• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. tingkat kas tertentu sebagai sebuah syarat ketika perusahaan melakukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. tingkat kas tertentu sebagai sebuah syarat ketika perusahaan melakukan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kas dan setara kas merupakan komponen yang penting dalam sebuah perusahaan (Kusnadi, 2011). Perusahaan biasanya diminta untuk memiliki tingkat kas tertentu sebagai sebuah syarat ketika perusahaan melakukan pinjaman pada kreditor. Bates et al. (2006) menemukan bahwa median rasio cash-to-asset pada 13.237 perusahaan di US meningkat dari 5,5% menjadi 14,73% dari tahun 1980 hingga 2004. Perusahaan di Asia juga mengalami kenaikan cash holdings yang cukup tajam dari 6,6% di tahun 1996 menjadi 12,1% di tahun 2006 (Lee dan Song, 2010).

Hendrawaty (2015) meneliti pengaruh cash holdings di perusahaan non keuangan di Indonesia tahun 2010 hingga 2011 dan menemukan bahwa 672 perusahaan mengatur tingkat kepemilikan kas melebihi tingkat normalnya. Rasio yang meningkat dapat membuat adanya agency problem yang akan berdampak pada investor yang akan memberikan penurunan pada nilai kepemilikan kas perusahaan berdasarkan ekspektasi mereka. Agency problem akan meningkatkan agency cost sehingga terjadinya erosi pada nilai perusahaan menjadi lebih serius ketika asimetri informasi terjadi pada perusahaan (Sun et al., 2012).

Kualitas informasi laporan keuangan yang tinggi adalah salah satu cara untuk mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan investor, serta dapat menurunkan agency cost (Cohen, 2003). Beberapa literatur

(2)

2

menggunakan kualitas laba sebagai proksi kualitas laporan keuangan, sehingga dapat dikatakan ketika kualitas laba pada suatu perusahaan buruk maka hal tersebut merupakan cerminan adanya asimetri informasi yang tinggi. Asimetri informasi secara substansial akan meningkatkan kas yang dimiliki perusahaan (Ferreira dan Vilela, 2004; Ozkan dan Ozkan, 2004; Garcia-Teruel et al., 2009).

Penelitian mengenai pengaruh kualitas laba (Teets, 2002; Mikkelson dan Partch, 2003; Schipper dan Vincent, 2003; Siallagan, 2009; Godfrey et al., 2010, Hasanzadeh et al., 2012; Sun et al., 2012; Susanto dan Siregar, 2012; Maham dan Shabanha, 2015) terhadap kepemilikan kas (Opler et al., 1999; Dittmar et al., 2003; Ferreira dan Vilela, 2004; Ozkan dan Ozkan, 2004; Hasanzadeh et al., 2012; Sun et al., 2012;; Mokhtari et al., 2012; Taghavi dan Javanmard, 2013) belum banyak dilakukan pada negara berkembang. La Porta et al. (2000) menemukan bahwa perlindungan investor pada negara yang menerapkan code law lebih rendah dibandingkan negara yang menerapkan common law. La Porta et al. (1998) juga menjelaskan bahwa perusahaan pada negara dengan perlindungan investor yang rendah maka secara proporsional akan lebih banyak memiliki tingkat kas dibandingkan pada perusahaan di negara dengan perlindungan investor yang tinggi.

Berdasarkan free cash flow hypothesis, Jensen (1986) beranggapan bahwa ada kalanya manajer tidak ingin mendistribusikan kas yang dimiliki perusahaan kepada pemegang saham. Ketika arus kas perusahaan berada dalam jumlah yang besar maka manajer mungkin akan memilih untuk

(3)

3

berinvestasi pada proyek yang tidak menguntungkan, sehingga hal ini menimbulkan agency problem. Manajer dalam perusahaan memiliki tugas, salah satunya mengatur kas yang ada di dalam perusahaan sehingga dapat dikatakan kas perusahaan diatur berdasarkan kebijakan manajer. Jensen (1986) menjelaskan bahwa semakin besar kepemilikan manajerial pada perusahaan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga kinerja perusahaan akan semakin baik.

Berlawanan dengan free cash flow hypothesis, manajer akan mengurangi tingkat kepemilikan kas. Manajer sama seperti investor yang merupakan pemilik perusahaan sehingga keduanya memiliki kepentingan dan tujuan yang sama. McConnell dan Servaes (1990) serta Ozkan dan Ozkan (2004) menemukan bahwa pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kepemilikan kas masih merupakan hubungan yang non monotonic. Hubungan non monotonic dijelaskan dalam 2 efek yaitu managerial alligment effect dan managerial entrenchment effect.

Sun et al. (2012) menjelaskan bahwa perusahaan dengan asimetri informasi yang tinggi akan membutuhkan biaya yang besar untuk mendapatkan pendanaan eksternal. Jika melalui hutang maka kreditor akan memberikan syarat yang banyak. Jika pendanaan eksternal dilakukan melalui saham maka terdapat agency cost yang memuat penurunan nilai pada aliran kas perusahaan. Hal ini membuat perusahaan harus bergantung pada sumber dana internal dan memiliki tingkat kas yang tinggi untuk operasional dan investasinya.

(4)

4

Salvatore (2005) menjelaskan bahwa tujuan utama sebuah perusahaan menurut theory of the firm adalah meningkatkan nilai perusahaan tersebut. Brigham dan Gapensi (1996) mendukung hal tersebut dengan menjelaskan bahwa semakin tinggi nilai perusahaan akan diikuti dengan semakin tingginya kemakmuran pemegang saham. Faulkender dan Wang (2006) memberikan bukti bahwa nilai perusahaan menurun ketika manajer meningkatkan kas perusahaan.

Harford et al. (2008) menggunakan 3 hipotesis untuk menjelaskan hubungan agency cost dan kepemilikan kas perusahaan, yaitu flexibility hypothesis, spending hypothesis, dan shareholder power hypothesis. Jensen (1986) mengemukakan bahwa kenaikan arus kas bebas berhubungan dengan meningkatnya konflik keagenan antara manajemen dan pemegang saham. Ketika terdapat entrenchment effect maka manajer cenderung menimbun kas sebagai cadangan dibanding membagikan kas pada pemegang saham minoritas. Hipotesis ini disebut flexibility hypothesis yang mengarahkan hubungan positif antara agency conflicts dan kepemilikan kas.

Richardson (2006) berpendapat bahwa manajer lebih mungkin untuk melakukan investasi yang lebih banyak ketika terdapat arus kas bebas yang tinggi. Lang et al. (1991), Blanchard et al. (1994) serta Harford (1999) memberikan bukti bahwa investasi yang dilakukan ketika perusahaan memiliki banyak arus kas bebas cenderung tidak bernilai dan tidak mengembalikan kas pada pemegang saham. Jika terdapat entrenchment effect, manajer cenderung menggunakan kelebihan kas yang ada untuk memperluas

(5)

5

perusahaan, sehingga berdasarkan spending hypothesis maka hubungan antara agency conflicts dan kepemilikan kas adalah negatif. Shareholder power hypothesis juga menggunakan hubungan negatif untuk menjelaskan agency conflicts dan kepemilikan kas karena ketika perusahaan memiliki kas berlebih maka akan terhindar dari kesulitan keuangan. Konsekuensinya ketika pemegang saham minoritas memiliki wewenang untuk mengarahkan manajer maka mereka akan memperbolehkan perusahaan mengakumulasikan cadangan kas.

Myers dan Majluf (1984) berpendapat bahwa kesulitan keuangan dapat membuat perusahaan lebih mungkin untuk menyerah pada kesempatan investasi yang bernilai tinggi. Hal ini mengimplikasikan kepemilikan kas akan meningkatkan nilai perusaaan. Sebaliknya, kas adalah aset dengan tingkat pengembalian yang paling lama, sehingga perusahaan dengan kepemilikan kas yang tinggi tidak dapat diharapkan oleh pemegang saham (Luo dan Hachiya, 2005). Temuan berbeda diperoleh Mikkelson dan Partch (2003) yang menemukan bahwa kepemilikan kas tidak mengarah pada kinerja yang buruk. Hal ini sesuai dengan teori dari Opler et al. (1999) bahwa perusahaan memiliki kas yang tinggi untuk mencegah mereka kehilangan investasi yang menguntungkan sehingga perusahaan dapat melakukan investasi sewaktu-waktu tanpa menunggu sumber pendanaan eksternal.

Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya (Sun et al., 2012) dalam beberapa hal. Penelitian Sun et al. (2012) belum mempertimbangkan variabel lain yang dapat mempengaruhi hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan

(6)

6

kas perusahaan, yaitu kepemilikan manajerial. Jensen (1986) menjelaskan bahwa semakin besar kepemilikan manajerial pada perusahaan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga kinerja perusahaan akan semakin baik. Sun et al. (2012) menguji hubungan antara kualitas laba terhadap nilai perusahaan dan kepemilikan kas. Sun et al. (2012) menemukan bahwa kualitas laba yang buruk berdampak negatif pada nilai dari kepemilikan kas dan berdampak positif pada tingkat cadangan kas perusahaan.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kualitas laba terhadap kepemilikan kas, pengaruh kualitas laba terhadap kepemilikan kas yang dimoderasi dengan kepemilikan manajerial, serta pengaruh kualitas laba dan kepemilikan kas terhadap nilai perusahaan. Variabel moderasi ditambahkan untuk mengetahui pola hubungan kualitas laba dengan kepemilikan kas yang dimoderasi dengan kepemilikan manajerial, kualitas laba terhadap kepemilikan kas, dan juga kepemilikan kas terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur nilai perusahaan, khususnya dalam hal kepemilikan kas yang masih sedikit dilakukan di Indonesia. Kedua, penelitian ini berkontribusi pada pembuat standar dan praktisi untuk dapat lebih memperhatikan aturan-aturan yang dapat diberikan mengenai kepemilikan manajerial sebuah perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

(7)

7

Sun et al. (2012) telah menguji hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan kas perusahaan di US. Namun, penelitian tersebut belum mempertimbangkan variabel lain yang dapat mempengaruhi hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan kas perusahaan, yaitu kepemilikan manajerial. Penelitian mengenai hubungan kualitas laba dan kepemilikan kas masih sedikit dilakukan pada negara berkembang, terlebih dengan menambahkan variabel kepemilikan manajerial. Selanjutnya, masih terdapat hubungan non monotonik apakah kepemilikan manajerial berpengaruh positif atau negatif terhadap hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan perusahaan.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kualitas laba berpengaruh terhadap kepemilikan kas perusahaan dan nilai perusahaan?

2. Apakah kepemilikan manajerial memoderasi hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan kas perusahaan?

3. Apakah kepemilikan kas perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah kualitas laba berpengaruh terhadap kepemilikan kas perusahaan dan nilai perusahaan. Kedua, menguji apakah kepemilikan manajerial memoderasi hubungan antara kualitas laba dan kepemilikan kas perusahaan. Ketiga, menguji apakah kepemilikan kas perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

(8)

8 1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik kepada akademisi praktisi, maupun pembuat kebijakan, yaitu:

1. Bagi akademisi: menambah kajian literatur mengenai hubungan antara kualitas laba, kepemilikan kas perusahaan, kepemilikan manajerial dan dampaknya pada nilai perusahaan.

2. Bagi praktisi: memberikan manfaat dan pemahaman mengenai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh perusahaan dengan mempertimbangkan kepemilikan manajerial.

Referensi

Dokumen terkait

Bertolak dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti dan membahas permasalahan yang timbul dikalangan masyarakat terhadap praktik

Berdasarkan beberapa pengertian Teknologi Informasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah,

Dengan menelaah dan mempelajari ja- ringan remaja di media sosial dan grup in- stant messaging dapat diketahui: (1) proses imitasi dan proses mempengaruhi-dipe- ngaruhi dari satu

Dalam model tersebut hipotesis yang menyatakan kualitas sistem berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna, kualitas informasi berpengaruh positif terhadap

Meinchenbaum menyatakan bahwa pembentukan kemandirian belajar ditentukan oleh dua hal, yaitu sumber sosial dan kesempatan untuk mandiri (Tarmidi & Rambe, 2010:

Namun pada hasil perhitungan LAR (Loan at Risk) terlihat bahwa diperoleh hasil 21% yang berarti masuk dalam kategori tidak efektif dengan batas nilai ≥20% yang memperlihatkan

Indikator yang menjadi kekuatan dalam pengembangan agrowisata di Taman MoI yaitu pelayanan pengelola taman dengan besar nilai 2,733. Sebagian besar responden

Keluarga dari kelas sosial yang berbeda, tentunya mempunyai pandangan yang juga berbeda tentang bagaimana cara menerapkan pola asuh yang tepat dan dapat diterima bagi