• Tidak ada hasil yang ditemukan

silabus-pai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "silabus-pai"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN

PANDUAN

PENGEMBANGAN SILABUS

PENGEMBANGAN SILABUS

MATA PELAJARAN

MATA PELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

(2)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah

memberikan bimbingan-Nya sehingga buku Panduan Pengembangan Silabus

memberikan bimbingan-Nya sehingga buku Panduan Pengembangan Silabus

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama ini

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama ini

dapat terwujud. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tanpa taufiq, hidayah,

dapat terwujud. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tanpa taufiq, hidayah,

serta bimbingan-Nya tugas mulia ini tidak dapat terselesaikan dengan baik.

serta bimbingan-Nya tugas mulia ini tidak dapat terselesaikan dengan baik.

Buku Panduan Pengembangan Silabus untuk Mata Pelajaran PAI bagi

Buku Panduan Pengembangan Silabus untuk Mata Pelajaran PAI bagi

siswa SMP ini disusun dengan tujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi para

siswa SMP ini disusun dengan tujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi para

guru dalam mengembangkan silabus PAI di sekolahnya masing-masing. Oleh

guru dalam mengembangkan silabus PAI di sekolahnya masing-masing. Oleh

karena itu, buku panduan pengembangan silabus ini disajikan dengan bahasa

karena itu, buku panduan pengembangan silabus ini disajikan dengan bahasa

yang sederhana dan banyak diberikan contoh agar mudah dipahami oleh para

yang sederhana dan banyak diberikan contoh agar mudah dipahami oleh para

guru.

guru.

Panduan ini menyajikan petunjuk bagaimana menjabarkan indikator dari

Panduan ini menyajikan petunjuk bagaimana menjabarkan indikator dari

standar kompetensi, merumuskan materi pokok/pembelajaran, menentukan

standar kompetensi, merumuskan materi pokok/pembelajaran, menentukan

kegiatan pembelajaran, menentukan sistem penilaian yang pas, menentukan

kegiatan pembelajaran, menentukan sistem penilaian yang pas, menentukan

alokasi waktu pembelajaran, dan sumber belajar. Oleh karena itu, dengan

alokasi waktu pembelajaran, dan sumber belajar. Oleh karena itu, dengan

memelajari buku panduan ini diharapkan para guru Mata Pelajaran PAI dapat

memelajari buku panduan ini diharapkan para guru Mata Pelajaran PAI dapat

mengembangkannya dengan berbagai variasi yang dapat disesuaikan dengan

mengembangkannya dengan berbagai variasi yang dapat disesuaikan dengan

situasi dan kondisi di sekolah masing-masing. Para guru PAI juga diharapkan

situasi dan kondisi di sekolah masing-masing. Para guru PAI juga diharapkan

dapat memberikan evaluasi dan komentar serta masukan-masukan yang

dapat memberikan evaluasi dan komentar serta masukan-masukan yang

berarti, terutama jika buku panduan ini masih kurang memadai.

berarti, terutama jika buku panduan ini masih kurang memadai.

Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih

Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih

kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi besar demi terwujudnya

kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi besar demi terwujudnya

buku Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran PAI ini. Semoga buku

buku Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran PAI ini. Semoga buku

panduan ini bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan nasional di

panduan ini bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan nasional di

Indonesia.

Indonesia.

Jakarta,

Jakarta, Juni

Juni 2006

2006

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

hlm

hlm

KATA PENGANTAR ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR ISI ...

I.

I. PENDAHULUAN

PENDAHULUAN ...

...

...

A. Latar Belakang ...

A. Latar Belakang ...

B. Karakteristik Mata Pelajaran ...

B. Karakteristik Mata Pelajaran ...

C. Karakteristik Peserta Didik ...

C. Karakteristik Peserta Didik ...

1. Perkembangan Aspek Kognitif ...

1. Perkembangan Aspek Kognitif ...

2. Perkembangan Aspek Psikomotor ...

2. Perkembangan Aspek Psikomotor ...

3. Perkembangan Aspek Afektif ...

3. Perkembangan Aspek Afektif ...

II.

II. PENGERTIAN, PRINSIP,

PENGERTIAN, PRINSIP, DAN T

DAN TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN

AHAP-TAHAP PENGEMBANGAN

SILABUS ...

SILABUS ...

A.

A. Pengertian

Pengertian Silabus

Silabus ...

...

...

B. Pengembang Silabus ...

B. Pengembang Silabus ...

C. Prinsip Pengembangan Silabus ...

C. Prinsip Pengembangan Silabus ...

D. Tahap-tahap Pengembangan Silabus ...

D. Tahap-tahap Pengembangan Silabus ...

III.

III. KOMPONEN D

KOMPONEN DAN

AN LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

SILABUS ...

SILABUS ...

A. Komponen Silabus ...

A. Komponen Silabus ...

B. Langkah-langkah Pengembangan Silabus ...

B. Langkah-langkah Pengembangan Silabus ...

1. Mengisi Identitas Silabus ,,...

1. Mengisi Identitas Silabus ,,...

2. Menuliskan Standar Kompetensi ...

2. Menuliskan Standar Kompetensi ...

3. Menuliskan Kompetensi Dasar ...

3. Menuliskan Kompetensi Dasar ...

4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran ...

4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran ...

5. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran ...

5. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran ...

6.

6. Merumuskan

Merumuskan Indikator

Indikator ...

...

...

7.

7. Penilaian

Penilaian ...

...

...

8. Menentukan Alokasi Waktu ...

8. Menentukan Alokasi Waktu ...

9. Menentukan Sumber Belajar...

9. Menentukan Sumber Belajar...

IV.

IV. PENUTUP

PENUTUP ...

...

...

DAFTAR PUSTAKA ...

DAFTAR PUSTAKA ...

GLOSARIUM ...

GLOSARIUM ...

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1.

1. Daftar

Daftar Kata

Kata Kerja

Kerja Operasional

Operasional pada

pada Penyusunan

Penyusunan Standar

Standar

Kompetensi dan

Kompetensi dan Kompetensi

Kompetensi dasar

dasar ...

...

....

2.

2. Kompetensi

Kompetensi dan

dan Kompetensi

Kompetensi Dasar

Dasar PAI

PAI di

di SMP

SMP ...

...

3.

3. Contoh Silabus

Contoh Silabus Mata Pelajaran

Mata Pelajaran Pendidikan Agama

Pendidikan Agama Islam ...

Islam ...

iiii

iii

iii

1

1

1

1

2

2

3

3

4

4

5

5

6

6

8

8

8

8

8

8

9

9

10

10

11

11

11

11

13

13

13

13

13

13

13

13

14

14

14

14

15

15

16

16

18

18

18

18

19

19

19

19

21

21

24

24

25

25

31

31

(4)

I. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

A. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV

Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak

Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak

mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai

mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat

(1) juga menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan

(1) juga menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan

layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang

layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang

bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya

bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang

Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi semakin

Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi semakin

besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem baru dalam

besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem baru dalam

penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung sentralistik menjadi lebih

penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung sentralistik menjadi lebih

desentralistik.

desentralistik.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan

terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan

terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan

dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau

dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau

daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk

daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk

merancang dan menentukan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,

merancang dan menentukan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,

dan penilaian hasil pembelajaran.

dan penilaian hasil pembelajaran.

Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan

Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan

yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan

yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan

oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun kurikulum tingkat satuan

oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun kurikulum tingkat satuan

pendidikan (KTSP) yang terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan,

pendidikan (KTSP) yang terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan,

struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, dan silabus dengan cara

struktur dan muatan KTSP, kalender pendidikan, dan silabus dengan cara

melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi yang ditetapkan dengan

melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi yang ditetapkan dengan

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan yang

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan yang

ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.

ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan dijelaskan:

Pendidikan dijelaskan:

1.

1. Sekolah dan

Sekolah dan komite

komite sekolah,

sekolah, atau madras

atau madrasah dan

ah dan komite

komite madrasah,

madrasah,

mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya

mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya

berdasar-kan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah

kan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah

supervisi Dinas Kabupaten/Kota yang bertangung jawab terhadap pendidikan

supervisi Dinas Kabupaten/Kota yang bertangung jawab terhadap pendidikan

untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan

untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan

pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK ( Pasal 17 Ayat 2).

pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK ( Pasal 17 Ayat 2).

2. Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanan

2. Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanan

pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi

pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi

ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal

ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal

20).

(5)

Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang luas

Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang luas

untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelengaraan

untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelengaraan

pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi

pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi

siswa. Untuk keperluan di atas, perlu adanya panduan pengembangan silabus untuk

siswa. Untuk keperluan di atas, perlu adanya panduan pengembangan silabus untuk

setiap mata pelajaran, agar daerah atau sekolah tidak mengalami kesulitan.

setiap mata pelajaran, agar daerah atau sekolah tidak mengalami kesulitan.

B.

B. Karakteristi

Karakteristik Mata

k Mata Pelajaran Pendidikan A

Pelajaran Pendidikan Agama Islam

gama Islam

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat

membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran

membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Adapun karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah sebagai berikut:

Adapun karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah sebagai berikut:

1.

1. PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari

PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok

ajaran-ajaran pokok

(dasar) yang terdapat dalam agama Islam, sehingga PAI merupakan bagian

(dasar) yang terdapat dalam agama Islam, sehingga PAI merupakan bagian

yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam.

yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam.

2.

2. Ditinjau dari segi muatan pendidikanny

Ditinjau dari segi muatan pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran

a, PAI merupakan mata pelajaran pokok

pokok

yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata

yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata

pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian

pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian

peserta didik. Semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring

peserta didik. Semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring

dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.

dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.

3.

3. Diberikannya mata

Diberikannya mata pelajaran PAI,

pelajaran PAI, khususnya di SMP,

khususnya di SMP, bertujuan untuk

bertujuan untuk

terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.,

terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.,

berbudi pekerti yang luhur (berakhlak yang mulia), dan memiliki pengetahuan

berbudi pekerti yang luhur (berakhlak yang mulia), dan memiliki pengetahuan

yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam

yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam

lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu

lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu

atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang

atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang

mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.

mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.

4.

4. PAI adalah mata pelajaran yang

PAI adalah mata pelajaran yang tidak hanya

tidak hanya mengantarkan peserta didik dapa

mengantarkan peserta didik dapatt

menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana

menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana

peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat

peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

Dengan demikian, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi

Dengan demikian, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi

yang lebih penting adalah pada aspek afektif dan psikomotornya.

yang lebih penting adalah pada aspek afektif dan psikomotornya.

5.

5. Secara umum mata pelajaran PAI didasarkan

Secara umum mata pelajaran PAI didasarkan pada ketentuan-ketentuan

pada ketentuan-ketentuan yang

yang

ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Quran dan

ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Quran dan

al-Sunnah/al-Hadits Nabi Muhammad Saw. (dalil

Hadits Nabi Muhammad Saw. (dalil

naqli 

naqli 

). Dengan melalui metode Ijtihad (dalil

). Dengan melalui metode Ijtihad (dalil

aqli 

aqli 

) para ulama mengembangkan prinsip-prinsip PAI tersebut dengan lebih rinci

) para ulama mengembangkan prinsip-prinsip PAI tersebut dengan lebih rinci

dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil ijtihad lainnya.

dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil ijtihad lainnya.

6.

6. Prinsip-prinsip dasar PAI

Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga

tertuang dalam tiga kerangka dasar

kerangka dasar ajaran Islam, ya

ajaran Islam, yaitu

itu

aqidah, syariah, dan akhlak. Aqidah merupakan penjabaran dari konsep

aqidah, syariah, dan akhlak. Aqidah merupakan penjabaran dari konsep

iman 

iman 

;;

syariah merupakan penjabaran dari konsep

syariah merupakan penjabaran dari konsep

islam 

islam 

, syariah memiliki dua dimensi

, syariah memiliki dua dimensi

kajian pokok, yaitu ibadah dan muamalah, dan akhlak merupakan penjabaran

kajian pokok, yaitu ibadah dan muamalah, dan akhlak merupakan penjabaran

(6)

keislaman (ilmu-ilmu agama) seperti Ilmu Kalam (Theologi Islam, Ushuluddin,

keislaman (ilmu-ilmu agama) seperti Ilmu Kalam (Theologi Islam, Ushuluddin,

Ilmu Tauhid) yang merupakan pengembangan dari aqidah, Ilmu Fiqih yang

Ilmu Tauhid) yang merupakan pengembangan dari aqidah, Ilmu Fiqih yang

merupakan pengembangan dari syariah, dan Ilmu Akhlak (Etika Islam, Moralitas

merupakan pengembangan dari syariah, dan Ilmu Akhlak (Etika Islam, Moralitas

Islam) yang merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajian-kajian yang

Islam) yang merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajian-kajian yang

terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya yang dapat dituangkan

terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya yang dapat dituangkan

dalam berbagai mata pelajaran di SMP.

dalam berbagai mata pelajaran di SMP.

7.

7. Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI di

Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI di SMP adalah terbentukny

SMP adalah terbentuknya peserta didik

a peserta didik

yang memiliki akhlak yang mulia (budi pekerti yang luhur). Tujuan ini yang

yang memiliki akhlak yang mulia (budi pekerti yang luhur). Tujuan ini yang

sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw. di dunia.

sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw. di dunia.

Dengan demikian, pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah jiwa Pendidikan

Dengan demikian, pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah jiwa Pendidikan

Agama Islam (PAI). Mencapai akhlak yang

Agama Islam (PAI). Mencapai akhlak yang

karimah 

karimah 

(mulia) adalah tujuan

(mulia) adalah tujuan

sebenarnya dari pendidikan. Hal ini tidak berarti bahwa pendidikan Islam tidak

sebenarnya dari pendidikan. Hal ini tidak berarti bahwa pendidikan Islam tidak

memerhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu, ataupun segi-segi praktis lainnya,

memerhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu, ataupun segi-segi praktis lainnya,

tetapi maksudnya adalah bahwa pendidikan Islam memerhatikan segi-segi

tetapi maksudnya adalah bahwa pendidikan Islam memerhatikan segi-segi

pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya. Peserta didik membutuhkan

pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya. Peserta didik membutuhkan

kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, tetapi mereka juga membutuhkan

kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, tetapi mereka juga membutuhkan

pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian. Sejalan

pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian. Sejalan

dengan konsep ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan

dengan konsep ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan

kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan

kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan

setiap guru haruslah memerhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.

setiap guru haruslah memerhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.

8.

8. PAI merupakan mata pelajaran w

PAI merupakan mata pelajaran wajib yang

ajib yang harus diikuti oleh

harus diikuti oleh setiap peserta didik,

setiap peserta didik,

terutama yang beragama Islam, atau bagi yang beragama lain yang didasari

terutama yang beragama Islam, atau bagi yang beragama lain yang didasari

dengan kesadaran yang tulus dalam mengikutinya.

dengan kesadaran yang tulus dalam mengikutinya.

Itulah gambaran tentang karakteristik Pendidian Agama Islam (PAI) pada umumnya

Itulah gambaran tentang karakteristik Pendidian Agama Islam (PAI) pada umumnya

dan mata pelajaran PAI di SMP pada khususnya yang dapat dikembangkan oleh

dan mata pelajaran PAI di SMP pada khususnya yang dapat dikembangkan oleh

para guru PAI dengan variasi-variasi tertentu, selama tidak menyimpang dari

para guru PAI dengan variasi-variasi tertentu, selama tidak menyimpang dari

karakteristik umum ini. Dengan berpedoman kepada panduan ini, para guru PAI

karakteristik umum ini. Dengan berpedoman kepada panduan ini, para guru PAI

atau sekolah diharapkan dapat melakukan pengembangan silabus mata pelajaran

atau sekolah diharapkan dapat melakukan pengembangan silabus mata pelajaran

PAI di SMP dengan mudah dan variatif.

PAI di SMP dengan mudah dan variatif.

C.

C. Karakteristi

Karakteristik

k Peserta

Peserta Didik

Didik

Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai

Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai

perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan

perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan

dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, dan papan), kebutuhan akan rasa

dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, dan papan), kebutuhan akan rasa

aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk

aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk

mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya).

mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya).

Dalam tahap perkembangannya, siswa SMP berada pada tahap periode

Dalam tahap perkembangannya, siswa SMP berada pada tahap periode

perkembangan yang sangat pesat, dari segala aspek. Berikut ini disajikan

perkembangan yang sangat pesat, dari segala aspek. Berikut ini disajikan

perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu

perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu

perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.

(7)

1.

1. Perkembangan

Perkembangan Aspek

Aspek Kognitif

Kognitif

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang

lebih kurang sama dengan usia siswa SMP, merupakan

lebih kurang sama dengan usia siswa SMP, merupakan

‘period of formal 

‘period of formal 

operation’ 

operation’ 

. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan

. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan

berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna

berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna

((meaningfully 

meaningfully 

) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang

) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang

visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya

visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya

dalam

dalam pembelajaran PAI

pembelajaran PAI bahwa

bahwa belajar

belajar akan

akan bermakna

bermakna kalau

kalau

input 

input 

(materi

(materi

pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pembelajaran PAI akan

pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pembelajaran PAI akan

berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat

berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat

kesulitan dan variasi

kesulitan dan variasi

input 

input 

dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga

dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga

motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.

motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.

Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam

Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam

Multiple Intelligences 

Multiple Intelligences 

yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: 1)

yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: 1)

kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), 2) kecerdasan

kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), 2) kecerdasan

logis-matematis

(kemampuan

berfikir

runtut),

3)

kecerdasan

musikal

logis-matematis

(kemampuan

berfikir

runtut),

3)

kecerdasan

musikal

(kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), 4) kecerdasan

(kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), 4) kecerdasan

spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), 5) kecerdasan

spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), 5) kecerdasan

kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), 6)

kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), 6)

kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan

kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan

mengembangkan rasa jati diri), dan 7) kecerdasan antar pribadi (kemampuan

mengembangkan rasa jati diri), dan 7) kecerdasan antar pribadi (kemampuan

memahami orang lain). Di antara ketujuh macam kecerdasan ini sesuai dengan

memahami orang lain). Di antara ketujuh macam kecerdasan ini sesuai dengan

karakteristik keilmuan PAI akan dapat berkembang pesat dan bila dapat

karakteristik keilmuan PAI akan dapat berkembang pesat dan bila dapat

dimanfaatkan oleh guru PAI untuk berlatih mengeksplorasi gejala alam, baik

dimanfaatkan oleh guru PAI untuk berlatih mengeksplorasi gejala alam, baik

gejala kebendaan maupun gejala kejadian/peristiwa guna membangun konsep

gejala kebendaan maupun gejala kejadian/peristiwa guna membangun konsep

PAI.

PAI.

Ada perbedaan perkembangan berpikir bagi anak di usia SD dan di usia SMP.

Ada perbedaan perkembangan berpikir bagi anak di usia SD dan di usia SMP.

Untuk melihat perbedaan perkembangan berpikir kognitif pada masa SD dan

Untuk melihat perbedaan perkembangan berpikir kognitif pada masa SD dan

SMP dapat diperhatikan ilustrasi berikut. Pada periode konkrit (usia SD), anak

SMP dapat diperhatikan ilustrasi berikut. Pada periode konkrit (usia SD), anak

mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim,

mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim,

sedangkan remaja (usia SMP) mungkin mengartikannya secara lebih abstrak,

sedangkan remaja (usia SMP) mungkin mengartikannya secara lebih abstrak,

yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga

yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga

masyarakatnya. Terkait dengan mata pelajaran PAI, dalam masalah aqidah

masyarakatnya. Terkait dengan mata pelajaran PAI, dalam masalah aqidah

seperti mengimani adanya Allah, pada anak usia SD mungkin dipahami

seperti mengimani adanya Allah, pada anak usia SD mungkin dipahami

sebagaimana adanya alam semesta, termasuk manusia. Sementara itu pada

sebagaimana adanya alam semesta, termasuk manusia. Sementara itu pada

anak usia SMP, mengimani adanya Allah tidak cukup meyakini kalau Allah itu

anak usia SMP, mengimani adanya Allah tidak cukup meyakini kalau Allah itu

ada, tetapi harus dikembangkan sampai ke pemahaman yang lebih abstrak.

ada, tetapi harus dikembangkan sampai ke pemahaman yang lebih abstrak.

Artinya, meskipun Allah itu ada sebagaimana alam semesta, tetapi keadaannya

Artinya, meskipun Allah itu ada sebagaimana alam semesta, tetapi keadaannya

sangat berbeda. Adanya Allah tidak dapat dilihat sebagaimana alam semesta,

sangat berbeda. Adanya Allah tidak dapat dilihat sebagaimana alam semesta,

karena Allah bersifat Maha Ghaib. Argumen-argumen harus dikemukakan untuk

karena Allah bersifat Maha Ghaib. Argumen-argumen harus dikemukakan untuk

mendukung pendapat atau ide-ide yang diberikan. Anak sudah mulai diajak

mendukung pendapat atau ide-ide yang diberikan. Anak sudah mulai diajak

berpikir logis dalam memahami konsep-konsep ajaran Islam, meskipun masih

berpikir logis dalam memahami konsep-konsep ajaran Islam, meskipun masih

(8)

2.

2. Perkembangan

Perkembangan Aspek

Aspek Psikomotor

Psikomotor

Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui

Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui

oleh guru. Perkembangan aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap.

oleh guru. Perkembangan aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap.

Tahap-tahap tersebut antara lain:

Tahap-tahap tersebut antara lain:

a.

a. Tahap

Tahap kognitif

kognitif

Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat.

Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat.

Ini terjadi karena siswa masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan

Ini terjadi karena siswa masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan

gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan suatu gerakan.

gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan suatu gerakan.

Pada tahap ini siswa sering membuat kesalahan dan kadang-kadang terjadi

Pada tahap ini siswa sering membuat kesalahan dan kadang-kadang terjadi

tingkat frustrasi yang tinggi.

tingkat frustrasi yang tinggi.

b. Tahap asosiatif

b. Tahap asosiatif

Pada tahap ini, seorang siswa membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk

Pada tahap ini, seorang siswa membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk

memikirkan gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan

memikirkan gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan

yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal. Tahap ini

yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal. Tahap ini

masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan psikomotor. Oleh

masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan psikomotor. Oleh

karena itu, gerakan pada tahap ini belum merupakan

karena itu, gerakan pada tahap ini belum merupakan

gerakan-gerakan yang sifatnya otomatis. Pada tahap ini, seorang siswa masih

gerakan yang sifatnya otomatis. Pada tahap ini, seorang siswa masih

menggunakan pikirannya untuk melakukan suatu gerakan tetapi waktu yang

menggunakan pikirannya untuk melakukan suatu gerakan tetapi waktu yang

diperlukan untuk berpikir lebih sedikit dibanding pada waktu dia berada pada

diperlukan untuk berpikir lebih sedikit dibanding pada waktu dia berada pada

tahap kognitif. Dan karena waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih pendek,

tahap kognitif. Dan karena waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih pendek,

gerakan-gerakannya sudah mulai tidak kaku.

gerakan-gerakannya sudah mulai tidak kaku.

c. Tahap otonomi

c. Tahap otonomi

Pada tahap ini, seorang siswa telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi.

Pada tahap ini, seorang siswa telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi.

Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat

Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat

memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap

memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap

otonomi karena siswa sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk

otonomi karena siswa sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk

melakukan gerakan-gerakan. Pada tahap ini, gerakan-gerakan telah

melakukan gerakan-gerakan. Pada tahap ini, gerakan-gerakan telah

dilakukan secara spontan dan oleh karenanya gerakan-gerakan yang

dilakukan secara spontan dan oleh karenanya gerakan-gerakan yang

dilakukan juga tidak mengharuskan pembelajar untuk berpikir tentang

dilakukan juga tidak mengharuskan pembelajar untuk berpikir tentang

gerakannya.

gerakannya.

Perkembangan aspek psikomotor pada anak usia SMP sebenarnya tidak jauh

Perkembangan aspek psikomotor pada anak usia SMP sebenarnya tidak jauh

berbeda dengan perkembangan pada anak usia SD, karena usia SMP

berbeda dengan perkembangan pada anak usia SD, karena usia SMP

merupakan kelanjutan dari usia SD. Perkembangan psikomotor pada anak usia

merupakan kelanjutan dari usia SD. Perkembangan psikomotor pada anak usia

SD sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras

SD sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras

dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak

dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak

atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia SD merupakan masa

atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia SD merupakan masa

yang ideal untuk belajar keterampilan. Begitu juga pada masa SMP keterampilan

yang ideal untuk belajar keterampilan. Begitu juga pada masa SMP keterampilan

anak semakin berkembang dengan baik, sehingga dapat dijadikan pijakan untuk

anak semakin berkembang dengan baik, sehingga dapat dijadikan pijakan untuk

menentukan pilihan yang akan ditekuninya di usia selanjutnya.

(9)

kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun ketrampilan.

kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun ketrampilan.

Oleh karena itu, perkembangan psikomotor sangat menunjang keberhasilan

Oleh karena itu, perkembangan psikomotor sangat menunjang keberhasilan

perserta didik. Pada masa usia SMP perkembangan psikomotor ini pada

perserta didik. Pada masa usia SMP perkembangan psikomotor ini pada

umumnya sudah dicapainya dan untuk selanjutnya dikembangkannya.

umumnya sudah dicapainya dan untuk selanjutnya dikembangkannya.

Pertumbuhan

fisik,

terutama

organ-organ

seksual,

memengaruhi

Pertumbuhan

fisik,

terutama

organ-organ

seksual,

memengaruhi

berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru

berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru

yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk

yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk

berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Pada usia SMP (remaja awal)

berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Pada usia SMP (remaja awal)

perkembangan emosi anak menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang

perkembangan emosi anak menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang

sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat

sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat

negatif dan temperamental (mudah tersinggung/marah, atau mudah sedih). Oleh

negatif dan temperamental (mudah tersinggung/marah, atau mudah sedih). Oleh

karena itu, mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan

karena itu, mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan

yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh

yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh

kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan

kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan

kelompok teman sebaya.

kelompok teman sebaya.

Dalam hubungan persahabatan, anak remaja memilih teman yang memiliki

Dalam hubungan persahabatan, anak remaja memilih teman yang memiliki

kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes,

kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes,

sikap, nilai, dan kepribadian. Pada masa ini berkembang sikap “

sikap, nilai, dan kepribadian. Pada masa ini berkembang sikap “

conformity 

conformity 

”,

”,

yaitu kecenderungtan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,

yaitu kecenderungtan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,

kebiasaan, kegemaran (hobi) atau keinginan orang lain (teman sebaya)

kebiasaan, kegemaran (hobi) atau keinginan orang lain (teman sebaya)

perkembangan konformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif

perkembangan konformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif

maupun yang negatif bagi dirinya. Jika temannya menampilkan sikap dan

maupun yang negatif bagi dirinya. Jika temannya menampilkan sikap dan

perilaku yang agamis seperti taat beribadah, berakhlak yang mulia, dan aktif

perilaku yang agamis seperti taat beribadah, berakhlak yang mulia, dan aktif

dalam kegiatan sosial, maka kemungikinan besar remaja tersebut akan

dalam kegiatan sosial, maka kemungikinan besar remaja tersebut akan

berpenampilan baik seperti temannya. Sebaliknya, jika temannya berpenampilan

berpenampilan baik seperti temannya. Sebaliknya, jika temannya berpenampilan

tidak baik, dia pun akan seperti temannya tersebut.

tidak baik, dia pun akan seperti temannya tersebut.

Di sinilah peran PAI dan guru PAI dalam rangka mengantarkan anak untuk

Di sinilah peran PAI dan guru PAI dalam rangka mengantarkan anak untuk

menata perkembangan emosinya dengan baik sehingga dia memiliki sikap dan

menata perkembangan emosinya dengan baik sehingga dia memiliki sikap dan

perilaku yang religius seperti yang dikemukakan di atas. Materi PAI diharapkan

perilaku yang religius seperti yang dikemukakan di atas. Materi PAI diharapkan

dapat memberi pemahaman dan pengamalan (perilaku) keagamaan anak

dapat memberi pemahaman dan pengamalan (perilaku) keagamaan anak

sehingga ketika memasuki masa

sehingga ketika memasuki masa

mukallaf 

mukallaf 

(baligh/dewasa) anak sudah siap dan

(baligh/dewasa) anak sudah siap dan

tidak lagi mulai belajar menapakinya, tetapi sudah memasukinya dengan bekal

tidak lagi mulai belajar menapakinya, tetapi sudah memasukinya dengan bekal

pemahaman dan perilaku keagamaan yang baik.

pemahaman dan perilaku keagamaan yang baik.

3.

3. Perkembangan

Perkembangan Aspek

Aspek Afektif

Afektif

Perkembangan aspek afektif anak pada usia SMP tidak berbeda dengan

Perkembangan aspek afektif anak pada usia SMP tidak berbeda dengan

perkembangannya pada aspek psikomotornya. Kedua aspek ini terkait erat

perkembangannya pada aspek psikomotornya. Kedua aspek ini terkait erat

sehingga perkembangannya selalu seiring dan sejalan. Sikap dan perilaku

sehingga perkembangannya selalu seiring dan sejalan. Sikap dan perilaku

teman (terutama teman sebaya) dan lingkungan masyarakatnya sangat

teman (terutama teman sebaya) dan lingkungan masyarakatnya sangat

mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak.

mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak.

Perkembangan aspek afektif anak juga terkait erat dengan perkembangan

Perkembangan aspek afektif anak juga terkait erat dengan perkembangan

kepribadian anak. Fase remaja merupakan saat yang paling penting bagi

kepribadian anak. Fase remaja merupakan saat yang paling penting bagi

(10)

sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa.

sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa.

Perkembangan identitas masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya

Perkembangan identitas masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya

terhadap okupasi (pekerjaan, jabatan, kesibukan) masa depan, peran-peran

terhadap okupasi (pekerjaan, jabatan, kesibukan) masa depan, peran-peran

masa dewasa, dan sistem keyakinan pribadi.

masa dewasa, dan sistem keyakinan pribadi.

Perkembangan identitas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya

Perkembangan identitas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya

adalah: 1) iklim keluarga, yaitu yang berkaitan dengan interaksi sosio-emosional

adalah: 1) iklim keluarga, yaitu yang berkaitan dengan interaksi sosio-emosional

antar anggota keluarga serta sikap dan perilaku orang tua terhadap anak; 2)

antar anggota keluarga serta sikap dan perilaku orang tua terhadap anak; 2)

tokoh idola, yaitu orang-orang yang dipersepsi oleh remaja sebagai figur yang

tokoh idola, yaitu orang-orang yang dipersepsi oleh remaja sebagai figur yang

memiliki posisi di masyarakat; dan 3) peluang pengembangan diri, yaitu

memiliki posisi di masyarakat; dan 3) peluang pengembangan diri, yaitu

kesempatan untuk melihat ke depan dan menguji dirinya dalam

kesempatan untuk melihat ke depan dan menguji dirinya dalam

setting 

setting (adegan)

(adegan)

kehidupan yang beragam.

kehidupan yang beragam.

Pengalaman sejak masa kecil yang penuh konflik atau frustrasi dan kurang

Pengalaman sejak masa kecil yang penuh konflik atau frustrasi dan kurang

mendapat bimbingan keagamaan (akhlak yang mulia) akan berdampak kurang

mendapat bimbingan keagamaan (akhlak yang mulia) akan berdampak kurang

baik bagi perkembangan remaja. Sebaliknya, pengalaman yang menyenangkan

baik bagi perkembangan remaja. Sebaliknya, pengalaman yang menyenangkan

akan mempengaruhi sifat-sifat pribadi yang taat beragama dan tidak melampaui

akan mempengaruhi sifat-sifat pribadi yang taat beragama dan tidak melampaui

batas.

batas.

Pada masa remaja terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga

Pada masa remaja terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga

memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran.

memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran.

Bahkan keyakinan agama yang telah tumbuh pada masa sebelumnya, mungkin

Bahkan keyakinan agama yang telah tumbuh pada masa sebelumnya, mungkin

pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang

pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang

sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada

sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada

cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.

cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.

Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul

Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul

keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual (seperti

keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual (seperti

shalat) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.

shalat) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.

Kegoncangan dalam keagamaan remaja mungkin muncul disebabkan oleh

Kegoncangan dalam keagamaan remaja mungkin muncul disebabkan oleh

faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya

faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya

organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut,

organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut,

meskipun dia tahu bahwa perbuatannya dilarang oleh agama. Faktor lainnya

meskipun dia tahu bahwa perbuatannya dilarang oleh agama. Faktor lainnya

adalah sikap independen, ingin bebas, dan tidak mau terikat oleh norma-norma

adalah sikap independen, ingin bebas, dan tidak mau terikat oleh norma-norma

susila maupun agama. Apabila orang tua atau guru kurang memahami hal ini

susila maupun agama. Apabila orang tua atau guru kurang memahami hal ini

dan tidak mencoba mendekatinya secara baik, maka sikap remaja itu akan

dan tidak mencoba mendekatinya secara baik, maka sikap remaja itu akan

muncul dalam bentuk tingkah laku negatif, seperti membandel, oposisi,

muncul dalam bentuk tingkah laku negatif, seperti membandel, oposisi,

menentang, menyendiri, dan acuh takacuh.

menentang, menyendiri, dan acuh takacuh.

Adapun faktor eksternal terkait dengan perkembangan budaya dalam

Adapun faktor eksternal terkait dengan perkembangan budaya dalam

masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama seperti

masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama seperti

beredarnya film-film porno, minuman keras, sabu-sabu, dan lain-lain. Faktor

beredarnya film-film porno, minuman keras, sabu-sabu, dan lain-lain. Faktor

lainnya adalah sikap dan tingkah laku orang tua dan masyarakat sekitarnya yang

lainnya adalah sikap dan tingkah laku orang tua dan masyarakat sekitarnya yang

gaya hidupnya kurang mempedulikan nilai-nilai agama, amoral, dan sekuler. Jika

gaya hidupnya kurang mempedulikan nilai-nilai agama, amoral, dan sekuler. Jika

remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi

remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi

keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang kurang kasih sayang kepada

keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang kurang kasih sayang kepada

anak, dan berteman sebaya yang kurang peduli dengan nilai-nilai agama, maka

anak, dan berteman sebaya yang kurang peduli dengan nilai-nilai agama, maka

akan memicu berkembanganya sikap dan perilaku anak remaja yang kurang

akan memicu berkembanganya sikap dan perilaku anak remaja yang kurang

(11)

baik atau asusila, seperti pergaulan bebas, meminum minuman keras, mengisap

baik atau asusila, seperti pergaulan bebas, meminum minuman keras, mengisap

ganja, dan membuat onar di tengah masyarakat.

ganja, dan membuat onar di tengah masyarakat.

II.

II. PENGERTIAN,

PENGERTIAN, PRINSIP,

PRINSIP, DAN

DAN TAHAP-TAHA

TAHAP-TAHAP

P

PENGEMBANGA

PENGEMBANGAN

N SILABUS

SILABUS

A.

A. Pengertian

Pengertian Silabus

Silabus

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata

Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi

Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi

Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu,

Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu,

dan Sumber Belajar. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab

dan Sumber Belajar. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab

permasalahan-permasalahan sebagai berikut.

permasalahan-permasalahan sebagai berikut.

1.

1. Kompetensi apa saja

Kompetensi apa saja yang harus d

yang harus dicapai siswa sesuai dengan

icapai siswa sesuai dengan yang dirumuskan

yang dirumuskan

oleh

oleh Standar Isi

Standar Isi (Standar Kompetensi d

(Standar Kompetensi dan Kompetensi

an Kompetensi Dasar).

Dasar).

2.

2. Materi Pokok/Pembelajaran apa saja y

Materi Pokok/Pembelajaran apa saja yang perlu dibahas

ang perlu dibahas dan dipelajari peserta

dan dipelajari peserta

didik untuk mencapai Standar Isi.

didik untuk mencapai Standar Isi.

3.

3. Kegiatan Pembelajaran apa

Kegiatan Pembelajaran apa yang seharusnya

yang seharusnya diskenariokan oleh guru

diskenariokan oleh guru sehingga

sehingga

peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar.

peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar.

4.

4. Indikator apa saja yang

Indikator apa saja yang harus dirumuskan untuk mengetahui

harus dirumuskan untuk mengetahui ketercapaian KD

ketercapaian KD

dan SK.

dan SK.

5.

5. Bagaimanakah cara

Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian

mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan

kompetensi berdasarkan Indikator

Indikator

sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

6.

6. Berapa lama w

Berapa lama waktu yang

aktu yang diperlukan untuk mencapai

diperlukan untuk mencapai Standar Isi

Standar Isi tertentu.

tertentu.

7. Sumber Belajar apa yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi

7. Sumber Belajar apa yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi

tertentu.

tertentu.

B.

B. Pengembang

Pengembang Silabus

Silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau

berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah

berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah

Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan Dinas Pendidikan.

Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan Dinas Pendidikan.

1.

1. Sekolah

Sekolah dan

dan komite sekolah

komite sekolah

Pengembang silabus adalah sekolah bersama komite sekolah. Untuk

Pengembang silabus adalah sekolah bersama komite sekolah. Untuk

menghasilkan silabus yang bermutu, sekolah bersama komite sekolah dapat

menghasilkan silabus yang bermutu, sekolah bersama komite sekolah dapat

meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait

meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait

seperti Balitbang Depdiknas.

seperti Balitbang Depdiknas.

2.

2. Kelompok

Kelompok Sekolah

Sekolah

Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat

Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat

melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah

melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah

(12)

pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah

pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah

tersebut

tersebut

3.

3. Musyawarah Guru

Musyawarah Guru Mata Pelajaran

Mata Pelajaran (MGMP)

(MGMP)

Beberapa sekolah atau sekolah-sekolah dalam sebuah yayasan dapat

Beberapa sekolah atau sekolah-sekolah dalam sebuah yayasan dapat

bergabung untuk menyusun silabus. Hal ini dimungkinkan karena sekolah dan

bergabung untuk menyusun silabus. Hal ini dimungkinkan karena sekolah dan

komite sekolah karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan penyusunan

komite sekolah karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan penyusunan

silabus. Kelompok sekolah ini juga dapat meminta bimbingan teknis dari

silabus. Kelompok sekolah ini juga dapat meminta bimbingan teknis dari

perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas dalam

perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas dalam

menyusun silabus.

menyusun silabus.

4

4 Dinas

Dinas Pendidikan

Pendidikan

Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan

Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan

membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya

membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya

masing-masing.

masing-masing.

Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas

Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas

pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit

pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit

utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional

utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional

C.

C. Prinsip

Prinsip Pengembangan

Pengembangan Silabus

Silabus

1. Ilmiah

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus

benar dan dapat dipertangungjawabkan secara keilmuan.

benar dan dapat dipertangungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam

silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional,

silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional,

dan spiritual peserta didik.

dan spiritual peserta didik.

3. Sistematis

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam

mencapai kompetensi.

mencapai kompetensi.

4. Konsisten

4. Konsisten

Ada hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar,

Ada hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar,

indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar,

indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar,

dan sistem penilaian.

(13)

5. Memadai

5. Memadai

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber

belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi

belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi

dasar.

dasar.

6.

6. Aktual

Aktual dan

dan Kontekstual

Kontekstual

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan

sistem penilaian memerhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir

sistem penilaian memerhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir

dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibel

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik,

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik,

pendidikan, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan

pendidikan, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan

masyarakat. Sementara itu, materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau

masyarakat. Sementara itu, materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau

memerhatikan kultur daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar

memerhatikan kultur daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar

kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya.

kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya.

8. Menyeluruh

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif,

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif,

psikomotor).

psikomotor).

9. Desentralistik

9. Desentralistik

Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik. Maksudnya bahwa

Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik. Maksudnya bahwa

kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing,

kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing,

atau bahkan sekolah masing-masing.

atau bahkan sekolah masing-masing.

D.

D. Tahap-tahap

Tahap-tahap Pengembangan

Pengembangan Silabus

Silabus

1. Perencanaan

1. Perencanaan

Tim yang ditugaskan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu

Tim yang ditugaskan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu

mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakaan atau referensi yang

mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakaan atau referensi yang

sesuai untuk mengembangkan silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan

sesuai untuk mengembangkan silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan

dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi media

dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi media

dan internet.

dan internet.

2. Pelaksanaan

2. Pelaksanaan

Dalam melaksanakan penyusunan silabus, penyusun silabus perlu memahami

Dalam melaksanakan penyusunan silabus, penyusun silabus perlu memahami

semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus, seperti

semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus, seperti

Standar Isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan

Standar Isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

(14)

3. Perbaikan

3. Perbaikan

Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan

Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan

pembelajaran. Pengkajian dapat melibatkan para spesialis kurikulum, ahli mata

pembelajaran. Pengkajian dapat melibatkan para spesialis kurikulum, ahli mata

pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog, guru/instruktur, kepala

pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog, guru/instruktur, kepala

sekolah, pengawas, staf profesional dinas pendidikan, perwakilan orang tua

sekolah, pengawas, staf profesional dinas pendidikan, perwakilan orang tua

siswa, dan siswa itu sendiri.

siswa, dan siswa itu sendiri.

4. Pemantapan

4. Pemantapan

Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk

Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk

memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria rancangan silabus

memperbaiki buram awal. Apabila telah memenuhi kriteria rancangan silabus

dapat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan pihak-pihak

dapat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan pihak-pihak

yang berkepentingan lainnya.

yang berkepentingan lainnya.

5.

5. Penilaian

Penilaian silabus

silabus

Penilaian pelaksanaan silabus perlu dilakukan secara berkala dengan

Penilaian pelaksanaan silabus perlu dilakukan secara berkala dengan

mengunakaan model-model penilaian kurikulum.

mengunakaan model-model penilaian kurikulum.

III.

III. KOMPONEN

KOMPONEN DAN

DAN LANGKAH-LANGKA

LANGKAH-LANGKAH

H PENGEMBANGAN

PENGEMBANGAN

SILABUS

SILABUS

A. Komponen silabus

A. Komponen silabus

Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini.

Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini.

1.

1. Identitas

Identitas Silabus

Silabus

2.

2. Standar

Standar Kompentensi

Kompentensi

3.

3. Kompetensi

Kompetensi Dasar

Dasar

4.

4. Materi

Materi Pokok/Pembelajaran

Pokok/Pembelajaran

5.

5. Kegiatan

Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran

6. Indikator

6. Indikator

7. Penilaian

7. Penilaian

8.

8. Alokasi

Alokasi Waktu

Waktu

9.

9. Sumber

Sumber Belajar

Belajar

Komponen-komponen silabus di atas, selanjutnya dapat disajikan dalam contoh

Komponen-komponen silabus di atas, selanjutnya dapat disajikan dalam contoh

format silabus secara horisontal atau vertikal sebagai berikut.

format silabus secara horisontal atau vertikal sebagai berikut.

Format 1: Horizontal

Format 1: Horizontal

(15)

SILABUS

SILABUS

Sekolah

Sekolah

:

: SMP

SMP ...

...

Mata

Mata Pelajaran

Pelajaran

:

: ...

...

...

Kelas

Kelas

:

: ...

...

..

Semeste

Semester

r

:

: ...

...

..

Standar

Standar Kompetensi

Kompetensi

:

: 1...

1...

.. (2,

(2, 3,

3, dst.)

dst.)

Penilaian

Penilaian

Kompetensi

Kompetensi

Dasar 

Dasar 

Materi

Materi

Pokok/

Pokok/

Pembelajaran

Pembelajaran

Kegiatan

Kegiatan

Pembelajaran

Pembelajaran

Indikator 

Indikator  Teknik

Teknik

Bentuk

Bentuk

Instrumen

Instrumen

Contoh

Contoh

Instrumen

Instrumen

Alokasi

Alokasi

Waktu

Waktu

Sumber 

Sumber 

Belajar 

Belajar 

Format 2: Vertikal

Format 2: Vertikal

SILABUS

SILABUS

Sekolah

Sekolah

:

: SMP

SMP

Mata

Mata Pelajaran

Pelajaran

:

: ...

...

...

...

Kelas

Kelas

:

: ...

...

...

...

Semeste

Semester

r

:

: ...

...

...

...

1.

1. Standar

Standar Kompetensi

Kompetensi

:

: ...

...

...

...

2.

2. Kompetensi

Kompetensi Dasar

Dasar

:

: ...

...

...

...

3.

3. Materi

Materi Pokok/Pembelajaran

Pokok/Pembelajaran :

: ...

...

...

...

4.

Gambar

Tabel 1. Ragam Teknik Penilaian beserta Ragam Bentuk InstrumennyaTabel 1. Ragam Teknik Penilaian beserta Ragam Bentuk Instrumennya

Referensi

Dokumen terkait

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran,