• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. Sejarah perbankan di Indonesia mempunyai periode yang cukup panjang,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. PENDAHULUAN. Sejarah perbankan di Indonesia mempunyai periode yang cukup panjang,"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.1.1. Sejarah Perbankan Indonesia

Sejarah perbankan di Indonesia mempunyai periode yang cukup panjang, dimulai dari cikal bakal perkumpulan simpan pinjam pada zaman penjajahan Belanda sampai pada periode saat ini yang telah berkembang maju dengan aktivitas yang sangat luas dan penggunaan teknologi yang mutakhir. Secara garis besar setelah kemerdekaan, perbankan Indonesia melalui tiga periode yang sangat penting yaitu periode pra Pakto 1988, pasca Pakto 1988 dan pasca krisis 1998, masing-masing periode memiliki karakteristik tersendiri.

a. Periode Pra Pakto 1988

Periode pertama pra Pakto 1988 perbankan Indonesia khususnya bank milik pemerintah memfokuskan usahanya pada bidang-bidang tertentu seperti BDN menangani sektor usaha yang bergerak dibidang pertambangan, BBD sektor perkebunan, perikanan dan peternakan sementara Bank eksim dalam bidang eksport dan import.

Pada periode pra Pakto 1988 ini, jumlah asset dan bisnis perbankan lebih didominasi oleh bank pemerintah dengan penguasaan dana masyarakat sebesar 60 % dan kredit sebesar 67 %. Praktek perbankan pada periode ini lebih terfokus pada tugas lembaga intermediasi murni yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Area bisnis perbankan lainnya seperti fee based income yang diperoleh dari komisi dan provisi, eksport import serta perdagangan valuta asing relatif sangat kecil

(2)

porsinya terhadap pendapatan bank secara keseluruhan. Persaingan dalam dunia perbankan khususnya dalam memperebutkan konsumen, pengembangan produk dan teknologi perbankan masih terasa sangat longgar, lambat dan statis.

b. Periode Pasca Pakto 1988

Periode ini diawali dengan lahirnya kebijakan pemerintah yang dikenal dengan Pakto 1988 karena dikeluarkan pada tanggal 27 Oktober 1988. Tujuan kebijakan ini adalah untuk mendorong pertumbuhan dunia perbankan, memobilisasi dana masyarakat yang nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam skala nasional. Beberapa kebijakan yang mendasar adalah sebagai berikut:

1. Memberikan kemudahan kepada perbankan untuk membuka kantor Cabang diseluruh wilayah Indonesia. Pembukaan kantor cabang pembantu cukup dengan memberitahukan kepada Bank Indonesia.

2. Ijin pemberian bank swasta dipermudah dan diperlonggar dengan hanya modal disetor Rp. 10 milyar sudah dapat mendirikan bank.

3. Penerbitan sertifikat deposito tidak perlu minta ijin dari Bank Indonesia. 4. Semua bank dapat menyelenggarakan program tabungan di luar tabungan

yang sudah ada pada saat itu yaitu Tabanas dan Taska.

Dengan kebijakan tersebut jumlah bank di Indonesia meningkat sangat tajam dari 111 bank pada akhir tahun 1988 menjadi 240 bank pada tahun 1997. Tambahan 129 bank baru sebanyak 99 merupakan bank umum dan 30 bank asing dan bank campuran. Hampir semua konglomerat dan group usaha besar yang bisnis intinya bukan di sektor keuangan berlomba-lomba mendirikan bank seperti group Sampurna mendirikan Bank Sampurna, Group Subentra mendirikan Bank

(3)

Subentra, Group Golden Truly mendirikan Bank Surya, Group Bakri mendirikan Bank Nusa.

Kegiatan usaha perbankan yang sebelumnya tradisional dan konservatif berubah drastis menjadi menjadi dunia yang dinamis (berkembang cepat), kreatif (penciptaan produk tabungan dengan hadiah), agresif (penyaluran kredit), kompetisi yang ketat dan modern dengan perlombaan pengembangan dan penciptaan produk dan IT (information technology). Untuk dapat mempertahankan eksistensinya maka bank harus secara terus menerus mengembangkan produknya dan harus dikelola dengan baik dan profesional. Orientasi bisnis perbankan yang sebelumnya berorientasi pada bank oriented telah merubah menjadi customer oriented.

c. Periode Pasca Krisis 1997

Berbeda dengan periode sebelumnya, pasca krisis ekonomi yang diawali dengan jatuhnya nilai rupiah, sebagian besar bank-bank di Indonesia mengalami berbagai kesulitan seperti kekurangan likuiditas, tingginya angka kredit macet dan ketidakmampuan membayar hutang valas. Secara akuntansi hampir sebagian besar perbankan Indonesia sudah kolaps dan bangkrut dan tidak layak untuk meneruskan usahanya. Namun karena mengingat kepentingan perekonomian nasional yang lebih besar, maka beberapa bank diselamatkan oleh Pemerintah melalui program BLBI dan rekapitalisasi. Sementara bank-bank yang kondisinya sudah tidak mungkin untuk dipertahankan terpaksa dilikuidasi seperti Bank BDNI, Bank Pasific, Bank Mashill dan Bank Papan.

Untuk menekan jumlah bank yang terlalu banyak serta untuk memperkuat dunia perbankan itu sendiri, Pemerintah dan Bank Indonesia telah melakukan

(4)

merger terhadap beberapa bank seperti Bank Mandiri yang merupakan hasil merger dari empat Bank Pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim dan Bapindo. Demikian juga halnya dengan Bank Danamon dan Bank Permata yang merupakan gabungan dari beberapa bank. Sedangkan untuk bank lainnya yang mempunyai struktur permodalan yang lemah dengan CAR di bawah 12 %, Bank Indonesia terus mendorong dan mengupayakan agar bank-bank tersebut untuk melakukan merger atau melakukan penambahan modal. Dengan adanya likuidasi dan merger menyebabkan jumlah bank-bank yang ada di Indonesia mengalami penurunan, dari 239 bank pada awal tahun 1997 menjadi 145 pada bulan Maret 2002.

Setelah melewati krisis, dunia perbankan seperti mendapatkan pelajaran yang sangat berarti. Jika sebelum krisis, fasilitas perbankan seperti kredit, trade finance, import fasilitas dan fasilitas diskonto wesel ekspor dengan mudah diberikan kepada konsumen, namun setelah krisis fasilitas tersebut diberikan dengan sangat selektif dan hati-hati. Akan tetapi di lain pihak terdapat satu jenis aktifitas/bisnis perbankan yang sangat booming pasca krisis yaitu bisnis/transaksi valuta asing. Di lain pihak, walaupun ada kecenderungan dari pihak perbankan untuk bersikap sangat konservatif dan hati-hati dalam pemberian fasilitas seperti kredit dan trade finance, namun dalam hal pengumpulan dana (funding) dan usaha untuk meraih pendapatan dari fee based income, justru terjadi persaingan yang semakin ketat.

(5)

Trasaksi valuta asing yang berkembang saat ini merupakan hasil kombinasi kemajuan dunia perbankan pasca pakto 1988 yang berorientasi pada kepuasan konsumen serta perubahan radikal dalam fluktuasi kurs US Dollar/Rupiah pada periode pasca krisis 1997. Selain dari perdagangan valas antar bank, transaksi valuta asing pada bank juga bertujuan untuk melayani banyak pihak seperti eksportir dan importir serta pihak-pihak lainnya yang mempunyai pendapatan dan kewajiban dalam valuta asing. Bagi bank, transaksi valuta asing ini mempunyai peranan yang cukup penting karena selain dapat memenuhi kebutuhan nasabah, juga merupakan salah satu sumber fee based income yang cukup besar.

Perkembangan transaksi valuta asing menjadi sangat menarik khususnya setelah terjadinya krisis keuangan yang melanda Asia dimulai tahun 1997 yang menyebabkan pergerakan mata uang Asia menjadi lebih lebar dan volatile terhadap mata uang US Dollar. Dibanding mata uang negara Asia lain yang terkena krisis, mata uang Indonesia rupiah (IDR) adalah mata uang yang paling parah dan paling terperosok nilainya terhadap nilai US Dollar sampai mencapai titik terendah USD 1 = IDR 16.000 pada bulan Mei 1998.

Pada Tabel 1, dapat dilihat kurs tertinggi dan terendah USD/IDR dan beberapa kurs mata uang negara Asia Tenggara lainnya sejak tahun 1996 s/d 2002.

Tabel 1. Perkembangan Kurs negara Asean tahun 1996 s/d 2002

Tahun USD/IDR USD/SGD USD/THB USD/PHP

Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah 1996 2364 2278 1.4312 1.3880 25.704 25.130 - - 1997 6150 2359 1.7150 1.3978 49.000 22.100 41.250 26.236 1998 16800 5350 1.8150 1.5750 56.500 35.460 46.300 36.000 1999 9570 6480 1.7390 1.6480 41.700 35.650 41.170 37.000

(6)

2000 9750 6850 1.7620 1.6450 44.435 36.710 51.900 39.600 2001 12215 8200 1.8558 1.7260 15.870 42.110 55.290 45.500 2002 10510 8425 1.8536 1.7275 44.260 40.185 53.450 49.200 Sumber data : Reuters

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa kurs terendah khusus untuk USD/IDR terjadi pada tahun 1978 dengan nilai USD1 = Rp.2.278,- dan kurs tertinggi terjadi pada tahun 1998 dengan nilai USD1 = Rp.16.800,-.

Sedangkan volume transaksi valuta asing pada tahun 2002 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Perkembangan Volume Transaksi Valas Bank (USD ribu)

No Tahun Total Bank Bank XYZ %

1 2000 117,253,546 7,544,548 6.43 2 2001 113,784,313 9,621,291 8.46 3 2002 120,167,586 12,625,230 10.51 4 S/d Juni 2003 80,888,291 7,056,128 8.72 Total 432,093,736 36,847,197 8.53

Sumber Data : - Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) BI - Laporan intern Treasury Bank XYZ

Sedangkan data fee based income Bank XYZ, dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Perkembangan Fee Based Income Bank XYZ (Rp. milyar)

No Tahun Total Bank

1 Tahun 2000 4.180

2 Tahun 2001 3.160

3 Tahun 2002 1.612

(7)

1.1.3. Transaksi Valuta Asing Bank XYZ.

Transaksi valuta asing pada Bank XYZ dikelola oleh Treasury Group; Trading Department dan Treasury Sales. Trading Departement melakukan aktivitas trading foreign exchange dengan counterparty, baik bank didalam maupun di luar negeri dalam usaha mendapatkan keuntungan berupa selisih kurs bagi perusahaan. Trading saat ini mencakup regional currency seperti USD/IDR, USD/SGD maupun major currency seperti USD/JPY, EUR/USD ataupun cross currency seperti SGD/IDR, EUR/IDR dll. Jenis transaksi adalah cash transaction (today, tom, spot) dan transaksi derivative (forward, swap dan option).

Sedangkan Treasury Sales melaksanakan transaksi produk forex (today, spot, forward, swap dan option) maupun produk money market dengan nasabah baik yang berafiliasi kepada kepemilikan penuh atau sebagian sahamnya oleh government ataupun nasabah corporate, financial institution, commercial maupun retail. Treasury sales juga bertanggung-jawab melaksanakan fungsi marketing semua produk treasury kepada nasabah existing atau nasabah prospek.

1.1.4. Persaingan Dalam bisnis Valuta Asing

Persaingan perbankan dalam bisnis/transaksi valas (dalam hal ini transaksi dengan nasabah) sangat ketat, khususnya pada bank-bank devisa yang telah mempunyai sarana dealing system, dan jaringan informasi melalui komputer khusus serta tenaga dealer yang handal dan profesional. Untuk memenangkan persaingan tidak cukup didukung oleh sarana yang modern dan lengkap tetapi mencakup banyak hal seperti pemberian kurs yang kompetitif, pelayanan, terkait

(8)

fasilitas lain, rate/tarif produk lain yang terkait seperti tarif transfer, kemudahan dan kecepatan komunikasi sampai kepada faktor subyektif seperti senang bertransaksi dengan dealer tertentu. Di Indonesia saat ini hampir sebagian besar bank devisa mempunyai aktivitas transaksi valuta asing yang mampu berkompetisi satu dengan yang lainnya. Di antara bank tersebut terjadi persaingan yang ketat dalam memperebutkan konsumen.

Terdapat beberapa alasan ketatnya persaingan diantara dunia perbankan dalam bisnis valuta asing dengan nasabah yaitu:

a. Transaksi valas mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan keuntungan berupa pendapatan fee based income yang berasal dari selisih kurs.

b. Transaksi valas sebagian besar dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dan mapan, sehingga sekaligus merupakan peluang dan kesempatan yang besar bagi bank untuk memperoleh bisnis yang besar pula.

c. Transaksi valas dapat memberikan multiplier effect yang yang cukup besar, sebagai contoh kalau nasabah sudah senang bertransaksi valas dengan satu bank maka selanjutnya mereka akan melaksanakan transaksi lain seperti penempatan dana, negosiasi wesel eksport, transfer uang dan lain-lain.

d. Dalam bisnis valas, konsumen biasanya mempunyai rekening valas di beberapa bank. Dalam hal kurs ataupun service suatu bank lebih buruk dibandingkan dengan bank pesaingnya, maka akan dengan mudah konsumen akan pindah/bertransaksi ke bank lain.

(9)

e. Bisnis valas menimbulkan image yang bagus karena memberikan kesan dan citra bank yang sudah go international, mempunyai SDM yang handal dan teknologi yang modern.

Dalam upaya meningkatkan jumlah nasabah dan volume transaksi valuta asing, Bank XYZ telah melakukan berbagai upaya seperti pemberian kurs yang kompetitif, kunjungan kepada nasabah secara berkala, entertain dan lain-lain. Upaya ini telah menunjukkan hasil yang cukup bagus seperti terlihat pada peningkatan jumlah nasabah dan peningkatan volume transaksi dari tahun, namun dalam pelaksanaannya masih banyak juga nasabah yang sudah jarang bertransaksi atau tidak bertransaksi valas lagi dengan bank XYZ karena sudah pindah ke bank lain. Di lain pihak informasi pergerakan kurs saat ini sangat mudah diperoleh melalui berbagai media seperti televisi, radio, internet dan surat kabar, sehingga konsumen dapat memilih bank yang memberikan kurs dan pelayanan yang terbaik.

1.2. Perumusan Masalah

Persaingan antar bank semakin ketat khususnya dalam penghimpunan dana dan meraih pendapatan dari fee based termasuk dari transaksi valuta asing. Perkembangan kurs USD/IDR yang sangat cepat dan volatile menyebabkan konsumen tidak mau rugi dan sangat hati-hati dalam mengelola transaksi valasnya. Mengingat hal tersebut maka strategi yang telah dijalankan Bank XYZ selama ini lebih memfokuskan pada kurs yang bagus/kompetitif, padahal dalam prakteknya banyak faktor yang mempengaruhi nasabah untuk melaksanakan transaksi valuta asing dengan suatu bank seperti ; kemudahan transfer, keterkaitan

(10)

dengan fasilitas lain (seperti kredit/letter of credit), kemudahan bertransaksi, kelengkapan informasi dan profesionalitas dealer/karyawan bank.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

a. Pertanyaan Manajemen.

Apa dan bagaimana strategi marketing bank dan produk valas, dalam upaya meningkatkan volume transaksi dan kepuasan konsumen.

b. Pertanyaan Riset

Apa yang harus dilakukan untuk membuat konsumen tertarik berbank dan melakukan transaksi valas di Bank XYZ, serta apa yang harus dilakukan dalam menghadapi persaingan yang ketat antar bank dalam memperebutkan konsumen.

c. Pertanyaan Investigasi

Faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen untuk memilih bank secara umum dan memilih bank untuk melaksanakan transaksi valas.

d. Pertanyaan Pengukuran

Berapa volume transaksi valas perbankan dan Bank XYZ.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap paling penting oleh konsumen untuk memilih bank secara umum maupun untuk melaksanakan transaksi valas.

(11)

b. Mengembangkan alternatif konsep produk dan layanan transaksi valas untuk memenangkan persaingan yang ketat.

Referensi

Dokumen terkait

Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,29 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,21 persen, dan Pulau

Hasil kuesioner akan diinventarisasi dan diidentifikasi dengan menggunakan skala nominal untuk menemukan jawaban atas dasar pemilihan cairan kristaloid dan koloid untuk

Bulk density sangat berhubungan erat dengan partikel density, jika partikel density tanah sangat besar maka bulk density juga besar, hal ini dikarenakan partikel

Dari uraian-uraian yang telah peneliti paparkan dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah akuntabilitas kinerja himpunan

(7) Bentuk dan isi slip setoran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran XII yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji proses koreksi terrain dan contoh penerapannya pada citra Landsat TM; Kemudian artikel tentang “Perbandingan Teknik Orthorektifikasi Citra

Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan atau menguasai Kendaraan Bermotor yang menurut Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan

Di dalam kasus ahli waris pengganti di desa Kalisoka, peneliti menyimpulkan bahwa pembagian harta ahli waris pengganti tidak sesuai dengan pembagian yang ada di