• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh Sopyan Sauri Program Studi Diksatrasiada Universitas Mathla ul Anwar Banten

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh Sopyan Sauri Program Studi Diksatrasiada Universitas Mathla ul Anwar Banten"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI SOSIAL DALAM NOVEL HUJAN KARYA TERE LIYE SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KAJIAN PROSA PADA MAHASISWA PROGRAM

STUDI DIKSATRASIADA UNIVERSITAS MATHLA’UL ANWAR BANTEN Oleh

Sopyan Sauri

Program Studi Diksatrasiada Universitas Mathla’ul Anwar Banten Email:sopyannsaurii@gmail.com

Article History Abstract

Received : January2020 The purpose of this study is to describe the social values contained in the rainy novel by Tere Liye. The research method used in studying the rain novel by Tere Liye is a descriptive qualitative method. The object of this research is the social values ​ ​ in the rainy novel by Tere Liye published by PT Gramedia Main Library of 2016. The technique of collecting data in this study uses literature study techniques. The data analysis technique uses the semiotic model reading method, heuristic and hermeneutic reading. The results of data analysis on the rainy novel by Tere Liye can be concluded that the social values ​ ​ contained in the novel are the value of helping, family, loyalty, caring, responsibility, discipline, empathy, harmony of life, tolerance, cooperation, and democracy.

The results of the analysis of social values ​ ​ in the rain novel by Tere Liye can be used as an alternative material for prose study in Indonesian literary language education students and the Mathla'ul anwar University Banten area. Accepted : February

2020

Published : March 2020 Keywords

Nilai sosial, novel hujan, bahan pembelajaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai sosial yang terdapat dalam novel hujan karya Tere Liye. Metode penelitian yang digunakan dalam mengkaji novel hujan karya Tere Liye adalah metode kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah nilai-nilai sosial dalam novel hujan karya Tere Liye yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Tahun 2016. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka. Teknik analisis data menggunakan metode pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik.

Hasil Analisis data terhadap novel hujan karya Tere Liye dapat disimpulkan bahwa nilai sosial yang terdapat dalam novel tersebut yaitu nilai tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, kepedulian, tanggung jawab, disiplin, empati, keserasian hidup, toleransi, kerjasama, dan demokrasi.

(2)

Hasil analisis nilai-nilai sosial dalam novel hujan karya Tere Liye dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembelajaran kajian prosa pada mahasiswa pendidikan bahasa sastra Indonesia dan daerah Universitas Mathla’ul anwar Banten.

(3)

A. Pendahuluan

Jauhari (2010:4) sastra adalah karya manusia baik berbentuk lisan maupun tulisan yang memiliki daya estetika atau menimbulkan rasa haru (indah, kagum, benci, cinta, sayang, simpati, dan wujud emosional lainnya) dan mempunyai pesan yang ingin disapaikan kepada pembacaya. Sastra merupakan tulisan yang indah. Keindahan dalam karya sastra terlihat dari penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra tersebut. Bahasa sastra menggunakan bahasa yang khusus sehingga terasa perbedaan membaca sastra dengan membaca bukan sastra. bahasa sastra menggunakan bahasa figurative, yang pada akhirnya membangkitkan rasa haru berupa imajinasi. Selain keindahan sastra juga memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Pesan yang berupa gambaran kehidupan, filsafat dan masalah hidup yang dapat dijadikan cerimanan bagi pembacanya.

Sastra tercipta bukan dari kekosongan budaya. Maksudnya adalah sastrawan menciptakan sebuah karya sastra khayalan yang total. Tetapi sastra itu adalah sebuah ceriman kebudayaan yang pernah ada. Kebudayaan yang

mungkin saja di alami oleh pengarang itu sendiri. Sastrawan menciptakan karyanya dari apa yang pernah dilihat, di baca atau bahkan dialaminya. Sastrawan menciptakan karyanya memadukan atau mengkombinasi antara imajinasi dengan kenyataan yang ada.

Bahtiar dkk (2017: 2) secara umum sastra dapat didefinisikan sebagai hasil cipta manusia berupa tulisan yang bersifat imajinatif, kemudian disampaikan dengan khas serta mengandung pesan yang bersifat relatif. Sastrawan menyampaikan imajinya atau khayalannya kedalam sebuah tulisan yang indah. Imajinasi tersebut adalah sebuah khayalan yang dibalut dengan realitas yang ada. Pemikiran tentang kehidupan dan pemaknaan nilai-nilai yang di ekspresikan lewat sastra yang berakhir pada kepuasan batin. Pemikiran yang mengandung pesan yang bersifat relatif yang masih bisa diperdebatkan kebenarannya.

Salah satu bentuk sastra yang mendapat banyak perhatian masyarakat adalah novel. Aziez dan Hasim (2015:7) menyatakan bahwa novel merupakan sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa, dengan panjang yang kurang lebih bisa untuk mengisi satu atau dua

(4)

volume kecil, yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup komplek. Novel memiliki bentuk prosa yaitu sebuah karangan yang memaparkan dengan panjang lebar. Novel merupakan bentuk pengungkapan cerita secara langsung, seperti bahasa sehari-hari tanpa memperhatikan rima dan irama yang teratur seperti puisi. Panjang novel lebih panjang daripada cerpen dan novella yang menggambarkan tentang kehidupan tokoh. Tokoh-tokoh dalam novel relatif banyak dengan peristiwa rekaan yang berwarna dan sangat komplek. Walaupun tokoh dan peristiwa dalam novel bersipat rekaan tetapi memiliki kemiripan dengan kehidupan sebenarnya.

Kosasih (2012:60) menyatakan bahwa novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh problematika kehidupan seseorang atau beberapa tokoh. Kisah dalam novel di gambarkan secara utuh atau tidak sepotong-sepotong. Kisah yang di gambarkan dari akar masalah sampai dengan penyelesaian masalah tersebut. Masalah dalam novel bukan masalah tunggal atau bukan konflik tunggal yang setelah masalah itu selesai maka tamatlah cerita tersebut. Tetapi masalah dalam novel adalah masalah yang

berkaitan dan saling mempengaruhi antara masalah yang satu dengan masalah yang lainnya. Cerita yang diangkat dalam novel adalah problematika kehidupan nyata. Problematika yang terjadi di masyarakat dan tanpa adanya dunia fantasi. Tokoh dalam novel diciptakan sesuai dengan tokoh yang terjadi di dunia nyata

Forster (Wardani, 2009: 15) menyatakan bahwa novel adalah cerita dalam bentuk prosa yang agak panjang tidak kurang dari 50.000 kata, menceritakan kehidupan beserta nilainya dengan cara tertentu. kehidupan yang diceritakan adalah kehidupan nyata. Nilai-nilai yang terkadung dalam novel adalah nilai-nilai yang terjadi di dunia nyata. Seperti nilai social, nilai religious, nilai pendidikan dan nilai-nilai lainnya yang ada dalam kehidupan nyata. Penyampaian nilai-nilai kehidupan dalam novel tergambar dengan cara yang unik. Penulis mengkreasikan imajinasinya dengan dunia nyata untuk menyampaikan nilai-nilai. Terkadang tidak terpikirkan oleh pembaca tatapi memang itu terjadi di dunia nyata.

Novel sebagai bentuk karya sastra, memiliki struktur pembangun karya sastra tersebut. Struktur pembangun novel diantaranya adalah tema, tokoh dan

(5)

penokohan, alur, latar, sudut pandang dan amanat. Kesemua unsur itu wajib adanya, karena kesemua unsur tersebut berpadu dan membentuk sebuah kesatuan yang bulat. novel memiliki tema yang merupakan inti persoalan yang disajikan dalam cerita tersebut. Tokoh merupakan pelaku yang terlibat dalam cerita tersebut. Penikohan merupakan karakter yang diperankan dalam cerita. Sedangkan alur adalah jalan cerita yang ada dalam novel tersebut. Dan latar adalah tempat yang ada dalam cerita. Latar dibagi menjadi tiga bagian yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Selain itu unsur pembangun novel yang lainnya adalah sudut pandang. Sudut pandang merupakan posisi pengarang dalam menceritakan sebuah kisah. Dan yang terakhir unsur pembangun novel adalah amanat. Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya.

Novel sebagai sebuah karya sastra yang mengungkapkan kisahan-kisahan tentang masalah kehidupan. Walaupun cerita rekaan tetapi banyak memiliki kemiripan dengan kehidupan nyata. Konten cerita dalam novel merupakan cerminan kehidupan yan memiliki nilai-nilai yang menjadi pelajaran hidup bagi

pembacanya. Salah satu nilai yang terdapat dalam novel adalah nilai sosial. Green (dalam Dhohiri, 2007: 30) menjelaskan bahwa nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek. Nilai sosial adalah nilai yang melekat pada sebuah objek, karena adanya emosi atau perasaan seseorang terhadap objek tersebut. Emosi atau perasaan yang ditimbulkan oleh seseorang terhadap objek tersebut dilakukan secara sadar. Emosil terhadap objek tersebut menimbulkan persepsi-persepsi terhadap objek. Dan presepsi yang ditimbulkan bersipat relative, artinya akan berbeda kualitasnya antara seseorang dengan yang lainnya.

Hendropuspito (2000: 26) menyatakan bahwa nilai sosial adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia. Sesuatu yang dihargai itu adalah suatu kebaikan yang menimbulkan sebuah kebahagiaan sehingga diinginkan oleh semua orang. Nilai yang membawa kesan damai, indah sejuk dan pantas. Pantas ada dan pantas dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut berguna dalam perkembangan kehidupan manusia.

(6)

Nilai-nilai yang menimbulkan penghargaan seseorang terhadap sesuatu tersebut. Nilai nilai dalam berinteraksi yang membentuk sebuah tatanan kemasyarakatan yang diamini oleh anggota kelompoknya.

Supardi (2006:3) menyatakan bahwa nilai sosial merupakan sesuatu yang diinginkan dan dicita-citakan serta dianggap berharga oleh masyarakat, ketika berinteraksi dengan orang lain harus dapat menempati dirinya dan mengambil tindakan atau sikap yang diterima masyarakat. Nilai sosial sebagai nilai yang terdapat dalam masyarakat. Nilai itu ada karena adanya interaksi manusia dalam lingkungannya. Nilai sosial merupakan nilai yang dianggap baik serta bermanfaat sehingga diinginkan dan dicita-citakan oleh sekelompok orang yang ada dalam masyarakat tersebut. Sebagai individu, sudah sepantasnya kita mematuhi nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Nilai tentang kepantasan sehingga terbentuk sebuah sikap yang selaras dalam masyarakat. Nilai sosial merupakan nilai yang berharga dan dijadikan sebagai pedoman dalam berinteraksi dalam masyarakat tersebut.

Zubaedi, (2006;13) menyatakan nilai-nilai sosial secara umum yang akan dianalisis yaitu nilai pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, kepedulian, tanggung jawab, disiplin, empati, keserasian hidup, keadilan, toleransi, kerjasama, dan demokrasi. Nilai pengabdian adalah sebuah keadaan menyerahkan diri dengan sepenuh hati terhadap sesuatu. Tolong menolong merupakan sikap bersedian mengulurkan tangan membantu anggota masyarakat yang sedang kesusahan. Kekeluargaan adalah sikap saling memiliki berhudungan dan keterkaitan antara satu orang dengan orang lain. Kesetiaan adalah sikap tidak berpaling terhadap sesuatu yang baru.

Kepedulian merupakan sikap

memperhatikan orang lain, mengayomi dan menghiraukan. Tanggung jawab merupakan sikap berani menanggung segala sebagai konskuensi dari apa yang di perbuat. Sedangkan sikap disiplin adalah sikap patuh terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan. Empati merupakan sebuah emosi kejiwaan yang menimbulkan kepedulian terhadap sesame. Keserasian hidup merupakan sikap keseimbangan, kewajaran yang dilakukan oleh seseorang dalam masyarakat. Keadilan merupakan

(7)

sikap tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Toleransi adalah sikap saling menghargai antar sesama. Kerjasama adalah sikap bekerja untuk mencapai keinginan bersama. Dan demokrasi adalah sikap bebas memilih berdasarkan kehendak hati dengan tidak merugikan orang lain.

Hasil analisis nilai sosial dalam novel hujan karya Tere Liye dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembelajaran apresiasi prosa. Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013:1). Pengertian ini menjelaskan bahwa suatu bahan ajar haruslah dirancang dan ditulis dengan kaidah intruksional karena akan digunakan oleh guru untuk membantu dan menunjang proses pembelajaran.

Menurut Prastowo (2012:17), bahan ajar adalah segala bahan (informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara

sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan media pembelajaran. Bahan atau materi pembelajaran pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya (Ruhimat, 2011:152).

Bahan Ajar atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai bahan untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam penyajiannya berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Dengan demikian, bahan pembelajaran pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan dan keterampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep, prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(8)

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Moelong (2007: 6) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat suatu individu, keadaan, atau gejala dari kelompok tertentu yang diamati. Untuk mengkaji novel Hujan digunakan metode penelitian deskriptif. Metode ini digunakan untuk menemukan, memaparkan dan menjelaskan teks-teks yang memuat nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam novel Hujan karya Tere Liye.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi pustaka. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Data diperoleh dalam bentuk tulisan, maka harus dibaca, dipelajari, hal-hal yang penting dicatat kemudian disimpulkan dan mempelajari sumber tulisan yang dapat dijadikan sebagai landasan teori dan acuan dalam hubungan dengan objek yang akan diteliti. Data dalam penelitian ini adalah novel hujan karya Tere Liye.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Nilai Tolong menolong

“Sebelum Lain benar-benar ikut terjatuh, satu tangan meraih tas punggungnya dari atas lebih duu. Anak laki-laki usia lima belas tahun yang tiba duluan berhasil menyambarnya” (hal 29)

Nilai tolong menolong yang di lakukan oleh anak laki-laki terhadap anak perempuan dlam keadaan genting, walaupun anak perempuan itu tidak ia kenal.

“Di luar Lail berteriak minta tolong, membuat dua petugas yang sedang di dekat berlarian

“Ada korban yang terjepit, segera kirim ambulan’ (hal 41)

Nilai tolong menolong ditunjukan oleh petugas yanglangsung mengevakuiasi korban bencana tersebut.

“berkali-kali mereka terpeleset di medan terjal dan sulit, terjatuh. Jika lail yang jatuh Mariam yang mengulurkan tangan dan menyemangati. Jika Mariam yang terpeleset, lail yang membantunya berdiri” (hal 150)

Nilai tolong menolong di tunjukan oleh Mariam dan Lail. Mereka berani mengorbankan jiwa dan raganya untuk menyelamatkan daerah yang akan terkena bencana. Mariam dan Lail pun bahu membahu saling menolong dalam melaksanakan tugas mengirim berita bencana.

(9)

2. Nilai Kekeluargaan

“Kita harus mencari tempat berteduh, sebelum hujan deras, anak laki-laki itu berkata pelan. Dia lantas memegang engan Lail, dan mengajaknya berlari…” (hal 33)

Nilai kekeluargaan ditunjukan Esok kepada Lail, walau mereka baru bertemu tetapi esok tidak segan-segan untuk memegang tangan Lail sebagai bentuk persahabatan.

“Kalau begitu, sementara waktu kamu bisa ikut denganku. Ibuku ada di rumah, semoga dia baik-baik saja (hal 36) Nilai kekeluragaan ditunjukan Esok kepada Lain, ia megajaknya untuk ke rumahnya, walaupun meraka baru saja kenal.

“Beberapa jam lalu, Lail tidak mengenal Esok. Anak laki-laki usia lima belas tahun itu bukan siapa-siapanya. Tapi detik itu, sambil mengepalkan jemarinya, menatap esok yang memeriksa khawatir seluruh took, Lail sungguh berdoa semoga ibu Esok selamat (hal 39)

Nilai kekeluargaan ditunjukan oleh Lail kepada Esok. Lail berdoa agar ibu Esok selamat, walaupun Esok bukan siapa-siapa dan baru satu jam yang lalu Lail mengenalnya.

“Namaku Maryam.” Anak perempuan itu menyodorkan tangan. Suaranya terdengar nyaring….(hal 77)

Nilai kekeluargaan ditunjukan Mariam kepada Lail. Maryam langsung menyapa teman sekamarnya saat Lail tiba.

“aku kesulitan menyisir rambutku. Kamu bisa membantuku? (hal 83)

Nilai kekeluargaan ditunjukan Lail dan Mariam. Lail bersedia menyisir rambut Mariam.

“perkenalkan, Pa, Ma, ini Lail. Temanku di tenda pengungsian

“Halo, Lail. Akhirnya kita bertemu” Walikota mengulurkan tangan”(hal 99) Nilai kekeluargaan ditunjukan oleh sang Walikota. Sebagai seorang pejabat ia tidak gengsi untuk menyalami anak gadis bernama Lail.

“ayo Lail kemari. Isteri walikota yang melihatnya pertama kali langsung melambaikan tangan”(hal 103)

Nilai kekeluargaan terlihat dari Isteri walikota. Walaupun ia isteri seorang walikota tapi ia tetep rendah hati bersedia menyapa terlebih dahulu kepada Lail. 3. Nilai Kesetiaan

Nilai kesetaiaan dalam novel ini tergambar hampir dari awal cerita sampai akhir. Terutama kesetiaan yang ditunjukan oleh lail yang setia menunggu soke bahtera untuk menemuinya.

(10)

Menunggu dalam kecetiaan dan cinta yang tumbuh dan terpendam.

4. Nilai Kepedulian

“kamu jangan sampai tertinggal, Lail, seorang wanita berusia 35 tahun berseru. Dia sedang berjalan cepat melewati trotoar. Sementara gerimis jatuh dari langit. Butir airnya lembut menerpa wajah.

Anak perempuan yang berjalan di belakangnya mengangguk, buru-buru mengejar ibunya. (hal 10)

Nilai kepedulian ditunjukan ibu kepada anaknya yan berjalan mengikuti di belakangnya jangan sampai tertinggal. “Rapikan dasimu, Lail.” Wanita berusia 35 tahun itu menoleh lagi ke anaknya.” “Lail buru-buru mengangguk.”( hal: 12) Nilai kepedulian ibu terhadap anaknya untuk merapihkan dasi yang dikenakan anaknya.

“Dua penumpang laki-laki, saat melihat Lail dan ibunya masuk, bediri

memeprikan tempat

duduk.”Terimakasih” Lail dan ibunya segera duduk” (hal 14)

Nilai kepedulian yang di lakukan oleh para penumpang lainnya di dalam kereta ketika melihat seorang ibu dan anaknya menaiki kereta.

“Anak-anak terlebih dahulu! Petugas berseru” (hal 26)

Kepedulian seorang petugas kereta terhadap anak-anak walau dalam keadaan genting.

“Kamu baik-baik saja Lail? Ibunya bertanya dari bawah. Lima menit berlalu, mereka sudah setengah jalan naik permukaan” (hal 27)

Kepedulian seorang ibu terhadap anaknya, walaupun dalam keadaan genting ibunya tetap memikirkan keselamatan anaknya dariada keselamatan dirinya.

“Kamu baik-baik saja? Anak laki-laki usia lima belas tahun bertanya. Mereka berdua masih berdiri di perempatan jalan pusat kota” (hal 33)

Nilai kepedulian yang ditunjukan oleh Esok kepada Lail anak perempuan yang baru ia kenal, tetapi Esok menunjuka kepedualian kepadanya.

“Kamu sudah makan Lail? Esok bertanya, beranjak duduk di sebelah. Pukul tujuh malam.

“Lail mengangguk, memperlihatkan potongan roti di tangannya” (hal 42) Kepedulian Esok kepada Lail yang masih melamun kehilangan anggota keluarganya. “Kamu harus mengenakan masker Nak, salah satu mariner menegurnya” (hal 44) Nilai kepedulian ditunjukan oleh Marinir kepada Lail untuk mengenakan masker agar tidak terkena abu vulkanik.

(11)

“Aku tidak lapar, Lail menjawab pendek. Kamu harus makan. Atau nanti sakit” (hal 50)

Kepedulian Esok kepada Lail yang melamun saja, Esok memeksa Lail untuk makan karena Esok khawatir kalau Lail jatuh sakit.

“Ikut aku sekarang, Lail. Esok memaksa, menarik lengan Lail”

“Lail melawan tidak mau” (hal 54) Nilai kepedulian ditunjukan oleh Esok dalam keadaan genting akan turun hujan asam, tetapi Esok tidak menghirawkan bahaya tersebut. Ia tetap mencari Lail. “Mariam jengkel, tadi siang saat semua relawan berkemas meninggalkan pusat latihan, dia ditinggal sendirian, bingung mencari lail. Belum lagi harus membereskan barang-barang Lail, menggendong dua ransel besar berisi pakaiannya dan pakaian Lail. Dia hampir ketinggalan bus yang mengantar relawan ketempat tinggalmasing-masing”(hal 134) Nilai kepedulian ditunjukan Maryam, ia rela membereskan dan membawa barang-barang milik Lail yang ditinggalkan oleh Lail di tempat pelantikan.

“enam jam perjalanan pulang. Tiba pukul satu siang. Kejutan. Caludia dan ibunya menunggu di peron statsiun kota mereka”(hal 185)

Nilai kepedulaian diperlihatkan oleh Claudia dan ibunya. Walau Lail dan Mariam bukan siapa-siapa tetapi mereka

menempunya di peronn menjemput mereka yang pulang menerima penghargaan.

“hadiah yang kami terima di ibu kota. Lail yang menjawab, unntuk panti sosial”(hal 189)

Nilai kepedulian di tunjukan oleh Lail dan Mariam, mereka memberikan seluruh hadiah untuk keperluan panti.

5. Nilai Tanggung jawab

“Tenda-tenda didirikan marinir di halaman rumah sakit dua jam setelah gempa. Pasukan militer itu mengagumkan. Mereka juga kehilangan keluarga, kerabat, dan rumah, tapi dari barak militer mereka menyebar ke seluruh kota , bekerja cekatan membantu apa saja sepanjang sore. Prioritas pertama adalah membantu rumah sakit.(hal; 42)

Tanggung jawab sebagai seorang marinir dan pasukan militer sudah menjadi tugas mereka membantu masyarakat, melindungi masyarakat, terutama ketika terjadi bencana alam, mereka bekerja keras membantu mendirikan tenda dan membantu hal-hal lainnya sebagai wujud tanggung jawabnya, meskipun mereka juga kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya.

“Lail baru masuk ke kamarnya pukul sebelas malam. Ibu Suri menambahkan hukumannya, meyikat toilet di dapur umum. Tapi lail tetap tidak keberatan

(12)

suasana hatinya masih riang stetlah bertemu Esok” (hal 93)

Nilai tanggung jawab ditunjukan oleh lail. Ia tidak keberatan menjalani hukuman sebagai sanksi karena hujan-hujanan saat bertemu Esok.

6. Nilai Disiplin

“ kehidupan di panti di mulai pukul lima pagi. Semua penghuni harus bangun, rapihkan kamr masing-masing”

Nilai disiplin diterapkan di panti. Hal tersebut dilakukan untuk melatih seluruh penghuni panti agar dapat berdisiplin. 7. Nilai Empati

“Siapa namamu? Anak laki-laki itu bertanya, mengibaskan air dari rambutnya, bagian atas seragam sekolahnya basah.

“Lail, jawabnya pendak “namaku Esok (hal 34)

Nilai empati ditunjukan oleh Esok kepada Lail, Esok mengajak Lail berbicara walau Lail masih terlihat sedih dengan kemataian ibunya.

“Bagaimana dengan ibumu? Lail bertanya pelan.

“Masih belum siuman. Tapi kata dokter, kondisiya stabil” (hal 45)

Sikap empati ditunjukan oleh Lail kepada keluarga Esok, ia menanyakan kondisi Ibu Esok yang baru ia kenal satu hari yang lalu.

“Esok meraih tasnya, mengeluarkan syal dari wol, untukmu Lail, agar kamu tidak kedinginan. Lail menerimanya. Tetimakasih (hal 62)

Nilai Empati ditunjukan oleh Esok kepada Lail, ia sangat peduli kepada Lail dengan memberikan syal dari wol agar Lail tidak kedinginan.

“Aku punya hadiah untukmu, Esok mengambil sesuatu dari balik jaket tebalnya.

“Untukmu, Lail berseru senang menerima hadiah

“Aku mendapatkan dari pengungsian Century Mall. Esok menjelaskan. Sebuah celemek moatif bunga-bunga” (hal 67) Nilai empati kembail di tunjukan oleh Esok kepada Lail. Esok mempunyai cara untuk menyenangkan hati Lail dengan memberikan sesuatu yang tidak seberapa tetap membuat hati Lail senang.

“Lail tetap menerimanya, mengucapkan terimakasih. Niati ibu suri baik, meskipun selera gaunnya sama sekali tidak baik”(hal 167)

Nilai empati ditunjukan oleh ibu suri kepada lail dan Mariam. Ibu suri yang mempunyai sikap tegas dalam hal ini ia mempunyai kelembutn hati dan peduli dengan lail dan Mariam.

“Kepalaku sakit, Lail berkata pelan. Aduh kamu terlihat pucat. Isteri walikota mengaktifkan layar di lengannya, bersiap memenggil bantuan” (hal 245)

(13)

Nilai empati diperlihatkan oleh isteri walikota kepada Lail. Isteri walikota begitu berempati dan perhatian. Saat Lail mengeluh sakit kepala isteri walikota langsung merespon dan hendak memberikan bantuan.

8. Nilai Keserasian Hidup

“Aku tidak ikut ke panti sosial. Kenapa? Lail bertanya

Ada keluarga yang bersedia mengangkatku jadi anak asuh……” “Oh ya, Lail ikut senang”

“Esok mengusap wajahnya, balas menatap wajah Lail. Dia mengira Lail akan sedih”

“Aku sengan mendengarnya Esok” (hal 74)

Nilai keserasian hidup ditunjukan oleh Lail. Ia tidak iri terhadap Esok yang diadopsi, ia ikut senang karena memang jalan hidup setiap orang berbeda dan presahabatan itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

“tapi seruan Lail terhenti. Matanya menatap tak percaya. Itu Esok, yang tertawa berusaha menyejajari bus yang mulai melaju kencang” (hal 87)

Nilai keserasian hidup yang terjadi adalah suasana yang gembira yang dirasakan oleh Lail. Disaat Lail rindu kepada Esok, esok datang menemuinya, rasanya dunia berpihak kepadanya.

“Mereka berdua tertawa. Apa yang kamu lakukan disini? Lail mengusap wajah memsatikan bahwa dia tidak sedang mimpi” (hal 126)

Keserasia hidup terjadi lagi, Lail merasakan kebahagiaan yang amat tak terhingga di hari pelantikan sebagai anggota relawan orang terkasih datang tanpa tak terduga sebelumnya.

9. Niai Toleransi

“Kami minta maaf. Ini salahku. Aku berjanji tidak lagi pergi meninggalkan pengungsian tanpa izin. Aku juga berjanji akan membantu di sini” (hal 60)

Nilai toleransi diberikan mariner kepada Esok yang telah melanggar izin yang diberikan untuk mencari Lail.

“meski galak dan sangat disiplin. Ibu Suri memberikan izin kepada Lail untuk mengantar Esok pada hari keberangkatannya ke Ibu Kota” (hal 101) Nilai toleransi diberikan kepada Lail oleh Ibu Suri. Ibu Suri walau terkenal galak tetapi ia memberikan Izin kepada lail untuk mengantarkan Esok.

10. Nilai Kerjasama

“Ayo, Lail! Sedikit lagi! Maryam menarik teman baiknya. Lail mengangguk. Dengan bantuan Maryam, dia bisa kembali maju” (hal 118)

Nilai kerjasama ditunjukan oleh Lail dan Maryam ketika mereka melaksanakan ujian menjadi relawan. Mereka bahu membahu saling membantu untuk menklukan medan latihan.

(14)

11. Nilai Demokrasi.

“Marinir bergumam, menimbang situasinya, memanggil teman-temanya beriskusi”

“Bail, kamu pinjam sepeda dari petugas di meja pendaftaran. Waktumu hanya satu jam” (hal 53)

Nilai demokrasi ditunjukan oleh mariner, dengan mengizinkan Esok mencari Lail hasil keputusan bersama dengan mariner yang lainnya.

“Kamu mau tempat tidur yang mana? Di atas atau di bawah? Aku sudah menepati yang bawah. Tapi kalau kamu mau aku bisa pindah ke atas. Atau ita bisa tukeran tiap bulan biar adil” (hal 78)

Nilai demokrasi ditunjukan oleh Maryam kepada Lail. Dia menawarkan tempat tidur untuk Lail, padahal Maryam lebih dahulu menepati kamar tersebut.

“petugas itu memenggil seniornya, berdiskusi sebentar.

Baiklah. Salah satu prinsip paling penting di organisasi adalah semangat berbagi dan berbuat baik” (hal 111)

Nilai demokrasi ditunjukan oleh perugas anggota relawan. Saat Lail dan Mariam mendaftar dikarenakan usia mereka belum cukup tetapi mereka memaksa. Untuk memutuskan di terima atau tidaknya petugas penerimaan tidak memutuskan sepihak tetapi mereka berundung dulu dengan temannya untuk memutuskan hal tersebut.

“penduduk mengamuk di lokasi pembagian makanan. Mariner tidak mampu mengendalikannya. Kepulan asap membumbung dari berbagai penjuru kota. penduduk menyerbu took-toko menggulingkan bus kota, menghentikan trem, membakar benda-benda di jalanan”(hal 217)

Demontrasi yan dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk protes terhadap pemerintah untuk melakukan kebijakan perbaikan iklim di dunia. D. Simpulan dan Saran

1) Simpulan

Berdasarkan hasil analisis tentang nilai-nilai sosial pada novel hujan karya Tere Liye sebagai bahan pembelajaran kajian prosa dapat disimpulkan bahwa nilai sosial yang terdapat dalam novel tersebut yaitu nilai tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, kepedulian, tanggung jawab, disiplin, empati, keserasian hidup, toleransi, kerjasama, dan demokrasi.

Hasil analisis nilai-nilai sosial dalam novel hujan karya Tere Liye dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembelajaran kajian prosa pada mahasiswa pendidikan bahasa sastra Indonesia dan daerah Universitas Mathla’ul anwar Banten.

2) Implikasi terhadap Pendidikan

Penelitian ini memberikan implikasi terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Analisis novel dipelajari oleh siswa

(15)

tingkat SMP dan SMA sederajat. Analisis novel tersebut mencakup analisis terhadap unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel. Selanjutnya, pada tingkat perguruan tinggi dapat dijadikan bahan ajar bagi mahasiswa Program Studi Diksatrasiada pada mata kuliah yang berkaitan pada kajian prosa. Daftar Pustaka

Azies, Furqonul dan Hasim Abdul. 2010. Menganalisis Fiksi. Bandung: Ghalia Indonesia.

Dhohiri, T.R. 2007. Sosiologi, Suatu Kejadian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudistira.

Hendropuspito, OC. 2000. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius

Jahuri, Heri. 2010. Cara Memahami Nilai Religius dalam Karya Sastra dengan Pendekatan Reader’s Respons. Bandung: Arfindo Raya

Kosasih. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya. Lestari, Ika. 2013. Pengembangan Bahan Ajar

Berbasis Kompetensi. Padang: Akademia Permata.

Liye, Tere.2016. Hujan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Karya.

Moleong, Lexy J. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prastowo, A. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.

Ruhimat, T. dkk. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurtekpen FIP UPI.

Zubaedi. 2005. Pendidikan Berbasis

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Rekrutmen Calon Anggota Legislatif Partai Demokrat Demokrat Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2013 merupakan proses untuk mencari orang-orang yang di anggap

ELDVD GLVHEXW ³6HUDQJDQ )DMDU´. d) Masyarakat Kabupaten Kendal cukup sportif dengan hasil suara PILKADA Tahun 2010 walaupun pasangan calon yang mereka pilih ternyata

KPUD juga membuat penyusunan Daftar Pemilih Tetap, dimana dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum harus membuat penyusunan Daftar Pemilih Tetap itu dengan baik, sehingga seluruh

Makanan menjadi salah satu cara yang paling dasar dan umum bagi seseorang untuk membedakan diri dari orang lain atau untuk masyarakat atau budaya untuk membedakan diri dari

4.18 Menyusun teks prosedur, lisan dan tulis, dalam bentuk manual terkait penggunaan teknologi dan kiat-kiat (tips), dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks,

Ciri khas dari ordo ini adalah tipe saluran airnya berupa asconoid yang secara permanen serta tidak memiliki membrane dermal atau korteks... Ciri khas dari Ordo ini adalah tipe

Pada kasus berat, membran dapat meluas ke percabangan trakeobrongkial.Apabila difteria laring terjadi sebagai perluasan dari difteria faring, maka gejala yang tampak

Penatalaksanaan diare kronis harus dikerjakan bersama-sama dengan pemberian nutrisi yang cukup untuk memenuhi atau memelihara pertumbuhan normal. Malnutrisi kalori dan protein