LAPORAN
LAPORAN
PRAKTIKUM FT. SISTEM SYARAF, RENAL &
PRAKTIKUM FT. SISTEM SYARAF, RENAL &
KARDIOVASKULAR
KARDIOVASKULAR
“SAKIT KEPALA”
“SAKIT KEPALA”
Oleh: Oleh: LISTIYOWATI LISTIYOWATI 16102928 16102928 AA LUKMANLUKMAN AL-HAKIM AL-HAKIM 16102929 16102929 AA MARELLA
MARELLA TRIXIE TRIXIE BAKARA BAKARA 16102930A16102930A
FAKULAS FARMASI
FAKULAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
SURAKARTA
2012/2013
2012/2013
SAKIT KEPALA (HEADACHE)
SAKIT KEPALA (HEADACHE)
I.
I. DASAR TEORIDASAR TEORI
••DefinisiDefinisi
Rasa sakit (nyeri) merupakan keluhan yang sering didapatkan dalam klinik,walaupun istilah Rasa sakit (nyeri) merupakan keluhan yang sering didapatkan dalam klinik,walaupun istilah sakit´ ini tampaknya sulit didefinisikan. Persepsi tiap orang akan berbeda ± beda, karena sakit´ ini tampaknya sulit didefinisikan. Persepsi tiap orang akan berbeda ± beda, karena keluhan ini berasal dari pengalaman subjektif seseorang yangsulit dilakukan keluhan ini berasal dari pengalaman subjektif seseorang yangsulit dilakukan pengukurannya.
pengukurannya. Reaksi Reaksi dan dan sikap sikap individu individu terhadap terhadap stimulasi stimulasi yangidentik yangidentik yangyang menyebabkan sakit akan berbeda pula. Oleh karena itu, dokter pemeriksa diharapkan pada menyebabkan sakit akan berbeda pula. Oleh karena itu, dokter pemeriksa diharapkan pada tuga
tugas uns untuk tuk mendmendapatkapatkan an infoinformasi rmasi yanyang sg selengelengkap kap mungmungkin kin dari dari papasisien en dadan n jjuguga a hhararus us dadapapatt membayangkan bagaimana pasien bereaksi terhadap rasasakitnya itu.
membayangkan bagaimana pasien bereaksi terhadap rasasakitnya itu.
Sakit kepala merupakan nyeri kepala tersering diantara variasi nyeri kepala dan Sakit kepala merupakan nyeri kepala tersering diantara variasi nyeri kepala dan biasanya
biasanya bilateral. bilateral. Nyeri Nyeri kepala kepala ini ini merupakan merupakan nyeri nyeri kepala kepala dengan dengan serangan serangan nyeri nyeri yangyang berulang dan berlangsung dari menit sampai hari, dengan sifat n
berulang dan berlangsung dari menit sampai hari, dengan sifat n yeri berupa rasa tertekan atauyeri berupa rasa tertekan atau diikat. Nyeri kepala ini adalah manifestasi dari reaksi tubuh terhadap stress, kecemasan, diikat. Nyeri kepala ini adalah manifestasi dari reaksi tubuh terhadap stress, kecemasan, depresi, konflik emosional, kelelahan, dll.
• Epidemiologi
Meskipun banyak orang di masyarakat umumnya mengalami tension type headache (TTH) dibanding migrain, akan tetapi sebagian besar orang yang menderita sakit kepala mencari pengobatan ketika menderita migrain. Lebih dari 90% dari 1203 pasien konsultasi dokter umum datang dengan keluhan sakit kepala didiagnosis dengan migrain sebagai penyebab keluhan mereka. Meskipun prevalensi pasien dokter umum yang didiagnosis migrain cukup banyak diantara pasien sakit kepala, akan tetapi pasien sendiri seringkali yakin bahwa sakit kepala yang mereka alami diakibatkan oleh penyakit sinus. -Nyeri kepala ini biasanya dimulai pada usia 20-40 tahun
- Kejadiannya dominan pada wanita dan dapat pula terjadi pada segala usia.
Klasifikasi
Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi sakit kepala primer, sakit kepala sekunder, dan neuralgia kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer dapat dibagi menjadi migraine, tension type headache, cluster headache dengan sefalgia trigeminal / autonomik, dan sakit kepala primer lainnya.
Sakit kepala sekunder dapat dibagi menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, sakit kepala akibat kelainan vaskular kranial dan servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial, sakit kepala akibat adanya zat atau withdrawal , sakit kepala akibat infeksi, sakit kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada wajah akibat kelainan kranium, leher, telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
Sakit kepala sebagian besar bersifat primer yaitu tanpa ada penyakit yang mendasarinya seperti migrain, cluster, dan tension type headache. Meskipun demikian ada juga sakit kepala yang disebabkan oleh sebuah proses yang mendasari penyakit atau kondisi atau biasa disebut sakit kepala sekunder, dimana kondisi ini harus menjadi fokus awal dalam evaluasi diagnostik sakit kepala. Manifestasi dari penyakit sistemik yang mendasari dapat membantu dalam diagnosis etiologi sakit kepala dan harus selalu dicari. Karena jika sampai terlambat bisa berakibat fatal.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sakit kepala yang menjadi pertanda sakit kepala sekunder.
1. Profil temporal/waktu.sakit kepala yang akut/mendadak menunjukkan penyebab vaskular. Dalam hal ini, yang paling dipertimbangkan sebagai diagnostik serius adalah perdarahan ''subarachnoid'', perdarahan dari malformasi arteriovenosa, hipofisis pitam, dan perdarahan ke dalam lesi massa. Jika ditemukan keluhan ini pemeriksaan CT-scan merupakan pemeriksaan tambahan yang disarankan.
2. Profil lain yang mengkhawatirkan adalah percepatan pola sakit kepala. Paling umum, pola ini terjadi pada pasien yang telah menggunakan obat analgesik secara berlebihan, tetapi juga ada kemungkinan penyebabnya akibat lesi massa yang
membesar seperti tumor atau hematoma subdural.
Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur, pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan faktor genetic
II. PATOFISIOLOGI
Menurut Buku Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan, patofisiologi headache sebagai berikut:
a. Migren
Migren headache merupakan gangguan nyeri kepala ditandai dengan adanya serangan nyeri yang berkepanjangan dan tiba-tiba dengan vasokonstriksi yang diikuti dengan vasodilatasi. Migren headache dapat diawali dengan adanya aura atau berbagai sensasi prodromal seperti silau, penglihatan ganda dsb dimana ini merupakan indikasi adanya disfungsi serebral fokal. Berkenaan dengan migren ini dikatakan bahwa kemungkinan disebabkan oleh ketegangan emosional yang berkepanjangan. Ini akan menyebabkan reflek vasospasmus dari beberapa arteri di kepala termasuk arteri yang mensuplai otak. Vasospasmus akan menyebabkan sebagian otak menjadi iskemik dan menyebabkan gejala prodromal. Iskemik yang berkepanjangan menyebabkan dinding vaskular menjadi flasik dan tidak mampu mempertahankan tonus vaskular. Desakan darah menyebabkan pembuluh darah berdilatasi dan terjadi peregangan dinding arteri sehingga menyebabkan nyeri atau migren.
b. Tension type headache (Nyeri kepala tegang)
Tension headache merupakan nyeri kepala yang pada umumnya disebabkan oleh ketegangan dan kontraksi otot-otot leher dan kepala. Ini akan menyebabkan tekanan pada
serabut syaraf dan konstriksi pembuluh darah pada dasar leher yang pada gilirannya akan makin menambah tekanan dan menyebabkan buangan sisa (asam laktat) menumpuk. Akumulasi ini menyebabkan timbulnya nyeri. Ketegangan otot ini pada umumnya merupakan reaksi yang tidak disadari terhadap stres. Akan tetapi, aktifitas-aktifitas yang membutuhkan kepala harus bertahan pada satu posisis dapat menyebabkan nyeri kepala jenis ini, ataupun tidur dengan letak leher yang tidak benar (tegang) dapat merupakan penyebab tension headache.
c. Cluster
Focus patofisiologi di arteri karotis intrakavernosus yang merangsang pleksus perikarotis. Pleksus ini mendapat rangsangan dari cabang 1 dan 2 nervus trigeminus, ganglia servikalis superior/SCG (simpatetik) dan ganglia sfenopalatinum/SPG (parasimpatetik). Diperkirakan focus iritatif di dan sekitar pleksus membawa impuls-impuls ke batang otak dan mengakibatkan rasa nyeri di daerah periorbital, retroorbital dan dahi.
Patogenesis
Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri kepala adalah sebagai berikut (Lance,2000) : (1) peregangan atau pergeseran pembuluh darah; intrakranium atau ekstrakranium, (2) traksi pembuluh darah, (3)kontraksi otot kepala dan leher ( kerja berlebihan otot), (3) peregangan periosteum(nyeri lokal), (4) degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervusservikalis (misalnya, arteritis vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat, bahan aktif pada endorfin).
Etiologi
a. Migren
Faktor-faktor pencetus yang dapat menyebabkan timbulnya migren:
1. Perubahan hormone estrogen dan progesterone merupakan hormone utama yang berkaitan dengan serangan migren, baik pada saat maupun di luar periode menstruasi. Penurunan konsentrasi estrogen dan progesteron pada fase luteal siklus menstruasi merupakan saat terjadinya serangan migren. Nyeri kepala migrain dipicu oleh turunnya kadar 17-b estradiol plasma saat akan haid. Serangan migrain berkurang
selama kehamilan karena kadar estrogen yang relatif tinggi dan konstan, sebaliknya minngu pertama post partum, 40% pasien mengalami serangan yang hebat, karena turunnya kadar estradiol. Pemakaian pil kontrasepsi juga meningkatkan serangan migrain.
2. Makanan. Makanan yang sering menyebabkan nyeri kepala pada beberapa orang antara lain: makanan yang bersifat vasodilator (histamin, contoh: anggur merah, natrium nitrat), vasokonstriktor (tiramin, contoh: keju; feniletilamin, contoh: coklat; kafein), dan zat tambahan pada makanan (natrium nitrit, monosodiaum glutamat/MSG, dan aspartam).
3. Stres
4. Rangsangan sensorik.
Sinar yang terang dan sinar yang menyilaukan.
Bau menyengat, termasuk bau yang tidak menyenangkan seperti tinner dan asap rokok.
5. Faktor fisik.
Kegiatan fisi yang berlebihan termasuk aktivitas seksual.
Perubahan pola tidur, termasuk terlalu banyak tidur atau terlalu sedikit tidur, dan gangguan saat tidur.
6. Perubahan lingkungan. Seperti: cuaca, musim, tingkat dataran tinggi, tekanan barometer, atau zona waktu.
7. Alkohol. 8. Merokok.
b. Tension type headache (Nyeri kepala tegang) 1. Peristiwa stres tertentu
Stress dan depresi pada umumnya berperan sebagai faktor pencetus sekitar 87%, exacerbasi maupun mempertahankan lamanya nyeri kepala. Prevalensi life time depresi pada penduduk adalah sekitar 17%. Pada penderita depresi dijumpai adanya defisit kadar serotonin dan noradrenalin di otaknya.
2. depresi 3. kecemasan
4. kurang tidur atau perubahan pola tidur rutin
Jadwal tidur yang berubah juga bisa membuat sakit kepala, misalnya tidur terlambat. Sebisa mungkin tidur teratur.
5. tidak makan
Hindari makan atau minum sesuatu yang sensitif, khususnya sebelum melakukan kegiatan fisik. Rasa lapar juga bisa membuat kita sakit kepala. Pasalnya, pembuluh darah akan melebar setiap kali kadar gula darah turun. Jadi, sebisa mungkin
makan secara teratur.
6. Posisi tubuh yang salah saat tidur
Sakit kepala karena tegang. Gejalanya diawali dengan ketegangan di otot leher, bahu, dan tengkorak akibat tekanan emosional. Sakitnya selalu berawal dari kepala belakang, merambat ke depan, lalu ke kedua sisi kepala.
7. Bekerja dalam posisi yang tidak enak, leher tegang akibat bekerja sambil duduk yang terlalu lama, misalnya mengetik dengan komputer.
8. kurangnya aktifitas fisik
9. kegiatan fisik yang intens, termasuk aktifitas seksual, perubahan hormonal yang berhubungan dengan menstruasi, kehamilan, atau penggunaan hormon,
10. penggunaan obat untuk sakit kepala yang berlebihan.
c. Cluster
Penyebab pasti sakit kepala cluster tidak diketahui, tetapi ketidaknormalan pada hypothalamus sepertinya berperan. Serangan cluster terjadi seperti rutinitas harian, dan siklus periode cluster sering mengikuti musim dalam setahun. Pola ini menunjukkan pola jam biologis tubuh terlibat. Pada manusia, jam biologis tubuh terdapat pada hypothalamus, yang berada di dalam pada tengah otak. Ketidaknormalan hypothalamus menerangkan waktu dan siklus alami sakit kepala cluster. Penelitian mendeteksi peningkatan aktifitas pada hypothalamus menajdi sumber sakit kepala cluster. Faktor lain yang mungkin juga terlibat adalah:
1. Hormon
Orang dengan sakit kepala cluster memiliki ketidaknormalan tingkat hormon tertentu, seperti melatonin dan cortisol, terjadi saat periode cluster.
2. Neurotransmitter
Berubahnya tingkat beberapa reaksi kimia yang membawa impuls syaraf pada otak (neurotransmitter), seperti serotonin, mungkin memiliki peran dalam tumbuhnya sakit kepala cluster.
Tidak seperti migrain atau sakit kepala karena ketegangan, sakit kepala cluster umumnya tidak berkaitan dengan pemicu seperti makanan, perubahan hormon atau stress.
Tapi sekali periode cluster mulai mengkonsumsi alkohol dapat dengan cepat memicu pecahnya sakit kepala karena alkohol adalah pemicu tercepat terjadinya sakit kepala selama periode claster dan juga dapat memiliki efek bahkan sebelum minuman pertama selesai. Untuk alasan ini, banyak orang dengan sakit kepala cluster menghindari alkohol pada saat durasi periode cluster. Pemicu lain yang mungkin juga termasuk adalah penggunaan obat medis, seperti nitroglycerin, obat yang digunakan untuk penyakit jantung.
Gejala
* rasa bosan, nyeri kepala
* Rasa sesak atau tekanan di dahi atau di samping dan belakang kepala * Tekanan pada, kulit kepala leher dan otot bahu
* Kadang-kadang, kehilangan nafsu makan
Sakit kepala tegang ini dapat berlangsung dari 30 menit untuk satu minggu penuh. Anda mungkin mengalami sakit kepala ini hanya kadang-kadang, atau hampir sepanjang waktu. Jika sakit kepala Anda terjadi 15 hari atau lebih sebulan untuk paling sedikit tiga bulan, mereka dianggap kronis. Jika Anda memiliki sakit kepala yang terjadi kurang dari 15
kali dalam sebulan, sakit kepala Anda dianggap episodik. Namun, orang dengan sakit kepala episodik sering berada pada risiko yang lebih tinggi terkena sakit kepala kronis.
Sakit kepala biasanya digambarkan sebagai ringan sampai sedang intens. Tingkat keparahan nyeri bervariasi dari satu orang ke orang lain, dan dari satu sakit kepala ke yang lain dalam orang yang sama.
Ketegangan sakit kepala terkadang sulit untuk membedakan dari migrain, tapi tidak seperti beberapa bentuk migrain, ketegangan sakit kepala biasanya tidak terkait dengan gangguan penglihatan (bintik buta atau lampu berkedip), mual, muntah, sakit perut, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, atau ucapan cadel. Sementara aktivitas fisik biasanya memperparah nyeri migrain. Hal itu tidak membuat ketegangan sakit kepala parah. Meningkatnya kepekaan terhadap cahaya atau suara yang dapat terjadi dengan ketegangan sakit kepala, tapi ini bukan gejala yang umum.
Manifestasi Klinik
a. Migren
Tanda dan gejala migren bervariasi di antara penderita. Terdapat 4 fase yang umum terjadi pada penderita migren, tetapi semuanya tidak harus selalu dialami oleh penderita.
Fase-fase tersebut antara lain:
1. Fase Prodromal. Fase ini dialami 40-60% penderita migren. Gejalanya berupa perubahan mood, iritabel, depresi atau euforia, perasaan lemah, letih, lesu, tidur berlebihan, menginginkan jenis makanan tertentu (coklat) dan gejala lainnya. Gejala ini muncul beberapa jam atau hari sebelum fase nyeri kepala. Fase in memberi pertanda kepada penderita atau keluarga bahwa akan terjadi serangan migren.
2. Fase Aura. Aura adalah gejala neurologis fokal kompleks yang mendahului atau menyertai serangan migren. Fase ini mucul bertahap selama 5-20 menit, dan bertahan kurang dari 60 menit. Aura ini dapat berupa sensasi visual, sensorik, motorik, atau kombinasi dari aura-aura tersebut.
Aura visual muncul pada 64% kasus dan merupakan gejala neurologis yang paling umum terjadi. Yang khas untuk migren adalah scintillating scotoma: tampak bintik-bintik kecil yang banyak, gangguan visual homonim, gangguan salah satu sisi lapangan pandang, persepsi adanya cahaya berbagai warna yang bergerak pelan (fenomena positif). Kelainan
visual lainnya adalah adnya skotoma ( fenomena negatif) yang bisa timbul pada salah satu mata atau kedua mata. Kedua fenomena ini bisa timbul bersamaan dan berbentuk zig-zag. Aura pada migren biasanya hilang dalam beberapa menit dan kemudian diikuti dengan periode laten sebelum timbul nyeri kepala. Walaupun ada juga yang melaporkan tanpa periode laten.
b. Tension type headache (Nyeri kepala tegang)
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada tension-typeheadache adalah: 1. Tidak ada gejala prodnormal atupun aura.
2. Nyeri dapat ringan hingga sedang maupun berat. 3. Tumpul, seperti ditekan atau diikat. Tidak berdenyut.
4. Menyeluruh atau difus (tidak hanya pada satu titik atau satu sisi), nyeri lebih hebat di daerah kulit kepala, oksipital, dan belakang leher.
5. Terjadi secara spontan.
6. Memburuk atau dicetuskan oleh stres dan kelelahan. 7. Adanya insomnia.
8. Iritabilitas.
9. Gangguan konsentrasi.
11. Beberapa orang mengeluh rasa tidak nyaman didaerah leher, rahang, dan temporomandibular.
c. Cluster
Tanda dan gejala kususnya adalah :
1. Sakit yang mengerikan, biasanya terdapat pada atau sekitar mata, tapi dapat merambat pada area lain di wajah, kepala, leher dan pundak.
2. Sakit pada satu sisi 3. Kegelisahan
4. Keluar air mata secara berlebihan 5. Mata merah sebagai efek samping
6. Lendir atau basah pada lubang hidung sebagai efek samping pada wajah 7. Berkeringat, kulit pucat pada wajah
8. Bengkak di sekitar mata sebagai efek samping pada wajah 9. Ukuran pupil yang mengecil
10. Kelopak mata yang layu
Diagnosis
1. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala
2. Tidak efektifnya koping individu berhubungan dengan nyeri dan perubahan gaya hidup
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan suplai O2 di seluruh tubuh
III. SASARAN TERAPI
- menghilangkan nyeri (terapi abortif), -mencegah serangan (profilaksis)
IV. TUJUAN TERAPI
Terapi bertujuan menghilangkan gejala/nyeri pada saat serangan (terapi abortif) atau mencegah serangan (terapi profilaksis)
Menggurangi frekuensi dan keparahan serangan
Mengurangi patient disability selama serangan,
Mencegah serangan berikutnya
Menghindarkan penggunaan obat yang makin bertambah
Dan mengedukasi pasien utk dapat menatalaksana
V. STRATEGI TERAPI
Tata Laksana
-Guideline terapi : Menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral -Terapi non farmakologi
a. Migrain
Terdiri dari 2 macam, yaitu:
1. Pengobatan akut/segera (abortif). Jenis obat yang dipakai adalah:
Aspirin dan NSAID dosis tinggi (900 mg) untuk serangan ringan serta sedang.
Kombinasi analgesik dan antiemetik, contoh: aspirin dengan metoklopramid atau parasetamol dengan domperidon untuk serangan ringan sampai sedang.
Analgesik yang mengandung opiat, contoh: almotriptan, eletriptan, frovatriptan, naratriptan, sumatriptan, rizatriptan, zolmitriptan yang terdapat dalam bentuk sediaan oral, semprotan hidung, subkutan, dan rektal supositoria. Sediaan oral sesuai untuk intensitas nyeri kepala ringan sampai sedang untuk menjaga absorbsinya. Obat ini harus diberikan dengan dosis optimal dan sebaiknya diulang setiap 2 jam (untuk naratriptan setiap 4 jam), sampai nyeri kepala hilang sepenuhnya atau telah mecapai dosis maksimal. Golongan triptan sebaiknya tidak digunakan dalam 24 jam setelah pemakaina triptan jenis lain.
Dihidroergotamin (DHE) untuk semua jenis serangan.
2. Pengobatan preventif (profilaksis). Macam-macam obat pilihan pertama yang dianggap efektif dalam pengobatan preventif adalah:
Penyekat-ß misalnya atenolol, bisoprolol, metoprolol, nadolol, propanolol, dan timolol. Pemakaian penyekat –β dikontraindikasikan pada sinus bradikardi, penyakit paru obstruktif (asma), dan DM.
Antagonis serotonin (5-HT2), misalnya: metisergid dan siproheptadin.
Antidepresan trisiklik, misalnya amitriptilin.
Penyekat-Ca, misalnya: flunarisin dan verapramil (meningkatkan ambang rangsang nyeri) .
Antikomvulsan, misalnya:Na valproat dan topiramat.
b. Tension type headache (Nyeri kepala tegang) Terapi Non-farmakologi
melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30 menit
perubahan posisi tidur
pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot yang lain
Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah :
Pencahayaan yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau saat menonton televisi
Hindari eksposur terus-menerus pada suara keras dan bising
Hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari
Terapi farmakologi
Menggunakan analgesik atau analgesik plus ajuvan sesuai tingkat nyeri. Contoh : Obat-obat OTC seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen atau naproxen sodium. Produk kombinasi dengan kafein dapat meningkatkan efek analgesik
Untuk sakit kepala kronis, perlu assesment yang lebih teliti mengenai penyebabnya, misalnya karena anxietas atau depresi pilihan obatnya adalah antidepresan, seperti amitriptilin atau antidepresan lainnya. Hindari penggunaan analgesik secara kronismemicu rebound headache
c. Cluster
Sasaran terapi : menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis) Strategi terapi : menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral
Obat-obat terapi abortif: Oksigen
Ergotamin
Dosis sama dengan dosis untuk migrain
Sumatriptan
Obat-obat untuk terapi profilaksis: Verapamil
Litium
Metisergid
Kortikosteroid
Topiramat
Terapi Nonfarmakologi headache: 1. Terapi Akupuntur
Penggunaan akupuntur dilakukan di titik-titik yang direkomendasikan menggunakan 10 sampai 12 jarum, 30 menit per minggu, selama 10 hingga 12 minggu.
2. Latihan fisik
Latihan fisik mengurangi intensitas dan bahkan membebaskan sakit kepala sebagian pasien hingga enam bulan. Selain itu juga bisa dilakukan latihan olahraga yang mengarah pada otot-otot bahu dan leher, masing-masing selama 100 kali, dan ditambah pula dengan mengayuh sepeda ergonomik serta peregangan.
3. Latihan relaksasi
Latihan relaksasi mencakup latihan pernapasan, teknik mengendalikan stres, serta bagaimana bersikap rileks selama beraktivitas dan dalam menjalani hidup sehari-hari.
VI. PENYELESAIAN KASUS
Sakit kepala ( headache)
Kasus :
Bapak YZ, 48 tahun, keluhan utamanya adalah adanya nyeri kepala vascular yang berdenyut yang bersifat unilateral dan kadang kadang nyeri timbul secara mendadak. Rasa nyeri juga dirasakan di belakang salah satu mata sampai kadang kadang mengeluarkan air mata. Nyeri akan meningkat secara episodic setiap beberapa menit dan tidak terjadi gajela aura. Nyeri terjadi 2 – 5 kali dalam seminggu dengan “ pain free remission period”. Kondisi social pasien adalah merokok aktif dan stress
Riwayat penyakit :
Hipertensi yang diatasi dengan kaptopril tetapi penggunaanya tidak teratur . tekanan darah ; 150/90 mmHg hipertensi grade 1
Pertanyaan :
1. Berikan terapi farmakologi dan non farmakologi untuk gangguan diatas
2. Berikan terapi atau tatalaksana pengobatan yang tepat dan rasional bagi pasien tersebut
3. Berikan alas an dan Evaluasi terapi terpilih
4. Monitoring dan follow up apa yang harus di perhatikan? 5. Berikan KIE bagi pasien tersebut
ANALISIS KASUS SOAP
1. SUJEKTIF :
Nama : YZ , usia : 48 tahun
Keluhan utama : adanya nyeri kepala vascular yang berdenyut yang bersifat unilateral dan kadang kadang nyeri timbul secara mendadak. Rasa nyeri juga dirasakan di belakang salah satu mata sampai kadang kadang mengeluarkan air mata.
. Riwayat penyakit lain yang pernah diderita adalah hipertensi yang diatasi dengan kaptopril tetapi penggunaanya tidak teratur . tekanan darah ; 150/90 mmHg hipertensi grade 1
Keadaan umum pasien merokok aktif dan stress. Tekanan darah : 150/90 mmHg hipertensi grade 1
3. ASSESMENT :
Salah satu mata sampai kadang kadang mengeluarkan air mata. Nyeri akan meningkat secara episodic setiap beberapa menit dan tidak terjadi gajela aura. Nyeri terjadi 2 – 5 kali dalam seminggu dengan “ pain free remission period” berarti pasien menderita sakit kepala kelompok (cluster). Sakit kepala ini terjadi dalam satu rangkaian, umumnya sekitar 30-45 menit, dapat timbul dalam beberapa kali sehari, dan lenyap secara spontan. ♦ agak mirip dengan migrain, samasama bersifat vaskuler = disebabkan karena aktivitaspembuluh darah yang tidak normal
♦ terjadi dilatasi pembuluh darah yang berlebihan disekitar salah satu mata
♦ Gejalanya : wajah kemerahan secara unilateral (sebelah sisi), keluar air mata, hidung berair
♦ tidak bersifat herediter
♦ pemicu utamanya adalah alkohol dan merokok
1. TERAPI FARMAKOLOGI
Sasaran terapi : menghilangkan nyeri (terapi abortif),mencegah serangan (profilaksis) Strategi terapi : menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral
NSAIDs :
♥ Menghambat sintesis prostaglandin, agragasi platelet, dan pelepasan 5-HT ♥ Naproksen terbukti lebih baik dari ergotamin
♥ Pilihan lain : ibuprofen, ketorolak
Contohnya: Aspirin dan naproksen terbukti cukup efektif
Tidak disarankan penggunaan jangka panjang karena dptmen yebabkan gangguan GI
Obat-obat terapi abortif:
Oksigen
Ergotamin (Dosis sama dengan dosis untuk migrain)
Sumatriptan
Obat-obat untuk terapi profilaksis: Verapamil
Ergotamin Metisergid Kortikosteroid Topiramat
Terapi Non Farmakologi - Terapi Akupuntur
Penggunaan akupuntur dilakukan di titik-titik yang direkomendasikan menggunakan 10 sampai 12 jarum, 30 menit per minggu, selama 10 hingga 12 minggu.
- Latihan fisik
Latihan fisik mengurangi intensitas dan bahkan membebaskan sakit kepala sebagian pasien hingga enam bulan. Selain itu juga bisa dilakukan latihan olahraga yang mengarah pada otot-otot bahu dan leher, masing-masing selama 100 kali, dan ditambah pula dengan mengayuh sepeda ergonomik serta peregangan.
- Latihan relaksasi
Latihan relaksasi mencakup latihan pernapasan, teknik mengendalikan stres, serta bagaimana bersikap rileks selama beraktivitas dan dalam menjalani hidup sehari-hari.
Obat-obat ter api aborti f:
1. Ergotamin
♥ Memblokade inflamasi neurogenik dengan menstimulasi reseptor 5-HT1 presinaptik ♥ Pemberian IV dpt dilakukan untuk serangan yang berat
2.Sumatriptan Golongan triptan
♥Agonis reseptor 5-HT1D menyebabkan vasokonstriksi
♥ Menghambat pelepasan takikinin, memblok inflamasi neurogenik ♥ Efikasinya setara dengan dihidroergotamin, tetapi onsetnya lebih cepat ♥ Sumatriptan oral lebih efektif dibandingkan ergotamin per oral
Terapi profi laksis
• Metisergid : merupakan senyawa ergot semisintetik, antagonis 5-HT2 • Verapamil : Merupakan terapi lini kedua atau ketiga
• Topiramat : mengurangi kejadian migrain • Kortikosteroid : Dapat mengurangi inflamasi
VII. TERAPI ATAU TATALAKSANA PENGOBATAN YANG TEPAT DAN RASIONAL BAGI PASIEN
Tatalaksana :
♥ menghindari pemicu
♥ menggunakan obat-obat penghilang nyeri
Penggunaan antinyeri yang dapat dibeli bebas tanpa resep, seperti parasetamol. Akan tetapi bila sudah memasuki rasa sakit yang sangat berat sampai mengeluarkan air mata lebih baik segera ke dokter dan minta resepnya agar penangan sakit kepala bisa tepat sesuai jenis gejala yang ditimbulkannya.
Seperti kasus di atas pasien lebih tepat di beri Sumatriptan untuk mengurangi serangan akut migrain.
VIII. ALASAN DAN EVALUASI TERAPI TERPILIH
M engapa dipakai terapi obat Sumatr iptan inj eksi?
♥ Sumatriptan termasuk golongan Triptan yang merupakan terapi lini pertama untuk
pasien dengan migren sedang sampai berat atau sebagai terapi darurat jika obat lain yang tak spesifik tidak berhasil.
♥Sumatriptan injeksi SC dikemas dalam bentuk alat autoinjektor untuk digunakan sendiri oleh pasien. Pemberian injeksi menunjukkan peningkatan khasiat obat dan mula kerja yang lebih cepat (15menit) daripada sedian oral.
♥Agonis reseptor 5-HT1D menyebabkan vasokonstriksi ♥ Menghambat pelepasan takikinin, memblok inflamasi neurogenik
♥ Efikasinya setara dengan dihidroergotamin, tetapi onsetnya lebih cepat
IX. MONITORING DAN FOLLOW UP
Monitoring :
• Mengenali dan Menghindari factor pencetus yang dapat menyebabkan Cluster headache.
• Pencetusnya tidak seperti migrain atau sakit kepala karena ketegangan, sakit kepala cluster umumnya tidak berkaitan dengan pemicu seperti makanan, perubahan hormon
atau stress. Tapi sekali periode cluster mulai mengkonsumsi alkohol dapat dengan cepat memicu pecahnya sakit kepala karena alkohol adalah pemicu tercepat terjadinya sakit kepala selama periode claster dan juga dapat memiliki efek bahkan sebelum minuman pertama selesai. Untuk alasan ini, banyak orang dengan sakit kepala cluster menghindari alkohol pada saat durasi periode cluster. Pemicu lain yang mungkin juga termasuk adalah penggunaan obat medis, seperti nitroglycerin, obat yang digunakan untuk penyakit jantung.
• Kontrol tekanan darah pasien
• Tidur dan beraktivitas secara teratur, bila memungkinkan istirahat di tempat gelap dan tenang dengan dikompres dingin.
• Edukasi dan menenangkan pasien (reassurance). Pada saat serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi sensoris berle bihan.
• Makan teratur, dan menghindari makanan yang dapat mencetuskan migraine • Mengurangi rokok
• Terapi nutrisi makanan. Disarankan tidak mengandung nitrit karena nitrit dapat memperlebar pembuluh darah.
X. KOMUNIKASI, INFORMASI, EDUKASI
1. Sumatriptan injeksi diberikan 6 mg saat awal dan dapat diulang setelah 1 jam jika perlu.
Dosis maks 12 mg/hari Peringatan:
tidak untuk proafilaksis, gangguan hati dan ginjal,dianjurkan sebagai monoterapi dan tidak boleh diberikan bersamaan obat migren akut lainnya. 2. Captopril
Di indikasikan untuk hipertensi ringan sampai sedang.
Dosis 25 mg untuk maintenance yang dapat diberikan 2 kali sehari dan dapat ditingkatkan kembali setelah 2-4 minggu.
Contoh resep
Dr. Nusa Indah Alamat Praktek:
JL. Mangga 2, Surakarta, Telp. 0271-858585 SIP:076/KANDEP/DU.VI-30/2005 Surakarta, 4 April 2013 R/ Sumatriptan inj I S p r n Captopril 25 mg XX S 2 dd 1 Pro : bpk YZ (48thn)
Alamat : Jl. Mangga No,1, Surakarta
Evaluasi resep;
1. Disarankan dulu kepada pasien akan menggunakan oral atau injeksi atau semprot dalam pemilihan obat sumatriptan, supaya pasien dapat menggunakan obatnya dengan mudah dan nyaman (Bu Dwi).
2. Bila diberi kaptopril dapat meningkatkan resiko batuk dikarenakan pasien mengkonsumsi rokok (Nurma Hadi).
Kaptopril dapat diganti dengan obat-obat kalsium beta bloker (Bu Dwi).
Kesimpulan
Sakit Kepala merupakan masalah kesehatan yang paling sering terjadi. Beberapa orang sering mengalami sakit kepala, sedangkan yang lainnya hampir tidak pernah merasakan sakit kepala.
Sekarang ini banyak sekali obat-obat sakit kepala yang dijual bebas di toko-toko obat atau apotik. Di televisi juga banyak iklan yang menawarkan obat sebagai solusi sakit kepala.
Namun hampir semua obat tersebut tidaklah mampu mengatasi sakit kepala dengan sebenar- benarnya. Memang untuk reaksinya sangat cepat dalam meredakan sakit kepala, namun di lain waktu ia akan kambuh kembali. Akibatnya kita menjadi ketergantungan dan bila dikonsumsi terus penerus dapat menyebabkan pembuluh darah kian tersumbat.
Untuk itu kita sebagai calon tenaga kesehatan, kita perlu mengetahui dan memahami tanda dan gejala berbagai penyakit khususnya di sini sakit kepala.