MAJU,
p-ISSN: 2355-3782
Volume 8 No. 1, Maret 2021
e-ISSN: 2579-4647
Page :71- 81
71
PENGGUNAAN KONTEKS BUAH JAMBU BIJI DALAM
PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS PENDEKATAN
PMRI PADA MATERI BOLA UNTUK PESERTA
DIDIK KELAS IX SMP
Dwi Rahmadona1, Agustiany Dumeva Putri2, Feli Ramury3
1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika UIN Raden Fatah Palembang, 2,3Dosen Program Studi Pendidikan Matematika UIN Raden Fatah Palembang
E-mail: [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak: Penggunaan konteks buah jambu biji dalam pengembangan LKPD berbasis pendekatan PMRI merupakan salah satu konteks yang dapat digunakan dalam pemahaman konsep pada materi bola. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKPD pada materi bola berbasis pendekatan PMRI yang telah memenuhi kriteria valid dan praktis. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang dilaksanakan sesuai alur
desain pengembangan Tessmer yaitu formative evaluation, yang meliputi tahap self evaluation, expert review
dan one to one, small group, dan field test. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IX SMPN 40 Palembang yang berjumlah 30 orang peserta didik. Teknik Pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan lembar walkthrough, angket, wawancara, dan dokumentasi. Melalui tahapan Tessmer
diperoleh kesimpulan bahwa LKPD pada materi bola berbasis pendekatan PMRI ini memenuhi kriteria valid
berdasarkan komentar dan saran pada tahap self evaluation dan expert review, sedangkan praktis berdasarkan
hasil rekapitulasi angket pada tahap one to one, small group, dan field test.
Kata-kata kunci: Pengembangan, LKPD, PMRI, Bola, Tessmer.
PENDAHULUAN
Pendidikan sangat berperan penting dalam mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, akhlak mulia, serta kecerdasan setiap manusia. Pendidikan adalah upaya untuk memberdayakan manusia menjadi manusia yang seutuhnya agar dapat mengaktualisasikan diri, memahami diri serta dapat menghidupi dirinya sendiri (Sudarsana, 2016). Salah satu bidang studi yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan adalah bidang studi matematika. Hal ini sejalan dengan Siagian (2016) mengungkapkan bahwa matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik bagi cabang ilmu pengetahuan itu sendiri maupun bagi cabang
ilmu pengetahuan lainnya. Dalam kegiatan pembelajaran matematika, bahan ajar merupakan bagian yang penting utnuk dijadikan sebagai salah satu sumber informasi materi baik bagi guru maupun peserta didik (Tanjung & Fahmi, 2015). Untuk mencapai tujuan pembelajaran guru diharapkan dapat mengembangkan sendiri bahan ajar yang akan digunakan (Mayani & Rizki, 2016).
Bahan ajar diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik untuk mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga peserta didik mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu, bahan ajar matematika yang baik adalah bahan ajar yang lebih menekankan pada pemahaman konsep dan penalaran bukan hanya sekedar
72 penggunaan rumus (Indrayanti & Wijaya,
2016). Jadi, bahan ajar yang baik sangat dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat membantu guru dan peserta didik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran yang baik, tidak hanya memfasilitasi peserta didik dalam menerima materi namun juga membantu dalam menekankan pemahaman kosep.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru matematika kelas IX SMPN 40 Palembang yakni Bapak Arifin M.Si, mengatakan bahwa sekolah tersebut hanya menggunakan buku paket dari Kemendikbud sebagai bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Kemudian, berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik diperoleh bahwa peserta didik mengalami kesulitan dalam mempelajari materi yang terdapat di dalam buku paket selain itu kemampuan peserta didik dalam menemukan sesuatu (pemahaman konsep) masih kurang terutama pada materi bangun ruang sisi lengkung yaitu bola. Proses pembelajaran di SMPN 40 Palembang masih berpusat pada guru (teacher centered). Seharusnya peserta didik diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peran utama (Sepriady, 2018). Namun, hal itu berbeda dengan situasi dan kondisi pembelajaran matematika di kelas selama ini, dimana pembelajaran masih berpusat pada guru (Handayani, 2019). Menurut Gagne dalam (Uno & Ma'ruf, 2016) istilah pembelajaran sebagai “instruction is a
set of eventthat effect learners in such a way
that learning is facilitated”. Mengajar
(pengajaran) merupakan bagian dari pembelajaran, dimana guru ditempatkan sebagai pemeran utama untuk memberikan
informasi maka dari itu guru berperan sebagai fasilitator, lebih ditekankan kepada bagaimana merancang berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau di manfaatkan peserta didik dalam mempelajari sesuatu (Sanjaya, 2006). Salah satu bahan ajar yang dapat membantu peserta didik dalam belajar adalah Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) (Pratomo, Darmono, & Purwoko, 2019).
Menurut (Astuti & Sari, 2017) LKPD merupakan alat untuk menjadi jembatan antara guru dan peserta didik dalam berkomunikasi saat kegiatan belajar mengajar, didalamnya berisi langkah-langkah yang menuntun peserta didik untuk menemukan sesuatu, langkah-langkah tersebut tersusun secara sistematis dan beraturan sehingga peserta didik bekerja dengan benar dan beruntun sesuai yang diharapkan guru, sehingga dengan adanya LKPD seperti yang diharapkan memungkinkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Selain penggunaan bahan ajar, penggunaan pendekatan juga diperlukan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran, agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman matematika (Aripin, 2015). Perlu adanya upaya inovasi-inovasi pembelajaran melalui penggunaan bahan ajar seperti lembar kerja peserta didik dengan pendekatan pembelajaran yang inovatif (Mulyani, Fadillah, & Haryadi, 2019). Proses pembelajaran matematika tidak cukup dilaksanakan dengan penyampaian informasi tentang konsep dan prinsip-prinsip tetapi peserta didik juga harus memahaminya dengan kenyataan yang mereka alami sendiri (Fannie, 2014). Salah satu pendekatan pembelajaran yang sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika adalah
73 pendekatan Pendidikan Matematika Realistik
Indonesia (PMRI) (Yuliana, 2017). Menurut (Fauzi & Masrukan, 2018) mathematics learning in the class is emphasized on the interrelation between mathematical concepts with the experience of everyday children. Pendekatan pendidikan matematika realistik (PMRI) ialah pembelajaran harus dimulai dari sesuatu yang rill sehingga peserta didik dapat terlibat dalam proses belajar, masalah-masalah dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika sehingga Lembar Kerja Peserta Didik yang akan dibuat berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of
everyday experience) dan membangun
matematika dari kehidupan sehari-hari (Hadi, 2005).
Di dalam PMRI Konteks menjadi awal dalam pembelajaran matematika (Wijaya, 2012). Konteks adalah cara pandang terhadap suatu bentuk permasalahan matematika yang dikaitkan dengan keseharian peserta didik (Adha, 2019). Penggunaan konteks yang tepat
juga harus diperhatikan dalam
mengembangkan LKPD berbasis PMRI. Menurut Purnani (2019) penggunaan konteks yang dirancang secara matang akan
memudahkan peserta didik untuk
menyelesaikan permasalah matematika. LKPD yang dikembangkan menggunakan pendekatan PMRI harus memenuhi kriteria pada PMRI salah satunya penggunaan model. Khoirunnisa (2019) mengatakan bahwa bahan ajar yang ia kembangkan belum mengarahkan peserta didik untuk menemukan kembali, sehingga pada LKPD peneliti cenderung menggunakan rumus yang terdapat buku paket. Untuk itu saran
penelitian sebelumnya tersebut dijadikan peneliti sebagai bahan evaluasi.
Salah satu materi dalam pembelajaran matematika yang sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari adalah bangun ruang sisi lengkung. Menurut Novitasari, Murtiyasa, & Kom, (2017), penguasaan konsep yang dimiliki peserta didik dalam menyelesaikan soal penerapan bangun ruang belum sepenuhnya dikuasai peserta didik. Peserta didik hanya menghafal rumus luas dan volume dari masing-masing bangun ruang sehingga pemahaman konsep peserta didik terhadap materi bangun ruang masih belum optimal (Haerul, 2015).
Dari hasil penelitian yang dilakukan Dewi (2014), Penggunaan bahan ajar dengan pendekatan PMRI pada Persamaan Dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel memudahkan peserta didik dalam menemukan konsep matematika yang termuat pada setiap masalah yang disajikan dalam bahan ajar tersebut. Menurut Lestari (2016) dalam penelitiannya yang berjudul Pengembangan Lembar Kerja Peserta didik Berbasis Pendidikan Matematika Realistik pada Materi PLSV Kelas VII SMP. Kesimpulannya, memenuhi kriteria sangat valid dan praktis. Oleh karena itu, berdasarkan uraian dan pendapat di atas, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKPD berbasis Pendekatan PMRI pada materi bola yang valid dan praktis menggunakan konteks buah jambu biji.
METODE
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian pengembangan (development
74
research) menggunakan alur Tessmer. Berikut ini diagram alur desain formative Evaluation.
Gambar 1 Tahapan Formative
Evaluation (Tessmer, 1993)
Adapun subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IX 2 SMPN 40 Palembang. Prosedur pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap preliminary (persiapan yang terdiri dari identifikasi kurikulum, identifikasi materi, dan identifikasi peserta didik dan pendesaian LKPD berbasis PMRI) dan tahap prototyping
menggunakan tahap formative evaluation alur Tessmer (1993) yang meliputi self evaluation, expert review dan one to one, small group, dan
field test. Selanjutnya teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah
walktrough digunakan pada saat tahap expert
review, angket dan wawancara digunakan pada
saat tahap one to one, small group, dan field test, dan dokumentasi digunakan pada saat tahap self evaluation, expert review dan one to one, small group, dan field test. Dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk walktrough, wawancara dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif kualitatif, dan angket dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan prosedur penelitian pada tahap preliminary yang meliputi persiapan yaitu, ada identifikasi yang dilakukan oleh peneliti pertama identifikasi kurikulum dimana berdasarkan hasil wawancara kurikulum yang digunakan di sekolah ialah kurikulum 2013, sumber belajar berupa buku paket dari kemendikbud, pendekatan yang digunakan ialah
scientific, dan metode yang biasa
digunakan ialah metode ceramah. Kedua
identifikasi
materi
berdasarkan
hasil
wawancara kepada guru dan peserta didik
kelas IX bagaimana kemampuan dan
kesulitan yang dialami maka materi yang
membutuhkan
pengembangan
dalam
LKPD ini ialah materi bangun ruang sisi
lengkung yaitu bola. Ketiga identifikasi
peserta didik berdasarkan hasil wawancara
informasi yang diperoleh yaitu,
Peserta didik kurang mengetahui kegunaan pelajaran matematika dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik tidak dapat membayangkan materi yang sedang dipelajari atau soal yang terdapat pada buku pegangan peserta didik, buku kurang menarik, bahasa yang digunakan pada buku pegangan siswa terlalu tinggi, sehingga banyak peserta didik kesulitan dalam memahami materi dan harus dijelaskan terlebih dahulu oleh guru, pada materi bola peserta didik ingin tidak hanya mengetahui rumus tetapi juga ingin memahami konsepnya.Sedangkan pada tahap pendesaian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis pendekatan PMRI. yang meliputi aktivitas peserta didik didalamnya berisikan aktivitas untuk menemukan konsep sifat-sifat, luas permukaan dan volume pada materi bola dan
75 ayo berlatih didalamnya berisikan soal-soal
pada materi bola. Konteks yang dipakai berupa buah jambu biji yang digunakan ialah sebagai jembatan pemahaman konsep pada materi bola. Hasil pendesaian LKPD berupa prototype awal yang akan digunakan pada tahap prototyping
yaitu tahapan formative evaluation pada tahap
self evaluation.
Gambar 2. LKPD prototype awal Gambar 2 merupakan prototype awal yaitu bagian cover LKPD, dan aktivitas pada materi bola. Pada tahap self evaluation peneliti melakukan evaluasi sendiri pada prototype
awal yang telah didesain. Tahap ini bertujuan untuk melihat kesalahan-kesalahan nyata atau yang terihat jelas pada LKPD sehingga hasil revisi pada tahap ini dapat digunakan pada tahap berikutnya. Dimata peneliti ada tiga karakteristik yang difokuskan pada tahap ini yaitu konten (isi), konstruk, dan bahasa. Hasil
revisi pada tahap self evaluation dinamakan
prototype 1.
Gambar 3. prototype awal menjadi prototype 1 Gambar 3 memperlihatkan salah satu hasil revisi pada tahap self evaluation dimana pada cover sebelumnya gambar tidak jelas, tidak memiliki kolom untuk menuliskan nama dan kelas, serta kurang menarik. Sehingga peneliti memutuskan untuk memberbaiki cover LKPD agar gambar lebih jelas, memiliki kolom atau tempat untuk menuliskan nama dan kelas, serta leboih menarik.
Selanjutnya prototype 1 diujicobakan pada tahap expert review dan one to one
dilakukan secara bersamaan, kemudian hasil revisi digabungkan antara komentar dan saran yang diberikan validator dengan tahap one to one untuk selanjunya hasil revisi dinamakan
prototype 2. Pada tahap expert review LKPD divalidasi oleh 3 orang ahli, ada tiga aspek yang akan divalidasi oleh pakar/ ahli yaitu (konten) isi, konstruk, dan bahasa.
Tabel 1. Validator LKPD berbasis Pendekatan PMRI
Nama Validator
Jabatan Institusi Ahli Proses Validasi WA Dosen Pendidikan Matematika UIN Raden Fatah Palembang LKPD PMRI Whatsapp DR Dosen Matematika Fakultas Dakwah UIN Raden Fatah Palembang PMRI Mails review AR Guru Matematika SMPN 40 Palembang Materi Face to face
76 Berdasarkan kriteria kevalidan yang
ditentukan oleh peneliti, maka LKPD yang dikembangkan termasuk dalam kategori valid dan layak digunakan dengan revisi atau tanpa revisi. komentar dan saran lanjutan yang diberikan validator pada lembar walktrough
akan direvisi bersamaan dengan tahap one to one. Pada tahap one to one diujicobakan pada 3 orang peserta didik dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Aspek kepraktisan yang dilihat meliputi kejelasan, kemudahan pengguna, dan daya tarik dari LKPD. Adapun tempat pelaksanaan one to one dilakukan di rumah salah satu peserta didik, dikarnakan sekolah sedang diliburkan akibat covid-19. Hasil pengisian angket respon peserta didik pada tahap one to one yaitu 3,67 yang berarti bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan pendekatan PMRI pada materi bola memenuhi kriteria kepraktisan karena skor termasuk kategori sangat praktis. Sesudah mengisi angket, peserta didik diwawancarai untuk mendapatkan komentar dan saran setelah mereka belajar menggunakan LKPD.
Setelah melakukan tahap expert review
dan one to one hasil komentar dan saran yang diberikan oleh validator dan peserta didik direvisi secara bersamaan sehingga hasil revisi akan menghasilkan prototype 2 untuk diujicobakan pada tahap selanjutnya.
Gambar 4. prototype 1 menjadi prototype 2 Gambar 4 memperlihatkan salah satu hasil revisi pada tahap expert review dan one to one dimana pada aktivitas 2 dan aktivitas 3 pada LKPD prototype 1 belum menampilkan langkah-langkah untuk memudahkan peserta didik dalam menemukan dan memahami konsep. Sehingga peneliti memutuskan untuk menambahkan langkah-langkah agar peserta didik lebih mudah belajar menggunakan LKPD.
Kemudian prototype 2 diujicobakan pada tahap small group yang diujicobakan pada 6 orang peserta didik dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Aspek kepraktisan yang dilihat meliputi efektif, efesien, kemenarikan dan dapat digunakan yang terlihat dari LKPD. Tahap ini dilakukan secara daring
melalui whatsapp video call group dikarnakan sekolah sedang diliburkan akibat covid-19. Hasil pengisian angket respon peserta didik pada tahap small group yaitu 3,30 yang berarti bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan pendekatan PMRI pada materi bola memenuhi kriteria kepraktisan karena skor termasuk kategori sangat praktis. Sesudah mengisi angket, peserta didik diwawancarai untuk mendapatkan komentar dan saran setelah mereka belajar menggunakan LKPD.
Setelah melakukan tahap small group
77 peserta didik direvisi sehingga akan
menghasilkan prototype 3 untuk diujicobakan pada tahap selanjutnya.
Gambar 5. prototype 2 menjadi prototype 3 Gambar 5 memperlihatkan salah satu hasil revisi pada tahap small group dimana pada pertanyaan aktivitas 2 dan pertanyaan aktivitas 3 pada LKPD prototype 2 masih ada peserta didik yang merasa kebingungan dikarnakan kalimat pertanyaan hampir sama dan agak bertele-tele. Sehingga peneliti memutuskan untuk memperbaiki penggunaan kalimat pada pertanyaan tersebut.
Dan prototype 3 pada tahap field test
yang diujicobakan pada 20 orang peserta didik dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Aspek kepraktisan yang dilihat meliputi mudah digunakan dan mudah dimengerti. Tahap ini dilakukan secara daring
melalui whatsapp chat group dan whatsapp video call group. Hasil pengisian angket respon peserta didik pada tahap field test yaitu 3,515 yang berarti bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan pendekatan PMRI pada materi bola memenuhi kriteria kepraktisan karena skor termasuk kategori sangat praktis. Sesudah mengisi angket, peserta didik diwawancarai untuk mendapatkan komentar
dan saran setelah mereka belajar menggunakan LKPD. Dan tidak ada saran lanjutan sehingga menghasilkan prototype akhir dan LKPD
berbasis pendekatan PMRI yang
dikembangkan praktis dan dapat digunakan dalam pembelajaran.
Pengembangan LKPD dengan
Pendekatan PMRI yang valid meliputi tahap
self evaluation dan expert review yang terdapat pada alur formative evaluation. Berdasarkan karakteristik kevalidan tersebut pada tahap self evaluation peneliti melakukan evaluasi sendiri dan melakukan perbaikan (prototype 1) yang selanjutnya pada tahap expert review akan divalidasi oleh validator dimana bahan ajar dikatakan valid apabila telah memenuhi kriteria yang dinilai oleh validator yang menyatakan bahwa bahan ajar dikatakan valid dnegan revisi atau tanpa revisi.
Sedangkan pengembangan LKPD dengan Pendekatan PMRI yang praktis PMRI meliputi tahap one-to-one, small group, dan
field test yang terdapat pada alur formative
evaluation. Untuk mengembangkan LKPD
yang valid dan praktis, diperlukan pengembangan yang sesuai dengan teori pembelajaran yang digunakan. Menurut Gravemeijer di dalam pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan RME terdapat tiga prinsip utama yaitu penemuan kembali, fenomena didaktik, dan mengembangkan model sendiri. Kemudian Treffers merumuskan lima karakteristik PMRI yaitu, penggunaan konteks, penggunaan model, pemanfaatan hasil kontribusi peserta didik, interaktivitas, dan keterkaitan.
Untuk memperlihatkan sebagian prinsip dan karakteristik PMRI yang
78 dimunculkan pada LKPD yang dikembangkan.
Peneliti akan ditunjukkan pada gambar di bawah ini:
Gambar 6. Hasil jawaban peserta didik tentang penemuan rumus volume bola
Gambar 6 menunjukkan prinsip pertama dari pendekatan PMRI yaitu penemuan kembali. Berdasarkan prinsip ini, pemilihan masalah nyata berupa buah jambu biji yang mudah untuk dijumpai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari menjadikan jembatan untuk menemukan dan memahami konsep pada rumus volume bola. Selain itu juga terlihat karakteristik kelima pada PMRI yaitu, keterkaitan terlihat dimana untuk menemukan rumus volume bola peserta didik juga sebelumnya telah memahami rumus volume kerucut.
Gambar 7. LKPD pada aktivitas 2 tentang menemukan rumus luas permukaan bola, dan aktivitas 3 tentang menemukan rumus volume
bola
Gambar 7 memperlihatkan
kareakteristik pertama yaitu konteks dimana
dalam pendekatan PMRI penggunaan konteks merupakan langkah awal yang sangat penting. Selain itu juga terlihat karakterisitik ketiga yaitu, pemanfaatan hasil kontribusi peserta didik dalam menyelesaikan masalah pada LKPD. Dan karekteristik keempat juga terlihat yaitu, interaktivitas dimana peserta didik dituntut untuk melakukan interaksi baik interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lainnya ataupun peserta didik dengan peneliti.
Gambar 8. Hasil jawaban peserta didik tentang penemuan rumus luas permukaan bola
Selanjutnya terlihat prinsip ketiga yaitu, mengembangkan model sendiri artinya peserta didik dalam mempelajari konsep-konsep atau materi perlu mengembangkan sendiri model atau cara dalam penyelesaiannya dan karakteristik kedua yaitu penggunaan model untuk menghubungkan pengetahuan matematika tingkat konkret menuju pengetahuan matematika tingkat formal melalui suatu yang bertahap.
79 Gambar 9. Hasil jawaban peserta didik soal
nomor 2 pada aktivitas 1 tentang sifat-sifat bola Dan yang terakhir prinsip kedua yaitu, fenomena didaktik berarti dalam mempelajari konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan materi lain dalam matematika para peserta didik perlu bertolak dari fenomena-fenomena kontekstual, yaitu masalah-masalah yang berasal dari dunia nyata atau setidak-tidaknya dapat dibayangkan.
Gambar 10. Soal nomor 2 pada ayo berlatih 2 tentang luas permukaan bola
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa LKPD dengan Pendekatan PMRI pada Materi Bola yang telah dikembangkan oleh peneliti tergolong valid berdasarkan hasil revisi pada tahap self evaluation dan validasi pada tahap
expert review, LKPD yang dikembangkan
peneliti dinyatakan valid secara kualitatif baik dari segi, konten (isi), konstruk, dan bahasa. Sedangkan LKPD dengan Pendekatan PMRI pada Materi Bola yang telah dikembangkan oleh peneliti tergolong praktis berdasarkan hasil uji coba produk LKPD pada tahap one to one, small group, dan field test, kepraktisan tersebut dapat dilihat dari hasil angket respon peserta didik yang di isi setelah belajar menggunakan LKPD.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah dijabarkan, maka terdapat beberapa saran untuk peneliti selanjutnya berkaitan dengan LKPD yang telah dikembangkan oleh peneliti ialah sebagai berikut:
1. Sebaiknya dapat mengambil cakupan pada materi yang lebih luas dan mengembangkan LKPD pada materi pelajaran matematika lainnya. Jika ingin mengembangkan LKPD dengan pendektan PMRI dan juga mengambil materi yang sama bisa lebih mengembangkan pada aktivitas 2 yaitu menemukan rumus luas permukaan bola untuk langkah membuat lingkaran dapat memkondisikan peserta didik untuk menemukan sendiri ukuran lingkaran dengan cara membuat lingkaran dengan ukuran yang berbeda. Dan Pada aktivitas 3 yaitu menemukan rumus volumebola untuk langkah menuangkan buah jambu biji ke dalam kerucut dapat mengkondisikan peserta didik untuk menemukan sendiri bangun ruang apa yang dapat digunakan untuk menemukan rumus volume bola selain kerucut misalnya tabung.
2. Jika peneliti melakukan penelitian secara daring (online) persiapkan secara maksimal sebelum penelitian, dalam hal waktu pelaksanaan, sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti signal jika tidak bersahabat (persiapkan kuota internet yang baik), jika menggunakan handphone atau laptop (pastikan baterai terisi penuh), dan memori handphone (pastikan memiliki ruang atau tidak penuh). Untuk
80 interaktivitas usahakan peneliti dapat
mengkondisikan agar peneliti dengan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik lainnya dapat berkomunikasi secara baik.
3. Jika peneliti selanjutnya ingin menggunakan alat peraga pad LKPD dalam pembelajaran daring hendaknya alat peraga yang digunakan lebih mudah dijumpai atau yang ada disekitar lingkungan peserta didik misalnya, menggunakan bola mainan plastik atau konteks lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adha, I., & Refianti, R. (2019). Pengembangan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia Berbasis Konteks Sumatera Selatan. Jurnal Pendidikan Matematika (Judika Education), 2(1), 1-10.
Aripin, U. (2015). Meningkatkan kemampuan pemahaman matematik peserta didik SMP melalui pendekatan pembelajaran berbasis masalah. P2M STKIP Siliwangi, 2(1), 120-127.
Astuti, A., & Sari, N. (2017). Pengembangan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) Pada Mata Pelajaran Matematika Peserta didik Kelas X SMA. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 13-24.
Dewi, I. A. (2014). Pengembangan bahan ajar persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel dengan pendekatan matematika realistik untuk peserta didik kelas vii semester. (Skripsi), (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta).
Fannie, Rizky Dezricha dan Rohati. (2014). Pengembangan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) Berbasis Poe (Predict, Observe, Explain) Pada Materi Program Linear Kelas XII SMA. Jambi: Jurnal
Sainmatika Universitas Jambi, 8(1), 96-109.
Fauzi, A., & Masrukan, M. (2018). Math learning with realistic mathematics education approach (rme) based on open source-ended to improve mathematic communication. Journal of Primary Education, 7(1), 10-17.
Gravemeijer, K. P. E. (1994). Developing
Realistic Mathematics Education.
Utrecht: Freduental Institute.
Hadi, Sutarto. (2017). Pendidikan Matematika Realistik. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Haerul, H. (2015). Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Materi Volume Bangun Ruang Menggunakan Peraga Benda Konkret pada Peserta didik Kelas VI MI Al Bashirah Makassar (Doctoral dissertation, UIN Alauddin Makassar). Handayani, N. N. L. (2019). The Effect of
Implementation of Environmental-Based Contextual Learning Models on Interests and Learning Outcomes. Jurnal Lensa Pendas, 4(2), 121-135.
Indrayanti, R. D., & Wijaya, A. (2016). Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Untuk Topik Matriks Di SMK
Kelas X. Jurnal Pendidikan
Matematika-S1, 5(6), 1-13.
Khoirunnisa, .R. (2019). Pengembangan bahan ajar aritmatika sosial dengan pendekatan matematika realistik indonesia (pmri) untuk siswa kelas vii. (Skripsi), (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang).
Lestari, L., & Surya, E. (2017). The effectiveness of realistic mathematics education approach on ability of students’ mathematical concept understanding. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR), 34(1), 91-100.
Mayani, S., & Rizki, S. (2016). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendidikan Matematika Realistik (PMR) Pada
81 Materi Program Linear. AKSIOMA:
Jurnal Program Studi Pendidikan
Matematika, 5(1), 25-39.
Mulyani, D. S., Fadillah, S., & Haryadi, R. (2019). Pengembangan lembar kerja peserta didik berbasis pendidikan karakter dalam materi teorema phytagoras. In prosiding seminar nasional pendidikan mipa dan teknologi ii, 1(1), 305-312.
Novitasari, V., Murtiyasa, B., & Kom, M. (2017). Analisis Kesalahan Peserta didik Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar Untuk Peserta didik Kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Surakarta Tahun
Ajaran 2016/2017 (Doctoral
dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta).
Pratomo, K. A., Darmono, P. B., & Purwoko, R. Y. (2019). Pengembangan lembar kerja peserta didik berbasis realistik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Prosiding sendika, 5(1), 3-7.
Purnani, .I. (2019). Pengembangan lembar kerja peserta didik (lkpd) dengan pendekatan matematika realistik indonesia (pmri) untuk siswa kelas viii. (Skripsi), (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang).
Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenadamedia Gruop. Sepriady, J. (2018). Contextual teaching and
learning dalam pembelajaran
sejarah. Kalpataru Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah, 2(2), 100-110. Siagian, M. D. (2016). Kemampuan koneksi
matematik dalam pembelajaran
matematika. MES Journal of
Mathematics Education and
Science, 2(1), 58-67.
Sudarsana. 2016. Pemikiran Tokoh Pendidikan dalam Buku lifelong learning: policies, practices, and programs. Denpasar:
Jurnal IHDN Denpasar, 2(2), 44-53.
Tanjung, A., & Fahmi, M. (2015). Urgensi pengembangan bahan ajar geografi berbasis kearifan lokal. Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi, 20(1), 24-29.
Tessmer, Martin. (1993). Merencanakan dan Melakukan Evaluasi Formatif. London Philadehphia: Kogan Page.
Treffers, A. (1987). Three Dimensions. A Model of Goal and Theory Descrption in Mathematics Instruction – The Wiskobas Project. Dordrecht: Reidel Publishing Company.
Uno, H. B., & Ma'ruf, A. R. K. (2016). Pengembangan Media Pembelajaran IPS Berbasis Website untuk Peserta didik Kelas VII Madrasah Tsanawiyah Negeri. JTP-Jurnal Teknologi Pendidikan, 18(3), 169-185.
Wijaya, A. (2012). Pendidikan matematika realistik suatu alternatif pendekatan
pembelajaran matematika. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Yuliana, R. (2017). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Dengan Pendekatan PMRI Pada Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung Untuk SMP Kelas IX. Jurnal Pendidikan Matematika-S1, 6(1), 60-67.