Bab II
Gambaran Umum Penelitian
2.1. Kabupaten Aceh Utara dan Keadaan Geografis
Berbicara tentang sejarah Aceh Utara maka tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Geudong yang merupakan tempat pertama kelahiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara.10
Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke-13 Masehi ketika Kerajaan Sriwijaya hancur. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malikussaleh, merupakan kerajaan kaya dengan penduduknya yang banyak. Kota kerajaan disebut Pasai, sekarang ini letaknya di Desa Beringin Kecamatan Samudera, Geudong Kabupaten Aceh Utara Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.
Secara de facto Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek, Samalanga. Dengan surat keputusan Vander Geuvemement General van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, pemerintah Hindia Belanda
10
T. Ibrahim Alfian, Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1995, hlm. 2
membagi daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Afdeeling Noord Kust van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie. Afdeeling Noord Kust van Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (Kewedanan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana), yaitu:
1. Onder Afdeeling Bireuen 2. Onder Afdeeling Lhokseumawe 3. Onder Afdeeling Lhoksukon
Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurugok, Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik.11
Pada masa pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut Kun dan Gampong disebut Kumi.
Sesudah Indonesia Diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari beberapa negara bagian, salah satunya
11
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Aceh Utara dari Kerajaan Samudera Pasai ke Era Industrialisasi, Aceh Utara: Dinas Informasi dan Komunikasi, 2001, hlm. 34
adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak mau tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta.
Pada tanggal 17 Agustus 1950 Republik Indonesia Serikat kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berlaku Undang-Undang Dasar Sementara 1950 dan seluruh negara bagian bergabung dan statusnya berubah menjadi Propinsi. Aceh yang pada saat itu bukan negara bagian, digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Dengan Undang-Undang Darurat Nomor 7 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom setingkat Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, terbentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara yang juga termasuk dalam wilayah Sumatera Utara.
Pada tahun 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh dengan keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/Misi/1957 dan dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Daerah Istimewa Aceh. Bedasarkan Undang-Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959, Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanan yaitu:
1. Kewedanan Bireuen terdiri atas 7 Kecamatan 2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan 3. Kewedanan Lhoksukon terdiri atas 8 Kecamatan12
12
M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997, hlm. 288
Kabupaten Aceh Utara yang berkedudukan pada bagian paling utara dari areal Propinsi Daerah Istimewa Aceh terletak pada garis 96o20’ – 97o21’ Bujur Timur dan 4o54’ – 5o18’ Lintang Utara dengan luas 5.488,9 Km2. Batas-batas kawasan Aceh Utara meliputi:
- Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tengah - Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur - Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Pidie
Daerah Tingkat II Aceh Utara beriklim tropis dengan kelembaban atau curah hujan mencapai rata-rata 28oC dan suhu siang hari pada musim kemarau rata-rata 32,8oC. Keadaan alam (geologi) di Aceh Utara bedasarkan hasil penelitian geologi mempunyai potensi terhadap bahan galian/tambang diantaranya minyak dan gas alam, batu kapur, truss dan lain-lain.
Pada tahun 1977 berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik Propinsi penduduk di Aceh Utara berjumlah sekitar 443.090 jiwa dengan rata-rata tingkat pertumbuhan 1,32% yang mendiami 26 Kecamatan, 4 Perwakilan Kecamatan dan 1 Kota Administratif. Pembagian desa di Kabupaten Aceh Utara termasuk unik karena terbagi 4 bagian berdasarkan Desa Status berjumlah 1.413 Desa, Non Status berjumlah 92 Desa, Kelurahan berjumlah 10 dan 90 Mukim.13
13
2.2. Kehidupan Keagamaan, Pendidikan, Adat-Istiadat dan Sosial Budaya
a. Kehidupan Keagamaan
Sejak berkembangnya Agama Islam, Islam telah menjadi bagian hidup terpenting diseluruh kawasan Aceh Utara. Hampir di setiap langkah dan gerak kehidupan masyarakat Aceh Utara selalu menonjolkan soal agamanya. Agama menjadi hal yang sangat utama dalam kehidupan masyarakat Aceh Utara, terlebih lagi dalam menjalankan roda kehidupan disesuaikan dengan syariat Islam.
Syariat Islam di Daerah Istimewa Aceh pertama kali diresmikan pada tanggal 7 April 1962 setelah Tgk. M. Daud Beureueh mengajukan konsep dan syarat tentang pelaksanaan unsur syariat Islam di Daerah Istimewa Aceh. Presiden Soekarno menyetujui konsep tersebut dan pada tanggal 7 April 1962 pemerintah mengirim perwakilan sebagai pelaksana Peperda Aceh dan menandatangani keputusan Peperda Tentang Kebijaksanaan Pelaksanaan Unsur Syariat Agama Bagi Pemeluk-pemeluknya di Daerah Istimewa Aceh.14
Dengan berlakunya syariat Islam di seluruh Aceh, maka Kabupaten Aceh Utara adalah salah satu daerah pelaksana sekaligus pendukung terbesar syariat Islam. Memang tidaklah semua daerah itu dapat dikatakan sempurna, pastilah di sana-sini banyak kekurangan, kelalaian dan kesalahan, walaupun dalam diri dan keluarga pemuda di Aceh Utara lebih cenderung terkadang berbuat hal
14
yang dilarang dalam syariat Islam walau para pelaku tersebut hanyalah dalam jumlah yang sedikit. Pada kenyataannya walaupun demikian, pemuda-pemudi Aceh Utara tetap saja memiliki dasar keagamaan sebagai modal yang besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Demikian halnya yang terjadi di Aceh Utara.
Kefanatikan terhadap Islam ini menumbuhkan suatu pandangan sikap bahwa setiap agama diluar Agama Islam dianggap kafir atau kafee. Oleh karena itu dapat dimaklumi bila terjadi perlawanan yang hebat serta memakan waktu yang lama terhadap pemerintah Hindia Belanda dan Jepang waktu itu. Kedua bangsa ini tidak beragama Islam dan dianggap telah mengancam eksitensi Islam di tanah Aceh pada umumnya.
Rasa keagamaan yang tinggi melahirkan pandangan terhadap tokoh-tokoh agama atau Ulama karena pengetahuan yang dimiliki, ketaatan mereka memperdalam agama, selalu berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta selalu dikerumuni oleh santri-santri yang mampu menjadi pendakwah agama yang mampu menempatkan Ulama di seluruh Aceh sebagai mobilisator di dalam urusan keagamaan.
Keahlian dari golongan Ulama dalam mempergunakan nilai-nilai yang berasal dari ajaran agama Islam patut kita hargai. Salah satunya Ulama mampu membangkitkan semangat perang dan mati syahid dengan mengikrarkan “hikayat prang sabil” yang diciptakan melalui karya sastra. Di sini tercantum nilai-nilai
moral dan keagamaan yang dapat membangkitkan semangat patriotisme para pemuda pejuang Aceh.
Pancaran keagamaan dari masyarakat Aceh ini mencakup hampir diseluruh segi kehidupan, baik kehidupan politik, pendidikan sosial dan lain-lain. Nilai keagamaan telah berhasil membangkitkan apa yang dinamakan kekuatan, sehingga sudah sewajarnya bila masyarakat Aceh Utara cepat menunjukkan tekad yang kuat terhadap hal-hal yang mengganggu kehidupan keagamannya.15
b. Pendidikan
Sekitar tahun 1976 rakyat Aceh Utara pada umumnya secara resmi merupakan pemeluk agama Islam dan salah satunya yang paling banyak berada di Kabupaten Aceh Utara, oleh karena itu maka sistem pendidikan yang berlaku di Aceh Utara bersumber pada ajaran Islam. Dalam sistem pendidikan ini peranan lembaga tradisional seperti meunasah, dayah atau pesantren amatlah penting. Dayah atau pesanten yang terkenal dari tahun 1950-an di Aceh Utara pada waktu itu salah satunya adalah Dayah Cot Plieng.
Pendidikan pertama bagi anak-anak yang telah mencapai usia sekitar enam sampai tujuh tahun diadakan di meunasah. Di meunasah anak-anak untuk pertama kali diajarkan mengenai bacaan dasar melalui Al-Qur’an. Dalam pemberian pelajaran ini antara anak laki-laki dan perempuam dipisahkan.
15
Metode pelajaran bersifat tradional. Guru mengucapkan dan murid mengulang. Tiap murid diajar secara individual. Bagi murid-murid yang telah tamat belajar, kemudian mereka dapat melanjutkan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi dari pada dayah atau pesantren.
Melihat cara-cara pendidikan yang berlaku di Aceh Utara yakni keyakinan beragama telah ditanamkan dalam diri tiap individu, maka dapat diharapkan akan lahir generasi muda yang memiliki ilmu keagamaan yang tinggi. Kebiasaan mendidik anak-anak dalam didikan Islam sampai sekarang masih berlaku di Aceh Utara.
Sistem pendidikan barat yang masuk ke Aceh pada pertengahan abad ke XX telah merubah situasi masyarakat Aceh Utara meskipun perubahan itu tidaklah terlalu cepat bahkan sangatlah sulit memperkenalkan pendidikan barat. Hal ini membuat para pemuda Aceh dan Ulama menunjukkan sikap antipati terhadap pembauran-pembauran yang dibawa oleh Belanda.
Dengan timbulnya sekolah model barat ini terdapatlah dua macam pendidikan di Aceh pada abad ke XX. Kedua macam itu berupa pendidikan umum yang diperkenalkan oleh Belanda melalui sekolah-sekolah dan pendidikan Agama Islam yang tetap berlangsung pada meunasah-meunasah atau dayah. Kemajuan yang telah dicapai dibidang pendidikan umum telah membangkitkan keinginan dari para pemimpin di Aceh Utara untuk meningkatkan dan memperbaharui mutu pendidikan Islam.
c. Adat-Istiadat dan Sosial Budaya
Adat sebagai yang terdepan dalam meluruskan pola dan tingkah laku hidup manusia. Adat secara umum dibagi empat tingkatan, yaitu:
1. Tingkat pertama adalah lapisan yang paling abstrak dan luas ruang lingkupnya. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang bernilai dalam masyarakat
2. Tingkat adat yang kedua dan lebih konkret adalah sistem norma, yaitu nilai-nilai budaya yang sudah terkait kepada peranan-peranan manusia 3. Tingkat adat yang ketiga dan yang lebih konkret lagi adalah sistem hukum
(hukum adat atau hukum tertulis)
4. Tingkat adat yang keempat adalah aturan-aturan khusus yang mengatur aktifitas dan terbatas ruang lingkupnya di dalam masyarakat.16
Masyarakat Aceh Utara sebagaimana pada umumnya masyarakat Aceh memiliki karakter yang khas yaitu masyarakat yang mewarisi dan memiliki nilai-nilai Islam yang kental. Warisan nilai-nilai budaya Aceh itu menyatu dalam diri dan masyarakat sehingga menjadi karakter, watak, dalam perwujudan kehidupannya sehari-hari sebagai insan anggota masyarakat yang beriman dan bertaqwa, beramal saleh, kasih sayang, tolong-menolong, mengutamakan amanah dan kebenaran, memenuhi janji, bertanggung jawab, disiplin, pantang tersinggung harga dirinya, dan sikapnya yang harmonis serta humoris.17
16
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedi, 1987, hlm. 11-12
17
Di dalam masyarakat Aceh Utara telah hidup dan berkembang bermacam-macam norma yang merupakan suatu pedoman yang berfungsi sebagai pengendali diri. Demikian juga dengan masyarakat Aceh Utara hidup di dalam norma-norma adat, norma hukum, agama yang merupakan pegangan dasar masyarakat Aceh Utara.
Hubungan kekeluargaan dan garis keturunan masyarakat Aceh Utara menganut Sistem Patrilineal, artinya garis keturunan ditentukan menurut garis keturunan ayah, terutama di bidang perwalian (wali nikah, wali mawaris atau warisan).18
Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda satu sama lain. Kebudayaan secara umum dapat terbentuk apabila:
1. Sesuatu telah diterima sebagai norma
2. Hal yang diterima sudah harus merupakan “milik bersama”
3. Yang disebut kebudayaan tidak saja meliputi benda tetapi juga perasaan, fikiran dan tindakan.19
Demikiah juga budaya yang ada di Kabupaten Aceh Utara mempunyai ciri-ciri yang khas yaitu kebudayaan yang terbentuk berdasarkan pada pola pikir dan tingkah laku yang sesuai dengan syariat Islam.
Penduduk asli (pribumi) Aceh terdiri dari etnis Pasee yang merupakan bagian dari etnis Aceh yang terkenal sebagai suku Aceh. Dilihat dari segi
18
M. Hakim Nya Pha, Kedudukan dan Adat-istiadat Dalam Kemasyarakatan Aceh, Jakarta: Kongres Kebudayaan, 1991, hlm. 4
19
Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosiologi, Jakarta: Bina Cipta, 1983, hlm. 125
istiadat, maka pendududk daerah ini sama dengan yang dianut penduduk daerah Aceh lainnya dengan ciri-ciri perbedaan tertentu yang tidak begitu kentara, misalnya perbedaan tekanan bahasa, dialeknya, mimik, dan sopan santunnya.
Pemerintahan terkecil adalah Gampong yang dipimpin oleh Geusyik (kepala kampung) dan dibantu oleh sebuah badan Penasehat Geusyik yaitu Tuha Peut. Pada tingkat berikutnya, setingkat di atas Geusyik adalah Imum Mukim (Camat) yang mengkoordinir pelaksanaan operasional pemerintahan di tingkat Gampong.20
Pemegang adat di Aceh Utara tidak dilaksanakan oleh suatu badan dan pribadi orang yang merupakan pemangku adat tetapi oleh orang tua gampong. Agama dan adat-istiadat memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, yang mengendalikan pola hidup atau tingkah laku manusia dalam kelompok masyarakat.
Masyarakat Aceh Utara yang penduduk aslinya 100% pemeluk agama Islam, tidak terlepas dari adat-istiadat yang dipengaruhi oleh syariat Islam ini berdasarkan adanya pepatah Aceh yang mengatakan:
“Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut (Hukum dan adat seperti zat dengan sifatnya), Adat Bak Po Teumeureuhom Hukom Bak Syiah Kuala (Adat dipegang oleh seorang raja, hukum dipegang oleh ulama)”.21
20
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Op.cit., hlm. 58 21
Depdikbud, Aceh Utara dan Budaya Dalam Statistik, Aceh Utara: Depdikbud, 1997, hlm. 17
Maksudnya disini adalah hukum adalah hukum Islam. Yang menjalankan pemerintahan (adat) ada ditangan seorang raja (Sultan Iskandar Muda), sedangkan hukum (peraturan perundang-undangan) berada ditangan segenap Ulama yang makna keseluruhan adalah bahwa pemerintahan dijalankan berdasarkan syariat Islam.