38
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Rencana Pengembangan
5.1.1 Aspek Legal
Aspek legal merupakan aspek yang dianalisis untuk menghasilkan batas kawasan perencanaan pengembangan riverfront city. Dalam hal ini, ada beberapa Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah Kota Jambi yang ditinjau untuk menentukan batas kawasan perencanaan pengembangan tersebut yang terkait masalah sungai dan garis sempadan sungai (GSS).
A. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai pasal 5:
1) Garis sempadan sungai bertanggul ditetapkan dengan batas lahan sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul
2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan sosial ekonomis oleh pejabat yang berwenang
3) Garis sempadan sungai yang bertanggul dan tidak bertanggul yang berada di wilayah perkotaan dan sepanjang jalan ditetapkan tersendiri oleh pejabat yang berwenang
Ilustrasi PP No.35 Tahun 1991 tentang sungai pasal 5 dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 GSS menurut PP Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai pasal 5
B. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW pasal 56 ayat 2 huruf B:
1) Daratan tepi sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 meter dari kaki tanggul sebelah luar
2) Daratan tepian sungai besar tidak bertanggul sebelah luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 meter dari tepian sungai
39 3) Daratan sepanjang anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan
pemukiman dengan lebar paling sedikit 50 meter dari tepi sungai
Ilustrasi PP No.26 Tahun 2008 tentang RTRWN pasal 56 dapat dilihat pada Gambar 8-10.
Gambar 8 GSS menurut PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN pasal 56 ayat 2 huruf B (1)
Gambar 9 GSS menurut PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN pasal 56 ayat 2 huruf B (2)
Gambar 10 GSS menurut PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN pasal 56 ayat 2 huruf B (3)
C. Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung pasal 16 mengenai kriteria sempadan sungai
1) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri-kanan anak sungai yang berada di luar permukiman
40 2) Untuk kawasan permukiman di luar sempadan sungai yang diperkirakan
cukup untuk jalan inspeksi antara 10-15 meter
Ilustrasi Kepres No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung pasal 16 dapat dilihat pada Gambar 11-12.
Gambar 11 GSS menurut Kepres RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung pasal 16 (1)
Gambar 12 GSS menurut Kepres RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung pasal 16 (2)
D. Peraturan Menteri PU Nomor 63/PRT/1993
1) Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul
2) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul
Ilustrasi Permen PU No. 63/PRT/1993 dapat dilihat pada Gambar 13-14.
41
Gambar 14 GSS menurut Peraturan Menteri PU Nomor 63/PRT/1993 (2)
E. RTRW Kota Jambi 2010-2030
a) Garis sempadan Sungai Batanghari yang bertanggul ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul
b) Garis sempadan Sungai Batanghari tidak bertanggul ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari tepian sungai
Ilustrasi PP No.35 Tahun 1991 tentang sungai pasal 5 dapat dilihat pada Gambar 15-16.
Gambar 15 GSS menurut RTRW Kota Jambi 2010-2030 (1)
42 Ditinjau dari aspek legal, GSS Batanghari berdasarkan RTRW Kota Jambi tahun 2010-2030 untuk GSS Batanghari tidak bertanggul mengacu pada adalah PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN pasal 56 ayat 2 dan Kepres RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung pasal 16. Sedangkan untuk GSS bertanggul mengacu pada Peraturan Menteri PU Nomor 63/PRT/1993. Dan dari hasil pengematan lapangan didapati bangunan yang tidak sesuai RTRW Kota Jambi yaitu adanya mall dan hotel yang fisik bangunannya hingga ke badan air sungai. Pada beberapa kawasan seperti Legok, Buluran Kenali dan Sijinjang didapati tepi sungai yang mengalami erosi tebing.GSS Batanghari bertanggul dan tidak bertanggul disajikan pada Gambar 17.
Berdasarkan RTRW Kota Jambi tahun 2010-2030 hanya ada satu segmen yang memenuhi GSS tidak bertanggul yaitu Kelurahan Teluk Kenali (segmen 2). Sedangkan yang memenuhi GSS bertanggul yaitu pada Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut, dan Arab Melayu (segmen 3), serta Tanjung Johor (segmen 4). Kondisi aktual di tiap segmen dari aspek legal dapat dilihat pada Tabel 11.
43
Tabel 11 Kondisi aktual tiap segmen berdasarkan aspek legal
S
egm
e
n
Kelurahan
RTRW Kota Jambi Tahun 2010-2030
Kondisi Aktual GSS Batanghari Bertanggul ( 3 m) GSS Batanghari Tidak Bertanggul ( 100 m) 1 Penyengat
Rendah Tidak memenuhi
Jarak pemukiman penduduk bervariasi dari 10-50 m dari tepi sungai. Sempadan sungai dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan berkebun, dan tempat melepaskan ternak seperti kambing dan ayam. Tepi sungai juga dimanfaatkan masyarakat untuk membuang/membakar sampah rumah tangga
2 Pasir Panjang, Tanjung Pasir, Tanjung Raden, Olak Kemang, dan Ulu Gedong Tidak memenuhi
• Pasir Panjang, sepanjang sempadan pada daerah ini digunakan industri sawmill sekitar 500 m. Industri sawmill
dimulai dari tepi sungai dengan lebar sekitar 20m. Sempadan sungai juga digunakan sebagai rumah penduduk dengan jarak 1-5 m dari tepi sungai, akses menuju jamban dan ada juga yang digunakan sebagai lapangan olahraga.
• Tanjung Raden, Tanjung Pasir, Olak Kemang dan Ulu Gedong jarak pemukiman penduduk bervariasi dari 5 -50 m
dari tepi sungai. Sempadan sungai dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan berkebun, akses menuju jamban dan terminal ketek, dan tempat perbaikan perahu. Tepi sungai juga dimanfaatkan masyarakat untuk membuang/membakar sampah rumah tangga
2 Teluk Kenali Memenuhi Teluk Kenali memenuhi aspek legal karena jarak pemukiman penduduk lebih dari 100 m dari tepi sungai. Sempadan
masih alami hanya ditumbuhi rumput dan semak-semak
2 Buluran Kenali
dan Legok Tidak memenuhi
• Buluran Kenali, sempadan pada daerah ini digunakan sebagai rumah penduduk dimana jaraknya 3-20 m dari tepi
sungai, akses ke jamban dan ke keramba ikan. Sempadan sungai juga digunakan untuk berkebun kelapa sawit. Tepi sungai dimanfaatkan masyarakat untuk membuang/membakar sampah rumah tangga. Berdasarkan hasil pengamatan tepi sungai pada kawasan ini telah mengalami erosi tebing
• Legok, sempadan pada daerah ini digunakan sebagai rumah penduduk dimana jaraknya 3-20 m dari tepian sungai,
lahan berkebun, akses ke jamban, keramba ikan dan terminal ketek . Berdasarkan hasil pengamatan tepi sungai pada kawasan ini juga telah mengalami erosi tebing
3 Arab Melayu, Jelmu, Mudung Laut dan Tengah Memenuhi
Pada kawasan Arab Melayu, Jelmu, Mudung laut dan Tengah jarak pemukiman bervariasi dari 5-20 m dari tanggul. Tanggul yang dibuat oleh PU Prov. Jambi ini menggunakan konstruksi beton. Tepi sungai yang telah ditanggul dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai terminal ketek dan akses menuju jamban. Di sempadan sungai ini juga berdiri
industri crumbrubber (PT Angkasa Raya)
3 Tahtul Yaman Tidak memenuhi Sempadan sungai digunakan sebagai rumah penduduk dengan jarak pemukiman 1-5 m dari tepi sungai, akses ke
44
Lanjutan Tabel 11
Sumber: Hasil survey (2011)
S
egm
e
n
Kelurahan
RTRW Kota Jambi Tahun 2010-2030
Kondisi Aktual GSS Batanghari Bertanggul ( 3 m) GSS Batanghari Tidak Bertanggul ( 100 m)
3 Pasar Jambi Tidak memenuhi
Pasar Jambi merupakan pusat kota, daerah ini merupakan pusat perdagangan. Sempadan sungai digunakan sebagai aktivats komersial seperti ruko, pasar Angsi Duo, Ramayana mall, hotel Wiltop, kawasan rekreasi Tanggo Rajo, akses ke terminal ketek, pemukiman kumuh dibelakang pasar Angso Duo. Bahkan mall dan hotel menggunakan badan sungai sekitar 15 m
3 Kasang Tidak memenuhi Sempadan sungai digunakan sebagai rumah penduduk yang berjarak 5-10 m dari tepi sungai, bermacam aktivitas
komersial seperti ruko, dermaga pasir, dan kantor dan SPBU (Stasiun Pengisian Bahab Bakar Umum) PT Pertamina
4 Tanjung Johor Memenuhi
Sempadan sungai digunakan sebagai rumah penduduk dengan jarak pemukiman bervariasi dari 5-15 m dari kaki tanggul, akses ke jamban dan kramba ikan serta terminal ketek. Pada sempadan sungai juga berdiri dua industri
crumberubber (PT. Djambi Waras dan PT. Remco Djambi)
4 Sijinjang Tidak memenuhi
Sijinjang, sempadan sungai digunakan sebagai rumah penduduk dengan jarak pemukiman bervariasi dari 5-50 m dari tepi sungai, SPBU (Stasiun Pengisian Bahab Bakar Umum) apung Pertamina, dok/perbaikan kapal berukuran sedang, akses menuju jamban. Tepi sungai juga dimanfaatkan masyarakat untuk membuang/membakar sampah
rumah tangga, bahkan dimgunakan juga oleh pabrik crumbrubber untuk membuang limbah padatnya. Pada
sempadan sungai juga berdiri dua industri crumberubber (PT Hok Tong dan PT Batanghari Tembesi) dan
pengolahan pasir sungai.
45
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011
A. Teluk Kenali B. Pasar Jambi
Gambar 17 GSS bertanggul (A) dan tidak bertanggul (B)
5.1.2 Aspek Ekologis
Pengamatan dari apek ekologis dilakukan dengan menghitung nilai sinousitas sungai. Nilai sinousitas tiap segmen dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Nilai sinousitas tiap segmen
Sumber: Hasil olahan data primer (2011)
Berdasarkan Tabel 12, nilai sinousitas segmen 1 dan 4 terkategori tinggi. Kelurahan Penyengat Rendah (segmen 1) masih memiliki daerah karakter sungai yang masih alami akan tetapi untuk Kelurahan Tanjung Johor (segmen 4) tingkat kealamiannya berkurang karena adanya tanggul pada seperempat kawasan tersebut. Segmen 2 dan segmen 3 mempunyai nilai sinousitas rendah akan tetapi pada Kelurahan Pasir Panjang hingga Ulu Gedong dan Teluk Kenali tingkat kealamiannya masih terjaga dikarenakan belum adanya tanggul.
Nilai sinuositas sungai menggambarkan potensi sungai tersebut dalam mendukung kehidupan biota air maupun biota di bantarannya. Semakin tinggi nilai sinuositas sungai, maka semakin tinggi pula potensinya sebagai habitat dari vegetasi dan satwa yang semakin beragam. Potensi ini akan semakin baik jika didukung oleh penutupan lahan yang sesuai pada sempadannya. Sehingga, potensi sungai tersebut dapat terjaga keberlangsungannya.
Segmen Panjang Kelokan (km) Panjang Tegak Lurus (km) Nilai Sinousitas Skor 1 5,150 2,395 2,150 3 2 5,223 4,105 1,272 1 3 3,435 2,367 1,451 1 4 5,201 2,357 2,206 3
46
Nilai sinuositas tinggi menandakan sungai tersebut memiliki karakter yang sangat alami. Untuk itu, segmen yang memiliki nilai sinuositas tinggi harus dilindungi agar karakter yang dimilikinya tidak rusak. Segmen sungai dengan nilai sinuositas tinggi dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Dimana kawasan ini dijadikan hutan kota agar karakter alaminya tetap bertahan dan kualitas lingkungan alaminya terjaga. Sedangkan segmen sungai dengan nilai sinuositas sedang dan rendah dapat dikembangkan menjadi taman-taman kota yang juga didominasi oleh tanaman dengan kepadatan yang lebih rendah. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan alaminya.
5.1.3 Aspek Biofisik
5.1.3.1 Kualitas air sungai
Analisis kualitas air Sungai Batanghari yang dilakukan oleh Balai Lingkungan Hidup Kota Jambi periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2010, dilakukan pada dua titik sampling yaitu di hulu sungai Kelurahan Legok dan Kelurahan Kasang pada bagian hilir Sungai Batanghari di wilayah Kota Jambi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa air Sungai Batanghari telah tercemar berat dan untuk beberapa parameter tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I dan II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas air dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil pengukuran kualitas air di hulu dan hilir dapat di lihat pada Lampiran 2 dan 3. Letaknya yang di hilir mengakibatkan Sungai Batanghari yang berada di Kota Jambi mengalami tingkat sedimentasi yang cukup tinggi dengan laju sedimentasi sebesar 24,71 mm/tahun dan termasuk dalam kelas sedimentasi jelek dengan skor 5 dengan koefisien limpasan (C) Sub DAS Batanghari hilir > 0,25 yang termasuk dalam kategori jelek (BPDAS, 2009). Penurunan kualitas Sungai Batanghari juga dapat dilihat dari kondisi makrozoobenthosnya yang memiliki indeks keanekaragaman (H) yang berkisar antara 0,37-1,521, keseragaman (E) yang berkisar antara 0,111-0,454 dan dominasi (D) yang berkisar antara 0,914-0,455 mengindikasikan perairan sungai Batanghari berada pada tingkat pencemaran sedang hingga berat (Susilawati, 2007).
Kualitas Sungai Batanghari juga dipengaruhi oleh kondisi beberapa anak sungai yang bermuara di Sungai Batanghari. Di wilayah Kota Jambi, terdapat 7 (tujuh) sungai primer dengan kondisi dan permasalahan yang berbeda–beda, antara lain Sungai Kenali Kecil, Sungai Kenali Besar, Sungai Kambang, Sungai
47
Asam, Sungai Tembuku, Sungai Selincah, dan Sungai Teluk. Secara umum permasalahan yang ditimbulkan oleh anak sungai ini adalah masuknya beban pencemar ke Sungai Batanghari karena di sepanjang anak sungai dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat tinggal, MCK, keramba ikan, pembuangan sampah dan transportasi. Banyak alur anak sungai yang mengalami erosi dan pendangkalan akibat sedimentasi dan sampah yang dibuang oleh masyarakat ke sungai.
Menurunnya kualitas Sungai Batanghari di Kota Jambi ini selain
disebabkan oleh berbagai aktivitas yang telah ada di sepanjang sungai
dan pengaruh dari (7) tujuh anak sungai yang bermuara ke Sungai
Batanghari, juga disebabkan imbas dari kondisi lingkungan di hulu.
Permasalahan utama yang terjadi di hulu adalah meningkatnya
deforestasi karena
kegiatan logging, land clearing dan konversi lahan menjadi areal budidaya, terutama kebun sawitserta aktivitas penambangan tanpa izin
(PETI).
Hasil studi tim JICA dalam BPDAS Batanghari (2009) eksploitasi hutan di DAS Batanghari selama periode 15 tahun berlangsung sangat dahsyat, dan diestimasi adalah karena kegiatan logging, land clearing dan konversi lahan menjadi areal budidaya, terutama kebun sawit. Proses deforestasi pada DAS Batanghari sudah terjadi dari tahun 1932, lalu tahun 1982 dan meningkat tajam hingga tahun 1996. Pada Tahun 1932, luas hutan masih lebih dari 4 juta Ha dan menurun sekitar 1,5 juta Ha hingga tahun 1982, kemudian penurunan ini semakin tidak tertahan, hingga tahun 1996 tersisa 2 juta Ha atau hutan sudah dikonversi 50% selama periode 63 tahun. Kerusakan hutan di DAS Batanghari semakin dahsyat terjadi sejak era otonomi daerah tahun 1999. Kerusakan yang dialami oleh daerah hulu ini menyebabkan erosi yang terjadi di DAS Batanghari juga semakin meningkat dari tahun ke tahun (Tabel 13).
48
Tabel 13 Perkembangan luas hutan dan erosi yang terjadi di DAS Batanghari
Tahun Luas Hutan (Ha) Luas Lahan Non
Hutan (Ha) Tanah tererosi (ton/tahun) 1932 4.052.406 402.993 604.939 1982 3.572.689 882.710 1.218.977 1996 1.921.962 2.533.433 3.331.901 Erosi Tahunan(ton/ha/thn) 0,02 1,30 Sumber: Tim Studi JICA (2002) dalam BPDAS (2009)
Jumlah tanah yang tererosi pada DAS Batanghari tahun 1932 hanya 604.939 ton/tahun, kemudian naik tajam menjadi 3.331.901 ton/tahun pada tahun 1996 (naik hingga 5,5 kali lipat). Dari tabel di atas dapat dihitung rata-rata deforestasi tahunan sebesar 126,978 ha (dianggap 125 ha/tahun), maka diestimasi jumlah hutan pada DAS Batanghari tahun 2011 menjadi seluas 46.969 ha (kurang 10% dari luas DAS), dengan laju erosi mencapai 5.891.900 ton. Adanya pembukaan lahan sawit dari 300.000 ha pada tahun 1999 menjadi 1 juta ha, diperkirakan akan menyumbangkan erosi menjadi lebih dari 3 kali lipat, dan menambah potensi dampak serius peningkatan sedimentasi pada sistem perairan Sungai Batanghari (Idris, 2003). Menurut Iswara (1999) dalam Idris (2003) bahwa konversi hutan alam menjadi kebun sawit akan meningkatkan aliran permukaan hingga 300 mm, tetapi ditegaskan lagi bahwa keadaan akan kembali normal pada saat tanaman tersebut sebelum mencapai dewasa.
5.1.3.2 Fisik sempadan
Keadaan fisik tiap segmen yang menggambarkan kualitas lingkungan alaminya dapat dilihat pada Tabel 14. Berdasarkan tabel tersebut, terdapat 3 (tiga) kategori kualitas lingkungan alami di Sungai Batanghari Kota Jambi, yaitu kualitas lingkungan alami tinggi, sedang, dan rendah. Segmen Sungai Batanghari yang memiliki kualitas lingkungan alami tinggi adalah segmen 4 pada Pulau Sijinjang, segmen 2 (Kelurahan Teluk Kenali) dan segmen 1 (Kelurahan Penyengat Rendah). Kualitas lingkungan alami sedang berada pada segmen 2 (KelurahanPasir Panjang, Ulu Gedong, Tanjung Raden, Olak Kemang, Buluran Kenali dan Legok), segmen 3 (Kelurahan Arab Melayu, Tengah, Jelmu, Mudung Laut Tahtul Yaman) dan segmen 4 (Kelurahan Tanjung Johor dan Sijinjang). Sedangkan kualitas lingkungan alami rendah berada pada segmen 3 (Kelurahan Pasar Jambi dan Kasang). Sempadan pada tiap segmen banyak digunakan
49
masyarakat untuk berbagai aktivitas seperti penggunaan sempadan sebagai tempat inggal, industri, serta berbagai macam aktivitas komersial yang akhirnya mengurangi lahan terbuka hijau di kanan kiri sempadan Sungai Batanghari (Tabel 11). Perubahan tata guna lahan pada daerah sempadan ini sangat mempengaruhi badan air sungai yang berdampak pada turunnya kualitas air Sungai Batanghari, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Tabel 14 Kualitas lingkungan alami tiap segmen
S e g m en Kelurahan RTH (%) Sko r
Jenis Land Cover
S
ko
r Total Skor
1 Penyengat Rendah 50 3 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 5
2
Pasir Panjang, Ulu Gedong, Tanjung Raden, Olak Kemang dan Tanjung Pasir
45 2 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 4
2 Teluk Kenali 50 3 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 5
2 Buluran Kenali dan Legok 45 2 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 4
3
Arab Melayu, Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Tahtul Yaman
23 1 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 3
3 Pasar Jambi 20 1
Vegetasi tidak ada sampai jarang,
dominasi ruang terbangun
1 2
3 Kasang 20 1
Vegetasi tidak ada sampai jarang,
dominasi ruang terbangun
1 2
4 Sijinjang 40 2 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 4
4 Tanjung Johor 40 2 Dominasi ruang terbangun
sebanding dengan vegetasi 2 4
4 P.Sijinjang 100 3
Vegetasi sangat rapat (dominan vegetasi), tidak ada bangunan atau ruang kosong lainnya
3 6
Sumber: Hasil olahan data
Keterangan Total Skor : 1-2= Rendah; 3-4= Sedang; 5-6= Tinggi
Berdasarkan aspek legal, ekologi, dan biofisik maka pengembangan
riverfront di Kota Jambi dapat dibagi dalan tiga zona pengembangan yaitu: A. Zona Alami
Kawasan yang dalam pengembangan riverfront city dibatasi untuk lahan budidaya dimana dimaksudkan sebagai daerah konservasi dengan mengadakan
greenbelt sepanjang sempadan sungai. Greenbelt direncanakan dengan ketebalan maksimum sesusai dengan kondisi sempadan sehingga dapat melindungi, memperbaiki dan meningkatkan kualitas alami sungai. Mengacu pada Binford dan Buchenau (1993) batas minimum ketebalan greenbelt
50
mencapai 30 m pada sisi kiri dan kanan sungai. Kesan alami batas garis sempadan sungai dengan menggunakan live stake bioengineering. Live stake
adalah tipe konstruksi bioengineering konvensional yang hanya menggunakan elemen tanaman dari jenis yang dapat memperbanyak diri melalui batang. Berfungsi utama untuk mengontrol erosi permukaan dengan cara memfilter tanah terhadap arus air dan aliran permukaan, memperkuat tegangan partikel tanah, mengintersepsi air hujan, mempertahankan daya infiltrasi tanah, selain itu juga berfungsi sebagai penyerap polutan air dan penyaring sedimentasi (Gray dan Leiser, 1982). Live stake diaplikasikan di sepanjang tepian sungai pada daerah konservasi. Tanaman live stake bioengineering yang dipilih dengan kriteria: a) tahan pada kondisi ait tercemar; b) dapat menyerap/mentralisir zat-zat pencemar air; c) memiliki struktur perakaran yang dapat memperbaiki konsistensi tanah; d) dapat menambah kadar organik tanah; dan e) dapat beradaptasi saat air pasang dan surut. Pada umumnya tanaman yang digunakan adalah jenis rerumputan, rerumputan memiliki keuntungan untuk perlindungan tepi sungai karena memperlambat dan memperkecil arus air sungai, mudah tumbuh, pemeliharaannya sangat mudah, dan masa hidup yang panjang (Schiecehtl dan Stern, 1997). Jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai alternatif sesuai kriteria tersebut yaitu: Artemisia lacriflora (saga putih), Castanopsis stellata
(kastania), Chrysothamnus nauseosus (semak kelinci), Salix repens (janda merana) dan Axonopus compressus (rumput gajah).
Zona alami juga diperkuat dengan adanya pengadaan hutan kota, dapat pula ditambahkan pedistrian way/jogging track serta track sepeda agar keindahan sungai dapat dinikmati publik dan dapat menjadi daerah rekreasi alam. Lebar pedistrian way yang direncanakan tidak melibihi 2 meter (Breen dan Rigby,1994). Adapun vegetasi dalam hutan kota terdiri dari pepohonan, rumput, dan tanaman liar seperti semak, terna, liana, epifit, penutup lahan dan anakan, yang ditanam dengan jarak tanam rapat tidak beraturan dengan strata dan komposisi meniru komunitas hutan alam. Konservasi tanah dilakukan dengan menempatkan mulsa alami seperti kepingan katu, kerikil dan pecahan batu. Kriteria tanaman dan tumbuhan untuk zona konservasi yakni mampu memperbaiki fungsi sungai sebagai pengatur air (hidrologis), mencegah erosi, memperbaiki kualitas air, tanah dan udara, memperkaya keragaman hayati, dapat dijadikan habitat oleh satwa liar dan tahan terhadap polusi. Jenis tanaman dan tumbuhan yang dapat dipilih sebagai alternatif yang memenuhi kriteria
51
tersebut antara lain: a) jenis pohon, seperti: Cassia multijuga (kiutun), delonix regia (flamboyan), Filicium decipiens (kiara payung), Pterocarpus indicus
(angsana) dan Eusidorxylon zwageri (bulian). Bulian merupakan tanaman endemik Jambi yang terancam punah; b) jenis perdu, seperti Allamanda cathartica (alamanda), Codieaum variegatum (puring); c) jenis semak, seperti
Cyonodon dactylon (teki), Aspelinum nidus (sarang burung); d) jenis akuatik, seperti Cyperus alternifolius (rumput air) dan Azolla sp. (azola); e) jenis epifit, seperti Dendrophoe sp. (benalu), Platycerium willincki (tanduk rusa) (Pribadi, 1999).
Pengembangan zona alami memiliki manfaat yang banyak selain dapat meningkatkan kualitas sungai juga dapat meningkatkan pendapatan baik masyarakat maupun daerah. Dimana pada kawasan ini dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan pendidikan, penelitian serta wisata yang lebih ditujukan ke arah ecotourism.
B. Zona Semi Alami
Kawasan yang dalam pengembangan riverfront city sebagai kawasan
mixed-use yaitu pengembangan yang mengkombinasikan areal alami sebagai daerah konservasi dengan pemanfaatan lahan yang telah ada untuk kegiatan sehari-hari masyarakat.
1. Kawasan alami
Konservasi tepi sungai diaplikasikan menggunakan gabion wall atau live cribwall/kombinasi dinding krib dengan vegetasi. Live cribwall dan gabion wall adalah tipe konstruksi biongineering yang mengkombinasikan struktur perkerasan dan elemen vegetasi. Berfungsi sebagai pelindung tepi sungai berbentuk lereng terhadap bahaya erosi, memperbaiki struktur tanah dan pengatur arah arus pada badan sungai yang berkelok (Gray dan Leiser, 1982). Ketebalan daerah konservasi disesuaikan dengan kondisi tiap segmen. Vegetasi pada zona semi alami ini adalah vegetasi yang memiliki perakaran yang dapat menetralisir zat pencemar terutama polusi udara, perakaran tidak dangkal dan tidak muncul ke permukaan tanah, tidak menghasilkan buah yang besar dan menarik, sedikit menggugurkan daun, memiliki percabangan yang kuat, ketinggian dan besar tajuk tidak mengganggu sarana dan prasarana yang ada, dapat menjadi habitat burung dan menghasilkan aroma, mereduksi kebisingan dan debu. Alternatif tanaman yang dapat dipilih anatara lain Lagerstomia
52
indica (bungur), Cananga odorota (kenanga), Eugenia aromatica
(euginia), Pithecelobium dulce (asam kranji), Ficus benjamina (beringin),
Fagraea fragrans (tembusu), Gigantochloa apus (bambu tali) dan
Bambussa sp. (bambu) (Pribadi, 1999). 2. Kawasan penggunaan sehari-hari
Kawasan ini merupakan kawasan yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk aktivitas sehari-hari. Pada kawasan ini dapat disediakan fasilitas yang memungkinkan pengguna dapat mengakses view sungai. Fasilitas yang disediakan pada daerah ini dalam bentuk pedistirian way, track
bersepeda, amphitheater, taman kota yang dilengkapi sarana bermain anak, toko cendramata, cafe, dan fasilitas umum lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kekhasan tiap segmen yang dapat meningkatkan estetika, kenyamanan, keamanan dan suasana alami. Fasilitas penyeberangan sungai (terminal ketek) tetap dipertahankan namun perlu dilakukan penataan agar tidak merusak bantaran sungai dan berkesan estetik. Sarana tempat sampah diletakkan pada tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau pengguna dan mobil pengangkut sampah.
C. Zona multi pemanfaatan
Kawasan yang dalam pengembangan riverfront city tetap dibiarkan sebagaimana peruntukkannya saat ini yaitu sebagai kawasan perdagangan/bisnis, transportasi, dan kegiatan perkotaan lainnya. Akan tetapi pengembangan zona ini harus tetap memperhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan sungai. Pada daerah ini diperlukan penanaman vegetasi pada lahan-lahan kosong di antara bangunan dan aplikasi green building. Penataan bangunan di sepanjang sungai dengan mengorientasikan bangunan ke arah sungai atau sebagai “halaman depan”.
5.1.4 Aspek Sosial
Hasil penilaian responden menunjukkan bahwa tingkat kebersihan dan kualitas air Sungai Batanghari saat ini sangat rendah. Menurut masyarakat menurunnya kualitas air sungai menurun karena industri di sekitar sungai membuang limbah cairnya ke badan sungai, kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai, dan pengerukan pasir sungai. Penilaian masyarakat terhadap fisik Sungai Batanghari saat ini tergolong rendah
53
dikarenakan pada beberapa kawasan belum di tanggul dan ada yang telah di tanggul. Pada kawasan yang belum ditanggul telah terjadi erosi tebing.
Penilaian masyarakat terhadap fungsi Sungai Batanghari tertinggi adalah sebagai transportasi, tempat pembuangan sampah dan MCK. Tingginya nilai transportasi karena pada umumnya masyarakat masih menggunakan Sungai Batanghari sebagai sarana transportasi utama antara Kota Jambi dan Seberang Kota Jambi (Sekoja) meskipun telah ada jembatan yang menghubungkan kedua daerah ini. Transportasi sungai dipilih karena lebih murah dan aksesibilitasnya yang mudah dan cepat. Sungai terutama badan sungai masih digunakan sebagai masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah terutama pada saat musim hujan dan MCK. Dari hasil wawancara dengan masyarakat, ada dua alasan masyarakat menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah mereka yaitu pertama karena kebiasaan dan kedua tidak sampainya pelayanan pengambilan sampah ke tempat mereka. Penggunaan badan sungai sebagai MCK masih ditemui sepanjang Sungai Batanghari yaitu adanya jamban apung pada semua segmen penelitian. Dari hasil wawancara dengan masyarakat, kebiasaan MCK di sungai ini karena beberapa alasan antara lain belum mampu membuat jamban karena faktor ekonomi, belum mendapat pelayanan air bersih serta MCK umum dan terakhir adalah telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Nilai preferensi masyarakat terhadap Sungai Batanghari tertinggi adalah sungai yang bersih dan sebagai tempat wisata. Preferensi masyarakat yang tinggi terhadap sungai yang kembali bersih menunjukkan bahwa masyarakat masih mempunyai keinginan yang tinggi menjadikan Sungai Batanghari sebagai “halaman depan” serta memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata. Di Kota Jambi kawasan wisata yang telah ada dan berada dekat dengan sungai adalah kawasan wisata Tanggo Rajo. Dari hasil wawancara, masyarakat menginginkan adanya tempat wisata budaya dan religi. Persepsi dan preferensi masyarakat disajikan dalam Tabel 15. Kondisi ini menunjukkan dukungan masyarakat untuk mengembangkan Kota Jambi sebagai riverfront city.
54
Tabel 15 Persepsi dan preferensi masyarakat
No
Parameter
Nilai Persepsi dan Preferensi (%) 1 (rendah) 2 (agak rendah) 3 (biasa saja) 4 (agak tinggi) 5 (tinggi)
1. Kualitas air sungai 46,5 31 22,5 0 0
2. Fisik sungai 34,5 26,5 16,5 0 22,5
3. Fungsi sungai:
a. Transportasi 0 0 6 12,5 81,5
b. MCK 6 6,5 9 30 48,5
c. Bahan baku air minum 59,5 31 5,5 4 0
d. Wisata 0 7 43,5 27 22,5 e. Perikanan sungai 18 11,5 10,5 20 40 f. Perdagangan/bisnis 0 0 21,5 27 51,5 g. Tempat pembuangan sampah 0 7,5 0 16 76,5 4. Nilai budaya 0 0 9 9,5 81,5 5. Nilai sejarah 0 0 9 9,5 81,5
6. Preferensi terhadap sungai
a. Sungai bersih 0 0 0 0 100
b. Fisik sungai membaik 0 0 30 0 70
c. Tempat wisata 0 0 16,5 0 83,5
Sumber: Hasil olahan data kuisioner (2011) n= 200 responden
Nilai budaya dan sejarah Sungai Batanghari bagi masyarakat sekitar sungai dianggap masih tinggi. Sehingga dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city nilai-nilai budaya dan sejarah harus dipertimbangkan. Karena nilai budaya dalam pengembangan kawasan riverfront city sangat penting guna menciptakan identitas lokal dan keunikan daerah setempat. Aspek budaya atau lanskap budaya yang mempunyai keunikan dan berpotensi untuk pelestarian dan pengembangan budaya adalah lanskap dengan dominasi penduduk asli Jambi (Melayu Jambi), yaitu kawasan Sekoja (Seberang Kota Jambi). Dalam RTRW Kota Jambi 2010-2030 kawasan Sekoja termasuk dalam BWK (Bagian Wilayah Kota) Jambi Kota-Seberang yang ditetapkan sebagai daerah cagar budaya. Sekoja dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Jambi pada abad XVIII, di pinggiran Sungai Batanghari. Wilayah Sekoja terdiri dari 2 (dua) kecamatan yaitu kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan. Potensi-potensi tersebut antara lain:
1) Aktivitas berkaitan dengan kehidupan
Masyarakat Kota Jambi khususnya Sekoja merupakan masyarakat asli Jambi yang mayoritas adalah pemeluk agama Islam sehingga tata cara adat kebiasaan hidup sehari-hari mereka berdasarkan ajaran agama Islam. Di kawasan Sekoja banyak ditemui pondok-pondok pesantren berumur tua seperti Pesantren Nurul Iman, Pesantren As’ad dan masjid. Masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu adalah tertua di Provinsi didirikan pada t
55
merupakan sultan yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo.
Aktivitas kehidupan masyarakat Sekoja juga sangat kental dengan tradisi keagamaan antara lain pengajian yasinan, wirid dan zikir, pembacaan burdah, barzanji, lailatul ijtima’, upacara nifsu sya’ban, makan bersama dalam satu nampan setelah Idul Fitri. Akan tetapi kualitas dan intentitas kegiatan ini pada masa sekarang sangat jauh berkurang, untuk kegiatan makan bersama dalam satu nampan setelah Idul Fitri masih dilakukan hingga saat ini.
Rumah masyarakat Melayu Jambi identik dengan rumah panggung. Di kawasan Sekoja sebagain besar rumah masih berupa rumah panggung yang dibangun menggunakan kayu bahkan diantaranya telah berumur ratusan tahun.
2) Aktivitas berkaitan dengan mata pencaharian
Potensi kerajinan tangan sebagai hasil hand made seperti batik Jambi banyak diusahakan mayarakat di Olak Kemang, Jelmu, Mudung Laut, Kampung Tengah dan Arab Melayu. Kerajianan batik Jambi selain sebagai mata pencaharian masyarakat juga merupakan potensi budaya yang masih dilestarikan.
3) Aktivitas berkaitan dengan upacara adat
Aktivitas upacara adat masyarakat Sekoja juga sangat kental dengan pengaruh agama Islam. Kegiatan yang berkaitan dengan tata cara adat sebagai sesuatu yang sakral dalam masyarakat Melayu Jambi antara lain upacara kelahiran (tradisi nginau, nuak dan nyukur bayi), sunatan, pernikahan dan kematian. Tetapi kualitas dan intensitas upacara adat ini pada masa sekarang sangat jauh berkurang.
4) Aktivitas berkaitan dengan kesenian
Kesenian masyarakat Sekoja juga bernafas Islam seperti kesenian hadra. Hadra dikenal masyarakat setempat sebagai musik tradisional yang Islami. Hadra biasanya digunakan dalam arak-arakan pengantin serta hajatan lain seperti cukuran anak, marhabah, dan menyambut tamu-tamu agung.
5) Aktivitas berkaitan dengan kuliner
Secara umum masyarakat Jambi memiliki kekhasan kuliner, seperti tempoyak, pindang Jambi dan bergo. Sedangkan kuliner masyarakat Sekoja
56
pada umumnya terpengaruh juga oleh kuliner Arab seperti gulai tape ikan dan malbi.
5.2 Analisis Stakeholders
Pemangku kepentingan (stakeholders) didefinisikan sebagai individu, masyarakat, atau organisasi yang secara potensial dipengaruhi oleh suatu kegiatan atau kebijakan (Race dan Millar, 2006; Groenendijk , 2003). Dengan kata lain, stakeholders mencakup pihak-pihak yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dan memperoleh manfaat atau sebaliknya dari suatu proses pengambilan keputusan. Menurut Igbal dan Sumaryanto (2007), stakeholders
adalah semua pihak yang kepentingannya terpengaruh oleh dampak, baik positif maupun negatif yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan. Menurut Eden dan Ackerman (1998) bahwa stakeholders merupakan orang atau kelompok yang mempunyai power (kekuatan) untuk mempengaruhi secara langsung masa depan suatu organisasi.
Peranan stakeholders terhadap pengembangan Kota Jambi menuju
riverfront city dapat diketahui melalui analisis stakeholders. Menurut Iqbal dan Sumaryanto (2007), dua kata kunci dalam analisis ini adalah kepentingan (interest) dan pengaruh (influence). Kepentingan merupakan hal yang cukup sulit untuk didefinisikan, namun esensinya dapat diperoleh melalui analisis sosial dan dokumen kelembagaan berdasasrkan tupoksi masing-masing stakeholders. Kepentingan yang dimaksud diantaranya terkait dengan ekspetasi, manfaat, sumberdaya, komitmen, potensi konflik, dan jalinan hubungan (network). Pengaruh berkaitan dengan kekuasaan (power) terhadap kegiatan termasuk pengawasan terhadap keputusan yang telah dibuat dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan sekaligus menangani dampak negatifnya.
5.2.1 Identifikasi Stakeholders
Tahap pertama dari analisis stakeholders adalah identifikasi stakeholders.
Colfer et al. (1999a, 1999b) menyebutkan bahwa untuk menentukan siapa yang perlu dipertimbangkan dalam analisis stakeholders dilakukan dengan mengidentifikasi dimensi yang berkaitan dengan interaksi masyarakat dengan hutan. Hasil identifikasi stakeholders menggunakan wawancara mendalam dan berdasarkan tupoksi masing-masing kelembagaan menunjukkan bahwa
stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan Sungai Batanghari pada lokasi penelitian sebanyak 21 stakeholders. Keterlibatan stakeholders tersebut
57
didasarkan pada hasil telaah dan pengkajian yang telah dilakukan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Batanghari (BPDAS Batanghari) (BPDAS, 2009) dan ditambah dengan hasil penelitian di lapangan. Hasil identifikasi
stakeholders yang terkait dengan pengelolaan Kota Jambi menuju riverfront city
diklasifikasikan ke dalam 7 (tujuh) kelompok yakni pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, masyarakat, LSM, perguruan tinggi dan swasta.
Masyarakat sebagai stakeholders terdiri dari penduduk lokal yang berdomisili di sepanjang sempadan Sungai Batanghari (segmen 1-4). Sebagai
stakeholders, masyarakat akan dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan yang dilakukan dalam pengelolaan sungai. Disamping itu, tempat tinggal yang berdekatan dengan sungai dan secara emosional, baik dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari dan nilai-nilai budaya yang dimiliki, sangat bergantung dan mempengaruhi sungai. Lembaga Adat Jambi (LAJ) juga berkepentingan dalam hal ini yaitu menjaga stabilitas sosial penyambung aspirasi masyarakat lokal Jambi. Lembaga adat memiliki pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang tinggi terhadap sungai. Peran dan posisi tersebut menyebabkan stakeholders ini dapat mempengaruhi dan sekaligus dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan dalam perencanaan pengembangan Kota Jambi. Hasil wawancara mendalam dengan responden (Ketua adat Jambi) meskipun saat ini sudah tidak diberlakukan lagi sanksi-sanksi adat akan tetapi pendapat dan saran dari ketua adat Jambi masih didengarkan masyarakat.
Stakeholders pemerintah baik pusat, provinsi dan kota sangat memiliki kepentingan yang terhadap kelestarian ekologis sungai yang merupakan bagian dari keberadaan Kota Jambi. Para stakeholders ini mempengaruhi kebijakan yang diputuskan serta tindakan yang akan dilakukan dalam pengembangan Kota Jambi.
Universitas Jambi melalui Pusat Penelitian Manejemen Daerah Aliran Sungai Universitas Jambi (PPM-DAS Unja) sebagai perguruaan tinggi di Kota Jambi merupakan stakeholders yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan dalam pengembangan kota. PPM DAS Unja memiliki kepentingan dalam melaksanakan pendidikan lingkungan serta meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang turut berperan dalam pengelolaan sungai akan tetapi tidak secara langsung di Kota Jambi antara lain Warung Informasi Konservasi (Warsi) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).
58
Ketiga LSM tersebut melaksanakan kegiatannya dibidang pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan, pendidikan, pelatihan dan advokasi pada
catchmen area (hutan). Walhi dan Warsi merupakan LSM yang dipengaruhi oleh kebijakan pengelolaan sungai. Akan tetapi kedua LSM ini tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah dalam pengelolaan sungai.
Selanjutnya, stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan sungai inilah yang memegang peranan penting dalam perencanaan pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city. Peranan masing-masing stakeholders dijabarkan lebih lanjut dalam konteks kepentingan (importance) dan pengaruh (influence).
5.2.2 Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders
Kepentingan (importance) dan pengaruh (influence) dalam perencanaan pengembangan Sungai Batanghari menuju riverfront city disajikan pada Tabel 16 dan 17, kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk gambar dengan menempatkan posisi masing-masing stakeholders ke dalam empat kategori yaitu kelompok
Subject (kuadran I), kelompok Key Players (kuadran II), kelompok Context Setters (kuadran III), kelompok Crowd (kuadran IV) yang disajikan dalam Gambar 18.
59
Tabel 16 Kepentingan (interest) stakeholders terkait dengan pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city
Sumber: Hasil olahan data kuisioner (2011) n= 21 responden
Keterangan: 5 = sangat tinggi; 4 = tinggi; 3 = biasa; 2 = agak rendah; 1 = rendah
No Stakeholders
Kepentingan
Perencana Pelaksana Pemanfaatan Monitoring dan Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat Jumlah Pemerintah Pusat 1 BWSS VI 4 4 1 4 4 17 2 BPDAS 4 4 1 4 4 17 Pemerintah Provinsi 3 BAPPEDA 5 1 1 4 1 13 4 BAPPEDALDA 3 1 1 4 2 11
5 Dinas Kehutanan Provinsi 1 1 1 1 1 5
6 Dinas PU 2 4 1 2 1 10
7 Dinas Pariwisata 3 3 4 3 4 17
Pemerintah Kota
8 BAPPEDA 5 4 3 5 4 21
9 BLHD 1 1 1 5 4 12
10 Dinas Tata Ruang dan Perumahan 5 2 1 5 3 16
11 Dinas PU 4 5 4 4 3 20
12 Dinas Perindag 2 3 5 3 3 16
13 Dinas Pariwisata 4 4 5 3 4 20
14 Dinas Perikanan 3 3 4 3 4 17
Perguruan Tinggi
15 PPM DAS Universitas Jambi 2 2 3 4 3 14
Masyarakat
16 Lembaga Adat Jambi 1 1 1 3 4 10
17 Masyarakat 2 4 5 2 3 16
LSM
18 Walhi 2 2 2 4 4 14
19 Warsi 2 2 2 4 4 14
Swasta
20 Industri crumb rubber 1 4 5 1 3 14
60
Tabel 17 Pengaruh stakeholders dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city
No Stakeholders
Instrumen kekuatan Sumber kekuatan
Jumlah
Condign Compen-satory
Condi-tioning Personality Organisasi
1 BWS VI Wilayah Sumatera 1 1 1 2 4 9
2 BPDAS 1 1 1 2 4 9
3 Bappeda Prov. Jambi 3 4 1 3 4 15
4 Bapedalda Prov. Jambi 1 1 1 2 4 9
5 Dinas Kehutanan Prov. Jambi 1 3 1 2 4 11
6 Dinas PU Prov. Jambi 1 2 1 2 4 10
7 Dinas Pariwisata Prov. Jambi 1 2 4 2 4 13
8 Bappeda Kota Jambi 5 5 4 3 5 22
9 BLHD Kota Jambi 1 2 2 2 2 9
10 Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kota Jambi 4 5 4 2 5 20
11 Dinas PU Kota Jambi 3 5 3 3 5 19
12 Dinas Perindag Kota Jambi 1 1 1 2 1 6
13 Dinas Pariwisata Kota Jambi 4 5 4 2 4 19
14 Dinas Perikanan Kota Jambi 1 1 1 2 4 9
15 PPM-DAS Universitas Jambi 1 1 4 2 4 12
16 Lembaga Adat Jambi 1 4 4 3 4 16
17 Masyarakat 1 2 3 2 2 10
18 Walhi 1 4 4 2 3 12
19 Warsi 1 4 4 2 3 12
20 Industri crumb rubber 1 3 4 1 1 10
21 Industri saw mill 1 3 4 1 1 10
Sumber: Hasil olahan data kuisioner (2011) n= 21 responden
Keterangan: 5 = sangat tinggi; 4 = tinggi; 3 = biasa; 2 = agak rendah; 1 = rendah
Terkait dengan hasil dari analisis kepentingan (interest) stakeholders
tersebut, pada prinsipnya masing-masing stakeholders memiliki kepentingan yang bersifat spesifik. Hal ini berhubungan dengan kewenangan, otoritas, peran, manfaat yang diinginkan dan tanggung jawab yang terdapat pada masing-masing stakeholders terkait pengembangan Kota Jambi berdasarkan tupoksi masing-masing kelembagaan.
61
Posisi pada kuadran I (Subjects) merupakan stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan tinggi dan pengaruh rendah. Posisi Kuadran I ditempati oleh sepuluh stakeholders yaitu Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI), BPDAS Batanghari, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jambi, Dinas Perikanan Kota Jambi, Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah Prov. Jambi (BAPEDALDA), Balai Lingkungan Hidup Daerah Kota Jambi (BLHD), PPM-DAS Unja, masyarakat sekitar sempadan sungai, industri
crumbrubber dan sawmill. Masyarakat sekitar sungai memiliki kepentingan tinggi terhadap sungai karena aktivitas sehari-harinya masih memanfaatkan sungai selain karena masyarakat asli Jambi sendiri adalah masyarakat yang berkembang dimulai dari sungai (budaya sungai). Sedangkan industri
crumbrubber memiliki kepentingan dalam memanfaatkan air sungai dalam proses produksi dan sungai sebagai tempat akhir pembuangan limbah cairnya. Untuk sawmill memiliki kepentingan yang tinggi karena memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi pengiriman kayu melalui jalur sungai dan membuang limbah padatnya di sempadan sungai. PPM-DAS Unja memiliki ekspetasi dan komitmen yang tinggi terhadap Sungai Batanghari dalam rangka keberlanjutan
rendah
Gambar 18 Posisi stakeholders dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city
BWS Masyarakat
BPDAS Industri swamill &
crumbrubber BAPEDALDA Disperindag BLHD Dinas Perikanan PPM-DAS UNJA WARSI WALHI Dishut Bappeda Prov PU Prov
Lembaga Adat Jambi Dinas PU Kota
Dinas Tata Ruang Kota
Dinas Pariwisata Kota BAPEDA Kota
Dinas Pariwisata Prov
Crowd
tinggi
PENGARUH
Context setters
Subjects Key players
re nda h tin ggi KE PE N TIN G A N
62
ekologis sungai melalui penelitian-penelitian yang telah dilakukannya. Disperindag Kota Jambi memiliki kepentingan yang tinggi terhadap keberadaan industri sepanjang Sungai Batanghari. BPDAS, BWSS VI merupakan
stakeholders pemerintah pusat yang mempunyai kepentingan tinggi dalam pengelolaan DAS Batanghari yakni dalam perencanaan pengelolaan sumberdaya air dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung pada WS Batanghari. BAPEDALDA dan BLH Kota Jambi merupakan stakeholders
pemerintah daerah dalam pengendalian dan pengawasan pencemaran dan kerusakan lingkungan dan penyelenggaraan pelayanan bidang lingkungan hidup. Akan tetapi sangat disayangkan pengaruh kedua instansi memiliki pengaruh yang kecil dalam memberikan sanksi terhadap kasus-kasus pelanggaran lingkungan hidup oleh karena itu tupoksi dari kedua instansi ini harus ditingkatkan agar mampu berpengaruh dalam pemberian izin dan pemberian sanksi yang menyangkut pelanggaran lingkungan.
Pengaruh stakeholders seperti masyarakat, industri dan PPM DAS Unja ini rendah karena tidak mempunyai fungsi dan kewenangan dalam penentuan kebijakan dalam pengembangan Sungai Batanghari. Stakeholders ini dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah. Sedangkan pengaruh dari lembaga pemerintah pusat dan daerah (provinsi dan kota) masih lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga stakeholders tersebut karena memiliki kewenangan dalam perencanaan dan pengelolaan konservasi sungai akan tetapi bukan sebagai pengambil kebijakan. Stakeholders pada kuadran I merupakan
stakeholders penting dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city. Oleh karena itu harus diberdayakan dengan berbagai cara terutama penguatan kelembagaan dan regulasi, hingga kompetensi teknis dan keterwakilannya dalam pengembangan.
Posisi pada Kuadran II (Key Players) merupakan stakeholders yang paling kritis karena memiliki pengaruh dan kepentingan yang sama-sama tinggi. Posisi pada kuadran II ditempati oleh lima stakeholders yaitu Bappeda Kota Jambi, Dinas Tata Ruang Kota Jambi, PU Kota Jambi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. Jambi. Bappeda Kota Jambi memiliki kepentingan dan pengaruh tinggi dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city karena menentukan kebijakan bidang perencanaan pembangunan daerah, merumuskan kebijakan dan rencana teknis dibidang perencanaan pembangunan, koordinasi perencanaan
63
pembangunan serta perencana anggaran dalam wilayah Kota Jambi. PU Kota Jambi berdasarkan peraturan Walikota Jambi Nomor 9 Tahun 2009 memiliki kepentingan tinggi dalam memanfaatkan Sungai Batanghari sebagai drainase Kota Jambi dan memiliki pengaruh yang besar sebagai pelaksana pembangunan teknis sungai dan kota, Dinas Tata Ruang berdasarkan peraturan Walikota Jambi Nomor 10 Tahun 2009 memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi dalam menentukan perencanaan program penataan ruang wilayah Kota Jambi. Disparbud Kota dan Provinsi memiliki kepentingan tinggi dalam pemanfaatan sungai sebagai wisata air dan berpengaruh dalam mempromosikan wisata air yang ada di Kota Jambi.
Stakeholders pada kuadran II merupakan stakeholders kunci dalam pengembangan Sungai Batanghari di Kota Jambi. Oleh karena itu dalam konteks pengembagan riverfront city kelima stakeholders ini harus saling berkoordinasi secara intensif dari tahap pra pengembangan hingga pasca pengembangan. Koordinasi kelima stakeholders ini diperlukan dalam hal menyamakan persepsi dan arah perencanaan pengembangan riverfront city
dimana didalamnya tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan (sustainable)
baik ekologis, sosial dan ekonomi.
Posisi pada Kuadran III (Context setters) merupakan stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan rendah dan tingkat pengaruh tinggi. Posisi pada kuadran II ditempati oleh tiga stakeholders yaitu Bappeda Prov. Jambi, PU Prov. Jambi, dan Lembaga Adat Jambi. Dengan adanya otonomi daerah kepentingan provinsi di kota tidaklah tinggi akan tetapi pengaruh pemerintah provinsi khususnya yang terjadi di Jambi, pengaruh pemerintah provinsi masih sangat tinggi yakni dalam pemberian anggaran ke pemerintah kota. Selain itu keberadaan aset provinsi berupa kawasan sepanjang 1 km (daerah Tanggo Rajo) yang berada dalam wilayah administratif Kota Jambi menyebabkan pengaruh pemerintah provinsi masih dominan. Maka sebaiknya keberadaan aset pemerintah provinsi tersebut dihibahkan kepada pemerintah kota sehingga pemerintah kota dapat lebih mengatur secara mandiri penataan ruang kota. Kepentingan Lembaga Adat Jambi terhadap pengembangan Sungai Batanghari tidaklah tinggi tetapi keberadaannya sebagai representatif dari suara masyarakat lokal khususnya masyarakat asli Jambi yang pada umumnya bermukim di sepanjang sungai sangatlah tinggi. Tingkat pengaruh Lembaga Adat Jambi berada pada pembentukan opini dan informasi serta memiliki jejaring massa.
64
Kelompok stakeholders yang menempati kuadran III ini bermanfaat untuk perumusan atau menjembatani keputusan dan opini dalam pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city. Dalam penelitian ini diketahui bahwa pemerintah provinsi sangat mendukung pengembangan Kota Jambi sebagai riverfront city
dengan demikian koordinasi perlu terus dilakukan guna meningkatkan hubungan kerja yang baik dengan stakeholders kunci (kuadran 2).
Posisi pada Kuadran IV (Crowd) merupakan stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan dan tingkat pengaruh rendah. Posisi pada kuadran IV dtempati oleh tiga stakeholders yaitu Dinas Kehutanan Prov Jambi, Warsi dan Walhi (LSM). Sebenarnya, stakeholders pada kategori crowd dapat diabaikan dalam pengembangan sungai, akan tetapi mengingat keberadaan Sungai Batanghari sebagai bagian dari DAS Batanghari dan penanganannya bersifat multistakeholders, maka keberdaan ketiga stakeholders ini tidak dapat diabaikan dan diperlukan koordinasi yang baik dimasa yang akan datang. Dalam hal ini, Dishut berfungsi dalam konservasi hutan dan LSM berupaya meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas masyarakat khususnya masyarakat di wilayah
catchment area (hutan), maka perannya perlu mendapatkan perhatian, yaitu agar turut membantu mengurangi beban Sungai Batanghari di Kota Jambi yang merupakan hilir. Hal tersebut perlu dilakukan karena kerusakan pada daerah hulu akan mempengaruhi kualitas dan kondisi fisik pada daerah hilir.
Bentuk dan posisi nilai penting (importance) dan pengaruh stakeholders
akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu (Reed et al. 2009), sehingga hal ini perlu menjadi bahan pertimbangan dalam melaksanakan pengembangan Kota Jambi kedepannya. Disamping itu, dimungkinkan juga munculnya stakeholders
baru yang belum teridentifikasi pada penelitian ini, terkait dengan dinamika sosial yang terus berkembang di lokasi penelitian.
Berdasarkan analisis kepentingan dan pengaruh tersebut ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan dalam pengembangan Sungai Batanghari menuju riverfront city yaitu jika dilakukan pengembangan diperlukan koordinasi dan kerjasama yang solid antar stakeholders seuai dengan peran dan fungsinya. Khususnya dalam pelaksanaannya pemerintah provinsi maupun kota sebaiknya melakukan beberapa pendekatan yang dapat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak tanpa mengurangi tingkat pengaruhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Asikin (2001) dalam pembangungan perlu di berdayakannya bentuk-bentuk partisipasi stakeholders. Derajat partisipasi ini dibedakan menjadi empat
65
tingkat yaitu: 1) Diseminasi informasi adalah aliran informasi satu arah kepada publik. Hal ini menyangkut kepentingan publik terhadap keberadaan sungai, seperti masyarakat, Perguruan Tinggi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat; 2) Konsultasi merupakan pertukaran informasi dua arah antara kordinator pelaksana dan publik atau sebaliknya. Dalam pengembangan riverfront ini adalah kelompok kuadran I dan kuadran II atau sebaliknya. Key players harus menjalin komunikasi yang aktif dan membangun dengan subject yang memiliki kepentingan tinggi terhadap keberadaan sungai. Sehingga arah pengembangan
riverfront city dapat mengakomodir kepentingan stakeholders kuadran II terutama dalam kelestarian ekologis Sungai Batanghari; 3) Kolaborasi merupakan pembagian hak dan kerjasama di dalam penetapan keputusan. Pada tahap ini
stakeholders yang berada di kuadran II dan kuadran III. Pada tahap kolaborasi
stakeholders terkait lebih menitikberatkan pada bentuk kewenangan yang diambil terkait pengembangan sungai, baik sistem perizinan maupun pengganggaran, serta arah pengembangan riverfront city yang akan dikembangkan di Kota Jambi; 4) Delegasi adalah pemberian kewenangan bagi pengambilan keputusan dan pengelolaan sumberdaya pada stakeholders. Stakeholders yang berperan dalam pendelegasian ini adalah kuadran III kepada kuadran II sesuai UU 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah dalam pembagian kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Seperti yang telah dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jambi dalam pembangunan dam di Sungai Batanghari dimana pembangunan dam tersebut dilakukan oleh Dinas PU Provinsi Jambi kemudian pengelolaannya diserahkan kembali ke daerah dalam hal ini adalah PU Kota Jambi. Dalam konteks pengembangan riverfront city, pendelegasian seperti ini dapat dilakukan dengan syarat telah ada kejelasan dan kewenangan antar stakeholders terkait.
5.2.3 Persepsi dan Preferensi Stakeholders
Hasil penilaian stakeholders menunjukkan bahwa kualitas dan fisik Sungai Batanghari sangat rendah diakibatkan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai, kurang berfungsinya IPAL crumbrubber dan sistem drainase kota. Rendahnya fisik sungai dikarenakan penataan ruang yang tidak sesuai dengan RTRW yang telah ditetapkan. Sedangkan pada fungsi sungai sebagai transportasi dan tempat pembuangan sampah masih tinggi. Fungsi sungai sebagai sarana transportasi masih menjadi pilihan utama
66
masyarakat Kota Jambi secara umum. Sungai dijadikan tempat pembuangan sampah menurut para stakeholders karena masih kurangnya tingkat kesadaran masyarakat, merupakan kebiasaan masyarakat yang sulit dihilangkan, dan juga kurang tegasnya sanksi yang diberlakukan. Akan tetapi persepsi fungsi sungai sebagai MCK menurut stakeholders dan masyarakat berbeda. Menurut
stakeholders pemanfaatan sungai sebagai MCK oleh masyarakat saat ini masih rendah tetapi bagi masyarakat penggunaan sungai untuk MCK masih sangat tinggi.
Nilai budaya dan sejarah Sungai Batanghari menurut para stakeholders
masih sangat tinggi. Preferensi stakeholders terhadap Sungai Batanghari kedepan adalah Sungai Batanghari dapat lebih bersih dan fisik sungai menjadi lebih baik sehingga bisa menjadi tempat wisata. Tempat wisata yang diharapkan oleh para stakeholders adalah bentuk wisata air, religi, budaya dan kuliner. Dari hasil wawancara dengan Dinas Pariwisata Prov. Jambi kawasan Sekoja khususnya Kelurahan Tanjung Raden, Olak Kemang, Arab Melayu, Tengah, Jelmu, dan Mudung Laut telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya dan akan dikembangkan sebagai tempat wisata budaya dan religi. Persepsi dan preferensi stakeholders disajikan dalam Tabel 18.
Tabel 18 Persepsi dan preferensi stakeholders No
Parameter
Nilai Persepsi dan Preferensi (%) 1 (rendah) 2 (agak rendah) 3 (biasa saja) 4 (agak tinggi) 5 (tinggi)
1. Kualitas air sungai 90 10 0 0 0
2. Fisik sungai 0 0 0 60 40
3. Fungsi sungai:
a. Transportasi 0 0 0 0 100
b. MCK 50 30 0 0 20
c. Bahan baku air minum 0 0 0 10 90
d. Wisata 0 0 10 25 65 e. Perikanan sungai 0 0 0 60 40 f. Perdagangan/bisnis 0 0 0 50 50 g. Tempat pembuangan sampah/limbah 0 0 0 0 100
h. Akhir drainase kota 0 0 10 0 90
4. Nilai budaya 0 0 0 10 90
5. Nilai sejarah 0 0 0 10 90
6. Preferensi terhadap sungai
a. Sungai bersih 0 0 10 0 90
b. Fisik sungai membaik 0 0 0 10 90
c. Tempat wisata 0 0 10 0 90
Sumber: Hasil olahan data kuisioner (2011) n= 20 responden
Preferensi stakeholders yang meninginkan Sungai Batanghari dapat lebih bersih dan fisik sungai menjadi lebih baik menunjukkan besarnya dukungan
67
dalam RDTR Kota Jambi 2011-2029 isu pengembangan ke depan Kota Jambi adalah pengembangan waterfront city.
5.3 Analisis SWOT
Berdasarkan hasil analisis SWOT yang didasarkan pada penilaian dari aspek legal, biofisik, ekologis, sosial, dan persepsi serta preferensi stakeholders,
maka pengembangan Kota Jambi sebagai riverfront di bagi dalam tiga zona pengembangan (Tabel 19), yaitu:
1) Zona Alami
Termasuk dalam zona alami adalah Kelurahan Penyengat Rendah, Teluk Kenali dan Pulau Sijinjang.
2) Zona Semi Alami
Termasuk dalam zona semi alami adalah Kelurahan Pasir Panjang, Ulu Gedong, Tanjung Raden, Olak Kemang, Tanjung Pasir, Buluran Kenali, Legok, Arab Melayu, Tengah, Jelmu, Mudung Laut, Tahtul Yaman, Tanjung Johor dan Sijinjang.
3) Zona Multi Fungsi
68
Tabel 19 Analisis SWOT pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city berdasarkan segmen Kelurahan/ Segmen Analisis Program pengembangan S W O T Penyengat Rendah/ segmen 1 • Nilai sinousitas terkategori tinggi (skor 3) • Kualitas lingkungan alami terkategori tinggi (skor 5) • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masih adanya masyarakat yang menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Bangunan (rumah) tidak berorientasi ke sungai • Aspek legal tidak terpenuhi • Persepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Telanaipura dengan fungsi utama pemukiman, pendidikan, dan perkantoran (Bappeda Kota Jambi, 2010) • Penyengat Rendah merupakan hulu bagi batas administrasi Kota Jambi yang berkembang aktivitas PETI • Pembebasan
lahan Zona Alami:
a. Penataan kawasan lebih alami dengan live stake bioengineering dan vegetasi
sebagai hutan kota
b. Penataan pedistrian way agar publik dapat menikmati pemandangan ke arah
sungai. Lebar pedistrian way pada zona alami ini tidak lebih dari 1 m.
c. Penataan bangunan sepanjang kawasan agar berorientasi ke arah sungai dan
lebih ekologis
d. Pemukiman yang berkonsep zero waste dengan membuat fasilitas:
• Pengolahan limbah cair (sewage water treatment) untuk skala lingkungan
• Pengolahan sampah (skala lingkungan)
e. Pengembangan Ekowisata
• Penyediaan fasilitas yang berunsur ekologis untuk mendukung aktivitas
ekowisata di kawasan ini
• Penggunaan elemen lanskap yang ekologis dan berunsur edukasi
• Melibatkan masyarakat setempat dalam menciptakan obyek dan atraksi wisata,
serta mengelola kegiatan ekowisata tersebut Teluk Kenali/ segmen 2 • Kualitas lingkungan alami terkategori tinggi (skor 5) • Terpenuhinya aspek legal • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Nilai sinousitas terkategori rendah (skor 1) • Bangunan (rumah) tidak berorientasi ke sungai • Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Telanaipura dengan fungsi utama pemukiman, pendidikan, dan perkantoran (Bappeda Kota Jambi, 2010) • Pembebasan lahan
69
Lanjutan
Tabel 19 Analisis SWOT pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city berdasarkan segmen
Kelurahan/ Segmen Analisis Program pengembangan S W O T P.Sijinjang • Nilai sinousitas terkategori tinggi (skor 3) • Kualitas lingkungan alami terkategori tinggi (skor 5) • Terpenuhinya aspek legal • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city Belum adanya rencana pemanfaatan/pe ngembangan terhadap P.Sijinjang Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city Zona Alami:
a. Penataan kawasan lebih alami dengan live stake bioengineering dan vegetasi
sebagai hutan kota b. Pengembangan Ekowisata
• Penyediaan fasilitas yang berunsur ekologis untuk mendukung aktivitas
ekowisata di kawasan ini.
• Penggunaan elemen lanskap yang ekologis dan berunsur edukasi
• Melibatkan masyarakat disekitar Kelurahan Sijinjang dalam menciptakan obyek
70
Lanjutan
Tabel 19 Analisis SWOT pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city berdasarkan segmen Kelurahan/ Segmen Analisis Program pengembangan S W O T Pasir Panjang, Ulu Gedong, Tanjung Raden, Olak Kemang dan Tanjung Pasir • Kualitas lingkungan alami sedang (skor 4) • Nilai budaya yang tinggi • Kawasan pendidikan agama • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Nilai sinousitas terkategori rendah (skor 1) • Masih adanya masyarakat yang menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Bangunan (rumah) tidak berorientasi ke sungai
• Aspek legal tidak
terpenuhi • Persepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Jambi Kota Seberang dengan fungsi utama sebagai pemukiman dan wisata (Dinas Tata Ruang dan Perumahan, 2010) • Pembebasan lahan • Adanya industri sawmill yang sebaiknya di relokasi
Zona semi alami:
a. Penataan kawasan lebih alami sebagai daerah konservasi dengan
live cribb atau gabion wall bioengineering dan vegetasi sebagai taman kota. Pengadaan taman kota dapat dilakukan pada tiap kelurahan dengan luas 10-30% dari luas kawasan
b. Penataan pedistrian way agar publik dapat menikmati
pemandangan ke arah sungai. Lebar pedistrian way pada zona
semi alami ini adalah 2 m sehingga dapat digunakan juga untuk bersepeda
c. Penataan bangunan sepanjang kawasan agar berorientasi ke arah
sungai dan lebih ekologis
d. Pemukiman yang berkonsep zero waste dengan membuat fasilitas:
• Pengolahan limbah cair (sewage water treatment) untuk skala
lingkungan
• Pengolahan sampah (skala lingkungan)
e. Relokasi industri sawmill ke kawasan industri yang telah ada
diperencanaan RTRW Kota Jambi 2010-2030 yaitu ke Selincah
f. Pengembangan wisata budaya dan religi
• Penyediaan fasilitas yang mendukung wisata budaya dan berunsur
edukasi
• Melibatkan masyarakat setempat dalam menciptakan obyek dan
atraksi wisata,
serta mengelola kegiatan wisata tersebut
• Pengembangan khusus yaitu menjadikan masjid Al-Ikhsanniyah
sebagai landmark Sekoja
• Pengadaan amphitheater sebagai tempat pertunjukkan budaya
• Adanya restoran/cafe terapung
71
Lanjutan
Tabel 19 Analisis SWOT pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city berdasarkan segmen Kelurahan /Segmen Analisis Program pengembangan S W O T Buluran Kenali dan Legok • Kualitas lingkungan alami terkategori sedang (skor 4) • Bangunan (rumah) berorientasi ke sungai (Buluran Kenali) • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Nilai sinousitas terkategori rendah (skor 1)
• Aspek legal tidak
terpenuhi • Pada kedua kawasan ini umumnya masyarakat menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Telanaipura dengan fungsi utama pemukiman, pendidikan, dan perkantoran (Bappeda Kota Jambi, 2010) • Adanya budidaya ikan sungai • Ancaman erosi tebing • Pembebasan lahan
Zona semi alami:
a. Penataan kawasan lebih alami sebagai daerah konservasi dengan live cribb
atau gabion wall bioengineering dan vegetasi sebagai taman kota Pengadaan taman kota dapat dilakukan pada tiap kelurahan dengan luas 10-30% dari luas kawasan
b. Penataan pedistrian way agar publik dapat menikmati pemandangan ke
arah sungai. Lebar pedistrian way pada zona semi alami ini adalah 2 m
sehingga dapat digunakan juga untuk bersepeda
c. Penataan bangunan sepanjang kawasan agar berorientasi ke arah sungai
dan lebih ekologis
d. Pemukiman yang berkonsep zero waste dengan membuat fasilitas:
• Pengolahan limbah cair (sewage water treatment) untuk skala lingkungan
• Pengolahan sampah (skala lingkungan)
e. Pengembangan wisata budi daya ikan sungai
• Penyediaan fasilitas yang mendukung wisata
• Melibatkan masyarakat setempat dalam menciptakan obyek dan atraksi
wisata serta mengelola kegiatan wisata tersebut
• Adanya cafe/restoran terapung
Arab Melayu, Tengah, Jelmu, dan Mudung Laut • Kualitas lingkungan alami terkategori sedang (skor 3)
• Nilai budaya yang
tinggi • Kawasan pendidikan agama • Aspek legal terpenuhi • Bangunan (rumah) berorientasi ke sungai
• Telah adanya balai
Kerajinan Rakyat Jambi (Selaras Pinang Masak) • Nilai sinousitas terkategori rendah (skor 1) • Termasuk pada daerah yang padat penduduk • Masih adanya masyarakat yang menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Jambi Kota Seberang dengan fungsi utama sebagai pemukiman dan wisata (Dinas Tata Ruang dan Perumahan, 2010)
• Adanya pabrik
crumbrubber yang sebaiknya direlokasi
a. Penataan kawasan lebih alami sebagai daerah konservasi dengan live cribb
atau gabion wall bioengineering dan vegetasi sebagai taman kota
b. Pemukiman yang berkonsep zero waste dengan membuat fasilitas:
• Pengolahan limbah cair (sewage water treatment) untuk skala lingkungan
• Pengolahan sampah (skala lingkungan)
c. Relokasi industri crumbrubber ke kawasan industri yang telah ada
diperencanaan RTRW Kota Jambi 2010-2030 yaitu ke Selincah d. Pengembangan wisata budaya dan religi
• Penyediaan fasilitas yang mendukung wisata budaya dan berunsur edukasi
• Melibatkan masyarakat setempat dalam menciptakan obyek dan atraksi
wisata serta mengelola kegiatan wisata tersebut
• Pengadaan cafe/restoran terapung
• Penataan terminal ketek
72
Lanjutan
Tabel 19 Analisis SWOT pengembangan Kota Jambi menuju riverfront city berdasarkan segmen Kelurahan/ Segmen Analisis Program pengembangan S W O T Tahtul Yaman
• Nilai budaya yang
tinggi • Kualitas lingkungan alami terkategori sedang (skor 3) • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Nilai sinousitas terkategori rendah (skor 1)
• Aspek legal tidak
terpenuhi • Bangunan (rumah) tidak berorientasi ke sungai • Masih adanya masyarakat yang menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Masih adanya masyarakat yang tinggal di rumah apung • Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Jambi Kota Seberang dengan fungsi utama sebagai pemukiman dan wisata (Dinas Tata Ruang dan Perumahan, 2010)
• Pembebasan
lahan
Zona semi alami:
a. Penataan kawasan lebih alami sebagai daerah konservasi dengan live
cribb atau gabion wall bioengineering dan vegetasi sebagai taman kota
b. Penataan bangunan sepanjang kawasan agar berorientasi ke arah
sungai dan lebih ekologis
c. Pemukiman yang berkonsep zero waste dengan membuat fasilitas:
• Pengolahan limbah cair (sewage water treatment) untuk skala
lingkungan
• Pengolahan sampah (skala lingkungan)
• Khusus untuk rumah apung dapat di tata lebih baik sehingga dapat
menjadi objek wisata yanng menarik
d. Pengembangan wisata budaya dan budi daya ikan sungai
• Penyediaan fasilitas yang mendukung wisata budaya dan berunsur
edukasi
• Melibatkan masyarakat setempat dalam menciptakan obyek dan
atraksi wisata, serta mengelola kegiatan wisata tersebut
• Penataan terminal ketek
e. Relokasi industri crumbrubber ke kawasan industri yang telah ada
dalam RTRW Kota Jambi 2010-2030 yaitu ke Selincah Tanjung Johor • Nilai sinousitas terkategori tinggi (skor 3) • Kualitas lingkungan alami terkategori sedang (skor 4) • Persepsi dan preferensi masyarakat menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city
• Adanya budi daya
ikan sungai • Masih adanya masyarakat yang menggunakan sungai sebagai halaman belakang (tempat sampah dan MCK) • Masih adanya masyarakat yang tinggal di rumah apung • Presepsi dan preferensi stakeholders menunjukkan dukungan dalam pengembangan riverfront city • Masuk dalam BWK Jambi Kota Seberang dengan fungsi utama sebagai pemukiman dan wisata (Dinas Tata Ruang dan Perumahan, 2010) • Adanya pabrik crumbrubber yang sebaiknya direlokasi • Pembebasan lahan