LAPORAN AKHIR KEGIATAN
PENDAMPINGAN KAWASAN RUMAH PANGAN
LESTARI (KRPL) DI PROPINSI ACEH
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN ACEH
BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2015
▸ Baca selengkapnya: kegiatan paling akhir dalam menggambar rumah tetangga adalah
(2)LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul RDHP
Kegiatan 2013 : Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Di Propinsi Aceh 2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Provinsi Aceh
3. Alamat Unit Kerja : Jalan P. Nyak Makam No. 27 Lampineung Banda Aceh- 23125
4. Sumber Dana : Dipa BPTP Aceh 2015
5. Status Penelitian : Lama
6. Penanggung Jawab :
A. Nama : Dr. Yenni Yusriani, SPt, M.P
B. Pangkat / Golongan : Penata Tk 1/IIId
C. Jabatan Peneliti Muda
7. Lokasi : Provinsi Aceh
8. Agroekosistem : Dataran Rendah
9. Tahun Mulai : 2011
10. Tahun Selesai : 2015
11. Output Tahunan : Menyediakan pendampingan dalam
pengembangan KRPl di kabupaten/kota di Provinsi Aceh
12. Output Akhir : Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari dalam satu kawasan
13. Biaya : 313.150,000,- (Tiga Ratus Tiga Belas Juta Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
Mengetahui :
Kepala Balai Besar Menyetujui Kepala Balai
Dr. Ir. Abdul Basit MS Ir. Basri A. Bakar, M.Si. Koordinator Program,
Dr. Rachman Jaya, S.Pi., M.Si NIP. 19740305 200003 1 001
Penanggungjawab Kegiatan,
Dr. Yenni Yusriani, SPt, M.P NIP. 19730716 199903 2 002
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, karena dengan rahmat-Nya penulis beserta tim telah dapat menyelesaikan Laporan Akhir Kegiatan Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Di Propinsi Aceh. Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan selama bulan Maret sampai Desember tahun 2015 di Propinsi Aceh. Kegiatan ini didukung oleh DIPA-018.09.2.567392/2015.
Terlaksananya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan dan peran aktif seluruh Dinas/Instansi yang terkait, petani kooperator dan penyuluh/peneliti yang ada di BPTP Aceh. Namun demikian kami menyadari dalam pelaksanaan kegiatan ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan yang dilanjutkan dengan penyusunan laporan tengah tahun ini, kami ucapkan terima kasih dan semoga laporan ini memberikan manfaat bagi kita semua.
Banda Aceh, Desember 2015 Penanggungjawab,
Dr. Yenni Yusriani, SPt, M.P NIP. 19730716 199903 2 002
RINGKASAN
1. Judul RDHP
:
Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Provinsi Aceh2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh
3. Lokasi : Provinsi Aceh
4. Agroekosistem : Dataran rendah dan Dataran tinggi
5. Status : Lanjutan
6. Tujuan
:
Memberi pendampingan dalampengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari di 10 kabupaten/kota di Provinsi Aceh
7. Keluaran : Terdampinginya kegiatan pengembangan
Kawasan Rumah Pangan Lestari di Provinsi Aceh
8. Hasil : Berkembangnya KRPL yang sesuai
dengan spesifik lokasi di seluruh kabupaten/kota Provinsi Aceh
9. Prakiraan Manfaat : Mendukung kebijakan pembangunan pertanian wilayah melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan terlantar 10. Prakiraan Dampak : Berkembangnya kemampuan keluarga
dan masyarakat secara ekonomi dan sosial, dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang mandiri dan sejahtera melalui pemanfaatan lahan pekarangan.
11. Prosedur : (1) Penguatan Kebun Bibit Inti (Kbi), (2) Penguatan Kelembagaan M-Krpl, Dan (3) Sosialisasi Dan Pelatihan Untuk Pendampingan Pengembangan Krpl Di Setiap Kabupaten/Kota.
12. Jangka Waktu : Tahun Ke 5
13. Biaya : Rp.313.150,000,- (Tiga Ratus Tiga
Belas Juta Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
SUMMARY
1. Title : The Area of Sustainable Food House Program in Aceh Province
2. Implementation Unit : Assessment Institute for Agriculture Technology (AIAT Aceh)
3. Location : Aceh Province
4. Agroecosystem : Dry land area
5. Status : Continued
6. Objectives : Provide assistance in developing the Sustainable Food House Program in Aceh Province
7. Output : Available assistance in Area Sustainable Food-house Program in Aceh Province 8. Outcome
: Development of Sustainable Food house rogram in each district in Aceh Province suitable to local specific condition.
9. Expected benefit : Supporting local goverment agricultural program through maximasing utility of home garden.
10. Expected impact : Development of family and community ability in fullfiling sustainable food and nutrition requirement through utilisation home garden.
11. Procedure : (1) Establish Main Seed Garden, (2) Upgrade existing Sustainable Food-reserved Garden, and (3) Socialisation and training for assistance in developing the sustainable food-reserved garden program in each district in Aceh Province.
12. Duration : 5 th Year
DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii RINGKASAN ... iii SUMMARY ... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... .... vi
DAFTAR GAMBAR ... ...vii
I.PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Dasar Pertimbangan ... 3
1.3. Tujuan ... 3
1.4. Keluaran yang Diharapkan ... 4
II. PROSEDUR ... 7
3.1. Ruang Lingkup Kegiatan... ... 7
3.2. Pendekatan... 7
3.3. Bahan dan Alat ... 7
3.4. Tahapan Pelaksanaan ... 8
3.5. Pemilihan Lokasi...10
3.6. Teknologi dalam Pendampingan...11
3.7. Analisa data ...13
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14
4.1 Pendampingan KRPL ... 14
4.2 Penguatan Kebun Benih/Bibit Induk (KBI)...17
IV.KESIMPULAN DAN SARAN ... 22
5.1. Kesimpulan ... 22
5.2. Saran ... 22
V.DAFTAR PUSTAKA ... 23
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Komoditas yang diimplementasikan...8 2. Nama Penjab dan kabupaten/kota lokasi m-KRPL di Provinsi Aceh ... 11 3. Kegiatan pendampingan KRPL yang telah dilaksanakan ... 18 4. Masalah teknis dan non teknis yang dihadapi dalam pendampingan
serta ulasan kegiatan pendampingan ke depan ... 21 5. Kegiatan penguatan KBI dan status penilaian sebelum dan
sesudah penguatan KBI ... 21 6. Permasalahan Teknis dan Non Teknis... ... 23
DAFTAR GAMBAR
Tabel Halaman
1 PENDAHULUAN
1. 1. Latar belakang
Kesadaran tentang pentingnya upaya diversifikasi pangan telah lama dilaksanakan di Indonesia, namun demikian hasil yang dicapai belum seperti yang diharapkan. Kebijakan diversifikasi pangan diawali dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1974 tentang Upaya Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR), dengan menggalakkan produksi telo, Kacang dan Jagung yang dikenal dengan Tekad, sampai yang terakhir adanya Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Walaupun telah berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan berbagai kalangan terkait, namun pada kenyataannya tingkat konsumsi masyarakat masih bertumpu pada pangan utama beras. Hal itu diindikasikan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang belum sesuai harapan, dan belum optimalnya pemanfaatan sumber bahan pangan lokal dalam mendukung penganeka-ragaman konsumsi pangan (BKP, 2010).
Dikaitkan dengan potensi yang ada, Indonesia memiliki sumber daya hayati yang sangat kaya. Ironisnya, tingkat konsumsi sebagian penduduk Indonesia masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga dapat dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya yang tersedia maupun yang dapat disediakan di lingkungannya. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan yang dikelola oleh rumah tangga.
Ketersediaan jenis pangan dan rempah yang beraneka ragam terbentang dari wilayah Sabang sampai Merauke. Berbagai jenis tanaman pangan seperti padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur, buah, dan pangan dari hewani banyak kita jumpai. Demikian pula berbagai jenis tanaman rempah dan obat-obatan dapat tumbuh dan berkembang dengan mudah di wilayah kita ini. Namun demikian realisasi konsumsi masyarakat masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan gizi masyarakat harus diawali dari pemanfaatkan
sumberdaya yang tersedia maupun yang dapat disediakan di lingkungannya. Upaya tersebut ialah memanfaatkan pekarangan yang dikelola oleh keluarga.
Lahan pekarangan memiliki fungsi multiguna, karena dari lahan yang relatif sempit ini, bisa menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan; bahan tanaman rempah dan obat, bahan kerajinan tangan; serta bahan pangan hewani yang berasal dari unggas, ternak kecil maupun ikan. Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Kementerian Pertanian melihat potensi lahan pekarangan ini sebagai salah satu pilar yang dapat diupayakan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, baik bagi rumah tangga di pedesaan maupun di perkotaan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengembangakan konsep KRPL. Untuk mewujudkan gagasan tersebut di tingkat lapangan di daerah, maka setiap Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di masing-masing provinsi ditugaskan melaksanakan pembangunan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sasaran yang ingin dicapai dari KRPL ini adalah berkembangnya kemampuan keluarga dan masyarakat secara ekonomi dan sosial dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang sejahtera (Kementerian Pertanian, 2011). Melalui pengembangan KRPL tersebut ditargetkan skor Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat meningkat dari 65,6 persen menjadi lebih dari 90 persen dan pengeluaran pangan keluarga menurun menjadi 50-55 persen.
Dalam masyarakat perdesaan, pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman kebutuhan keluarga sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan masih berkembang hingga sekarang meski dijumpai berbagai pergeseran. Komitmen pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
1.2 Dasar Pertimbangan
Berdasarkan pemikiran bahwa dalam mewujudkan ketahanan dan
kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga, maka
pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah
tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian
pangan rumah tangga.
Pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman kebutuhan keluarga sudah dilakukan masyarakat sejak lama dan terus berlangsung hingga sekarang namun belum dirancang dengan baik dan sistematis pengembangannya terutama dalam menjaga kelestarian sumberdaya. Oleh karena itu, komitmen pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan konservasi tanaman pangan untuk masa depan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan kembali budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh bekerjasama dengan
Pemerintah Daerah Provinsi Aceh pada tahun 2011 telah memulai
mengembangkan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Pada
tahun pertama kegiatan M-KRPL dibangun satu unit M-KRPL. Kegiatan
tersebut mendapat respon yang baik dari masyarakat. Pada tahun 2012
kegiatan M-KRPL dikembangkan di delapan kabupaten/kota lainnya.
Kegiatan tersebut dapat berjalan lancar karena mendapat dukungan dari
Pemda setempat, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Melalui kegiatan M-KRPL tersebut diharapkan akan memicu lahirnya
pemikiran dan konsep bagi optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan.
Pada prinsipnya, KRPL merupakan program pemanfaatan pekarangan
yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi
keluarga, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat. Kegiatan
M-KRPL yang dilaksanakan oleh BPTP Aceh diharapkan akan terus
dikembangkan dan discaling-up oleh Pemda dan pihak lainnya melalui
dana APBD maupun dari dukungan APDN melalui kegiatan-kegiatan
sejenis baik dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian lainnya.
1. 3. Tujuan
Tujuan umum pengembangan KRPL di Provinsi Aceh antara lain:
1. Meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam
pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan maupun pedesaan untuk
budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga
(toga), pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta
pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
2. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat
secara lestari dalam suatu kawasan.
3. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga dan
menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.
Tujuan tahunan pengembangan KRPL di Provinsi Aceh adalah:
1. Membangun unit percontohan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
di setiap kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
2. Membangun jejaring kerjasama dengan Pemerintah Daerah, swasta,
dan organisasi masyarakat lainnya dalam pengembangan
pemanfaatan lahan pekarangan menggunakan pola KRPL.
1. 4. Keluaran Yang Diharapkan
Keluaran jangka panjang kegiatan KRPL adalah:
1.
Meningkatnya keterampilan keluarga dan masyarakat dalam
pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan maupun pedesaan untuk
budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga
(toga), pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta
pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos. Peningkatan
adopsi teknologi anjuran tepat guna
2.
Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat
secara lestari dalam suatu kawasan.
3.
Berkembangnya kegiatan ekonomi produktif keluarga dan
menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.
Keluaran tahunan kegiatan KRPL adalah:
1. Terbangunnya unit percontohan Kawasan Rumah Pangan Lestari
(KRPL) di setiap kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
2. Terbangunnya jejaring kerjasama dengan Pemerintah Daerah, swasta,
dan organisasi masyarakat lainnya dalam pengembangan
pemanfaatan lahan pekarangan menggunakan pola KRPL
II. PROSEDUR PELAKSANAAN
2.1. Ruang Lingkup Kegiatan
a. Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan antara tahapan kegiatan persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data, monitoring dan evaluasi serta pelaporan. Kooperator dalam pelaksanaan pengembangan model KRPL adalah kelompok tani, kelompok wanita tani (KWT), dan seluruh masyarakat desa/kota yang tergabung dalam desa/kota KRPL.
b. Pelaksanaan: Pembangunan model KRPL di Provinsi Aceh akan dilaksanakan di 10 kabupaten/kota, di masing-masing kabupaten/kota akan dipilih dua desa/kelurahan binaan.
c. Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan d. Pelaporan.
2.2. Pendekatan
Pola kegiatan dilaksanakan dalam satu kawasan yang terdiri dari satu RT dengan pendekatan secara partisipatif yang melibatkan kelompok sasaran, tokoh masyarakat, dan perangkat desa.
2.3. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain : 1. Sarana Produksi berupa :
Bibit tanaman (tanaman sayuran, umbi-umbian, buah)
Pupuk antara lain : pupuk kandang, pupuk organik plus, NPK dan Urea (dalam jumlah terbatas)
Pestisida : pestisida nabati, pestisida kimiawi/fungisida, insektisida (dalam jumlah terbatas)
Media tanam : sekam, tanah, mikroorganisme 2. Bahan Pendukung lainnya berupa :
Polybag, plastik semai, pot Rak vertikultur (bambu, besi, dll)
Bahan KBI (rak pesemaian, atap rumah bibit, kayu, bambu, dll) 3. Alat tulis dan computer suplay
Untuk komoditas yang diimplementasikan pada kegiatan KRPL dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini .
Tabel 1. Komoditas yang diimplementasikan
Komoditas Jenis
Sayuran Cabe, tomat, sawi, kool bunga, kubis, selada, terung, kangkung, daun bawang, seledri, bayam, bawang merah
Buah-buahan Pepaya , sirsak
Bio farmaka Jahe, kencur, serai, kunyit,
2.4. Tahapan Pelaksanaan Lokasi dan Waktu Kegiatan
Lokasi kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dilaksanakan di 10 (sepuluh) kabupaten/kota. Kegiatan dimulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2015.
Tahapan Kegiatan
Untuk merencanakan dan melaksanakan pengembangan KRPL, dibutuhkan 9 (sembilan) tahapan kegiatan seperti telah dituangkan dalam Pedoman Umum Model KRPL (Kementerian Pertanian, 2011), yaitu:
a. Persiapan: (1) Pengumpulan informasi awal tentang potensi sumberdaya,
lokasi dan kelompok sasaran, (2) Pertemuan dengan dinas terkait untuk mencari kesepakatan dalam penentuan calon kelompok sasaran dan lokasi, (3) koordinasi dengan Dinas pertanian dan dinas terkait lainnya di kabupaten/kota, (4) Memilih pendamping yang menguasai teknik pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. b. Pembentukan Kelompok: Kelompok sasaran adalah rumah tangga atau
kelompok rumah tangga dalam satu Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) atau satu dusun/kampung. Pendekatan yang digunakan adalah partisipatif, dengan melibatkan kelompok sasaran, tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Kelompok dibentuk dari, oleh, dan untuk kepentingan para anggota kelompok itu sendiri. Dengan cara berkelompok akan tumbuh kekuatan beriinisiatif dari para anggota dengan prinsip keserasian, kebersamaan dan kepemimpinan dari mereka sendiri.
c. Sosialisasi: Menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan dan membuat kesepakatan awal untuk rencana tindak lanjut yang akan dilakukan. Kegiatan sosialisasi dilakukan pada kelompok sasaran dan pemuka masyarakat serta petugas pelaksana dari instansi terkait.
d. Penguatan Kelembagaan Kelompok: Dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kelompok: (1) Mengambil keputusan bersama melalui musyawarah; (2) Menaati keputusan yang telah ditetapkan bersama; (3) Memperoleh dan memanfaatkan informasi; (4) Bekerjasama dalam kelompok (sifat kegotong-royongan); dan (5) Bekerjasama dengan aparat maupun dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.
e. Perencanaan Kegiatan: Melakukan perencanaan/rancang bangun pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam berbagai tanaman pangan, sayuran dan obat jeluarga, ikan dan ternak, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, pelestarian tanaman pangan untuk masa depan, kebun bibit desa, serta pengelolaan limbah rumah tangga. Selain itu, dilakukan juga penyusunan rencana kerja untuk satu tahun. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan kelompok dan instansi terkait.
f. Pelatihan: Pelatihan dilakukan sebelum pelaksanaan di lapang. Jenis pelatihan yang dilakukan diantaranya: teknik budidaya tanaman pangan, buah dan sayuran, toga, teknik budidaya ikan dan ternak, perbenihan dan pembibitan, pengolahan hasil dan pemasaran serta teknologi pengelolaan limbah rumah tangga. Jenis pelatihan lainnya adalah tentang penguatan kelompok.
g. Pelaksanaan: Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh kelompok dengan pengawalan teknologi oleh peneliti dan pendampingan antara lain oleh Penyuluh dan Petani Andalan. Secara bertahap, pelaksanaan kegiatan ini diarahkan untuk menuju pada pencapaian kemandirian pangan rumah tangga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, konservasi tanaman pangan untuk masa depan, pengelolaan kebun bibit desa, dan peningkatan kesejahteraan.
h. Pembiayaan: Bersumber dari kelompok, masyarakat, partisipasi pemerintah daerah dan pusat, perguruan tinggi, Lembaga Swadaya
i. Monitoring dan Evaluasi: Dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan kawasan, dan menilai kesesuaian kegiatan yang telah dilaksanakan dengan perencanaan. Evaluator dapat dibentuk oleh kelompok. Evaluator dapat juga berfungsi sebagai motivator bagi pengurus, anggota kelompok dalam meningkatkan pemahaman yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya yang tersedia di lingkungannya agar berlangsung lestari.
2.5. Pemilihan Lokasi
KRPL dapat diterapkan pada suatu satuan komunitas yang mencakup luasan satu dusun dalam satu desa ataupun satu desa secara keseluruhan yang berada di daerah pedesaan atau perkotaan. Skala luasnya KRPL tergantung pada ketersedian sumberdaya yang ada, baik sumberdaya alam (lahan pekarangan), sumberdaya manusia sebagai pelaksana (rumah tangga dan tenaga pendamping), dan sumberdaya keuangan untuk pembiayaan awal pengembangan KRPL.
Lokasi KRPL Provinsi Aceh pada tahun 2015 dilaksanakan di 10 kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Aceh. Nama kabupaten/kota tempat lokasi M-KRPL di Provinsi Aceh terdapat pada Tabel 2. Pada setiap kabupaten/kota akan dibangun dan dikembangankan masing-masing 2 (dua) unit M-KRPL. Pemilihan lokasi didasarkan pada kesesuaian model yang akan dikembangkan dengan potensi lahan pekarangan yang tersedia, minat dan partisipasi masyarakat lokal dalam pemanfaatan pekarangan, serta ketersediaan sarana dan prasarana penunjang seperti akses informasi, komunikasi, dan transportasi. Diharapkan pada desa-desa yang akan terpilih akan menjadi contoh bagi pengembangan desa-desa lainnya di wilayah Provinsi Aceh.
Selain membangun KRPL pada lokasi baru, melalui kegiatan pengembangan KRPL ini juga akan dilanjutkan pembinaan dan pendampingan terhadap KRPL pada lokasi sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menjamin keberlanjutan KRPL di lokasi lama tersebut. Jumlah unit KRPL yang telah dibangun sejak tahun 2011 sampai 2013 adalah sebanyak 55 unit yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Pembinaan dan dukungan terutama dalam hal pengembangan Kebun Bibit Desa (KBD), hal ini untuk mendukung keberlanjutan
dan pengembangan jumlah RPL yang berpartisipasi dalam kegiatan KRPL di masing-masing lokasi.
Tabel 2. Nama Penjab dan kabupaten/kota lokasi M-KRPL di Provinsi Aceh.
No Kabupaten/Kota Tipe M-KRPL Nama Penjab
1 Kota Banda Aceh Perkotaan Ir. Basri AB, MSi
2 Aceh Besar Perdesaan Cut Nina Herlina, SPi
3 Pidie Perdesaan Fenty Ferayanti, SP
4 Pidie Jaya Perdesaan Idawanni, SP
5 Lhokseumawe Perkotaan Dr. Yenni Yusriani, SPt, MP
6 Kota Langsa Perkotaan Dr. Drh. Iskandar Mirza, MP
7 Aceh Tengah Perdesaan Ir. T. Iskandar, MSi
8 Aceh Jaya Perdesaan Ir. Nani Yunizar
9 Nagan Raya Perdesaan Ir. Elviwirda
10 Aceh Selatan Perdesaan Ir. Firdaus, MSi
2.6. Teknologi dalam pendampingan
Pendampingan KRPL dalam lingkup Pemerintah daerah dimaksudkan untuk menyebarluaskan dan mempercepat pengembangan KRPL di Provinsi Aceh, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Pendampingan ditujukan pada lokasi-lokasi yang sudah dibangun KRPL oleh BPTP Aceh pada tahun sebelumnya dan pada lokasi-lokasi dimana KRPL dibangun oleh berbagai pihak, baik Pemerintah Kabupaten, Lembaga swadaya Masyarakat, swasta, maupun masyarakat secara swadaya.
Pendampingan pada lokasi KRPL yang sudah ada bertujuan untuk memperkuat kelembagaan yang sudah terbangun (Kelompok Wanita tani dan Kebun Bibit Desa) dan untuk pengembangan kawasan serta pemasaran. Melalui pendampingan ini, kelompok KRPL dan KBD akan terus dipertahankan keberlanjutannya dan akan diperluas kapasitasnya. Kawasan akan diperluas dengan menambah rumah tangga baru sebagai peserta kelompok ataupun dengan membentuk kelompok-kelompok baru di sekitar kawasan (desa). Sedangkan KBD akan dikembangkan kapasitas produksinya sehingga mampu mensuplai kebutuhan benih/bibit pada kawasan yang semakin bertambah. KBD-KBD tersebut akan dihubungkan dengan Kebun benih Induk (KBI) yang dibangun di BPTP Aceh sebagai sumber benih utama. Selain itu, kegiatan kelompok juga
dari KRPL ataupun produk olahannya diupayakan untuk dapat dipasarkan. BPTP Aceh akan memfasilitasi untuk tujuan tersebut melalui identifikasi potensi jalur pemasaran dan advokasi dalam proses pemasaran.
Pendampingan pada lokasi-lokasi KRPL yang dibangun dan dikembangkan oleh pihak lain dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi konsep KRPL secara utuh kepada pihak pengembang, pelatihan-pelatihan teknis (budidaya dan disain kawasan) dan demonstrasi pengelolaan RPL pada salah satu rumah tangga yang ada dalam kawasan KRPL tersebut.
Teknologi budidaya yang diperkenalkan adalah teknik-teknik budidaya yang sudah menganut prinsip-prinsip Good Agriculture Practices (GAP) dan
Good Harvest Practices (GHP). Dengan demikian produk pertanian rumah tangga yang dihasilkan akan memiliki nilai tambah yang lebih baik dibandingkan cara-cara budidaya konvensional, baik dari segi kuntitas produksi maupun kualitas kesehatan.
Penataan tanaman pada KRPL didasarkan pada prinsip konservasi dan diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, terutama untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan dipasarkan jika terdapat hasil lebih. Pemanfaatan limbah rumah tangga dan pertanian juga akan diterapkan dengan mengajarkan kepada rumah tangga peserta tentang pengolahan dan pembuatan kompos.
Keberlanjutan pengembangan rumah pangan lestari dapat diwujudkan melalui pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman-ternak dan model diversifikasi yang tepat sehingga dapat memenuhi pola pangan harapan dan memberikan kontribusi pendapatan keluarga.
2.7 Analisis Data
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pendampingan KRPL
Kegiatan pendampingan KRPL merupakan kegiatan lanjutan. Namun koordinasi dirasa masih sangat dibutuhkan karena koordinasi merupakan upaya untuk menciptakan atau mencapai keserasian, keselarasan, keseimbangan, sinkronisasi, dan integrasi keseluruhan kegiatan dari orang-orang, kelompok orang, atau satuan-satuan kerja dalam suatu organisasi atau antar organisasi, sehingga kegiatan yang dilaksanakan menjadi teratur, tertib, dan mencapai hasil secara efisien dan efektif (Makalalag, L. 2013).
Menurut Amin, S. et al. (2013), koordinasi sangatlah penting di dalam suatu organisasi baik organisasi negeri maupun organisasi swasta. Koordinasi dilakukan untuk menciptakan suatu usaha yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.Oleh karena itu koordinasi kegiatan pendampingan KRPL juga harus dilakukan pada tahap awal.
Kegiatan Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari dilaksanakan di 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh.Pendampingan dilakukan di lokasi binaan BPTP dan juga mendampingi kegiatan KRPL di provinsi Aceh yang dilaksanakan oleh Badan Ketahanan Pangan Provinsi dan P2KP kabupaten/kota. Pada Tabel 5 disajikan kegiatan pendampingan KRPL yang telah dilaksanakan.
Tabel 3. Kegiatan pendampingan KRPL yang telah dilaksanakan
Kota/kab Desa Kegiatan Yang dilaksanakan
Kota Banda
Aceh Desa Lampineung
Desa Ie Masen Kayee Adang Desa Lamjamee Pembuatan mol Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Kampung Laksana
Kampung Lamdom
Kota Baru
Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Kab Aceh
Besar Desa Cot Preh
Desa Lampermai
Desa Lambada
Peukan
Pembuatan Mikro Organisme Lokal Pengolahan daun Pegagan
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan Insektisida Nabati
Pengolahan daun Pegagan
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan Mikro Organisme Lokal Pengolahan daun Pegagan
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Kab Pidie Desa Pulo Tu
Desa Cot Ara
Desa Buloh Peudaya
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Kab Pidie Jaya Desa Keude Jangka
Buya Desa Meunasah Raya Pembuatan mol Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Lhokseumawe Mameh ,
Desa Blang Buloh
Desa Blang Cut
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Kota Langsa Pb. Seulemak Kp.
Mutia Budidaya fertikulktur sayuran dengan teknik
Praktek pengolahan bahan pangan non beras
Praktek pemanfaatan limbah rumah
tangga menjadi pupuk organik Praktek pembuatan pestisida nabati Praktek pembuatan media tanam sistem
hidroponik
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Sugai Pauh Budidaya sayuran dengan teknik
fertikulktur
Praktek pengolahan bahan pangan non beras
Praktek pemanfaatan limbah rumah
tangga menjadi pupuk organik Praktek pembuatan pestisida nabati Praktek pembuatan media tanam sistem
hidroponik
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Kab Aceh
Tengah Desa Tubes Lues
Desa Musara Leus
Pembuatan mol Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Kab Aceh Jaya Desa Keutapang Pembuatan Saus Tomat
Pembuatan Saus Cabe
Pembuatan Pupuk Organik
Pembuatan MOL
Pembuatan Pestisida Nabati
Penyuluhan pentingnya pangan dan gizi
Desa Padang Datar
Pembuatan Pupuk Organik
Pembuatan MOL
Pembuatan Pestisida Nabati
Penyuluhan pentingnya pangan dan gizi
Pembuatan Saus Tomat
Pembuatan Saus Cabe
Pembuatan Pupuk Organik
Pembuatan MOL
Pembuatan Pestisida Nabati
Penyuluhan pentingnya pangan dan gizi
Kab Nagan
Raya
Desa Kuta Makmue,
Desa Lung Mane,
Desa Blang Tengoh,
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Pembuatan mol
Pupuk organik Pestisida nabati
Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Kab Aceh
Selatan
Desa Gadang
Desa Padang
Pengolahan bahan dari ubi kayu Pembuatan saus cabe
Pembuatan selai tomat
Pembuatan kompos
MOL
Aneka olahan pasca panen ubi kayu. Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan Pengolahan bahan dari ubi kayu Pembuatan saus cabe
Pembuatan selai tomat
Pembuatan kompos
MOL
Aneka olahan pasca panen ubi kayu. Penyuluhan pentingnya gizi dan pangan
Penggunaan Pestisida Nabati Untuk Mempertahankan Kesehatan Sayuran Pekarangan
Lahan pekarangan memiliki fungsi multiguna, karena dari lahan yang relatif sempit ini, bisa menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan; bahan tanaman rempah dan obat, bahan kerajinan tangan; serta bahan
pangan hewani yang berasal dari unggas, ternak kecil maupun ikan. Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain dapat : memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Pada pelaksanaannya, ada beberapa kendala yang dihadapi diantaranya adalah adanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). OPT merupakan salah satu faktor pembatas penting dalam upaya peningkatan produksi sayuran. Serangan OPT terjadi di semua tahap pengelolaan agribisnis sayuran dimulai dari sebelum masa tanam, di pertanaman, sampai penyimpanan dan pengangkutan produk. Masyarakat sudah tidak asing dengan nama-nama OPT sayuran, seperti ulat daun kubis, lalat pengorok daun, kutu daun, penyakit hawar daun, penyakit layu bakteri, penyakit bengkak akar, nematoda sista kentang (NSK) dan masih banyak lagi.
Untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman petani menggunakan pestisida kimia. Pestisida kimia merupakan bahan beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, hal ini disebabkan pestisida bersifat polutan dan menyebarkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh seperti mutasi gen dan gangguan syaraf pusat. Disamping itu residu kimia yang beracun tertinggal pada produk pertanian dapat memicu kerusakan sel, penuaan dini dan munculnya penyakit degeneratif.
Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia lainnya adalah: 1. Hama menjadi kebal (resisten)
2. Peledakan hama baru (resurjensi)
3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen 4. Terbunuhnya musuh alami
Untuk mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, dianjurkan untuk menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan yang sebenarnya yang ada di sekitar kita. Penggunaan pestisida nabati selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, harganya relatif murah apabila dibandingkan dengan pestisida kimia.
Kata “unik” ini merujuk pada sebuah efek yang tidak berarti harus membunuh hama sasaran. Unik bisa berarti mengusir, memperangkap, menghambat perkembangan serangga/hama, mengganggu proses cerna, mengurangi nafsu makan, bersifat sebagai penolak, bahkan memandulkan hama sasaran.
Keunggulan Pestisida nabati adalah :
1. murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani 2. relatif aman terhadap lingkungan
3. menyebabkan keracunan pada tanaman 4. sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama
5. kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu :
1. merusak perkembangan telur, larva dan pupa 2. menghambat pergantian kulit
3. mengganggu komunikasi serangga 4. menyebabkan serangga menolak makan 5. menghambat reproduksi serangga betina 6. mengurangi nafsu makan
7. memblokir kemampuan makan serangga 8. mengusir serangga
9. menghambat perkembangan patogen penyakit.
Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. Supaya penyemprotan pestisida nabati memberikan hasil yang baik, butiran semprot harus diarahkan ke bagian tanaman dimana jasad sasaran berada. Apabila sudah tersedia ambang kendali hama, penyemprotan pestisida nabati sebaiknya berdasarkan ambang kendali. Untuk menentukan ambang kendali, perlu dilakukan pengamatan hama seteliti mungkin. Pengamatan yang tidak teliti dapat mengakibatkan hama sudah terlanjur besar pada pengamatan berikutnya dan akhirnya sulit dilakukan pengendalian.
Bimbingan teknis sangat diperlukan petani. Pelatihan lebih terarah pada peningkatan kemampuan dan keahlian petani yang berkaitan dengan keahlian atau fungsi yang menjadi tanggung jawab petani. Sasaran yang ingin dicapai dan suatu pelatihan ini adalah peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani
Tabel 4. Masalah teknis dan non teknis yang dihadapi dalam pendampingan serta ulasan kegiatan pendampingan ke depan
No. Lokasi Masalah Usulan Pendampingan ke Kegiatan
depan
Teknis Non Teknis
1. Semua
Kabupaten dan Kota Lokasi KRPL
Anggota kelompok dari pendampingan pada umumnya belum mengatahui cara pembuatan pupuk organik Waktu pendampingan terlalu singkat , binaan Pemda belum mengetahui tata cara budidaya sayuran , Perjalanan ditambah supaya memudahkan dalam pendampingan karena dana terbatas
3.2 Penguatan Kebun Benih/Bibit Induk (KBI)
Pengembangan display di kantor BPTP Aceh bertujuan sebagai wahana kunjungan tamu dan pembelajaran bagi siswa, petani, penyuluh, dan stakeholder lainnya. Display terdiri atas beberapa bagian, diantaranya adalah 1) display sayuran yang terletak di samping gedung utama BPTP Aceh, 2) Kebun Bibit Inti (KBI). Display tanaman disamping gedung utama memperlihatkan tanaman dengan 3 (tiga) pola penataan, polybag, bedengan dan rak.
Kebun Bibit Inti (KBI) di bangun di BPTP merupakan sarana pembelajaran/kunjungan siswa, petani, dan petugas. Di KBI tersedia berbagai macam bibit sayuran, buah papaya dan tanaman obat -obatan sayuran.
Tabel 5. Kegiatan penguatan KBI dan status penilaian sebelum dan sesudah penguatan KBI
Kegiatan Penguatan KBI TA. 2015
Status Penilaian KBI (hijau, kuning, atau
merah) Masalah/Kendala Kegiatan KBI Usulan Ke depan Sebelum
Penguatan Penguatan Sesudah
Kuning Hijau Perubahan cuaca yang tiba-tiba menyebabkan tanaman mati Pelestarian Sumber Daya genetik Tabel 6. Permasalahan Teknis dan Non Teknis
No. Provinsi Masalah Penguatan KBI ke Usulan Kegiatan depan
1 Aceh Kurangnya tenaga yang terampil Atap untuk tempat KBI rusak akibat diterjang angin saat hujan Salinitas air yang semakin tinggi Cuaca yang berubah – ubah menyebabkan tanaman cepat mati Perlu pelatihan dan praktek lapangan dalam pembibitan tanaman sayuran Keanekaragama n pangan organik ramah lingkungan dalam membangun keluarga sehat
IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
1. Adanya kegiatan M-KRPL khususnya aktivitas menanam sayuran di lahan pekarangan menambah wawasan dan keterampilan ibu-ibu dan anggota keluarga dalam pemanfaatan lahan pekarangan.
2. Untuk kegiatan pendampingan khususnya binaan Pemda setempat masih sangat kurang teknologi baik tentang budidaya tanaman sayuran, pembuatan pupuk organik dan pengolahan pangan
3. Untuk penguatan KBI diharapkan ada pelatihan bagi tenaga yang selama ini membantu dari persemaian bibit, pemindahan ke polybag atau bedengan, pemupukan sampai pemeliharaan
4.2. Saran
Perlu adanya dukungan stakeholders untuk mengembangkan KBD disetiap desa/kota
DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Pertanian. 1999. Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif. Badan Litbang Pertanian Jakarta.
Badan Litbang Pertanian. 2011. Pedomen Umum Model Rumah Pangan Lestari. Badan Litbang Pertanian Jakarta.
Badan Ketahanan Pangan (BKP). 2010. Perkembangan Situasi Konsumsi Penduduk di Indonesia.
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2011. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Bogor.
Irawan. B. 2006. Pelaksanaan PRA dan Rancang Bangun Agibisnis Materi disampaikan pada Workshop Prima Tani di Ciloto tanggal 19-22 September 2006. BBP2TP. Bogor.
Sukartawi, A. Soeharjo, John L. Dillon dan J. Brian Hardaker. 1984. Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil. UI. Jakarta. Handewi P. S. 2011. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL): Sebagai Solusi
Pemantapan Ketahanan Pangan. Makalah pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS), Jakarta, 8-10 Nopember 2011.
http://bengkulu.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&i d=236:model-kawasan-rumah-pangan-lestari&catid=153:ad-hock&Itemid=192
Model Kawasan Rumah Pangan Lestari.
http://jambi.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=category&la
yout=blog&id=63&Itemid=70. KRPL.
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/903/. Kawasan Rumah Pangan Lestari di
Pacitan
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/916/ Mentan Tinjau Kawasan Rumah
Pangan Lestari di Pacitan.
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/1020/. Rumah Pangan Lestari menjadi
Primadona di HPS Gorontalo.
Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Jakarta.
Rachman, Handewi .P.S. dan M. Ariani. 2007. Penganekaragaman Konsumsi Pangan di Indonesia: Permasalahan dan Implikasi untuk Kebijakan dan Program. Makalah pada “Workshop Koordinasi Kebijakan Solusi Sistemik Masalah Ketahanan Pangan Dalam Upaya Perumusan Kebijakan Pengembangan Penganekaragaman Pangan”, Hotel Bidakara, Jakarta, 28
November 2007. Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.
FOTO KEGIATAN