• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEADERIA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume 1, Nomor 2, Desember 2020, Hal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEADERIA: JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Volume 1, Nomor 2, Desember 2020, Hal"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Volume 1, Nomor 2, Desember 2020, Hal. 105-113

MANAJEMEN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DALAM

PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK

Musleh Hamdani, Siti Aminah

IAIN Jember, Jl. Mataram No.1 Mangli Jember, Jawa Timur Indonesia e-mail: [email protected]

IAIN Jember, Jl. Mataram No.1 Mangli Jember, Jawa Timur Indonesia e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Extracurricular activities are activities that are carried out outside school, whether inside or outside the school with a view to enricing and broadening knowledge and ability of those students from the field of study already have. Madrasah Ibtidaiyah Riyadlul Qori'in Ajung Jember is one of the schools that have attention to the character issues of each student student. The study used a qualitative, descriptive approach lacated in premier MI Riyadlul Qori’in Ajung Jember. Collecting data in this study were observation, interview and documentation. The method of analysis in this study was the interactive descriptive analysis of Miles and Hubermans. The validity of data used was triangulation. The result of this study was (1) extracurricular activities planning to establish the religious character of each student, (2) the practice of the learning process was performed by the tutors and learners starting from the beginning of the opening to the conclusion, (3) assessments of activities wrere conducted every two weeks within the sumative assessment criteria, where the pass or no learner was known through the assessment.

Keywords: management of extracurricular activities, students’ religious character

ABSTRAK

Kegiatan Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan di luar jam sekolah, baik yang dilakukan di dalam atau di luar sekolah dengan tujuan untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik dari berbagai bidang studi. Madrasah Ibtidaiyah Riyadlul Qori’in Ajung Jember adalah salah satu sekolah yang memiliki perhatian terhadap masalah karakter setiap peserta didiknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Lokasi peneltian ini adalah MI Riyadlul Qori’in Ajung Jember. Data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode analisis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif interaktif model Miles dan Huberman. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian ini adalah (1) perencanaan kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk membentuk karakter religius setiap peserta didik, (2) pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan oleh tutor dan peserta didik yakni dimulai dari awal pembukaan sampai penutup, dan (3) evaluasi kegiatan dilakukan setiap dua minggu

(2)

Vol. 1, No. 2, Desember 2020, Hal. 105-113

106 sekali dalam kriteria penilaian sumatif, dimana lulus atau tidaknya peserta didik diketahui melalui penilaian tersebut.

Kata kunci: manajemen kegiatan ekstrakurikuler, karakter religius peserta didik

PENDAHULUAN

Kasus yang terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan Yogyakarta yaitu seorang siswa melakukan kekerasan terhadap gurunya karena telah menyita handphone yang dimilikinya. Akibatnya guru dipukul wajahnya sampai memar (Najib, 2018: 5). Faktor penyebab peristiwa kasus di atas yang terjadi bermacam-macam. Faktor penyebab perilaku agresif ada dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor internal yang terjadi adalah karena frustrasi, keinginan bercanda, kebiasaan, kebutuhan, keinginan meluapkan perasaan, emosi, imitasi sehingga menyebabkan siswa melakukan perilaku tersebut. Sedangkan faktor eksternal atau faktor dari luar siswa yaitu kurangnya perhatian orang tua, adanya konflik dengan siswa lain, adanya konflik dengan keluarga, pengaruh pergaulan dan lingkungan yang salah. sehingga menyebabkan siswa melakukan perilaku tersebut, sehingga menyebabkan siswa melakukan perilaku agresif (Firdaus, 2018: 69).

Oleh karena itu, peserta didik memerlukan pamong yang terbaik sebagai pendukung utama dalam pendidikan dan pembentukan karakternya. Pendidikan merupakan suatu rekayasa sosial dalam sebuah masyarakat yang bertujuan untuk menanamkan sebuah nilai tertentu yang diinginkan. Selain itu disebutkan pula bahwa pendidikan merupakan proses dalam membentuk manusia untuk memiliki taraf kemanusiaannya (Wibowo, 2013: 2).

Upaya untuk mengatasi berbagai persoalan di atas, maka optimalisasi manajemen program kegiatan-kegiatan di lembaga untuk pembentukan karakter peserta didik dirasakan menjadi semakin penting dilakukan di sekolah atau madrasah. Maka dari itu tugas utama sekolah adalah mendidik peserta didiknya tidak semata-mata hanya menjadikan mereka pintar dan terampil, namun juga harus mampu menumbuh kembangkan peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab atas keberadaan dirinya. Wahana pengembangan kepribadian tersebut tidak harus yang terstruktur di dalam kurikulum, akan tetapi sebuah pendidikan yang menyenangkan seperti kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Setiap peserta didik mempunyai bakat dan minat yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Ada yang berbakat di bidang musik, tilawah, pencak silat, dan lain-lain. Namun, bakat-bakat tersebut sering tidak terwujud karena kurang pekanya orang tua dan dirinya sendiri, atau juga karena kurangnya sarana dan prasarana dalam menunjang bakat tersebut. Maka dari itu pihak sekolah harus mewadahi bagi peserta didiknya untuk menampung bakat dan minatnya agar terwujud dengan baik, yaitu dengan adanya ekstrakurikuler.

(3)

Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran (tatap muka) baik dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah dengan maksud untuk lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik dari berbagai bidang studi. (Usman, 1993: 22).

Berdasarkan observasi awal peneliti pada tanggal 31 Agustus 2019 bahwa MI Unggulan Riyadlul Qori’in Ajung Jember merupakan sekolah yang unggul dalam kegiatan kstrakurikulernya. Maka dari sekolah tersebut diberi kata “Unggulan”. Sekolah tersebut terdapat macam-macam kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya: tilawatil qur’an, tartil qur’an, BTQ, pramuka, hadrah al-banjari, pidato bahasa arab, dan pidato bahasa inggris.

Hasil Observasi tersebut didukung dengan hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan di MI Unggulan Riyadlul Qori’in yang menjelaskan bahwa, Sekolah ini diberi kata Unggulan karena di sekolah tersebut terdapat banyak program kegiatan ekstrakurikuler. Istilahnya itu sekolah ini unggul dalam program kegiatan ekstrakurikulernya daripada sekolah lainnya. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler ini adalah milik yayasan sendiri bukan lainnya. Jadi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut adalah peserta didik dari MI Unggulan Riyadlul Qori’in. Terkecuali untuk kegiatan tilawatil qur’an diperuntukkan untuk peserta dari dalam dan dari luar untuk mengikutinya. Itu pun dilaksanakan ketika hari minggu.

Peranan ekstrakurikuler sangat terlihat jelas dalam pengembangan diri peserta didik. Hal tersebut terlihat dari aspek yang berkembang dari setiap siswa yang masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler yaitu berkembangnya aspek rekreatif, aspek sosial, aspek emosional, aspek intelegensi, aspek seni dan bahasa (Hinayatullahi, 2017: 11). Maka dari itu sangatlah penting dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut sebagai wadah penyalur dan pengembangan bakat dan minat setiap peserta didik dalam membentuk setiap karakternya.

Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulfajri, P. Suryati, dan Ibrizah Maulidiyah yaitu sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan perbedaan antara peneltian yang dilakukan oleh Zulfajri terletak pada variable Y, yaitu Dalam Meningkatkan Mutu Sekolah. Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh P. Suryati yaitu hanya menggunakan satu variable saja, yaitu variable X. Lalu perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Ibrizah Maulidiyah yaitu terletak pada variable Y, yaitu Mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan.

Dari fenomena tersebut peneliti terdorong untuk mengkaji keunkan yang terjadi di MI Unggulan Riyadlul Qori’n Ajung Jember karena kegiatan ekstrakurikuler adalah hal yang paling penting dalam pembentukan karakter, mengembangkan potensi, minat, dan bakat peserta didik. Melalui kegiatan ini setiap peserta didik diberi kesempatan atau peluang untuk mengembangkan potensinya agar terbentuk karakter dengan sendirinya.

(4)

Vol. 1, No. 2, Desember 2020, Hal. 105-113

108

METODE

Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif, tujuan menggunakan jenis penelitian ini yaitu berguna untuk menguraikan tentang fenomena-fenomena atau sifat-sifat (karaktersitik) suatu keadaan dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Penelitian ini ingin mendeskripsikan bagaimana manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MI Unggulan Riyadhul Qori'in Ajung Jember.

Lokasi penelitian berada di MI Unggulan Riyadhul Qori'in. Jl. Otto Iskandar Dinata No. 50 Klanceng Ajung Jember. Pemilihan lokasi ini dikarenakan ketertarikan peneliti untuk mengetahui bagaimana manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MI Unggulan Riyadhul Qori'in Ajung Jember.

Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive karena peneliti membutuhkan data berupa sumber informasi yang dianggap lebih tahu dengan apa yang peneliti harapkan dan relevan dengan judul penelitian yaitu tentang manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MI Unggulan Riyadhul Qori'in Ajung Jember.

Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi (parsitipan pasif), wawancara (bebas terpimpin), dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dengan model Miles dan Hunberman. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga data sudah jenuh. Keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perencanaan Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik

Sebagaimana hasil penemuan data di lapangan bahwa untuk memulai suatu kegiatan harus ada perumusan tujuan yang ingin dicapai terlebih dahulu. Perumusan tujuan ini dibuat untuk mengetahui suatu kejelasan bahwa nantinya mau dibawa kemana lembaga ini dan untuk memudahkan dalam bahan evaluasi nantinya. Selain itu terdapat pihak-pihak yang merumuskan tujuan tersebut diantaranya adalah pihak yayasan sendiri, komite sekolah, kepala sekolah, dan para pendahulu.

Hal tersebut sesuai ketika peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Andi Purnomo sebagaimana berikut:

“Perencanaan yang kami siapkan terlebih dahulu adalah perumusan tujuan yang ingin dicapai. Adapun dalam merumuskan tujuan tersebut terdapat pihak-pihak yang ikut andil dalam merumuskannya. Sebelum adanya lembaga ini, sekitar pada tahun 90-an ada namanya Sangggar Bina Alqur'an (SBQ). Di sanggar tersebut terdapat semacam

(5)

pembinaan al-qur’an. Memang yang diutamakan adalah pembinaan al-qur’an. Karena tidak banyak lembaga yang membina al-qur’an ini yang mempunyai perhatian, mempunya kemauan karena membutuhkan keseriusan, dan keistiqomahan. Ada beberapa alasan mengapa kami mengutamakan harus bisa membaca al-qur`an yaitu pertama, Al-qur`an merupakan kitab suci umat Islam. Selanjutnya, al-qur`an merupakan pedoman hidup manusia. Yang terakhir, SBQ ini yang di dalamnya santri dituntut harus mampu membaca al-qur`an dengan baik dan benar. Di sanalah pengasuh yayasan mempunyai inisiatif ingin membangun semacam lembaga. Adapun pihak-pihak yang merumuskan tujuan ekskul tersebut adalah yayasan sendiri, komite sekolah, kepala sekolah, dan para pendahulu.” Hal ini sebagaimana teori dari Suparlan yang mengungkapkan bahwa perencanaan kegiatan esktrakurikuler harus merumuskan tujuan terlebih dahulu. Sebelum guru ekstrakurikuler membina kegiatan ekstrakurikuler terlebih dahulu merencanakan aktivitas yang akan dilaksanakan. Penyusunan rancangan aktivitas ini dimaksudkan agar guru mempunyai pedoman yang jelas dalam melatih kegiatan ekstrakurikuler. Rancangan ini dibuat tiap semester. Selaian bermanfaat bagi guru juga diperlukan oleh kepala sekolah untuk mempermudah dalam mengadakan supervisi. (Suparlan, 2013: 69).

Dalam pemilihan program untuk mencapai suatu tujuan terdapat prinsip-prinsip yang berdasarkan usulan atau keputusan bersama yang dilakukan oleh ketua yayasan, kepala sekolah, dan guru. Pemilihan program ini dibuat agar supaya mengetahui kejelasan bahwa mau dibawa kemana nantinya lembaga ini dan untuk mengetahui suatu output yang jelas. Hal tersebut sebagaimana observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu proses pemilihan program ekskul dengan melakukan musyawarah bersama atau usulan bersama yang dihadiri oleh ketua yayasan, kepala sekolah, dan guru.

Hal ini sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Oteng Sutisna yang dikutip Suryosubroto bahwa prinsip program ekstrakurikuler adalah semua murid, guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha meningkatkan program, kerja sama dalam tim adalah fundamental, pembatasanpembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan, prosesnya adalah lebih penting daripada hasil, program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan dan minat semua siswa, program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah, Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya pada nilai-nilai pendidikan di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya, kegiatan ini hendaknya menyediakan sumbersumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber motivasi yang kaya bagi kegiatan murid, kegiatan ektrakurikuler ini hendaknya dipandangan sebagai integral dari keseluruhan program pendidikan di sekolah, tidak sekadar tambahan atau sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. (Suparlan, 2013: 291).

Sebagaimana hasil di lapangan, identifikasi dan pengarahan sumber sangat perlu dilakukan karena pihak lembaga menginginkan semua peserta didik itu berkualitas dalam segi akhlak dan keilmuannya. Berhasil atau tidaknya peserta didik itu tergantung dengan sumber daya manusianya

(6)

Vol. 1, No. 2, Desember 2020, Hal. 105-113

110 itu sendiri. Adapun pihak yang melakukan identifikasi dan pengerahan sumber adalah pihak yayasan dan kepala sekolah. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Ghofir Ilham Ramadhani: “Sebelum masuk ke pembelajaran perlu adanya identifikasi dan pengarahan sumber. Dalam identifikasi dan pengarahan sumber ini tidak ada masalah kesulitan apapun. Sangat penting adanya dilakukan identifikasi dan pengarahan sumber. Karena acuannya sebagai bahan evaluasi nantinya.”

Hal ini sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Nanang Fatah bahwa identifikasi dan pengerahan sumber disini terdapat dua macam yaitu sumber manusia dan sumber non manusia. Sumber manusia adalah tenaga atau orang yang bertanggung jawab dan berperan dalam suatu pembinaan, diantaranya kepala sekolah, guru agama, guru lain, dan siswa. Sedangkan dari sumber non manusianya meliputi, sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembinaan. (Fatah, 2009: 121).

Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik

Pengarahan dilakukan oleh kepala sekolah dan terkadang dilakukan oleh waki-wakil yang ditunjuk oleh kepala sekolah yang dilakukan sebelum kegiatan ekstrakurikuler dengan tujuan untuk membentuk karakter religius setiap peserta didik. Pengkoordinasian dilakukan oleh kepala sekolah untuk menyatukan semua kegiatan ekstrakurikuler untuk pencapaian suatu tujuan yang jelas. Pengkomunikasian dilakukan oleh kepala sekolah untuk menyebarluaskan sebuah informasi baik lisan maupun tertulis. Proses Pembelajaran disana dilaksanakan oleh para siswa dan siswi beserta tutornya, dimulai dari kedisiplinan, do’a awal, hingga penutup (kegiatan selesai).

Selain itu perkembangan tilawatil qur’an berupa nagham-nagham dari timur tengah dibawa oleh Syekh Damanhuri Malang. Sebagaimana hasil wawancara antara peneliti dengan Bapak Andi Purnomo: “Usaha pengarahan, pengkordinasian, dan pengkomunikasian dalam kegiatan ekstrakurikuler ini dilakukan oleh kepala sekolah sendiri. Terkadang juga ada wakil-wakil yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk melakukan pengarahan terhadap guru ekskulnya atau tutor. Pengarahan yang dilakukan oleh kepala sekolah ini menggunakan pendekatan secara langsung melalui pemberian motivasi maupun secara stimulus.”

Sehubungan dengan hal itu, Amir Dien dikutip Suryosubroto, menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh pembina ekstrakurikuler: kegiatan harus dapat meningkatkan pengayaan siswa yang beraspek kognitif, afektif, dan psikomotor memberikan tempat serta penyaluran bakat dan minat sehingga siswa akan terbiasa dengan kesibukan-kesibukan yang bermakna; adanya perencanaan dan persiapan serta pembinaan yang telah diperhitungkan matang-matang sehingga program ekstrakurikuler mencapai tujuan dan; pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler oleh semua atau sebagai siswa. (Suparlan, 2013: 304).

(7)

Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik

Sebagaimana hasil temuan peneliti, bahwa evaluasi yang digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter religius peserta didik ini adalah evaluasi sumatif, dimana evaluasi ini menyatakan siswa berhak lulus atau tidak. Dalam kegiatan ekstrakurikuler ini ada dua tahap evaluasi, diantaranya evaluasi setiap dua minggu sekali dan evaluasi akhir semester. Dalam kedua evalausi ini teknik yang digunakan adalah tes lisan dan di akhir tes akan ada penilaian peserta didik lulus atau tidak. Jika lulus maka peserta didik akan diikutkan dalam ajang perlombaan dan jika tidak lulus maka peserta didik tidak akan diikutkan dalam ajang perlombaan.

Evaluasi dilaksanakan dua minggu sekali: Siswa maju lalu di tes oleh pembina satu persatu kemudian pembina menilainya dari segi kemampuan bidangnya dan karakternya Tindakan pemantauan kegiatan ekstrakurikuler ini dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengetahui kemampuan para tutor, kemampuan para siswa maupu siswi, beserta karakter setiap peserta didik. Pembinaan yang dilakukan adalah berupa pemberian arahan, masukan, dan motivasi. Selain itu juga diberikan semacam remidian. Ketika ada ajang perlombaan, para siswa maupun siswi digembleng untuk pembinaan khusus. Berkaitan dengan hal tersebut sebagaimana hasil wawancara antara peneliti dengan Ibu Luluk Masluchah selaku kepala sekolah:

“Program pengevaluasian di lembaga ini terdapat dua kategori. Pertama, evaluasi yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Kedua, evaluasi yang yang dilaksanakan setiap akhir semester. Tujuan diadakannya pengevaluasian yaitu untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan peningkatan peserta didik dan Pembina ekskulnya dalam memberikan materi. Selain itu dalam hal proses pengevaluasian terdapat pihak-pihak yang melaksanakan proses ini yaitu ketua yayasan, kepala sekolah, guru agama, dan waka kesiswaan.”

Hal tersebut diperkuat oleh hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti: “Peneliti melihat siswa maju ke depan kelas lalu di tes oleh pembina. Setelah tes tersebut selesai lalu ada penilaian dari Pembina ekskul, setelah itu siswa kembali ke tempatnya semula Dan peneliti ketika wawancara diberi tau bahwa ada semacam buku penilaian khusus dalam kegiatan ekstrakurikuler di MI Unggulan Riyadlul Qori’in Ajung Jember.” Sebagaimana teori evaluasi yang diungkapkan oleh Ngalim Purwanto, Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Purwanto, 1993: 3).

KESIMPULAN DAN SARAN

Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan untuk memudahkan terhadap suatu kejelasan dan bertujuan untuk membentuk karakter religius peserta didik. Selain itu agar setiap peserta didik memiliki kedisiplinan yang baik dan akhlak qur’ani. Perumusan dan pemilihan program dilakukan satu kali dalam setahun berdasarkan usulan atau keputusan bersama yang dihadiri oleh ketua yayasan, kepala sekolah, dan guru. Identifikasi dan pengarahan sumber kegiatan

(8)

Vol. 1, No. 2, Desember 2020, Hal. 105-113

112 ekstrakurikuler dilakukan agar semua peserta didiknya berhasil dari segi akhlak dan keilmuannya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk wujud kepedulian terhadap pengembangan dan pembentukan karakter religius setiap peserta didik. Kepala sekolah melakukan pengarahan, pengkoordinasian, dan pengkomunikasian kegiatan ekstrakurikuler dalam membentuk karakter religus setiap peserta didik. Selain itu pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan oleh tutor dan setiap peserta didik dimulai dari salam pembuka sampai penutup. Evaluasi dilaksanakan setiap dua minggu sekali dalam bentuk penilaian sumatif, dimana evaluasi ini menyatakan siswa berhak lulus atau tidak. Tindakan pemantauan dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengetahui kemampuan tutor dan peserta didiknya. Sedangkan proses pembinaan dilakukan oleh guru ekskul dan waka kesiswaan yaitu berupa arahan, masukan, remidian, dan motivasi.

Sejalan dengan itu, kepala sekolah hendaknya mempunyai kebijkan terbaru dalam setiap tahun ajaran baru terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler yang perlu diperbaiki, seperti penambahan fasilitas dan metode dalam kegiatan ini, agar nilai-nilai religius semakin bertambah baik dan sempurna, hendaknya Waka Kurikulum harus menambah jam pelajaran kegiatan ekstrakurikuler ini. Karena dalam waktu dua jam dalam satu minggu saja masih kurang dalam proses pembentukan karakter religius peserta didik, hendaknya guru ekstra memiliki perangkat pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilaksanakan sudah tertata rapi dan guru harus memiliki metode dan strategi yang menarik agar dalam belajar siswa tidak merasa bosan dan jenuh, dan penelitian ini bila dijadikan sebagai literatur penelitian selanjutnya bagi para peneliti yang akan meneliti hal lain di bidang apapun seperti literasi di MI Unggulan Riyadlul Qori’in Ajung Jember.

DAFTAR PUSTAKA

Wibowo, Agus, Pendidikan Karakter Berbasis Sastra, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013. Fatah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2009. Firdaus, Mei Tuhfah, dkk, “Faktor-faktor Penyebab Perilaku Agresif Pada Siswa di SMP

Kelurahan Kedung Asem Surabaya,” Jurnal UNESA Surabaya, Vol. 1, No. 2, 2018.

Hinayatulohi, Ahmad, “Manajemen Ekstrakurikuler dalam Upaya Pengembangan Diri Santri,” Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2017.

Najib, Ainun, Handphone Disita Siswa SMK Memukul Gurunya. Yogyakarta: Sindo News, 20 November 2018.

Purwanto, Ngalim Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT. Remaja Rosda karya, 1994.

Suparlan, Manajemen Berbasis Sekolah dari Teori Sampai dengan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

(9)

Suparlan, Manajemen Berbasis Sekolah dari Teori Sampai dengan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Usman, Moh. Uzer dan Lilis Setyowati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan konseling dan penyuluhan kesehatan dan gizi harus dilakukan setiap bulan karena permasalahan lanjut usia akan meningkat dengan seiring waktu, selain itu dapat memantau

- LO berada di samping tim bertugas untuk mencatat point yang berhasil didapat oleh tim dan waktu yang dibutuhkan tim untuk menjawab semua pertanyaan.. -

Disiplin yang tinggi akan sangat membantu dalam upaya pencapaian tujuan, sedangkan untuk mewujudkan suatu kondisi disiplin maka diperlukan adanya seorang pemimpin

dari pengolahan data satelit radar menggu-nakan teknik interferometri ini memper-lihatkan kemampuan mendeteksi lokasi perubahan permukaan yang dapat diterapkan pada

Efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk melihat pencapaian tujuan pembelajaran yang sebelumnya telah dirancang oleh guru dengan menggunakan

 5.00 peratus Murid memperoleh pencapaian A (Tahap Cemerlang) semua mata pelajaran dalam Pentaksiran Sekolah Tahun 6 pada tahun 2017.. Pentaksiran Pusat (PP)

Nichiren Shonin menjelaskan dalam Ho-On-Jo bahwa semua orang di Jepang seperti hal seluruh dunia harus memuja dan memuliakan Buddha Sakyamuni Abadi yang dibabarkan dalam

b) Stratifikasi sosial tertutup, yaitu adanya ba- tasan terhadap seseorang terhadap kemung- kinan pindah kedudukan dari lapisan sosial satu ke lapisan sosial yang