lain, m aka peristiwa itu disebut alih kode (Chaer, 2010: 114-115).

Cam pur kode dan alih kode dianggap sebaga i sebuah teori yang sesuai untuk m elihat fenom ena berbahasa pada anak di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan bangsa Indonesia m em iliki bahasa Nasional se bagai bahasa pem ersatu dan bahasa-bahasa daerah sebagai baha sa ibu. Oleh karena itu, m asyarakat Indonesia m erupakan m asyarakat yang bilingual karena di Indonesia m enggunaka n bahasa Indonesia se bagai ba hasa persatuan, bahasa pem erintahan, bahasa form al, bahkan bahasa pengantar dalam institusi pe ndidika n. Nam un, karena setiap daerah m em iliki bahasa sendiri sehingga seorang anak terdidik dan berkem bang dengan bahasa Indonesia. Dengan dem ikian, m asyarakat bil ingual

(14)

cenderung m elakukan alih kode m aupun cam pur kode dalam tuturannya. Edwards (1995:56) m engutarakan pendapa t Bloom field, W einreich , dan Haugen perihal bilingualism e. Bloom field m engata kan bahwa bilingualism e m erupakan hasil dari proses pem be lajaran suatu ba hasa asing se lain bahasa ibunya. W einreich m endefinisikan bilingua lism e sem ata -m ata sebagai penggunaan dua bahasa secara bergantia n. Sem entara itu, Haugen berpendap at bahwa bilingua lism e diawa li dengan kem am puan untuk m engha silkan ujaran yang lengka p dan berm akna dalam bahasa kedua. O leh karena itu, alih kode dan cam pur kode m erupakan sebuah fenom ena kebahasaan ya ng sering terjadi dalam m asyarakat bilingual.

1.8 M etode Penelitian

Berdasarkan tahap dan pe laksanaannya, m etode penelitian ini terdiri dari cara penyediaan data, cara analisis, dan cara pem aparan hasil data (Sudarya nto, 1992: 57). Hal terse but m erupaka n m etode paling m enda sar dalam sebuah penelitian linguis tik.

1.8.1 M etode Pengumpulan Data

Cara penyediaan atau pengum pulan data penelitian ini denga n m encari data dari T K ABA yang berada di kecam atan W ates ka bupa ten Kulon Progo. Langkah awal prose s pengum pulan data dengan cara observasi tanpa partisipasi, yaitu m engam ati situa si kebaha saan siswa tanpa berkom unikasi dengan siswa. hal tersebut dim aksudkan untuk m em perkenalkan diri supa ya siswa akrab de ngan peneliti dan nantinya ketika pengam bila n data siswa tidak canggung de ngan peneliti. Cara penyediaan ata u pengum pulan data dilakukan dengan m enggunakan

(15)

pertanyaan-perta nyaan yang sudah dibua t sedem ikian rupa, terdiri dari 11 pertanyaan. Pertanyaan nom er satu berisi tentang perkenalan identitas siswa, sedangka n pertanyaan nom er 2 sam pai 11 berisi tentang pertanya an yang berhubungan dengan gam bar supaya m udah dipaham i oleh siswa. Siswa dim inta untuk m engam ati gam bar, kem udian siswa diberikan pertanyaan -pertanyaan yang berhubungan dengan isi gam bar tersebut. Gam bar yang disajikan sebagai bahan pem erolehan data berhubungan dengan fenom ena ya ng tidak asing de ngan kehidupan m ereka, seperti gam bar binatang, m akanan, m aupun aktifitas anak-anak.

Bahasa yang digunakan dalam beberapa pertanyaan terse but m enggunakan bahasa Jawa cam puran (krama, krama inggil, dan ngoko). Hal terse but diseba bkan karena untuk m em perm udah dalam berkom unikasi de ngan siswa, selain itu juga untuk m endeka tkan jarak antara peneliti dan siswa. contoh bahasa Jawa cam puran (krama dan ngoko) seperti pada contoh (1) berikut ini.

Peneliti : Digatekke nggih gambar niki! Kewan napa sing nembe penekan ing uwit niku?

„Coba dilihat gambar ini! Binatang apakah yang sedang memanjat pohon itu?‟

Siswa : Munyuk maem apel m erah. „Monyet memakan apel merah‟

Penggunaan kata k ram a inggil m isalnya pirsa „lihat‟ dalam pertanyaan dim aksudkan untuk m basakke (m em berikan pengajaran pada siswa untuk belajar krama inggil). Contoh bahasa Jawa cam puran (kram a inggil dan ngoko) dapat dilihat pada percakapan (3) be rikut ini.

Peneliti : Dipirsani gambar iki! Kewan apa sing lagi ma bur ik i? „lihatlah gambar ini! Binatang apa itu?‟

(16)

Siswa : Kupu-kupu

Penggunaan bentuk bahasa tersebut sebagai a lat im plem enta si observa si peneliti m asuk ke da lam kehidupan bahasa anak untuk m enggali kem am puan berbahasa anak secara natural. Jawaba n pertanyaan yang diperole h dari siswa tersebut direkam dan dicatat kem udia n dijadikan sebagai data untuk dianalisis m enggunaka n teori cam pur kode dan alih kode.

1.8.2 M etode Analisis Data

Setelah data dikum pulkan secara cukup untuk m endapatkan gam baran um um tentang konse p cam pur kode dan alih kode, kem udian data tersebut dianalisis sesuai dengan rum usan m asalah penelitian, yaitu dengan klasifika si tem uan data, kem udian dianalisis sesuai de ngan teori yang digunakan.

Berikut adalah contoh ana lisis data yang akan dila kukan da lam penelitian ini.

(1)Percakapan antara peneliti de ngan Adnan M ustafa

Peneliti : Digatekke nggih gambar niki! Kewan napa sing nembe penekan ing uwit niku?

„Coba dilihat gambar ini! Binatang apakah yang sedang memanjat pohon itu?‟

Siswa : Munyuk maem apel merah. „Monyet memakan apel merah‟

Peneliti : Liyane kewan sing penekan niku, cobi disebutke kewan liyane? „Selain binatang yang memanjat pohon itu, coba sebutkan binatang yang lain‟

Siswa : Pitik ro anake pitik. „Ayam dengan anak ayam‟

Pada percakapan (1) yaitu percakapan antara peneliti da n Adna n M ustafa (Siswa TK ABA Kaum an) terja di peristiwa cam pur kode yang dila kukan oleh

(17)

Adnan M ustafa da lam m enjawab pertanyaan-pertanyaan. Percakapan tersebut m enunjukan adanya cam pur kode baha sa Indon esia yang berwujud kata, yaitu merah. M erah dalam bahasa Jawa adalah abang (ngoko) atau abrit (kram a) .

(2) Percakapan antara peneliti dengan Rahm a Yunita A ndriyani. Peneliti : sinten nam ine, adhik?

„Siapa nama adik?‟ Siswa : Rahm a.

„Rahma‟ Peneliti : Jangkepe?

„Nama lengkap?‟

Siswa : Rahm a Yunita Andriy ani. „Rahma Yunita Andriyani.‟ Peneliti : Saknik i umure adhik pinte n?

„Sekarang um ur adik berapa?‟ Siswa : Lima tahun.

„Lima tahun‟ Peneliti : Pinten sedulure ?

„Berapa bersaudara?‟

Siswa : Pira ya ? Satu, aku thok mas. „Berapa ya? Satu, aku saja mas.‟

Pada percakapan (2) yaitu percakapan antara pe neliti da n Rahm a Yunita Andriyani (siswa TK ABA Ka um an) terjadi peristiwa alih kode ya ng dilakukan oleh Rahm a Yunita Andriya ni dalam m enjawa b pertanyaan-pertanyaan. Percakapan tersebut m enunjukan a danya a lih kode ba hasa Indone sia yang berwujud frasa, yaitu lim a tahun. Hal tersebut dim asukkan ke dalam peristiwa alih kode karena pene liti selalu m enggunakan kode baha sa Jawa, akan teta pi dalam m enjawab pertanyaan dari pene liti, Rahm a Yunita Andriyani beralih kode m enggunaka n kode bahasa Indonesia. Lim a tahun da lam bahasa Jawa a dalah limang taun (ngoko) atau gangsal taun (kram a).

(18)

1.8.3 M etode Penyajian Data

Setelah data dia nalisis, ta hap selanjutnya adala h taha p pe nyajian hasil analisis data. Hasil analisis data pada penelitia n ini disajikan dengan m enjabarkan keseluruhan penjelasan dari rum usan m asalah yang ada, yaitu dengan m enyajikan bentuk cam pur kode dan alih kode yang dilakuka n siswa TK ABA di kecam atan W ates kabupa ten Kulon Progo.

1.9 Sistematika Penyajian

Hasil penyajia n data di dalam penelitian ini disajikan dalam beberapa bab, yaitu: BAB I m erupakan pendahuluan. Bab ini m enguraika n latar be lakang, rum usan m asalah, tujuan penelitian, ruang lingkup pe neli tian, m anfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, m etode penelitian, dan sistem atika penyajian. BAB II berisi tentang deskripsi singkat kondisi kecam atan W ate s. BAB III berisi tentang penjelasan cam pur kode da n alih kode dalam percakapan siswa TK ABA dan faktor yang m em pengaruhinya . BAB IV m erupakan kesim pulan dan saran dari BAB I sam pai BAB III, dan juga dilengkapi denga n daftar pusta ka dan lam piran.

Referensi

Dokumen terkait

Kontribusi langsung yang diberikan fokus pada konsumen terhadap kepuasan kerja karyawan ini menjelaskan bahwa perubahan kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh

Begitu pula dengan minat beli konsumen pada Perumahan Vinus 88 Residences Kota Tangerang Selatan dipersepsikan baik, hal ini dapat dilihat pada nilai rata-

Menulis syair tembang macapat paling sderhana (pocung) Tugas individu Tes tertulis Tes lisan perbuatan • Pilihan ganda • Isian • Uraian Kurikulum Bahasa Jawa SMA/SMK 2011

Hasil simulasi yang didapat yaitu mekanisme spectrum sharing rule C menghasilkan alokasi kanal bagi secondary user yang bebas konflik satu sama lain dengan jumlah kanal

Dengan demikian, ketiga-tiga sajak yang terpilih iaitu “Harimau Luka’, ‘Hantu Menyambut Merdeka’ dan ‘Milah Anak Maksum’ telah dapat melihat seni artistik

Hitunglah total pengukuran lebar M-D tiap gigi permanen P2-P2 (baik yang dihitung pada model studi maupun yang dihitung dengan rumus perbandingan), catat hasil

29 Dalam penelitian ini akan dilakukan pendugaan model terbaik dengan menggunakan ACF dan PACF secara manual dan mode auto dengan menggunakan fungsi auto.arima yang

Secara lebih spesifik dalam konteks seni rupa, oleh Salam (2001 : 15), dikatakan bahwa pendidikan seni rupa adalah upaya mengembangkan kepribadian seseorang dalam