BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah Kehadiran televisi yang makin marak di Indonesia dengan berbagai

Teks penuh

(1)

 

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Kehadiran televisi yang makin marak di Indonesia dengan berbagai program tayangan dan jualan tidak dapat dihindari. Apapun yang muncul dan sifatnya baru, ada yang menilainya positif dan ada juga negatifnya. Sudut pandang positif, sudah pasti akan melihatnya dan memandangnya sebagai sebuah kemajuan tehnologi dan perlu dimanfaatkan sesuai dengan porsinya. Ada yang melihat kehadiran televisi sebagai sebuah lahan subur untuk meraup keuntungan tidak terbatas. Selagi kreativitas belum pudar, selama itu pula sarana tontotan yang bersifat hiburan dan informatif ini bisa meraup keuntungan. Salah satu tolok ukur adalah ketika rating suatu program cukup tinggi, selama itu pula iklan sponsor akan banyak yang antre.

Pada sisi lain, cukup banyak keluhan masyarakat terhadap dampak negatif dari berbagai program tayangan sehingga mengkhawatirkan sejumlah kalangan, bahkan pihak pemerintah sendiri sudah membaca kekhawatiran tersebut dengan membentuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) hingga ke tingkat provinsi dengan KPID-nya. Hampir di seluruh lapisan masyarakat, di segala tingkat strata pendidikan, tiada hari yang terlewat tanpa menonton televisi. Setiap orang, dari anak-anak, muda dan dewasa bahkan yang sudah uzur bisa dipa stikan akan menghabiskan beberapa jam bahkan hampir seharian duduk dan menikmati tayangan televisi. Kehadiran televisi menyuguhkan berbagai acara yang beragam dan menarik tanpa kompromi. Artinya, ia hadir di tengah-tengah kita dengan

(2)

sukarela, kapanpun kita ingin menikmatinya, kita cukup menekan sebuah tombol. Ditambah lagi dengan hadirnya 11 stasiun televisi nasional, seolah tidak ada kata bosan, kita merelakan setiap hari waktu kita bersamanya.

Salah satu yang sangat menggelisahkan kita yakni saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Hampir semua stasiun-stasiun televisi, menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memerhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.

Para tokoh agama, budaya dan cendikiawan yang selalu konsen mengkritisi setiap gerak tayangan televisi, belakangan seakan ikut terkesima tayangan-tayangan yang tidak lagi semipornografi, tapi malah betul-betul menampilkan tayangan sangat memalukan sebagai bangsa yang selama ini cukup bangga dengan “Orang Timur” yang berbudaya tinggi. Bahkan terkesan tiarap dan tidak lagi mau mengkritisi tayangan-tayangan yang tidak lagi sesuai dengan kaidah dan norma agama.

Hasil kajian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia sekolah dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari empat hingga lima jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa tujuh sampai delapan jam. Jika rata-rata empat jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang

(3)

dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur (data-data 2004).

Lebih parah lagi, kebanyakan orangtua tidak menyadari dampak kebebasan media yang kurang baik terhadap anak-anak. Indikasi demikian terlihat anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi meski di layar cara itu diterakan kata-kata bimbingan orangtua (BO), dewasa (DW) dan remaja (R). Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bahkan bisa membahayakan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program acara pendidikan. Banyak informasi bisa diserap dari televisi yang tidak didapat dari tempat lain. Namun, di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak (http://palembang.tribunnews.com/view/12562/mencermati_tayangan_televisi_da n_dampaknya-akses terakhir 6 April 2011).

Sebuah survei yang pernah dilakukan salah satu harian di negara bagian Amerika Serikat menyebutkan, empat dari lima orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan televisi yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di televisi membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah (Era Muslim, 27/07/2004). Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat yang dilakukan selama lebih dari tiga

(4)

tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun, menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memeroleh nilai lebih rendah dibanding anak yang sedikit menghabiskan waktunya menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005). Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran (http://palembang.tribunnews.com/view/12562/mencermati_tayangan_televisi_da n_dampaknya)

Film animasi Little Krishna sedang banyak diminati akhir-akhir. Saat ini ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta Nasional meskipun dengan episode yang sangat terbatas. Little Krishna mengisahkan kehidupan masa kecil Krishna yang merupakan inkarnasi atau personalitas dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dapat disimpulkan film ini masuk dalam kategori religius meskipun dikemas dalam nuansa menghibur. Unsur pendidikan agama, khususnya Hindu tersirat jelas di dalamnya. Film Little Krishna diwujudkan dalam bentuk animasi yang sangat menarik dengan gambar-gambar indah. Dilihat dari kemasannya, jelas terlihat film ini ditujukan untuk penonton anak-anak tentunya dengan maksud mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan religiusitas sedini mungkin. Namun benarkah film ini sesuai jika dimasukkan dalam kategori film anak-anak atau segala usia.

Meskipun mengambil karakter Krishna dimasa kecil, film ini mengandung muatan filosofi yang sangat berat dan dalam, yang tentunya tertalu sulit untuk dipahami oleh nalar anak-anak. Filosofi-filosofi moral yang berat menghiasi hampir seluruh tayangan ini. Baik itu dalam bentuk dialog, narasi, maupun adegan di dalamnya. Disana dikisahkan, masa kecil Krishna penuh kenakalan dan sikap usil kanak-kanak, namun dilain pihak meskipun nakal tapi tetap disanjung dan

(5)

dicintai oleh siapa saja. Krishna kecil juga senang mencuri susu dan mentega untuk dinikmati bersama teman-temannya. Hal-hal seperti ini adalah contoh kejadian dalam film yang membutuhkan penjelasan orang tua kepada anak-anaknya.

Ada beberapa adegan yang penuh muatan filosofis dalam film ini yaitu saat Brahma menculik anak-anak gembala dan anak-anak sapi. Dialog antara Krishna dan Brahma begitu sulit untuk dipahami anak-anak tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan orang dewasa. Dalam episode ini ada kalimat Krishna kepada Brahma yang maknanya terlalu dalam untuk dapat diresapi. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku tidak bisa dipahami hanya dengan pengetahuan dan meditasi. Aku hanya bisa dipahami dengan Cinta dan ketaatan”.

Secara keseluruhan film ini sangat bagus, mendidik, penuh ajaran moral dan filosofi tingkat tinggi. Anak-anak akan mendapatkan banyak hiburan dan pendidikan dari film ini namun harus disertai dengan bimbingan dari orang tua. Dan untuk orang dewasa film ini sangat layak untuk dinikmati, sangat cerdas dan syarat nilai-nilai kehidupan. Tayangan ini tentunya dapat memenuhi kebutuhan informasi ataupun hal lainnya yang dibutuhkan oleh khalayak. Kebutuhan tersebut berupa kebutuhan kognitif yang didasarkan pada hasrat untuk memuaskan rasa penasaran akan kisah keagamaan Hindu dan kebutuhan afektif yang berhubungan dengan peneguhan nilai emosional berupa kesenangan setelah menonton tayangan Little Krishna. Hal lain yang menjadi alasan khalayak memilih tayangan Little Krishna dikarenakan alasan pribadi berupa hasrat melarikan diri dari kenyataan karena tugas sekolah yang berat dan belakangan ini kerap menjadi alasan utama

(6)

anak dalam melepaskan segala permasalahannya dan menjadikan sebuah tayangan di televisi sebagai teman penghibur mereka.

Dari uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti sejauhmana hubungan antara hubungan tayangan Film Little Krishna di MNCTV terhadap kebutuhan akan hiburan di kalangan Masyarakat Tamil India di Kampung Madras, kota Medan.

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut: “Sejauhmanakah hubungan tayangan Film Little Krishna di MNCTV terhadap pemenuhan kebutuhan hiburan di kalangan Masyarakat Tamil India di Kampung Madras, kota Medan?

I.3 Pembatasan Masalah

Guna menghindari lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti. Pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini terbatas pada tayangan Film Little Krishna yang ditayangkan di MNCTV.

b. Penelitian ini bersifat korelasional, yaitu bersifat mencari atau menjelaskan hubungan dan menguji hipotesis.

c. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2011

d. Objek penelitian terbatas di kalangan Tamil India di Kampung Madras yaitu pada anak yang berusia 12-15 tahun

(7)

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian I.4.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui deskripsi tayangan Film Little Krishna di MNCTV. b. Untuk mengetahui jenis hiburan yang disajikan oleh tayangan Film Little

Krishna di MNCTV.

c. Untuk mencari hubungan antara tayangan Film Little Krishna di MNCTV

terhadap pemenuhan kebutuhan akan hiburan di kalangan masyarakat Tamil India di Kampung Madras.

I.4.2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Secara akademis, penelitian ini diharapakan dapat memperkaya khasanah penelitian komunikasi dan sumber bacaan, khususnya penelitian tentang pengetahuan agama.

b. Secara teoritis, penelitian ini diharapakan dapat memperluas cakrawala dan wawasan peneliti tentang komunikasi antarbudaya, khususnya yang berkaitan dengan tayangan dan dampak terhadap pengetahuan budaya keagamaan.

c. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan mahasiswa tentang komunikasi antarbudaya terutama yang berkaitan dengan tayangan di televisi.

(8)

I.5 Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana penelitian tersebut disoroti (Nawawi, 2001: 40).

Menurut Kerlinger (Rakhmat, 2004: 6), teori merupakan himpunan konstruk (konsep), yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

Dengan adanya kerangka teori, akan membantu peneliti dalam menentukan tujuan dan arah penelitiannya. Kerangka teori akan membantu penelitian dalam memilih kosep-konsep yang tepat, guna membentuk hipotesa-hipotesa selanjutnya.

Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

I.5.1 Televisi sebagai Media Massa

Media massa adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus di desain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas (http://id.wikipedia.org/wiki/Mediamassa).

Untuk berlangsungnya komunikasi massa diperlukan saluran yang memungkinkan disampaikannya pesan kepada khalayak yang dituju. Saluran tersebut adalah media massa, yaitu sarana teknis yang memungkinkan

(9)

terlaksananya proses komunikasi massa tertentu. Media massa menurut bentuknya dapat dikelompokkan atas:

1. Media cetak (printed media) yang mencakup surat kabar, majalah, buku, pamflet, brosur dan sebagainya.

2. Media elektronik, seperti radio, televisi, film, slide, video, dan lain-lain. Media massa mempunyai karakter tertentu, yang tidak bisa disamakan oleh media massa yang lain. Media cetak, mampu memuat peristiwa secara lengkap sampai kepada detil-detilnya, dan bisa disimpan dan dibaca ulang. Namun sifat komunikasinya masih tertunda (delay). Radio bisa menyiarkan berita secara cepat dan langsung, namun sifat beritanya hanya sekilas, dan seringkali tidak mampu diingat secara baik oleh audience. Radio juga hanya bersifat audio. Namun radio mampu menghadirkan efek ‘theatre of mind’, yaitu audiens mampu berimajinasi lebih jauh tentang apa yang mereka dengarkan. Foto mampu menghadirkan gambar peristiwa secara komprehensif, tanpa ditambah dan dikurangi. Foto mampu melengkapi berita, dan menambah legitimasinya. Televisi mampu menjawab kekurangan radio, kesan audio visual mampu dihadirkan, namun informasi yang dihasilkan juga masih bersifat sekilas, tidak mendalam. Film tidak bisa menjawab kebutuhan berita, namun film mampu merekam kejadian secara audio visual dan bisa diputar berulang-ulang. Film juga bisa dipakai sebagai sarana penyampaian pesan secara fiktif, melalui pengaturan skenario dan penyutradaraan.

Salah satu media dalam komunikasi massa adalah televisi. Televisi berasal dari dua kata yang berbeda asalnya, yaitu tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh, dan visi (videre-Bahasa Latin) berarti penglihatan. Dengan demikian televisi yang

(10)

dalam bahasa Inggrisnya television diartikan dengan melihat jauh. Melihat jauh disini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi di suatu tempat-tempat lain melalui sebuah perantara perangkat penerima (Wahyudi, 1996 :49).

Televisi adalah salah satu bentuk media massa yang selain mempunyai daya tarik yang kuat, disebabkan adanya unsur-unsur kata-kata, musik dan sound

effect, juga mempunyai keunggulan lain yaitu unsur visual berupa gambar hidup

yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pemirsanya. Dalam usaha untuk mempengaruhi khalayak dengan menggugah emosi dan pikiran pemirsanya, televisi lebih mempunyai kemampuan menonjol dibandingkan media massa lainnya.

Acara-acara yang ditampilkan televisi terdapat sekian banyak pesan atau informasi yang disebut iklan. Menurut Rhenald Kasali (1992: 9), iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk dan jasa yang disampaikan lewat media dan dibiayai oleh perusahaan yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Sedang pengaruh pesan ini berarti hal-hal yang diterjemahkan dalam bentuk gambar. Rangkaian kata-kata jingle, maupun warna dengan tujuan membangkitkan kebutuhan konsumen dan menanamkan citra pada konsumen pemerkasa adalah produsen sedangkan media adalah sarana yang digunakan, dalam hal ini media yang dapat digunakan adalah media cetak (surat kabar, majalah dan lain-lain) maupun media elektronik (televisi, radio, film).

I.5.2 Model Uses and Gratification

  Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Penganut teori ini meyakini

(11)

bahwa individu sebagai mahluk supra-rasional dan sangat selektif. Menurut para pendirinya, Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (Rakhmat, 2004: 87), uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.

Perkembangan teori Uses and Gratification Media dibedakan dalam tiga fase, yaitu:

 Fase pertama ditandai oleh Elihu Katz dan Blumler (1974) memberikan deskripsi tentang orientasi subgroup audiens untuk memilih dari ragam isi media. Dalam fase ini masih terdapat kelemahan metodologis dan konseptual dalam meneliti orientasi audiens.

 Fase kedua, Elihu Katz dan Blumler menawarkan operasionalisasi variabel-variabel sosial dan psikologis yang diperkirakan memberi pengaruh terhadap perbedaan pola–pola konsumsi media. Fase ini juga menandai dimulainya perhatian pada tipologi penelitian gratifikasi media.

 Fase ketiga, ditandai adanya usaha menggunakan data gratifikasi untuk menjelaskan cara lain dalam proses komunikasi, dimana harapan dan motif audiens mungkin berhubungan.

Kristalisasi dari gagasan, anggapan, temuan penelitian tentang Uses and Gratifikasion Media mengatakan, bahwa kebutuhan sosial dan psikologis menggerakkan harapan pada media massa atau sumber lain yang membimbing pada perbedaan pola-pola terpaan media dalam

(12)

menghasilkan pemuasan kebutuhan dan konsekuensi lain yang sebagian besar mungkin tidak sengaja.

Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch menguraikan lima elemen atau asumsi-asumsi dasar dari Uses and Gratification Media sebagai berikut:

1. Audiens adalah aktif, dan penggunaan media berorientasi pada tujuan. 2. Inisiatif yang menghubungkan antara kebutuhan kepuasan dan pilihan

media spesifik terletak di tangan audiens

3. Media bersaing dengan sumber-sumber lain dalam upaya memuaskan kebutuhan audiens

4. Orang-orang mempunyai kesadaran-diri yang memadai berkenaan penggunaan media, kepentingan dan motivasinya yang menjadi bukti bagi peneliti tentang gambaran keakuratan penggunaan itu.

5. Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media spesifik atau isi harus dibentuk.

Pengujian-pengujian terhadap asumsi-asumsi Uses and Gratification

Media menghasilkan enam (6) kategori identifikasi dan temuan-temuannya

sebagai berikut ( http://adiprakosa.blogspot.com/2007/11/uses-gratification.html): 1. Asal usul sosial dan psikologis gratifikasi media.

John W.C. Johnstone (1974) menganggap bahwa anggota audiens tidak anonimous dan sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai anggota kelompok sosial yang terorganisir dan sebagai partisipan dalam sebuah kultur. Sesuai dengan anggapan ini, media berhubungan dengan

(13)

pemenuhan kebutuhan dan keperluan individu-individu, yang tumbuh didasarkan lokalitas dan relasi sosial individu-individu tersebut.

Faktor-faktor psikologis juga berperan dalam memotivasi penggunaan media. Konsep-konsep psikologis seperti kepercayaan, nilai-nilai, dan persepsi mempunyai pengaruh dalam pencarian gratifikasi dan menjadi hubungan kausal dengan motivasi media.

2. Pendekatan nilai pengharapan.

Konsep pengharapan audiens yang perhatian (concern) pada karakteristik media dan potensi gratifikasi yang ingin diperoleh merupakan asumsi pokok Uses and Gratification Media mengenai audiens aktif. Jika anggota audiens memilih di antara berbagai alternatif media dan non media sesuai dengan kebutuhan mereka, mereka harus memiliki persepsi tentang alternatif yang memungkinkan untuk memperoleh kebutuhan tersebut. Kepercayaan terhadap suatu media tertentu menjadi faktor signifikan dalam hal pengharapan terhadap media itu.

3. Aktifitas audiens.

Levy dan Windahl (1984) menyusun tipologi aktifitas audiens yang dibentuk melalui dua dimensi:

 Orientasi audiens: selektifitas; keterlibatan; kegunaan.

 Skedul aktifitas: sebelum; selama; sesudah terpaan.

Katz, Gurevitch, dan Haas (1973) dalam penelitian tentang penggunaan media, menemukan perbedaan anggota audiens berkenaan dengan basis gratifikasi yang dirasakan. Dipengaruhi beberapa faktor. Faktor tersebut

(14)

adalah struktur media dan teknologi; isi media; konsumsi media; aktifitas non media; dan persepsi terhadap gratifikasi yang diperoleh.

Garramore (1983) secara eksperimental menggali pengaruh ”rangkaian motivasi pada proses komersialisasi politik melalui TV. Ia menemukan bahwa anggota audience secara aktif memproses/mencerna isi media, dan pemrosesan ini dipengaruhi oleh motivasi.

4. Gratifikasi yang dicari dan yang diperoleh.

Pada awal sampai pertengahan 1970-an sejumlah ilmuwan media menekankan perlunya pemisahan antara motif konsumsi media atau pencarian gratifikasi (GS) dan pemerolehan gratifikasi (GO). Penelitian tentang hubungan antara GS dan GO, menghasilkan temuan sebagai berikut GS individual berkorelasi cukup kuat dengan GO terkait. Di lain pihak GS dapat dipisahkan secara empiris dengan GO, seperti pemisahan antara GS dengan GO secara konseptual, dengan alasan sebagai berikut:

 GS dan GO berpengaruh, tetapi yang satu bukan determinan bagi yang lain.

 Dimensi-dimensi GS dan GO ditemukan berbeda dalam beberapa studi.

 Tingkatan rata-rata GS seringkali berbeda dari tingkatan rata-rata GO.

 GS dan GO secara independen menyumbang perbedaan pengukuran konsumsi media dan efek.

Penelitian GS dan GO menemukan bahwa GS dan GO berhubungan dalam berbagai cara dengan variabel-variabel: terpaan; pemilihan program

(15)

dependensi media; kepercayaan; evaluasi terhadap ciri-ciri atau sifat-sifat media.

5. Gratifikasi dan konsumsi media.

Penelitian mengenai hubungan antata gratifikasi (GS-GO) dengan konsumsi media terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu:

 Studi tipologis mengenai gratifikasi media.

 Studi yang menggali hubungan empiris antara gratifikasi di satu sisi dengan pengukuran terpaan media atau pemilihan isi media di sisi lain.

Studi-studi menunjukkan bahwa gratifikasi berhubungan dengan pemilihan program. Becker dan Fruit memberi bukti bahwa anggota audiens membandingkan GO dari media yang berbeda berhubungan dengan konsumsi media. Studi konsumsi media menunjukkan terdapat korelasi rendah sampai sedang antara pengukuran gratifikasi dan indeks konsumsi.

6. Gratifikasi dan efek yang diperoleh.

Windahl (1981) penggagas model uses and effects, menunjukkan bahwa bermacam-macam gratifikasi audiens berhubungan dengan spectrum luas efek media yang meliputi pengetahuan, dependensi, sikap, persepsi mengenai realitas social, agenda setting, diskusi, dan berbagai efek politik. Blumer mengkritisi studi uses and effects sebagai kekurangan perspektif. Dalam usaha untuk menstimulasi suatu pendekatan yang lebih teoritis, Blumer menawarkan tiga hipotesis sebagai berikut:

(16)

 Motivasi pelepasan dan pelarian akan menghadiahi penemuan audiens terhadap persepsi mengenai situasi sosial.

 Motivasi identitas personal akan mendorong penguatan efek.

I.5.3 Motif Penggunaan Media

Motif berasal dari bahasa Latin, movere yang artinya bergerak atau to

move. Motif berarti kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang mendorong

untuk berbuat sesuatu/merupakan driving force (Bianca dalam Walgito,1997). Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Ardianto, 2004:87).

Pada dasarnya “motif” dan ‘motivasi’ artinya hampir sama hanya berbeda pada penempatan kalimat saja. Menurut Kartini kartono motivasi adalah sebab, alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seorang untuk berbuat;atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia (Kartini, 2002:147). Dengan kata lain motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dorongan disini adalah desakan alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup. Dari definisi tersebut, motif jika dihubungan dengan konsumsi media berarti segala alasan dan pendorong dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang menggunakan media.

Dalam buku Psikologi Komunikasi karangan Jalaluddin Rakhmat disebutkan bahwa siaran yang menggabungkan unsur hiburan dengan informasi, dan bukan hanya ceramah yang membosankan telah berhasil memberikan efek

(17)

kepada khalayak seperti menanamkan pengetahuan, pengertian, keterampilan, kepercayaan atau informasi (Rakhmat, 2005: 219).

Motivasi setiap orang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan individu yang berbeda pula. Dalam penelitan ini kebutuhan yang dimaksudkan adalah kebutuhan afektif, karena kebutuhan ini berkaitan dengan usaha-usaha untuk menghibur diri khalayak. Hiburan yang dimaksud adalah suatu perasaan dimana si penonton merasa senang setelah menyaksikan tayangan film kartun Little Krishna di MNCTV. Hiburan adalah segala sesuatu – baik yang berbentuk kata‐ kata,  tempat,  benda,  perilaku  –  yang  dapat  menjadi  penghibur  atau  pelipur  hati  yang  susah  atau  sedih. Pada  umumnya  hiburan  dapat  berupa  musik,  film,  opera,  drama, 

ataupun  berupa  permainan  bahkan  olahraga.  Berwisata  juga  dapat  dikatakan  sebagai  upaya hiburan dengan menjelajahi alam ataupun mempelajari budaya. Mengisi kegiatan  di  waktu  senggang  seperti  membuat  kerajinan,  keterampilan,  membaca  juga  dapat  dikatagorikan sebagai hiburan

Hibur adalah kata kata kerja aktif yang membutuhkan objek pelengkap, memang mempunyai asosiasi positif-namun jika objek merasa dirugikan maka nilai positif akan berganti dengan nilai negarif. Oleh karena itu suatu aksi dikatan hiburan jikalau objek dari penghibur merasa “diuntungkan”. Hal ini berkaitan dengan keadaan anak-anak yang dianggap paling aktif dan tertarik untuk mengikuti acara dengan kategori tayangan film kartun. Ada yang tertarik dengan isi cerita, gambar tayangan sampai kepada pesan moral yang disampaikan dalam film kartun Little Krishna.

(18)

I.5.4 Tayangan Film Animasi Kartun Little Krishna

Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari, film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas masyarakat. Film merupakan gambar yang bergerak (Moving Picture). Menurut Effendi (2003: 239) film diartikan sebagai hasil budaya dan alat ekspresi kesenian. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai tekhnologi seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik.

Tumbuh dan berkembangnya film sangat bergantung pada tekhnologi dan paduan unsur seni sehingga menghasilkan film yang berkualitas (McQuail,2005: 110). Berdasarkan sifatnya film dapat dibagi atas:

1. Film cerita (Story film)

Film yang mengandung suatu cerita, yang lazim dipertunjukan di gedung – gedung bioskop yang dimainkan oleh para bintang sinetron yang tenar. Film jenis ini didistribusikan sebagai barang dagangan dan diperuntukan untuk semua publik.

2. Film berita (News film)

Adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar – benar terjadi, karena sifatnya berita maka film yang disajikan pada publik harus mengandung nilai berita (Newsvalue)

3. Film dokumenter

Film dokumenter pertama kali diciptakan oleh John Giersonyang mendefinisikan bahwa film dokumenter adalah “Karya cipta mengarah

(19)

kanyataan (Creative treatment of actuality) yang merupakan kenyataan–kenyatan yang menginterprestasikan kenyataan. Titik fokus dari film dokumenter adalah fakta atau peristiwa yang terjadi, bedanya dengan film berita adalah film berita harus mengenai sesuatu yang mempunyai nilai berita atau newsvalue.

4. Film kartun

Walt Disney adalah perusahaan kartun yang banyak menghasilkan berbagai macam film kartun yang terkenal sampai saat ini. Timbulnya gagasan membuat film kartun adalah dari seniman pelukis serta ditemukannya sinematografi telah menimbulkan gagasan untuk menghidupkan gambar–gambar yang mereka lukis dan lukisan itu menimbulkan hal–hal yang bersifat lucu.

Film animasi Little Krishna sedang banyak diminati akhir-akhir. Saat ini ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta Nasional meskipun dengan episode yang sangat terbatas. Little Krishna mengisahkan kehidupan masa kecil Krishna yang merupakan inkarnasi atau personalitas dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dapat disimpulkan film ini masuk dalam kategori religius meskipun dikemas dalam nuansa menghibur. Unsur pendidikan agama, khususnya Hindu tersirat jelas di dalamnya. Film Little Krishna diwujudkan dalam bentuk animasi yang sangat menarik dengan gambar-gambar indah. Dilihat dari kemasannya, jelas terlihat film ini ditujukan untuk penonton anak-anak tentunya dengan maksud mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan religisitas sedini mungkin. Namun benarkah film ini sesuai jika dimasukkan dalam kategori film anak-anak atau segala usia.

(20)

Ketika menyaksikan tayangan Film kartu Little Krishna ini, ada beberapa hal yang diperhatikan para penontonnya, yaitu:

- Waktu penayangan

Para penonton televisi, khususnya anak-anak tentu memiliki jam menonton yang terbatas. Oleh sebab itu, waktu penanyangan Film Little Krishna diatur oleh pihak MNCTV sesuai dengan jadwal jam istirahat anak-anak yang dimulai sejak pukul 18.00-17.00 WIB.

- Frekuensi penayangan

Film kartun Little Krishna memiliki frekuensi penayangan yang cukup sering di MNCTV, dikatakan sering karena selain diputar pada sore hari, terkadang juga diputar pada pagi hari pada saat liburan sekolah anak-anak sehingga frekuensi menonton pun semakin tinggi.

- Durasi penayangan

Setiap tayangan apapun memiliki durasi penayangan atau lamanya pemutaran tertentu, sama halnya seperti Film kartun Little Krishna. Film kartun ini hanya memiliki durasi pemutaran selama 30 menit yang diselingi dengan iklan komersial disepanjang acara.

- Isi cerita

Alur cerita dari sebuah film harus dapat menarik perhatian dari penontonnya. Begitu juga dengan tayangan film kartun Little Krishna yang mampu menarik perhatian para pemirsanya dengan alur cerita dari Krishna kecil yang selalu membuat ulah kenakalan namun berujung dengan ajaran moral yang dibuat seringan mungkin untuk dapat dimengerti oleh anak-anak.

(21)

- Tampilan gambar

Visualisasi atau tampilan gambar dari sebuah tayangan harus dibuat semenarik mungkin sehingga para penonton tertarik untuk menyaksikan tayangan tersebut. Tampilan gambar film kartun Little Krisha masuk pada kategori yang cukup baik, yaitu dari segi warna serta bentuk gambar. Efek yang digunakan dalam gerakan juga sudah cukup luwes yang makin menambah nilai lebih dari tayangan kartun ini.

I.6 Kerangka Konsep

Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang dicapai dan dapat mengantar penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 2001: 33).

Konsep adalah penggambaran secara tepat fenomena yang hendak diteliti, yakni istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi perhatian ilmu sosial.

Dengan demikian, kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesa, yang sebenarnya merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalisasikan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(22)

a. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas merupakan segala faktor atau unsur yang menentukan atau mempengaruhi munculnya variabel kedua yang disebut variabel terikat. Tanpa variabel ini maka variabel berubah, sehingga akan muncul variabel terikat yang berbeda atau yang lain sama sekali tidak muncul (Nawawi, 2001: 57).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Tayangan Little Krishna di MNCTV.

b. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat merupakan sejumlah gejala ataupun faktor maupun unsur yang ada ataupun muncul, dipengaruhi, atau ditentukan oleh adanya variabel bebas (Nawawi, 2001: 57).

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemenuhan kebutuhan akan hiburan.

c. Karakteristik Responden

Adalah sejumlah gejala yang tidak dapat dikontrol, akan tetapi dapat diperhitungkan pengaruhnya terhadap variabel bebas (Nawawi, 1991:58). Variabel antara berada diantara variabel bebas dan variabel terikat, yang berfungsi sebagai penguat atau pelemah hubungan diantara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel antara dalam penelitian ini adalah anteseden/karakteristik responden.

(23)

I.7 Model Teoritis

Model teoritis yang sesuai dengan kerangka teori diatas adalah sebagai berikut: Gambar I.1 Model Teoritis        

I.8 Variabel Operasional

Operasionalisasi adalah mengukur konsep yang abstrak menjadi konstruk yang dapat diamati dan diukur (Rakhmat, 2005:12).

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

Variabel X

Tayangan Little Krishna

Variabel Y

(24)

Tabel I.1 Operasional Variabel

Variabel Penelitian Variabel Operasional

Variabel X

Tayangan Little Krishna 1. Film  Kategori film   Kualitas film  2. Waktu penayangan   Kesesuaian waktu  penayangan   Kontinuitas waktu  penayangan  3. Frekuensi tayangan   Tingkat menonton harian   Kontinuitas menonton  tayangan  4. Durasi tayangan   Kecukupan durasi tayangan   Kesesuaian durasi tayangan   5. Isi cerita   Alur cerita   Pemahaman isi cerita  6. Tampilan gambar   Kualitas gambar   Efek animasi gambar  Variabel Y

Pemenuhan Kebutuhan akan hiburan

(Personal Diversi) 1. Tujuan pemenuhan kebutuhan  hiburan   Pelepasan emosi   Pelepasan tekanan  2. Cara mendapatkan hiburan   Melalui penggunaan media   Alasan penggunaan media  3. Efek hiburan   Perasaan senang   Keinginan untuk kembali  menonton tayangan  Karakteristik Responden 1. Jenis Kelamin 2. Tingkat pendidikan 3. Usia   

(25)

I.9 Defenisi Operasional

Definisi operasional memberikan makna pada konstruk atau variabel dengan cara menetapkan akivitas-aktivitas operasi yang diperlukan untuk mengukurnya (Bulaeng, 2004: 60). Dengan kata lain, definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama.

Variabel operasional yang meliputi variabel penelitiannya sebagai berikut:

1. Variabel X (Tayangan Little Krishna di MNCTV):

Tayangan Little Krishna adalah sebuah film kartun yang bertemakan cerita keagamaan Hindu yang ditayangkan di stasiun televisi swasta MNCTV.

a. Film adalah gambar yang bergerak dan yang membuatnya berbeda dengan foto.

 Kategori film adalah jenis dari gambar bergerak yang dibedakan berdasarkan tampilan dan isi cerita.

 Kualitas film adalah mutu dari sebuah tayangan yang berupa gambar bergerak yang terdapat di televisi.

b. Waktu penayangan adalah jam pemutaran tayangan Little Krishna ditayangkan di televisi swasta MNCTV.

 Kesesuain waktu penayangan adalah saat yang dirasa paling tepat untuk menayangkan tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

(26)

 Kontinuitas waktu penayangan adalah pemutaran film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV yang dilakukan secara terus menerus di jam tayang yang sama.

c. Frekuensi Tayangan adalah tingkat keseringan tayangan Little Krishna ditayangkan di televisi swasta MNCTV.

 Tingkat menonton harian adalah jumlah hitungan ketika seseorang menyaksikan tayangan di televisi selama satu harian.

 Kontinuitas menonton tayangan adalah rentang waktu yang terus menerus menyaksikan tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

d. Durasi Tayangan adalah lamanya pemutaran tayangan Little Krishna ditayangkan di televisi swasta MNCTV.

 Kecukupan durasi tayangan adalah lamanya tayangan mampu memuaskan para penonton tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

 Kesesuaian durasi tayangan adalah kecocokan antara rentang waktu pemutaran tayangan dengan alur cerita.

e. Isi cerita adalah alur kisah dari tayangan Little Krishna yang ditayangkan di televisi swasta MNCTV.

 Alur cerita adalah jalan kisah dari tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

 Pemahaman isi cerita adalah tingkat pengertian terhadap tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

(27)

f. Tampilan gambar adalah sisi grafis dari tayangan Little Krishna ditayangkan di televisi swasta MNCTV yang dilihat dari warna serta

bentuk gambar.

 Kualitas gambar adalah mutu dari tampilan gambar pada tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

 Efek animasi gambar adalah pengaruh potongan gambar cerita yang kelihatan tampak nyata pada tayangan film kartun Little Krishna di televisi swasta MNCTV.

2. Variabel Y (Pemenuhan Kebutuhan akan Hiburan/Personal Diversi):

Personal diversi adalah kebutuhan pelepasan dari tekanan kebutuhan akan hiburan yaitu masyarakat Tamil India yang menonton tayangan Little Krishna di MNCTV merasa terhibur atas informasi yang diperolehnya.

a. Tujuan pemenuhan kebutuhan hiburan adalah alasan seseorang untuk melakukan aktivitas pencarian sesuatu hal yang berguna untuk menghibur diri.

 Pelepasan emosi adalah proses untuk membebaskan diri dari reaksi psikologis dan fisiologis.

 Pelepasan tekanan adalah proses untuk membebaskan diri sehingga perasaan menjadi lebih tenang.

b. Cara mendapatkan hiburan adalah bagaimana usaha yang dilakukan untuk dapat menyenangkan diri.

 Melalui penggunaan media adalah usaha yang dilakukan untuk dapat menyenangkan diri dengan cara pemilihan saluran media yang disukai.

(28)

 Alasan penggunaan media adalah hiburan motif seseorang ketika memilih media tersebut untuk berbagai unsur pemenuhan kebutuhan seperti hiburan, informasi dan lainnya.

c. Efek hiburan adalah dampak yang menyenangkan yang dirasakan oleh khalayak setelah mengakses media yang mereka pilih.  Perasaan senang adalah unsur psikologis pada diri seorang manusia

yang membuat drinya merasa gembira.

 Keinginan untuk kembali menonton tayangan adalah sebuah motivasi untuk melakukan pengulangan menyaksikan tayangan yang telah mereka konsumsi sebelumnya.

3. Karakteristik responden:

Karakteristik responden adalah yang terdiri dari beberapa data demografis a. Jenis kelamin adalah dilihat dari jenis kelamin responden, apakah

laki-laki atau perempuan.

b. Tingkat pendidikan adalah jenjang sekolah dari responden yang terdiri dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

c. Usia adalah umur dari responden yang akan diteliti.

I.10 Hipotesis

Secara etimologis hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu hypo dan thesis.

Hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat. Jadi, hipotesis merupakan

kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis itu dengan menguji hipotesis dengan data di lapangan (Bungin, 2001: 90).

(29)

Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara mengenai sesuatu, yang keandalannya biasanya tidak diketahui. Dengan hipotesis, penelitian menjadi tidak mengambang, karena dibimbing oleh hipotesis tersebut.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho : Tidak terdapat hubungan antara tayangan Little Krishna di MNCTV terhadap pemenuhan kebutuhan akan hiburan di kalangan masyarakat Tamil India di Kampung Madras, Kota Medan.

Ha : Terdapat hubungan antara tayangan Little Krishna di MNCTV terhadap pemenuhan kebutuhan akan hiburan di kalangan masyarakat Tamil India di Kampung Madras, Kota Medan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :