1
RENCANA KINERJA
TAHUN 2020
DIREKTORAT INDUSTRI TEKSTIL KULIT DAN ALAS KAKI DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KIMIA FARMASI DAN TEKSTIL
i
KATA PENGANTAR
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya kami dapat menerbitkan dokumen Rencana Kinerja Direktorat Industri Tekstil Kulit Alas Kaki dan Aneka (Dit. ITKAK) Tahun 2020. Rencana Kinerja ini merupakan dokumen perencanaan tahunan Dit. ITKAK dalam mencapai sasaran strategis dalam rangka pembinaan industri bahan galian non logam yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis untuk pencapaian tujuan dan visi, serta pelaksanaan misi.
Diterbitkannya Rencana Kinerja ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perencanaan kinerja Dit. ITKAK secara transparan agar dapat merumuskan program/kegiatan yang sejalan dengan sasaran kinerja jangka menengah yang tertuang dalam Rencana Strategis. Disamping itu, dokumen ini juga dimaksudkan untuk menentukan fokus perbaikan kinerja berkesinambungan sesuai hasil-hasil pembangunan industri yang telah dicapai. Oleh karena itu, dokumen Rencana Kinerja ini diharapkan dapat menjadi acuan perencanaan program/kegiatan dan anggaran tahun 2020, yaitu melalui penyusunan dokumen Perjanjian Kinerja serta Rencana Kerja dan Anggaran.
Akhir kata, kami berharap agar Rencana Kinerja Dit. ITKAK Tahun 2020 ini dapat dimanfaatkan sebagai media evaluasi untuk menilai kinerja bagi seluruh anggota organisasi Dit. ITKAK.
Jakarta, Februari 2019
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Ttd.
ii D A F T A R I S I halaman KATA PENGANTAR ………... i DAFTAR ISI ………. ii BAB I. PENDAHULUAN ………... 1 1.1 Latar Belakang ……….. 1
1.2 Maksud dan Tujuan ... …… ……….. 5
1.3 Tugas Pokok dan Fungsi ………... 6
1.4 Ruang Lingkup ………... 10
BAB II. PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN INDUSTRI ……….. 11
2.1 Hasil-Hasil Pelaksanaan Program/Kegiatan ... 11
2.2 Arah Kebijakan ... 19
BAB III. RENCANA KINERJA ………...…... 26
3.1 Sasaran ………... 26
3.2 Indikator Kinerja ...……….. 28
3.3 Kegiatan ...……… 29
BAB IV. PENUTUP ... 30
4.1 Kesimpulan ………... 30
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan program pembangunan nasional tidak terlepas dari implementasi prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu transparansi, akuntabilitas, dan visi strategis. Prinsip tersebut dituangkan dalam manajemen pemerintahan yang mencakup kegiatan perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan adalah kualitas perencanaan. Menurut Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, perencanaan pembangunan industri dalam jangka panjang diarahkan untuk :
1. Mampu memberikan sumbangan nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat;
2. Membangun karakter budaya bangsa yang kondusif terhadap proses industrialisasi menuju terwujudnya masyarakat modern, dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai luhur bangsa;
3. Menjadi wahana peningkatan kemampuan inovasi dan wirausaha bangsa di bidang teknologi industri dan manajemen, sebagai ujung tombak pembentukan daya saing industri nasional menghadapi era globalisasi/liberalisasi ekonomi dunia;
4. Mampu ikut menunjang pembentukan kemampuan bangsa dalam pertahanan diri dalam menjaga eksistensi dan keselamatan bangsa, serta ikut menunjang penciptaan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat.
Direktorat Industri Tekstil Kulit dan Alas Kaki (Dit. ITKAK) adalah salah satu unit kerja dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (Ditjen IKFT) Kementerian Perindustrian yang bertanggung jawab terhadap pengembangan industri tekstil, kulit, dan alas kaki (ITKAK). Dit. ITKAK membina Industri Tekstil dan Produk Tekstil (ITPT), Industri Kulit dan Barang dari Kulit (IKBK), dan Industri Alas Kaki (IAK). Subsektor ITKAK berkontribusi cukup signifikan pada perindustrian nasional, yaitu sebagai industri andalan ekspor dan penyerapan tenaga kerja (padat karya).
2 Tantangan internal yang dihadapi ITKAK di masa kini diantaranya adalah kondisi permesinan yang belum termutakhirkan sehingga kurang efisien, produktif, dan menghasilkan produk yang belum berdaya saing unggul; kompetensi tenaga kerja, khususnya di level manajerial, yang kurang kompeten; ketergantungan bahan baku impor; serta masalah lingkungan. Sedangkan tantangan eksternal yang dihadapi adalah persaingan kawasan di sektor ITKAK. Kawasan regional (RRC, Asia Tenggara, Asia Selatan) merupakan kawasan padat industri tekstil, kulit, dan alas kaki. Berdasarkan data Worldbank, pada tahun 2017 Indonesia merupakan pemain terbesar ke-5 dunia untuk produk garmen, alas kaki, dan travel goods (koper, tas, mantel, dan sejenisnya). Namun, meski demikian pangsa pasar ekspor yang diperoleh hanya bernilai USD 19 Milyar dibanding RRC yang bernilai USD 364 Milyar (data Worldbank). Bahkan Vietnam sebagai pemain baru telah meraup pasar ekspor sebesar USD 50,47 Milyar.
Oleh karena itu, ke depan, ITKAKA diharapkan menjadi sumber pertambahan nilai melalui proses pengolahan yang mengarah ke penguatan dan pendalaman struktur industri, serta hilirisasi industri. Dengan membawa misi tersebut, maka diharapkan pembangunan sektor ITKAKA diselenggarakan dengan arah kebijakan sebagai berikut :
1. Menjadi penggerak masyarakat luas untuk melaksanakan kegiatan usaha produksi di bidang industri manufaktur/pengolahan yang bernilai tambah ekonomi tinggi secara andal bersaing dengan sejauh mungkin mendayagunakan potensi modal dasar dalam negeri.
2. Lebih mengutamakan pemasaran produk primer dalam negeri (yang tergolong bahan mentah industri) untuk pemenuhan bahan baku bagi industri pengolahan/manufaktur dalam negeri, agar mampu menciptakan penambahan nilai tambah yang besar dan lapangan kerja yang luas bagi ekonomi nasional.
3. Menjadi andalan pembangunan industri berkelanjutan melalui pengembangan dan pengelolaan SDA secara optimal dan pemanfaatan sumber bahan baku terbarukan agar lebih menjamin kehidupan generasi yang akan datang secara mandiri.
Sedangkan, menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019, arah kebijakan pembangunan industri nasional secara umum
3 diwujudkan melalui pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif, pengembangan klaster industri prioritas, pengembangan kemampuan inovasi teknologi, pengembangan kompetensi inti daerah, serta antisipasi dan penanganan permasalahan aktual perindustrian.
Dengan memerhatikan kondisi tersebut, Dit. ITKAK berupaya untuk mengembangkan industri binaannya melalui program kegiatan yang aspiratif, fasilitatif, dan akomodatif sebagaimana arah kebijakan yang termuat dalam Penyempurnaan Rencana Strategis (Renstra) Dit. ITKAK Tahun 2017 – 2019. Secara singkat, arah kebijakan Dit. ITKAK dituangkan dalam tiga strategi, yaitu: 1. Penumbuhan dan pengembangan industri prioritas yang mencakup
industry sebagaimana diamanatkan dalam dokumen Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).
2. Pembangunan sumber daya industri yang meliputi sumber daya manusia industri, sumber daya alam, serta pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri
3. Pembangunan sarana dan prasarana industri yang meliputi standarisasi dan system informasi industri.
Meskipun tantangan yang harus dihadapi sektor ITKAKA sangat berat, namun Dit. ITKAK melihat peluang pengembangan ITKAKA sangat besar dan dapat diupayakan melalui penyelenggaraan program/kegiatan dalam jangka menengah – panjang. Untuk itu, Dit. ITKAK berpedoman pada Rencana Strategis (Renstra) Dit. ITKAK Perubahan Tahun 2017 – 2019. Secara ringkas arahan Renstra Dit ITKAK terkait penyusunan program/kegiatan dan anggarann untuk mendorong daya saing dan produktivitas Dit. ITKAK adalah melalui:
1. Pendalaman struktur industri hulu – antara – hilir
Dilakukan melalui peningkatan investasi baru dan perluasan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan perbaikan kualitas produk. Diantaranya dapat dilakukan dengan bantuan revitalisasi permesinan dan upgrade teknologi industry 4.0.
2. Perbaikan rantai pasok
Dilakukan melalui harmonisasi tarif antara input – output, peningkatan interaksi dan transaksi antar ITKAK domestic, serta penyediaan buffer stok bahan baku.
4 Dilakukan melalui pelatihan kompetensi tenaga kerja dan peningkatan kapasitas level manajerial.
4. Promosi kemampuan ITKAK
Dilakukan melalui fasilitasi promosi produk unggulan ITKAK 5. Intervensi regulasi
Melakukan advokasi terkait regulasi yang kontraproduktif terhadap perkembangan ITKAK
Kondisi di atas telah dirangkum oleh Dit. ITKAKA melalui perumusan visi tahun 2017 – 2019, yaitu “Mewujudkan ITKAK yang Berdaya Saing dengan
Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam”. Untuk
mewujudkan visi tersebut di atas, diperlukan tindakan nyata dalam bentuk misi sesuai dengan tugas dan fungsi Direktorat ITKAK sebagai berikut:
1. Peningkatan populasi ITKAK untuk memperkuat dan memperdalam struktur industri nasional;
2. Peningkatan daya saing dan produktivitas ITKAK untuk mewujudkan industri nasional yang mandiri, berdaya saing, maju, dan berwawasan lingkungan
Untuk mencapai visi dan misi jangka menengah tersebut, Dit. ITKAK menyusun kegiatan utama, yaitu Penumbuhan dan Pengembangan ITKAK.
Untuk membangun daya saing industri yang berkelanjutan, Dit. ITKAK telah merumuskan kebijakan pembangunan ITKAK yang berkeunggulan kompetitif dengan nilai tambah tinggi yang diarahkan utamanya pada revitalisasi industri strategis, penguatan dan pengembangan industri prioritas dan pendukung substitusi impor, serta pengembangan kebijakan yang bersifat fasilitasi untuk menyelesaikan masalah-masalah aktual. Selanjutnya fungsi pelaksanaan kebijakan diimplementasikan melalui pembinaan baik langsung maupun tidak langsung terhadap para pelaku industri melalui berbagai bantuan dibidang manajemen, teknologi, sosialisasi kebijakan/memasyarakatkan peraturan, memberikan perlindungan kepada pelaku pasar, mengembangkan sistem dan jaringan informasi ekspor dan perluasan pasar. Upaya pengamanan kebijakan, lebih ditekankan pada kegiatan monitoring terhadap pelaksanaan kebijaksanaan yang telah ditetapkan seperti monitoring produksi, ekspor, suplai bahan baku, pengawasan penerapan standarisasi, dan Iain-lain.
5 Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 150 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah di Lingkungan Kementerian Perindustrian mengamanatkan agar setiap Unit Eselon I dan II menyusun dokumen Rencana Kinerja, yaitu suatu dokumen perencanaan kinerja tertentu berdasarkan sumber daya yang dimiliki instansi. Sedangkan perencanaan kinerja merupakan proses penyusunan rencana kinerja sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan tahunan. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan implementasi program pengembangan ITKAK yang lebih berdayaguna, berhasilguna, dan untuk memantapkan akuntabilitas kinerja, Dit. ITKAK perlu menyusun Rencana Kinerja (Renkin) Dit. ITKAK Tahun 2020. Dokumen Renkin memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai, hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai, dan indikator kinerja yang diharapkan dapat mengarahkan perumusan program kegiatan Dit. ITKAKA Tahun 2020, serta pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dit. ITKAK sehingga kinerja yang dihasilkan pada tahun 2020 memenuhi kualitas akuntabel dan berkelanjutan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) mengamanatkan agar instansi pemerintah harus menyelenggarakan penetapan, pengukuran, pengumpulan data, klasifikasi, ikhtisar, dan pelaporan kinerja. Hal tersebut dimaksudkan sebagai media pertanggungjawaban dan sarana peningkatan kinerja. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi SAKIP menjelaskan bahwa dokumen Rencana Kinerja merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan dokumen Penetapan Kinerja yang merupakan dokumen pernyataan kinerja/kontrak kinerja/perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan sumberdaya tertentu pada suatu instansi.
Demikian pula dijelaskan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 150 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Akuntabilitas Instansi Pemerintah di Lingkungan Kementerian Perindustrian dan Peraturan
6 Menteri Perindustrian Nomor 75 Tahun 2014 tentang Petunjukan Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah di Lingkungan Kementerian Perindustrian, dijelaskan bahwa Rencana Kinerja adalah suatu dokumen perencanaan kinerja tertentu berdasarkan sumber daya yang dimiliki oleh instansi. Oleh karena itu, berdasarkan amanat tersebut, maka maksud dan tujuan penyusunan penyusunan dokumen Rencana Kinerja Dit. ITKAK Tahun 2020 adalah untuk menjabarkan sasaran dan program jangka menengah yang termuat dalam Rencana Strategis Dit. ITKAK Tahun 2017-2019 menjadi indikator kinerja yang dapat dioperasionalkan untuk pencapaian sasaran kegiatan Dit. ITKAKA Tahun 2020.
1.3 Tugas Pokok dan Fungsi
Berdasarkan pasal 265 Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 107/M-IND/PER/11/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, Dit. ITKAKA mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), Kebijakan Industri Nasional (KIN), penyebaran industri, pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan, pengamanan dan penyelamatan industri, perizinan industri, penanaman modal dan fasilitas industri, serta kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri bahan galian non logam.
Dalam melaksanakan tugas tersebut di atas, Dit. ITKAK menyelenggarakan fungsi:
1. Penyusunan rencana, program, anggaran, evaluasi, dan pelaporan pengembangan ITKAK ;
2. Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi ITKAK;
3. Penyiapan perumusan dan pelaksanaan RIPIN, KIN, penyebaran industri, pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan, pengamanan dan penyelamatan industri, penenaman modal dan fasilitas industri serta kebijakan teknis pengembangan industri di bidang ITKAK;
4. Penyiapan penyusunan dan pelaksanaan norma, standar, prosedur, kriteria di bidang perencanaan, perizinan, data dan informasi ITKAK;
7 5. Penyiapan pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi di bidang
perencanaan, perizinan, data dan informasi ITKAK;
6. Pelaksanaan pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI), standar industri hijau, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada ITKAK; dan
7. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat ITKAK. Dalam menjalankan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Dit. ITKAK terbagi dalam 4 (empat) subdirektorat dan 1 (satu) subbagian, yaitu:
1. Subdirektorat program pengembangan ITKAK; mempunyai tugas penyiapan perumusan dan penyusunan rencana, program, anggaran, evaluasi dan pelaporan, pengumpulan dan pengolahan data, serta penyajian informasi di bidang ITKAK . Subdirektorat ini membawahi 2 (dua) seksi, yaitu :
a) Seksi Program yang mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan penyusunan rencana, program, dan anggaran di bidang ITKAK.
b) Seksi Evaluasi dan Pelaporan yang mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan, pengumpulan dan pengolahan data, serta penyajian informasi di bidang ITKAK.
2. Subdirektorat industri tekstil mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri, pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan, pengamanan dan penyelamatan industri, perizinan industri, penanaman modal dan fasilitas industri, serta kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri tekstil, Subdirektorat ini membawahi 2 (dua) seksi, yaitu:
a) Seksi sumber daya industri dan sarana prasarana industri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri ke seluruh wilayah pengembangan industri, penyiapan bahan pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri, pemanfaatan sumber daya alam (SDA), pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, kreativitas dan inovasi, serta sumber pembiayaan, penyiapan bahan pelaksanaan standardisasi dan pengolahan serta pemanfaatan sistem informasi, penyiapan bahan
8 penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta bimbingan teknis dan supervisi perencanaan, perizinan, dan informasi industri, serta penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang industri tekstil.
b) Seksi Pemberdayaan Industri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan industri hijau, industri strategis, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, dan penyiapan bahan kerja sama internasional, penyiapan bahan pengamanan dan penyelamatan industri, penyiapan bahan pelaksanaan promosi, penanaman modal, dan pemberian fasilitas industri, penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan standar industri hijau, serta penyiapan bahan kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri tekstil. 3. Subdirektorat industri pakaian jadi dan produk tekstil lainnya mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri, pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan, pengamanan dan penyelamatan industri, perizinan industri, penanaman modal dan fasilitas industri, serta kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri pakaian jadi dan produk tekstil lainnya, Subdirektorat ini membawahi 2 (dua) seksi, yaitu: a) Seksi sumber daya industri dan sarana prasarana industri mempunyai
tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri ke seluruh wilayah pengembangan industri, penyiapan bahan pembangunan SDM industri, pemanfaatan SDA, pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, kreativitas dan inovasi, serta sumber pembiayaan, penyiapan bahan pelaksanaan standardisasi dan pengolahan serta pemanfaatan sistem informasi, penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta bimbingan teknis dan supervisi perencanaan, perizinan, dan informasi industri, serta penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan SNI dan SKKNI di bidang industri pakaian jadi dan produk tekstil lainnya.
b) Seksi Pemberdayaan Industri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan industri hijau, industri strategis,
9 peningkatan penggunaan produk dalam negeri, dan penyiapan bahan kerja sama internasional, pengamanan dan penyelamatan industri, penyiapan bahan pelaksanaan promosi, penanaman modal, dan pemberian fasilitas industri, penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan standar industri hijau, serta penyiapan bahan kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri pakaian jadi dan produk tekstil lainnya.
4. Subdirektorat industry kulit dan alas kaki mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri, pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan, pengamanan dan penyelamatan industri, perizinan industri, penanaman modal dan fasilitas industri, serta kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri kulit dan alas kaki. Subdirektorat ini membawahi 2 (dua) seksi, yaitu:
a) Seksi sumber daya industri dan sarana prasarana industri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan penyebaran industri ke seluruh wilayah pengembangan industri, penyiapan bahan pembangunan SDM industri, pemanfaatan SDA, pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, kreativitas dan inovasi, serta sumber pembiayaan, penyiapan bahan pelaksanaan standardisasi dan pengolahan serta pemanfaatan sistem informasi, penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta bimbingan teknis dan supervisi perencanaan, perizinan, dan informasi industri, serta penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan Standar Nasional Indonesia dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di bidang industri kulit dan alas kaki.
b) Seksi Pemberdayaan Industri mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan industri hijau, industri strategis, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, dan penyiapan bahan kerja sama internasional, pengamanan dan penyelamatan industri, penyiapan bahan pelaksanaan promosi, penanaman modal, dan pemberian fasilitas industri, penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan standar industri hijau, serta penyiapan bahan kebijakan teknis pengembangan industri di bidang industri kulit dan alas kaki.
10 5. Subbagian tata usaha dan manajemen kinerja; mempunyai tugas
melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 107 Tahun 2015 struktur organisasi Dit. ITKAKA adalah sebagai berikut:
Gambar 1
Struktur Organisasi Direktorat ITKAKA
1.4 Ruang Lingkup
Rencana Kinerja Dit. ITKAK Tahun 2019 merupakan bagian dari perencanaan jangka menengah pengembangan ITKAK. Ruang lingkupnya meliputi pencapaian hasil pengembangan ITKAK tahun 2015 – 2018, penetapan sasaran dan indikator kinerja, serta perumusan program kegiatan dan anggaran pengembangan industri tekstil, kulit, alas kaki, dan aneka tahun 2020.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan
Alas Kaki
Sub Direktorat ProgramPengemba
ngan ITKAKA
Seksi Program
Seksi Evaluasi dan Pelaporan
Sub Direktorat Industri Tekstil
Seksi Sumber Daya dan Sarana Prasarana Industri
Seksi Pemberdayaan
Industri
Sub Direktorat Industri Pakaian Jadi
dan Produk Tekstil Lainnya
Seksi Sumber Daya dan Sarana Prasarana Industri
Seksi Pemberdayaan
Industri
Sub Direktorat Industri Kulit, dan Alas Kaki
Seksi Sumber Daya dan Sarana Prasarana Industri
Seksi Pemberdayaan
Industri Sub Bagian Tata
11
BAB II
PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN INDUSTRI
2.1 Hasil-Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Selama paruh periode jangka menengah tahun 2015-2019, sampai dengan tahun 2018 Dit. ITKAKA telah mencapai progress sebagai berikut : a. Pertumbuhan ITKAKA
Sejak tahun 2015, sektor ITKAK berhasil mencatat pertumbuhan sektor ITKAK melebihi tingkat pertumbuhan industri pengolahan non batubara dan migas dengan grafik sebagai berikut:
Grafik 1
Pertumbuhan Sektor ITKAKA
Sumber: Data BPS, diolah
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa laju pertumbuhan ITKAK secara agregat membaik pada tahun 2018 dan bertumbuh sebesar 8,87 persen setelah pada tahun 2015 mengalami perlamabatan sebesar 2,82 persen. Subsektor industri tekstil cenderung stagnan di angka 2-3 persen pada tahun 2015 – 2018. Subsektor industri pakaian jadi mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu pada tahun 2016 mengalami perlambatan sebesar 1,12 persen menjadi tumbuh 11,07 persen pada tahun 2018. Subsektor industry kulit dan alas kaki mengalami kontraksi pada tahun 2016 – 2018 yaitu dari 8,36 persen menjadi 9,42 persen.
12 Sementara itu, kontribusi sektor ITKAK terhadap PDB industry pengolahan dan ekonomi nasional menunjukkan kinerja menurun yang khususnya terjadi pada sektor industry tekstil dan aneka. Profil kontribusi PDB tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Kontribusi ITKAK terhadap PDB
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa kontribusi industry pengolahan terhadap ekonomi nasional mengalami penurunan dari tahun 2017 ke tahun 2018, yaitu dari 17,89 persen menjadi 17,63 persen. Namun, hal ini tidak terjadi pada sektor ITKAK yang mengalami peningkatan kontribusi PDB. Meski demikian, struktur biaya produksi ITKAK semakin menunjukkan utilisasi yang menurun sehingga dapat dikatakan bahwa produk ITKAK mengalami penurunan daya saing. Struktur biaya ITKAKA pada tahun 2018 adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Struktur Biaya ITKAK Tahun 2018 Jenis Pengeluaran Industri Pakaian Jadi Industri Tekstil Industri Kulit Industri Alas kaki A. Tenaga Kerja 20.54 8.26 12.33 29.78
- Tenaga Kerja Langsung 18.29 6.83 10.33 25.75 - Tenaga Kerja Tak
Langsung
2.25 1.43 1.99 4.04
B. Bahan Baku 51.84 69.66 69.83 59.40
- Bahan Baku Impor 27.75 52.74 56.83 39.98
- Bahan Baku Lokal 24.09 16.92 13.00 19.42
C. Pengeluaran Lainnya 19.48 9.56 8.62 7.08 - Jasa 1.58 2.19 0.35 0.57 - Sewa Bangunan 2.30 0.35 0.89 0.79 - Sewa Tanah 0.04 0.01 0.03 0.01 - Biaya Hadiah 0.10 0.03 0.04 0.04 Sektor 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Industri Tekstil 3,40 2,23 2,02 1,85 1,78 1,76 1,74 1,74 Industri Pakaian Jadi 4,22 5,30 5,65 5,50 4,87 4,59 4,46 4,71 Industri Kulit dan Alas Kaki 1,55 1,40 1,47 1,51 1,50 1,56 1,52 1,60 ITKAK 9,17 8,92 9,14 8,87 8,14 7,91 7,72 8,04 Industri Pengolahan 18,13 17,99 17,74 17,88 18,20 18,21 17,89 17,63 Industri Tekstil 0,62 0,40 0,36 0,33 0,32 0,32 0,31 0,31 Industri Pakaian Jadi 0,76 0,95 1,00 0,98 0,89 0,84 0,80 0,83 Industri Kulit dan Alas Kaki 0,28 0,25 0,26 0,27 0,27 0,28 0,27 0,28 ITKAK 1,66 1,60 1,62 1,59 1,48 1,44 1,38 1,42
Terhadap Industri Pengolahan
13
- Bunga Pinjaman 0.64 1.38 1.25 0.77
- Biaya Representasi dan Royalti
0.03 0.03 0.01 0.00
- Pajak Tak Langsung 6.36 0.50 0.63 0.56
- Biaya Lainnya 8.44 5.07 5.43 4.35 D. Bahan Bakar 2.57 3.55 3.56 0.82 E. Tenaga Listrik 5.57 8.97 5.66 2.92 - PLN 5.51 8.10 5.66 2.87 - Non PLN 0.06 0.87 0.01 0.05 Total Biaya 100 100 100 100
Sumber: Data Survey IBS BPS, diolah
Berdasarkan struktur biaya diatas, diketahui bahwa biaya bahan baku dan tenaga kerja mendominasi biaya produksi. Mengingat ITKAK adalah industri yang masih bergantung pada impor bahan baku, maka produktivitas ITKAK sangat terpengaruh oleh pasokan dan kurs USD. Sejauh ini rasio impor bahan baku ITKAK adalah sebagai berikut:
Tabel 3
Rasio Impor Bahan Baku Terhadap PDB
Subsektor 2015 2016 2017 2018 Prog 2019 Terhadap PDB Nasional IKAK 0,08 0,07 0,07 0,07 0,07 ITPT 0,85 0,80 0,77 0,84 0,73 Terhadap PDB Subsektor IKAK 28,92 25,42 25,65 26,39 27,73 ITPT 70,48 69,00 69,84 74,13 58,58
Sumber: Data BPS, diolah
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa rasio bahan baku ITPT sangat tinggi dan rasio bahan baku IKAK relatif rendah. Tinggi rendahnya rasio tersebut umumnya dipengaruhi oleh kemampuan pasokan dalam negeri dan kontrak ekspor. Rasio bahan baku ITPT sangat tinggi dikarenakan tingkat ekspor produk garmen yang tinggi. Kontrak ekspor tersebut umumnya dibarengi dengan kontrak suplai bahan baku dari pasar dunia. Hal ini berimbas pada kemampuan industri tekstil domestik, khususnya kain, untuk bersaing dengan tekstil impor. Kemampuan tersebut juga akan dipengaruhi oleh tingkat impor produk sejenis dan produktivitas dalam negeri. Demikian pula untuk IKAK tinggi rendahnya rasio bahan baku juga akan berdampak pada produktivitasnya dan daya saing karena rasio bahan baku berhubungan erat dengan penguasaan pasar, khususnya pasar.
14 Berikut digambarkan suplai demand ITPT yang menunjukkan penurunan produktivitas akibat kurangnya daya saing yang disebabkan oleh industri hilirnya (garmen) lebih menggunakan tekstil impor.
Tabel 4
Suplai Demand ITPT
Terlihat pada tabel diatas bahwa utilisasi industri tekstil terus menurun dari 68,9 persen pada tahun 2012 menjadi 40,1 pada tahun 2017. Hal tersebut disebabkan oleh lonjakan impor yang signifikan pada tahun 2016 – 2017. Sedangkan struktur biaya industri garmen dan produk tekstil hilir lainnya adalah sebagai berikut:
Tabel 5
15 Meskipun utilisasi industri garmen semakin menurun hingga mencapai 56,7 persen serta industri produk tekstil lainnya utilisasinya menjadi 44 persen pada tahun 2018, produktivitas industri garmen dan produk tekstil lainnya masih terjaga mengingat industri garmen bertumbuh sebesar 4,48 persen pada tahun 2018. Hal ini berarti kedua subsektor ini masih bersaing dan mampu mempertahankan permintaan. Meski demikian hal tersebut perlu diwaspadai mengingat sektor ITPT hilir sangat bergantung pada kontrak ekspor, sehingga produktivitasnya yang ditunjukkan melalui utilisasi juga sangat bergantung pada daya saing di pasar dunia.
b. Penambahan unit baru dan investasi
Sektor ITKAKA mencatat kinerja investasi yang cukup baik dengan grafik sebagai berikut:
Grafik 4
Perkembangan Investasi ITKAKA
Sumber: Data BKPM, diolah
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa sektor ITKAK yang berkarakteristrik padat modal adalah industri tekstil. Industri pakaian jadi, kulit, dan alas kaki merupakan industri padat karya. Pada tahun 2018 tersebut ITKAK berinvestasi total sebesar Rp 13,29 Trilyun dan industri pengolahan sebesar Rp 275,36 Trilyun.
Proporsi PMA dan PMDN ITKAKA adalah sebagai berikut: c. Meningkatnya populasi perusahaan ITKAKA
6,55 4,94 10,62 5,95 2,01 2,18 2,56 1,99 2,23 2,00 5,14 3,75 0,77 0,85 5,96 1,59 2015 2016 2017 Prog2018
Investasi PMA dan PMDN ITKAKA (Rp Trilyun)
16 Jumlah unit ITKAKA merupakan penambahan unit ekspansi atau investasi baru di sektor ITKAKA berdasarkan data IUI dan LKPM dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pada tahun 2017, unit investasi baru sektor ITKAKA tercapai sesuai target, yaitu sebanyak 214 unit baru. Capaian jumlah unit baru ITKAKA Tahun 2015-2017 adalah sebagai berikut:
Tabel 6
Capaian dan Prognosa Penambahan Unit ITKAKA Tahun 2012-2019
Industri Realisasi Target Atas 2016 2017 2018 2018 2019 Penambahan Populasi industri (unit atau pabrik)
Non Migas 1464 1746 1703 1931 2156
IKTA 591 677 753 768 857
ITKAK 221 219 214 294 328
Sumber: Data BKPM, diolah
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sektor ITKAK mengalami peningkatan penambahan unit baru ITKAK dimana penambahan unit baru dari tahun 2017 ke tahun 2018 bertambah 214 unit atau tumbuh sebanyak 2,28 persen. Penambahan unit baru tersebut mayoritas berasal dari investasi industri garmen. Pada tahun 2019, target akumulatif penambahan unit baru adalah sebanyak 1276 unit baru. Mengingat jumlah pengajuan Izin Prinsip (IP) dan Izin Usaha Industri (IUI) di BKPM cukup banyak, maka target tersebut diharapkan dapat tercapai pada tahun 2019. Untuk mencapai target tersebut, upaya penumbuhan populasi baru di sektor ITKAK membutuhkan upaya serius meliputi jaminan pasokan bahan baku, energi (listrik dan batubara), dan infrastruktur logistik. Oleh karena itu, sejauh ini Dit. ITKAK telah berupaya menyelenggarakan kegiatan fasilitasi mengenai jaminan pasokan bahan baku dan energi melalui koordinasi dengan instansi terkait (Kementerian ESDM, serta Pemerintah Daerah). ITKAK juga masih membutuhkan dukungan akses infrastruktur logistik yang memadai agar distribusi bahan baku, energi, dan produk jadi dapat berjalan lancar.
d. Meningkatnya produktivitas tenaga kerja
Produktivitas SDM ITKAK dihitung dengan cara membagi nilai PDB harga berlaku sektor ITKAK dengan jumlah tenaga kerja sektor ITKAK. Produktivitas SDM menggambarkan kemampuan setiap tenaga kerja untuk
17 menghasilkan nilai produk tertentu. Pada tahun 2018 produktivitas SDM ITKAK adalah Rp. 146,2 Juta per orang per tahun. Angka tersebut sesuai dengan target produktivitas yang dituju. Target jangka menengah pada tahun 2019 adalah sebesar Rp. 178,3 Juta per orang per tahun. Hal ini berarti kenaikan produktivitas yang diharapkan adalah sebesar 18,79 persen.
Tabel 7
Produktivitas Tenaga Kerja ITKAKA
2015 2016 2017 2018 2019
Target 150 143,1 144,9 161,2 178,3
Realisasi 141,2 145,3 150,1 146,2 n.a.
Sumber: Data BPS, diolah
Capaian diatas diupayakan Dit. ITKAKA melalui kegiatan peningkatan kompetensi tenaga kerja dalam bentuk bimbingan teknis dan penyusunan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI). Sejauh ini RSKKNI yang telah disusun oleh Dit. ITKAKA adalah:
- RSKKNI Industri Mainan Kayu - RSKKNI Konsensus Industri Mainan
- RSKKNI Industri Tekstil Bidang Weaving, Printing, dan Dying - RSKKNI Industri Tekstil Bidang Manajerial
- RSKKNI Industri Garmen - RSKKNI Industri Alas Kaki
Dengan adanya SKKNI diatas, maka kurikulim pelatihan peningkatan kompetensi pada sektor ITKAKA dapat dilakukan secara terstruktur dan terarah. Disamping itu, tenaga kerja yang mengikuti pelatihan memperoleh sertifikat kompetensi berdasarkan SKKNI yang bermanfaat untuk meningkatkan jenjang karir.
e. Meningkatnya pangsa pasar ekspor ITKAK
Produk ITKAK merupakan komoditas andalan ekspor. Perkembangan pangsa ekspor produk ITKAK adalah sebagai berikut:
18
Tabel 8
Perkembangan Nilai Ekspor Produk ITKAK
Industri Satuan 2015 2016 2017 2018 Growth (%)
Ekspor Nasional USD M 150.39 144.43 168.73 180.06 -1,33
Ekspor Non Migas USD M 131.70 132.08 152.99 162.65 0,76
Ekspor Migas USD M 18.55 13.11 15.74 17.40 -14,34
Ekspor Industri Pengolahan USD M 108.60 110.50 125.10 129.93 1,48 Industri Kimia Farmasi, dan Tekstil : USD M 28.03 28.41 31.31 33.04 1,50 1. Ind. Tekstil USD M 5.00 4.66 4.66 4.65 -2,49
2. Ind. Pakaian Jadi USD M 7.32 7.21 7.93 8.62 2,29 3. Ind. Kulit, Barang Kulit dan Alas Kaki USD M 4.85 5.01 5.36 5.70 4,95
Grafik 5
Kontribusi Ekspor ITKAK
Sumber: Data BPS, diolah
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa terjadi peningkatan pangsa ekspor produk ITKAK meski tidak begitu signifikan. Data rinci neraca perdagangan produk bahan galian nonlogam adalah sebagaimana tabel berikut:
f. Menurunnya rasio impor bahan baku
Produk ITKAK menggunakan bahan baku lokal dan bahan baku impor. Namun, mengingat daya saing industri tekstil semakin menurun, maka rasio bahan baku impor perlu diteliti lebih lanjut perkembangannya. Rasio bahan baku impor produk ITKAK adalah sebagai berikut:
Tabel 9
Rasio Impor Bahan Baku
Subsektor 2015 2016 2017 2018 Terhadap PDB Nasional IKAK 0,08 0,07 0,07 0,07 ITPT 0,85 0,80 0,77 0,84 3,32 3,23 2,76 2,58 2,75 4,87 4,99 4,70 4,79 4,95 3,22 3,47 3,18 3,17 3,06 11,42 11,69 10,64 10,54 10,76 2015 2016 2017 2018 2019
Kontribusi Nilai Ekspor ITKAK terhadap Ekspor Nasional (%)
19
Terhadap PDB Subsektor
IKAK 28,92 25,42 25,65 26,39
ITPT 70,48 69,00 69,84 74,13
g. Standarisasi produk ITKAK untuk menekan impor
Upaya pemberlakuan standar produk ITKAK ini dilakukan melalui penguatan standar produk yang akan dikonsumsi didalam negeri melalui pemberlakuan SNI yang diwajibkan dan penguatan SNI. Upaya peningkatan standar perlu dilakukan untuk melindungi konsumen dan serta barang hasil produksi dalam negeri dari serbuan barang impor yang tidak berkualitas. SNI Wajib dan RSKKNI produk ITKAK yang telah disusun pada tahun 2015 - 2018 diantaranya adalah:
1. Tekstil- Kain tenun untuk setelan (suiting),
2. Tekstil - Cara uji kandungan Perfluorooctane sulfonic acid (PFOS) dan PFA pada bahan tekstil,
3. Tekstil- Cara uji pH ekstrak air dari bahan tekstil,
4. Tekstil- Cara uji tahan luntur warna - Bagian J03 : Perhitungan beda warna,
5. Pakaian Jadi - Kain untuk pakaian dalam wanita, 6. Pakaian Jadi - Ukuran pakaian dalam wanita, 7. Pakaian Jadi - Pakaian dalam wanita,
8. Pakaian Jadi - Kain tahan air untuk rainwear dan segala keperluan 9. Sepatu pengaman dari kulit dengan sol karet cetak vulkanisasi,
10. Sepatu pengaman dari kulit dengan sol karet poliuretan dan termoplastik poliuretan sistem cetak injeksi
11. Leather - Physical and mechanical tests - Determination of thickness Kulit - Uji fisik dan kimiawi -Penentuan ketebalan
12. Leather - Chemical tests -Determination of chromium (VIj content Kulit - Uji kimiawi - Penentuan kadar kromium (Vi)
13. Leather - Bovine wet blue –Specification Kulit - Kulit krom basah sapi – Spesifikasi Personal protective equipment - Test methods f or footwear Peralatan pelindung diri - Metode uji untuk alas kaki
20 14. Tekstil - Serat kapas
15. Pakaian jadi - Kaus kaki 16. Tekstil - Serat stapel viskosa
17. Tekstil - Serat kapas - Cara identifikasi gula madu (honey dew) metode perendaman;
18. Tekstil - Cara uji kadar ftalat- Metode tetrahidrofuran
19. Serat tekstil - Cara uji kekuatan tarik dan mulur saat putus serat per helai
20. Serat tekstil - Cara uji kehalusan – Metode gravimetri dan metode vibroskop
21. Serat tekstil - Cara uji panjang dan distribusi panjang serat stapel (cara per helai)
22. Tekstil - Cara uji tahan luntur warna - Bagian C12: Tahan luntur warna terhadap pencucian industri
23. Tekstil - Kain tenun roving dan nir-tenun multi-axial berbahan baku serat gelas tipe E
24. Tekstil – Kain nonwoven untuk peredam suara
25. Tekstil dan produk tekstil – Persyaratan mutu tahan api adopsi identik ISO 17881-2:2016 Textiles -- Determination of certain flame retardants -- Part 2: Phosphorus flame retardant.
26. Revisi SNI 08-0314-1989 Cara uji kekakuan kain (ASTM D1388-08). 27. Tekstil – Kain brokat. Konseptor: Adopsi identik ISO 17881-1:2016
Textiles -- Determination of certain flame retardants --Part 1: Brominated flame retardants
28. Revisi Juknis dalam rangka Pemberlakuan Secara Wajib SNI Pakaian bayi
Untuk menyertai kebijakan pemberlakuan SNI Wajib, Dit. ITKAK juga menyelenggarakan pengawasan SNI Wajib ke perusahaan binaan.
21
2.2 Arah Kebijakan
Dalam rangka mendukung arah kebijakan dan strategi Kementerian Perindustrian yang mengacu pada arah kebijakan RPJMN 2015 -2019, sebagai unit kerja Eselon II di lingkungan Kementerian Perindustrian maka Direktorat ITKAK berkewajiban menyukseskan pencapaian Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja (IK) Kementerian Perindustrian. Arah kebijakan dan strategi Direktorat ITKAK adalah sebagai berikut:
a. Industri Prioritas
Industri prioritas yang menjadi Rencana Aksi Direktorat ITKAK adalah industri tekstil, garmen, kulit, dan alas kaki. Pembangunan industri prioritas periode tahun 2015-2019 dilaksanakan dengan mengacu pada rencana aksi yang telah diamanatkan oleh Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional. Rencana aksi pembangunan untuk masing- masing industri prioritas adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan penerapan dan pengawasan SNI wajib, serta penguatan infrastruktur standardisasi.
2. Penerapan industri hijau
3. Peningkatan penggunaan produksi dalam negeri
4. Fasilitasi penyediaan lahan dan kawasan industri untuk investasi baru 5. Menyiapkan SDM lokal yang kompeten
6. Menyusun SKKNI bidang ITKAKA
Selain melaksanakan rencana aksi pembangunan industri prioritas berdasarkan subsektor industri dibawah binaannya, Dit. ITKAK juga bertanggung jawab untuk mendukung melancarkan Program Prioritas Nasional dengan melakukan koordinasi dan konsolidasi terhadap subsektor industri binaan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan bahan baku/bahan penolong dalam pelaksanaan Program Prioritas Nasional serta kegiatan penunjang lainnya yang diperlukan antara lain sebagai berikut:
Tabel 10
Dimensi Pembangunan Nasional terkait ITKAK
No. Dimensi Pembangunan Kebutuhan
22
1. Tata kelola industri migas dan energi
a. Penyelesaian regulasi tata kelola sumber daya alam untuk bahan baku, bahan penolong dan energi industry
b. Studi pemodelan tarif listrik untuk bahan baku, bahan penolong dan energi Industri 2. Percepatan pembangunan
pembangkit listrik
a. Melakukan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam rangka menetapkan kebijakan harga gas
Kawasan Industri
1. Ketersedian SDA a. Pengembangan pengolahan
(pre-treatment) sumber daya alam menjadi bahan baku, bahan penolong, dan energi dari bahan dasar yang terkandung di suatu wilayah potensial
2. Konektivitas a. Jalan, pelabuhan laut dan bandara, dan jaringan komunikasi
Kemaritiman dan Kelautan
Revolusi Mental untuk Kemandirian Ekonomi 1. Peningkatan kemandirian
ekonomi dan daya saing bangsa.
a. Program pengembangan dan
pemerataan pelatihan industri di seluruh Indonesia dalam rangka mendukung
budaya produksi (pendidikan
vokasi/dominan praktek) di masyarakat
b. Program pengembangan dan
pemerataan pemagangan di industri manufaktur
b. Pembangunan Sumber Daya Industri
Sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Perindustrian maka Direktorat ITKAK melakukan pembangunan industri yang meliputi:
1. Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) ITKAK
Pembangunan infrastruktur tenaga kerja ITKAK berbasis kompetensi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan mewujudkan kesesuaian antara sistem pengupahan dengan produktivitas kerja guna memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi tenaga kerja. Program pembangunan infrastruktur tenaga kerja industri ITKAK berbasis kompetensi meliputi :
- Penyusunan dan penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)
23 2. Pemanfaatan Sumber Daya Alam
Pemanfaatan, penyediaan, dan penyaluran sumber daya alam untuk perusahaan ITKAK dan perusahaan kawasan ITKAK diselenggarakan melalui prinsip tata kelola yang baik dengan tujuan untuk menjamin penyediaan dan penyaluran sumber daya alam yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, bahan penolong, energi dan air baku agar dapat diolah dan dimanfaatkan secara efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan guna menghasilkan produk yang berdaya saing serta mewujudkan pendalaman dan penguatan struktur ITKAK. Dalam rangka menjamin ketersediaan sumber daya alam bagi pengembangan industri hulu terutama ITKAK lainnya, maka pemerintah akan melakukan beberapa hal sebagai berikut sebagai berikut :
- Pengelolaan sumber daya alam secara efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui penerapan tata kelola yang baik - Implementasi pemanfaatan sumber daya yang ramah lingkungan
dan berkelanjutan dengan prinsip pengurangan limbah (reduce), penggunaan kembali (reuse), pengolahan kembali (recycle); dan pemulihan (recovery).
- Audit tata kelola pemanfaatan sumber daya alam.
- Pelarangan atau pembatasan ekspor sumber daya alam yang ditujukan untuk memenuhi rencana pemanfaatan dan kebutuhan perusahaan industri dan perusahaan kawasan industri, antara lain meliputi : (1) Penetapan bea keluar, (2) Penetapan kuota ekspor, (3) Penetapan kewajiban pasokan dalam negeri, dan (4) Penetapan batasan minimal kandungan sumber daya alam.
- Jaminan penyediaan dan penyaluran sumber daya alam diutamakan untuk yang mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku, bahan penolong dan energi, serta air baku industri dalam
- Pengembangan dan pemanfaatan teknologi Industri yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan kemandirian industri nasional. Penguasaan teknologi dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
24 dan kebutuhan industri dalam negeri agar dapat bersaing di pasar dalam negeri dan global.
c. Pembangunan Sarana dan Prasarana Industri
Dalam rangka mewujudkan pembangunan industri nasional yang berdaya saing perlu didukung melalui penyediaan sarana dan prasarana industri yang memadai meliputi:
1. Standarisasi ITKAK
Standarisasi industri bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri dalam rangka penguasaan pasar dalam negeri maupun ekspor. Standarisasi industri juga dapat dimanfaatkan untuk melindungi keamanan, kesehatan, dan keselamatan manusia, hewan, dan tumbuhan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pengembangan produk industri hijau serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat.
Pengembangan standarisasi industri meliputi perencanaan, pembinaan, pengembangan, dan pengawasan untuk Standar Nasional Indonesia (SNI), Spesifikasi Teknis (ST), dan Pedoman Tata Cara (PTC).
Pengembangan standarisasi ITKAK yang akan dilakukan meliputi:
- Pengembangan standarisasi ITKAK dalam rangka peningkatan kemampuan daya saing industri melalui perumusan, penerapan, pengembangan, dan pemberlakuan standar
- Pengembangan infrastruktur untuk menjamin kesesuaian mutu produk ITKAK dengan kebutuhan dan permintaan pasar melalui pengembangan pengawasan standar
2. Sistem Informasi ITKAK
Pembangunan sistem informasi melalui pendataan industri dalam rangka monitoring perkembangan ITKAK dengan tujuan sebagai berikut:
- Tersedianya data ITKAK yang menggambarkan kondisi industri saat ini yang mencakup data umum perusahaan (termasuk data manajemen perusahaan dan sumber daya manusia), data pabrik dan utilitas yang dipergunakan, data kapasitas dan realisasi produksi, data pemasaran, data pemakaian bahan baku dan bahan penolong, data penggunaan energi, bahan bakar dan air, data penerapan teknologi, data pengelolaan limbah, serta data penyerapan tenaga kerja langsung pada proses produksi.
25
- Tersedianya informasi kondisi dan permasalahan terkait dengan infrastruktur dan iklim usaha ITKAK
- Tersedianya informasi deskriptif agregat ITKAK berdasarkan dimensi waktu, lokasi industri, bidang usaha, skala usaha, negara tujuan pasar, negara asal bahan baku dan penolong dengan informasi tentang penyerapan tenaga kerja, realisasi produksi, pemasaran produk, serta pemakaian sumber daya seperti bahan baku, bahan penolong, energi, bahan bakar dan air sebagai bahan analisa perkembangan ITKAK
- Tersedianya informasi tingkat kemampuan ITKAK pada tingkat perusahaan industri dan agregat yang meliputi aspek produksi, manajemen perusahaan, pengelolaan lingkungan, teknologi, dan pemasaran.
- Tersedianya sistem informasi pengolahan data sebagai sarana pembaruan dan validasi data ITKAK
- Tersedianya sistem representasi informasi industri sebagai sarana penyajian informasi perkembangan ITKAK
- Tersedianya infrastruktur sistem meliputi perangkat keras, perangkat lunak serta perangkat komunikasi data.
26
BAB III
RENCANA KINERJA
3.1 Sasaran
Mengingat Rencana Kinerja Tahun 2020 ini disusun sebelum tersusunnya Rencana Strategis Dit. ITKAK Tahun 2020-2024, maka seluruh acuan penetapan visi, misi, dan tujuan masih mengacu pada Rencana Strategis Dit. ITKAK versi Perubahan Tahun 2017-2019.
Perumusan sasaran kinerja Dit. ITKAK adalah berdasarkan penetapan visi, misi, dan tujuan sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis. Berdasarkan Rencana Strategis Dit. ITKAK Tahun 2016-2019 versi Perubahan Tahun 2017-2019, visi Dit. ITKAK adalah “Mewujudkan ITKAK yang Berdaya
Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam”.
Sedangkan misinya adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan populasi ITKAK untuk memperkuat dan memperdalam struktur industri nasional;
2. Peningkatan daya saing dan produktivitas ITKAK untuk mewujudkan industri nasional yang mandiri, berdaya saing, maju, dan berwawasan lingkungan. Untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi diatas, Dit. ITKAK telah menetapkan tujuan tahun 2017-2019 yaitu “Meningkatnya peran ITKAK dalam
perekonomian nasional.” Selanjutnya Dit. ITKAK merumuskan Sasaran
Strategis sebagai berikut:
1. Meningkatnya populasi ITKAK
Indikator sasaran ini adalah peningkatan jumlah unit ITKAK serta penyerapan tenaga kerja industri besar sedang (IBS) pada sektor ITKAK khususnya.
2. Meningkatnya daya saing dan produktivitas ITKAK
Sasaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan produk dalam negeri dibandingkan dengan seluruh pangsa pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Sasaran ini dicapai melalui pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi industri untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing dan kemandirian industri nasional. Keseluruhan visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis tersebut diatas dirangkum dalam Peta Strategis Direktorat ITKAK sebagai berikut.
27
Gambar 2
Peta Strategis Direktorat ITKAK
PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN PERSPEKTIF PROSES INTERNAL PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI Tujuan:
Meningkatnya peran ITKAK dalam perekonomian nasional
Terwujudnya peningkatan daya saing dan produktivitas ITKAK
2
Meningkatnya populasi ITKAK
1
PERUMUSAN KEBIJAKAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN
SDM ANGGARAN
Tersedianya kebijakan pembangunan ITKAK yang
efektif
Terselenggaranya urusan pemerintahan di bidang ITKAK
yang berdaya saing dan berkelanjutan
Terwujudnya ASN yang profesional dan berkepribadian
Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien
dan akuntabel
3 4
28
3.2 Indikator Kinerja
Agar memudahkan pengukuran target dan capaian kinerja, Dit. ITKAK menyusun Indikator Kinerja Tujuan (IKT) dan dan Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS). Sebagian dari indikator kinerja tersebut juga ditetapkan menjadi Indikator Kinerja Utama Dit. ITKAK . Berikut adalah indikator kinerja Dit. ITKAK sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Strategis Direktorat ITKAKA Tahun 2016-2019 versi Perubahan Tahun 2017-2019:
a. Indikator Kinerja Tujuan (IKT)
Dit. ITKAK telah menetapkan indikator kinerja tujuan tahun 2018 beserta targetnya sebagai berikut:
Tabel 11
Tujuan dan Indikator Kinerja Tujuan Direktorat ITKAK Tahun 2020
Dit. ITKAK telah menetapkan indikator kinerja sasaran strategis tahun 2017 beserta targetnya sebagai berikut:
1. Persen 2. Persen 3. Juta Orang 4. US$ Miliar Tujuan 1. Meningkatnya peran Industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki dalam perekonomian nasional
Pertumbuhan PDB Industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
No. Tujuan / Sasaran
Strategis (SS) Indikator Tujuan / Indikator Sasaran Stategis Target Satuan
4,40 Kontribusi PDB Industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
terhadap PDB nasional
1,40 Jumlah tenaga kerja di sektor industri Tekstil,
Kulit,dan Alas Kaki
4,90 Nilai ekspor produk industri Tekstil, Kulit,dan Alas
Kaki
29
Tabel 12
Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Direktorat ITKAK Tahun 2020
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dalam perspektif pemangku kepentingan merupakan Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat ITKAK.Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS)
3.3 Kegiatan
Untuk mencapai Tujuan dan Sasaran Strategis beserta indikator kinerjanya, Dit. ITKAK telah menyusun kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan ITKAK. Kegiatan tersebut terdiri dari 6 (enam) output. Setiap output telah diarahkan untuk mendukung capaian indikator kinerja. Matriks kegiatan secara rinci dilampirkan pada dokumen ini.
1. Persen 2. Rp Juta /orang/tahun 3. Rp. Triliun 1. Perusahaan 2. Persen 3. Meningkatnya kemampuan industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki dalam negeri
1. Persen
1. Persen
2. Persen
3. Persen
No. Tujuan / Sasaran Strategis (SS) Indikator Tujuan / Indikator Sasaran Stategis Target Satuan
Perspektif Pemangku Kepentingan
1. Meningkatnya daya
saing dan kemandirian industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
Persentase Tenaga Kerja di Sektor Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki Terhadap Total Pekerja
3,81 Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Tekstil, Kulit,dan
Alas Kaki
34,58
Nilai Realisasi Investasi Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki
16,84 Penguatan Implementasi
Making Indonesia 4.0 di sektor industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
Perusahaan Dengan Nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) > 3.0 di Sektor Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki
3
Kontribusi Ekspor Produk Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Berteknologi Tinggi
0,24
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang) Sektor Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
62,10
4. Meningkatnya
penguasaan pasar industri Tekstil, Kulit,dan Alas Kaki
Pertumbuhan Ekspor Produk Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki
5,56 Kontribusi Ekspor Produk Industri Tekstil, Kulit, dan
Alas Kaki Terhadap Total Ekspor
10,64 Rasio Impor Bahan Baku Industri Tekstil, Kulit, dan
Alas Kaki Terhadap PDB Sektor Industri Non Migas
4,27 2.
30
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Secara umum Rencana Kinerja Direktorat ITKAK Tahun 2020 telah disusun dengan mengacu pada dokumen Rencana Strategis Direktorat ITKAK Tahun 2016-2019 versi Perubahan tahun 2017-2019. Hal ini dilakukan mengingat rencana Strategis untuk periode jangka menengah tahun 2020 – 2024 masih dalam proses penyusunan. Rencana Kinerja ini akan menjadi panduan perencanaan kegiatan dan anggaran untuk pencapaian target kinerja pada tahun 2020.
4.2 Tindak Lanjut
Dengan tersusunnya dokumen Rencana Kinerja Direktorat ITKAK Tahun 2020, maka perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah berikut:
a. Menyusun dan memfinalisasi Rencana Strategis Dit. ITKAK Tahun 2020 - 2024 b. Menyusun program/kegiatan dan anggaran (Rencana Kegiatan dan Anggaran/RKA) Dit. ITKAK tahun 2020 hingga disahkan menjadi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
c. Menyusun Perjanjian Kinerja Tahun 2020 dari Direktur ITKAK kepada Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka
d. Melakukan monitoring dan evaluasi atas progress pencapaian target kinerja, baik pencapaian jangka menengah (5 tahunan) maupun jangka pendek (tahunan) dan menyusun dokumen pelaporannya.
31
LAMPIRAN