الله الرحمن الرحيم مسب
KATA PENGANTAR
ِِٔىا َٚيَع َٗ ٍذَََّؽٍُ َاَّلا ٍَْ٘ َٗ اَِّذَِّٞع َِِْٞيَع ْشــُـَىْا ِف َشْشَا َٚيَع ًَُلاَّغىا َٗ ُجَلاَّصىا َٗ َََِِْٞىاَعىْا ِّب َس ِلله ُذََْؽْىَا
َِِْٞعََْظَا ِِٔثْؽَ َٗ
Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan semesta alam, Dialah dzat Yang Maha Pengasih tak pilih kasih Maha Penyayang yang sayangNya tiada terbilang, setinggi arti sholawat dan sedalam makna salam semoga tercurahkan kepada semulia-mulianya utusan beliau baginda Rosulillah SAW, keluarga, para sahabat dan pengikutnya semua.Buku terjemah nadlhom Maqshud ini kami susun dengan maksud untuk dapat dijadikan sebagai bahan muqobalah bagi teman-teman santri khususnya dan kaum muslimin wal muslimat secara umum, oleh karenanya buku ini sangat sederhana baik bentuk ,bahasa maupun isinya dan buku terjemah nadlhom Maqshud ini kami beri nama “ PENGANTAR MEMAHAMI ILMU SHOROF “ kami berharap banyak barokah dan bermanfa’at bagi umat.
Pada akhirnya kami menyadari bahwa terjemah ini belum sempurna dan jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritik yang membangun dan saran-saran untuk perbaikan terjemah ini senantiasa kami harapkan dan hanya mengharap ridlo Alloh SWT, senantiasa kami harapkan, semoga terjemah ini dapat mendatangkan manfa’at dan maslahah fiddiini waddunya wal akhiroh. Amin Ya Robbal Alamin.
Langitan-Rojab 1435 H. Penulis,
الله الرحمن الرحيم مسب
ِهَلاَعىْا ِٛر ِذََْؼ َذْعَت ُه ُْ٘قَٝ
ِهْٟا َٗ ِِّٜثَّْىا َٚيَع ًاِّٞيَصٍُ
ٌِْٝ ِشَنْىا ِحََْؼ َس ُشِْٞعَا ٌذْثَع
ٌِْٞ ِؼ َّشىاِذِتاَع ُِْتاُذََْؼَا َْٛا
1. Syekh Ahmad bin Abdurrohim seorang hamba yang menjadi tawanan rohmat Alloh setelah
memuji Alloh yang Maha Agung
2. seraya membaca sholawat dan salam untuk Nabi dan semua keluarganya
ِّيِثَلاُّثلا ِلْعِفْلا ُبا َوْبَا
ُد َّشَعُٝ اَرِا ٌِّٜشَلاُش ٌوْعِف
ِشِغْماَف ٍضاَََت ْػَرْفُذ ُِْا َُِْٞعْىاَف
ِشِتاَلىْا ِٜف َاَٖى ْػَرْفاَف َْٗا ٌَُّظ َْٗا
BAB FI’IL TSULASI
3. Fi’il tsulasi mujarrod ( fi’il yang terdiri dari 3 huruf asal dan tanpa ( sunyi ) huruf tambahan (
ziyadah ) itu babnya itu ada 6 yang akan diterangkan dengan tertib
4. Apabila ‘ain fi’il dari fi’il madli itu dibaca fathah
)
َوَعَف
(
maka ‘ain fi’il dari fi’il darifi’il mudlori’ itu boleh wajah 3 yaitu : 1 ) kasroh
)
ُوِعْفَٝ
-
َوَعَف
(
2 ) dlomah-
َوَعَف
(
ُوُعْفَٝ
)
3 ) fathah)
ُوَعْفَٝ
-
َوَعَف
(
ِِْٔٞف اََََُْْْٖظاَف ٌََّعُذ ُِْا َٗ
5
ِِْٔٞع ا ًشْغَم َٗ ْػَرْفاَف ْشِغَنَْْذ َْٗا
5. Apabila ‘ain fi’il dari fi’il madli itu dibaca dlomah
)
َوُعَف
(
maka ‘ain fi’il dari fi’il mudlori’itu hanya dibaca dlomah saja
)
ُوُعْفَٝ
(
dan apabila ‘ain fi’il dari fi’il madli itu dibaca kasroh(
َوِعَف
)
maka ‘ain fi’il dari fi’il mudlori’ itu boleh dibaca fathah)
ُوَعْفَٝ
(
dan kasroh)
ُوِعْفَٝ
(
اَؽِرُف ْذَق اََِت ٌَِْٞع َْٗا ًٌ َلا َٗ
اَؽَعَّذا ِر ُْٗزُّشىِات اَر ٙ َِ٘ع ِٜقْيَؼ
6. Fi’il tsulasi mujarrod yang ikut wazan
ُوَعْفَٝ
-
َوَعَف
itu disyaratkan ‘ain fi’il atau lam fi’ilnyaharusberupa salah satu huruf halqi yang ada 6 (
(
ء
,
ـٕ
,
غ
,
ؾ
,
ع
,
غ
dan jika tidak berupa huruf halqi maka hukumnya syad ( menyimpang dari qoidah yang telah ditentukan )ِ ِب ِ َ ْ ُللْا َ ِ رَّلَ ُللْا يِا َبُّللا ِبا َوْبَا يِ لٌلْ َ
ِذ ِؼا َٗ ٍباَثِت ِٜعاَت ُّشىا ٌَُّش
ِذِتا َص ِشَْٞلِت ًاّرِع ِِٔت ْ ِؽىْا َٗ
َلاَعـَْٞف كازم َه َ٘ـْعـَف َوـَع َْ٘ف
َلاَيــْعَف كازمٗ َٚيــْعَف َوَٞـْعَف
FASAL BAB RUBA’I DAN RUBA’I MULHAQ
7. Fi’il ruba’i mujarrod ( fi’il yang huruf asalnya ada 4 dan tanpa huruf tambahan ) itu babnya ada
satu yaitu
َوَيْعَفُيِيْعَفُٝ
-
,sedangkan fi’il ruba’i mulhaq mujarrod ( fi’il yang huruf asalnya ada 3 dan di tambah satu huruf untuk disamakan dengan ruba’i mujarrod ) itu babnya ada 6 yaitu : 8. 1 )َوَع َْ٘فُيِع َْ٘فُٝ
-
2 )َه َْ٘عَفُىِْ٘عَفُٝ
-
3 )َوَعَْٞفُيِعَْٞفُٝ
-
4 )َوَْٞعْفُيِْٞعَفُٝ
-
5 )-َٚيْعَفىِيْعَفُٝ
6 )َوَيْعَفُيِيْعَفُٝ
ِ ْ ِ َلْلا ِّيِث َلاُّثلا ِبا َوْبَا يِ لٌلْ َ
ِشْشَع ْعٍَ ٌعَت ْسَا ِٜشَلاُّصىا ُذْٝ َص
ٛ ِشْعَذ ٍز َلاَش ًٍاَغْقَ ِلا َِٜٕ َٗ
اٍَ َشْمَا ُوْصٍِ ِٜعاَت ُّشىا اَُٖى ََّٗا
10
اَََ اَخم وَعاَفٗ َوَّعَفٗ
FASALBAB TSULASI MAZID
9. Fi’il tsulasi mazid ( fi’il yang terdiri dari 3 huruf asal lalu menerima huruf tambahan ) itu babnya
ada 14 dan terbagi menjadi 3 yang akan diterangkan pada bait berikut
10. Yang pertama adalah fi’il tsulasi mazid ruba’i ( fi’il yang terdiri dari 3 huruf asal lalu ditambah
satu huruf ) adapun babnya itu ada 3 yaitu : 1 )
َوَعْف
َا
ُوِعْفُٝ
-
sepertiًُ ِشْنُٝ
–
ًَ َشْمَا
2 )َوَعاَفُيِعاَفُٝ
sepertiٌَ ِ َاخُٝ
–
ٌََ َاخ
3 )َوَّعَفُيِّعَفُٝ
-
sepertiَغ ِّشَفُٝ
–
َغ َّشَف
ُِا َص َْٗ ْلاا ِٛزِت اًِّٞعاَََخ ْصُصْخا َٗ
ِّٜاَّصىا َٗ َشَغَنَّْام إَُؤْذَثَف
َلاَّعَفَذ اَزَـم َّوَـعْفا َوـَعَرْفا
َلاَعاَفَذ ْد ِص َٗ ٌََّيَعَذ َْ٘ؽَّ
11. Yang kedua adalah fi’il tsulasi mazid khumasi ( fi’il yang terdiri dari 3 huruf asal lalu
mendapatdua huruf tambahan ) adapun babnya itu ada 5
12. yaitu :1 )
َوَعَف
ُِْا
ُوِعَفَْْٝ
-
sepertiَشِغَم
ُْ
َٛ
–
َشَغَم
ُْ
ِا
2 )َوَعَرْفِ َلاِعَرْفَٝ
-
seperti
ُعََِرْعَٝ
–
َعَََرْظِا
3 )َّوَعْف
ِا
ُّوَعْفَٝ
-
sepertiُّشََْؽَٝ
–
َّشََْؼِا
4 )َوَّعَف
َخ
ُوَّعَفَرَٝ
-
sepertiٌََّيَعَذ
–
ٌَُّيَعَرَٝ
5 )َوَعاَف
َخ
ُوَعاَفَرَٝ
-
sepertiٌَُ اَخَرَٝ
–
ٌََ اَخَذ
َوَع َْ٘عْفا َٗ َوَعّفَرْعا ِٚعاَذُّغىا ٌَُّش
َلاَيَْْعْفا ِِْٔٞيَٝ َٚيَْْعْفا َه ََّ٘عْفا َٗ
ٍَِِْٞ َّلاىا َةَؼاَ ْذَق اٍَ َّهاَعْفا َٗ
13. Yang ketiga adalah fi’il tsulasi mazid sudasi ( fi’il yang terdiri dari 3 huruf asal lalu mendapat
tiga huruf tambahan ) adapun babnya itu ada 6 yaitu :
14. 1 )
َوَعْف
َدْعِا
ُوِعْفَرْغَٝ
-
sepertiَشِفْلَرْع
َٛ
–
َشَفْلَرْع
ِا
2 )َه َْ٘عْفِ َلا َْ٘عْفَٝ
-
sepertiَةَش َْ٘شْعِا
–
ُةِش َْ٘شْعَٝ
3 )َه ََّ٘عْف
ِا
ُهَِّ٘عْفَٝ
-
sepertiُر َِّ٘يْعَٝ
–
َر ََّ٘يْظِا
4 )َٚيَْْعْفِا
ِٚيَْْعْفَٝ
-
sepertiَٚقَْْيْعِا
–
ِْٚقَْْيْغَٝ
5 )َوَيَْْع
ْفِا
ُوِيَْْعْفَٝ
-
sepertiُظِغَْْعْقَٝ
–
َظَغَْْعْقِا
6 )َّهاَعْفِا
ُّهاَعْفَٝ
-
sepertiُّساََْؽَٝ
–
َّساََْؼِا
َِِْٞع َّْ٘ َٚيَع ِٜعاَت ُّشىاُذْٝ َص
َلاـَيَْْعْفا َّوـَيَعْفا ُْ٘ؽَّ ٍحَّرِع ِْٛر
15
َلاـَيْعَفَذ ُُّٔ ْص َٗ ِٜعاََُخْىا ٌَُّش
Fi’il ruba’i mazid ( fi’il yang terdiri dari 4 huruf asal lalu mendapatkan tambahan huruf ) itu ada 2 macam :
15. 1 ) Fi’il ruba’i mazid khumasi ( fi’il yang terdiri dari 4 huruf asal lalu
mendapatkan tambahan satu huruf ) yang babnya ada satu yaitu :
ُوَيْعَفَرَٝ
–
َوَيْعَفَذ
sepertiَض َشْخَذَذ
–
ُض َشْخَذَرَٝ
2 ) Fi’il ruba’i mazid sudasi ( fi’il yang terdiri dari 4 huruf asal lalu mendapatkan tambahan dua huruf ),sedangkan wazannya ada 2 yaitu:
َّشَعَشْقِا
–
ُّشِعَشْقَٝ
sepertiَّوَيَعْفِا
ُّوِيَعْفَٝ
1 )ٌََعّْ َشْخِا
–
ٌُ ِعّْ َشْخَٝ
sepertiَوَيَْْعْفِا
ُوِيَْْعْفَٝ
2 )ُ ْ ِ ُّ َ ْ ُ َ َ ِ َ ْ َلْلا ُب َب
َِِْٞت ْشَظ َٚيَع ٌسَذْصٍَ َٗ
ََِِْْٞغِق َٚيَع ِٓ ِشَْٞ َٗ ٍَِِْٜٞ
ْعَُِع ِٛزَّىا ًِ َضْىاَف ِزَلاَّصىا ِٛر ٍِِْ
ْعِثَّرــَذ َطاَِٞقْىاف ُٓاَذَعاٍَ َٗ
BAB MASDAR DAN MUSYTAQ MINHU 16. Masdar itu dibagi menjadi 2 macam yaitu :
1 ) Masdar mim ( masdar yang huruf pertamanya berupa mim zaidah ) 2 ) Masdar ghoiru mim ( masdar yang huruf pertamanya tidak berupa
mim zaidah )
17. Sedangkanmasdar ghoiru mim itu terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1 ) Masdar ghoiru mim dari fi’il tsulasi mujarrod itu hukumnya sama’i
(ketentuan dari orang Arab dan tidak bisa disamakan dengan wazannya ) 2 ) Masdar ghoiru mim dari selain fi’il tsulasi mujarrod ( fi’il
ruba’i , khumasi dan sudasi ) itu hukumnya qiyasi ( bisa disamakan dengan wazannya )
ِف َْ٘ظَا ٍِِْ ُِْنَٝ ُِْا ِٜشَلاُّصىا ٍَِِْٜٞ
ِ َّعَعٍُ َْٗا ٍص ٍََُْْٖ٘ َْٗا ٍػْٞ ِؽَ
َِِْٞرـَؽْرَفـِت ٍوـَعْفَََم َٚذَا
ِِـَْٞعْىا ِشْغَنِتاٍَ ٍُِْْٔ َّزـَش َٗ
18. Masdar mimnya fi’il tsulasi mujarrod dari bina’ ajwaf,shohih,mahmuj atau mudlo’af itu harus
mengikuti wazan
ٌوَعْفٍَ
( mim dan a’in difathah ) dan19. Apabila ikut wazan
ٌوِعْفٍَ
( a’innya difathah ) maka hukumnya syadِْ ٍِ َُِانََْىا َٗ ُِاٍَ َّضىا ٌُِع ااَزَم
20
ِِْثَٝ إَ ِشْغَنِت َّلاِا ٍع ِساَعٍُ
20. Isim zaman dan isim makannya fi’il tsulasi mujarrod dari bina’ ajwaf,shohih,mahmuj atau
mudlo’af yang a’in mudlori’nya dibaca dlomah (
ُوُعْفَٝ
(
atau dibaca fathah (ُوَعْفَٝ
(
itu juga ikut wazanٌوَعْفٍَ
jika a’in mudlori’nya dibaca kasroh maka isim zaman dan isim makannya ikut wazanٌوِعْفٍَ
ُْ ِشُقاٍَ َٗ ٍصـِقاَّ ٍِِْ اـََٖى ْػـَرـْفا َٗ
ِْــِعَٝ ٍوٗ ُشْفَََم ٍّوـَرْعَُِت ْظِنْعا َٗ
21. Masdar mim,isim zaman dan isim makan dari fi’il tsulasi mujarrod yang terdiri dari bina’ naqish
dan lafif maqrun itu harus mengikuti wazan
ٌوَعْفٍَ
( fathah a’in fi’ilnya ) dan jika dari bina’ mu’tal mitsal atau bina’ lafif mafruq maka harus mengikuti wazan
ٌوِعْفٍَ
( kasroh a’in fi’ilnya )َلاــَعْظا َّلاُم ِْٜشَلاُّصىا َذَعاٍَ َٗ
َلاـُِٖظ ْذَق اََٖى ٍع ِساَعٍُ َوْصٍِ
ْشِغُم ٍوِعاَف َٗ ٍه ُْ٘عْفٍَ ٌُْعا اَزَم
ْش ِصَٝ اًٍَِْٞ ٌه ََّٗا َٗ اَـَٖى اًَْْٞع
22. Wazannya masdar mim,isim zaman dan isim makan dari fi’il selain tsulasi mujarrod (
ruba’i,khumasi dan sudasi ) itu seperti mudlori’nya ketika mabni majhul (huruf pertama didlomah dan huruf sebelum akhir di fathah)
23. Begitu juga isim maf’ul dan isim fa’ilnya hanya saja untuk isim fa’il itu a’in fi’ilnya ( huruf
sebelum akhir ) dikasroh dan huruf mudloro’ahnya diganti dengan huruf mim
ِلْ َوْلا ِ َ ْلَ َ ِلْ َ ْا َ مً ْوُ ْ َ َ مً ْوُ ْعَ ي ِا َلْلا ِلْعِفلْا ِ َ ْ َ يِ لٌلْ َ
اًقــَيــْطٍُ َُْْٔؽَرْفا ٜ ِظاََْىا َش ِخآ َٗ
اـَقـــ ِؽْىُا ٍعََظٍٗا َِ٘ت ُِْا ٌَّـُظ َٗ
اَم ِّشُؼ ٍعْف َس َشـََِٞظ ُِْا ِْـِّنـَع َٗ
25
FASAL KEADAAN FI’IL MADLI,FI’IL AMAR DAN HAMZAH WASHOL
24. Akhirnya f’il madli itu dimabnikan fath secara mutlak ( fi’il tsulasi mujarrod atau ghoiru tsulasi
mujarrod ),jika tidak bertemu dengan wawu
25. jama’ atau dlomir rofa’ mutaharrik dan jika bertemu dengan wawu jama’ maka mabni dlom dan
اَنــِيُع ٍػـْرــَفَت ًٍُ٘يــْعٍَ ءْذــَت َٗ
ُْ َشِغْماَف ِٜعاَذُّغىا َٗ ِٜعاََُخْىاَّلاِا
ِْـَؽـَرٍْاَم ٍوـْ َٗ ِضـََِْٖت اـَتِذـُت ُِْا
Fi’il madli yang mabni ma’lum itu huruf pertamanya harus dibaca fathah secara mutlak ( fi’il tsulasi mujarrod atau ghoiru tsulasi mujarrod )
26. kecuali fi’il khumasi dan sudasi yang dimulai dengan hamzah washol maka huruf pertamanya
harus dibaca kasroh seperti
ََِؽَرٍِْا
ًْ ِضـُرْىا ِذـَقاَذـِرـْتِ ْلاا ِٜفاَُٖذ ُْ٘ثُش
ٌِْيـَنـْىا َعـٍَ اَٖـ ِظ ْسَد ِْٜف اِٖفْزـَؽَم
27. Hamzah washol adalah hamzah yang dibaca ( ditetapkan ) jika berada dipermulaan kalimah dan
tidak dibaca ( dibuang ) jika berada ditengah-tengah kalimah
ِسَذْصٍَ َٗاََـَُٖى ٍشـٍَْا ِضــَََْٖم
ِشـَْٖظاَم ٍضَْـَٕ َٗ ٍِـَُـَْٝا َٗ ْهَا َٗ
ِِْتا َٗ
ُِِـَْْٞـْشا َٗ ٍحـَْــْتا ِِـْتا
ِِـْٞـَرــَْــْشا ٍجَرشٍْا ٍب ِشٍْا َٗ
ُْ َشِغْماَف ِعََِْٞعْىا ِٜف ُدْعا ٌُْعااَزـَم
30
ِْـَؽَرْفاَف ْهَا ٍَُِـَْٝا ِٜف ٙ َِ٘عاـََٖى
28. Hamzah washol tersebut berada pada : fi’il amar dan masdarnya fi’il khumasi dan sudasi ,lafadh
ْهَا
,ٌََُِْٝا
,fi’il amarnya tsulasi mujarrod yang huruf kedua dari mudlori’nya mati ( sukun ) sepertiْشَْٖظِا
29. Lafadh
,
َِِْْْٞشِا
,
ٌب ُشٍُْا
,
ٌجَر َشٍِْا
,
َِِْٞرَْْشِا ٌحَْْتِا
,
ٌِْتِا
,
ٌٌُْْتِا
30. Lafadh
ٌٌْعِا
danٌدْعِا
Semua hamzah washol itu harus dibaca kasroh kecuali hamzah yang berada pada lafadh
ْهَا
danٌََُِْٝا
maka harus dibaca fathah31. Hamzah yang berada pada fi’il amar dari fi’il tsulasi mujarrod yang ikut wazan
ْوُعْفُا
( a’infi’ilnya didlomah ) yang a’in fi’il mudlori’nya didlomah dan yang bertempat pada fi’il khumasi dan sudasi yang dimabnikan majhul itu harus dibaca dlomah seperti
َِ ِؽُرٍُْا
,َض ِشْخُرْعُا
اََـِرـُؼ ٌٍّــَعِت ٍه ْ٘ـُٖـْعـٍَ ُءْذـَت َٗ
اََـِرـُخ ْذــٌق ِْٛزـَّىا ِ ـِتاَع ِشْغَنَم
32. Fi’il madli mabni majhul itu huruf yang pertama didlomah dan huruf sebelum akhir dikasroh
ِ ْو ُ ْ َلْلا َ ِ ْوُ ْعَللْا ِ ِ َ ُلْلا ِ َ ِ ْبَا يِ لٌلْ َ
ِْٜذْأَّ ِف ْٗ ُشُؽِت ٌْـِع اًع ِساَعٍُ
ِٜذْأـَذ ِّْٜاـَعـََْىا ِس٘ـُْٖشََِى ُسَْٞؼ
FASAL MENERANGKAN BINA’ FI’IL MUDLORI’ MABNI MA’LUM DAN MABNI MAJHUL
33. Tandanya fi’il mudlori’ adalah dimulai dengan huruf mudloro’ah yang dikumpulkan dalam
lafadh
ِْٜذْأَّ
(ُ
,ء
,خ
danٛ
) dengan ketentuan menunjukkan arti yang telah masyhur ( populer )ْةَظ َٗ اـٖـُؽـْرـَفـَف ًٍ ْ٘ـُيـْعََِت ُِْاَف
34. Fi’il mudlori’ mabni ma’lum itu huruf mudloro’ahnya (
ِْٜذْأَّ
) itu harus dibaca fathah ,kecualifi’il ruba’i maka huruf mudloro’ahnya dibaca dlomah
اَذـَتآ ْشـِغْما ِش ِخٟا َوـْٞــَثُقاٍَ َٗ
35
اَذــَع ٍحـَشَلاَش َٚيَع ِٛزـَّىا ٍَِِ
َلاـَّعَفَذ ٍِِْ َءاَظاٍَ ا َذـَع اََـِْٞف
َلاَعاَفـَذ ْٗا َوَعاَفـَذ ٍِِْ ٜـِذ٠ىاِم
35. Huruf sebelum akhir dari fi’il mudlori’ mabni ma’lum selain tsulasi mujarrod ( ruba’i,khumasi
dan sudasi ) itu harus dibaca kasroh
36. kecuali fi’il yang ikut wazan
َوَّعَفَذ
,َوَعاَفَذ
danَوَيْعَفَذ
,maka huruf sebelum akhir harus dibacafathah
ًْ ِضَى اَٖـَُّـَعَف ٍهُْٖ٘عـََِت ُِْا َٗ
ٌْـِرـُرْخا ِٔـِت ِٛزـَّىا ِ ِتاَع ِػـْرـَفَم
37. Fi’il mudlori’ mabni majhul itu huruf mudloro’ahnya (
ِْٜذْأَّ
) harus dibaca dlomah dan hurufsebelum akhir dibaca fathah
ْوََــَعْىا َٚعـَرْقَُِت ُٔـَى ٌش ِخآ َٗ
ْوـَصَؼ ًٍ ْضَظ اَزَم ٍةْصَّ ْٗا ٍعـْف َس ٍِِْ
38. Akhirnya fi’il mudlori’ itu dii’robi menurut kebutuhan amil yang masuk pada fi’il tersebut yaitu
wajib dibaca rofa’ jika sunyi dari amil nawashib dan jawazim dan jika kemasukan amil jawazim maka harus dibaca jazm
ْو ِصَذ اًٍَلا ِِٔت ُِْا ٌَّْٜٖ َٗ ٌشٍَْا
ْوـ َِــَرِيَم ْػـ ِصَٝ ُِْا ِِّْنــَع َٗ َلا َْٗا
39. Fi’il mudlori’ yang dimasuki
شٍا ًلا
itu disebut amar ghoib,sedangkan jika dimasukiحٕٞاْىا لا
maka disebut fi’il nahi
ِٜف ُِ ُّْْ٘ىااَم ْوَعـُٝ ُِْا ْفِزـْؼا َش ِخٟا َٗ
40
ٜـِفَذ ٍج َْ٘غِّ ُُ ُّْ٘ َٗ ٍحَيـِصـٍَْا
40. Akhirnya fi’il mudlori’ yang kemasukan
شٍا ًلا
atauحٕٞاْىا لا
,itu harus disukun jika berupahuruf shoheh seperti
ْوََِرِى
,ْوََِذ َلا
danْوََِٝ َلا
dan jika akhirnya berupa huruf ilat maka huruf ilatnya harus dibuang sepertiُضْلَِٞى
,ًِ ْشَِٞى
,َ ْخَِٞى
,َ ْخَذ َلا
dan jika berupa af’alul khomsah maka nunnya harus dibuang sepertiا ْٗ ُشُصَِْْٞى
,sedangkan nun jama’ inats itu harus ditetapkan sepertiَُ ْشُصَْْرِى
,َُ ْشُصَِْْٞى
ِ َ َل َملُلْا ِ َ ْ ِ َ ِ ْوُعْفَللْا َ ِلِا َفْلا ِ ْاا َ ِل ِا َ ْلا ِلْ َ ْا ِلْعِ ِ َ ِ ْبَا يِ لٌلْ َ
ِش ِظاَؼ َشٍَْا ُلَٝ ْفِزْؼا َُٓرْذــَت َٗ
ِشَّٞـَ ٍهاَذ َِِّنُع ُِْا َضََْٕ َٗ
41. Cara membuat amar hadir adalah dengan mendatangkan fi’il mudlori’ lalu huruf mudloro’ahnya
dibuang kemudian bila huruf yang berada setelah huruf mudloro’ah itu mati,maka harus mendatangkan hamzah washol seperti
ْشُصُّْا
,ْب ِشْظِا
,ٌَْيْعِا
,ْ ِيَطِّْا
,ْشِفْلَرْعِا
dan jika setelah huruf mudloro’ah berupa huruf yang berharokat ( hidup ), maka harus ditetapkan tanpa mendatangkan hamzah washol sepertiٌُْق
,
ْذِع
ًْ ِضَرْىا ٌَّـُش اًم َّشَؽٍُ ُِْا ِ ـْتَا َْٗا
ًْ ِضـُظ ٍع ِساَعٍُ َوـْصٍِ َُٓءاـَْـِت
42. Adapun akhirnya fi’il amar hadlir itu dimabnikan menurut fi’il mudlori’nya ketika tingkah jazm
اََـَم ٍوِعاَف ٌِْعاِت ْة ِظ ٍوـِعاـَفَم
اٍَ َضـَع ٍِِ َْٗا ٌَـِيَع ٍِِْ ُءاـَعـُٝ
43. Isim fa’il tsulasi mujarrod yang fi’ilnya ikut wazan
َوِعَف
( a’in fi’il dikasroh ) yang muta’adi atauikut wazan
َوَعَف
( a’in fi’il difathah ) baik muta’adi atau lazim itu ikut wazanَوِعاَف
sepertiٌَِيَع
isim fa’ilnyaٌٌِىاَع
dan lafadhًَ َضَع
isim fa’ilnyaًٌ ِصاَع
ْشـَقَرْعا َِِْٞع ٌِّــَعِت ُِْا ٍضاٍَ َٗ
سّزـّّاٍَ َّلاا ٍ ْٝ ِشَظَٗا ٌٍـْؽَعَم
44. Fi’il tsulasi mujarrod yang ikut wazan
َوُعَف
( a’in fi’il didlomah ) itu isam fa’ilnya ikut wazanٌوْعَف
atauٌوِْٞعَف
sepertiٌَُؽَظ
isim fa’ilnyaٌٌْؽَظ
,َف ُشَظ
isim fa’ilnyaٌ ْٝ ِشَظ
,jika tidak mengikuti salah satu dari wazan tersebut maka hukumnya nadir ( langka ) sepertiَُِغَؼ
ََُٖ٘ف
ٌَِغَؼ
,ٌٌِعاَّ ََُٖ٘ف ٌَُعَّ
,ٌعاَعُش ََُٖ٘ف َعُعَش
,ٌشِٕاَغ ََُٖ٘ف َشَُٖغ
,ُوَطْتَا ََُٖ٘ف َوُطَت
ْوـِعَفـْىاَماَظ اًٍ ِصَلا ٍشـْغَنِت ُِْاِٗ
45
ْوـِقُّاٍَ ْعـَفْؼا َٗ َُُلاْعـَفْىا ِوـَعـْفَ ْلاا َٗ
45. Fi’il tsulasi mujarrod yang ikut wazan
َوِعَف
yang lazim itu isim fa’ilnya itu mengikuti salah satudari 3 wazan yaitu :
َوِعَف
,
َوَعْفَا
,
َُُلاْعَف
sepertiَغ ِشَف ٖ٘ف ٌغ ِشَف
,َشََِؼ ٖ٘ف ُشََْؼَا
,ٖ٘ف ُُاَشْطَع
َ ِطَع
dan jika tidak mengikuti salah satu dari wazan tersebut maka hukumnya sama’i sepertiٌَِيَع ٖ٘ف ٌٌِىاَع
ُوْٞـِعَفاَزـَم ٍهُ٘عـْفَـٍ ُِ ْص َ٘ـِت
ُوْٞـِرَق اَزـَم ٍهُ٘عْفٍَ ٌُْعاَءاَظ
46. Wazannya isim maf’ul dari tsulasi mujarrod itu ada 2 yaitu : 1 )
ٌه ُْ٘عْفٍَ
sepertiٌس ُْ٘صٍَْْ
2 )ٌوِْٞعَف
seperti
ٌوِْٞرَق
ُه ْ٘ـُعَف َْٗا ٌهاـَّعَف ٍج َشــْصَنِى
ُوْٞـِعَف َْٗا ٌهاـَعـْفٍِ َْٗا ٌوـِعَف
47. Wazannya shighot mubalaghoh atau shighot katsroh itu ada 5 yaitu : 1 )
ٌهاَّعَف
sepertiٌغاَّرَف
2 )
ٌه ُْ٘عَف
sepertiٌس ُْ٘نَش
3 )ٌوِعَف
sepertiٌوِفَ
4 )ٌهاَعْفٍِ
sepertiًٌَاقْغٍِ
5 )ٌوِْٞعَف
sepertiٌٌِْٞيَع
ِ ْ ِ رَّ لا ِ ْ ِلْ َ يِ لٌلْ َ
اـَف َّشـــَصَذ ٌع ِساَعٍُ ْٗا ٍضاٍَ َٗ
حـَثِتاـَلْىاَم ٍةِتاـَلِى ٌحـَشَلاَش
ْحَثَغاَخَُْىاَم ٌةَغاـَخـٍُ اَزـَم
اََـُٕ ُِاـَْْشا ُٔـَى ٌٌـِّيـَنـَرٍُ َٗ
50
اََـِيـُع ٍٜـْٖـَّ ٌَّـُش ٍشـٍَْا ِشَْٞ ِٜف
FASAL TASHRIFNYA FI’IL SHOHIH
48. Fi’il madli dan fi’il mudlori’ baik yang mabni ma’lum atau majhul itu bisa ditashrif menjadi 14
bentuk ( waqi’ ) begitu juga fi’il amar dan fi’il nahi yang mabni majhul itu juga bias ditashrif menjadi 14 bentuk ( wajah ) dengan perincian :
49. 3 bentuk menunjukkan arti ghoib 3 bentuk menunjukkan arti ghoibah 3 bentuk menunjukkan arti
mukhotob 3 bentuk menunjukkan arti mukhothobah
50. dan 2 bentuk menunjukkan arti muttakalim,sedangkan fi’il amar dan fi’il nahi yang mabni
ma’lum itu tidak ada waqi’ muttakalimnya ( hanya bias ditashrif menjadi 12 wajah )
ِوِعاـَفْىا ٌُْعا ُف َّشـَصُٝ ٍج َشـْشـَعى
ِوــِعاَف ِِْٞـَيـِعاَف َٗ ٍحَيـَعَف
ِهاـَّعُف ٍوـَّعـُف َِْٞـِيـِعاَف َٗ
ِٜىاـَّرىاَّذــُش َٗاَف ٌْـَُْظا اََِٖـْٞـِف َٗ
َلاــِعاَف ِِـَْٞرـَيـِعاَف ٍحــَيِعاَف
َلاــِقـُّ ْذـَق اََـَم ُوـِعا َ٘ـَف َٗ ٍخ
51. Isim fa’il dari tsulasi mujarrod itu bisa ditashrif menjadi 10 wajah :
1 )
ٌوِعاَف
untuk mufrod mudzakar 2 )َُِلاِعاَف
untuk tatsniyah mudzakar 3 )َُ ُْ٘يِعاَف
untuk jamak mudzakar 52. 4 )ٌهاَّعُف
untuk jamak taksir5 )
ٌوَّعُف
untuk jamak taksir 6 )ٌحَيَعَف
untuk jama’ taksir 53. 7 )ٌحَيِعاَف
untuk mufrod mu’anats8 )
ُِاَرَيِعاَف
untuk tatsniyah mu’anats 9 )ٌخ َلاِعاَف
untuk jamak mu’anats 10 )ُوِعا ََ٘ف
untuk jama’ muntahal jumu’ٜـِذْأَٝ ٍعـْثـَغِى ٍهُ٘عـْفٍَ ٌُْعا ٌَّــُش
ٍخَ َلا٘ـُعـْفٍَ ِِّــَشٗ ٍحـَىُ٘عـْفٍَ
ْ ــــٍَ َٗ ُٓاَّْـَصـٍُ ٌهُ٘عـْفٍَ اَزـَم
55
ْ َعـُٝ ٍشْٞـِغْنَذ ُعـََْظ ٌَّــُش َُُ٘ىُ٘عـ
54. Isim maf’ul dari fi’il tsulasi mujarrod itu bisa ditashrif menjadi 7 wajah dengan perincian yaitu :
1 )
ٌه ُْ٘عْفٍَ
untuk mufrod mudzakar 2 )ُِ َلاُعْفٍَ
untuk tatsniyah mudzakar 3 )َُ ُْ٘ى ُْ٘عْفٍَ
untuk jamak mudzakar 55. 4 )ٌحَى ُْ٘عْفٍَ
untuk mufrod mu’anats6 )
ٌخ َلا ُْ٘عْفٍَ
untuk jamak mu’anats 7 )ٌوِْٞعاَفٍَ
untuk shighot muntahal jumu’ْوـ ِ َِّْْٜٖىا ِشٍَْ ْلااِت ٍذـْٞـِم َْ٘ذ َُ٘ـُّ َٗ
ْو ِصَذَلا ٍُ٘ـُنُع ْعـٍَ ٍّ ـ ِخ َخاَر َٗ
56. Fi’il amar dan fi’il nahi baik hadlir atau ghoib yang mabni ma’lum atau majhul itu bias diberi
nun taukid tsaqilah ( yang ditasydid ) atau nun taukid khofifah ( yang disukun ) ,namun untuk amar dan nahi yang tasniyah dan jama’ inats itu tidak boleh bertemu dengan nun taukid khofifah seperti
َُّ َشُصَِْْٞى
,َُّ َشُصُّْا
,َُّ َشُصَْْٝ َلا
,َُّ َشُصَْْذ َلا
,ُْ َشُصُّْا
,ُْ َشُصَْْذ َلا
ِ ِاا َوَفلْا يِ لٌلْ َ
ًْ ِضـَىاٍَِّذـَع ِ ْٞـِعـْعَّرىا َٗ ِضـَْـَْٖىاِت
ٌْــِع ُٗ اـًٞـِشَلاُش ُِْا ٍّشـَظ ِف ْشـَؼ َٗ
FASAL MENERANGKAN TENTANG FAWAID ( BEBERAPA FAIDAH )
57. Fi’il tsulasi mujarrod yang lazim itu bisa dijadikan muta’adi dengan 3 cara yaitu :
1 ) Di muta’adikan dengan menambahhamzah naqol seperti
ا ًشْنَت ٌذْٝ َص ًَ َشْمَا
asalnyaٌذْٝ َص ًَ ُشَم
2 ) Di muta’adikan dengan menambah tasydid sepertiاًذِىاَخ ٌذْٝ َص َغ َّشَف
asalnyaٌذْٝ َص َغ ِشَف
3 ) Di muta’adikan dengan huruf jer sepertiٍشََْعِت ٌذْٝ َص َةََٕر
asalnyaٌذْٝ َص َةََٕر
ا َشَّخَأَذ اََِت ِّذَع ُٓ َشَْٞ َٗ
ٙ َشُٝاًٍ ِصَلاَف اََٖرْفَزَؼ ُِْا َٗ
58. Adapun fi’il lazim dari selain fi’il tsulasi mujarrod itu hanya bisa dimuta’adikan dengan huruf
jer seperti
ٍذِىاَخِت ٌذْٝ َص َ َيَطِّْا
asalnyaٌذْٝ َص َ َيَطِّْا
dan jikaِحَِٝذْعَّرىا ُخا ََٗدَا
( alat untuk memuta’adikan ) itu dibuang maka fi’ilnya menjadi lazim kembali sepertiًَ ُشَم
,
َةََٕر
,
َ َيَطِّْا
َلاــَعاـَف َِِْٝر َشـٍْا ٍِِِ ٍسِداـَصِى
َلاـَذاـَقاًذــْٝ َص ُٔـَىِلااَم َّوــَقٗ
59. Fi’il tsulasi mazid ruba’i yang ikut wazan
َوَعاَف
itu yang banyak berfaidahَِِْْْٞشا ََِْٞت ْحَم َساَشٍُ
(musyarokah bainas naini )seperti
ا ًشََْع ٌذْٝ َص َب َساَظ
dan sedikit yang tidak berfaidahْحَم َساَشٍُ
َِِْْْٞشا ََِْٞت
( musyarokah bainas naini ) sepertiاًذْٝ َص َُٔى ِلاْا َوَذاَق
َلاـَعاَفَذ ٍذــتا َص ْٗا اََـَُٖى َٗ
60
لاَظ ٍعـِقا َٗ ِشْٞـِلِى ٚـَذَا ْذــَق َٗ
60. Fi’il yang ikut wazan
َوَعاَفَذ
itu yang banyakَشَصْمَاَف َِِْْْٞشا ََِْٞت ْحَم َساَشٍُ
( satu pekerjaan yangdilakukan oleh oleh dua orang atau lebih ) seperti
ًُ َْ٘قىْا َػَىاَصَذ
,
ٌشْنَت َٗ ٌشََْع ٌذْٝ َص َب َساَعَذ
dan terkadang berfaidahِعِقا َ٘ىْا ِٚف َظَْٞى اٍَ ُساَْٖظِا
( menampakkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi atau pura-pura ) sepertiٌذْٝ َص َض َساَََذ
ُِْا َءاَغ هاـَعـِرْفِلاا ءاـَرِى ْهِذــْتا َٗ
61. Fi’il tsulasi mazid khumasi yang ikut wazan
َوَعَرْفِا
itu apabila fa’ fi’ilnya itu berupa huruf ithbaq( shod,dlod,tho’ dan dho’ ) maka ta’
َوَعَرْفِا
nya harus diganti dengan tho’ seperti,
َب َشَطْظِا
َشََٖطْغِا َشَثَطْ ِا
,
danَشَٕ
َعْظ
ِا
asalnya,
َشََٖرْغِا َشَثَرْ ِا
,
َب َشَرْظِا
danَشَٕ
َدْظ
ِا
ُِْنــَذ اًٝا َص ُِْا ًلااَد ُشـْٞ ِصَذ اََم
ِْــُ ِساَظِد ْصِلااَم ًلااَر ْٗا ًلاَد َْٗا
62. Fi’il yang ikut wazan
َوَعَرْفِا
jika fa’ fi’ilnya za’,dzal dan dal( )
ص
,
ر
,
د
maka ta’َوَعَرْفِا
nya harusdiganti dengan dal seperti
َٚعَّدِا
,
َشَمَدْرِا
,
َشَظَد ْصِا
asalnyaَٚعَذْدِا
,
َشَنَذْرِا
,
َشَعَذ ْصِا
َِْنــَعاَٝ ِهاَعِرْفِلاْااَف ِْــُنَذ ُِْا َٗ
ِْـََِ ْدا َٗاَذ ُْ َشِّٞـَ اـَش َْٗا ا ًٗا َٗ َْٗا
63. Dan jika fi’il yang ikut wazan
َوَعَرْفِا
itu fa’ fi’ilnya berupa ya’,wawu atau tsa’ٛ
,
ٗ
,
ز
(
)
yangmati maka fa’ fi’ilnya harus diganti dengan ta’ kemudian ta’ tersebut harus diidghomkan pada ta’ ifti’alnya seperti
َوَصَّذِا
,
َشَغَّذِا
,
َشَلَّشِا
asalnyaَوَصَذ ِْٗا
,
َشَغَرِْٝا
,
َشَلَرْشِا
ٌَْْـَذ ْوـَٕ اًغـْٝ َُٗا ٍَِْ ٍذـٝ َضِت ٌْـُنْؼا َٗ
ٌْـَذ ًُا َشََْىا ِٛزـِت ُِْا ِزَلاَّصىا َو َْ٘ف
64. Huruf zaidah ( tambahan ) itu ada 10 yaitu
ر
,
ٗ
,
ٛ
,
ط
,
,ا
ـٕ
,
ه
,
خ
,
ُ
,
ً
( hamzah,wawu,ya’,sin,alif,ha’,lam,ta’,nun dan mim ) yang terkumpul dalam lafadh
ٌََْْذ ْوَٕ ًاغْٝ َُٗا
dengan syarat berada pada kalimah yang huruf asalnya ada 3 atau lebih dan kalimah tersebut sudah mempunyai makna yang sempurna sebelum dimasuki huruf ziyadah tersebut sepertiًَ َشْمَا
,
َوَذاَق
,
َشَغَنِّْا
اَذــَعاٍَ ِّذــَع ِٜعاَت ُّشىا َةِىاَ َٗ
65
َٙذـَرــْٕا َطَت ْسَذَم َِْغِنْعاَف َوَيْعَف
65. Fi’il ruba’i baik ruba’i mujarrod ,ruba’i mulhaq atau tsulasi mazid ruba’i itu yang banyak adalah
muta’adi kecuali yang ikut wazan
َوَيْعَف
maka yang banyak adalah lazim sepertiٌذْٝ َص َطَت ْسَد
ْوَعَرْفا َّلاا ًٌ ِصَلا ِٜعاََُخْىا ُّوُم
ْوَََرْؼاِذَق َلاَعاَفَذ ْٗا وَّعَفَذ
66. Semua fi’il khumasi baik tsulasi mazid khumasi atau ruba’i mazid khumasi itu yang banyak
berlaku lazim kecuali yang ikut
َوَعَرْفِا
,
َوَّعَفَذ
danَوَعاَفَذ
maka ada yang lazim dan muta’adiَلاَعْفَرْعا ِباَت َشَْٞ ِٜعاَذُّغىااَزَم
َلا ِ ٍهُ٘عْفََِت َٙذّْ َشْ ا َٗ َٙذّْ َشْعاٗ
67. Begitu juga berlaku lazim semua fi’il sudasi baik tsulasi mazid sudasi atau ruba’i mazid sudasi
kecuali yang ikut wazan
َوَعْفَرْعِا
maka ada yang muta’adi dan ada yang lazim serta dikecualikan lagi lafadhَٙذّْ َشْعِا
yang menunjukkan artiَةَيَ
( mengalahkan ) dan lafadhَٙذّْ َشْ ِا
yang menunjukkan artiَشََٖق
( memaksa ) maka harus dimuta’adikan maf’ul satuُحَعْثَع ٍُاـَعٍَ ٍهاَعْفِا ِضََِْٖى
ج َشْــصَم َٗ ٌج َسٗ ُشَْٞ ٌحَِٝذْعَذ
ُُاَذـْظِٗ ٌحـَىا َصِا ٌحَّ َُْْْ٘ٞؼ
ُُاــََٞثْىااَزــّف ٌطْٝ ِشــْعَذ َكاَزـَم
1) حٝذعذ(Ta’diyah) 2)
جسٗشٞ
(Shoiruroh) 3)جشصم
(Katsroh) 69. 4)حّْ٘ٞؼ
(Haenunah) 6 )ُاذظٗ
( Wijdan ) 5)حىاصا
(Izalah)7)
طٝشعذ
(Ta’ridl)ُِاــَعٍَاَظ ِهاَعْفِرْعِ ْلاا ِِِْٞغِى
70
ُِاَذــْظِٗ ٍج َسٗ ُشَْٞ ٍةَيَطِى
ٌُِْٞيـْغَّرىا َُٓذـْعـَت ٌداَقـِرْعا اَزــَم
ٌُْٝ ِشَنْىا َشَثْخَرْعاَم ٌُْٖـُىاَإُع
70. Syin wazanَوَعْفَرْعِا
itu mempunyai 6 arti yaitu :71. 1)
ةيغ
( Tholab ) 3)ُاذظٗ
( Wijdan ) 5)ٌٞيغذ
( Taslim )2)
جسٗشٞ
(Shoiruroh) 4)داقرعا ( I’tiqod ) 6) هاإع
( Su’al )اٍَِٖاَنْؼَا َٗ ِحَيِّعىْا ِف ْٗ ُشُؼ ِٚف ٌوْصَف
ِحَّيـِعـْىا ُفٗ ُشُؼ َٜـِٕ ٍٛا َٗ ُفُٗشُؼ
جَداـــَٝ ِّضىا َٗ ُِِّْٞيىا ٌَّـُش ِّذــََْىا َٗ
FASAL MENERANGKAN HURUF ILAT DAN HUKUM-HUKUMNYA 72. Huruf-huruf yang terdapat dalam
ٙاٗ
itu dalam istilah shorof disebut :1) Huruf حّيع ( ilat ) 3) Huruf ذٍ ( mad )
2) Huruf
ِٞى
( len ) 4) Hurufجداٝص
( ziyadah )ْػَرَرْفا ٜ ِظاََْىا اَٖـ ِعْعـَثِت ُِْنَٝ ُِْاَف
ْػَظ ََ٘م َلااَصٍِ ًّلاَرـْعٍُ ٌِّـَغَف
73. Setiap fi’il madli yang fa’ fi’ilnya berupa salah satu dari huruf-huruf tersebut (
ٙاٗ
) itu disebutfi’il bina’ mu’tal,kalau berupa wawu maka disebut fi’il bina’ mu’tal fa’ wawi seperti
َػَظ َٗ
dan kalau berupa ya’ maka disebut fi’il bina’ mu’tal fa’ ya’i sepertiَشَغَٝ
ٌْـِرـُرْخا ُِِا ا َضَلـَم ْوُق اًصـِقاَّ َٗ
ٌْـِيُع اًف٘ـْظا ِٔـِف ْ٘ـَعِت ُِْا َٗ ِٔـِت
74. Fi’il bina’ naqish adalah tiap-tiap fi’il yang lam fi’ilnya ( huruf akhir ) berupa huruf ilat ( ٙاٗ )
kalau berupa huruf ilat wawu disebut fi’il bina’ naqish wawi seperti
ا َضَ
asalnyaَٗ َضَ
, kalau berupa huruf ilat ya’ disebut fi’il bina’ naqish ya’i sepertiَٚشٍَ
asalnyaََٚشٍَ
,sedangkan fi’il bina’ ajwaf adalah tiap-tiap fi’il yang a’in fi’ilnya ( huruf tengah ) berupa huruf ilat ( ٙاٗ ) kalau berupa huruf ilat wawu disebut fi’il bina’ ajwaf wawi sepertiَهاَق
asalnyaَه ََ٘ق
, kalau berupa huruf ilat ya’ disebut fi’il bina’ ajwaf ya’i sepertiَعاَت
asalnyaَعََٞت
ُِْا ٌِّـَع ٍُا َشِرْقا ِٛر ٍ ـِْٞفـَيِت َٗ
75
ِِْثـَرْغَذ ًٍَلاَم اَٖـٍِْْ ُٔـَى ٌَِْٞع
75. Fi’il madli yang a’in dan lam fi’ilnya berupa huruf ilat itu disebut fi’il bina’ lafif maqrun seperti
,
ٙ ََ٘ش ََِٛ٘ق
ًَُلا َٗ ُٔـَى ٌءاَف ِْــُنَذ ُِْا َٗ
ًَُلاـُلْىا َٚف ََ٘م ٍوا َشـِرـْفاُٗزـَف
76. Sedangkan apabila fa’ fi’il dan lam fi’ilnya berupa huruf ilat itu disebut fi’il bina’ lafif mafruq
seperti
َٚق َٗ
,
َٚف َٗ
اَفـُفْما ُذْٝ َصاَٝ ِْ٘ؽَّ َْٜيـْصَِِى ٌْـِ ْدا َٗ
اَفَعاَعَُْىا َِِّٔـَع َٗ ْوُق َّ ــُنَف
77. Apabila ada fi’il yang a’in dan lam fi’ilnya terdiri dari huruf sejenis maka huruf yang pertama
harus diidghomkan pada huruf yang kedua ( diganti dengan tasydid ) dan disebut fi’il bina’ mudlo’af
ْوَِـَرْشا َضَْـَْٖىا َٚيَع ِٛزـَّىا ُص٘ـَُـٍَْٖ
ْوـَفَااٍَ َوْثَق َهَأَعا َشـَق ُْ٘ؽَّ
78. Fi’il bina’ mahmuj adalah tiap-tiap fi’il madli yang fa’,a’in dan lam fi’ilnya berupa hamzah
kalau fa’ fi’ilnya berupa hamzah maka disebut mahmuj fa’ , kalau a’in fi’ilnya berupa hamzah maka disebut mahmuj a’in dan kalau lam fi’ilnya berupa hamzah maka disebut mahmuj lam seperti
َوَفَر
,
َهَأَع
,
َر َشَق
ْشــِمُر ِٛزَّىا اَذـَعاٍَ ُػْٞ ِؽَّصىا ٌَّـُش
ْشـِفُ َُٔى ِْـَََم ٜـِّت َس اـََْى ْشـِفْ اَم
79. Selain bina’ tersebut diatas ( mitsal,ajwaf,naqish,lafif,mahmuj dan mudlo’af ) itu disebut bina’
shohih yaitu tiap-tiap fi’il madli yang fa’,a’in dan lam fi’ilnya tidak berupa huruf ilat,tidak berupa hamzah serta a’in dan lam fi’ilnya tidak berupa huruf yang sejenis seperti
َشَفَ
,
َػَرَف
,
َب َشَظ
ِ ْوُلْ َلْلا َ ِ َا َ ُلْلا َ ِ رَّلاَ ْعُلْلا ُب َب
اَفـِىَا ْةـِيْقااَم ِّشـُؼ اــَٝ َْٗا ا ُٗا َٗ َٗ
80
َٚفـَم ِٛزَّىا ا َضـَلَم ٍػـْرَف ِذـْعَت ٍِِْ
BAB FI’IL MU’TAL,MUDLO’AF DAN MAHMUJ
80. Kalau ada wawu atau ya’ yang hidup berada setelah harokat fathah maka harus diganti dengan
alif seperti
ا َضَ
,
َٚفَم
asalnyaَٗ َضَ
,
ََٚفَم
ْخ َضـَ اَزـَم اَذ َضـَ َٗا َٗ َضـَ ٌَّـُش
81. Fi’il bina’ naqish wawi dan ya’i yang bertemu dengan wau jama’ atau ta’ ta’nits sakinah itu alif
yang gantian dari wawu atau ya’ harus dibuang karena bertemu dua huruf yang mati seperti
ا ْٗ َضَ
asalnyaا ْٗا َضَ
dariْخ َضَ ا ْٗ َٗ َضَ
,
asalnyaْخا َضَ
dariْخ َٗ َضَ
,
اَذ َضَ
asalnyaاَذا َضَ
dariاَذ َٗ َضَ
ِٜفَرـٍُْْ ِزاـَِّ ْلاا ِعـََْظ ِٜف ُةـْيَقْىا َٗ
ِ ـَرـْقاَف َخ ْٗ َضـَ اَزـَم ا َٗ َضـَ َٗ
82. Fi’il bina’ naqish tersebut baik wawi atau ya’i jika bertemu dengan nun jama’ inats ,alif tasniyah
dan dlomir ( muttakalim,mukhotob atau mukhotobah ) maka wawu atau ya’ tersebut itu tidak diganti alif seperti
َُ ْٗ َضَ
/ٍََِْٞ َس
,ا َٗ َضَ
/َاٍَٞ َس
,ِ ُخ ْٗ َضَ
/ِ ُدٍَْٞ َس
اٍَ َهاَم َهاَقـَم ٍف َْ٘ظَ ِلا ْةُغّْا َٗ
ََٚـَرّْاِذـَق َٚفـَم ٌَّـُشا َضـَلـَنِى
83. Wawu dan ya’ yang hidup berada pada fi’il bina’ ajwaf serta berada setelah harokat fathah itu
seperti yang berada pada fi’il bina’ naqish yakni harus diganti alif seperti
َهاَق
,
َهاَم
asalnyaَوََٞم
,
َه ََ٘ق
َْٗا َِْيـُق ٍِِْ اًفـِىَا ْفِزـْؼا ِخ َضـَلَم
ا ْٗ َٗ َس إَ ِشْغَم َٗ اَف ٌَّـَعِت َِـْيِم
84. Fi’il bina’ ajwaf itu apabila disandarkan pada nun jama’ inats maka alifnya yang gantian dari
wawu atau ya’ itu harus dibuang sebagaimana alifnya fi’il bina’ naqish ketika disandarkan ( bertemu ) dengan ta’ ta’nits sakinah kemudian fa’ fi’il bina’ ajwaf tersebut didlomah jika berupa ajwaf wawi seperti
ََُِْق
asalnyaٍَِْ ََ٘ق
dan dikasroh jika berupa bina’ ajwaf yai sepertiَُ ْشِع
asalnyaَُ ْشََٞع
ْشَغَنّْاِذـَق اَٖـَيْثَقاٍَ ُِْا ُءاَْٞىا َٗ
85
ْس َشـَّعيِى ُدِْٞشَخ ُُٔىاـَصٍِ ِ ْتاَف
ِشِّٞـَصَف اَُِّٖ٘نُع ْعٍَ ٌَّـُظ َْٗا
ِشِغَُْٞٞم ِٜف ُشـِع ُْ٘ٝ ْوـُقـَف ًٗا َٗ
85. Kalau ada ya’ mati atau hidup berada setelah harokat kasroh maka harus ditetapkan ( tidak
diganti dengan alif ) seperti
َُّٔت َس ٌذَََّؽٍُ َِٚشَخ
,
ِّٚت َس ُدِْٞشَخ
86. Kalau ya’ tersebut mati dan berada setelah harokat dlomah maka harus diganti dengan wawu
seperti
ُشِع ُْ٘ٝ
,
ُِِق ُْ٘ٝ
asalnyaُشِغُْٞٝ
,
ُِِقُْٞٝ
ْشـ ِصَذ ُِْنْغَذ ُِْا ِشْغَم َشـْشِاا ًٗا َٗ َٗ
ْسُِ٘ظ ِٜف ٍوْقَّ َذـْعَت َشْٞ ِعَم ًءاَٝ
87. Apabila ada wawu mati yang berada setelah harokat kasroh maka harus diganti dengan ya’
seperti
َشْٞ ِظ
asalnyaَس ْ٘ ِظ
ْحََْيِم ًَُلا َْٜٕ َٗ ْك َّشـَؽُذ ُِْا َٗ
ْج َٗاـَثَلْىا ٍَِِ ِٜثَ ْوـُقـَف اَزــَم
88. Apabila ada wawu hidup menjadi lam fi’il yang berada setelah harokat kasroh maka harus
ْةـِقَع ُِْاٍٗا َ٘ـَماَِٞى ٌحَم َشَؼ
ْة ِعَٝ اَٖـُيْقـََْف اًْـِماَع َّػـَ اٍَ
ٌُْش ُوْٞـِنَٝ َْٗا ُه ْ٘ـُقَٝ اَر ُهاَصٍِ
90
ٌْـُقَذ ٍٗا َٗ َِْع ُ ِىَ ْلاا َٗ ُفاَخَٝ
89. Apabila ada wawu atau ya’ hidup sedangkan huruf sebelumnya berupa huruf shohih yang mati
maka harokatnya wawu atau ya’ tersebut harus dipindahkan pada huruf shohih yang mati tersebut,kemudian kalau yang dipindah itu harokat fathah maka wawu atau ya’ tersebut harus diganti dengan alif
90. Seperti
,
ُوِْٞنَٝ ُه ُْ٘قَٝ
asalnyaُه ُْ٘قَٝ
,
ُوِْٞنَٝ
dan,
ُباََٖٝ ُفاَخَٝ
asalnya,
ُةََْٖٞٝ ُف َْ٘خَٝ
ْف َشـَغ ِٜف َِِْٞم َّشـَؽٍُ اََـُٕ ُِْا َٗ
ْ َؽُذ ِِّْنَع ْة ِصَرَْْٝ ٌَْى ٍع ِساَعٍُ
اَفَع ِْـٍِ َْٗا ٍَٚ َس ِْـٍِاَظ ِٛزـَّىا َْ٘ؽَّ
اَفـِىَا ْةِيْقا اَر ءاـَٝ َٗ ِٜشَخ ِْـٍِ َْٗا
91. Apabila ada wawu atau ya’ berharokat dlomah yang dibaca rofa’ dan berada diakhir fi’il
mudlori’ ( menjadi lam fi’il ) maka harus disukun karena dianggap beratnya dlomah pada wawu atau ya’ tersebut
92. Seperti
,
ُْ٘فْعَٝ
,
َٚشْخَٝ ٍِٚ ْشَٝ
asalnya,
ُُ٘فْعَٝ
,
َُٚشْخَٝ ٍُِٚ ْشَٝ
حَِْْٞصَّرىاَلا ِِٔعََْظ ِٜف اََـُْٖفِزـْؼا َٗ
حَِٝ٘ـَرْغٍُ اَزـِت َِْٝ ِضْلـَرَماٍَ َٗ
93. Fi’il mudlori’ yang akhirnya ( lam fi’il ) berupa wawu atau ya’ itu apabila bertemu dengan wawu
jama’ atau ya’ mu’anats mukhothobah maka wawu atau ya’ tersebut harus dibuang seperti
َِْٝ ِضْلَذ
,
َُ ُْ٘شََْٝ
,
َُ ْٗ ُضْلَٝ
danَِِْٞشََْذ
asalnyaَُ ْٗ ُٗ ُضْلَٝ
,
َُ ُِْ٘ٞشََْٝ
,
َِِْٝٗ ُضْلَذ
danَِِِْٞٞشََْذ
Sedangkan jika bertemu dengan alif tasniyah maka tidak boleh dibuang akan tetapi harus diharokati fathah seperti seperti
َُا َٗ ُضْلَٝ
,
َُاَِٞشََْٝ
َلاِتاَق ْوُق ٍف َْ٘ظا ٍوـِعاَف ٌِْعا ِٜف َٗ
َلاــَذاٍَ ِضــََْٕ َٗ ٍذــْٝ َص ِ ِىَأِت
94. Apabila wawu atau ya’ nya isim fa’il dari bina’ ajwaf yang berada setelah alif zaidah ( tambahan
) maka harus diganti dengan hamzah seperti
ٌٌِتاَّ
,
ٌشِتاَع
,
ٌوِتاَق
asalnyaًٌِٗاَّ
,
ٌشِٝاَع
,
ٌهِٗاَق
ْة ِصَرَْْٝ ٌَْى ُِْا ٍصاَ ْوُق ٍصِقاَّ ِٜف
95
ْة ِعَٝ ِِٔتاـَٝ ُفْزــَؼ َٗ ْهَأِتَلا َٗ
95. Ya’nya isim fa’il dari bina’ naqish yang tidak dibaca nashob ( dibaca rofa’ atau jer ) dan
tidakbersamaan dengan al
)
ْهَا
(
itu harus dibuang sepertiًٍا َس
,
ٍصاَ
asalnyaٌٍِٚا َس
,
ٌٗ ِصاَ
,
ٍصاَلِت ُخ ْس َشٍَ
,
ًٍا َشِت ُخ ْس َشٍَ
asalnyaٍٍِٚا َشِت ُخ ْس َشٍَ
,
ٍٗ ِصاَلِت ُخ ْس َشٍَ
Adapun jika dibaca nashob atau bersamaan dengan al maka harus ditetapkan seperti
َءاَظ
ٚ ٍِا َّشىا
,
ٙ ِصاَلْىا َءاَظ
,
اًٝ ِصاَ ُدَْٝا َس
,
اًٍِٞا َس ُدَْٝا َس
اَزـُخ ٍه٘ـُعـْفٍَ ٌَْعِا ٍه ْ٘ـُقَََم َٗ
اَر َءاَف ْشِغْما َٗ ِوِْٞنََْىاَم ِوـْقـَّْىاِت
96. Harokatnya wawu atau ya’ isim maf’ul dari bina’ ajwaf itu harus dipindahkan pada huruf shohih
dibuang itu huruf ya’ lalu maf’ulnya dibuang karena bertemunya dua huruf yang mati dalam satu kalimah seperti
ٌوِْٞنٍَ
asalnyaٌه ُْْ٘ٞنٍَ
اََـِ ْدَا اًَـْرَؼِّٗ ُضـْلََْىا َِٜيـْصٍِ َٗ
اٍَِّذـُق ٍةـْيَق َذـْعَت ِٜشْخٍَ َكاَزـَم
97. Apabila ada dua wawu atau dua ya’ yang berkumpul pada isim maf’ulnya bina’ naqish
,sedangkan huruf yang pertama mati dan yang kedua maka huruf yang pertama harus diidghomkan pada huruf yang kedua seperti
ٌّٗ ُضْلٍَ
danٌِّٚشْخٍَ
asalnyaٌٗ ْٗ ُضْلٍَ
danٌْٜىِشْخٍَ
ِف َ٘ـــْظَا ِْـٍِ َٚذَا ٍةِتاَ ُشٍَْا َٗ
ِٜفــَخ ُشَْٞ ُُٔيـْ َا َٗ ْوـُقـَِٞيَم
98. Harokatnya wawu atau ya’ dalam fi’il amar hadlir dari bina’ ajwaf itu harus dipindah pada huruf
shohih sebelumnya yang mati,lalu wawu atau ya’ yang mati tersebut dibuang karena berkumpulnya dua huruf yang mati dalam satu kalimah seperti
ْوُقَِٞى
danْوََِِٞى
asalnyaْه ُْ٘قَِٞى
danْوََِِْٞٞى
ِوْقـَّْىاِت ْوـُقـَم ُٔـٍِْْ ٌةَغاَخٍُ
ِوْ َ ْلاا َِِْٞع َٗ ِٓ ِضََْٕ َفْزـَؼ َٗ
99. Begitu juga harokatnya wawu atau ya’ pada fi’il amar hadlir dari fi’il bina’ ajwaf itu harus
dipindah pada huruf shohih sebelumnya yang mati dengan membuang hamzah washol karena sudah tidak dibutuhkan lagi , lalu wawu atau ya’ tersebut yang menjadi a’in fi’il harus dibuang karena bertemunya dua huruf yang mati dalam satu kalimah seperti
ْوُق
asalnyaْه ُْ٘قُا
ًْ ِضــَرْىا َٗ َلا ْ٘ــُقَم َٚيَع ِِّْٔــَش َٗ
100
ٌِْرـَُْيـِى اـًفْزـَؼ َِِْٝر ِْٜف ٍصِقاَّ ٍِِْ
100.Wawu atau ya’ yang dibuang dalam fi’il amar hadlir dan amar ghoib dari bina’ ajwaf tersebut harus dikembalikan lagi jika menunjukkan tasniyah atau jama’ mudzakar seperti
ا ُْ٘ى ُْ٘قَِٞى
,
َلا ُْ٘قَِٞى
,
ا ُْ٘ى ُْ٘ق
,
َلا ُْ٘ق
Sedangkan wawu,ya’ atau alif yang menjadi huruf akhir fi’il amar hadlir atau amar ghoib dari fi’il bina’ naqish mufrod itu harus dibuang seperti
,
ًِ ْشَِٞى ُضْلَِٞى
danَ ْخَِٞى
asalnyaْٗ ُضْلَِٞى
ٚ ٍِ ْشَِٞى
,
danَٚشْخَِٞى
( Ghoib ),
ًِ ْسِا ُضْ ُا
danَ ْخِا
asalnya,
ٚ ٍِ ْسِا ْٗ ُضْ ُا
danَٚشْخِا
( Hadlir )ِوَثـْقـَرْغٍُ ِْٜف ِّوـَرْعَُْىااَف َفْزـَؼ َٗ
ِٜيـَظ ٌَْيْعـُذ َٚرٍَ ٍٜـََّْٖٗا ٍشـٍَْا َٗ
101.Fa’ fi’ilnya fi’il bina’ mu’tal mitsal wawi pada fi’il mudlori’,amar atau nahi ( hadlir atau ghoib ) dari bab
,
َذَع َٗ َةَٕ َٗ
danَز ِس َٗ
yaitu ikut wazanَوَعَف
-
ُوَعْفَٝ
َذـَع ََ٘م ْٗا َةـَٕ َ٘ــَماٍَ ٍباَـثِت
َد َس َٗ ْذـَق اٍَ َّوـُق َٗ ْد ِص َز ِس َٗ
102.
َوَعَف
-
ُوِعْفَٝ
danَوِعَف
-
ُوِعْفَٝ
itu harus dibuang juga babَعِع َٗ
yaitu yang ikut wazanَوِعَف
-
ُوِعْفَٝ
akan tetapi sedikitٌِْـنُؼ ْذـَق ٍذـْٞـَقِتَلا ُ ـِْٞفيَّىا ٌَُّش
ٌِْيـُع ٍصَقاَِْىاـََِت ِٔـٍَِلاِى
103. Lam fi’ilnya ( huruf akhir ) fi’il mudlori’ yang dijazmkan ,fi’il amar dan fi’il nahi dari bina’ lafif maqrun atau lafif mafruq itu seperti lam fi’ilnya fi’il bina’ naqish yaitu harus dibuang seperti
ٌَْى
ِْ٘غِا ِْ٘طَٝ
,
danِْ٘طَذَلا
asalnya,
ِْٙ٘غِا ِْٙ٘طَٝ ٌَْى
danِْ٘طَذَلا ٙ
( Lafif maqrun ),
ِو ِ َٝ ٌَْى
,
danِ َذَلا
asalnya,
ِٚق ِْٗا ِٚقَٝ ٌى
danِٚقَذَلا
( Lafif maqrun )ُْ ِشـُقاٍَ َِِْٞعِى ٌْـُنْؼا ِػْٞ ِؽَّصىاَم َْٗا
ِْـِم ُص ٍّوــَرْعََُم ٍوٗ ُشْفٍَ ُءاـَف َٗ
104.A’in fi’ilnya bina’ lafif maqrun itu seperti a’in fi’ilnya bina’ shohih yaitu tidak dirubah dan tidak dibuang seperti
ِْ٘شِا
,
ِْ٘شَٝ ٌَْى
(lafif maqrun) sebagaimanaْب ِشْظِا
,
ْب ِشْعََٝلا
( bina’ Shohih ) Sedangkan fa’ fi’ilnya bina’ lafif mafruq itu hukumnya seperti fa’ fi’ilnya bina’ mu’tal mitsal wawi yakni harus dibuang pada fi’il mudlori’,fi’il amar danfi’il nahi yang ikut wazan-
ُوِعْفَٝ
,
َوَعَف
,
ُوَعْفَٝ
ُوِعْفَٝ َوَعَف
َوِعَف
sepertiَٚق َٗ
-
ِٚقَٝ
,
َٚى َٗ
-
ِٚيَٝ
,
َ ٍِ َٗ
-
ُ ََِٝ
( lafif Mafruq )ُز ِشَٝ
َز ِس َٗ
,
ُذِعَٝ
َذَع َٗ
,
ُعَعَٝ
َعَظ َٗ
( Mitsal wawi ) sedangkan yang ikut wazanَوِعَف
-
ُوَعْفَٝ
maka tidak dibuang seperti
َٚ ِظ َٗ
-
َٚظ َْ٘ٝ
sebagaimanaَو ِظ َٗ
-
ُوَظ َْ٘ٝ
( bina’ Shohih )اـَِٞق ِْٜق َٗ ِْٔق ِد ْشـَفْيِى اَر ُشٍَْا َٗ
105
اـَٞـِرْتا ِعَْـَعْيِى َِِْٞق َٗ ا ُْ٘ق ِِــَْْْٞشِلا
105.Tashrifannya fi’il amar hadlir dari bina’ lafif mafruq ialah
ِْٔق
,
اَِٞق
,
ُْ٘ق
,
ِٚق
,
اَِٞق
,
َِِْٞق
yakni hamzah washol dan fa’ fi’ilnya fi’il amar hadlir dari bina’ mitsal wawi yang ikut wazan,
َوَعَف
-
ُوِعْفَٝ
,
ُوَعْفَٝ
ُوِعْفَٝ َوَعَف
َوِعَف
perinciannya sebagai berikutِٚق
)
سّإَىا جدشفَيى
(
ِْٔق
)
شمزَىا دشفَيى
(
,
(
شمزَىا عَعى
)
ُْ٘ق
,
(
سّإَىاٗ شمزَىا ْٚصَيى
)
اَِٞق
(
سّإَىا عَعى
)
َِِْٞق
,
ِْ ٍِ َّذــٍَ َْٗاا ًسَذـْصٍَ ٍّذَََم اٍَ َٗ
ِْـ َِـُق ًٍاـَ ْدِاــِت َ٘ـَُٖف ٍ َعاَعٍُ
106.Apabila ada lafadh yang a’in dan lam fi’ilnya berupa huruf yang sama,sedangkan huruf yang pertama mati dan yang kedua hidup atau hidup keduanya maka huruf yang pertama harus diidghomkan pada huruf yang kedua seperti
َّذٍَ
danٌّذٍَ
asalnyaَدَذٍَ
danٌدْذٍَ
ِشِْٖظاَف اَّْدَذــٍَ َْٗا َُْدَذــَََم َْٗا
ِس ِشْفاَم ْصِّ٘ــَظ َّذــََُٝ ٌْـَيـَم ِٜف َٗ
107.Akan tetapi kalau a’in fi’ilnya yang hidup sedangkan lam fi’ilnya mati maka tidak boleh diidghomkan yakni harus dibaca idhar seperti
َوْثَؽْىا ُخْدَذٍَ
danَوْثَؽْىا َُْدَذٍَ
dan apabila matinya lam fi’ilnya tersebut ( huruf yang kedua ) karena jazm baik untuk fi’il amar atau fi’il mudlori’ yang dijazemkan maka boleh idghom dan boleh idharَّذٍُ
/,
َّشِفَٝ ٌَْى ْدُذٍُْا
/ْس ِشْفَٝ ٌَْى
َٚرٍَ ُٓ َضـََْٕ ْهِذـْتا ُص َُْ٘ــٍَْٖ
َِْم ُشـْذاَِٗا ٍحـَم َشَؼ َٚعـَرْقـَُِت َِْنـَع
ا ُْْ٘ـٍِ ُْ٘ٝ َُْزـْتا ُوـُمْأـَٞـَم
. . . .
108.Hamzahnya fi’il bina’ mahmuj itu apabila mati ( disukun ) maka boleh diganti huruf mad yang sesuai dengan harokat huruf sebelumnya yaitu kalau harokat huruf sebelumnya fathah maka hamzah tersebut diganti alif
109.kalau dlomah maka hamzah tersebut diganti wawu dan kalau kasroh maka hamzah diganti dengan ya’ dan jugaboleh ditetapkan ( tidak diganti ) seperti
,
َُ ٍُِْْ٘ ُْ٘ٝ ُوُماَٝ
danَُْزِْٝئ
asalnyaَُ ٍُِْْ٘ ْإُٝ ُوُمْأَٝ
,
danَُْزْتِئ
. . . .
َٚرٍَ ْك ُشـْذا َٗ
ٚـَذَا اَزـَم ٌ ِتاَع َٗ ُٔـَرْم َّشـَؼ
ْػَقـَف َ٘ـُٕ ِّشــَؽـُٝ ُِْا َٗ ا َشـَق َ٘ـْؽَّ
110
ْػَثَعّْااَََم ْض ِظَا ْوـَع َٗ اَزـَم ْهَأْعاَم
110.Apabila hamzah fi’il bina’ mahmuj tersebut hidup dan huruf sebelumnya juga hidup maka tidak boleh diganti huruf mad seperti
َر َشَق
danَهَأَع
akan tetapi kalau huruf sebelumnya mati maka hamzah boleh diganti huruf mad dan boleh ditetapkan sepertiْوَع
dan َهَأْعِاْظِقَذَلا ْوُم ْشٍُ َٗ ْزـُخ ِضـََْٕ َفْزـَؼ َٗ
ْظِق َٗ ْف ِّشَ ُٓ َشَْٞ ِػْٞ ٍؽَّصىاَم َٗ
111.Membuang hamzahnya fi’il bina’ mahmuj yang berada pada fi’il amar seperti lafadh
,
ْشٍُ ْزُخ
dan
ْوُم
itu hukumnya syad yaitu tidak sesuai dengan qoidah yang berlaku,adapun tashrifannyafi’il selain fi’il bina’ shohih sebagaimana bina’ mitsal,ajwaf,naqish,mahmuj,mudlo’af dan lafif itu seperti tasyrifannya bina’ shohih
ِد ُْ٘صْقََْىا ٍَِِ اٍَْْ ُساٍَ ٌَّــَذْذـَق
ِد ُْ٘عْىااراَٝ ِِِّّغىا َسِٝذـَؼ ْسَزـْعاَف
َٚيَع اًِّٞيَصٍُ َالله ُذََْؼَا َٗ
113
َلاــَذ ٍَِْ َٗ ِِٔىآ َٗ ٍذََّــَؽٍُ
112.Kami telah sempurna dan selesai menyusun nadhom al maqshud dalam ilmu shorof ,kami selaku pengarang yang masih muda usianya mohon ma’af kepada Yang Maha Pemurah atas kekurangan pada kitab ini
113.Saya memuji kepada kehadirat Alloh SWT,seraya membaca sholawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW,keluarga serta orang-orang yang membaca kitab ini
با٘صىات ٌيعا اللهٗ
لله ذَؽىا
َِٞىاعىا بس
ً
By M.Asyrofi Fadlly S.Pd.I Langitan,19 Rojab 1435 H