INTERNATIONAL TROPICAL TIMBER ORGANIZATION
LAPORAN HASIL
WORKSHOP NASIONAL
PERMASALAHAN IMPLEMENTASI SVLK PADA HUTAN HAK /HUTAN RAKYAT
Disusun oleh:
Ir. Cecep Saepulloh
ITTO TFL-PD 010/09 REV.1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan laju pertumbuhan pembangunan nasional khususnya di sektor
kehutanan, Pemerintah telah mengambil beberapa langkah strategis untuk mendorong hasil
hutan khususnya kayu yang berasal dari pengelolaan hutan produksi lestari dan pemasaran
produk hasil hutan yang legal. Upaya langkah strategis ini diharapkan dapat mendorong
pertumbuhan investasi, percepatan pembangunan hutan produksi alam dan hutan tanaman,
pengendalian degradasi hutan yang berimplikasi terhadap peningkatan pertumbuhan
perekonomian nasional.
Untuk itu Peraturan Menteri Kehutanan No. 38/Menhut-II/2009 tentang Standard dan
Pedoman Penilaian Kinerja Pengolahan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas
Kayu pada Pemegang Ijin atau pada Hutan hak dan Perdirjen. No. P.06/VI-Set/2009
tentang Standard dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Lestari dan Verifikasi
Kayu, telah menetapkan standard kriteria dan indikator penilaian terhadap IUIPHHK dan IUI
Lanjutan dalam proses penilaian, dan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) yang berasal
dari Hutan Negara, Hutan Negara yang dikelola oleh Masyarakat, dan dari Hutan Hak.
Dalam rangka mendorong kesiapan pelaksanaan penilaian dan verifikasi legalitas kayu
(VLK) bagi pemegang Hutan Hak (dalam hal ini Hutan Rakyat), sangat diperlukan penyebar
luasan informasi mengenai peraturan VLK bagi produk kayu mereka dan kepada pejabat di
tingkat daerah yang berhubungan dengan penerbitan dokumen legalitas kayu. Demikian
pula para pelaku industri pengguna kayu masyarakat perlu diberikan informasi terkait
kebijakan VLK. Sehingga seluruh pemangku kepentingan memahami dan menyadari setiap
kayu yang didistribusikan di luar daerah perizinan harus memiliki dokumen yang berlaku.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud diselenggarakannya Kegiatan Workshop adalah untuk memberikan informasi
secara luas kepada para pihak yang terkait dalam mendukung kesiapan implementasi
SVLK dilingkup kerja masing-masing. Sedangkan, tujuannya adalah untuk membangun
kesepahaman dan persamaan persepsi para pihak dan kesiapan pemilik Hutan Rakyat dan
Industri pengolah kayu rakyat dalam implementasi SVLK.
II. PENYELENGGARA
A. Penyelenggara
Kegiatan Workshop ini diselenggarakan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Usaha
Kehutanan dan proyek ITTO TFL PD 010/09 Rev. 1 (M).
B. Dasar Penyelenggaraan
Dasar diselenggarakannya kegiatan ini adalah :
1. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.38/Menhut-II/2009 tentang Standard dan
Pedoman Penilaian Kinerja Pengolahan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas
Kayu pada Pemegang Ijin atau pada Hutan Hak.
2. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor : P.06/VI-Set/2009 tentang
Standard dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Lestari dan Verifikasi Kayu
telah menetapkan standard kriteria dan indikator penilaian IUIPHHK dan IUI Lanjutan
dalam proses penilaian dan verifikasi Legalitas Kayu (VLK).
3. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor : P.2/BPPHH-VI/2010
tentang Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari
dan Verifikasi Legalitas Kayu.
4. Project Agreement ITTO TFL PD 010/09 REV.1 (M) : Strengthening the Capacity of
Related Stakeholders in Java on Implementing New Indonesian TLAS.
C. Agenda Workshop
WAKTU ACARA MATERI NARA SUMBER & FASILITATOR
08.00 – 08.30 Registrasi Peserta - Panitia
08.30 – 09.00 Coffee Break - Panitia
09.00 – 09.15 Laporan Kegiatan Project ITTO TFL-PD 010/09 REV.1
Project Coordinator 09.15 – 09.45 Sambutan (Key
Note Speech) dan Pembukaan Workshop
Perkembangan
Perdagangan Kayu Legal di pasaran domestik dan pasar dunia
Nara Sumber : Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan
09.45 – 10.30 Pemaparan dan Diskusi Sesi I
Perkembangan Kebijakan VLK pada Hutan secara umum dan terhadap kayu Rakyat
Nara Sumber : Direktur Peredaran Hasil Hutan Moderator : Taufik Alimi
WAKTU ACARA MATERI NARA SUMBER & FASILITATOR 10.30 – 12.00 Pemaparan dan
Diskusi Sesi II
Identifikasi Para Pihak (Stakeholders) Dalam Penerapan SVLK pada Hutan Rakyat
Nara Sumber : Konsultan Project ITTO (Cecep Saepulloh) Pembahas : Diah Raharjo Moderator : Taufik Alimi
12.00 - 13.00 ISHOMA - Panitia
13.00 – 14.30 Pemaparan dan Diskusi Sesi III
Ruang Lingkup (Kelembagaan) dalam Penerapan Verifikasi Legalitas Kayu
Nara Sumber : Dr. Ir. San Afri Awang Pembahas : Bambang (DKN) Moderador : Taufik Alimi
14.30 – 14.15 Coffee Break - Panitia
14.15 – 15.45 Pemaparan dan Diskusi Sesi IV
Inisiasi Pembentukan Kelompok Kerja Hutan Rakyat dan Penetapan Lokasi Pilot Pendampingan Penerapan SVLK di Hutan Rakyat
Pembicara : Kelompok Tani Ciamis, Blora, Lumajang Moderator : Taufik Alimi
Fasilitator : PMU Project ITTO TFL-PD 010/09 REV.1 15.45 – 16.00 Penutupan
Workshop
- Direktur Jenderal Bina Usaha
Kehutanan Kementrian Kehutanan atau yang mewakili
D. Nara Sumber dan Fasilitator
Narasumber dalam workshop ini terdiri dari pembicara, pembahas, dan Moderator. Tugas
pembicara adalah menyampaikan materi, pembahas bertugas membuat telaah atas materi
yang disampaikan oleh pembicara, sedangkan sebagai moderator bertugas mengatur
masing-masing sesi pembicara, mengarahkan jalannya diskusi serta menyampaikan
kesimpulan dari hasil pemaparan dan diskusi. Pembicara, pembahas dan moderator adalah
sebagai berikut :
No Nama Instansi/Jabatan Keterangan Judul Makalah
1 Ir. R. Iman Santoso, M.Sc
Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Kehutanan
Key Note Speech
Sambutan dan Arahan sekaligus Pembukaan Workshop
2 Johni Gunawan Direktur Bina Peredaran
dan Iuran Kehutanan
Pembicara, Mewakili Direktur
Verifikasi Legalitas Kayu Melalui Mekanisme Penatausahaan Hasil Hutan
3 Ir. Cecep Saepulloh Konsultan Project ITTO TFL PD 010/09 Rev. 1 (M)
Pembicara Tinjauan dan Evaluasi
Pihak-pihak Terkait yang Terlibat Dalam
4 Diah Y. Raharjo Program Multi stakeholders Forest Programme (MFP II)
Pembahas Makalah Pembahasan
Identifikasi Para Pihak dalam Penerapan SVLK pada Hutan Rakyat 5 Dr. Ir, San Afri Awang Staff khusus Menteri
Kehutanan bidang
Pemberdayaan Masyarakat
Pembicara Pengembangan Kelembagaan Hutan Rakyat dan Implementasi SVLK
6 Bambang Dewan Kehutanan Nasional Pembahas -
7 Drs. E.S Permana Ketua Asosiasi Pengusaha
Kayu Rakyat – Ciamis
Pembicara Implementasi Sistem
Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Kab. Ciamis dan Masalahnya
8 Soewadji Petani Kayu Rakyat - Blora Pembicara Hutan Rakyat Blora
Menuju Sertifikasi PHBML dan VLK
III. PELAKSANAAN
WORKSHOP
Kegiatan Workshop dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011 bertempat di Hotel
Santika Premiere, Jalan Aipda K.S Tubun No. 7, Slipi Jakarta (Lampiran 1. Undangan
Workhop)
Pelaksanaan worskhop berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan agenda yang telah
ditetapkan. Peserta yang hadir sebanyak 64 orang (Lampiran 2. Daftar Hadir Pertemuan)
yang berasal dari :
- Lingkup Kementrian Kehutanan (BIKPHH, Pusdal, BUK, BPS BP DAS PS, BPPHH,
Pustanling)
- BP2HP Wil VII
- Dinas Kehutanan Propinsi (Jabar, Jateng, Jatim)
- Dinas Kehutanan Kabupaten (Blora, Ciamis, Gunung Kidul)
- Industri pengguna Kayu Rakyat (Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jateng, Jabar)
- LSM (Persepsi, ARUPA, TELAPAK, KANOPI, SHOREA, KEHATI, MFP)
- Kelompok Tani (Blora, Wonosari, Ciamis, Banjar Negara)
- Peneliti dari Perguruan Tinggi (IPB)
- Asosiasi (APKINDO, ISWA, BRIK)
- LVLK
Workshop diawali dengan Laporan Kegiatan oleh Koordinator Project ITTO TFL-PD 010/09
REV.1 (Lampiran 3. Laporan Koordinator Project ITTO TFL-PD 010/09 REV.1), yang
dilanjutkan dengan Sambutan dan Arahan dari Direktur Jenderal Bina Kehutanan
Kementrian Kehutanan dan sekaligus membuka secara resmi (Lampiran 4 . Arahan Dirjen
Bina Usaha Kehutanan).
Setelah dibuka secara resmi, proses persidangan dalam workshop dibagi menjadi beberapa
sesi yang dipimpin oleh Moderator. Masing-masing Pembicara menyampaikan makalahnya,
yang kemudian ditelaah dan dibahas oleh Pembahas. Setelah pemaparan dan
pembahasan, selanjutnya dilakukan diskusi berupa tanya jawab dan masukan untuk
perbaikan dari seluruh peserta (Lampiran 5. Notulen Workshop)
Adapun ringkasan hasil diskusi dan masukan baik dari dari pembahas dan peserta
workshop adalah sebagai berikut :
Makalah Verifikasi Legalitas Kayu Melalui Mekanisme Penatausahaan Hasil Hutan (lampiran
6)
Pembicara : Johni Gunawan, Moderator : Taufik Alimi Sesi I
Point Penting dan Masukan dari Pembahas, Nara Sumber dan Peserta : • Perlu sosialisasi SVLK di hutan rakyat diluar jawa
• Perlu dilakukan Gap Analisis yang jelas antara standar VLK pada Hutan Hak/hutan rakyat dengan kondisi di lapangan sesungguhnya
• Bentuk dokumen legalitas kayu (SKAU, SKSKB – KR), dokumen lekalitas kepemilikan lahan (Letter C, Surat Girik)
• Persyaratan Verigfikasi di Hutan Rakyat harus disederhanakan dan mudah di terapkan • Permasalahan Kewenangan penerbitan dokumen legalitas kayu rakyat (Dinas Kehutanan
atau Kepala Desa)
• Perlu tidaknya ijin tebang pada Hutan Rakyat
• Perberlakuan PSDH /DR pada kayu hutan Rakyat di Luar Jawa
Makalah Tinjauan dan Evaluasi Pihak-pihak Terkait yang Terlibat Dalam Implementasi (Lampiran 7)
Pembicara : Cecep Saepulloh, Pembahas : Diah Y Raharjo, Moderator : Taufik Alimi Sesi II
Beberapa Masukan dari Pembahas :
• Persentasi ketersediaan dokumen dasar kepemilikan lahan yang terukur sebagai data base (data potensi lahan HR)
• Identifikasi Bukti Kepemilikan Lahan
• Pemetaaan Kapasitas Pendidikan Petani dan tingkat pengetahuan tentang SVL • Gambaran tingkat kesiapan petani, pengepul dan industri dalam implementasi SVLK • Perlu peta tata niaga berdasarkan geografis, skala usaha dan wilayah
• Identifikasi kendala dalam penerapan SVLK
• Tata niaga supply kayu dari pengepul sampai industri (skala pasokan, routing, tracking pasokan kayu)
• Identifikasi potensi kendala pemerintah daerah dalam kaitannya dengan TUK • Identifikasi kelembagaan dan perangkat pemerintah
• Hasil kajian oleh konsultan sebagai bahan dasar penyusunan Gap Analysis yang akan dilakukan.
Point Penting dan Masukan dari Pembahas, Nara Sumber dan Peserta :
• Tingkat kelulusan jika masyarakat tidak mempunyai bukti kepemilikan lahan dari BPM • Pembiayaan untuk memperoleh sertifikat SVLK di Hutan Rakyat (bagaimana mengatur
• Ruang lingkup area hutan hak yang disertifikasi VLK perlu kejelasan lebih jauh (Per dusun, desa, atau wilayah administrasi lain yang lebih luas) efiensi dan efektifitas proses VLK • Unit kelestarian terkecil hutan rakyat adalah Dusun
• Pengakuan sertifikat VLK di pasar Internasional (melalui kegiatan promosi oleh MFP dan VLegal)
• Kebijakan harus memberikan insentif agar masyarakat tetap bergairah menanam dan memelihara pohon di hutan hak
• Pemetaan kapasitas dan tingkat kesiapan pengepul kayu yang significant dalam distribusi kayu rakyat
• Pemberlakukan SVLK pada FMU yang telah bersertifikat PHBM (akan diberlakukan sampai masa sertifikat PHBM habis)
• Pemetaan tata niaga kayu rakyat di lapangan dan permasalannya
• Uni Eropa akan memberlakukan inspeksi pada produk yang masuk kesana, sehingga dengan SVLK diharapkan dapat memenuhi inspeksi yang akan dilakukan.
• Kebijakan pemerintah Jawa Timur, setiap kabupaten yang punya hutan rakyat harus memfasilitasi ada 1 hutan yang SFM.
• Identifikasi permasalahan di tingkat pengguna kayu rakyat (industri) dalam penggunaan kayu rakyat
• Identifikasi permasalahan pada Pemerintah sebagai pengatur/regulator peredaran kayu rakyat (pengadaan SKSHH, monitoring peredaran dan penggunaan dokumen SKSHH) Makalah Ruang Lingkup (Kelembagaan) dalam Penerapan Verifikasi Legalitas Kayu (Lampiran 8)
Pembicara : Dr. Ir, San Afri Awang , Pembahas : Bambang , Moderator : Taufik Alimi Sesi III
Beberapa masukan dari Pembahas :
• Skema Kelembagaan SVLK terdiri dari Lembaga Penilai, Lembaga Pemantau dan KAN • Alur Proses penunjukan lembaga Penilai sampai Penerbitan Sertifikat PHL/LK
• Peran dan Masalah pada masing-masing Lembaga • Alur Edar Kayu Rakyat dan dokumen legalitas • Isue seputar Desa, SKAU dan Dokumen Angkut
- Sosialisasi Tidak berjalan - Tidak ada lembaga khusus - Tidak ada SOP Yang Jelas - Tidak ada insentif ke Desa - Pemungutan biaya tidak diatur
- Kades tdk melakukan Pengecekan asal usul ketika kayu ditebang - Kades tdk melakukan pengukuran ketika kayu mau diangkut - Tidak ada sangsi
- Bagi petani tidak menambah harga jual - Kayu berasal dari lintas Desa
- Menimbulkan biaya tinggi - Menggunakan DO dari Sawmil
Point Penting dan Masukan dari Pembahas, Nara Sumber dan Peserta :
• Harus dikembangkan konsep dan gagasan tentang: kelestarian hasil kayu untuk pasokan industri secara kontinyu, kelestarian pekerjaan di hutan rakyat, kelestarian ekologis, dan kelembagaan hutan rakyat yang menjamin berlangsungnya pengelolaan hutan rakyat lestari
• Koperasi bisa dijadikan kelembagaan badan usaha untuk usaha hutan rakyat yang ada di desa-desa dalam rangka SVLK
• Peraturan tentang peredaran kayu rakyat tidak perlu diatur lebih jauh oleh pemerintah (SKAU, SKSKB-KR)
• Ada Direktorat khusus yang mengatur hutan rakyat (menjadi PR pemerintah)
• Ada diskriminasi dokumen kayu rakyat (SKAU, SKSKB-KR, Nota), diusulkan cukup dengan nota saja karena sudah milik individu
• Harus jelas manfaat SVLK bagi petani/masyarakat (hutan hak), disatu sisi ada
pemeriksaan pengangkutan hasil hutan oleh Polisi/aparat (yang persepsinya berbeda) dengan konsekwensi biaya
• Di lampiran 3, P02/2010, HKM/HTR disamakan dengan perusahaan besar ada yang mengatakan bahwa persyaratannya disamakan dengan HPH seperti harus ada AMDAL dll. • Perlu digagas adanya sistem informasi kayu rakyat (penyebaran dan pemetaannya,
produksi kayu, dll.)
• Pemerintah agar tidak terlalu terlibat jauh dalam pengaturan tata niaga atau peredaran perdagangan kayu rakyat (menyulitkan rakyat)
• Ada contoh menarik di purwakarta, dimana disana pemerintah dan jajarannya sudah sepakat untuk tidak menerapkan banyak aturan dalam peredaran kayu rakyat didalam wilayahnya, Bupati menyetujui dan semua jajaran yang ada di kabupaten satu kata, untuk kayu rakyat tidak ada aturan apa-apa
• Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban untuk mengembangkan hutan hak melalui pengembangan kelembagaan
• Yang penting dalam hutan rakyat itu adalah sistem lacak balaknya. SVLK itu sebenernya hanya lacak balaknya, yang terpenting adalah kelembagaan di desa harus dibenahi • Masih perlu sentuhan kebijakan yang harus diberikan oleh Pemerintah agar harga kayu
rakyat menjadi naik
• Biaya penerbitan dokumen kayu yang cukup mahal
Sesi IV Pemaparan oleh Petani Hutan Rakyat , Moderator : Taufik Alimi
Makalah Implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Kab. Ciamis dan Masalahnya oleh Drs. E.S Permana (Lampiran 9)
dan makalah Hutan Rakyat Blora Menuju Sertifikasi PHBML dan VLK oleh Soewadji (Lampiran 10)
Point Penting dan Masukan dari Pembahas, Nara Sumber dan Peserta :
• Usul untuk memberikan insentif untuk para petani yang sudah menerapkan hutan lestari (PHPL/VLK), sehingga petani tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk menunggu
premium price
• Sertifikasi SFM/PHBML berbeda dengan sertifikasi SVLK, yang mana SVLK bukan karena premium price tetapi karena untuk jaminan perdagangan produk kayu
• Sertifikat Legalitas merupakan tahap awal untuk mencapi kelestarian (PHPL)
• Penetapan lokasi untuk uji coba implementasi SVLK sudah sangat mendesak, dan uji coba ini hanya 1 tahun saja, mengingat perlu segera replikasi di tempat-tempat lain secepatnya • Harus ada penyempurnaan dalam menjamin keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat
melalui konsep pembentukan UMHRL (unit manajemen hutan rakyat lestari • Mendukung jika di blora ditindaklanjuti sampai ke tahap sertifikasi.
• Usulan untuk diadakan pelatihan teknik budidaya tanaman bawah tegakan dalam rangka mengoptimalkan lahan tanaman bawah tegakan
• Harga jual kayu muda sangat murah (disebabkan tebang butuh)
• Mekanisme mengatasi tebang butuh contoh di probolinggo, hutan rakyat dikelola oleh koperasi, kemudian koperasi menalangi dan tidak dijual ke tengkulak.
• Petani tidak tahu kualitas, volume dan harga kayu yang dijual
• Tidak tersedia arsip dokumen legalitas kayu pada petani karena pengurusan dilakukan pembeli
• Permasalahan yang dihadapi di Hutan Rakyat untuk menerapkan SVLK antara lain :Regurasi dari Pemda, Kelembagaan, SDM, Dokumen Kepemilikan Lahan, Pembiayaan Sertifikasi, Dukungan Pemda setempat
• Perlu sosialisasi SVLK sampai ke daerah
• Regulasi tentang peredaran kayu rakyat diperingan
• Monitoring kayu rakyat sulit dilakukan karena yang menerbitkan Kepala Desa, sementara tidak ada kewajiban Kepala Desa melaporkan produksi kayu rakyat ke Dinas Kehutanan