Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 8 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana vii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
iSAMBUTAN
...
iiiKOMITE ILMIAH
....
vDAFTAR ISI
...
viiKEYNOTE SPEAKER
SUSTAINABLE BUILDING MATERIALS ADALAH KEBUTUHAN KS-1
PERAN ENERGI TERBARUKAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI
INDONESIA KS-11
BIDANG STRUKTUR DAN MATERIAL
PEMANFAATAN STEEL SLAG SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN PADA CAMPURAN BETON
NORMAL SM-1
PERENCANAAN BETON MUTU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN
SUPERPLASTICIZER SULPHONAT DAN PENAMBAHAN FLY ASH SM-9 ANALISIS STRUKTUR BETON BERTULANG SRPMK TERHADAP BEBAN GEMPA
STATIK DAN DINAMIK DENGAN PERATURAN SNI 1726 2012 SM-19 EVALUASI SIMPANGAN STRUKTUR AKIBAT PENAMBAHAN LANTAI DENGAN
METODE ANALISIS STATIK DAN DINAMIK RESPONSE SPECTRUM (STUDI KASUS :
PEMBANGUNAN GEDUNG DEKANAT FAKULTAS TEKNIK UNTIRTA) SM-27 PENGARUH PENGURANGAN PENAMPANG TERHADAP KERUSAKAN RANGKA
BAJA SM-35
STUDI PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MOMENT RESISTING FRAME
DAN ECCENTRICALLY BRACED FRAME PADA GEDUNG CDAST SM-43 PENGARUH PENAMBAHAN SERAT DRAMIX DAN PERAWATAN TERHADAP KUAT
TEKAN, KUAT TARIK DAN BIAYA BETON . SM-49 PENINGKATAN KINERJA BETON HIGH VOLUME FLY ASH DENGAN VARIASI UKURAN
BUTIR MAKSIMUM AGREGAT KASAR SM-55
KEKUATAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON MENGGUNAKAN SERBUK BATU
BATA SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN SM-63 STUDI PEMASANGAN PANEL BETON PRACETAK CORRUGATED SEBAGAI BADAN
REL-KERETA API: KASUS JALUR PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG . SM-71 ANALISIS PEMBEBANAN SEISMIK STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG
DENGAN DAN TANPA INTERAKSI TANAH-STRUKTUR (KASUS GEDUNG 5 LANTAI
SM-87 STUDI PERBANDINGAN PERILAKU SEISMIK STRUKTUR RANGKA BETON
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana viii
STUDI PERBANDINGAN PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR BAJA MENGGUNAKAN KOLOM KOMPOSIT CONCRETE ENCASED DAN CONCRETE FILLED TUBE, SERTA NON
KOMPOSIT SM-113
EVALUASI POTENSI ABU TERBANG SISA PEMBAKARAN ASPALT MIXING PLAN (AMP) PT.HARAPAN JAYA BETON BALI SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN
PORTLAND SM-125
STUDI PEMASANGAN PANEL BETON PRACETAK CORRUGATED SEBAGAI BADAN REL-KERETA API: KASUS JALUR PELABUHAN TANJUNG EMAS
SEMARANG SM-135
ANALISIS PERILAKU HUBUNGAN PELAT-KOLOM TEPI STRUKTUR PELAT DATAR
DENGAN CONCRETE DAMAGE PLASTICITY (CDP) DARI ABAQUS SM-151 PENGARUH VARIASI CAMPURAN DAN FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT
TEKAN BETON NON PASIR DENGAN AGREGAT GRANIT PULAU BANGKA SM-161 ANALISIS PERILAKU STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG TIDAK BERATURAN
DENGAN PENAMBAHAN TINGKAT MENGGUNAKAN SM-169 PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE
X- SM-179
PENGUJIAN LABORATORIUM BETON SERAT DENGAN AGREGAT RINGAN .... SM-189
BIDANG GEOTEKNIK
ANALISIS KONSOLIDASI PDA TANAH LEMPUNG LUNAK DENGAN METODE GT-1 ANALISIS WAKTU PENURUNAN KONSOLIDASI PADA KASUS PERBAIKAN TANAH
MENGGUNAKAN STONE GT-11
ANALISIS PENGARUH PEMERAMAN TERHADAP TANAH LEMPUNG YANG
GT-25 PEMANFAATAN LIMBAH BATUBARA SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH
... GT-41 PERBANDINGAN DAYA DUKUNG PONDASI AKIBAT PERBEDAAN METODE
KONSTRUKSI PONDASI DALAM... GT-57 KAJIAN EFEK PNGEMBANGAN TERHADAP KUAT GESER DAN PERUBAHAN VOLUME
TANAH LEMPUNG BOBONARO... GT-65 PENGARUH KONSOLIDASI TERHADAP DEFORMASI DAN FAKTOR KEAMANAN
DENGAN MODEL MATERIAL TANAH LUNAK... GT-77 DAYA LAYAN PILE SLAB BETON BERTULAN SEBAGAI STRUKTUR PERKERASAN
GT-85
BIDANG MANAJEMEN PROYEK DAN REKAYASA KONSTRUKSI
KENDALA DALAM PENERAPAN METODE TERINTEGRASI PADA PROYEK
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 8 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana ix
STUDI KECUKUPAN INFRASTRUKTUR PENUNJANG SOSIAL EKONOMI DAN
LINGKUNGAN DI BALI MK-9
STANDAR GREEN BUILDING INDONESIA: STUDI KOMPARASI MK-17 ANALISIS PENGARUH PENERAPAN TQM (TOTAL QUALITY MANAGEMENT) DAN
KOMPENSASI TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA KONSTRUKSI (STUDI
KASUS: PROYEK KONSTRUKSI DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA) MK-23 PERAN TEKNOLOGI INFORMASI (TI) TERHADAP TOTAL QUALITY MANAGEMENT
(TQM) DAN SUPPLY CHAINT MANAGEMENT (SCM) PADA INDUSTRI KONSTRUKSI
(STUDI KASUS PADA KONTRAKTOR DI DAERAH DKI JAKARTA) ... MK-31 IDENTIFIKASI DAN ANALISIS FAKTOR COST OVERRUN DALAM MENINGKATKAN
MK-39 IDENTIFIKASI DAN ANALISIS FAKTOR PENYEBAB REWORK PROYEK KONSTRUKSI
BANGUNAN GEDUNG APARTEMEN DI PERUSAHAAN X MK-47 IDENTIFIKASI FAKTOR FAKTOR
DALAM PROYEK KERJA SAMA OPERASI DENGAN PERUSAHAAN ASING DI
INDONESIA . MK-57
PENGARUH TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN REHABILITASI REKONSTRUKSI DALAM RANGKA PERBAIKAN RUMAH TINGGAL DI KOTA PADANG PASCA GEMPA 30 SEPTEMBER 2009 (STUDI KASUS: KOTO TANGAH
DAN KURANJI) MK-65
EVALUASI TEKNIS DAN SISTEM PEMELIHARAAN GEDUNG KANTOR PELAYANAN
KOTA DENPASAR MK-77 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESUKSESAN PELAYANAN IZIN MENDIRIKAN
BANGUNAN DI KOTA DENPASAR MK-89
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI REGULASI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DALAM
PENATAAN PEMBANGUNAN DI KOTA DENPASAR MK-95 ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM KONTRAK DAN PENYELESAIANNYA PADA
PROYEK KONSTRUKSI MK-105
PERSPEKTIF PEMILIK PROYEK TERHADAP PERMASALAHAN DALAM MANAJEMEN
KLAIM KONSTRUKSI MK-113
PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) MENGGUNAKAN OHSAS PADA PROYEK PEMBANGUNAN FAVE HOTEL KARTIKA
MK-121 FAKTOR PENUNJANG MANAJEMEN MUTU TERPADU UNTUK MENINGKATKAN
KINERJA KONTRAKTOR KECIL MK-129
BIDANG TRANSPORTASI
JALAN LAYANG SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PRASARANA TRANSPORTASI
RAMAH LINGKUNGAN TRANS-1
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana x
RAYA BERBASIS SISTEM TRANSPORTASI BERKELANJUTAN
POLA PERGERAKAN PEJALAN KAKI ANAK SEKOLAH PADA JALUR PEDESTRIAN TRANS-19 ANALISIS KARAKTERISTIK DAN BIAYA KECELAKAAN DI JALAN TOL TANGERANG
MERAK (KM 31 TRANS-29
TRANS-45 MODEL PENGARUH HAMBATAN SAMPING TERHADAP NILAI KAPASITAS JALAN
DAN BIAYA OPERASI KENDARAAN PADA RUAS JALAN JAWA KABUPATEN
TRANS-57 TRANS-65 ANALISIS KORBAN DAN KECELAKAAN LALU LINTAS FATAL DI KABUPATEN
TABANAN TRANS-73
KARAKTERISTIK VISCO ELASTIC ASPAL AKIBAT PENUAAN DITINJAU DARI NILAI
SUDUT PHASE TRANS-81
DESAIN JALAN REL UNTUK TRANSPORTASI BATU BARA RANGKAIAN PANJANG
(STUDI KASUS: SUMATERA SELATAN) TRANS-89 KARAKTERISTIK CAMPURAN AC-WC MODIFIKASI JENIS BNA BLEND PADA NILAI
ABRASI AGREGAT KASAR YANG BERBEDA YANG TERSEDIA DI BALI TRANS-97 EVALUASI TINGKAT KERUSAKAN JALAN DENGAN METODE PAVEMENT CONDITION
INDEX (PCI) UNTUK MENUNJANG PRIORITAS PENANGANAN PERBAIKAN JALAN DI
TRANS-107 KAJIAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN SIMPANG DENGAN UNDERPASS (STUDI
TRANS-113 ANALISIS KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN PARKIR DI BANDARA
INTERNASIONALI GUSTI NGURAH RAI- TRANS-121 ANALISIS PERILAKU PEMILIHAN RUTE BERDASARKAN SISTEM INFORMASI LALU
LINTAS REAL TIME (STUDI KASUS: PENGARUH PENGGUNAAN APLIKASI WAZE) TRANS-131 ANALISIS MANAJEMEN PENGANGKUTAN SAMPAH KABUPATEN TABANAN (STUDI
KASUS : KECAMATAN TABANAN DAN KECAMATAN TRANS-141 KAPASITAS LINGKUNGAN JALAN SEBAGAI PENDUKUNG REKOMENDASI
ANDALALIN PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT METRO MEDIKA MATARAM TRANS-149 PENANGANAN JALANDAN PEMASANGAN UTILITASDI WILAYAH KOTA DENPASAR:
KONDISI DAN TRANS-159
ANALISIS FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMILIHAN RUTE JALAN TOL
TRANS-167 KAJIAN EMISI GAS RUMAH KACA AKIBAT SEKTOR TRANSPORTASI DI KOTA
CILEGON TRANS-179
ANALISIS KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN (CAED) DENGAN
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 8 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana xi
BIDANG SUMBER DAYA AIR
KURVA IDF DESAIN KOLAM RETENSI DAN DETENSI SEBAGAI UPAYA KONSERVASI
AIR TANAH SDA-1
ANALISA INDEKS DAN SEBARAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN GEOGRAPHICAL INFORMATION
SYSTEM (GIS) UNTUK PULAU LOMBOK SDA-9
WATER ALLOCATION AND DISTRIBUTION IN JATILUHUR IRRIGATION AREA
INDONESIA : EVALUATION AND CHALLENGES SDA-17 IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA PADA SUBAK PULAGAN SEBAGAI WARISAN
BUDAYA DUNIA DI KECAMATAN TAMPAKSIRING, KABUPATEN GIANYAR SDA-29 SIMULASI OKSIGEN TERLARUT (DO) AKIBAT POLUSI DI ANAK SUNGAI CITARUM
MENGGUNAKAN HEC-RAS SDA-41
PEMODELAN BAK PENGENDAP (SETTLING BASIN) UNTUK MEREDUKSI PENGARUH SEDIMENTASI SALURAN IRIGASI PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
MIKROHIDRO (STUDI KASUS PADA SALURAN IRIGASI PROVINSI GORONTALO) SDA-49 EFEKTIVITAS LUBANG RESAPAN BIOPORI DALAM PENGENDALIAN BANJIR DI
KOTA DENPASAR. SDA-57
ANALISIS KETERSEDIAAN AIR PADA BENDUNGAN PANDANDURI KABUPATEN LOMBOK TIMUR UNTUK KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR
BAGIAN SELATAN SDA-69
UNJUK KERJA BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG AMBANG RENDAH BLOK BETON
BERKAIT SDA-79
MANAJEMEN RISIKO PELAKSANAAN UJI MODEL FISIK DI LABORATORIUM PANTAI
SDA-89 PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN PANTAI DI PANTAI
SDA-95
BIDANG LINGKUNGAN
PERANAN BAMBU DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN WILAYAH YANG LK-1 PENGARUH TANAMAN RAMBAT TERHADAP SUHU RUANG BAWAH ATAP
LK-9 ANALISIS TIMBULAN DAN KOMPOSISI LIMBAH PADAT BAHAN BERBAHAYA DAN
LK-15 PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR HIJAU DALAM MENGURANGI GENANGAN DI
LK-23 BUCKET SYSTEM AS ALTERNATIVE OF URBAN GROWTH SIMULATION USING
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-1
KENDALA DALAM PENERAPAN METODE
TERINTEGRASI PADA PROYEK KONSTRUKSI
A.A. Diah Parami Dewi1dan Gede Astawa Diputra2dan Ariany Frederika3
1Magister Teknik Sipil Universitas Udayana
Email: [email protected]
2,3Program Studi Teknik Sipil Universitas Udayana
Email: [email protected]
ABSTRAK
Dalam menghadapi gencarnya pembangunan infrastruktur, pengadaan infrastruktur memerlukan suata metode yang tepat sehingga tujuan proyek yaitu dari aspek biaya, mutu dan waktu dapat terpenuhi. Saat ini metode yang digunakan dalam pengadaan infrastruktur di Indonesia pada umumnya menggunakan metode konvesional atau segmental yaitu Design Bid Build (DBB).Sementara itu saat ini metode terintegrasi yang merupakan salah satu alternatif metode pengadaan banyak diterapkan di Negara Negara sedang berkembang maupun negara maju karena dirasakan lebih unggul dari segi biaya, mutu dan waktu dan dapat menjawab kelemahan metode konvensional atau segmental yaitu Design Bid and Build (DBB). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kendala dalam penerapan metode terintegrasi dan factor yang dapat mendorong terlaksananya penerapan metode ini. Data diperoleh dengan metode survey kuesioner dengan teknik Delphi dan dianalisis dengan metode deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa emapat kendala dalam penerapan metode terintegrasi adalah belum adanya guideline mengenai pelaksanaan yang jelas dalam penerapan metode terintegrasi, kapabilitas dari pemilik proyek dan stakeholder lain yang terlibat dalam pengadaan dengan metode terintegrasi dan adaptasi dari pemilik proyek
Kata kunci: pengadaan infrastruktur, metode terintegrasi, metode konvensional, kendala dalam penerapan
ABSTRACT
In order to face the infrastructure development, infrastructure procurement requires an appropriate method so that the project objectives of the aspects of cost, quality and time can be met. Currently, the methods used in infrastructure procurement in Indonesia generally use the conventional or segmental method of Design Bid Build (DBB). Meanwhile, the current integrated method which is one of the alternative methods of procurement is widely applied in developing country and developed countries because it is perceived better in terms of cost, quality and time and can overcome the weakness of conventional or segmental method of Design Bid and Build (DBB). The purpose of this study is to identify obstacles of integrated methods and factors that can promote the implementation of this method. Data were obtained by questionnaire survey method with Delphi technique and analyzed by descriptive method. The result of analysis shows that there are four main barriers to applying integrated method namely lack of guideline regarding the implementation of integrated method , capability of clients and other stakeholders involved in project procurement and adaptation.
Key words: infrastructure procurement, integrated method, conventional method, barriers to implementing
1. PENDAHULUAN
Sistem pengadaan (procurement system) berperan penting dalam pengembangan industri konstruksi. Dalam menghadapi gencarnya pembangunan infrastruktur, pengadaan infrastruktur memerlukan suata metode yang tepat sehingga tujuan proyek yaitu dari aspek biaya, mutu dan waktu dapat terpenuhi. Saat ini metode yang
A.A. Diah Parami Dewi, Gede Astawa Diputra, dan Ariany Frederika
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-2 digunakan dalam pengadaan infrastruktur di Indonesia pada umumnya menggunakan metode konvesional atau segmental yaitu Design Bid Build (DBB).
Sementara itu saat ini metode terintegrasi yang merupakan salah satu alternatif metode pengadaan banyak diterapkan di Negara Negara sedang berkembang maupun negara maju. Metode terintegrasi telah berkembang populer, bahkan pada beberapa industri dipandang sebagai solusi yang dapat menjawab kelemahan metode konvensional atau segmental yaitu Design Bid and Build (DBB) ( Park et al, 2009).
Keuntungan dari metode terintegrasi ini adalah partisipasi lebih awal dari kontraktor dalam perencanaan dapat mengakibatkan efisiensi waktu dan biaya , komunikasi yang lebih terjaga, sehingga proyek dapat diselesaikan lebih awal dan dengan biaya lebih sedikit dan mutu yang terjamin (Anumba & Evbuomwan, 1997). Sedangkan metode konvensional cenderung memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikan suatu proyek. Hal ini karena seluruh pekerjaan desain harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum dimulainya proses pengadaan kontrak konstruksi.
Untuk di Indonesia sendiri metode terintegrasi sebenarnya sudah ada di dalam Undang-undang nomor 2 tahun 2017 tentang industri jasa konstruksi. Didalamnya tersurat bahwa jasa disain, konstruksi dan pengawasan dapat dilakukan secara terintegrasi. Saat ini proyek infrastruktur umumnya masih menggunakan metode konvensional. Proyek infrastruktur yang ditujukan untuk kepentingan umum yang merupakan milik pemerintah umumnya juga menggunakan metode konvensional. Sedangkan, proyek yang bersifat non profit ini tentu akan lebih mempunyai nilai dan bermanfaat jika bisa diselesaikan lebih awal. Berdasarkan uraian diatas itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kendala dalam penerapan metode terintegrasi ini.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Alternatif Metode Pengadaan
Pengadaan dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana proyek konstruksi secara menyeluruh didisain dan dibangun termasuk definisi skup proyek, organisasi dari perencana, kontraktor, urutan kerja , pembangunan (Gransberg et al, 2006). Pengadaan juga diartikan sebagai suatu proses dimana tugas pemilik proyek ditransfer kepada pihak lain untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan, dimana pihak lain ini bertanggung jawab atas kinerja pembangunan (Georgia State Financing and Investment Commission, 2003). Secara sederhana pengadaan juga bisa diartikan proses pengadaan barang dan jasa dalam sebuah institusi.
Terdapat beberapa metode pengadaan berdasarkan pembagian tanggung jawab (del Puerto et al, 2008), yaitu:
1. Konvensional yaitu pemilik proyek memperkerjakan konsultan perencana dan kontraktor dalam kontrak yang terpisah.
2. Terintegrasi yaitu pemilik proyek memperkerjakan konsultan perencana dan kontraktor dalam satu kontrak, jadi pekerjaan perencanaan dan pembangunan berada dalam satu kontrak.
3. Construction management at fee yaitu pemilik proyek memperkerjakan pihak manajer konstruksi sebagai pihak ketiga sebagai wakil pemilik proyek. Manajer konstruksi hanya mewakili pemilik proyek tapi tidak bertanggung jawab atas risiko yang terjadi pada proyek. Manajer konstruksi hanya
bertanggung jawab atas administrasi dan manajemen, masalah constructability, dan aktivitas sehari-hari. 4. Construction management at risk dimana manajer konstruksi bertanggung jawab atas risiko proyek. Metode Terintegrasi dan Kendala Dalam Penerapan
Pada mulanya metode terintegrasi dikenal dengan konsep “master builder” dimana metode pengadaan ini pemilik proyek menggadakan perjanjian dengan sebuah bentuk usaha untuk melaksanakan proyek perencanaan dan pembangunan. Jadi metode ini mengintegrasikan perencanaan dan pembangunan (Abi-Karam, 2002).
Metode terintegrasi mulanya digunakan pada jaman kuno dimana digunakan untuk membangun istana, katedral, dan candi (Palaneeswaran & Kumaraswamy, 2001). Palaneeswaran and Kumaraswamy (2001) menyatakan bahwa terintegrasi menjadi salah satu alternatif metode pengadaan yang populer.
Adapun beberapa negara yang menerapkan metode pengadaan ini adalah: Amerika Serikat,Inggris, Korea, Hong Kong, Kuwait, dan Malaysia
Metode terintegrasi yang awalnya dikenal dengan master builder mempunyai beberapa arti yang didefinisikan oleh peneliti yang berbeda. Menurut Masterman (2002) metode terintegrasi adalah satu kontraktor yang mempunyai satu tanggung jawab untuk perencanaan dan pembangunan. Akintoye dan Fitzgerald (1995) menyatakan bahwa metode terintegrasi adalah metode pengadaan dimana satu kontraktor bertanggung jawan terhadap tahap desain dan pembangunan. Sedangkan menurut The Design Build Institute ( 2009) metode
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-3 terintegrasi diartikan sebagai satu tanggung jawab. Arditi dan Roy (2003) mendefinisikan sebagai suatu perusahaan yang bertanggung jawab untuk desain dan pembangunan.
Jadi aspek kunci dari metode terintegrasi adalah suatu bentuk atau entititas yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pembangunan. Karakteristik proyek yang menggunakan metode terintegrasi ini dapat dilihat dari ukuran proyek, tipe proyek dan komplesitas proyek.
Untuk ukuran proyek yang menggunakan metode terintegrasi tidak ada ukuran yang spesifik (Songer & Molenaar, 1997). Awalnya metode ini digunakan untu proyek yang kecil meskipun akhirnya juga untuk proyek menengah juga (Swan, 1987). Tetapi berdasarkan lesson learned metode terintegrasi sangat baik digunakan untu proyek yang besar dan kompleks (FHWA, 2006).
Menurut Songer dan Molenaar (1997), kompleksitas proyek dapat dilihat dari tipe dan jumlah jasa yang terlibat, jumlah sub kontraktor, sumber daya yang digunakan dan tingkat teknologi yang dalam aktivitas proyek yang digunakan. Metode terintegrasi juga digunakan untuk proyek yang berisiko tinggi (Ministry of Public Works, 2011).
Penerapan metode terintegrasi semakin meluas dimana metode ini juga medapatkan penerimaan di proyek transportasi di Amerika Serikat (Hanna et all,2008). Melihat hal tersebut diatas maka sangat perlu mengidentifikasi manfaat dan keuntungan dari metode pengadaan ini.
Adapun manfaat dan keuntungannya dalah sebagai berikut:
1. Durasi yang lebih pendek, yang disebakan oleh proses pengadaan yang cukup dilakukan sekali saja (USDOT FHA, 2006). Dengan metode fast track yang merupakan keunggulan dari metode terintegrasi ini maka pembanguna dapat dilaksanakan selama proses perencanaan (Chan et al, 2002).
2. Biaya yang lebih rendah 3. Kualitas yang lebih baik 4. Mengijinkan inovasi 5. Manajemen yang lebih baik
Meskipun metode ini mempunyai manfaat dan keuntungan yang potensial , akan tetapi secara umum terdapat juga kendala dalam menerapkan metode ini yaitu:
1. Petunjuk mengenai pelasanaan metode terintegrasi 2. Kapabilitas pemilik proyek
3. Kapabilitas stakeholder 4. Adaptasi dari metode ini
3. METODE
Penelitian ini dilakukan dengan metode survey kuesioner dengan teknik Delphi, dimana yang menjadi target adalah para expert atau ahli atau pakar di bidang yang akan diteliti. Dalam penelitian ini para responden adalah para pakar yang mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai proses pengadaan. Dalam teknik Delphi kuseioner disebarkan lebih dari satu putaran, sampai mencapai konsensus atau kesepakatan dari para responden. Putaran pertama responden diberikan kuesioner berupa pendapat mereka mengenai kendala dalam penerapan metode terintegrasi. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis menggunakan nilai modus. Pada putaran kedua responden kembali diberikan kuesioner dengan pertanyaan yang sedikit berbeda tapi maknanya sama dengan kuesioner yang pertama. Disini responden diminta pendapatnya kembali. Setelah data terkumpul maka dianalisis dengan menggunakan frekwensi. Jika frekwensi sudah melebihi 67 % maka sudah dapat dikatakan mencapai konsensus/ kesepakatan.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Delphi Putaran Pertama
Dari hasil survey putaran pertama yang ditunjukkan pada tabel 1 sampai 4 menunjukkan bahwa dari aspek petunjuk pelaksanaan (Kurangnya petunjuk detail mengenai karakteristik proyek terintegrasi, Kurangnya petunjuk detail mengenai proses tender, Kurangnya petunjuk detail mengenai pengaturan kontrak, Kurangnya pendekatan manajemen risiko) , kapabilitas klien (Kurangnya pengalaman, Kurangnya keahlian, Kurangnya pengetahuan, Kurangnya pemahaman dari staf, Kurangnya jumlah staf yang mampu dan Kurangnya usaha untuk mengimplementasikan metode terintegrasi) dan kapabilitas stakeholder yang lain (Sedikit jumlah stakeholder yang berpengalaman dan terampil, Kurang expert metode terintegrasi, Kurangnya kapabilitas dalam merencanakan proyek terintegrasi) serta adaptasi merupakan kendala utama dalam menerapkan metode
A.A. Diah Parami Dewi, Gede Astawa Diputra, dan Ariany Frederika
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-4 terintegrasi. Hal ini ditunjukkan dari nilai mean, median dan modus dari semua indikator dalam semua aspek tinggi yaitu diatas 4.
Tabel 1. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Regulasi
No. Kendala Mean Median Mode SD Rating
Petunjuk Pelaksanaan
1 Kurangnya petunjuk detail mengenaikarakteristik proyek terintegrasi 4.7 5 5 0.923
Tinggi 2 Kurangnya petunjuk detail mengenaiproses tender 4.65 5 5 0.933
3 Kurangnya petunjuk detail mengenaipengaturan kontrak 4.65 5 5 1.089 4 Kurangnya pendekatan manajemenrisiko 4.4 5 5 1.188
Tabel 2. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Kapabilitas Klien
No Kendala Mean Median Mode SD Rating
Kapabilitas Klien
1 Kurangnya pengalaman 4.95 5 5 1.099
Tinggi 2 Kurangnya keahlian 4.85 5 5 1.089
3 Kurangnya pengetahuan 4.8 5 5 1.005 4 Kurangnya pemahaman dari staf 4.7 5 5 0.923 5 Kurangnya jumlah staf yang mampu 4.65 5 5 0.587 6 Kurangnya usaha untukmengimplementasikan metode
terintegrasi 4.65 5 5 0.933 Tabel 3. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Kapabilitas Stakeholder lain
No. Kendala Mean Median Mode SD Rating
Kapabilitas Stakeholder lain
1 Sedikit jumlah stakeholder yangberpengalaman dan terampil 4.8 5 5 1.005
Tinggi 2 Kurang expert metode terintegrasi 4.65 5 5 0.933
3 Kurangnya kapabilitas dalammerencanakan proyek terintegrasi 4.65 5 5 0.988 Tabel 4. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Adaptasi
No. Kendala Mean Median Mode SD Rating
Adaptasi
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-5
No. Kendala Mean Median Mode SD Rating
2 Kurangnya dukungan untuk metodeterintegrasi 4.7 5 5 0.979 3 Resisten mengadopsi metode baru 4.7 5 5 1.129 4 Klien tidak percaya diri mengelolaproyek terintegrasi 4.5 5 5 1.000 5 Klien tidak sadar akan keuntunganmetode terintegrasi 4.4 5 5 0.940 6 Kurang perhatian dari klien 4.4 5 5 1.046 7 Klien cemas terhadap metode baru 4.4 5 5 1.046 8 Klien terbatas pengetahuannya untukmetode tradisional 4.15 4.5 5 1.040
Delphi Putaran Kedua
Survey Delphi putaran kedua, ditujukan agar para responden mempertimbangkan kembali opini mereka mengenai kendala dalam menerapkan metode terintegrasi. Disisni para responden diminta menjawab kembali mengenai persetujuan mereka mengenai hasil dari analisis survey sebelumnya. Dari hasil survey menunjukkan bahwa semua responden setuju bahwa aspek regulasi, kapabilitas klien dan stakeholder yang lain serta adaptasi merupakan kendala utama dalam menerapkan metode terintegrasi. Hal ini ditunjukkan dari frekwensi jawaban responden yang sudah diatas 67 % dan IQD dibawah 1. Jika frekwensi sudah diatas 67 % dan iQD dibawah 1, maka dapat dikatakan bahwa telah tecapai kesepakatan, sehingga survey dapat diselesaikan sampai putaran kedua saja.
Tabel 5. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Regulasi
No. Rating Kendala % IQD SD
Petunjuk Pelaksanaan 1
High
Kurangnya petunjuk detail mengenai
karakteristik proyek terintegrasi 94.4 0 0.236 2 Kurangnya petunjuk detail mengenai prosestender 94.4 0 0.236 3 Kurangnya petunjuk detail mengenaipengaturan kontrak 94.4 0 0.236 4 Kurangnnya pendekatan manajemen risiko 100 0 0
Tabel 6. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Kapabilitas Klien
No. Rating Kendala % IQD SD
Kapabilitas Klien 1 High Kurangnya pengalaman 88.9 0 0.323 2 Kurangnya keahlian 94.4 0 0.236 3 Kurangnya pengetahuan 88.9 0 0.323 4 Kurangnya usaha untukmengimplementasikan metode terintegrasi 94.4 0 0.236 5 Kurangnya pemahaman dari staf 83.3 0 0.383 6 Kurangnya jumlah staf yang mampu 94.4 0 0.236
A.A. Diah Parami Dewi, Gede Astawa Diputra, dan Ariany Frederika
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-6 Tabel 7. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Kapabilitas stakeholder lain
No. Rating Kendala % IQD SD
Kapabilitas stakeholder lain 1
High
Sedikit jumlah stakeholder yang
berpengalaman dan terampil 77.8 0.25 0.428 2 Kurang expert metode terintegrasi 83.3 0 0.383 3 Kurangnya kapabilitas dalam merencanakan
proyek terintegrasi 77.8 0.25 0.428 Tabel 8. Kendala Metode Terintegrasi dari Aspek Regulasi
No. Rating Kendala % IQD SD
Adaptasi 1
High
Klien lebih memilih metode tradisional 83.3 0 0.383 2 Kurangnya dukungan untuk metode
terintegrasi 77.8 0.25 0.428 3 Resisten mengadopsi metode baru 94.4 0 0.236 4 Klien tidak percaya diri mengelola proyek
terintegrasi 83.3 0 0.383
5 Klien tidak sadar akan keuntungan terintegrasi 83.3 0 0.383 6 Kurang perhatian dari klien 88.9 0 0.323 7 Klien cemas terhadap metode baru 88.9 0 0.323 8 Klien terbatas pengetahuannya untuk metode
tradisional 94.4 0 0.236
Strategi yang dapat mendorong Penerapan Metode Terintegrasi
Setelah didapat kendala kendala dalam menerapkan metode terintegrasi maka perlu dicari upaya yang dapat mendorong dalam pengimplementasian metode ini.
Kendala dalam menerapkan metode terintegrasi adalah: 1. Petunjuk Pelaksanaan
2. Kapabilitas klien
3. Kapabilitas stakeholder atau partai lain yang terlibat 4. Adaptasi
Upaya dalam menerapkan metode terintegrasi ini tentunya nanti diharapkan bisa mengatasi kendala dalam penerapan metode ini.
Adapun upaya dalam penerapan metode ini dapat dikatagorikan sebagai berikut:
1. Dibuatnya guideline mengenai petunjuk pelaksaan yang detail dan penyesuaian aturan yang ada dalam menerapkan metode ini seperti aturan mengenai karakteristik proyek, metode kontrak dan
pengadaannya, bagaimana risikonya.
2. Kapabilitas Klien dan Partai lain perlu ditingkatkan, seperti adanya training, workshop, seminar mengenai metode ini dan perlunya pilot project.
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana MK-7 3. Adaptasi, yaitu perlunya dukungan sosialisasi dari pemerintah dan stakeholder lain mengenai
keuntungan dari metode ini.
5. KESIMPULAN
Hal hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah:
1. Kendala dalam menerapkan metode ini adalah berasal dari aspek petunjuk pelaksanaan, kapabilitas klien dan stakeholder lain dan adaptasi
2. Untuk mengatasi kendala tersebut adalah adanya penyesuaian dari aspek regulasi, melakukan training, workshop dan pelatihan mengenai metode terintegrasi dan memberikan soailaisasi mengenai metode terintegrasi
Adapun saran yang dapat diberikan adalah tahap pertama agar kendala dapat diatasi dalam menerapkan metode terintegrasi ini adalah membuat guideline yang disesuaikan dengan aturan mengenai metode terintegrasi ini sehingga industri jasa konstruksi tidak lagi ragu ragu dalam menerapkannya. Kemudian perlu dilakukan penelitian mengenai faktor sukses dalam penerapan metode terintegrasi
DAFTAR PUSTAKA
Abi-Karam, T. (2002). Risk Management in Design Build. Proceedings of the First International Conference on Construction in the 21st Century: Chalenges and Opportunities in Management and Technology, Miami, Florida.
Akintoye, A., & Fitzgerald, E. (1995). Design and Build: A survey of Architects'views. Journal Engineering, Construction and Architectural Management.
Arditi, D., & Lee, D.-E. (2003). Assessing the corporate service quality performance of design-build contractors using quality function deployment. Construction Management and Economics, 21(2), 175 - 185. Anumba, C. J., & Evbuomwan, N. F. O. (1997). Concurrent engineering in design-build projects. Construction
Management and Economics, 15(3), 271 - 281.
Chan, A. P. C., Scott, D., & Lam, E. W. M. (2002). Framework of Success Criteria for Design/Build Projects. Journal of Management in Engineering, 18(3), 120-128.
del Puerto, C. L., Gransberg, D. D., & Shane, J. S. (2008). Comparative Analysis of Owner Goals for Design/Build Projects. Journal of Management in Engineering, 24(1), 32-39.
Design Build Institute of America. (2009). What is Design-Build. FHWA, U. (2006). Design and Effectiveness Study.
Gransberg, D. D., Koch, J. E., & Molenaar, K. R. (2006). Preparing for Design-Build Projects A Primer for Owners, Engineers, and Contractors. Virginia: American Society of Civil Engineers.
Georgia State Financing and Investment Commission. (2003). Project Delivery Options.
Masterman, J. W. E. (2002). An Introduction to Building Procurement Systems. New York: Spoon Press. Ministry of Public Works. (2011). Kaleidoskop Kementrian Pekerjaan Umum from
http://www.pu.go.id/kaleidoskop
Palaneeswaran, E., & Kumaraswamy, M. M. (2001). Reinforcing Design Build Contractor Selection: A Hong Kong Perspective, Transaction, The Hong Kong Institution of Engineer.
Park, M., Ji, S.-H., Lee, H.-S., & Kim, W. (2009). Strategies for Design-Build in Korea Using System Dynamics Modeling. Journal of Construction Engineering and Management, 135(11), 1125-1137.
Songer, A. D., & Molenaar, K. R. (1997). Project Characteristics for Successful Public-Sector Design-Build. Journal of Construction Engineering and Management, 123(1), 34-40.