BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dengan kata lain pemeriksaan urin dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal, saluran kemih serta memberikan informasi kelainan fungsi ginjal dan metabolisme tubuh.
Menurut Hardjoeno (2003: 22) indikasi tes urin adalah untuk : 1) tes saring pada tes kesehatan, keadaan patologik maupun sebelum operasi, 2) menentukan infeksi saluran kemih, terutama yang berbau busuk karena nitrit, leukosit dan atau bakteri, 3) menentukan kemungkinan gangguan metabolisme misalnya diabetes melitus atau komplikasi kehamilan, 4) menentukan berbagai jenis penyakit ginjal seperti glomerulonephritis, sindroma nefrotik dan pyelonephritis.
Pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan makroskopis urin yaitu volume, warna, kejernihan berat jenis, bau dan pH urin. Pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan menggunakan reagen strip metode carik celup. Reagen ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen, dan nitrit. Pemeriksaan mikroskopis urin atau pemeriksaan sedimen urin yaitu untuk melihat unsur-unsur yang terdapat pada sedimen urin secara mikroskopis.
Keunggulan pemeriksaan mikroskopis urin yaitu dapat mengamati secara langsung unsur–unsur yang terdapat dalam urin. Baik itu unsur organik maupun unsur anorganik seperti sel (sel darah atau eritrosit dan leukosit, sel epitel, dan Oval Fat Bodies/OFB), dan unsur berbentuk partikel (silinder, kristal, amorf).
Oval Fat Bodies (OFB) adalah sel epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak, yaitu sel tubulus dengan tetesan lemak yang terperangkap di dalam sitoplasmanya. Dengan perbesaran mikroskopis 10x, OFB sering terlihat sebagai bintik coklat besar (terkadang berwarna hampir hitam) dengan
bulat tetesan lemak didalamnya. OFB sering dijumpai pada sedimen urin pasien dengan proteinuria seperti pada pasien dengan sindrom nefrotik, Diabetes melitus lanjut, dislipidemia dan pada kasus gangguan metabolik lainnya.
Oval fat bodies penting untuk diteliti karena merupakan sel yang abnormal dan tak seharusnya berada dalam sedimen urin seseorang. Adanya OFB dalam urin menandakan adanya gangguan pada ginjal atau kerusakan pada ginjal, khususnya pada glomerulus ginjal. Kerusakan pada ginjal dapat terjadi karena adanya gangguan metabolik dan sindrom nefrotik.
Berdasarkan hasil rekam medik laboratorium RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya dari Januari 2012 sampai Februari 2013 diketahui bahwa dari 833 urin yang diperiksa ditemukan 291 urin dengan OFB positif. Banyaknya urin dengan OFB positif menjadi dasar pemikiran penulis untuk mengetahui penyakit yang mendasari timbulnya OFB pada sedimen urin khususnya pada seseorang yang mengalami gangguan metabolik.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengamati adanya oval fat bodies dalam urin, dikaitkan dengan gangguan metabolik.
B. Identifikasi masalah
1. Bagaimana morfologi OFB ?
2. Jenis gangguan metabolik apa saja yang dapat menyebabkan timbulnya OFB dalam sedimen urin ?
3. Apakah OFB berkaitan dengan kelainan metabolik ?
4. Seberapa sering OFB ditemukan pada seseorang dengan gangguan metabolik ?
C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini objek yang diteliti adalah jenis gangguan metabolik yang dapat menyebabkan terbentuknya OFB pada sedimen urin.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah jenis gangguan metabolik apa saja yang dapat menyebabkan terbentuknya OFB pada sedimen urin ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu : 1. Tujuan umum
Adapun tujuan umum penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan gangguan metabolik yang dapat menyebabkan terbentuknya OFB dalam sedimen urin.
2. Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan jenis gangguan metabolik yang dapat menyebabkan terbentuknya OFB dalam sedimen urin.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain :
1. Memberikan informasi ilmiah mengenai Oval Fat Bodies pada sedimen urin pasien dengan gagguan metabolik.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pemeriksaan sedimen urin dapat memberitahukan keadaan ginjal dan saluran kemih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Urin
Urin merupakan produk akhir dari sistem metabolisme yang dikeluarkan ginjal sebagai zat sisa atau buangan.
Urin berasal dari darah yang mengalami filtrasi oleh glomerulus kemudian disekresi, diabsorbsi dan diekresi melalui saluran kemih. Tes urin dapat memberikan informasi mengenai kelainan organ tubuh, selain itu juga dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan memantau hasil penggobatan (Hardjoeno dan Firtiani, 2007: 21).
Komposisi zat-zat dalam urin bervariasi tergantung makanan serta air yang diminum. Urin normal berwarna jernih transparan, sedangkan warna urin kuning muda berasal dari zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin). Urin normal manusia terdiri dari air, urea, asam urat, amoniak, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam-garam terutama garam dapur, dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah misalnya vitamin C dan obat-obatan. Semua cairan dan materi pembentuk urin tersebut berasal dari darah.
Tabel 1. Komposisi urin normal.
No Kandungan Jumlah diekresikan per hari
1 Air 90 % 2 Benda padat - Urea - Lainnya 2% 2% 3 Ureum 30 mg 4 Asam urat 1,5 – 2 mg 5 Kreatinin - 6 Elektrolit -
Sumber : (Nursalam dan Fransisca B.B, 2009: 15).
Kelebihan air dalam tubuh akan diekresikan oleh ginjal sebagai urin yang encer dalam jumlah besar. Kekurangan air karena kelebihan keringat menyebabkan urin berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relatif normal.
B. Urinalisa
Urinalisa adalah suatu metode analisa untuk mendapatkan bahan-bahan atau zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin dan juga untuk melihat adanya kelainan pada urin. Pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan urin rutin, pemeriksaan urin lengkap, protein bence jones, dan klirens kreatinin. Namun pemeriksaan yang sering dilakukan yaitu pemeriksaan urin rutin dan pemeriksaan urin lengkap.
1. Pemeriksaan Urin Rutin
Pemeriksaan urin rutin ialah beberapa macam pemeriksaan yang dianggap dasar bagi pemeriksaan selanjutnya dan yang menyertai pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.
Jenis pemeriksaan rutin yaitu :
a) Makroskopis : Warna dan kejernihan b) Berat jenis
c) pH (derajad keasaman) d) Protein
e) Glukosa
f) Pemeriksaan sedimen 2. Pemeriksaan Urin Lengkap
Perbedaan antara pemeriksaan urin rutin dan urin lengkap hanya pada pemeriksaan kimia urinnya.
Jenis pemeriksaan urin lengkap yaitu : a) Makroskopis : Warna dan kejernihan b) Berat jenis c) pH (derajad keasaman) d) Leukosit e) Nitrit f) Protein g) Glukosa h) Keton i) Urobilinogen j) Bilirubin k) Eritrosit l) Hemoglobin m) Pemeriksaan sedimen C. Sedimen urin
Sedimen adalah urin padatan atau serbuk yang terpisah dari larutannya dan mengalami pengendapan yang diakibatkan adanya proses sentrifugasi maupun proses pengendapan secara alami. Unsur-unsur sedimen urin dibagi menjadi dua yaitu :
Lazimnya unsur-unsur sedimen dibagi atas 2 golongan : yang organik (organized), yaitu yang berasal dari sesuatu organ atau jaringan dan yang tak-organik (unorganuized) yang tidak berasal dari sesuatu yang tidak berasal dari sesuatu jaringan. Biasaanya unsur organik lebih bermakna daripada yang tak-organik. (Gandasoebrata, 2007: 133)
Unsur-unsur organik, terdiri dari: a) Sel epitel
Sel epitel adalah salah satu dari berbagai jenis sel yang membentuk epithelium dan menyerap nutrisi. Sel epitel, bersel satu ukurannya besar dari leukosit bentuknya berbeda menurut
tempatnya. Sel epitel gepeng (skuamous) berasal dari urethra bagian distal. Sel transisional yaitu epitel yang berasal dari kandung kemih. Sel epitel bulat berasal dari pelvis ginjal dan dari tubuli ginjal sering disebut epitel bulat atau epitel tubulus.
Gambar 1. Sel epitel tubulus Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 61)
b) Leukosit (sel darah putih)
Leukosit, mudah diidentifikasi dengan sitoplasma bergranula dan inti berlobus. Pada urin normal, leukosit dapat ditemukan 2-3/ lapangan pandang.
Gambar 2. Leukosit Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 59)
c) Eritrosit (sel darah merah)
Eritrosit, berasal dari traktus urinarius, eritrosit terlihat bulat tanpa inti.
Gambar 3. Eritrosit Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 58)
d) Silinder
Silinder ada bermacam-macam, silinder dibedakan berdasarkan bentuk dan isinya, ada silinder hialin, silinder butir, silinder lilin, silinder fibrin, silinder eritrosit, silinder leukosit, dan silinder lemak.
Gambar 4. Silinder Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 79)
e) Oval Fat Bodies
Oval Fat Bodies sering didefinisikan sebagai sel epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak.
Gambar 5. Oval fat bodies dilihat dari perbesaran 10x Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 86)
f) Benang lendir
Benang lendir berbentuk panjang sempit dan berombak-ombak. Silindroid berbentuk hampir serupa dengan silinder hialin, tetapi salah satu ujungnya semakin panjang semakin menyempit. Selain yang dijelaskan tadi pada pemeriksan sedimen urin dapat ditemukan juga sperma, parasit-parasit misalnya Trichomonas vaginalis dan bakteri-bakteri.
1. Unsur-unsur anorganik
Unsur-unsur anorganik merupakan unsur-unsur yang bukan berasal dari suatu jaringan, unsur ini biasanya didapat dari makanan yang dimakan. Unsur-unsur anorganik terdiri dari :
a) Bahan amorf
Bahan amorf merupakan urat-urat dalam urin asam. b) Kristal-kristal
Kristal ada yang menunjukan keadaan normal tetapi da juga kristal yang menunjukkan keadaan abnormal dan Kristal yang terbentuk karena konsumsi obat yang mengandung sulfonamid. Kristal yang menunjukkan keadaan normal yaitu kristal asam urat, calcium oxalate, tripelfosfat, calcium fosfat dll. Kristal yang menunjukkan keadaan abnormal yaitu cystine, leucine, tyrocine, cholesterol, dan bilirubin.
D. Oval Fat Bodies
Pada pemeriksaan sedimen urin, dapat ditemukan unsur abnormal seperti oval fat bodies. Oval fat bodies didefinisikan sebagai epitel tubulus yang beisi butir lemak. OFB berwarna kuning sampai coklat dan terkadang sampai berwarna hitam karena indeks biasnya yang tinggi. Butiran lemak tersebut dapat berasal dari filtrasi glomerus yang masuk ke dalam sel tubulus, dapat pula disebabkan karena sel epitel tubulus mengalami degenerasi lemak.
Gambar 5. Oval fat bodies dilihat dari perbesaran 40x Sumber: (Lilian dan Kristy, 2010: 86)
Lemak dapat hadir dalam urin sebagai tetesan-tetesan yang bergabung dengan sel epitel atau silinder dari ginjal.
Oval fat bodies didefinisikan sebagai sel-sel tubulus ginjal yang menggandung tetesan-tetesan lemak. OFB adalah salah satu hasil dari penggabungan lemak sel-sel tubulus yang telah disaring oleh glomerulus atau sel-sel tubulus ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak. OFB juga dapat berupa makrofag atau leukosit polimorfonuklear yang menyimpan lemak didalamnya atau yang mengalami degenerasi.
Lemak juga dapat muncul dalam urin sebagai tetesan lemak bebas. Lemak bebas ini dapat menggambang bebas di urin dan ada yang tergabung dalam suatu sel atau cor, yang terdiri dari ester kolesterol (kolesterol bebas) atau trigliserida. Tetesan ini bervariasi dalam bentuk dan ukuran ada yang berupa tetesan-tetesan dan ada yang berupa tetesan yang menyatu atau bergumpal-gumpal. OFB berwarna kuning sampai coklat dan terkadang sampai berwarna hitam karena indeks biasnya yang tinggi. Pada lipiduria (ekskresi lipid dalam urin) tetesan lemak bebas dapat ditemukan menggambang dipermukaan urin.
Lipid atau lemak dalam urin dapat hadir dalam urin sebagai OFB akibat dari degenerasi lemak tubulus. Hal ini sering ditemukan pada sindrom nefrotik, dan juga dapat hadir pada Diabetes melitus dan gangguan metabolik lainnya yang mengakibatkan kerja glomerulus ginjal menurun. (Lilian dan Kristy, 2010: 85-87).
Tetesan lemak pada OFB terbentuk karena adanya disfungsi glomerulus dengan kebocoran plasma ke dalam urin dan kematian sel epitel tubulus. OFB juga dapat terjadi karena degenerasi epitel tubulus, dan dapat berupa makrofag.
E. Gangguan metabolik
Metabolisme merupakan suatu reaksi kimia yang mengubah senyawa-senyawa seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi sumber energi untuk tubuh. Ganguan metabolisme atau gangguan metabolik merupakan suatu kekacauan mekanisme yang dapat menyebabkan kelainan sifat biokimia. Ganguan metabolik meliputi Diabetes melitus, dislipidemia, dan hipertensi. Gangguan metabolik tidak hanya disebabkan oleh kekacauan mekanisme yang menggakibatkan kelainan sifat biokimia namun dapat disebabkan oleh kesalahan metabolisme bawaan seperti pada gout.
1. Diabetes melitus
Salah satu gangguan metabolik yang sering kita jumpai di masyarakat sekarang ini adalah Diabetes melitus. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme yang kronik.
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik pada karbohidrat yang terjadi karena kurangnya aktifitas insulin, yang menyebabkan pelepasan glukosa secara terus menerus dari sel hati. Meningkatnya konsentrasi glukosa pada plasma darah juga meningkatkan filtrasi glukosa melalui glomerulus. Selanjutnya keadaan ini dapat menggangu kinerja ginjal khususnya pada glomerulus ginjal.
Bahkan menurut Baron D.N (1995: 70) Diabetes melitus yang berlangsung lama menyebabkan glomerulosklerosis interkapiler yang disertai proteinuria dan gagal ginjal.
Untuk membedakan hasil tes bukan DM, tak jelas DM ( gangguan toleransi glukosa) dan DM dapat dilihat dilihat di bawah ini :
Tabel 2. Tes laboratorium pada bukan DM, tak jelas DM, dan DM Tes Bukan DM Tak jelas DM (toleransi glukosa tergangu) DM Glukosa darah puasa (mg/dl) Vena < 100 100-140 > 140 Kapiler < 80 80-140 > 140 Glukosa 2jpp (mg/dl) Vena < 140 140-200 > 200 Kapiler < 120 120-200 > 200 Glukosa darah sewaktu (mg/dl) Vena < 100 100-200 > 200 kapiler < 80 100-200 > 200 Hb A1c % 4-6 6- < 8 ≥ 8 mikroalbuminuria 3-300 mg/ 24 jam < 300 mg/24 jam < 300 mg/24 jam Sumber : (Hardjoeno, 2003: 37 ) 2. Dislipidemia
Dislipidemia merupakan ganguan metabolik yang sering terjadi karena pola hidup yang kurang sehat, seperti mengkonsumsi makanan kaya lemak, kurangnya olah raga dan lain-lain. Definisi dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lemak di dalam plasma darah.
Dislipidemia merupakan gangguan kadar lemak dalam darah yaitu bila kadar kolesterol total > 200 mg/dl, LDL koleterol ≥ 130 mg/dl, HDL kolesterol ≥ 35 mg/dl dan trigliserida ≥ 400 mg/dl. Peningkatan fraksi lipid pada banyak keadaan disertai dengan lipemia sekunder, suatu kombinasi yang lazim terlihat pada Diabetes melitus dan sindrom nefrotik (Hardjoeno, 2003: 38).
Dibawah ini adalah contoh interpetasi tes pada dislipidemia. Tabel 3. Interpretasi tes laboratorium pada dislipidemia.
Tes (mg/dl) Nilai rujukan Suspek
Abnormal Abnormal Kolesterol total (mg/dl) < 200 200-240 > 240 HDL kolesterol (mg/dl) < 45 35- 45 < 35 LDL kolesterol (mg/dl) Tanpa PJK dengan : < 160 160 > 160 1 faktor resiko < 130 130 > 130 ≥ 2 faktor resiko PJK < 100 100 > 100 Trigliserida (mg/dl) Tanpa PJK < 200 200-400 > 400 Dengan PJK < 150 < 200 > 200
Keterangan : PJK = Penyakit jantung koroner Sumber : (Hardjoeno, 2003: 28)
Peningkatan kadar lemak dalam darah mengakibatkan lemak bebas lolos melewati pori-pori glomerulus. Sel-sel yang telah mengalami degenerasi menyerap lemak yang lolos dari pori-pori glomerulus. Sel-sel yang menyerap lemak bebas ini lah yang disebut oval fat bodies.
3. Sindrom nefrotik
Sindrom nefrotik (SN) juga termasuk suatu penyakit yang juga menyebabkan proteinuria dan gangguan pada ginjal.
Menurut (Wiguno prodjosudjadi, 2010: 999) sindrom nefrotik (SN) merupakan salah satu manifestasi klinik glomerulonefritis (GN) ditandai dengan edema anasarka, proteinuria masif >3,5 g/hari, hipoalbuminemia <3,5 g/dl, hiperkolesterolemia, dan lipiduria. Pada proses awal atau SN ringan untuk menegakkan diagnosis tidak semua gejala tersebut harus ditemukan. Proteinuria merupakan gejala khas SN, tetapi pada SN berat yang disertai kadar albumin serum rendah eksresi protein dalam urin juga berkurang. Proteinuria juga berkontribusi terhadap berbagai komplikasi yang terjadi pada SN. Hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan lipiduria,
gangguan keseimbangan nitrogen, hiperkoagulabilitas, gangguan metabolisme kalsium dan tulang, serta hormone tiroid sering dijumpai pada SN.
Umumnya pada SN fungsi ginjal normal kecuali sebagian kasus yang berkembang menjadi penyakit gagal ginjal tahap akhir.
4. Gout
Asam urat merupakan hasil dari metabolisme purin. Gangguan pada metabolisme protein purin yang menyebabkan asam urat meningkat dan kristal asam urat terbentuk dalam sendi dan tempat lain disebut gout.
Penyakit gout adalah salah satu tipe dari arthritis atau rematik yang disebabkan terlalu banyak atau tidak normalnya kandungan asam urat di dalam tubuh, karena tubuh tidak bisa menggekresikan asam urat dengan normal dan seimbang. Kadar asam urat normal, pada pria adalah dibawah 7 mg/dl dan pada wanita dibawah 6 mg/dl (Bangun, 2008: 13).
Dalam keadaan normal, produk buangan ikut terbuang melalui urin atau saluran ginjal, termasuk asam urat. Asam urat (gout) dapat bersifat menahun dan komplikasi yang akan terjadi dikemudian hari, seperti benjolan pada bagian tubuh tertentu, kerusakan tulang dan sendi, batu ginjal, kerusakan ginjal dan tekanan darah tinggi. Batu ginjal dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan perubahan permeabilitas glomerular yang memungkinkan lemak dalam plasma darah menerobos keluar, sehingga menyebabkan proteinuria dan lipiduria.
Menurut Ali dan Yuni (2008: 5) adanya riwayat asam urat dalam keluarga membuat resiko terjadinya asam urat menjadi semakin tinggi.
Menurut Baron D.N (1995: 110) penyebab urat plasma tinggi pada gout belum diketahui dalam semua kasus tetapi biasanya karena peningkatan sintesa asam urat endogen sebagai cacat metabolik bawaan.
5. Hipertensi
Hipertensi secara umum didefinisikan sebagai tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah tinggi menjadi masalah hanya bila tekanan darah tersebut berlangsung lama atau menetap. Tekanan seperti itu membuat sistem sirkulasi dan organ yang dapat suplai darah (termasuk jantung dan otak) menjadi tegang.
Bila tekanan darah tinggi tidak dikontrol dengan baik, maka dapat terjadi serangkaian komplikasi serius dan penyakit kardiovaskuler, seperti serangan jantung, strok, gagal jantung, gagal ginjal, dan masalah pada mata.
Tekanan darah tinggi yang persisten dapat pula menimbulkan masalah di sistem sirkulasi seperti penyakit arteri perifer (penyakit arteri di tangan dan kaki), Klaudikasio intermiten (nyeri di tungkai saat berjalan), Aneurisma aorta (aorta-arteri) utama yang menyebabkan jantung bengkak dan hal ini berbahaya, dan gangguan pada otak seperti Demensia.
BAB III
MATODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2012 sampai Februari 2013 di Laboratorium Rumah Sakit dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
B. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian
Metode penelitian ini di golongkan ke dalam penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,1993: 29)
Penelitian ini bertujuan menggambarkan jenis gangguan metabolik yang dapat menimbulkan Oval fat bodies pada sedimen urin.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua urin pasien positif Oval fat bodies yang terdata pada rekam medik RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya pada bulan Desember 2012 sampai Februari 2013 yaitu 291 urin.
2. Sampel
Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan berupa purposive sampling, karena sifat-sifat sampel yang diambil telah diketahui oleh peneliti sebelumnya, dan berdasarkan pertimbangan tertentu. Pertimbangan dalam penelitian ini yaitu urin pasien yang mengandung Oval Fat Bodies dan yang melakukan pemeriksaan kimia darah.
Menurut Suharsimi (2006: 117) yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti, pedoman pengambilan sampel yaitu apabila kurang dari seratus maka diambil semua sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi, tetapi apabila subjeknya besar maka dapat diambil antara 15% sampai 20% atau 20% sampai 25% atau lebih.
Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti memiliki keleluasaan untuk menentukan besarnya sampel apabila telah memenuhi persyaratan dan pertimbangan yang telah ditentukan maka dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebesar 16%, setelah dilakukan perhitungan 291 urin sebagai populasi penelitian ini diperoleh sebanyak 47 urin sebagai sampel.
D. Instrumen Penelitian 1. Peralatan Teknis
a). Penampung urin
Botol/penampung urin b). Pemeriksaan mikroskopis (1). Sentrifuge (2). Mikroskop (3). Kaca objek (4). Kaca penutup (5). Pipet tetes
c). Alat kimia otomatis (mindray BS 200) 2. Peralatan non teknis
Dalam penelitian ini sebagai peralatan non teknis yaitu data identitas pasien dan buku hasil pemeriksaan kimia darah.
E. Definisi Oprasional penelitian 1. Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variable tunggal karena terdiri dari satu variable yaitu Oval Fat Bodies Pada Sedimen Urin
2. Definisi Operasional Penelitian
a) Oval Fat Bodies adalah salah satu unsur organik dalam sedimen urin serupa epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak.
b) Sedimen urin adalah unsur-unsur padat dalam urin yang mengendap akibat sentrifugasi maupun proses penggendapan secara alami.
c) Gangguan metabolik adalah suatu kekacauan mekanisme yang dapat menyebabkan kelainan sifat biokimia yang meliputi Diabetes melitus, dislipidemia, hipertensi dan syndrome nefrotik.
F. Taknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan berdasarkan data primer yaitu dari hasil pemeriksaan sedimen urin yang positif OFB dan hasil pemeriksaan kimia darah. Data sekunder yang berupa data diri pasien dan diagnosis diperoleh dari formulir permintaan laboratorium.
1. Alur pengumpulan data
Pasien rawat inap dan rawat jalan dalam pemeriksaan urin
Urin pasien
Pemeriksaan sedimen urin
OFB +
Formulir permintaan pasien ( permintaan pemeriksaan sedimen urin dan pemeriksaan kimia darah )
Penulisan data hasil pemeriksaan kimia darah pasien
2. Prosedur Analisa
Prosedur pemereriksaan mikroskopis urin. a) Urin dihomogenkan sampai urin tercampur.
b) Dimasukkan 7 – 8 ml dari urin yang sudah diserbasamakan ke dalam tabung sentrifugasi dan pusingkan selama 5 menit pada 1500 – 2000 rpm.
c) Tuang supernatan keluar dari tabung dengan satu gerakan agak cepat tetapi luwes, kemudian tegakkan tabung hingga cairan yang masih melekat pada dinding mengalir kembali ke dasar tabung. Volume sedimen dan cairan kira-kira ½ ml.
d) Tabung dihomogenkan lagi untuk mensuspensikan sedimen.
e) Dengan menggunakan pipet pastur taruh 1 tetes sedimen urin di atas kaca objek dan tutup dengan kaca penutup.
f) Diturunkan kondensor mikroskop atau kecilkan diagfragma kemudian periksa sedimen dengan lensa objektif kecil (10x)
g) Kemudian periksa sedimen dengan lensa objektif perberbesaran (40x) h) Kemudian dilaporkan pendapat mengenai unsur-unsur sedimen
G. Analisis Data
Data diperoleh dari hasil pemeriksaan sedimen urin dan data hasil kimia klinik. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan analisis deskriptif yang berbentuk tabulasi silang, dengan rumus sebagai berikut :
P = x 100 %
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi atau jumlah
N = Banyaknya data atau jumlah pasien keseluruhan 100% = Persentase
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran umum responden
Sampel yang diperoleh dalam penelitian ini berjumlah 47 pasien. Dengan kriteria sedimen urin positif OFB dan ditunjang dengan hasil kimia darah.
Tabel 4. Pasien berdasarkan jenis kelamin.
Jenis kelamin Jumlah pasien Persentase
Laki-laki 27 57 %
Perempuan 20 43 %
Jumlah 47 100 %
Tabel 5. Pasien berdasarkan rentang usia.
Rentang usia Jumlah Persentase
L P 20-29 1 0 2 % 30-39 3 0 7 % 40-49 5 4 19 % 50-59 9 9 38 % 60-69 4 5 19 % 70-79 4 2 13 % 80-89 1 0 2 % Jumlah 27 20 100 % 23
2. Data hasil penelitian
Tabel 6. Diagnosis pasien berdasarkan formulir permintaan laboratorium Diagnosis Dokter Jumlah Presentase
DM 5 11 % Obesitas 1 2 % Hipertensi 3 7 % Hiperkolesterolemia 1 2 % DM + Dislipidemia + Gout 12 26 % Dislipidemia + Gout 2 4 %
HHD(Hipertensive heart disesase ) 10 21 %
HT + DM 1 2 % DM + Gout 1 2 % Dislipidemia + HT 1 2 % DM + Dislipidemia + HT 1 2 % Gout + HT 2 4 % DM + Dislipidemia 5 11 % Dislipidemia 2 4 % Jumlah 47 100 %
Tabel 7. Hasil pemeriksaan kimia klinik abnormal pada masing-masing pasien dengan OFB positif
No Hasil pemeriksaan kimia darah pasien yang abnormal
Pasien
Jumlah Persentase L P
1 Peningkatan GD (glukosa darah
sewaktu /2jpp/puasa) + AU (asam urat) 2 1 3
7 % 2 Peningkatan GD + Cholesterol + Tg (trigliserida) 1 3 4 9 % 3 Peningkatan GD + Cholesterol 3 1 4 9 % 4 Peningkatan GD + Tg + LDL 0 1 1 2 % 5 Peningkatan GD 3 5 8 18 % 6 Peningkatan Cholesterol +Tg 1 0 1 2 %
7 Peningkatan GD + Ureum (UR) +
Creatinin + AU + Cholesterol 1 0 1 2 % 8 Peningkatan GD + UR + Creatinin + AU + TG + penurunan HDL 1 0 1 2 % 9 Peningkatan UR + Creatinin + Cholesterol 1 0 1 2 % 10 Peningkatan AU 0 3 3 7 % 11 Peningkatan GD + AU + Cholesterol +
Tg + SGOT + SGOT +penurunan HDL 1 0 1 2 %
12 Penurunan HDL 1 0 1 2 % 13 Peningkatan GD + penurunan HDL 1 0 1 2 % 14 Peningkatan GD + AU + penurunan HDL 0 1 1 2 % 15 Peningkatan GD + AU + Cholesterol + Tg + LDL + penurunan HDL 1 0 1 2 % 16 Peningkatan GD + AU + Cholesterol 1 1 2 4 % 17 Peningkatan GD + Cholesterol + Tg + penurunan HDL 1 0 1 2 % 18 Peningkatan AU + Cholesterol + Tg 2 0 2 4 % 19 Peningkatan AU + Cholesterol + Tg + penurunan HDL 0 1 1 2 % 20 Peningkatan Cholesterol 1 0 1 2 % 21 Peningkatan AU + cholesterol 0 1 1 2 %
22 Peningkatan GD + Cholesterol + Tg 0 1 1 2 % 23 Peningkatan GD + UR + Cholesterol 1 0 1 2 % 24 Peningkatan GD + Cholesterol + Tg + LDL 0 1 1 2 % 25 Peningkatan AU + penurunan HDL 1 0 1 2 % 26 Peningkatan GD + TG 1 0 1 2 %
27 Peningkatan AU + kolesterol + SGOT 1 0 1 2 %
28 Peningkatan GD + SGPT 1 0 1 2 %
Jumlah 27 20 47 100 %
Tabel 8. Frekuensi peningkatan hasil kimia darah dari 47 pasien
Hasil Frekuensi Persentase
Peningkatan GD (sewaktu/
puasa / 2jpp) 34 29 %
Peningkatan Ureum 4 3 %
Peningkatan kreatinin 3 2,5 %
Peningkatan Asam urat 20 17 %
Peningkatan kolesterol 24 20 % Peningkatan Trigliserida 17 14 % Peningkatan SGOT 2 2 % Peningkatan SGPT 2 2 % Penurunan HDL 3 2,5 % Peningkatan LDL 9 8 % Hasil penjumlahan 188 100 %
B. Pembahasan
Penelitian ini melibatkan 47 pasien dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki sebanyak 27 pasien (57%). Dengan rentang umur terbanyak antara 50-59 tahun yaitu 38 %. Hal ini berkaitan dengan proses degeneratif yang merupakan dasar terbentuknya Oval Fat Bodies. Oval Fat Bodies sebetulnya adalah epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak.
Berdasarkan diagnosis yang tertulis pada formulir permintaan laboratorium, diketahui pasien dengan diagnosis terbanyak yaitu DM (Diabetes melitus) sebanyak 53 %. Menyusul dislipidemia sebanyak 51 %, kemudian gout 36%, 21 % pasien didiagnosis HHD, hipertensi 17 % , obesitas sebanyak 2 %, dan 2 % dengan diagnosis hiperkolesterolemia.
Berdasarkan diagnosis tersebut, semua pasien menderita gangguan metabolik. Meningkatnya kadar lemak darah memungkinkan butir lemak masuk melalui proses filtrasi glomerulus dan selanjutnya masuk kedalam sel tubulus. Mekanisme ini dapat terjadi pada dislipidemia. Terbentuknya OFB juga dapat berasal dari sitoplasma epitel tubulus yang mengalami degenerasi sehingga digantikan dengan lemak seperti pada penderita DM dan hipertensi.
Diagnosis pasien diatas sesuai dengan hasil pemeriksaan kimia darah. Hasil terbanyak yaitu pasien yang mengalami peningkatan kadar glukosa darah sebanyak 29 %. Meningkatan konsentrasi glukosa pada plasma darah juga meningkatkan filtrasi glukosa melalui glomerulus. Selanjutnya keadaan ini dapat menggangu kinerja ginjal khususnya pada glomerulus ginjal. Berikutnya Pasien yang mengalami peningkatan kadar kolesterol total sebanyak 20 %, pasien yang mengalami peningkatan asam urat sebanyak 17 %, kemudian pasien yang mengalami peningkatan kadar trigliserida sebanyak 14 %, pasien yang mengalami peningkatan LDL kolesterol sebanyak 8 % %, pasien yang mengalami peningkatan kadar ureum sebanyak 4 %. pasien yang mengalami penurunan HDL kolesterol sebanyak 2,5 %, pasien dengan peningkatan kadar
kreatinin sebanyak 2,5 %. Pasien dengan peningatan SGOT sebanyak 2 % dan pasien dengan peningkatan SGPT yaitu 2 %.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Pada penelitian Profil Oval Fat Bodies pada Pasien dengan Gangguan Metabolik ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Latar belakang diagnosis 47 pasien yaitu DM, dislipidemia, obesitas, hipertensi, gout, dan HHD (hipertensive heart disease).
2. Pemeriksaan kimia klinik 47 pasien, sesuai urutan dari yang paling banyak ditemukan pasien mengalami peningkatan kadar glukosa darah, disusul peningkatan kolesterol, asam urat, trigliserida, LDL kolesterol, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT dan penurunan HDL kolesterol.
3. Berdasarkan diagnosis dokter dan pemeriksaan kimia darah pasien, diketahui semua pasien mengalami gangguan metabolik dan gangguan metabolik terbanyak yang menyebabkan timbulnya OFB pada sedimen urin yaitu Diabetes Melitus.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diketahui gangguan metabolik terbanyak pada usia di atas 50 tahun. Maka kepada masyarakat yang berumur di atas 50 tahun disarankan agar melakukan pemeriksaan laboratorium setidaknya setiap setahun satu kali untuk mendeteksi secara dini kerusakan pada ginjal, dengan melakukan pemeriksaan darah dan urin.