• Tidak ada hasil yang ditemukan

di Pengadilan Agama Akhwalus Syakhsyiah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "di Pengadilan Agama Akhwalus Syakhsyiah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Hak Mut’ah dan Iddah Bagi Perempuan yang Mengajukan Gugatan Cerai di Pengadilan Agama

Proposal Skripsi ini Di ajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Strata Satu dalam Bidang

Akhwalus Syakhsyiah

Oleh : Jurina Nim: 16.15.00.41

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA INDONESIA 2021

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal skripsi dengan judul “Hak Mut’ah dan Iddah Bagi Perempuan Yang Mengajukan Gugutan Cerai di Pengadilan Agama” yang disusun oleh Jurina Nomor Induk Mahasiswa : 16.15.00.41 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan ke seminar proposal.

Jakarta, 28 Maret 2021 Pembimbing,

(3)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Pernikahan merupakan sunnahtullah yang umum dan berlaku pada semua makhluk-Nya, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Ia adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah Swt sebagai jalan bagi makhluk-Nya

untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya.1 Dan juga merupakan salah

satu perintah agama kepada yang mempu untuk segera melaksanakannya. Karena perkawinan dapat mengurangi kemaksiatan, baik dalam bentuk penglihatan maupun dalam bentuk perzinaan. Orang yang berkeinginan melakukan pernikahan, tetapi belum mempunyai persiapan bekal (fisik dan nonfisik) dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk berpuasa. Orang berpuasa dapat memiliki kekuatan atau penghalang dari berbuat tercelah yang

sangat keji yaitu perzinaan.2

Dalam bahasa Indonesia, perkawinan perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan disebut juga pernikahan, berasal dari kata nikah yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti beretubuh. Kata nikah sendiri sering dipergunakan untuk arti persetubuhan, juga untuk aryti akad

nikah.3

Perkawinan bukan hanya mempersatukan dua pasangan manusia, yakni laki-laki dan perempuan, melainkan mengikatkan tali perjanjian yang suci

1

Slamet Abidin, Fiqh Munakahat 1, (Bandung:Pustaka Setia, 1999), h.9.

2

Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 7.

3

(4)

atats nama Allah, bahwa kedua mempelai berniat membangun rumah tangga yang sakinah, tentram, dan dipenuhi oleh rasa cinta dan kasih sayang. Untuk menegakkan cita-cita kehidupan keluarga tersebut perkawinan tidak cukup hanya bersandar pada ajaran-ajaran Allah dalam Al-qur’an dan As-sunah yang sifatnya global, tetapi perkawinan berkaitan pula dengan hukum suatu Negara. Perkawinan baru dinyatakan sah jika menuru hukum Allah dan hukum Negara

telah memenuhi rukun dan syarat-syaratnya.4

akan tetapi untuk membentuk dan mewujudkan rumah tangga yang harmonis, bersahaja dan sesuai dengan tujuan dari terbentuknya rumah tangga, tidak begitu muda. Hal ini yang sering terjadi di masyarakat, banyaknya permasalahan-permasalahan yang muncul, seperti bertengkar tiada akhir, saling cemburu dan masalah ekonomi, sehingga akan berunjung sebuah perceraia yang mengakibatkan putusnya ikatan perkawinan. Sesuai pasal 114 Bab XVI KHI yang menyatakan “putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian

dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian”.5 Meskipun pada

awalnya secara eksplisit dapat diatasi, namun ditanggapi secara yuridis. Seperti halnya kehadiran UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang memberikan tanggapan terhadap permasalahan tersebut.

Kehadiran undang-undang yang mengatur putusnya perkawinan dilatabelangkai maraknya perceraian tengah-tengah masyarakat yang tidak tercatat, mentalak secara semena-mena dan memberikan hak progratif kepada perempuan untuk menggugat cerai suaminya. Landasan yang melatar belangkai lahirnya atau tujuan terbentuknya undang- undang tentang perkawinan.

4 Beni Ahmad Saebani dan H. Syamsul Falah, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Bandung:CV

Pustaka Setia, 2011), h. 30-31.

5

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyrakat Islam Direkorat Bina KUA dan Keluarga Sakina, 2018. Hal. 57.

(5)

Sehingga di dalam undang-undang di kenal sebagai cerai gugat bagi istri yang mengajukan gugatan di pengadilan dan cerai talak bagi suami yang mengajukan perceraian di pengadilan. Hal ini yang disebutkan pasal 132 di dalam Kompilasi Hukum Islam dan Ulin Na’mah menjelaskan bahwa dulunya dari keduanya kata tersebut, digunakan dalam praktek di peradilan atau praktek beracara dengan sebutan permohonan talak dan gugat cerai. Namun adanya UU no. 7 tahun 1989 telah mengubahnya dengan istilah penyebutan yang baru, bagi

permohonan talak disebut cerai talak dan gugat cerai disebut cerai gugat. 6

Adanya cerai talak dan cerai gugat memberikan hak yang sama dan setara kepada laki-laki dan perempuan untuk mengajukan perceraian, agar mendapatkan legalitas hukum tentang sahnya perceraian. Namun yang menitik beratkan dari keduanya adalah bedanya akibat dari cerai talak dan cerai gugat.

Sesuai pasal 149 Bab XVII didalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Menyatakan, Bila mana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib:

a. Memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas isteri tersebut qobla al dukhul;

b. Memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri telah dijatuhi talak bal’in atau nusyur dan dalam keadaan tidak hamil;

c. Melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separoh apabila qobla al dukhul;

6

Nu’amah. Ulin, Cerai Talak: Maknanya bagi Para Pelaku Matrilocal Residence di Lingkungan

(6)

d. Memberikan biayaya hadhanan untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun.

Secara tidak langsung, Pasal diatas hanya mewajibkan bagi suami yang mengajukan cerai kepada istri di Pengadilan agama (cerai talak), namun tidak terdapat pasal yang mewajibkan bagi istri yang mengajukan perceraian di Pengadilan (cerai gugat). Hal ini lah yang secara subtansial sangat membedakan akibat dari cerai talak dan cerai gugat. Mantan Istri akan mendapatkan hak atas mantan suaminya, apabila suaminya mengajukan cerai di pengadilan agama.

Adanya pasal 149 Bab XVII telah mengatur akibat dari putusnya perkawinan karena talak. Pasal tersebut, hanya dapat berlaku bagi suami yang melaksanakan perceraian di depan sidang pengadilan. Namun tidak berlaku perceraian yang dilakukan diluar sidang Pengadilan. Karena secara landasan hukum tidak terdapat kalimat yang mengatahkan sahnya perceraian di luar sidang pengadilan. Undang-undang hanya mengatur dan mengsahkan perceraian di lakukan didepan sidang pengadilan agama, sesuai dengan dengan Undang-Undang tahun 1974 tentang perkaiwnan pasal 39, yang menyebutkan. “perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua

belah pihak”.7

Dan di dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 115 bab XVII memberikan clausal yang sama “Percerain hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan

tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”.8

7

Undang-Undang Republik Indonesia, 1986, hal. 16.

8

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyrakat Islam Direkorat Bina KUA dan Keluarga Sakina, 2018. Hal. 57.

(7)

hal ini yang mendasari, perceraian di luar sidang pengadilan agama dianggap tidak sah dan tidak adanya perceraian. Karena percerain secara hukum, hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan. Namun secara hukum classic yang berkembang di tengah-tengah masyrakat Indonesia mengakui dan mengsahkan perceraian di luar sidang Pengadilan. Akan tetapi yang berkembang di masyrakat adalah hukum classic, yang mengakibatkan banyaknya perceraian di luar sidang pengadilan yang diikrarkan oleh suami kepada istri tanpa melalui prosedur pengadilan.

Maraknya istri diceraikan oleh suami di luar sidang pengadilan menjadi salah satu indicator tingginya angka cerai gugat di setiap pengadilan. Karena sebagian istri mengajukan perceraian di pengadilan, bukan atas keinginannya untuk bercerai melainkan untuk mendapatkan legalitas di mata hukum yang sebelumnya sudah pernah diceraikan oleh mantan suaminya secara hukum agama classik. agar perceraianya di akui secara otentik dan sebagai syarat administrative, maka istri mengajukan cerai gugat di pengadilan.

Hal ini yang melatarbelangkangi peneliti untuk mengupas dan mendalami hak mantan istri yang telah di ceraikan oleh mantan suaminya di luar sidang pengadilan. Apabila mencermati dan menganalisis pasal 149 Bab XVII, apabila seorang suami mentalak istrinya di pengadilan agama, maka mantan suami mempunyai kewajiban untuk memberikan hak kepada mantan istrinya. Berbeda halnya ketika suami menceraikan istri di luar sidang pengadilan, istri tidak mendapatkan hak dari mantan suaminya, sesuai dengan pasal 149 Bab XVII di dalam Kompilasi Hukum Islam.

Berangkat dari kesenajngan hak perempuan atas diceraiakan mantan suami di luar sidang pengadilan, maka peneliti menginkan untuk mendapatkan

(8)

jawaban dari rumusan masalah sebagai berikut. Bagaimana hak mantan istri dan kewajiban mantan suami setelah terjadinya perceraian di luar sidang Pengadilan. Bagaimana hak mut’ah, nafkah iddah, dan harta syarikah bagi perempuan yang mengajukan perceraian di Pengadilan.

Berpijak dari pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library research) dengan mengumpulkan data serta informasi melalui bahan – bahan tertulis yang bersifat Deskriptif. Dengan berbasiskan analisis yurisprudensi, yakni menganalisa putusan Pengadilan Agama terkait tentang pemberian hak mut’ah dan iddah bagi perempuan yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama. Dengan demikian, peneliti menamai proposal skripsi ini dengan judul “Hak mut’ah dan iddah bagi perempuan yang mengajukan gugutan cerai di Pengadilan Agama”

B. Pertanyaan Penelitian

Dari sini saya tertarik untuk meneliti bagaimana dengan akibat dari perceraian tersebut :

1. Bagaimana hak mantan istri dan kewajiban mantan suami?

2. Bagaimana hak mut’ah dan nafkah iddah,bagi perempuan yang mengajukan perceraian?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penilitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui hak istri dan kewajiban suami dalam kasus sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam latar belakang.

2. Untuk mengetahui hak mut’ah, nafkah iddah, serta harta syarikah bagi perempuan yang mengajukan perceraian.

(9)

D. Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang ditempuh oleh penulis dalam menyelesaikan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode penulisan sebagai berikut : 1. Jenis dan analisi penelitian

Jenis penelitian dalam skrispsi ini menggunakan penelitian kepustakaan (Library research) dengan mengumpulkan data serta informasi melalui bahan – bahan tertulis. Dan analisis yang digunakan adalah analisis yurisprudensi. Dalam skripsi ini secara khusus penulis menganalisa putusan Pengadilan Agama terkait tentang pemberian hak mut’ah dan iddah bagi perempuan yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama. Sekaligus pengkajian dari buku – buku yang mengacu dan berhubungan dengan pembahasan skripsi ini yang dianalisis data – datanya.

2. Sifat Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sifat Deskriptif, yakni

suatu penelitian untuk memberikan data yang diteliti tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainya yang berikatan tentang hak seorang mantan

istri setelah diceraikan oleh mantan suami di luar sidang Pengadilan Agama.9

3 Metode Pengumpulan Data

Data penelitian ini bersumber pada: a. Sumber hukum primer:

a) UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

b) PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 c) Pasal 45 Kompilasi Hukum Islam

9

Soekanto. Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1986). Hal. 10.

(10)

d) UU No. 1 Tahun 1974 Bab VIII Pasal 39 Tentang Perceraian

e) Pasal 149 Kompilasi Hukum Islam Tentang Hak Istri dalam kasus Perceraian

f) Beberapa putusan Hakim terkait hak seorang istri. b. Sumber hukum sekunder:

a) Skripsi karya M. Ulil Azmi, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Pemberian Nafkah Iddah Dalam Cerai Gugat (Analisis Putusan Perkara No. 1445/Pdt.G/2010/PA.JS)” Tahun 2015 b) Skripsi Karya Muhammad Fauzan dengan judul “Maqashid Nafkah

Iddah dan Perlindungan Perempuan” E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yaaitu: 1. Secara praktis

Berangkat dari pengetahuan yang didapatkan selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan bersinggungan langsung di dalam kehidupan masyrakat. peneliti mendapatkan permasalahan yang sesuai dengan penelitian ini. Peneliti berharap dari penelitian ini dapat memberikan edukasi dan informasin di dalam kajian hukum dan mampu memberikan pertimbangan kepada hakim untuk memberikan hak kepada mantan istri yang telah diceraikan oleh mantan suaminya di luar sidang pengadilan agama.

2. Secara teoritis

Peneliti mengharapkan dari penelitian ini memberikan kontribusi pengetahuan, literasi, refrensi dan acuan bagi penegak hukum untuk

(11)

menegagkkan serta mengakomodir hukum yang berkembang di masyrakat. peneliti meharapkan dari penelitian ini memberikan refrensi atau rujuan bagi academi yang menginkan meneliti dengan kasus yang sama atau sejenisnya.

F. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdari dari empat bab, setiap bab terdiri dari sub bab seperti:

1. Bab I Pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang penelitian, rumusan penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, metode penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan (library research) yaitu data primer, skunder serta data tersier sebagai data pendukung, kemudian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Resourch) yaitu: penelitian yang menggunakan data dan informasi dengan

Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (library research). Dalam memperoleh data penelitian, peneliti mengumpulkan, menganalisis, mengorganisasi, sumber dari

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research (penelitian perpustakaan), dengan mengumpulkan data dan informasi dari beberapa buku dan penafsiran yang

Jenis penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Jenis penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan pendapat

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan jalan melakukan penelitian terhadap

Jenis penelitian skripsi ini adalah penelitian kualitatif dalam penelitian kepustakaan (library research), penelitian yang dilakukan dengan mengkaji meneliti

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan (library research) yaitu data primer, skunder serta data tersier sebagai data pendukung, kemudian