Oleh: Imam Amrusi Jailani Abstrak
Pergulatan pemikiran yang sedang berkembang dan selalu aktual, khususnya di dunia Islam, adalah dialektika keislaman dan kebaratan yang sering dijadikan sebagai model benturan peradaban yang tidak pernah mati. Hal tersebut akan memberikan dampak yang serius terhadap perkembangan wacana intelektual, lebih spesifik lagi dalam pemikiran keislaman. Di antara dampak-dampak yang akan ditimbulkan, antara lain: Pertama, memudarnya obyektifitas pemikiran. Pada waktu Barat dipandang dengan sebelah mata, maka secara otomatis akan melahirkan
persepsi negative thinking terhadap “seluruh” produk pemikiran Barat. Kedua,
melahirkan dualisme pemikiran; Islam dan Barat. Sebuah pemikiran tidak lagi dilihat dari aspek nilai dasar dan esensinya, melainkan lebih mengedepankan simbol. Ketiga, memunculkan kecenderungan eksklusifisme. Pada saat pola pemikiran menjadi tunggal dan tidak memberikan tempat pada pola pemikiran lain, maka sudah barang tentu akan menciptakan pemikiran eksklusif. Pada tataran ini, kebenaran hanya akan menjadi konsumsi pribadi, karena ditopang oleh sikap klaim sepihak.
Kata kunci: dialektika, Islam, inklusif dan pluralis.
A. Pendahuluan
Sering kali kita jumpai pemaknaan yang berkonotasi negatif terhadap wacana pluralitas. Pada hal, Pluralisme atau pluralitas, yang juga lebih dikenal dalam istilah Indonesia dengan kemajemukan atau keberagaman, kedinamikaan, atau bahkan dengan kebhinekaan merupakan suatu kekhasan yang dilekatkan pada kehidupan ini semenjak terciptanya alam semesta. Lebih dari itu, pluralitas sudah menjadi sesuatu yang niscaya dalam kehidupan ini, yang dalam istilah agama dikatakan sebagai
sunnatullah. Pluralitas ini diciptakan oleh Allah dalam kehidupan ini secara
paten (sudah menjadi sunnah-Nya atau ketentuan-Nya di alam raya ini) dalam kerangka kesatuan yang dibentuk oleh elemen-elemen yang mengitarinya. Dalam kerangka kesatuan penciptaan, Allah menciptakan beraneka ragam makhluk di dunia ini; dalam kerangka kesatuan agama, Allah menciptakan pluralitas dalam syari’at; dalam kerangka kesatuan syari’at, Allah menciptakan kemajemukan dalam mazhab dengan segala
*
aneka warna ijtihad yang melingkupinya. Demikian pula, Allah menciptakan manusia dalam suatu kerangka kesatuan yang mengandung parsial-parsial suku bangsa, kerangka kesatuan sebuah bangsa ditegakkan oleh aneka ragam suku dan kabilah, dan kerangka kesatuan bahasa diperkaya oleh bermacam-macam dialek yang melingkupinya.
Memang perlu disadari, bahwa pluralitas akan menjadi sangat problematis dan acap kali menjadi momok yang amat menakutkan— bahkan melebihi ketakutan terhadap monster—bila diperhadapkan kepada pandangan eksklusif. Selama ini, dialektika keislaman dan kebaratan sering dijadikan sebagai model dalam pergulatan pemikiran yang sedang berkembang, khususnya di dunia Islam. Hal tersebut akan memberikan dampak yang serius terhadap perkembangan wacana intelektual, lebih spesifik lagi dalam pemikiran keislaman. Di antara dampak-dampak yang akan ditimbulkan, antara lain: Pertama, hilangnya obyektifitas pemikiran. Pada waktu Barat dipandang dengan sebelah mata, hanya sebagai sarang imperialisme, maka secara otomatis akan melahirkan persepsi negative
thinking terhadap “seluruh” produk pemikiran Barat. Trend pemikiran yang
muncul di Barat akan sulit diterima, yang seakan-akan ada tabir pemisah antara Islam dan Barat yang disakralkan, sehingga trend pemikiran seperti Hak Asasi Manusia, demokrasi, civil society, dan lain-lain masih dianggap “kafir”. Riskannya pula, jika trend semacam itu dihembuskan oleh kalangan intektual muslim, mereka itu dicapnya sebagai agen Barat yang tidak bertanggungjawab. Pandangan negatif dan sinis semacam itu, menurut penilaian Muhammad Imarah, tidak kalah daya destruktifnya jika dibandingkan dengan tesis Samuel Huntington, yang menyodorkan tema-tema bombastis bagi imperialisme Barat terhadap dunia Islam.1
Kedua, munculnya dualisme pemikiran; Islam dan Barat. Sebuah pemikiran tidak lagi dilihat dari aspek nilai dasar dan esensinya, melainkan lebih mengedepankan simbol. Pencerahan yang semula menjadi juru kunci bagi pemberdayaan manusia atau masyarakat, di manapun berada, cenderung ditolak karena berlabelkan Barat atau diangap tercerabut dari muatan spiritualitas. Selain itu, istilah sekularisme menjadi makanan empuk bagi para intelektual haluan kanan untuk terus memojokkan trend pemikiran yang dianggapnya ala Barat, bahwa sekularisme telah memisahkan antara agama dan negara atau antara agama dan dunia.2
Ketiga, kecenderungan eksklusifisme. Pada saat pola pemikiran menjadi tunggal dan tidak memberikan ruang pada pola pemikiran lain, maka sudah barang tentu akan menciptakan pemikiran eksklusif. Sebagai
1 Lihat komentar Muhammad Imarah dalam bukunya, Al-Islam bayn Tanwir wa
al-Tazwir, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1995), pp. 5–9.
konsekuensi logisnya adalah munculnya slogan bahwa “Islam” adalah satu-satunya solusi, bahkan dengan serta merta mengesampingkan pemikiran orang atau kelompok lain yang tidak seide atau sehaluan. Slogan semacam itu, menurut Khalil ‘Abdul Karim, pada satu sisi merupakan salah satu metode mengetengahkan solusi antisipatif, namun pada sisi lain mengandung muatan eksklusif terhadap pemikiran-pemikiran lain.3
Sudah barang tentu, problem dialektika tersebut harus dicarikan solusinya serta dicarikan pula terapi yang efektif untuk membangun kembali paradigma pemikiran keislaman yang elegan, obyektif, dan tentunya inklusif. Apalagi jika melihat perkembangan mutakhir dalam dunia cyber; dunia yang tanpa ambang batas, yang seakan-akan manusia hidup dalam dusun yang kecil, yang tentu saja hal-hal semacam dualisme Islam dan Barat tidak akan tampak lagi dalam panorama globalisasi. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk merancang metodologi yang relevan untuk menjembatani sekaligus menyandingkan pola pemikiran keislaman dengan pola pemikiran lainnya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara Islam dan Barat yang berwibawa dalam iklim pluralitas yang lebih dinamis.
B. Tinjauan Historis Dialektika Islam
Secara historis, diskursus intelektual Islam yang sempat mengisi lembaran sejarah amat beragam. Keragaman tersebut mencerminkan watak dari wacana itu sendiri yang kita sering sebut dengan ciri pluralitas yang melekat di dalamnya. Ciri pluralitas yang disandang oleh sebuah wacana akan membawa pengaruh yang positif, yaitu dinamika pemikiran yang terus melaju dengan deras, dan terkadang pula akan membawa dampak terhadap munculnya fanatisme pemikiran dan berakibat pada kejumudan bagi wacana itu sendiri. Kondisi semacam itu bisa dilihat pada berbagai kasus wacana pemikiran keislaman di dalam lintasan sejarah.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa pada zaman Rasulullah, ketika pasukan kaum muslimin akan menuju ke Bani Quraidhah, Rasululah s.a.w. mengeluarjan maklumat agar jangan sekali-kali ada di antara pasukan yang melaksanakan shalat Ashar kecuali sesampainya di Bani Quraidhah. Sebagian sahabat memahaminya secara harfiah. Dengan begitu mereka tidak akan shalat Ashar hingga tiba di Bani Quraidhah. Sebagian yang lain memahaminya bahwa perintah itu dikeluarkan agar mereka segera bergegas, sehingga bisa sampai di tujuan (Bani Quraidhah) dalam keadaan masih terang, belum gelap gulita dengan terbenamnya
3 Lihat Khalil ‘Abdul Karim, Min Afat al-Fikr al-‘Araby al-Islamy al-Mu’ashir:
matahari. Kelompok kedua ini melaksanakan shalat Ashar di perjalanan. Yang penting bagi mereka tidak terlambat tiba di tujuan, yaitu sebelum terbenam matahari. Dan ternyata, Rasulullah sama-sama membenarkan kedua pemahaman tadi.
Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, ada dua orang sahabat bertayammum untuk melaksanakan shalat karena tidak ada air. Setibanya di rumah, ternyata waktu shalat masih belum berakhir dan airpun tersedia. Karena itu, yang seorang sahabat berwudhu untuk mengulang shalatnya, sedangkan yang satu lagi tidak. Kemudian keduanya melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah s.a.w. Rasulullah berkata kepada yang mengulangi shalatnya bahwa dia mendapatkan dua pahala. Sedangkan kepada yang tidak mengulanginya dikatakan bahwa dia juga benar dan apa yang dilakukannya adalah sesuai dengan syari’at.
Tatkala ‘Amr bin al-‘Ash memimpin pasukan ke Dzati al-Salasil, sebuah dataran tinggi di kawasan Suriah, pada suatu malam, dia bermimpi hingga mengeluarkan air mani. Karena cuaca teramat dingin, maka dia tidak berani untuk mandi, sebab jika mandi akan menyebabkan bahaya dan bahkan bisa binasa. Sedangkan dia harus mengimami shalat Shubuh untuk pasukannya, dia pun akhirnya tayammum. Kejadian ini pun sampai kepada Rasulullah. Rasulullah pun minta klarifikasi kepadanya: “Ya ‘Amr! Benarkah engkau telah mengimami shalat dalam keadaan junub dan tidak mandi ?” ‘Amr menjawab:”Benar ya Rasul, aku berpegang pada firman Allah Q.S. al-Nisa’: 29; Wa la taqtulu anfusakum inna Allaha kana bikum
rahima.” Rasulullah pun tersenyum mendengarnya dan tidak berkomentar
apa-apa, yang mana hal itu menunjukkan persetujuannya. Itulah sekedar contoh-contoh perbedaan pendapat di kalangan sahabat di masa nabi.
Suatu ketika Rasul melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan putik kurma. Melihat itu, nabi sempat melarangnya dengan alasan yang tidak jelas. Para sahabat pun menaatinya., dan pohon-pohon kurma mereka pun menjadi rusak serta pembuahannya tidak terjadi, malah bakal buahnya membusuk. Mereka melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah., dan beliau pun menjawab: “Sesungguhnya aku ini cuma manusia biasa seperti kalian, jika kuperintahkan kalian tentang sesuatu yang berkenaan dengan agama, laksanakanlah. Akan tetapi, jika aku memerintahkan kalian tentang sesuatu yang berasal dari ra’yu-ku, maka ketahuilah bahwa aku ini manusia biasa seperti kalian, …dan kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.4
4 Lihat hadis selengkapnya dalam Abi Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim, juz II, (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), hadis ke 240.
Pasca perang Badar, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat perihal tawanan perang. Abu Bakar mengusulkan agar mereka dibebaskan saja dengan tebusan, sedangkan Umar menyarankan agar mereka dibunuh saja. Akhirnya Rasulullah mengambil pendapat Abu Bakar. Setelah peristiwa itu, turunlah ayat 27, sural al-Anfal: “Tidaklah patut bagi seorang nabi untuk memiliki tawanan, sehingga Allah memberikan kemenangan kepadanya di muka bumi….” Keesokan harinya Umar menjumpai Rasululah dan Abu Bakar dalam keadaan meneteskan air mata. Nabi pun mengatakan bahwa seandainya Allah menurunkan azab (disebabkan karena kecerobohan dalam mengambil keputusan), tidak akan ada seorangpun yang selamat, kecuali Umar.5
Sepeninggal Rasulullah s.a.w., perbedaan dan bahkan perselisihan pendapat kerap kali terjadi. Namun uniknya, kesemuanya bisa dicarikan jalan keluar, bisa digandengkan dan berjalan seiring serta serasi. Baru saja Rasulullah meninggal dan jenazah yang mulia masih ditutupi kain di atas peraduannya, tiba-tiba Umar berdiri sembari mengacungkan pedangnya. Karena kecintaannya kepada Rasulullah yang meluap-luap. Dia geram dan tidak terima kalau dikatakan Rasulullah sudah meninggal. “Nabi tidak meningal,” gumannya. “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Rasul sudah meninggal, akan saya penggal batang lehernya,” lanjutnya. Perkataan semacam itu muncul dari mulut seorang Umar karena kekesalannya dan sebagai reaksi terhadap sikap orang-orang munafik yang merasa bergembira atas meninggalnya Rasulullah. Dalam pandangannya, Rasul tidak akan wafat dan akan selalu menyertai umatnya. Itulah pemahaman spontanitas Umar terhadap firman Allah QS. Al-Baqarah: 143; “Dan demikianlah Kami jadikan kamu suatu umat pilihan, supaya kamu menjadi saksi atas manusia, dan supaya Rasul menjadi saksi atas kalian.” Dapat dipahami dari ayat tadi bahwa Rasul akan senantiasa hadir di tengah-tengah umatnya untuk menyaksikan amal mereka hingga akhir dunia ini. Lalu kenapa Rasul wafat, padahal umat masih membutuhkan bimbingannya. Itulah yang berkecamuk dalam hati Umar. Dalam keadaan yang demikian keruh, datanglah Abu Bakar menghampiri Umar yang sedang gundah gulana. Beliau menenangkan Umar dan mengatakan bahwa sesungguhnya Rasul sudah wafat. Kemudian dia membacakan firman Allah QS. Ali Imran: 144; “Dan tidak lain Muhammad itu hanya seorang rasul, yang sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah kalau dia meninggal atau terbunuh, kamu akan kembali menjadi murtad.”
5 Penjelasan selengkapnya, lihat al-Kandahlawi, Hayat al-Shahabah, juz II, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981), pp. 102-108; juga Abd ar-Rahman bin al-Kamal Jalal ad-Din as-Suyuti,
Mendengar ayat itu dibacakan, Umar pun tertunduk dan luluh hatinya, seraya tertegun, seakan-akan dia baru mendengar ayat itu.
Para sahabat pun berbeda pendapat perihal di mana Rasul akan dikebumikan. Salah seorang sahabat mengusulkan agar Rasul dimakamkan di masjidnya. Seorang sahabat lainnya menyarankan agar dimakamkan di pemakaman al-Baqi’, bersama-sama para sahabatnya. Lalu Abu Bakar r.a. berkata: “Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: ‘Tidaklah wafat seseorang Nabi melainkan dikubur di tempat ia wafat’.” Maka diangkatlah kasur tempat Nabi wafat dan di bawahnya digalilah tanah untuk menguburnya.
Mereka berselisih, hingga menimbulkan pertumpahan darah, mengenai siapakah yang harus memegang pemerintahan sepeninggal Nabi s.a.w. Di balairung (saqifah) Bani Sa’idah kaum muslimin berkumpul. Sahabat Anshar memilih Sa’ad ibn ‘Ubadah. Sahabat muhajirin memilih Abu Bakar. Ali ibn Abi Thalib, Zubair ibn Anwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, di rumah Fatimah putri Rasul, berbeda pendapat dengan kedua golongan tersebut. Akhirnya khilafah dipercayakan ke tangan Abu Bakar r.a.
Berkenaan dengan sekelompok orang yang dianggap membangkang karena tidak menyetorkan zakat mereka kepada khalifah, Abu Bakar sebagai khalifah bersikeras untuk memerangi mereka. Tekad itu tetap direalisasikan oleh beliau, walaupun Umar tidak setuju terhadap tindakan tersebut. Pada awalnya, menurut usulan Umar, mereka semua sudah mengucapkan dua kalimah syahadat. Oleh karena itu, darah, jiwa, kehormatan dan harta mereka harus dijamin dan dilindungi, sedangkan Abu Bakar berpegang pada firman Allah QS. Al-Taubah: 11; Fa in tabu wa
aqamu al-shalat wa atu al-zakat faikhwanukum fi al-din. Berdasarkan ayat itu,
mereka dianggap oleh Abu Bakar telah memisahkan shalat dan zakat, maka sudah selayaknya mereka diperangi hingga mereka sadar. Umar pun akhirnya menghormati keputusan itu.
Khalifah Umar dalam berbagai kasus sering sependapat dengan Abdullah bin Mas’ud, bahkan Abdullah bin Mas’ud tidak jarang menarik pendapatnya untuk mengikuti pendapat Umar. Namun antara keduanya juga sering berbeda pendapat. Ibn al-Qayyim memberitakan bahwa keduanya telah berbeda pendapat dalam kurang lebih seratus masalah. Ibn Mas’ud melipatkan kedua tangannya dalam shalat dan melarang meletakkan kedua tangan pada lutut. Sedang Umar melepaskan tangannya dan melarang melipatkan tangan dalam shalat. Ibn Mas’ud berpendapat bahwa seorang laki-laki yang berkata kepada isterinya: “Engkau bagiku haram,” berati dia telah bersumpah ila’ (mengharankan diri untuk tidak berhubungan dengan isterinya). Menurut Umar berarti dia telah menjatuhkan talak. Kemudian, menurut Ibn Mas’ud, seorang pria yang
berzina dengan seorang wanita, lalu pria itu mengawininya, keduanya tetap melakukan perzinaan, sekalipun sudah melangsung akad nikah. Menurut Umar, hubungannya sebelum nikah dianggap zina, sedang setelah nikah adalah halal. Walaupun demikian, keduanya tetap saling menghormati dan menyayangi.
Khalifah Umar bin Khaththab pernah melarang haji tamattu’, demikian pula Usman bin ‘Affan, padahal menurut pandangan kelompok pertama hal tersebut secara tegas dibolehkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Ketika Usman melarangnya, Ali bin Abi Thalib malah secara demonstratif melaksanakannya di depan Usman. Kemudian Usman pun berkata: Saya
melarang manusia melaksanakannya, sedang engkau sendiri
melaksanakannya. Ali menjawab: Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah s.a.w. Hanya karena pendapat seseorang, Setelah terlibat dalam diskusi panjang lebar, menurut salah satu riwayat dari Abdullah bin Zubair, Usman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanyalah ra’yu-ku sendiri. Siapa yang sependapat boleh menjalankannya, dan siapa yang tidak boleh meninggalkannya.
Kemudian terdapat contoh lain yang berkenaan dengan perbedaan dalam memahami nash. Lafadz quru’ misalnya, dalam wal muthallaqatu
yatarabbasna bianfusihinna tsalatsata quru’, dimaknai secara berbeda-beda.
Umar dan Abdullah bin mas’ud mengartikan lafal tersebut dengan haid. Sedangkan Zaid bin Tsabit mengartikannya dengan masa bersuci di amtara haid dengan haid berikutnya. Kemudian, Ibnu Umar mengartikan kata al-muhshanat dalam ayat wal muhshanatu minal ladzina utul kitab dengan wanita muslimah. Oleh karena itu, dia mengharamkan wanita dari kalangan Ahli Kitab untuk dinikahi oleh pria muslim. Ibnu Abas menganggap hal tersebut sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la
tankihul musykati hatta yu’minna. Usman dan Thalhah tampaknya
sependapat dengan pendapat Ibnu abbas. Karena itulah, Usman menikahi Nailah, seorang wanita dari kalangan Nashrani, dan Thalhah menikani seorang wanita Yahudi dari Syam.6
Ikhtilaf yang terjadi di kalangan sahabat, kadang-kadang disebabkan
karena perbedaan pengetahuan yang mereka miliki. Sebagian sahabat misalnya, mengetahui nash tertentu, sedangkan sebagian sahabat yang lainnya tidak mengetahuinya. Umar pernah menegur salah seorang sahabat yang dianggapnya salah dalam membaca salah satu ayat al-Qur’an (QS. Al-Fath: 26). Ia memarahi sahabat itu. Namun kemudian Umar dikoreksi oleh Ubay bin Ka’ab. Ubay berkata: Anda tahu bahwa saya berada di dalam
6 Lihat penjelasan selengkapnya dalam Musa Thawana, Al-Ijtihad: wa Madza
beserta Rasululah ketika beliau membacakan ayat tersebut, sedang anda sendiri berada di pintu. Demi Allah, ya Umar, sesungguhnya anda juga tahu, ketika saya hadir, anda tidak ada, dan ketika saya diundang, anda tidak.7
Ibn Hazm mengatakan bahwa orang-orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri oleh orang-orang Bashrah; Orang Bashrah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Syam; Orang Syam hadir pada tempat yang tidak dihadiri oleh orang Bashrah; Orang Bashrah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Kufah; Orang Kufah hadir pada tempat yang tidak dihadiri oleh orang Madinah. Ini semua terjadi dalam hadis dan pada saat kita memerlukan informasi. Padahal, sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah s.a.w., sedangkan sebagian lagi hadir. Setiap sahabat (orang) hanya mengetahui apa yang disaksikannya dan tidak akan mengetahuinya secara persis apa saja yang tidak disaksikannya. Hal ini jelas berdasarkan akal. ‘Ammar dan lainnya mengetahui tentang tayammum, sedang Umar dan Ibn Mas’ud tidak mengetahuinya, sehingga mereka mengatakan bahwa orang junub tidak tayammum, walaupun tidak menemukan air selama dua bulan. Ali, hudzaifah al-Yamani dan yang lain mengetahui tentang mengusap, tetapi ‘Aisyah, Ibn Umar dan Abu Hurairah tidak mengetahuinya, walaupun mereka penduduk Madinah. Ibn Mas’ud mengetahui bahwa anak perempun dari anak beserta anak perempun mendapatkan waris, tetapi hal ini tidak diketahui oleh Abu Musa.8
Contoh yang lebih illustratif terjadi di zaman khalifah Umar bin Khaththab. Ketika itu ada salah seorang sahat yang melaporkan kepada khalifah: “Ya Amir al-mu’minin, saya mendengar Zaid bin Tsabit berfatwa dengan menggunakan ra’yu-nya berkenaan dengan mandi janabah.” Umar berkata: ”Panggil dia!” Zaid pun dipanggil dan menghadap. Khalifah berkata kepadanya: Hai musuh dirinya sendiri!, Aku dengar kau berfatwa kepada manusia dengan menggunakan ra’yu-mu sendiri? Zaid menjawab: “Ya Amir al-Mu’minin, aku tidak melakukan hal itu. Tetapi aku mendengar hadis tentang itu dari paman-pamanku, lalu aku sampaikan, yaitu dari Abi Ayyub dari Ubay bin Ka’ab, dari Rifa’ah bin Rafi’.” Umar berkata lagi: “Panggil Rifa’ah bin Rafi’.” Umar bertanya pada Rifa’ah: “Apakah kalian berbuat demikian, bila bercampur dengan isteri kalian dan
7 Penjelasan mengenai hal tersebut dapat dijumpai dalam komentar berbagai Kitab Tafsir. Misalnya; Jalal ad-Din as-Suyuti, Tafsir Durr al-Mansur fi Tafsir al-Ma’sur, juz VI, p. 74 dan Imad ad-Din Abu al-Fida’ Isma’il bin Kasir al-Qursyi ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz IV, Cet. II, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), p. 194.
8 Lihat Syaikh Muhammad Muhamad al-Madani, Asbab Ikhtilaf bain Aimmah
tidak keluar mani, kalian tidak mandi ?” Rifa’ah menjawab: “ Kami melakukan demikian pada zaman Rasululah saw. Dan tidak turun ayat yang mengharamkannya. Tidak ada juga larangan dari Rasululah s.a.w.” Umar bertanya lagi: “Apakah Rasulullah mengetahuinya?” Rifa’ah menjawab: “Tidak tahu.” Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat Muhajirin dan Anshar dan bermusyawarah. Semua orang mengatakan tidak perlu mandi, kecuali Ali dan Mu’adz. Keduanya mengatakan: “Jika dua khitan bertemu, maka wajib mandi.” Umar berkata: “Kalian para sahabat yang ikut perang Badar sudah ikhtilaf, apalagi orang-orang setelah kalian!” Lalu Ali memberi saran: “Ya Amir al-Mu’minin, tidak ada yang lebih mengetahui perihal tersebut selain isteri-isteri Rasulullah.” Umar pun mengutus salah seorang sahabat untuk bertanya kepada Habsyah. Tetapi Habsyah tidak mengetahuinya. Lalu ditanyakan pula kepada A’isyah. A’isyah berkata: “Bila khitan sudah bertemu khitan, maka wajib mandi.” Kemudian Umar berkata: “Bila ada lagi orang yang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar mani, akan kupukul dia.”9
Ikhtilaf yang terjadi di kalangan sahabat merupakan sesuatu yang
unik, karena hampir semua perbedaan yang ada bisa teratasi dan disikapi dengan jiwa besar dan terbuka dari para sahabat dan juga dengan wibawa khalifah. Namun ada juga beberapa perbedaan yang dibiarkan begitu saja dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi orang-orang yang memiliki typical sektarian, ikhtilaf tersebut menjadi sumber dan biang perpecahan. Namun sebaliknya, bagi mereka yang berjiwa besar dan terbuka, perbedaan-perbedaan tersebut menjadi assets bagi dinamika pemikiran. Menanggapi hal tersebut, Umar kedua, Umar bin Abdul Aziz, merasa senang dengan adanya ikhtilaf di kalangan sahabat. Seandainya pendapat mereka itu tunggal, lanjut dia, maka sempitlah manusia dibuatnya. Mereka merupakan teladan yang patut untuk diikuti. Kita bisa mengambil dari siapa saja di antara mereka, karena sepak terjang mereka sudah menjadi sunnah. Allah sudah memberikan keluasan kepada umat dengan adanya ikhtilaf di kalangan mereka. Dengan ikhtilaf yang ada, pintu ijtihad terbuka dan dengan begitu, pintu rahmat-Nya terbuka untuk dimasuki oleh umatnya.
Namun pada periode selanjutanya, bencana besar datang melanda yang dihembuskan oleh orang-orang yang memiliki typical sektarian, ikhtilaf
tersebut menjadi sumber dan biang perpecahan. Pandangan eksklusif, sektarian dan primordial telah memporak-porandakan semuanya, sehingga dialektika Islam yang pluralis dan dinamis terjerembam dalam kubangan
9 Ilustrasi ini dapat dilihat dalam Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaqi’in, juz I, (Mesir: Mathba’ah Sa’adah, t.t.), pp. 63-64.
kejumudan dan stagnasi. Maka, sudah merupakan suatu kewajiban bagi intelektual muslim untuk munemukan mutiara yang terpendam tersebut.
C. Merajut Iklim Dialektika Yang Dinamis dan Toleran
Menurut Dr. Muhammad Farouq an-Nabhan, setidaknya terdapat tiga penyebab terjadinya stagnasi pemikiran atau kemandekan wacana intelektual, yaitu: faktor politik, intervensi penguasa atau rezim dan lemahnya daya tawar (konsistensi) ulama’ atau kaum intelektual dalam menghadapi pressure penguasa.
Faktor politik sangat berpengaruh dan seringkali menjadi faktor penentu bagi perjalanan wacana intelektual, apakah akan dinamis atau malah sebaliknya statis dan stagnan. Ketika sebuah madzhab atau aliran pemikiran memperoleh dukungan dari rezim yang berkuasa, dia akan terus jaya dan berkibar. Akan tetapi sebaliknya, pemikiran yang berlawanan dengan madzhab atau aliran pemikiran yang sudah dijadikan (seolah-olah) aliran atau madzhab resmi dari rezam yang sedang berkuasa, maka dia akan terus tertindas. Dalam hal ini, sejarah mencatat adanya peristiwa
mihnah atau inquisisi di zaman khalifah al-Ma’mun. Dukungan dan juga
ketidakberpihakan penguasa terhadap aliran pemikiran tertentu hingga sekarang masih dapat kita saksikan, bahkan juga tak ketinggalam di Indonesia.
Intervensi penguasa juga besar pengaruhnya bagi terbentuknya stagnasi pemikiran. Dalam hal ini, kebanyakan intelektual, khususnya yang masuk dalam jajaran birokrasi pemerintahan, tidak mau ambil risiko dengan berbeda atau berseberangan pemikirannya dengan kemauan rezim yang berkuasa. Mereka lebih memilih selamat, meskipun kebebasan berpikir mereka terbelenggu dan terpasung dalam karangkeng emas sang penguasa. Siapa yang sehaluan dengan penguasa akan dininabobokkan, dan siapa yang berseberangan akan ditindas. Dalam kondisi yang seperti ini, posisi ulama’ akan semakin lemah dan malah akan semakin memperkuat fanatisme golongan atau aliran. Mereka akan sangat bergantung pada penguasa dan berupaya mempertahankan status quo demi stabilitas dan kemapanan. Daya tawar ulama’ justru akan semakin melemah dan terpuruh dengan derap langkah mereka yang seolah-olah berijtihad, namun realitasnya hanyalah melegitimasi dan menjustifikasi kebijakan penguasa. Hal tersebut akan membawa ekses negatif bagi perkembangan dialektika intelektual Islam.
Sudah barang tentu, problem dialektika tersebut harus dicarikan solusinya serta dicarikan pula terapi yang efektif untuk membangun kembali paradigma pemikiran keislaman yang elegan, obyektif, dan tentunya inklusif. Apalagi jika melihat perkembangan mutakhir dalam
dunia cyber; dunia yang tanpa ambang batas, yang seakan-akan manusia hidup dalam dusun yang kecil, yang tentu saja hal-hal semacam dualisme Islam dan Barat tidak akan tampak lagi dalam panorama globalisasi. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk merancang metodologi yang relevan untuk menjembatani sekaligus menyandingkan pola pemikiran keislaman dengan pola pemikiran lainnya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara Islam dan Barat yang berwibawa dalam iklim pluralitas yang lebih dinamis.
Dinamika pemikiran Islam kontemporer akan terus berkibar dalam ranah perkembangan pemikiran. Hal ini setidaknya, menurut Hassan Hanafi, didasarkan pada tiga kerangka fundamental. Pertama, tradisi masa lalu yang tertancap dalam diri umat Islam ikut serta membentuk pemikiran dan sikap mereka. Keutuhan warisan Islam klasik menandakan bahwa tradisi masa lalu masih bisa dijadikan sebagai pegangan yang akurat. Kedua, tradisi Barat yang mulai masuk ke dunia Islam. Hal ini dimulai sejak adanya kontak Islam dengan dunia Barat. Tradisi dunia Barat yang dibawa ke dunia Islam telah melahirkan modernisasi pemikiran Islam, seperti reformasi keagamaan, liberalisme dan pemikiran ilmiah-rasional. Ketiga, realitas dunia Islam kontemporer. Dalam hal ini umat Islam ikut berinteraksi di dalamnya, baik dalam hal realitas politik, budaya dan ekonomi yang ikut membentuk lahirnya pemikiran Islam kontemporer. Di sini menunjukkan adanya urgensi realitas sebagai unsur pendukung yang tidak kalah pengaruhnya, karena realitas merupakan bumi tumbuhnya dan laboratorium bagi kedua fondasi di atas.10
Toleransi dalam berpikir amat diperlukan dan memegang peranan penting bagi pencerahan suatu bangsa. Oleh karena itu, perlu diretas suasana Qabul al-Akhar. Qabul al-Akhar merupakan konsep yang ditawarkan oleh Milad Hanna, seorang pemikir liberal berkebangsaan Mesir, yang secara etimologis bermakna menerima yang lain (the others). Akan tetapi secara terminologis, qabul al-akhar merupakan konsep yang disusun secara sistematis dan terencana untuk menciptakan suasana yang dialogis yang diwarnai oleh rasa toleransi untuk menguak sekat-sekat eksklusifisme pemikiran sehingga pada akhirnya menjadi inklusif, di tengah-tengah masyarakat yang pluralistis (majemuk), baik dalam keanekaragaman agama, budaya, ras, suku, dan bahkan wacana pemikiran itu sendiri, dengan maksud sebagai antitesa terhadap kecenderungan konflik di beberapa dekade akhir-akhir ini.
10 Uraian selengkapnya, lihat dalam Hasan Hanafi, Fikr ‘Arai Mu’aşir:
Secara realitas, dan bahkan sudah menjadi fenomena global, bahwa konflik dan pergulatan antar suku, penganut agama, dan aliran politik serta pergulatan wacana pemikiran itu sendiri selalu mengakibatkan rapuhnya nilai-nilai kemanusiaan universal yang dapat kita tonton di mana saja dan kapan saja secara gratis. Realitas itu seakan-akan mencerminkan keadaan dunia yang bengis, kasar, penuh dengan pertumpahan darah, penderitaan, penindasan terhadap kaum lemah, hingga pada pembungkaman dan pemenjaraan kreatifitas berpikir orang lain. Pola pendekatan yang melalui intervensi dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan hanya akan menyentuh bagian-bagian permukaan dari sekian banyak persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan tidak menyentuh anasir-anasir yang menjadi background persoalan itu dan esensi problematiknya, dan malah bersifat temporal.11
Manusia pada hakekatnya merupakan gumpalan dari naluri-naluri kemanusiaan yang mengkristal. Sebagian dari naluri kemanusiaan itu ada yang diperoleh secara fitrah (tanpa proses pembelajaran) dan ada pula yang diperoleh dengan pengalaman dan pergumulannya dengan ilmu pengetahuan dan budaya komunitasnya.
Sudah menjadi sunnatullah bila dalam gumpalan tersebut terdapat dikotomi antagonis: baik dan buruk, cinta dan benci, empati dan egois, penyayang dan kejam dan yang lainnya. Setiap saat manusia akan merasakan perubahan entitas kemanusiaannya. Bahkan dalam satu detik pun manusia akan dapat berubah total, dari benci menjadi cinta misalnya, dan sebagainya. Dalam suatu komunitas tertentu diperkirakan terdapat “naluri kemanusiaan kolektif” yang nisbi. Yakni, naluri tersebut tidak stabil dan akan terus berubah sesuai dengan stimulan yang muncul. Hal tersebut tidaklah bertentangan dengan humanisme, karakter kejiwaan dan pemikiran individu-individu dalam sebuah komunitas umat manusia. Pluralitas adalah sebuah potensi untuk dapat dijadikan sebagai pondasi untuk melakukan suatu kemajuan dan reformasi. Hal itu menjadi wajar, karena perbedaan dan benturan-benturan antar naluri kemanusiaan sebenarnya bisa menjadi lokomotif dan mampu menyulap sejarah manusia, baik individu maupun kolektif.
Di samping itu, adalah dualisme primordial, yakni primordialisme keagamaan dan primordialisme kebangsaan (nasionalisme) merupakan dua “jubah kebesaran” humanisme kolektif yang banyak menyedot massa. Hal itu bisa terjadi, karena keduanya memiliki daya tarik dan harga tawar yang tinggi dibanding dengan model primordialisme lain, seperti kesukuan dan
11 Penjelasan selengkapnya mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam Milad Hanna, Qabul al-Akhar, Cet. II, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1999), p. 17.
rasisme. Dalam sebuah komunitas atau bangsa yang kondisinya labil, maka pertarungan antar dua jubah kebesaran tersebut tidak mustahil. Kedua-duanya ingin sama-sama berada di atas. Di sinilah semangat primordialisme humanisme kolektif semakin terpuruk dan daya kohesinya semakin menguat. Pada akhirnya, perbedaan jubah kebesaran inilah yang akan menyulut semangat humanisme kolektif menjadi sebuah kekuatan solidaritas dan fanatisme yang akan menelan korban satu sama lain. Dalam konteks inilah, sebuah humanisme kolektif yang tertekan, pada suatu saat akan meledak dan berubah menjadi sebuah semangat revolusi dan semangat juang yang dahsyat. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika primordialisme keagamaan dan primordialisme kebangsaan dipahami secara benar dan difungsikan sebagai kekuatan utuh dalam rangka menghadapi persoalan kemanusiaan. Keduanya haruslah komplementer. Yang harus diberangus di sini bukanlah entitas perbedaan kedua primordialisme, melainkan kezaliman dan penindasan yang diperankan oleh siapapun.12 Perbedaan suku, agama dan aliran, bahkan organisasi tidak semestinya menjadi penyebab konflik, akan tetapi harus dikembangkan menjadi mozaik yang justru akan memperkokoh bangunan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan, persamaan derajat dan kemanusiaan.
Dalam tataran konseptual, terdapat setidaknya dua cara yang harus ditempuh dalam upaya mewujudkan budaya toleransi berpikir; Pertama, dalam skala personal. Setiap individu hendaknya menyadari bahwa ia diciptakan Tuhan dalam perbedaan, baik bahasa, warna kulit, dan bahkan agama. Kemudian, tugas kita di sini adalah harus mencari titik temu antar perbedaan yang ada, sembari memperkecil wilayah kebencian terhadap orang lain. Oleh karena itu, faktor yang sangat menunjang adalah pengetahuan dan wawasan berpikir. Setiap orang hendaknya memperluas pergaulan dan wsawasan dengan proses pembacaan yang kontinyu, sehingga tercipta tradisis dialog antar personal.
Kedua, dalam skala kolektif. Dalam hal ini perlu diciptakan ekualibrium dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kolektifitas harus dipahami sebagai upaya untuk membangun tatanan masyarakat yang kukuh, sehingga harus diciptakan kerjasama yang dinamis. Misalnya, perlu dibentuk LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berungsi sebagai check and balance system. Karena prasarat terciptanya demokrasi dalam sebuah negara yaitu munculnya peran aktif masyarakat akar rumput, baik sebagai pelaku utama maupun kontrol.
Langkah strategis lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah sikap dari para intelektual itu sendiri yang harus berani untuk keluar dari garis-garis formal dan menciptakan proyek pemikiran secara mandiri. Keberanian semacam ini mulai ditampakkan oleh sebagian kalangan intelektual, seperti Yusuf al-Qaradhawi, yang dalam beberapa tulisannya sudah menampilkan gagasan-gagasan pembaruan, terutama dalam lapangan fiqh. Menurutnya, penyederhanaan fikih harus mencakup pemahaman dan praktek. Hal itu disebabkan oleh revolusi informasi dan perkembagan teknologi mutakhir yang menghendaki pembaruan fikih yang mendekatkan pada identitas umat modern. Bahkan dalam beberapa tulisannya ia berusaha untuk keluar dari kungkungan taqlid para fuqaha dan melakukan kritik terhadap beberapa matan hadis yang tidak sesuai dengan nafas kemodernan.13
Kemudian, langkah berikutnya yang dipandang efektif untuk mewujudkan terciptanya iklim wacana intelektual yang toleran adalah menciptakan iklim dialog yang lebih bebas. Hal ini perlu disadari, karena wacana intelektual Islam kontemporer berada di tengah-tengah arus wacana demokrasi yang semakin dahsyat diperbincangkan dalam pentas politik internasional dan wacana civil society atau al-mujtama’ al-madani
(masyarakat madani) yang mulai diangkat ke permukaan. Konsekuensi logisnya, perbedaan pendapat akan menemukan momentumnya dalam rangka mewujudkan iklim demokrasi dalam berpikir.
D. Penutup
Pluralitas sudah menjadi sesuatu yang niscaya dalam kehidupan ini, yang dalam istilah agama dikatakan sebagai sunnatullah. Pluralitas ini diciptakan oleh Allah dalam kehidupan ini secara paten (sudah menjadi sunnah-Nya atau ketentuan-Nya di alam raya ini) dalam kerangka kesatuan yang dibentuk oleh elemen-elemen yang mengitarinya.
Sebagai kosekuensi logis dari adanya pluralitas tersebut, maka perbedaan pendapat pun merupakan sesuatu yang niscaya pula dan tidak bisa kita hindari. Keniscayaan tersebut dapat kita lihat dalam lintasan sejarah wacana intelektual Islam, bahkan sudah eksis sejak zaman Rasulullah dan sahabat.
Setidaknya terdapat tiga penyebab terjadinya stagnasi pemikiran atau kemandekan wacana intelektual, yaitu: faktor politik, intervensi penguasa
13 Untuk mengetahui secara rinci penjelasan al-Qaradhawi mengenai hal-hal semacam itu dapat dilihat dalam Yusuf al-Qaradhawi, Shahwah Islamiyah bain al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madzmum, Cet. IV, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1995), khususnya pp. 34-38, kritik terhadap hadis mengenai perpecahan umat Islam ke dalam 73 golongan.
atau rezim dan lemahnya daya tawar ulama’ atau kaum intelektual dalam menghadapi pressur penguasa.
Dalam upaya menciptakan suatu iklim pemikiran yang toleran, terdapat beberapa kendala yang harus diantisipasi, karena akan membawa dampak yang serius bagi keberhasilan proyek tersebut. Di antara kendala-kendala dan dampak-dampak yang akan ditimbulkan, antara lain: Pertama, hilangnya obyektifitas pemikiran. Kedua, munculnya dualisme pemikiran; Islam dan Barat. Ketiga, kecenderungan eksklusifisme.
Dinamika pemikiran Islam kontemporer akan terus berkibar dalam ranah perkembangan pemikiran. Hal ini setidaknya, didasarkan pada tiga kerangka fundamental, yaitu tradisi masa lalu yang tertancap dalam diri umat Islam, tradisi Barat yang mulai masuk ke dunia Islam dan telah melahirkan modernisasi pemikiran Islam, seperti reformasi keagamaan, liberalisme dan pemikiran ilmiah-rasional, dan realitas dunia Islam kontemporer.
Adapun langkah-langkah yang harus dipersiapkan bagi terciptanya iklim wacana intelektual yang toleran, di antaranya adalah dengan membudayakan semangat toleransi atau qabul al-akhar. Dalam tataran konseptual, terdapat setidaknya dua cara yang harus ditempuh dalam upaya mewujudkan budaya toleransi berpikir; yaitu dalam skala personal dan skala kolektif. Dalam hal ini, perlu diciptakan ekualibrium dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Daftar Pustaka
al-Dimasyqi, Imad ad-Din Abu al-Fida’ Isma’il bin Kasir al-Qursyi, Tafsir
al-Qur’an al-‘Azim, juz IV, Cet. II, Beirut: Dar al-Fikr, 1983.
al-Jauziyah, Ibn al-Qayyim, I’lam al-Muwaqi’in, juz I, Mesir: Mathba’ah Sa’adah, t.t.
al-Kandahlawi, Hayat al-Shahabah, juz II, Beirut: Dar al-Fikr, 1981.
al-Madani, Syaikh Muhammad Muhammad, Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah
al-Madzahib al-Islamiyah, Teheran: Waul al-Wahdah al-Islamiyah,
1404 H.
al-Qardhawi, Yusuf, Shahwah Islamiyah bain Ikhtilaf Masyru’ wa
al-Tafarruq al-Madzmum, Cet. IV, Beirut: Muassasah al-Risalah, t.t.
an-Naisaburi, Abi Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Şahih Muslim, juz II, Bairut: Dar al-Fikr, 1992.
as-Suyuti, Abd ar-Rahman bin al-Kamal Jalal ad-Din as-, Tafsir Durr al-Mansur fi Tafsir al-Ma’sur, juz IV dan juz VI, Cet. I, Bairut: Dar al-Fikr, 1983.
Hanafi, Hasan, al-Fikr al-‘Arai al-Mu’asir: al-Juzur wa al-Simar, Jurnal Qadhaya Fikriyah, vol. XV-XVI; Juni-Juli, 1995.
Hanna, Milad, Qabul al-Akhar , Cet. II, Kairo: Dar al-Syuruq, 1999. Imarah, Muhammad, Al-Islam Bayn Tanwir wa al-Tazwir, Kairo: Dar
al-Syuruq, 1995.
Karim, Khalil ‘Abdul, Min Afat al-Fikr al-‘Araby al-Islamy al-Mu’ashir:
Dirasah Naqdiyah, dalam Jurnal al-Qadhaya Fikriyah, vol. 15-16,
Juni-Juli, 1996.
Thawana, Musa, Al-Ijtihad: wa Madza Hajatuna ilaih fi Hadza al-‘Ashr,