PENERAPAN METODE BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG ALJABAR SISWA KELAS VII-C SMP NEGERI 1 POGALAN KABUPATEN TRENGGALEK
SEMESTER I TAHUN 2013/2014
Oleh: Ahmad Afifudin
SMP Negeri 1 Pogalan Kabupaten Trenggalek
Abstrak. Terwujudnya kondisi pembelajaran siswa aktif merupakan harapan dari semua komponen pendidikan termasuk masyarakat dan praktisi pendidikan. Oleh sebab itu dalam kegiatan pembelajaran dituntut suatu strategi pembelajaran yang direncanakan oleh guru dengan mengedepankan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui kegiatan belajar yang menekankan pada aktivitas siswa diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan di sekolah. Strategi pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis aktivitas terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung aljabar dengan metode pendekatan berbasis aktivitas pada siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek semester I Tahun 2013/2014 pada mata pelajaran matematika, dengan persentase ketuntasan belajar siswa yang meningkat pada setiap siklusnya yaitu 35,48% pada sebelum siklus meningkat menjadi 77,42% pada siklus I. Peningkatan prestasi belajar siswa ini semakin optimal pada akhir siklus II dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 90,32%.
Kata kunci: metode berbasis aktivitas, prestasi belajar, operasi hitung aljabar.
Perbuatan nyata siswa dalam pembelajaran merupakan hasil keterlibatan berpikir siswa terhadap kegiatan belajarnya. Menurut Suparno, dkk (2001) siswa yang aktif dalam proses pembelajaran dicirikan oleh kedua aktivitas, yaitu aktivitas dalam berfikir (minds-on), dan aktivitas dalam berbuat (hands-on). Dengan demikian proses siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan secara terus menerus dan tiada henti. Hal ini dapat dilakukan apabila interaksi antara guru dan siswa terjalin dengan baik. Sebab menurut Usman (2002) interaksi dan hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Terwujudnya kondisi pembelajaran siswa aktif merupakan harapan dari semua
komponen pendidikan termasuk masyarakat dan praktisi pendidikan. Oleh sebab itu dalam kegiatan pembelajaran dituntut suatu strategi pembelajaran yang direncanakan oleh guru dengan mengedepankan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui kegiatan belajar yang menekankan pada aktivitas siswa diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mutlak diperlukan. Namun yang lebih penting lagi dalam meningkatkan aktifitas siswa tersebut adalah kemampuan guru dalam merencanakan suatu kegiatan belajar mengajar tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus mengusahakan agar
siswa dapat melakukan pengamatan yang efektif agar memperoleh hasil pembelajaran yang sebaik-baiknya. Dalam mengajar, hendaknya memeberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan yang sebaik-baiknya. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswa melakukan pengamatan yang baik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) pengamatan akan lebih efektif kepada rang-sangan-rangsangan yang mempunyai struk-tur dan bentuk yang jelas. Oleh karena itu hal-hal yang akan dipelajari hendaknya mempunyai struktur dan organisasi yang jelas; (2) pengamatan kepada sesuatu yang dekat akan lebih berkesan. Oleh karena itu, siswa diberi banyak ksempatan untuk lebih dekat dengan hal-hal yang akan dipelajari; (3) pengamatan dipengaruhi oleh pengalam-an sebelumnya. Oleh karena itu, pada waktu guru mengajar, sebaiknya dimulai dengan pengalaman-pengalaman siswa; (4) penga-matan dimulai dengan keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian. Oleh ka-rena itu dalam memberikan bahan yang akan diajarkan, sebaiknya dimulai dengan kese-luruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian yang lebih khusus; (5) pengamatan dipengaruhi oleh peringakat perkembangan individu. Oleh karena itu, pengajaran hendaknya disesuaikan dengan peringkat perkembangan individu, terutama peringkat perkembangan kognitif; (6) terdapat indivi-dual dalam pengamatan.
Setiap individu mempunyai macam gaya pengamatan (ada gaya visual, auditif, taktil dan kinestetik) Oleh karena itu pe-ngajaran hendaknya disesuaikan dengan ga-ya pengamatan masing-masing siswa. Bebe-rapa faktor dapat menimbulkan terjadinya kesalahan atau kelainan pengamatan, seperti rangsangan yang kurang jelas, kurangnya
perhatian siswa, pengalaman di masa lam-pau, kurang baiknyua alat indera, lingkungan yang mengganggu dan sebagainya.
Menurut Hamalik (2001) mengatakan bahwa pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Dalam kemajuan metodologi dewasa ini asas aktivitas lebih ditonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai.
Ada beberapa jenis aktivitas yang adisampaikan oleh para ahli, diantaranya: kegiatan-kegiatan visual, kegiatan-kegiatan lisan (oral), mendengarkan, menulis, meng-gambar, metrik, metal, dan emosional. Ada-pun penjabaran macam-macam kegiatannya adalah sebagai berikut: (1) Kegiatan-kegi-atan visual. Membaca, melihat gambar-gambar, mangamati eksperimen, demons-trasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain, (2) Kegiatan-kegiatan lisan. Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan sautu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, dis-kusi dan interupsi, (3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan. Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan dan mendengarkan radio, (4)
Kegiatan-kegiatan menulis. Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, ba-han-bahan kopi, membuat rangkuman, me-ngerjakan tes dan mngisi angket, (5) Kegi-atan-kegiatan menggambar. Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta dan pola, (6) Kegiatan-kegiatan metrik. Melaku-kan percobaan, memilih alat-alat,
melak-sanakan pameran, membuat model, menye-lenggarakan permainan, menari dan berke-bun, (7) Kegiatan-kegiatan metal. Mere-nungkan, mengingat, memecahkan masalah, mengalisis, faktor-faktor, melihat, hubung-an-hubungan dan membuat keputusan, dan (8) Kegiatan-kegiatan emosional. Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan dalam kolompok ini ter-dapat dalam semua jenis kegiatan dan over-lap satu sama lain. Dari beberapa macam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa dalam kegiatan pengajaran, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam memenuhi tujuan pengajaran. Sehingga dalam suatu kegiatan pengajaran, aktivitas siswa harus disesuaikan dengan materi pengajaran yang disampaikan oleh guru atau masalah yang sdang dibahas.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, peneliti melakukan penelitian tin-dakan pada siswa Kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek semester I Tahun 2013/2014 menekankan peningkatan prestasi belajar siswa pada bidang studi matematika pokok bahasan operasi hitung aljabar melalui kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas. Mengapa harus pembelajaran berbasis aktivitas? Beberapa alasan peneliti menggu-nakan pendekatan pengajaran berbasis akti-vitas dalam mengajarkan materi pembela-jaran Matematika diantaranya: (1) asas akti-vitas digunakan dalam semua jenis metode mengajar baik didalam maupun diluar kelas, (2) asas aktivitas bertujuan mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu, (3) asas aktivitas dapat menikmati pengalaman-pengalaman estetis, (4) memecahkan suatu kesulitan intelektual, dan (5) memperoleh pengalaman dan ketrampilan tertentu.
Sedangkan alasan peneliti memilih
mata pelajaran Matematika digunakan seba-gai materi bahan pendekatan berbasis aktivi-tas, karena dalam kurikulum Matematika dapat membantu siswa untuk : (1) menjalani kehidupan sehari-hari secara efektif, (2) memahami dunianya dan hal-hal yang mempengaruhinya, (3) memanfaatkan ke-sempatan untuk mengembangkan kemam-puan berfikir kreatif, fleksibel, dan inovatif, (4) mengembangkan pengertian tentang konsep-konsep Matematika, (5) menilai dan menggunakan produk teknologi, (6) mema-hami bahwa karir dalam sains dan teknologi cocok bagi pria dan wanita, (7) membuat penilaian tentang isu-isu yang berkenaan dengan lingkungan alam dan buatan, (8) bertanggungjawab terhadap perbaikan kuali-tas lingkungan, (9) memberikan pemecahan pada dilema moral sehubungan dengan isu-isu sains dan teknologi, dan (10) menyiapkan diri untuk studi pada tingkatan yang lebih lanjut. Selain itu hal yang mendasar adalah bahwa pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang banyak tidak diminati dan prestasi belajar kecenderungan kurang baik jika dibanding dengan mata pelajaran lain.
Kurikulum Matematika perlu mem-berikan pengalaman belajar yang membantu siswa memenuhi kebutuhan pribadi, sosial, lingkungan dan ekonomi. Pengalaman bela-jar dalam kurikulum Matematika membantu siswa untuk: (1) menjalani kehidupan sehari-hari secara efektif, (2) memahami dunianya dan hal-hal yang mempengaruhinya,(3) memanfaatkan kesempatan untuk mengem-bangkan kemampuan berfikir kreatif, flek-sibel dan inovatif, (4) mengembangkan pe-ngertian tentang konsep-konsep Matematika, (5) menilai dan menggunakan produk teknologi, (6) memahami bahwa karir dalam sains dan teknologi yang cocok bagi pria dan
wanita, (7) memahami penilaian tetang isu-isu yang berkenaan dengan lingkungan alam dan buatan, (8) bertanggungjawab terhadap perbaikan kualitas lingkungan, (9) memberikan pemecahan pada dilema moral sehubungan dengan isu-isu sains dan teknologi, dan (10) menyiapkan diri untuk studi pada tingkatan yang lebih lanjut.
Kurikulum Matematika harus mem-berikan pengalaman belajar yang melibatkan siswa pada proses dan produk dalam sains dan teknologi. Pendekatan yang dipakai dalam kurikulun diharapkan akan men-dorong siswa menajadi pelajar yang aktif dan fleksibel. Secara khusus pendekatan ini akan: (1) memperhatikan perbedaan individu siswa, (2) memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk mempelajari konsep-konsep esensial, (3) membekali siswa dengan ketrampilan untuk memahami dunia melalui penyelidikan, dan (4) membekali siswa dengan ketrampilan baik untuk memilih alat-alat yang sesuai maupun bahan-bahan yang diperlukan (Nurhadi, 2002; Nurhadi & Senduk, 2003).
Berdasarkan latar belakang dan kaji-an teori maka penelitikaji-an tindakkaji-an kelas ini bertujuan untuk mengetahui dan mendes-kripsikan: (1) implementasi metode belajar berbasis aktivitas di kelas VII-C Semester I dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika de-ngan pokok bahasan operasi hitung aljabar, (2) dampak penerapan metode berbasis akti-vitas pada kegiatan belajar mengajar mate-matika di kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan operasi hitung aljabar terhadap prestasi belajar siswa.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas.Penelitian tindakan kelas berupaya untuk memperbaiki pembela-jaran dan meningkatkan kemampuan siswa. Hal ini sesuai dengan karakteristk penelitian tindakan kelas yang bersifat situasional yaitu mendiagnosis masalah dalam konteks tertentu (Sutopo, 2007:45). Dalam penelitian ini peneliti harus terlibat langsung dalam objek dan proses penelitian (Spradley, 1980). Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan ketrampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia faktual (Zuriah, 2003).
Penelitian tindakan ini berjudul “Pe-nerapan Metode Berbasis Aktivitas dalam pembelajaran Matematika Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Kabupaten Trenggalek Se-mester I Tahun 2013/2014”. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 31 siswa. Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “jika guru bidang studi matema-tika dalam kegiatan belajar mengajar siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Treng-galek Semester I Tahun 2013/2014 me-nerapkan strategi pembelajaran berbasis ak-tivitas, maka dimungkinkan dapat mening-katkan prestasi belajar bidang studi mate-matika dalam materi operasi hitung aljabar”.
Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus, masing-masing siklus melalui tahap: perencanaan, pelaksanaan dan observasi, serta diakhiri dengan refleksi (Zuriah, 2003). Pada penelitian tindakan kelas objek penelitian harus diperlakukan secara alami atau naturalistik sebagaimana yang terjadi pada penelitian kualitatif, artinya objek
diperlakukan sebagaimana adanya (Nasu-tion, 1988). Penelitian kualitatif adalah pene-litian yang memiliki sifat naturalistik, artinya penelitian yang dilakukan secara alami tanpa ada tindakan terhadap objek penelitian (Bogdan & Biklen, 1982; Guba & Licoln, 1981; Miles & Hubermen, 1984).
Observasi (pengamatan) memegang peran penting dalam penelitian kualitatif, terutama dalam penelitian tindakan. Spradley (1980) membagi tiga tahap pengamatan berperan seta dalam penelitian kulitatif, di-antaranya: (a) Dimulai dari pengamatan-pe-ngamatan yang bersifat memeriksa ( descrip-tive observation) secara luas, dengan melu-kiskan situasi sosial secara umum yang ada di lokasi penelitian, (b) kemudian dilanjutkan dengan pengamatan-pengamatan yang lebih terfokus (focused observation) untuk menemukan kategori-kategori utama tentang fokus penelitian, dan (c) setelah itu diadakan pengamatan kategori-kategori yang lebih rinci tentang sub-sub fokus penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi pembelajaran
Implementasi strategi pembelajaran berbasis aktivitas yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar siswa Kelas VII-CSMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek Semes-ter I Tahun 2013/2014, Semes-ternyata lebih efektif dalam meningkatkan dan menumbuhkan aktivitas, motivasi dan prestasi belajar siswa. Beberapa alasan penggunaan strategi pembelajaran berbasis aktivitas dalam kegi-atan belajar agar didapat hasil belajar yang efektif, maka pengajaran dengan pendekatan berbasis aktivitas digunakan dalam penga-jaran matematika materi operasi hitung aljabar dengan metode pendekatan berbasis aktivitas pada siswa kelas VII-C SMP Negeri
1 Pogalan Trenggalek semester I Tahun 2013/2014.
Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas dalam pengajaran matematika materi operasi hitung aljabar dengan metode pendekatan berbasis aktivitas, terbukti bahwa aktivitas siswa dapat meningkat dan dapat meningkatkan prestasi siswa. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer pada siklus I dan II terhadap aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, menunjukkan bahwa guru dalam proses pembelajaran pada siklus II mampu menja-lankan rencana perbaikan tindakan perbaikan pembelajaran secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rekapitulasi aktivitas guru pada siklus I yang memperoleh persentase sebesar 77,50% dengan tingkat aktivitas yang sangat baik. Dengan semakin optimalnya aktivitas guru pada siklus II, maka aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam melaksanakan tindakan perbaikan dari guru juga memperoleh peningkatan menjadi sangat baik dengan tingkat persentase aktivitas sebesar 80,00%, terdapat peningkatan 2,5% tingkat aktivitas dari siklus I ke siklus II.
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Ada dua prinsip cara memandang motivasi siswa dalam belajar di sekolah: (1) motivasi dipandang sebagai proses, dan (2) menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya (Bafadal, 1994). Motivasi merupa-kan dorongan yang datang dari dalam pribadi seseorang (instrinsik) ataupun datang dari luar pribadi (ekstrinsik) untuk mencapai tuju-an sesuai dengtuju-an keingintuju-an pribadinya. Motivasi belajar siswa dalam pembelajaran berbasisi aktivitas mulai nampak ditunjukkan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar.
Berdasarkan pengamatan peneliti, beberapa siswa mulai antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang disampaikan oleh guru. Pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas diharapkan hasil belajar siswa mengalami peningakatan yang berarti, sebab dalam proses belajar dengan pendekatan ini siswa lebih aktif dan selalu melakukan kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan. Sehingga hal tersebut lebih membuat siswa menjadi termotivasi dalam belajar. Selama ini pendekatan yang digunakan dalam belajar hanya konvensional saja, artinya siswa kurang melakukan aktivitas dan hanya banyak mendengarkan ceramah dari guru dan melihat apa yang dilakukan oleh guru.
Temuan tersebut, senada dengan apa yang dikemukakan oleh Hamalik (2002), yang menyebutkan bahwa siswa lebih senang belajar jika mengambil bagian yang aktif dalam latihan/praktik untuk mencapai tujuan pengajaran. Praktik secara aktif berarti siswa mengerjakan sendiri, beraktivitas, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat. Menurut Hamalik (2001) pengajaran hendaknya disesuaikan dengan prinsip
gai berikut: (1) usahakan agar siswa seba-nyak mungkin menjawab pertanyaan-perta-nyaan atau memberikan respon terhadap pertanyaan guru, sedangkan siswa lainnya menulis jawaban dan menanggapi secara lisan, (2) mintalah agar siswa menyusun dan menata kembali informasi yang diperolehnya dari bacaan, dan (3) sediakan laboratorium dan situasi praktik lapangan berdasarkan tujuan pengajaran yang dirumuskan sebelumnya. Dari hasil penelitian ini menun-jukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas merupakan strategi yang memungkinkan untuk membuat siswa aktif dalam belajar, sehingga diharapkan mening-katkan prestasi siswa dalam belajar dapat diperole secara optimal.
Meningkatkan Prestasi Siswa
Hasil tindakan kelas dari siklus I dan siklus II dari penelitian ini dari 31 siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek Semester I Tahun 2013/2014 untuk nilai mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan Operasi Hitung Aljabar ditunjukkan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1 Perkembangan Prestasi Belajar Siswa Siklus I dan II
No Nama Siswa Nilai Siklus I % Ketuntasan T TT Nilai Siklus II % Ketuntasan T TT
1 Addin Thoriq Yustiargo 80 T 80 T
2 Agustina Afiranti 60 TT 80 T 3 Andy Prasetyo U. 60 TT 80 T 4 Arjun Kalma Y. P 60 TT 80 T 5 Bella Mathia A. 60 TT 80 T 6 Chamim Fudian 60 TT 60 TT 7 Dandy Firdaus Z 70 TT 70 TT 8 Dewi Ayu W 80 T 80 T
9 Dewi Siti Maryam 80 T 80 T
10 Dimas A. Perdana 100 T 100 T
11 Fiki Romadhon 100 T 100 T
12 Galang Prasetyo 100 T 100 T
13 Galuh Larasati 100 T 100 T
14 Gita Novia Rahma 90 T 90 T
15 Ilham Adlil Fajar 80 T 80 T
16 Kiki Nanda Arya P 80 T 80 T
No Nama Siswa Nilai Siklus I % Ketuntasan T TT Nilai Siklus II % Ketuntasan T TT
18 Muh. Imron A. 80 T 80 T
19 Moh. Rizqi S. 80 T 80 T
20 Nely Prawitra R. 80 T 80 T
21 Nuryati 60 TT 60 TT
22 Onis Tata Nur. 80 T 80 T
23 Tenti Erliana 80 T 80 T 24 Tutut Fitrotus S. 80 T 80 T 25 Wahyu Agung W. 80 T 80 T 26 Y. Farikatunnisak 80 T 80 T 27 Yunintya Shinta C. 80 T 80 T 28 Yusni I. Lestari 90 T 100 T 29 Agum Yoga P 90 T 100 T
30 Arifin Ian Prasetya 90 T 100 T
31 Chintya Nurika AH 90 T 100 T
Jumlah 2480 24 7 2600 28 3
Rata-Rata 80.00 77.42 22.58 83.87 90.32 9.68
Gambar 1 Grafik Perkembangan Prestasi Belajar dan ketuntasan belajar Siswa (Diolah dari hasil penelitian, Semester I Tahun 2013/2014)
Nilai rata-rata mata pelajaran mate-matika dengan pokok bahasan Operasi Hi-tung Aljabar sebelum dilakukan tindakan kelas (Pra Siklus) adalah sebesar 67,62. Ber-dasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa prestasi belajar pada siklus I rata-rata 80,00 dan nilai pada siklus II rata-rata sebesar 83,87. Dari pra siklus ke siklus I ada kenaikan nilai rata-rata sebesar (80,00-67,62) = 12,38. Sedangkan dari siklus i ke siklus II
terdapat kenaikan prestasi belajar rata-rata sebesar ( 83,87 -80,00) = 3,87.
Berkaitan dengan usaha mening-katkan prestasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-peribahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00
SEB. SIKLUS SIKLUS I SIKLUS II 67.42 80.00 83.87 35.48 77.42 90.32 RATA-RATA KETUNTASAN
belajar. Dalam penelitian tindakan ini, yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai dalam bentuk angka atau nilai pada mata pelajaran Matematika siswa. Semakin tinggi nilai yang dihasilkan, maka semakin baik prestasi belajar yang didapatkan.
Selain dilihat dari prestasi belajar penelitian ini juga menunjukkan hasil ketuntasan belajar. Hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan Operasi Hitung Aljabar siswa kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek Semester I Tahun 2013/2014 mulai pra siklus ketuntasan belajar sebesar 35,48%, pada siklus I meningkat menjadi sebesar 77,42%, dan pada siklus II meningkat dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 90,32%. Untuk mengetahui efektifitas penerapan metode berbasis aktivitas terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat pada Gambar 1.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan pada pembahasan kegi-atan penelitian tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat dirumuskan kesimpulan, sebagai berikut. (1) Dalam me-nerapkan metode berbasis aktivitas guru mengusahakan siswa agar sebanyak mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memberikan respon terhadap pertanyaan guru, sedangkan siswa lainnya menulis jawaban dan menanggapi secara lisan, kemudian guru meminta untuk menyusun dan menata kembali informasi yang diper-olehnya dari bacaan atau LKS, guru juga mempersiapkan kegiatan siswa melalui prak-tik lapangan berdasarkan tujuan pem-belajaran yang dirumuskan sebelumnya.
Dalam kegiatan ini guru menempatkan diri sebagai fasilitator dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berpusat kepada siswa. (2) Strategi pembelajaran dengan me-nggunakan strategi pembelajaran berbasis aktivitas terbukti dapat meningkatkan pres-tasi belajar Matematika Materi Operasi Hi-tung Aljabar Dengan Metode Pendekatan berbasis Aktivitas Pada Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek Semester I Tahun 2013/2014 pada mata pelajaran Ma-tematika, dengan persentase ketuntasan belajar siswa yang meningkat pada setiap siklusnya yaitu 35,48% pada sebelum siklus meningkat menjadi 77,42% pada siklus I. Peningkatan prestasi belajar siswa ini sema-kin optimal pada akhir siklus II dengan per-sentase ketuntasan belajar sebesar 90,32%.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang terse-but, maka dapat dirumuskan saran-saran sebagai berikut. (1) Kepada Guru Bidang Studi Matematika agar mempertimbangkan pemberian materi pembelajaran dengan me-ngenalkan kepada siswa dengan mengguna-kan berbagai macam strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi, aktivitas dan ketuntasan belajar adalah strategi pembelajaran berbasis aktivitas. (2) Kepada guru yang mengajarkan mata pelajaran Mate-matika, hendaknya selalu mempunyai kre-ativitas dalam menggunakan strategi belajar yang diberikan kepada siswa. (3) Strategi pembelajaran berbasis aktivitas bukan satu-satunya strategi yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Artinya guru perlu mengembangkan strategi belajar dengan teknik lain agar proses belajar siswa lebih variatif. Dengan peningkatan aktivitas siswa
dalam kegiatan belajar, maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, I. 1994. Proses Perubahan di sekolah. Desetasi tidak Dipublikasi-kan. Program Pascasarjana IKIP Ma-lang
Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. 1982.
Qualitative Research In Education.
Boston: Allyn & Bacon
Guba, E. G., & Licoln, Y. S. 1981. Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey- Bass Publisher
Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hamalik, O. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara
Miles, M.B., & Hubermen, A.M. 1984.
Analisis Data Qualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia
Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Natu-ralistik Kualitatif. Bandung : Penerbit Tarsito
Nurhadi. 2002. Pendekatan Kontekstual.
Malang: Universitas Negeri Malang
Nurhadi, & Senduk, G., A. 2003. Pembela-jaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Spradley, J., P. 1980. Participant Observa-tion. New York: Holt, Rinehart and Wiston
Suparno, P., Rohandi, R., Sukadi, G., dan Kartono, S. 2001. Reformasi Pendidi-kan Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sutopo. 2007. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Depdikbud. Usman, Uzer, M. 2002. Menjadi Guru
Profesional. Edisi Kedua. Cetakkan keempat belas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuriah, N, 2003. Penelitian Tindakan dalam Bidang Pendidikan dan Sosial. Edisi Pertama. Malang: Bayu Media Publishing