• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apa Kabar Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Apa Kabar Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia?"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Apa Kabar Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia?

Di beberapa negara terutama negara berkembang, kesehatan ibu dan anak masih merupakan permasalahan besar. Hal ini terlihat dari masih tingginya angka kematian ibu dan anak. WHO memperkirakan bahwa 98% penyebab kematian maternal di negara berkembang masih masuk dalam kategori “dapat dicegah”. Menurut data WHO pada periode 1997-2007, penyebab kematian maternal berturut-turut adalah hemoragik (35%), hipertensi (18%), inderect cause (18%), other direct cause (11%), abortion and miscarriage (9%), sepsis (8%), embolism (1%).

Selain itu, ada pula penyebab tak langsung kematian pada ibu yang dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi, pendidikan, kedudukan dan peranan wanita, sosial budaya, dan transportasi. Keadaan tersebut kemudian menimbulkan keadaan tiga terlambat dan empat terlalu yaitu sebagai berikut:

1. Terlambat mengenal bahaya dan mengambil keputusan 2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan

3. Terlambat mendapat pertolongan di fasilitas kesehatan 4. Terlalu muda punya anak (< 20 tahun)

5. Terlalu banyak melahirkan (> 3 anak) 6. Terlalu rapat jarak melahirkan (< 2 tahun) 7. Terlalu tua mempunyai anak (>35 tahun)

Menurut UNESCAP, angka kematian ibu di Indonesia adalah angka kematian tertinggi keempat diantara beberapa negara di Asia Timur Selatan menyusul Kamboja, Timor-Leste dan Laos. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata Angka Kematian Ibu di ASEAN dan

(2)

Asia Tenggara. Selain itu, jumlah kematian ibu di Indonesia adalah yang tertinggi di antara negara-negara Asia Timur dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Berdasarkan survei demografi dan kesehatan indonesia (SKDI) 2007, angka kematian ibu (AKI) di indonesia sebesar 288/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 34/1.000 kelahiran hidup.

Situasi ini kemudian mengajak kalangan internasional untuk mengatasi permasalahan kesehatan Ibu dan anak tersebut. Salah satunya adalah dengan target pencapaian Millenium

Development Goals (MDG) di Konferensi MDG - PBB pada bulan September 2010.

Dengan Inisiatif Strategi Global “Setiap Perempuan, Setiap Anak”.

Janji Pemerintah Indonesia dalam kesehatan ibu terdiri dari komitmen pada outcome, output dan input kesehatan ibu. Dalam outcome kesehatan ibu, pemerintah berjanji untuk mengurangi angka kematian ibu menjadi 102 kematian per 100.000 kelahiran pada tahun 2015. Dalam komitmen output kesehatan ibu, pemerintah memastikan bahwa semua persalinan akan dibantu tenaga bidan terlatih tahun 2015 nanti dan memastikan bahwa 1,5

(3)

juta persalinan perempuan miskin akan dibantu pendanaan sepenuhnya oleh pemerintah. Sementara itu, input kesehatan ibu, pemerintah berjanji meningkatkan bantuan pendanaan sebesar USD 556 juta tahun 2011 untuk mendukung adanya tenaga medis yang profesional. Adapun tujuan MDG tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan

2. Menyediakan pelayanan kesehatan dasar untuk semua 3. Mendorong kesetraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Menurunkan angka kematian bayi

5. Meningkatakan kesehatan ibu

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya 7. Memastikan keberlanjutan hidup

8. Membangun kemitraan global dalam pembangunan

Meskipun berdasarkan laporan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu di Indonesia mengalami penurunan dari 390 kematian per 100.000 kelahiran tahun 1991 menjadi 228 kematian per 100.000 kelahiran tahun 2007, akan tetapi peningkatan kesehatan ibu yang merupakan salah satu tujuan MDG ini masih dalam kategori lambat. Rasio kematian ibu tetap tinggi di atas 200 selama dekade terakhir, meskipun telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu. Adapun tingkat kematian bayi dan balita di indonesia adalah sebagai berikut:

Pada hasil Susenas tahun 1995-2001 menunjukan bahwa angka kematian bayi maupun balita mulai mengalami penurunan. Selain itu didapatkan hasil pada daerah pedesaan lebih tinggi angka kematian bayi dan balitanya jika dibandingkan dengan di perkotaan. Namun, pada sebuah studi lain menunjukan bahwa meskipun kematian di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan, akan tetapi pada pedesaan juga mengalami penurunan lebih cepat jika dibandingkan pada perkotaan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh urbanisasi

(4)

yang cepat, sehingga mengakibatkan kepadatan penduduk yang berlebihan, kondisi sanitasi yang buruk pada penduduk miskin perkotaan yang diperburuk oleh perubahan dalam masyarakat yang telah menyebabkan hilangnya jaring pengaman sosial tradisional. Kualitas pelayanan yang kurang optimal di daerah miskin perkotaan juga merupakan faktor penyebab. Berikut adalah grafik yang menunjukan angka kematian menurut kelompok kekayaan :

Adapun penyebab kematian anak menurut SKRT 2001 adalah sebagai berikut:

Pelayanan kesehatan dan antenatal care yang berkualitas dapat mncegah tingginya angka kematian ibu dan anak tersebut. Akan tetapi, di Indonesia meskipun saat ini 77,34% persalinan ditolong oleh tenaga medis terlatih (SUSENAS 2009) dan terus meningkat menjadi 66,7% pada tahun 2002 serta mencapai 82,3% pada tahun 2010 (RISKESDAS 2010), namun di tujuh provinsi kawasan timur satu dari tiga persalinan berlangsung tanpa mendapatan pertolongan dari tenaga kesehatan apapun. Bahkan di kawasan timur ini merupakan kategori yang paling rendah dalam hal persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan jika dibandikan kawasan lain. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya tenaga kesehatan yang ada serta keterbatasan transportasi dan akses ke sarana kesehatan. Selain itu, angka persalinan pada layanan kesehatan masih sekitar 55 persen.

(5)

Padahal melahirkan di fasilitas kesehatan sangat penting untuk mengatasi permasalahan obstetrik darurat dan perawatan bayi baru lahir.

Kementerian Kesehatan Indonesia merekomendasikan komponen-komponen pelayanan antenatal yang berkualitas sebagai berikut: (i) pengukuran tinggi dan berat badan, (ii) pengukuran tekanan darah, (iii) tablet zat besi, (iv) imunisasi tetanus toksoid, (v) pemeriksaan perut, (vi) pengetesan sampel darah dan urin serta (vii) informasi tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan. Sekitar 86 dan 45 persen perempuan hamil masing-masing telah diambil sampel darah mereka dan diberitahu tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan. Akan tetapi, hanya 20 persen perempuan hamil mendapatkan lima intervensi pertama secara lengkap, menurut Riskesdas 2010. Dan hanya sekitar 61 persen perempuan hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal yang sesuai dengan isyarat dari kementrian kesehatan. Penelitian oleh Titaley et al. (2010) menunjukkan bahwa wilayah dan tipe penduduk, kondisi sosial ekonomi dan pendidikan ibu merupakan faktor yang berkaitan erat dengan kurangnya pemanfaatan pelayanan pra-persalinan ini di Indonesia. Penelitian oleh Agus dan Huriuchi (2012) juga menegaskan bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan perempuan hamil tentang kehamilan adalah salah satu faktor yang menyebabkan pelayanan prapersalinan, di daerah pedesaan, kurang dimanfaatkan.

Kira-kira 31 persen ibu nifas mendapatkan pelayanan antenatal “tepat waktu.” Ini berarti pelayanan dalam waktu 6 sampai 48 jam setelah melahirkan, seperti yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan. Pelayanan pasca persalinan yang baik sangat penting, karena sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi pada dua hari pertama dan pelayanan pasca persalinan diperlukan untuk menangani komplikasi setelah persalinan. Akan tetapi, kenyataannya kualitas pelayanan kesehatan antenatal, persalinan, dan pascapersalinan yang buruk adalah merupakan hambatan utama untuk menurunkan kematian ibu dan anak. Untuk seluruh kelompok penduduk, cakupan tentang indikator yang berkaitan dengan kualitas pelayanan (misalnya, pelayanan antenatal yang berkualitas) secara konsisten lebih rendah daripada cakupan yang berkaitan dengan kuantitas atau akses (misalnya empat kunjungan antenatal). Selain itu, buruknya pelayanan kesehatan masyarakat menunjukan perlunya meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan. Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengeluaran kesehatan terendah yaitu sebesar 2,6 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2010. Pengeluaran kesehatan masyarakat hanya di bawah setengah dari total pengeluaran kesehatan.

Untuk mencapai MDG maka pengeluaran kesehatan di Indonesia perlu ditingkatkan, termasuk proporsi DAK untuk sektor kesehatan yang harus sejalan dengan upaya

(6)

mengatasi hambatan berupa kesulitan perempuan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Pemerintah tingkat pusat juga harus mengembangkan dan melaksanakan standar dan pedoman kualitas pelayanan. Pelayanan kesehatan swasta harus menjadi bagian dari kebijakan dan kerangka kesehatan pemerintah. Selain itu, perlu ditetapkan lebih banyak fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan PONEK dan langkah menuju peningkatan kualitas memerlukan sumber daya tambahan untuk mengembangkan dan memotivasi petugas kesehatan. Hal yang tidak kalah penting adalah program-program kesehatan preventif perlu dipromosikan dan dipercepat terutama untuk ibu dan keluarga. Ini akan memerlukan promosi serangkaian pelayanan mulai dari masa remaja dan pra-kehamilan dan berlanjut sampai kehamilan, persalinan dan masa kanak-kanak. Intervensi harus meliputi intervensi nyata dan hemat biaya seperti manajemen kasus berbasis masyarakat tentang penyakit umum anak, promosi dan penyuluhan pemberian ASI, pemberian suplementasi asam folat pada tahap pra-kehamilan, terapi antelmintik ibu, suplementasi zat gizi mikro bagi ibu dan bayi, dan penggunaan kelambu nyamuk bagi ibu dan bayi.

Referensi

Dokumen terkait

Bercak pada kromatogram hasil partisi ekstrak wasbenzen (tidak larut metanol) hasil pengembangan dengan fase gerak wasbenzen dan kloroform (1: 9v/v), fase diam silika gel

Pada tahun 2017 telah disampaikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016 ke Kementerian Dalam Negeri, Dirjen Pembangunan

Mengeksperimen untuk mengkaji kesan faktor persekitaran terhadap kadar transpirasi dengan..

Moewardi yang telah memberikan kemudahan penulis dalam melaksanakan pendidikan dan sekaligus sebagai pembimbing II, yang telah membimbing dan memberi pengarahan dalam penyusunan

Alhamdulillahirrabbil'alamin, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang

Selain tugas akhir, Pena juga sering melukiskan perempuan dan alam dalam karya tunggal. Ada karya-karyanya yang menggambarkan energi bumi dengan berbagai elemen, ada pula yang

Merujuk pada produksi ayam ras pedaging yang tinggi dan kandungan protein yang tinggi, serta belum adanya pemanfaatan daging ayam ras pedaging menjadi suatu hidrolisat protein

Sedangkan hasil penelitian setelah penyuluhan tentang kanker serviks (post test) menunjukkan motivasi melakukan Pemeriksaan Tes Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)