Peluang Investasi Daerah 1
A.
Gambaran Wilayah
A.1 Letak Geografis
Kabupaten Tanah Laut dengan ibukota Pelaihari memiliki wilayah seluas 3.361,35 km². Luas kabupaten ini merupakan 9,71% dari luas Provinsi Kalimantan Selatan. Geografis kabupaten Tanah Laut terletak diantara 114030’20” dan 115023’31” Bujur Timur, serta diantara 3030’33” dan 4011’38” Lintang Selatan. Kabupaten Tanah Laut memiliki batas administrasi sebagai berikut:
Batas Utara adalah Kabupaten Banjar,
Batas Timur adalah Kabupaten Tanah Bumbu,
Batas Selatan adalah Laut Jawa,
Batas Barat adalah Laut Jawa.
A.2Topografi
Topografi Kabupaten Tanah Laut umumnya merupakan daerah dataran tinggi dan bergunung-gunung yang terdapat dibagian Utara dan Timur, yaitu tersebar di Kecamatan Pelaihari, Jorong, Batu Ampar, Tambang Ulang dan Kintap. Sedangkan dibagian Selatan dan Barat merupakan daerah dataran rendah, pantai, dan rawa-rawa yaitu terdapat di Kecamatan Kurau, Takisung dan Panyipatan.
Daerah pasang surut terdapat dipesisir pantai sepanjang 200 km yang merupakan hutan api-api, dan hutan bakau. Tingkat kelerengan tanah umumnya berkisar antara 0 sampai 2 % dan rata-rata ketinggian tanah berkisar antara 0 sampai 7 m di atas permukaan laut. Kemiringan Tanah di Kabupaten Tanah Laut sangat bervariasi yaitu berkisar antara kurang dari 2% hingga lebih dari 40%. Wilayah dengan kelerengan lebih dari
Peluang Investasi Daerah 2 40% merupakan wilayah yang dilindungi dengan penyebaran di sekitar Gunung Paikat, Gunung Damar Gusang, Pegunungan Kemuning, dan Batumandi.
A.3Iklim dan Cuaca
Beriklim tropis yang dipengaruhi musim hujan dan kemarau.Temperatur suatu tempat bergantung pada tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Pada tahun 2010 temperatur berkisar antara 20,0 – 35,2 [0C], kelembaban udara berkisar antara 77,1 – 85,2 [%], jumlah curah hujan 2.445,6 mm, dan jumlah hari hujan 117 hari.
A.4Pemerintahan
Kabupaten Tanah Laut dikepalai oleh seorang bupati. Mulai dari tahun 1966 sampai dengan tahun 2010 telah terjadi sepuluh kali pergantian pemegang jabatan bupati. Bupati dalam melaksanankan tugasnya dibantu oleh 3 (tiga) organisasi perangkat staf pemerintah daerah, yaitu Sektretaris Daerah (Sekda), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Inspektorat. Bappeda disamping bertugas secara teknis juga mengkoordinasi dan mengintegrasikan usaha penyusunan rencana dan program kerja.Inspektorat merupakan unsur pengawasan dengan tugas pokok melakukan pengawasan umum atas jalannya roda pemerintahan daerah sesuai dengan rencana dan peraturan yang berlaku. Daerah Kabupaten Tanah Laut terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan, yaitu Panyipatan, Takisung, Kurau, Bumi Makmur, Bati-Bati, Tambang Ulang, Pelaihari, Bajuin, Batu Ampar, Jorong dan Kintap. Jumlah desa yang tersebar di semua kecamatan adalah 135 desa.
Tabel A-1 Pembagian Wilayah Kabupaten Tanah Laut
No Kecamatan Ibu Kota Luas Wilayah
[km²]
Jumlah Desa/Kelurahan
1
Panyipatan Panyipatan 336,00 102
Takisung Gunung Makmur 343,00 123
Kurau Padang Luas 127,00 114
Bumi Makmur Handil Babirik 141,00 115
Bati-bati Padang 234,75 146
Tambang Ulang Tambang Ulang 160,75 97
Pelaihari Sarang Halang 379,45 208
Bajuin Bajuin 196,30 99
Batu Ampar Batu Ampar 548,10 1410
Jorong Jorong 628,00 1111
Kintap Kintapura 537,00 14Kabupaten Tanah Laut Pelaihari 3.631,35 135
Peluang Investasi Daerah 3
B.
Potensi Wilayah
B.1 Perekonomian
Perekonomian Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2010 tumbuh sebesar 5,98% (berdasarkan estimasi). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 5,77%. PDRB per kapita tahun 2010 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 13.366.474 sedangkan jika dilihat atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp. 7.663.673. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Kabupaten Tanah Laut selama periode 2008 – 2010 tumbuh rata-rata sebesar 8,06%, sedangkan pertumbuhan rata-rata PDRB atas dasar harga konstan dalam periode yang sama hanya sebesar 3,70%.
Tabel B-1 Pendapatan Regional Kabupaten Tanah Laut, 2008 – 2010
Rincian 2008 2009 2010*
PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Ribu Rupiah) 3.194.802.952 3.586.420.384 3.960.927.239 PDRB atas Dasar Harga Konstan 2000 2.025.926.475 2.142.793.272 2.270.999.327
Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,40 5,77 5,98
PDRB Per Kapita atas Dasar Harga Berlaku (Rupiah)
11.286.305 12.369.569 13.366.474 Indeks Perkembangan PDRB per Kapita atas Dasar
Harga Berlaku (%)
193,62 212,21 229,31
Laju pertumbuhan PDRB per Kapita atas Dasar Harga Berlaku (%)
107,81 109,60 108,06
PDRB per Kapita atas Dasar Harga Konstan 200 (Rupiah)
7.157.006 7.390.498 7.663.673 Indeks Perkembangan PDRB per Kapita atas Dasar
Harga Konstan (%)
122,78 126,79 131,48
Laju Pertumbuhan per Kapita atas Dasar Harga Konstan 2000 (%)
102,88 103,26 103,70
Sumber: Tanah Laut Dalam Angka 2011 Keterangan: r) : Angka diperbaiki *) : Angka sementara
B.2Kependudukan dan Tenaga Kerja
Jumlah penduduk Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2010 berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 sebesar 296.333 jiwa. Dari rasio jenis kelaminnya dapat dilihat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Rasio jenis kelamin Kabupaten tanah laut adalah sebesar 106. Nilai rasio jenis kelamin yang melebihi 100 tersebut dapat juga memberikan gambaran bahwa Kabupaten Tanah Laut merupakan daerah penerima migran, yang artinya bahwa kabupaten ini merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup besar sehingga menjadi daerah tujuan migrasi.
Peluang Investasi Daerah 4 Tabel B-2 Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Berdasarkan Kecamatan, Tahun 2010
No Kecamatan Jumlah Sex Ratio Penduduk [jiwa] Rumah Tangga 1 Panyipatan 21.151 21.151 100,46 2 Takisung 27.998 27.998 102,20 3 Kurau 11.578 11.578 100,31 4 Bumi Makmur 11.831 11.831 102,10 5 Bati-bati 38.645 38.645 104,72 6 Tambang Ulang 14.925 14.925 104,87 7 Pelaihari 63.895 63.895 103,55 8 Bajuin 15.957 15.957 106,99 9 Batu Ampar 23.233 23.233 107,92 10 Jorong 29.002 29.002 112,89 11 Kintap 38.118 38.118 111,83 Total 296.333 296.333 105,66
Sumber: Tanah Laut Dalam Angka 2011
Berdasarkan data Tanah Laut Dalam Angka 2011 yang diterbitkan oleh BPS, jumlah pencari kerja di Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2010 adalah sebesar 6.805 orang. Latar belakang pendidikan dari pencari kerja ini sebagian besar adalah lulusan SLTA yaitu sekitar 56,91%, lulusan D3/S1/S2 sekitar 36,65%, sisanya berpendidikan SLTP kebawah.
Tabel B-3 Banyaknya Pencari Kerja yang Terdaftar Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 SD dan sederajat 33 2 SLTP / sederajat 405 3 SLTA/ sederajat 3.873 4 Sarjana Muda 1.408 5 Sarjana 1.086 Total 6.805
Sumber: Tanah Laut Dalam Angka 2011 B.3Upah Minimum Kabupaten
Upah Minimum Kabupaten (UMP) Tanah Laut, tahun 2007 berjumlah Rp.745.000, tahun 2008 berjumlah Rp.825.000, tahun 2009 berjumlah Rp.930.000, tahun 2010 berjumlah Rp.1.024.500 dan tahun 2011 berjumlah Rp.1.126.000.
Tabel B-4 Upah Minimum Kabupaten Tanah Laut
Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011
Peluang Investasi Daerah 5 B.4Prasarana wilayah
Kelistrikan
Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Tanah Laut dipenuhi oleh Perusahaan Umum Listrik Negara Wilayah VI Banjarmasin.Pembangkit listrik yang berada di Kabupaten Tanah Laut terletak di desa Asam-Asam, adalah pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dengan kapasitas terpasang sebesar 2 x 65 MW.Jumlah kWh yang dibangkitkan, kWh yang terjual dan jumlah pelanggan listrik terus meningkat setiap tahun. Berikut dibawah ini kondisi kelistrikan Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2010:
Tabel B-5 Jumlah Pelanggan Listrik, VA Terpasang, kWh Dibangkitkan, kWh Terjual dan Beban Puncak Menurut Kecamatan Tahun 2010
No PLN Ranting Jumlah Pelanggan VA Terpasang Jumlah kWh Dibangkitkan Terjual 1 Pelaihari, termasuk Batu Ampar &
Bajuin
19.541 16.671.730 36.131.320 33.282.942 2 Bati-Bati, termasuk Tambang Ulang 9.635 15.670.850 32.625.880 29.758.084 3 Kurau, termasuk Bumi Makmur 4.684 2.539.070 6.131.200 3.911.356
4 Gunung Makmur/ Takisung 5.496 3.934.240 7.583.600 6.697.895
5 Panyipatan 3.811 2.646.340 4.428.800 4.054.803
Total 43.167 41.462.230 86.900.800 77.705.080 Sumber: Tanah Laut Dalam Angka 2011
Air bersih
Penjualan air minum kepada pelanggan di Kabupaten Tanah Laut tahun 2009 adalah 713.624 m3.Penjualan tersebut mengali penurunan pada tahun 2010 menjadi 692.513 m3.
Tabel B-6 Jumlah Pelanggan, Produksi dan Penggunaan Air Minum yang terjual Menurut Kecamatan Tahun 2010
No Kecamatan Jumlah Pelanggan Produksi [m3] Penggunaan [m3] Terjual [m3] 1 Panyipatan 182 19.274 18.027 13.653 2 Takisung 217 21.978 20.930 15.504 3 Kurau 0 0 0 0 4 Bumi Makmur 0 0 0 0 5 Bati-Bati 746 19.101 18.194 13.476 6 Tambang Ulang 0 0 0 0 7 Pelaihari 3.870 767.837 731.793 512.365 8 Bajuin 0 0 0 0 9 Batu Ampar 177 15.044 14.091 10.652 10 Jorong 399 179.105 167.514 126.863 11 Kintap 0 0 0 0 Jumlah 5.591 1.022.339 970.549 692.513
Peluang Investasi Daerah 6 Jalan raya
Jalan raya merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Kondisi jalan di Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2010 adalah:
Tabel B-7 Panjang Jalan Menurut Permukaan, Tahun 2010
No Jenis Permukaan Jalan Negara [km] Jalan Provinsi [km] Jalan Kabupaten [km] Jumlah [km] 1 Aspal 140,76 104,91 435,48 681,15 2 Kerikil 0 0 257,53 257,53 3 Tanah 0 0 153,64 153,64 4 Tidak Dirinci 0 0 56,39 56,39 Total 140,76 104,91 903,04 1.148,71
Sumber: Tanah Laut Dalam Angka 2011
Terdapatnya potensi sumberdaya alam yang dapat dikembangkan: Sumber daya lahan:
Luas lahan di Kabupaten Tanah Laut berjumlah 372.930 Ha terdiri dari pemukiman/kampung 4.159 Ha (1,38 %), persawahan 40, 786 (10,94 %), tegalan 10.326 Ha (2,77 %), Kebun campuran 26.246 Ha (7, 04 %), perkebunan 45.424 Ha (12,18 %), Alang – alang / semak 80.252 Ha (21, 52 %), hutan sejenis 39.380 Ha (10,70 %), hutan belukar 53. 415 Ha (14, 32 %),Hutan Lebat 65.064 Ha (17,45 %), rawa / danau 5.020 Ha (1,35 %), dan lain – lain 1. 490 Ha (0,40 %).
Sumber daya Pantai dan Kelautan:
Potensi sumber daya pantai, dan kelautan di Kabupaten Tanah Laut saat ini dimanfaatkan untuk usaha perikanan, dan obyek wisata. Potensi penangkapan ikan di laut sebanyak 82.000 ton , perairan umum 1.476 ton, budidaya tambak 16,4 Ha, budidaya kolam 10 Ha, keramba 16,4 Ha dan budidaya mina padi 15,6 Ha. Garis pantai sepanjang kurang lebih 200 Km sangat potensial dimanfaatkan sebagai areal budidaya tambak baik untuk komoditas ikan maupun udang. Disamping itu juga sebagai Obyek wisata seperti Pantai Takisung, Batulima, Batakan, Swarangan, dan lain-lain. Sedangkan untuk kedepan pantai di Kabupaten Tanah Laut cukup prospektif untuk dikembangkan sebagai pelabuhan laut seperti pantai Swarangan, Muara kintap, Asam Asam maupun Muara Sabuhur (Sanipah). Sementara itu dengan berlakunya Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka Kabupaten Tanah Laut memiliki wilayah teritori di laut seluas 960 Km2. Kondisi ini tentunya sangat potensial untuk dikembangkan baik sebagai area budidaya perikanan, penangkapan ikan, pemasaran maupun ke pelabuhan.
Peluang Investasi Daerah 7 Pelabuhan laut
Tabel B-8 Data Pelabuhan Khusus Regional Di Kabupaten Tanah Laut Tahun 2009
No Perusahaan Bidang
Usaha
Lokasi
Desa Kecamatan Koordinat
BT LS
1 PT.Restu Mulia Kencana Batubara Pandan Sari Kintap 115° 11' 55,3" 03° 55' 54,1"
2 PT.Astana Karya Batubara Pandan Sari Kintap 115° 08' 41,2" 03° 57' 11,1"
3 PT. Alkatara Batubara Sungai Cuka Kintap 115° 19' 31,9" 03° 52' 51,9"
4 PT. Mandiri Citra Bersama
Batubara Pandan Sari Kintap 115° 11' 34,7"
03° 56' 19,4"
5 PT. Dewata Utama Batubara Pandan Sari Kintap 115° 09' 0" 03° 57' 40"
6 PT. Surya Sakti Dharma Kencana
Batubara Kintap Kecil Kintap 115° 14' 52,2"
03° 52' 33,4" Sumber: Bidang LLAJ
Tabel B-9 Data Pelabuhan Khusus Nasional Di Kabupaten Tanah Laut Tahun 2009
No Perusahaan Bidang
Usaha
Lokasi
Desa Kecamatan Koordinat
BT LS
1 PT.Restu Mulia Kencana Batubara Pandan Sari Kintap 115° 11' 55,3" 03° 55' 54,1"
2 PT.Astana Karya Batubara Pandan Sari Kintap 115° 08' 41,2" 03° 57' 11,1"
3 PT. Alkatara Batubara Sungai Cuka Kintap 115° 19' 31,9" 03° 52' 51,9"
4 PT. Mandiri Citra Bersama Batubara Pandan Sari Kintap 115° 11' 34,7" 03° 56' 19,4"
5 PT. Dewata Utama Batubara Pandan Sari Kintap 115° 09' 0" 03° 57' 40"
6 PT. Surya Sakti Dharma
Kencana
Batubara
Kintap Kecil Kintap 115° 14' 52,2" 03° 52' 33,4" Sumber: Bidang LLAJ
Pola ruang wilayah kabupaten Tanah Laut menurut draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 – 2031 adalah sebagai berikut:
B.5Kawasan lindung
Kawasan lindung yang dimaksud adalah kawasan hutan lindung yang terdiri dari: kawasan perlindungan setempat; kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya; dan kawasan rawan bencana alam. Peruntukan dan luas dan kawasan hutan lindung Kabupaten Tanah Laut adalah seperti tabel berikut:
Peluang Investasi Daerah 8 Tabel B-10 Kawasan Hutan Lindung Kabupaten Tanah Laut
No Peruntukan Luas [ha]
1 Kawasan Suaka Alam (KSA) 27.662
2 Hutan Lindung (HL) 15.861
3 Hutan Produksi Terbatas (HPT) 5.290
4 Hutan Produksi Tetap (HP) 71.658
5 Hutan Produksi Konservasi (HK) 12.174
Sumber: Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 - 2031
Hutan lindung (HL) Kabupaten Tanah Laut tersebar di beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Bajuin, Kecamatan Bati-Bati, Kecamatan Batu Ampar, Kecamatan Kurau, Kecamatan Panyipatan, Kecamatan Pelaihari, Kecamatan Takisung dan Kecamatan Tambang Ulang.
Kawasan perlindungan setempat terdiri atas:
- Kawasan sempadan pantai; berada pada sepanjang pantai Kabupaten Tanah Laut meliputi pantai di Kecamatan Bumi Makmur, Kecamatan Kurau, Kecamatan Takisung, Kecamatan Panyipatan, Kecamatan Jorong dan Kecamatan Kintap dengan ketentuan sebagai berikut a) daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 m dari titik pasang air laut tertinggi ke darat; b) daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi pantai; C) mempertahankan kelestarian ekosistem pantai (mangrove dan terumbu karang) dengan memperkecil penggunaan/ alih fungsi pantai dari berbagai kegiatan yang menggunakan sempadan pantai.
- Kawasan sempadan sungai; direncanakan sebesar kurang lebih 3.737,8 ha terdapat dikawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/ kanal/ saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting melestarikan fungsi sungai dengan ketentuan yang diatur dalam RTRW.
- Kawasan sempadan irigasi.
Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya adalah kawasan yang meliputi kawasan wisata alam (Kecamatan Pelaihari, Kecamatan Batakan), suaka alam (Kecamatan Batakan, Kecamatan Bajuin), kebudayaan dan situs sejarah (Kecamatan Takisung, Kecamatan bajuin).
Kawasan rawan bencana alam meliputi:
a) kawasan rawan banjir, adanya luapan banjir yang sering terjadi selama musim hujan dalam wilayah DAS yaitu semua kecamatan Bati-Bati;
b) kawasan kebakaran, ditetapkan dengan kriteria lahan kritis pada bahan gambut yang telah mengalami proses pengeringan dimusim kemarauakan mudah terbakar dan menghasilkan kabut asap yang lama. Wilayah yang termasuk dalam kawasan ini adalah semua Kecamatan Bati-Bati.
Peluang Investasi Daerah 9 B.6 Kawasan budidaya
Kawasan budidaya yang dimaksud adalah kawasan yang digunakan sebagai tempat kegiatan untuk melakukan/memenuhi suatu kegiatan ekonomi.Pada tabel berikut dijelaskan lebih detail mengenai kawasan peruntukan dan lokasinya di Kabupaten Tanah Laut.
Tabel B-11 Kawasan Budidaya Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 - 2031
No Kawasan Peruntukan Lokasi Luas [ha] Keterangan
1 Permukiman Seluruh kecamatan 6.131,30 Dikembangkan pada pusat-pusat fasilitas umum yang terletak di pusat-pusat pertumbuhan
2 Industri
Industri Sedang Kec. Bati-Bati 2.905 Industri pengolahan, pertanian dan pengolahan hasil laut sebagai penunjang minapolitan Industri Besar Kec. Jorong dan
Kec. Kintap
4.357 Industri pertambangan dan perkebunan
3 Pertanian
Tanaman Pangan
lahan basah Seluruh kecamatan 54.467,14 lahan kering Seluruh kecamatan 66.077,14 Pertanian pangan
berkelanjutan
45.358
Hortikultura Kec. Pelaihari 41
Kec. Bajuin 352
Kec. Kintap 132
Kec. Bati-Bati 13 Kec. Batu Ampar 56 Kec. Panyipatan 54 Kec . Takisung 12 Kec. Tambang Ulang 66
Kec. Kurau 24
Kec. Jorong 36
Kec. Pelaihari, Batu Ampar, Batu Ampar, Panyipatan dan Kurau
Pengembangan pusat agropolitan
Peluang Investasi Daerah 10 4 Perkebunan
Perkebunan rakyat seluruh kecamatan 16.955 Perkebunan negara seluruh kecamatan 3.290 Kawasan pengolahan
besar suasta
seluruh kecamatan 57.078
5 Perikanan
Perikanan tangkap seluruh kecamatan 6.582,55
Perikanan budidaya Kec. Kintap, Kurau Budidaya air tawar Kec. Kintap, Jorong,
Panyipatan,
Takisung dan Kurau (air laut)
Budidaya air laut
Pengolahan industri ikan Kec. Bati-Bati, Kintap, Jorong, Kurau dan Panyipatan
Meliputi industri kecil rumah tangga berbasis minapolitan
6 Pertambangan Gas metan batubara (GMB)
Kec. Bumi Makmur, Kurau, Bati-Bati, Tambang Ulang, Pelaihari,
Panyipatan, Jorong, Batu Ampar, Kintap, dan 5 (lima) kilometer lepas pantai selatan Kecamatan Panyipatan, Jorong, dan Kintap
Mineral logam Kecamatan Bati-Bati, Tambang Ulang, Pelaihari, Takisung, Panyipatan, Batu Ampar, dan Kintap
Batubara Kecamatan Bati-Bati,
Jorong, Kintap, Penyipatan dan Batu Ampar
Mineral bukan logam seluruh kecamatan
Peluang Investasi Daerah 11 7 Pariwisata
Budaya Kec. Batakan,
Takisung, Bajuin
situs sejarah
Alam Kec. Pelaihari,
Takisung
Taman wisata alam
8 Lainnya
Pesisir dan pulau-pulau kecil Pertahanan dan keamanan kawasan peruntukan dengan menjaga kelestarian dan penghijauan lingkungan dengan menunjang agrobisnis perikanan
Sumber: Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 - 2031
C.
Peluang Investasi
Peluang investasi yang diunggulkan pada saat ini di Kabupaten Tanah Laut adalah hilirisasi pengolahan bijih besi sesuai dengan yang telah dicanangkan sebagai program nasional MP3EI.
C.1 Profil Peluang Investasi Hilirisasi Pengolahan Bijih Besi
Beberapa profil investasi hilirisasi bijih besi yang menjadi informasi penting bagi calon investor adalah sebagai berikut:
a. Membutuhkan energi yang besar untukmelakukan peleburan.
Peleburan bijih besi membutuhkan energi yang relatif besar, sehingga wilayah yang memiliki energi yang besar dan relatif murah akan menjadi ekonomis bagi industri pengolahan bijih besi. Kabupaten Tanah Laut memiliki pembangkit listrik tenaga uap dengan menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya.Pembangkit listrik tersebut berada di desa Asam-Asam dan memiliki kapasitas terpasang sebesar 2 x 65 [MW].Batubara di kabupaten Tanah Laut maupun di provinsi Kalimantan Selatan cukup banyak.Sehingga investor yang ingin membangun pembangkit listrik sendiri dapat membelinya dari perusahaan-perusahaan penambang batubara yang telah beroperasi (eksis) di Provinsi Kalimantan Selatan maupun di provinsi lainnya di pulau Kalimantan.Berikut sumberdaya dan cadangan batubara setiap Provinsi di Kalimantan.
Peluang Investasi Daerah 12 Tabel C-1 Sumber Daya dan Cadangan Batubara Kalimantan, Tahun 2005
No Provinsi Kualitas
(Kal/gr, adb)
Sumberdaya [Juta Ton] Cadangan
[Juta Ton]
Hipotetik Tereka Tertunjuk Terukur Jumlah 1. Kalimantan Barat 6.100 – 7.100 42,12 378,60 0 0 420,72 0 >7.100 0 104,00 1,32 1,48 106,80 0 42,12 482,60 1,32 1,48 527,52 0 2. Kalimantan Tengah <5.100 0 483,92 0 0 483,92 0 5.100 – 6.100 0 296,75 5,08 44,36 354,80 4,05 6.100 – 7.100 114,11 262,72 0 72,64 449,47 0 >7.100 0 247,62 0 77,02 324,64 44,54 114,11 1.291,01 5,08 194,02 1.612,83 48,59 3. Kalimantan Selatan <5.100 0 370,87 0 600,99 971,86 536,33 5.100 – 6.100 0 4.793,13 301,36 2.526,46 7.620,95 1.287,01 6.100 – 7.100 0 336,19 33,12 109,64 478,95 44,36 >7.100 0 17,62 0 12,00 29,62 0,14 0 5.517,81 334,48 3.249,09 9.101,38 1.867,84 4. Kalimantan Timur <5.100 0 201,93 13,76 89,83 305,52 0 5.100 – 6.100 2.285,84 10.630,35 121,61 2.609,46 15.682,72 941,62 6.100 – 7.100 502,96 2.611,07 191,77 1.558,62 4.918,92 1.064,82 >7.100 90,11 60,84 4,48 14,40 169,82 65,24 2.878,90 13.504,19 331,62 4.272,31 21.076,98 2.071,68 Sumber: Pusat Sumber Daya Geologi, 2006
b. Kadar kandungan Fe bijih besi di Kabupaten Tanah Laut dibawah 65%.
Menurut bulletin sumber daya geologi tahun 2009, hasil analisis komposisi kimia bijih besi Kalimantan Selatan menunjukkan kadar Fe tidak lebih dari 65%, baik pada laterit maupun metasomatik (magnetit dan hematit).
Tabel C-2 Komposisi Kimia [%] Bijih Besi di Kalimantan Selatan
Tipe Bijih Fe SiO2 CaO MgO Al2O3 Cr2O3 P S Ni LOI
Laterit 40 - 56 3 - 12 0,5 - 2 0,5 - 2 5 - 13 1 – 2,5 0,05- 0,1 0,05- 0,1 0,015 – 0,25 5 - 15
Peluang Investasi Daerah 13 Metasomatik
(Magnetit & Hematit)
30 - 63 3 - 15 0,5 - 2 0,5 - 2 2 - 15 < 0,1 < 0,1 < 0,1 --- < 2
Sumber: Buletin Sumber Daya Geologi, Volume 4, No. 2, 2009
c. Industri hIlirisasi pengolahan bijih besi bukan merupakan daftar negatif investasi menurut Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan Dibidang Penanaman Modal.
d. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, melarang ekspor bijih besi mentah (sebagai
raw material atau ore) melainkan harus diolah terlebih dahulu. Tabel berikut menerangkan batasan minimum pengolahan dan pemurnian komoditas tambang mineral logam yang diambil dari Lampiran I Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012.
Tabel C-3 Batasan Minimum Pengolahan dan Pemurnian Komoditas Tambang Mineral Logam
No
Komoditas Produk Samping/
Sisa Hasil/ Mineral Ikutan
Batasan Produk Minimum Untuk Dijual ke Luar Negeri Bijih/ore Mineral
1 Bijih Besi Hematit Ilmenit Pirit
Sponge iron > 85% Fe Pig iron > 94% Fe
Geotit/ laterit Sponge iron > 80% Fe
Logam paduan (alloy) > 88% Fe
2 Pasir besi Titanomagnetit Ilmetit
Rutil
Pig Iron > 98% Fe Terak TiO2> 98%
Logam paduan (alloy) > 65% Ti V2O5> 14,0%
Logam paduan (alloy) > 65% V Sumber: Peraturan Menteri ESDM No. 7, Tahun 2012
e. Pelarangan penggunaan jalan umum bagi kendaraan berat industri
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan, melarang kendaraan berat industri menggunakan jalan umum. Sehingga kendaraan pembawa bahan baku bijih besi harus menggunakan jalan khusus yang telah ditetapkan oleh Gubernur.Hanya hasil tambang yang sudah berupa kemasan dan ditujukan untuk keperluan rumah tangga yang dapat diangkut melalui jalan umum
Peluang Investasi Daerah 14 dengan pembatasan tonase sesuai dengan kelas jalan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
C.2 Peluang Pasar
Pada saat ini konsumsi baja Indonesia adalah sekitar 37 kg/kapita. Dalam jangka menengah dan panjang, konsumsi baja di Indonesia pada tahun 2015 akan mencapai 43 kg/kapita dan pada tahun 2025 mencapai 100 kg/kapita, maka dibutuhkan pembangunan beberapa industri baja yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Untuk mencapai konsumsi baja pada tahun 2025, maka terbuka peluang pasar sebesar 17,972 juta ton, dengan rincian sebagai berikut:
Konsumsi besi baja Indonesia saat ini (2012) adalah 37 kg/kapita dan pada tahun 2025 adalah 100 kg/kapita.
Dengan mengasumsikan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2012 adalah 244 juta jiwa, maka jumlah besi yang dimiliki/dikonsumsi adalah 244 juta jiwa x 37 kg/kapita = 9.028 juta kilogram = 9,028 juta ton.
Dengan mengasumsikan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 adalah 270 juta jiwa, maka total besi yang dikonsumsi adalah 270 juta jiwa x 100 kg/kapita = 27.000 juta kilogram = 27 juta ton.
Maka dari tahun 2012 hingga 2025 akan terjadi penambahan konsumsi besi sebesar: 27 juta ton – 9,028 juta ton = 17,972 juta ton.
Adanya rencanajangka panjang konsumsi baja seperti yang diuraikan di atasdalam MP3EI 2011 – 2025, maka peluang pasar dalam negeri untuk hasil produk industri baja akan semakin besar.
Tabel C-4 Rencana Pengembangan Industri Baja
No Lokasi Industri Kapasitas Produksi
[Juta Ton/Tahun]
1 Cilegon 4,5
2 Kalimantan 15
3 Lampung 5
4 Tersebar di Sulawesi, Sumatera, Maluku 5 Sumber: MP3EI 2011 – 2025
Disamping pangsa pasar yang besar, rantai nilai pada industri baja masih sangat menarik.Hal ini terlihat pada perbedaan harga jual produk dan biaya operasional (profit) rata-rata industri melebihi 100%.
Tabel C-5 Rantai Nilai Industri Besi Baja
No Industri Biaya Operasional [USD/Ton] Harga Jual [USD/Ton] 1 Bijih Besi 25 – 35 55 – 60
Peluang Investasi Daerah 15
2 Konsentrat 15 – 25 100 – 120
3 Aglomerasi 10 – 20 180 – 200
4 Pembuatan besi (peleburan) 50 – 110 350 – 400
5 Pembuatan Baja 80 - 110 ± 700
Sumber: MP3EI 2011 – 2025
Berdasarkan pohon industri besi/baja yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian tahun 2011, masih ada 12 (dua belas) jenis industri besi/baja yang belum ada di Indonesia dan tidak dilarang/dibatasi untuk melakukan ekspor, bahkan 7 (tujuh) jenis industri diantaranya mendapatkan insentif dari pemerintah berupa tax holiday dan
tax allowance.
Tabel C-6 Jenis Industri Besi/Baja yang Belum Ada di Indonesia
No Produk Jenis Proses Insentif dan Disinsentif
Pemerintah
1 Iron Ore Concentrate Ore Processing Pelarangan/ pembatasan ekspor
2 Pellet Aglomeration Pelarangan/ pembatasan ekspor
3 Sinter Aglomeration Pelarangan/ pembatasan ekspor
4 Iron Sand Concentrate Ore Processing Pelarangan/ pembatasan ekspor
5 Fe-Chrome & Alloys Iron Making Pelarangan/ pembatasan ekspor
6 Hot Bricket Iron Iron Making Tax holiday, tax allowance
7 Hot Metal Iron Making Tax holiday, tax allowance
8 Pig Iron Iron Making Tax holiday, tax allowance
9 Direct Reduced Iron Iron Making Tax holiday, tax allowance
10 Bloom Steel Making &
Casting Tax holiday, tax allowance
11 Stainless Steel Slab Steel Making &
Casting Tax holiday, tax allowance
12 Stainless Steel Billet Steel Making &
Casting Tax holiday, tax allowance
13 Round Billet Hot Forming ---
14 Stainless Steel HRC Hot Forming ---
15 Stainless Steel Rod/Bar Hot Forming ---
16 Heavy Profile, Rail Finished Product ---
17 Stainless Steel Rod, Shaft
Bar Finished Product ---
Peluang Investasi Daerah 16 Gambar C-1 Pohon Industri Besi/Baja
Heavy Profile, Rail
PC-Wire, Wire Rope, Electrode Wire Hot Bricket
Iron Billet Wire Rod
Building Iron Ore Iron Ore
Concentrate Pellet Sponge Iron
Bloom
Round Billet
Wire
Seamless Pipe Construction
Rod, Bold, Nut
Profile, Deformed Bar
Shaft Bar
GI-Sheet, Galvanized-Aluminized-Coated-Sheet Tin Plate
Plate, Pipe, Welded-Profile
Plate, Heavy-Plate, Welded Pipe, Welded Profile
Stainless Steel Sheet
Stainless Steel Rod, Shaft Bar Cold Rolled
Coil
Stainless Steel CRC Bar
Hot Rod Coil
Plate Stainless Steel HRC Stainless Steel Rod/Bar Slab Iron/Steel Cast Stainless Steel Slab Stainless Steel Billet Pig Iron Hot Metal Direct Reduced Iron Fe-Chrome & Alloys Fe-Nickel Alloys Scrap Sinter Iron Sand Concentrate Iron Sand
Sudah ada industrinya Belum ada industrinya Sebagian diimpor Penggunaan akhir
Oil & Gas Trans. Automotive Ship Railway Agriculture Electronic Casing Defense Hosehold Health Food Packaging Mining Ore
Processing Aglomeration Iron Making
Steel Making &
Casting Hot Forming Cold Forming Finished Products
Applications/ Industries (pelarangan/pembatasan
ekspor)
(tax holiday, tax allowance)
Peluang Investasi Daerah 17 C.3 Ketersediaan Lahan
Ketersediaan lahan bagi calon investor hilirisasi pengolahan bijih besi terdapat di Kecamatan Jorong dan Kintap, sesuai dengan draft Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 - 2031, bahwa peruntukan lahan bagi industri besar pengolahan hasil perkebunan dan pertambangan ditempatkan di kecamatan Jorong dan Kintap seluas 4.357 ha (lihat gambar Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Tanah Laut). Kawasan yang ditunjuk oleh pemerintah daerah tersebut tidak dibebaskan (dibeli) oleh pemerintah,tetapi pada kawasan tersebut pemerintah mengijinkan konversi peruntukan lahan menjadi lahan industri besar.Pada saat ini lahan-lahan pada kawasan tersebut dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tanah Laut, suasta dan masyarakat.Dengan demikian calon investor diharapkan langsung melakukan negosiasi pembebasan tanah pada pemiliknya jika ingin melakukan investasi industri hilir besi.
Gambar C-2 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Tanah Laut Tahun 2011 - 2031
C.4Ketersediaan Bahan Baku
Berdasarkan data yang didapat dari Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008, bijih besi sebagai bahan baku industri hilir besi/baja di kabupaten tanah laut tersebar dibeberapa tempat. Tempat yang memiliki cadangan terkira (probable) besi primer (bijih dan logam) yang besar di
Peluang Investasi Daerah 18 Kabupaten Tanah Laut adalah Riampinang, Gunung Tembaga dan Tanjung.Sumber daya besi primer terukur (measured) jumlahnya melebihi 1,5 juta ton, berada di daerah Pontain dan Tebing Siring. Sedangkan sumber daya besi primer tereka (inferred) lebih dari seratus tujuh puluh ribu ton.
Tabel C-7 Sumber Daya dan Cadangan Besi Primer di Kabupaten Tanah Laut Tahun 2008
No Lokasi
Sumber Daya [Ton] Cadangan [Ton]
Tereka Terukur Terkira
Bijih Logam Bijih Logam Bijih Logam
1 Pontain --- --- 1.197.000 778.050 --- --- 2 Tebing Siring --- --- 1.149.200 625.049,88 --- --- 3 Riampinang --- --- --- --- 1.149.000 746.850 4 Tanah Ambungan 132.000 41.870,40 --- --- --- --- 5 Tanjung --- --- --- --- 177.200 79.740 6 Gg. Tembaga --- --- --- --- 889.000 556.247,30 7 Melati --- --- --- --- 108 60,48 8 Batukora --- --- --- --- 155 79,67 9 Ulin --- --- --- --- 512 259,07 10 Koratein --- --- --- --- 30 19,97 Jumlah 132.000 41.870,40 2.346.200 1.403.100 2.216.005 1.383.256 Sumber: Pusat Sumber Daya Geologi Tahun 2008
Menurut penggolongan/ metode Mc. Kelvy, penghitungan cadanganbesi primer Kabupaten Tanah laut: ketelitiannya tinggi, layak dan ekonomis untuk dieksploitasi. Sehingga calon investor mendapat kepastian akan adanya ketersediaan bahan baku bijih besi di kabupaten tersebut.
Tabel C-8 Penggolongan Sumber Daya dan Cadangan (Mc. Kelvy, 1973) Penemuan Sumberdaya Cadangan Mungkin (Possible) Cadangan Terkira (Probable) Cadangan Terbukti (Proved) Sumberdaya Umum (Measured) Sumberdaya Tereka (Infered) Sumberdaya Terunjuk (Indicated) Sumberdaya Terukur (Measured)
Menurut data yang yang didapat dari Sekretaris Daerah Bidang Penenanaman Modal Pemerintah Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2012, penambang bijih besi yang dapat Marginal
Ekonomis Kelayaka n
Peluang Investasi Daerah 19 menjadi pemasok bahan baku bagi calon investor industri hilir besi adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan produksi per bulan sebanyak 30.000 ton dan masyarakat dengan luas tambang ± 1.907 ha yang memiliki potensi bijih besi sebesar 50 juta ton.
Tabel C-9 Masyarakat Penambang Bijih Besi (Pemasok Bahan Baku), Tahun 2011
No Alamat
(Desa, Kecamatan) Koordinat
Luas Lahan
[Ha] 1 Tebing Siring, Kec. Bajuin 03040’14,88”
114055’15,6”
176,2
2 Sei Bakar Pemalongan, Kec. Bajuin 03047’00,96’
114052’39,00” 451,9
3 Pemalongan, Kec. Bajuin 03048’33,48”
114051’32,76” 112,3
4 Pemalongan, Kec. Bajuin 03047’43,8”
114054’38,52”
196
5 Ambungan, Kec. Pelaihari 03
044’31,2”
114047’15,72” 89
6 Gn. Melati, Kec. Pelaihari 03050’13,2”
114048’14.04” 44
7 Tampang, Kec. Pelaihari 03
051’38,52”
114046’39,0” 41
8 Sungai Riam, Kec. Pelaihari 03
053’17,52”
114045’51,12” 197,8
9 Sumber Mulya, Kec. Pelaihari 03
0
52’09,84”
114047’17,52” 279
10 Tanjung, Kec. Bajuin 03
043’44,04”
114050’35,88” 62
11 Ketapang Kec. Bajuin 03
047’09,6”
114049’45,48” 164,8
12 Bumi Jaya, Kec. Pelaihari 03
049’47,28”
114048’26,28” 91,7
Total 1.907
Sumber: Sekretaris Daerah Bidang Penenanaman Modal Pemerintah Kabupaten Tanah Laut 2012
C.5 Besaran Investasi
Tabel C-10 Besaran Investasi Berdasarkan Jenis Industri
No Industri Kondisi Investasi
Operasional/Ton [USD] Harga Jual/Ton [USD] Keuntungan/Ton [USD]
1. Bijih Besi Minimum 35 55 20
Peluang Investasi Daerah 20 2. Konsentrat Minimum 25 100 75 Maksimum 15 120 105 3. Aglomerasi Minimum 20 180 160 Maksimum 10 200 190 4. Pembuatan Besi (peleburan) Minimum 110 350 240 Maksimum 50 400 350 5. Pembuatan Baja Minimum 110 700 590 Maksimum 80 700 620
Jika investor mampu mendapatkan bahan baku sebanyak 1 juta ton dari penambang di Kabupaten Tanah Laut, maka nilai investasi yang dibutuhkan yang dibutuhkan berkisar antara 10 - 700 [juta USD].
C.6Ketentuan Investasi di Provinsi, Hukum dan Peraturan Terkait
Beberapa hukum dan peraturan yang terkait dengan investasi hilirisasi pengolahan bijih besi adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
2. Peraturan Menteri Keuangan No. 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.
3. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 34 Tahun 2009 tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri.
4. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melaui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. 5. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 11 Tahun 2012 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 07 Tahun 2012 tentangPeningkatan Nilai Tambah Mineral Melaui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.
6. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan.