FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 1
ARTIKEL ILMIAH
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN
HASIL BELAJAR PADA SISWA SD NEGERI NO. 95/1 DESA OLAK
KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI
Oleh
RUCI ENRIS JUMANIAR NIM A1D110114
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
NOVEMBER 2014
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 2
ARTIKEL ILMIAH
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN
HASIL BELAJAR PADA SISWA SD NEGERI NO. 95/1 DESA OLAK
KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI
OlehRUCI ENRIS JUMANIAR PGSD FKIP UNIVERSITAS JAMBI
ABSTRAK
Jumaniar, Ruci Enris. 2014. “Hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar pada siswa SD negeri no. 95/1 desa olak kecamatan Muara Bulian kabupaten Batanghari”. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, FKIP Universitas Jambi, Pembimbing I Drs. Nelyahardi, M.Pd, Pembimbing II Drs. Arsil, M.Pd
Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Hasil Belajar
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali perasaan, mengelola emosi diri, pemahaman diri dan orang lain,memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) serta kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain. Konsep kecerdasan emosi merupakan kecerdasan prasyarat dasar untuk menggunakan kecerdasan intelektual secara efektif, jika bagian – bagian perasaan manusia tidak bisa berfungsi, maka manusia tidak dapat berfikir secara efektif. Betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri siswa (peserta didik). Karena betapa banyak di jumpai siswa dimana mereka begitu cerdas disekolah tetapi dia tidak bisa mengelola emosi nya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka hasil belajar yang ia miliki kurang bermanfaat baginya. Emotional
Quotient (EQ) dapat dikembangkan seumur hidup dengan belajar. Kecerdasan emosi
merupakan kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dalam situasi nyata. Sedangkan Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan seseorang didalam pembelajaran.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SDN No. 95/1 Desa Olak Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Dengan pendekatan kuantitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa dan dokumentasi untuk data hasil belajar siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kuantitatif, dengan analisis korelasi Product Moment dengan taraf kepercayaan α = 5%
Hasil penelitian diperoleh 𝑟𝑥𝑦 = 0,616 memiliki tingkat hubungan yang kuat
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 3 untuk data angket dengan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,074 karena 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar dari 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 baik untuk data angket maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SDN No. 95/1 Desa Olak Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SDN No. 95/1 Desa Olak Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam pengetahuan.
Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam hasil belajarnya. Namun dalam upaya meraih hasil belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar, individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya.
Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar.
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 4 Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih hasil belajar yang tinggi , seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan hasil belajar yang optimal.
Pada kenyataannya , ada banyak kasus dimana seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan Intelektual yang tinggi tersisih dari orang lain yang kecerdasan intelektualnya lebih rendah. Ternyata IQ (Intelligency Quotient) yang tinggi tidak menjamin seseorang akan meraih kesuksesan. Realitas menunjukkan bahwa banyak orang IQ-nya tinggi, tetapi tidak selalu berhasil dalam hidupnya.
Seperti hasil penelitian Gardner (dalam Iskandar, 2012:53) “seorang professor Pendidikan Harvard melakukan riset kecerdasan manusia, ia ia mematahkan mitos bahwa Intelligency Quotient (IQ ) tetap, tidak berubah, jika seorang terlahir dengan kondisi IQ sedang, maka IQ-nya tidak pernah bertambah maupun berkurang”. Artinya jika seorang terlahir dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup, akan sulit mendapatkan IQ yang superior (jenius), begitu pula sebaliknya. Tetapi Emotional
Quotient (EQ) dapat dikembangkan seumur hidup dengan belajar. Kecerdasan emosi
merupakan kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dalam situasi nyata.
Menurut Goleman (dalam Iskandar, 2012:59) inti dari kecerdasan adalah “mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, tempramen, motivasi dan hasrat antar pribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman”.
Menurut Goleman (dalam Iskandar, 2012:62) “konsep kecerdasan emosi merupakan kecerdasan prasyarat dasar untuk menggunakan kecerdasan intelektual
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 5 secara efektif, jika bagian – bagian perasaan manusia tidak bisa berfungsi, maka manusia tidak dapat berfikir secara efektif”.
II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kecerdasan Emosional 2.1.1 Pengertian Kecerdasan
Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah yang digunakan adalah yang dikemukakan oleh Wechsler. Menurut Wechsler (dalam Iskandar, 2012:50) “menganggap kecerdasan adalah konsep generic yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu”. Menurut Chaplin (dalam Iskandar, 2012:50) “memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif”.
Menurut Woolfolk (dalam Iskandar, 2012:50) “mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian , yaitu : (1) kemampuan untuk belajar ; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh ; (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya”. Menurut Zohar (dalam Iskandar , 2012:52) “bentuk kecerdasan manusia itu banyak dan tak terbatas, namun dapat dihubungkan kepada tiga kecerdasan IQ, EQ, Dan SQ”.
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti mendefenisikan kecerdasan adalah kemampuan individual dalam belajar serta menghadapi, menyesuaikan diri,, beradaptasi dengan situasi.
2.1.2 Pengertian Emosi
Menurut Goleman (1998:411) menganggap “emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian untuk bertindak”. Sejumlah teoretikus mengelompokkan emosi dalam
golongan-FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 6 golongan besar, meskipun tidak semua sepakat tentang golongan itu. Calon-calon utama dan beberapa anggota golongan tersebut adalah :
a) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati; b) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa; c) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri; d) Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga; e) Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,bakti, hormat, kemesraan, kasih; f)Terkejut:terkesiap, terkejut, takjub, terpana; g) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka; h) malu: malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Menurut L. Crow & A. Crow (dalam Djaali, 2012:37) “emosi adalah pengalaman yang efektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologis sedang dalam kondisi yang meluap- meluap, juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang luas dan nyata”.
Sedangkan menurut Kaplan dan Saddock (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah Keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood.
affect adalah ekspresi sebagai tampak oleh orang lain dan affect dapat
bervariasi sebagai resspons terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu perasan yang meluas, meresap dan terus menerus yang secara subjectif dialami dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain.
Menurut Goleman (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah perasaan dan fikiran khasnya; suatu keadan biolgis dan psikologis ; suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak.
Menurut kamus The American College Dictionary (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah “suatu keadaan afektif yang disadari dimana dialami perasaan seperti kegembiran ( joy), kesedihan, takut, benci, dan cinta (dibedakan dari keadaan kognitif dan keinginan yang disadari ) ; dan juga perasaan perasaan seperti kegembiran ( joy), kesedihan, takut, benci, dan cinta”.
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 7 Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti dapat mendefinisikan emosi adalah suatu keadaan perasaan, biologis dan psikologis yang diungkapkan melalui ekspresi dan tingkah laku.
III. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Kecerdasan Emosional 2.1.1 Pengertian Kecerdasan
Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah yang digunakan adalah yang dikemukakan oleh Wechsler. Menurut Wechsler (dalam Iskandar, 2012:50) “menganggap kecerdasan adalah konsep generic yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu”. Menurut Chaplin (dalam Iskandar, 2012:50) “memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif”.
Menurut Woolfolk (dalam Iskandar, 2012:50) “mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian , yaitu : (1) kemampuan untuk belajar ; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh ; (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya”. Menurut Zohar (dalam Iskandar , 2012:52) “bentuk kecerdasan manusia itu banyak dan tak terbatas, namun dapat dihubungkan kepada tiga kecerdasan IQ, EQ, Dan SQ”.
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti mendefenisikan kecerdasan adalah kemampuan individual dalam belajar serta menghadapi, menyesuaikan diri,, beradaptasi dengan situasi.
2.1.2 Pengertian Emosi
Menurut Goleman (1998:411) menganggap “emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian untuk bertindak”. Sejumlah teoretikus mengelompokkan emosi dalam
golongan-FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 8 golongan besar, meskipun tidak semua sepakat tentang golongan itu. Calon-calon utama dan beberapa anggota golongan tersebut adalah :
a) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati; b) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa; c) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri; d) Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga; e) Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,bakti, hormat, kemesraan, kasih; f)Terkejut:terkesiap, terkejut, takjub, terpana; g) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka; h) malu: malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Menurut L. Crow & A. Crow (dalam Djaali, 2012:37) “emosi adalah pengalaman yang efektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologis sedang dalam kondisi yang meluap- meluap, juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang luas dan nyata”.
Sedangkan menurut Kaplan dan Saddock (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah Keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood.
affect adalah ekspresi sebagai tampak oleh orang lain dan affect dapat
bervariasi sebagai resspons terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu perasan yang meluas, meresap dan terus menerus yang secara subjectif dialami dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain.
Menurut Goleman (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah perasaan dan fikiran khasnya; suatu keadan biolgis dan psikologis ; suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak.
Menurut kamus The American College Dictionary (dalam Djaali, 2012:37) emosi adalah “suatu keadaan afektif yang disadari dimana dialami perasaan seperti kegembiran ( joy), kesedihan, takut, benci, dan cinta (dibedakan dari keadaan kognitif dan keinginan yang disadari ) ; dan juga perasaan perasaan seperti kegembiran ( joy), kesedihan, takut, benci, dan cinta”.
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 9 Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti dapat mendefinisikan emosi adalah suatu keadaan perasaan, biologis dan psikologis yang diungkapkan melalui ekspresi dan tingkah laku.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
Hasil yang didapat dari penyebaran angket pada tanggal 23 september 2014 terdapat 24 orang siswa kelas VI SDN No 95/1 Desa Olak Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari tahun pelajaran 2014-2015 di dapat nilai angket tertinggi sebesar 104 dan nilai terendah sebesar 69 . Dari hasil penjumlahan nilai masing-masing responden yaitu 24 orang didapat keseluruhan yaitu 2151 dan didapat rata-rata nilai angket responden adalah 89,62.
Maka berdasarkan penjelasan diatas didapat: ∑x = 2151 ∑n = 24 ∑ x 2151 X = = ∑ n 24 = 89,62
Maka X kecerdasan emosional kelas VI adalah 89,62. 4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 24 orang siswa dengan 10 deskriptor dari 5 indikator dengan 26 item pernyataan, rata-rata hasil analisis keseluruhan indikator kecerdasan emosional 89,62 dengan presentase 74,68% dengan kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh secara umum tingkat kecerdasan emosional SDN No 95/1 Desa Olak berada diatas persentase 50% hingga diatas 80%, persentase kecerdasan emosional diatas 50% terdapat 20 orang. Sedangkan persentase
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 10 untuk kecerdasan emosional diatas 80% terdapat 4 orang siswa. Dan persentase untuk kecerdasan emosional dibawah 50% tidak ada.
Dari hasil belajar siswa kelas VI SDN No 95/1 Desa Olak diperoleh bahwa 24 orang siswa terdapat 3 orang siswa atau 12,5% yang memperoleh hasil belajar yang sangat baik, 21 orang atau 87,5% memperoleh hasil belajar baik. Perhitungan statistik menunjukkan koefisien korelasi antara variabel kecerdasan emosional (X) dengan hasil belajar (Y) kelas VI SDN No 95/1 Desa Olak adalah sebesar 0,616 dengan kategori kuat.
. Selajutnya untuk mengetahui terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa digunakan rumus thitung, dan dari
perhitungan diperoleh hasil thitungg > ttabel = 4,637 > 2,074 berarti menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SDN No 95/1 Desa Olak.
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa pada SDN No 95/1 Desa Olak dan yang menjadi sampel penelitian yaitu siswa kelas VI yang berjumlah 24 siswa dapat disimpulkan sebagai berikut : Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN No 95/1 Desa Olaki ini dibuktikan dengan hasil dari pengolahan data dengan menggunakan rumus korelasi pearson product moment yaitu menghasilkan rxy = 0,616. Sehingga memiliki kategori hubungan yang kuat dan Ha
diterima.
Dengan menggunakan uji signifikan diperoleh thitung = 4,637 sedangkan untuk
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 11 dibandingkan thitung dengan ttabel (4,637>2,074) sehinga Ha diterima. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapa hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SDN No 95/1 Desa Olak.
5.2 Saran
Sehubungan dengan hasil penelitian ini, maka peneliti menyarankan:
1. Kepada pihak sekolah, Kepala Sekolah dan Guru SDN No.95/1 Desa Olak agar terus memperhatikan dan mengenali emosional seluruh siswanya. Berusahalah untuk selalu membimbing dan memberikan acuan terhadap siswa yang kecerdasan emosionalnya kurang baik agar proses pembelajaran berlngsung dengan baik.
2. Kepada orang tua, harus selalu memperhatikan, mengenali emosional anaknya, dan perkembangan kecerdasan emosi anaknya.
3. Bagi para peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian ini, dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu acuan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar. 2007. Emotional Spritual Quotient. Cetakan ke tiga puluh tiga
puluh tiga. Jakarta : Penerbit Arga.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta. Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit Alfabeta. Djaali. 2012. Psikologi Pendidikan . Cetakan 6. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Goleman, Daniel. 1998. Emotional Intelligent. Mengapa EI Lebih Penting dari pada
IQ. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Goleman, Daniel.2000. Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Gottman, John. 2001. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang memiliki Kecerdasan
Emosional (terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka.
FKIP UNIVERSITAS JAMBI Page | 12 Muhibbin, Syah. 2000. Psikologi Pendidikan Dengan Satuan Pendidikan Baru.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Musa, Dkk. 1998. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta Nasution. 2005. Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta. Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta : Pustaka Belajar Riduwan. 2012. Belajar Mudah Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Riduwan dan Sunarto. 2011. Pengantar Statistika. Bandung: Alfabeta.
Soemanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan. Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitantif,
dan R & D). Bandung : Penerbit Alfabeta.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Kencana prenada Media Group.
Sumadi, Suryabrata. 1998. Metode Penelitian. Cetakan Sebelas. Jakarta : PT raja Grafindo Persada.
Sutja. A, dkk. 2005. Panduan Penulisan Skripsi. Jambi : Program Ekstensi Bimbingan dan Konseling FKIP Univ Jambi.
Syahrial, Maryono, Asrial, Destrineli, Nelyahardi. 2009. Panduan Penulisan Proposal
dan Skripsi Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jambi: Unja.
Tim Penyusun. 2011. Panduan Penulisan Skripsi. Jambi : FKIP UNIVERSITAS JAMBI.