-tr. No :03/B/PAN-SR/KODISIA-UILD(/2012. HaI : SURATPE RMO HONAN PEMBICARA

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SEMTXAN NDGIONAL

JAIENG

I'AN

I'Ir

"Keoctaraan

Gender

darl

Berbagai

dan

Tuntutan"

Preepekttl:

Pcrempuan

A[tara

Fitrah

I.EIIBAGA DAf,WAE

IIAIIPUS

IIOBPS

I}Af,UAE ISI,Ail

TINIYBNSITAS TSI,A}I INDONESIA

Sekretariat Jalan Kaliurang Km l4'5 Sleman' DIY 55584'

Telepon dan SMSCenter 085 729 352 440 email kodisiauii@gmail.com

-tr

I

o o z

t

z

No

:03/B/PAN-SR/KODISIA-UILD(/2012

Lamp

:1 Brndel Terms of Reference dan Rundown Acaru

HaI

:

SURATPE RMO HONAN PEMBICARA

Kepada Yang Kami Hormati,

Ibu Dr.

Aroma Elmina

Martha,

SH'

MH

Di

YOG

YAKARTA

Hari,tgl

: Sabtu, 22 Desember 2012

Waktu

: Pukul 08.45

-

11.30

WIB

Tempat

: Gedung Kuliah Umum Sardjito Universitas Islam Indonesia

Demikian surat permohonan

ini

kami sampaikan, atas perhatiannya kami aturkan

teima kaath. Jaz akil I ahu kh aYr.

W as s a I am u' a lay k um

lf

'ara h mat u lla h

i

lVa b a r a k al u h

u.

KORPSDAKWAH

US

UII

(KODISIA)

LAMINDONESIA

ll/

Assalama' alaykum Warahamtullahi Wabarakatuh

u-Puji

syukur

kita

panjatkan kepada

Allah

yang masih memberikan nikmat iman

dan

Islam

sehingga

kita

masih bisa merasakan nikmatnya keimanan dan membenci

kekafiran.

Shalawat

serta salam

semoga senantiasa

tercurah

kepada Rasulullah

Muhammad, penutuP Para Nabi.

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Acara Seminar Regional

JATENG-DIY..

Kesetaraan Gender

dari

Berbagai

Perspektif:

Perempuan

Antara Fitrah

dan

Tuntutan",

maka

kami

selaku Panitia

bermaksud

memohon kesediaan

Ibu

untuk

bersedia menjadi pembicara

dalam acara

kami yang

akan dilaksanakan'

insyaAllah, pada:

It

r-C

A PUTRI

A

NDRIY

li

tir

D

ANITIA

,,)r tvr_R

SEKRETARIS PANITIA

Sleman, 12 Desember 2012

PANITIA SEMINAR REGIONAL

LEMBAGA DAKWAH KAMPUS

(2)

*ufiMrl@t

e-mail: fh@uii.ac.id, Website: www.uii.ac.id

SURAT

TUGAS

No : 07.12 /Dek-ST/60/Div.URT/H

lxlllz1l2

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan

ini

Pimpinan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menugaskan

saudara yang namanya tersebut dibawah

ini

sebagai Pembicara Seminar Regional JATENG

-DIY yang diselenggarakan oleh KODISIA

UII

pada hari Sabtu, 22 Desember 2012 Pukul 08.45

-I 1.30 Wib:

Nama

Jabatan Pekerjaan

Tema

ljin Penyelenggaraan Prodi

Surat No. : 7 2631D lI lK-V 12011

Standard

ISO 9001:2008

Certificate Registr No. 01 100 096609

BRN.PT

Status AkreditasiA SK:078/Sl(BAN-PT/Akred/S/l I l/20 "1 4

: Dr. Aroma Elmina Martha, SH., MH

: Lektor Kepala

: Dosen Tetap Fakultas Hukum

UII

Yogyakarta

: Kesetaraan Gender dari Berbagai Perspektif : Perempuan Antara Fitrah dan

Tuntutan

Surat Tugas

ini

disampaikan kepada yang bersangkutan, untuk diketahui dan dipergunakan

sebagaimana mestinya. Y Desember 2012 q Dr. RusliMuhammad, SH., MH

-(n)

TUVRheinland

Precisely Right. YOG -4 rr .-l A'

(3)

Aroma Elmina Martha

[Type text]

KESETARAAN GENDER DARI BERBAGAI PERSPEKTIF: PEREMPUAN ANTARA FITRAH DAN TUNTUTAN (aspek tindak pidana Kekerasan suami

terhadap istri di Indonesia) 1

Oleh : Dr. Aroma Elmina Martha, SH. MH

Fakta telah menunjukkan bahwa tindak pidana kekerasan terhadap perempuan sebagai pasangan telah memberikan dampak negatif yang cukup besar bagi perempuan sebagai korban.2 Tidak seperti tindak pidana lainnya, tindak pidana kekerasan terhadap

perempuan dalam rumah tangga ini memiliki kekhususan. Kekhususan ini ditunjukkan dengan tipologi pelaku dan korban yang sama, dengan frekuensi jumlah tindak pidana kekerasan yang terjadi bukan hanya satu kali dilakukan, namun berulang-ulang.3

Penelitian Alafair S. Burke menunjukkan lebih dari 70 persen istri yang mengalami kekerasan fisik mendapatkan perilaku kekerasan suami dengan durasi empat hingga lima kali dalam tiga bulan.4

Pada ketentuan hukum di Indonesia, status istri/suami yang dimaksud dalam UU No.23 tahun 2004 mengacu pada UU tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang menunjukkan syahnya status suami/istri apabila telah tercatat di dalam UU yang berlaku. Dengan demikian faktanya apabila suami/istri yang tidak tercatat dalam catatan Sipil/KUA kemudian mengalami KDRT maka UU No. 23 tahun 2004 tidak dapat melindungi, alternatifnya akan menggunakan pasal-pasal KUHP.

Perkara KDRT dalam praktiknya kerapkali menghadapi kendala atau terhambat prosesnya karena status pelapor atau korban. Beberapa status korban yang menjadi penghambat proses hukum perkara KDRT adalah status perkawinan. Pada status korban atau pelaku yang dinikahi secara sirri, secara adat maupun gereja, polisi menilai harus

1 Disampaikan pada Seminar Regional Jateng DIY, 22 Desember 2012, Lembaga Dakwah

Kampus Universitas Islam Indonesia

2World Health Organization (WHO) dalam World report pertamanya mengenai “kekerasan dan

kesehatan” di tahun 2002, menemukan bahwa antara 40 hingga 70 persen perempuan yang meninggal karena pembunuhan, umumnya dilakukan oleh mantan dan pasangannya sendiri. Dikutip dari WHO Report “women and Health”.

3Berbeda dengan tindak pidana kekerasan lain misalnya: penganiayaan yang umumnya hanya

terjadi satu kali dalam satu kejadian.

4Dikemukakan bahwa: “Domestic violence is quantitatively distinct from nonintimate violence not

only in its frequency, but also in its duration. The same survey found that nearly seventy percent of women who had been assaulted by an intimate partner reported that their victimization lasted more than one year. For more than a quarter of the women, the victimization occurred over more than five years, and the average duration of the violence was four and a half years…” dalam Alafair S. Burke. 2007. Why Domestic Violence is Different dalam Domestic Violence as a Crime of Pattern and Intent: an Alternative Reconceptualization. George Washington Law Review, hal. 7

(4)

[Type text]

dibuktikan dengan catatan sipil atau KUA. Pada kasus seperti ini, UU PKDRT tidak dapat menjangkau pelaku karena yang dimaksud dengan suami atau istri di dalam UU PKDRT adalah mereka yang masuk pada ruang lingkup yang tercatat pada catatan sipil atau KUA.5

Bahkan dalam kasus di Sumatera Utara perkara KDRT terhambat proses hukumnya karena status perkawinan yang hanya dilakukan di gereja atau secara adat dan tidak tercatat di kantor Catatan Sipil atau KUA. Hal yang sama juga terjadi di Semarang untuk perempuan korban KDRT yang pernikahannya dilangsungkan secara sirri. Polisi menilai suami istri harus dibuktikan dengan akta nikah baik yang dikeluarkan oleh Catatan Sipil maupun KUA.6 Dengan demikian pasangan yang pernikahannya dilakukan di gereja,

secara adat maupun sirri (di bawah tangan) yang tidak tercatat dalam catatan sipil/KUA korbannnya hanya dilindungi melalui pasal KUHP apabila mengalami KDRT. Padahal inti dari UU PKDRT adalah perlindungan sementara dan penetapan perlindungan terhadap korban.7

Pada awalnya, UU PKDRT dibentuk dikarenakan adanya keterbatasan produk hukum dalam menjawab persoalan KDRT, utamanya KUHP. Banyaknya kasus KDRT yang tidak dapat terjangkau oleh KUHP khususnya mengenai prosedur perlindungan sementara dan penetapan perlindungan bagi korban. Perlindungan bagi korban KDRT sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan persoalan KDRT yang kompleks sehingga diperlukan produk hukum baru yang khusus.

Tidak ada hubungan antara pekerjaan, pendidikan korban atau pelaku terhadap kemungkinan terjadinya KDRT. Korban KDRT yang melaporkan terjadinya kekerasan yang menimpa dirinya ke polisi, bukanlah mereka yang mengalami kekerasan dalam frekuensi satu kali mengalami tindakan KDRT. Kasus yang dilaporkan cenderung setelah frekuensi kekerasan berulang kali bahkan frekuensi waktu yang telah lama terjadi (bulan hingga tahun). Korban biasanya melaporkan apabila betul-betul tidak sanggup mengalami KDRT lagi. Mereka yang tidak melaporkan ke polisi dapat disebabkan karena tidak ingin bercerai, ketergantungan secara ekonomi, status sosial bila menjanda dan tidak ingin anaknya melihat pelaku (suami) dipenjara karena telah melakukan KDRT.

5Lihat juga situs Rifka Annisa, Women Crisis Centre-Yogyakarta, ditulis pada tanggal 31 Mei

2009. Di kutip: 23 September 2009

6http://www.Banjarmasinpost.co.id/read/artikel/4629

7Lihat pasal 16-38 UU PKDRT, 23 pasal (41%) dari isi UU PKDRT ini mengenai prosedur

(5)

Aroma Elmina Martha

[Type text]

Saran

Mengingat tingginya angka KDRT di Indonesia maka siklus mata rantai KDRT perlu diputus melalui pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan ini bukan hanya finansial (mengingat banyaknya korban KDRT yang memiliki kemampuan penghasilan finansial secara mandiri tapi tetap saja mengalami KDRT). Pemberdayaan ini utamanya pemberdayaan non finansial, misalnya mampu mandiri, tidak tergantung pada pasangannya dalam urusan domestik rumah tangga, dapat memiliki daya tawar terhadap prilaku KDRT yang dilakukan oleh pasangannya). Titik tolak pernikahan sejak awal telah didasarkan pada prinsip egalitarian, kebebasan individual dan keadilan bagi kedua belah pihak. Dengan demikian terjalin hubungan yang setara dan saling menguntungkan, diharapkan dapat meminimalisir terjadinya tindak pidana KDRT. Implementasi peraturan tindak pidana PKDRT yang optimal bukan pada banyaknya jumlah kuantitas pidana yang diproses ke Pengadilan yang cenderung berujung dengan perceraian. Tujuan pemidanaan perlu merujuk kepada asas dan tujuan dibentuknya UU. Azas dan tujuan ini berupa penghormatan hak asasi manusia, keadilan dan kesetaraan gender, non diskriminasi dan perlindungan korban. Selanjutnya terpulang pada keyakinan tujuan perkawinan. Harapannya yaitu membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

(6)

Telepon dan SMS Ccntr,r OB5 729 3s2 440. cmait koOiiiauii@gmaii.com

l{i&"

No

:3|IA/PAN-SRTKODISIA-UIIDilI/2012

Lamp

:-HaI

:UCAPANTERIMAKASIH

Assalamu'alaihum Wn Wb.

.

_

Puji

syukur

kita

panjatkan kepada

Allah

SWT yang telah memberikan nikmat

iman dan Islam sehingga kita masih bisa melakukan

attinta

sehari-hari. sholawat serta

salam

kita

haturkan kepada junjungan

Nabi

Muhammad

sAW

yang telah membawa cahaya penerang untuk umatnya.

Sehubungan dengan diadakannya acaru

seminar

Regional se-Jateng

dan

Dfy

*Kesetaraan Gender

dari

Berbagai perspektif ;perempuan

Antara Fitroh

dan

Tuntutan'

, yang dilaksanakan pada :

Hari,tel

:

Sabtu, 22 Desember 2012

Waktu

:

Pukul 08.00s.d.

1l.30WIB

Tempat

:

Gedung Kuliah Umum Sardjito Universitas Islam Indonesia

Maka kami

selaku

Parftia

Seminar Regional se-Jateng dan

DIy

'.Kesetaraan

!9nder

dari Berbagai Perspektif;Perempuan Antara Fitroh dan

iuntutan"

Korp Dakwah Islam Universitas Islam Indonesia mengucapkan

terimakasih

kepada :

: Dr. Arome Elmine

Martha,

SIL,

MIL

:

Gender Berbasis Kekerasan (Gender Based Violence) antara Indonesia dan Malaysia

Atas partisipasinya sebagai pemateri dalam acara seminar tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikaq atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan

teima

kasih.

J

a z akumul I a h khcyr an.. Nama

Materi

llas salamu' alaykum Wara hmat

ullahi lla

b arakatuh

u.

Kepada Yang Kami Hormati,

Dr.

Aroma Elmina

Martha,

SH.,

MH.

Di_

YOGYAKARTA

Sleman, 22 Desember 2012

TRM.ffi

tl(il.

fIIN

I}Rf

Yd\II

SEKRJTARIS PAI\IITIA

KE

ATI

PAI\IITIA SEMINAR REGIONAL

LEMBAGA

DAKWAII KAMPUS

KORPS

DAKWAH

KAMPUS

tnr

(KODISTA)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :