• Tidak ada hasil yang ditemukan

Migren & Tension Type Headache Nurul Komari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Migren & Tension Type Headache Nurul Komari"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Migren & Tension Type Headache

(2)

• Nyeri kepala: rasa nyeri di daerah manapun di kepala, akibat segala sesuatu yang merusak ataupun berpotensi merusak struktur di kepala

• Area: intrakranial & ekstrakranial (termasuk wajah)

• Timbul krn ada reseptor nyeri & bangunan peka nyeri:

• kutis & subkutis, otot, pembuluh darah, periosteum

• Sebagai alarm untuk melindungi organ2 penting di daerah kepala

• Dialami hampir semua orang; ~40% menjadi masalah

• Salah satu keluhan yg paling sering (praktek umum & neurologi)

(3)

Pendahuluan

• Persarafan:

• Saraf trigeminal (saraf kranial V): fossa cranium bag anterior & media, wajah

• Radiks C1-3: bag belakang kepala

• Nyeri kepala primer

• Bukan diakibatkan oleh kelainan struktural intrakranial

• Nyeri berulang, ada pola tertentu, di antara serangan tidak ada gejala

• Nyeri kepala sekunder

(4)

Red flags

• Nyeri muncul berdekatan dg gejala/penyebab lain sebelumnya

• Nyeri kepala pertama kali

• Nyeri muncul berulang pada pasien >40 tahun

• Nyeri berulang tapi pola berbeda: frekuensi lebih sering, intensitas lebih berat, durasi lebih lama, lebih mengganggu aktivitas

• Nyeri terlokalisir pada area tertentu, memburuk pada keadaan tertentu

• Pada HIV, terdapat riwayat trauma kepala, stroke, kejang, keganasan sebelumnya

(5)

Red flags

• Imaging tidak diperlukan, kecuali:

• Onset migren usia >50 th

• Sakit kepala hebat pertama

• Onset baru sakit kepala pd pasien Ca & HIV

• Sakit kepala dg defisit neurologis fokal

• Sakit kepala dg demam

• Migren dg epilepsi

(6)

Klasifikasi Nyeri Kepala

International Headache Society, 2013

• Primary headaches • Migraine

• Tension-type headache (TTH)

• Cluster headache and other trigeminal autonomic cephalgias

• Other primary headaches

• Secondary headaches

• Headache attributed to head and/or neck trauma

• Headache attributed to cranial or cervical vascular disorder

• Headache attributed to non-vascular intracranial disorder

• Headache attributed to a substance or its withdrawal

• Headache attributed to infection

• Headache attributed to disorder of homeostasis

• Headache or facial pain attributed to disorder of cranium, neck, eyes, ears, nose, sinuses, teeth, mouth or other facial or cranial structures

• Headache attributed to psychiatric disorder

• Cranial neuralgias, central and primary facial pain and other headaches • Cranial neuralgias and central causes of facial pain

(7)

Standar Kompetensi Dokter Umum

Level 3A:

mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya

Level 4A:

mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas

(8)
(9)

Demografi

• Sekitar 10-14% • Perempuan >>> (3:1) • Usia produktif 30-60 thn • Genetik • Faktor risiko: • Overweight • HT, PJK • Hiperkolesterol • Gg sensitivitas insulin • Hiperhomosistein • Stroke A n g k a k e ja d ia n M ig re n (% ) Usia (tahun) Laki-laki Perempuan 1 10 20 30 40 50 60 70 80

(10)

Klasifikasi Migren

• Migren tanpa aura • Migrain dengan aura

• Sindrom periodic pada anak yang dapat menjadi prekursor migren: cyclic vomiting, migren abdominal, vertigo paroksismal benigna pada anak

• Migren retinal

• Komplikasi migren:

• Migren kronis

• Status migrenosus (serangan >72 jam) • Aura persisten tanpa infark

• Migrainous infarct

• Migrain-triggered seizure

• Migraine-triggered seizure • Probable migraine

(11)

Patofisiologi

• Belum sepenuhnya dimengerti

• Teori Vaskular

• Teori Neurovaskular:

• Proses neurogenik  perubahan perfusi serebral

• Cortical Spreading Depression

(12)

Teori utama migren

Berhubungan dg peningkatan

eksitabilitas korteks serebri &

gangguan kontrol nyeri pada

nukleus trigeminal di batang otak

(13)
(14)

Karakteristik Nyeri pada Migren

• Nyeri pada satu sisi, daerah dahi-samping kepala dan sekitar mata

• Nyeri bertambah hebat dalam 1-2 jam, menjalar dari depan/samping hingga ke belakang kepala

• Dapat disertai dg aura:

• Gejala (+) : Kilatan cahaya, pola geometrik, kesemutan

• Gejala (-) : Skotoma, hemianopia, hemihipestesia, hemiplegi, disartria, afasia

(15)
(16)
(17)

Gejala & Stadium Migren Prodromal

• Bbrp jam-hari sblm serangan • Terjadi pd ½ penderita migren • Foto/fonofobia, depresi,

iritabilitas, tdk nafsu makan

Aura

• Mulai 1 jam sebelum serangan • Terjadi pd 20% penderita

migren

• Gangguan penglihatan: kilatan cahaya, pola2 geometrik,

hemianopia, skotoma

Nyeri

• Nyeri sedang-berat, 4-72 jam • Umumnya satu sisi, tp bisa 2

sisi

• Foto-fonofobia, mual-muntah, dipengaruhi aktivitas fisik

Post-dromal

• Hingga bbrp hari setelah nyeri • Iritabilitas, fatigue, gg

konsentrasi, perubahan mood • Kulit kepala nyeri

(18)

Lokasi nyeri

Penyebaran nyeri pada migren

(19)

Diagnosis Migren

International Headache Society

Serangan min. 5x berdurasi 4-72 jam

2 dari gejala sbb:

• Sakit kepala sebelah • Berdenyut

• Derajat nyeri sedang-berat

• Diperberat dg aktivitas fisik ringan: berjalan, naik tangga 1 dari gejala sbb:

• Mual dan/atau muntah

(20)

Terapi

• Abortif; tujuan:

• Mengatasi nyeri dg cepat & tanpa rekurensi

• Mengembalikan kemampuan activity daily living

• Syarat: cost-effective, ES minimal

• Preventif; tujuan:

• Menurunkan frekuensi serangan 50%/lebih • Menurunkan intensitas & durasi serangan • Meningkatkan respon th/ abortif

• Menurunkan disabilitas akibat serangan

• Mencegah transformasi migren episodik menjadi migren kronik • Mencegah medication overuse

• Mencegah terjadinya rebound headache akibat penghentian th/ abortif • Hindari pencetus

(21)

Terapi Abortif

Terapi Spesifik

• Sumatriptan: Triptagic®

• Efektif & aman (hati2 pd CAD)

• 50-100 mg saat onset, dpt diulang 2 jam kmd (max 200 mg/hari)

• Tidak boleh: lebih dr 3 hari, pd migren komplikata

• Ergot: Ergotamin (+caffeine)

• 2 mg p.o  1-2 mg tiap 30 mnt sampai nyeri hilang (max 6 mg/hari)

• Dihidroergotamin/DHE (unavailable)

Level A

Level B Level B

(22)

Terapi Abortif

Terapi Nonspesifik

• Antiemetik

• Analgetik:

• Paracetamol

• NSAIDs: Ibuprofen, aspirin, diklofenak

Ketoprofen, ketorolac, opioid kombinasi

• Lainnya: Opioid, steroid

Level A

Level B Level C

(23)

Keberhasilan Terapi Abortif

• Perbaikan intensitas nyeri atau bebas nyeri setelah 2 jam pengobatan

• Efikasi pengobatan konsisten pada 2-3x serangan

• Tidak ada serangan rekuren dalam waktu 24 jam setelah pengobatan berhasil

(24)

Indikasi Terapi Preventif

• Data epidemiologis: ~38% penderita migren membutuhkan th/ preventif; hanya 3–13% yang mendapatkannya

(Lipton RB, Bigal ME, Diamond M, Freitag F, Reed ML, Stewart WF; The American Migraine Prevalence and Prevention Advisory Group. Migraine prevalence, disease burden, and the need for preventive therapy. Neurology 2007; 68:343– 349.)

• Serangan >3x/bulan, atau 8 hari sakit kepala/bulan

• Disabilitas dlm aktivitas harian

• Overuse terapi abortif atau tdk efektif

• Penggunaan terapi akut >2x/minggu

(25)

Terapi Preventif

• Antihipertensi:

• B-bloker: Timolol 20-30 mg/hari; Propranolol 2x40-120 mg

• CCB: Diltiazem 4x60-90 mg • ACE-I: lisinopril 20 mg/hari • ARB: Candesartan 16 mg/hari

• Antiepilepsi

• As valproat: 500-1500 mg/hari

• Topiramat 50-100 mg/hari (titrasi mulai 25 mg per 2 minggu)

• Gabapentin

• Antidepresan

• Trisiklik: Amitriptilin 30-150 mg/hari; Nortriptilin 25-100 mg/hari • SSRI: fluoxetine

(26)

Langkah-Langkah Pemberian Terapi Preventif

1. Mulai dengan obat yang paling tinggi level rekomendasinya

2. Mulai dengan dosis efektif terkecil, titrasi secara bertahap hingga tercapai

respon klinis tanpa/sampai timbulnya efek samping

3. Berikan waktu yang cukup (2-3 bulan) sebelum dilakukan evaluasi keberhasilan terapi

(27)

Evaluasi Terapi Preventif

• Pantau serangan melalui headache diary

• Evaluasi ulang terapi: Jika setelah 3-6 bulan serangan terkontrol, pertimbangkan tap off atau stop obat

• Hentikan pengobatan setelah 1 tahun

• Pengobatan berhasil: frekuensi serangan migrain berkurang setidaknya 50%

(28)

Terapi Abortif Terapi Preventif

Spesifik Non spesifik Level A

•Sodium valproate/valproic acid •Propranolol •Topiramate Level B •Amitriptyline •Naproxen, fenoprofen, ketopofen, Ibuprofen •Magnesium •Atenolol •Venlafaxine •Riboflavin •Histamine Level C •Candesartan •Carbamazepine •Lisinopril •Pindolol •Nebivolol •Clonidine •Coenzyme Q10 Level A •Paracetamol

•NSAIDs: Ibuprofen, aspirin, diklofenak

Level B

•NSAIDs: Ketoprofen, ketorolac •Opioid kombinasi Level A •Sumatriptan Level B •Ergot: ergotamine, dihidroergotamin Level C •Opioid •Steroid

(29)

Terapi lain

• Improving physical fitness

• Menghindari pencetus:

• Perubahan pola tidur

• Makanan/minuman: keju, cokelat, MSG, alcohol

• Stress

• Cahaya terang/berkelap-kelip

• Perubahan cuaca/tempat yang tinggi

• Psikoterapi

• Relaksasi

• Manajemen stress

• Coping strategies

(30)
(31)

Pendahuluan

Prevalensi 78%, mengenai 20% populasi dunia

Dewasa muda, puncak usia 30-39 tahun

Perempuan: laki-laki = 2:1

2 tipe: episodik & kronik

• ~2% berkembang menjadi kronik (serangan >15 hari/bulan) & berlangsung >3 bulan

(32)

Pendahuluan

Karakteristik nyeri:

• Onset bertahap, menjalar oksiput ke bag depan

• Bilateral, tumpul, terasa tegang, rasa seperti terikat

• Pagi hari <<, siang & sore hari intensitas >>

• Tidak diperberat dengan aktivitas

(33)

Patofisiologi

Belum pasti: spasme otot, modulasi nyeri di SSP, vaskular

TTH episodik:

• terutama krn mekanisme myofascial

• Ambang nyeri: normal

TTH kronik:

• Spasme otot + gg modulasi nyeri di SSP (ambang nyeri: rendah)

• ~ proses sensitisasi sentral

(34)

Patofisiologi

• Pencetus:

• Posisi kepala terlalu lama menunduk

• Tidur dalam posisi kepala tidak baik/bantal terlalu tinggi

• Posisi tubuh tidak nyaman saat beraktivitas

• Makan tidak teratur

• Mata Lelah

Withdrawal kafein, dehidrasi

• Faktor risiko:

• Hipotensi, anemia

(35)

Patofisiologi

• Terjadi kontraksi otot terus menerus  penurunan perfusi darah  substansi nyeri dikeluarkan (laktat, as piruvat, dll)  stimulasi saraf  nyeri

• Nyeri & stress berulang  sensitisasi sentral & perifer  menurunkan ambang nyeri

(36)
(37)

Faktor pencetus:

Stress: sore setelah bekerja/setelah ujian

Kurang istirahat

Posisi tubuh tidak nyaman saat beraktivitas

Makan tidak teratur

Mata lelah

Withdrawal kafein

(38)

Terapi

• TTH episodik jarang (<2 hari/minggu)

• Simtomatik: NSAID, paracetamol

• Opioid (kombinasi dg analgetik lain), HANYA JANGKA PENDEK

• TTH kronik

• Simtomatik, tp tidak utk jangka panjang

• Profilaksis: antidepresan (amitriptilin), antiansietas (benzodiazepin)

• Th/ lain: • Hindari pencetus • Olahraga teratur • Fisioterapi • Stress-coping strategies • Akupunktur

• Inj steroid, Botox

(39)

Obat pilihan pada TTH Akut

Obat Dosis (mg) Level Keterangan

Ibuprofen 200-800 A GIT bleeding Ketoprofen 25 A GIT bleeding Aspirin 500-1000 A GIT bleeding Naproxen 375-550 A GIT bleeding Diklofenak 12,5-100 A GIT bleeding

Paracetamol 1000 A GIT bleeding << dibanding NSAIDs Kafein 62-200 B

(40)

Profilaksis TTH Kronik

Obat Dosis Harian (mg) Level

Lini I: • Amitriptilin 30-75 A Lini II: • Mirtazapin 30 B • Venlafaxin 150 B Lini III: • Klomipramin 75-150 B • Maprotilin 75 B • Mianserin 30-60 B

(41)
(42)

Pendahuluan

• Jarang, prevalensi <1%

• Laki2>>> 6:1

• Usia >30 tahun

• Faktor risiko:

• Konsumsi alkohol, merokok

• Riwayat trauma/operasi kepala

• Stress

(43)

Klasifikasi

• Trigeminal Autonomic Cephalalgias (TAC)

• Cluster Headache

• Hemicrania paroxysmal

• Short-lasting unilateral neuralgiform headache attacks (SUNCT)

• Hemicrania continua

• Probable TAC

• Tipe CH:

• Episodik: serangan periodik 7 hari – 1 tahun, remisi1 bulan/lebih

(44)

Kriteria Diagnosis CH

• Nyeri hebat/sangat hebat di orbita, supraorbital &/atau temporal, unilateral, berlangsung 15-180 menit

• Nyeri kepala disertai minimal 1 dari gejala:

• Injeksi konjungtiva &/atau lakrimasi ipsilateral • Kongesti nasal/rhinorea ipsilateral

• Edema palpebra ipsilateral

• Dahi & wajah berkeringan ipsilateral • Miosis &/atau ptosis ipsilateral

• Gelisah, agitasi

• Frekuensi serangan: 1x tiap 2 hari, sampai 8x/hari

(45)

Tatalaksana

• Tujuan:

• Menekan periode serangan

• Menghentikan serangan akut

• Mengurangi frekuensi & intensitas serangan

• Terapi Akut

• Inhalasi O2 100% 7 lpm dg sungkup

• DHE 0,5-1,5 iv

• Sumatriptan injeksi 6 mg s.c, dpt diulang setelah 24 jam

• Anestesi lokal: lidocaine 4% diteteskan pada kapas, diletakkan di tiap lubang hidung selama 5 menit

(46)

Tatalaksana

• Terapi profilaksis:

• Indikasi:

• Gagal terapi abortif

• Serangan terjadi tiap hari, berlangsung >15 menit

• Pasien bersedia & mampu minum obat tiap hari

• Pilihan:

• Verapamil 120-160 mg, 3-4x/hari

• Nimodipin 240 mg/hari

• Nifedipin 40-120 mg

• Prednisolon 50-75 mg/hari, tapering off 10% pada H3, tidak boleh jangka panjang

• Metisergid 4-10 mg/hari p.o

(47)
(48)

Pendahuluan

• = Tic douloureux

• Nyeri di sepanjang cabang n. Trigeminus (N.V)

• Perempuan >>, rasio 2:1

• Onset >40 tahun (90%), terutama 60-70 tahun

• Tipe:

• NT klasik: idiopatik, sering karena kompresi vaskular pd tempat masuknya cabang N.V di batang otak

(49)

NT klasik NT simtomatik MS Tumor CPA Aneurisma a.basilaris

(50)

Gejala Klinis

• Nyeri wajah, unilateral

• Sifat nyeri: episodic, spontan, menusuk, seperti tersengat listrik

• Nyeri progresif dlm waktu 20 detik  menghilang & menyisakan rasa terbakar bbrp detik – menit

• Umumnya nyeri pada daerah V2 & V3, titik picu sama pada tiap serangan

• Remisi: bbrp minggu – tahun, sebagian kecil kasus terdapat nyeri tumpul yg menetap

(51)

Tatalaksana

• Medikamentosa: • Carbamazepine 100-600 mg/hari • Pregabalin 150-300 mg/hari • Gabapentin 1200-3600 mg/hari • Baclofen 60-80 mg/hari • Fenitoin 200-400 mg/hari • Lamotrigin 100-400 mg/hari • Topiramat 150-300 mg/hari • Oxcarbazepine 300-2400 mg/hari

(52)

Tatalaksana

• Non-medikamentosa: pembedahan (sesuai etiologi)

• Gamma knife radiosurgery

• Radiofrequency electrocoagulation

• Injeksi gliserol

• Balloon microcompression

(53)

Kesimpulan

• Diagnosis nyeri kepala dapat ditegakkan dengan anamnesis yang baik

• Nyeri kepala primer banyak ditemukan pada praktek sehari-hari,

dibutuhkan pendekatan klinis yang komprehensif dalam mendiagnosis & menatalaksana pasien dengan nyeri kepala

• Nyeri kepala sekunder harus disingkirkan lebih dahulu dengan

memperhatikan tanda2 red flags, untuk kemudian menatalaksana sesuai dengan standar kompetensi dokter umum

(54)

PIT IDI

Depok

2020

Referensi

Dokumen terkait

Perielitian ini djuga menundjukkan bahwa walaupun dalam ke- adaan lingkungan dan sosial-ekonomi jang buruk, pemberian maka- nan tambahan sebagai bagian program

HH&amp; adalah faktor resiko utama terjadinya mortalitas dan morbiditas dari  penyakit kardio$askuler 3asien dengan tekanan darah yang tinggi yang terus menerus#

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui aktivitas guru dengan menggunakan Media Visual, (2) Untuk mengetahui aktivitas siswa dengan menggunakan Media

Menurut peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan ( SKL – SP ) menyebutkan bahwa pendidikan

Skripsi yang peneliti buat dengan judul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Negeri

Namun Prakteknya, pemenuhan akan rumah yang layak cenderung sangat sulit dipenuhi oleh seseorang yang masih berstatus pegawai, prajurit, maupun pensiun/purnawirawan di bawah

Kinerja perkerasan asbuton campuran panas secara fungsional baik, hal ini dapat dilihat dari kinerja perkerasan pada umur 1 tahun yang belum mengindikasikan terjadinya retak