Pancasila Sumber Nilai Keberagaman Beragama Bangsa Indonesia

Teks penuh

(1)

Pancasila Sumber Nilai Keberagaman Beragama

Bangsa Indonesia

I Gusti Ayu Rachmi Handayani, dan Djoko Wahju Winarno* Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret Surakarta,

Jawa Tengah

Indonesia adalah negara yang beragam (plural). Bahkan dapat dikatakan keberagaman tersebut bersifat multi dimensi. Satu di antaranya yakni di bidang agama dan kepercayaan yang diyakini oleh Bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bagi Bangsa Indonesia. Kata-kata yang sudah lama dikenal dalam sejarah itu menjadi sumber nilai persatuan bangsa. Hal ini dilanjutkan dalam tekad kaum muda yang menyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, yang menyatakan bahwa kita sebagai satu bangsa yakni Bangsa Indonesia. Prinsip keberagaman di atas, khususnya di bidang agama sejalan dengan prinsip dasar dalam kehidupan bernegara kita yaitu Sila Pertama Pancasila. Lagipula kedudukan Pancasila sebagai staat fundamental norm harus dijadikan nilai-nilai dasar yang menjiwai dan meliputi produk hukum di Indonesia baik UUD maupun peraturan perundang-undangan di bawahnya. Ini pun juga sudah dilakukan oleh para pembuat kebijakan baik MPR lewat produknya UUD maupun Badan Legislatif (DPR bersama Presiden) melalui UU, khususnya yang terkait dengan hak memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agama yang diyakininya. Oleh karena itu UUD dan UU sebagai suatu kebijakan masih memerlukan tindak lanjut yakni implementasi kebijakan. Dan implementasi ini sama pentingnya dengan formulasi kebijakan itu sendiri. Persoalannya apakah implementasi prinsip toleransi atas keberagaman agama di atas sudah terlaksana sehingga tercipta kerukunanan dalam kehidupan beragama. Ini semua kembali kepada kita sendiri.

Kata kunci: Pancasila, Keberagaman, Nilai Pendahuluan

Indonesia adalah negara yang beragam (plural). Keberagaman ini dapat dilihat dari berbagai dimensi, baik itu potensi perekonomian daerah, etnik, agama maupun budayanya. Secara riel corak keberagaman bangsa

*Surel: hamidah.azzahara@gmail.com

ISSN (Cetak) 2614-3216 ISSN (Online) 2614-3569 © 2016 Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/snh http://www.fh.unnes.ac.id

(2)

ini berpotensi sebagai peluang, tetapi pada sisi lain juga dapat menjadi tantangan. Oleh karena itu sesungguhnya keberagaman ini perlu dikelola dengan saksama dan arif bijaksana. Pengelolaan keberagaman bangsa ini sudah terbukti ketika para founding fathers kita membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) serta aksinya dalam memproklamasi-kan kemerdekaan Indonesia dari penjajah dan diikuti dengan penyusunan dasar negara dan UUD negara.

Sejarah telah membuktikan kepada kita semua bagaimana keberagaman bangsa Indonesia ini telah dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi potensi bangsa yang begitu besar, yang pada akhirnya menjadi modal pembentukan Bangsa dan Negara Indonesia. Dan ini sudah terjadi sejak zaman Kerajaan Sri Wijaya, Kerajaan Majapahit, sampai pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan berpijak peristiwa terakhir pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni bagaimana para tokoh bangsa tersebut pada akhirnya berhasil merumuskan dasar negara Pancasila, utamanya sila pertama dengan menemukan rumus yang jitu, tepat dan mampu menampung aspirasi keberagaman beragama bangsa Indonesia dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pembahasan

Manusia sebagai makhluk hidup menurut Otto Soemarwoto memiliki tiga kebutuhan dasar yang bersifat hierarkhis yakni:

1. Kebutuhan dasar hayati contohnya air, udara, dan makanan. 2. Kebutuhan dasar manusiawi, perwujudan kebutuhan dasar ini

menunjukkan bahwa manusia tidak cukup dengan pemenuhan kebutuhan dasar hayati saja, misalnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan akan disesuaikan dengan kemampuan manusia yang mengenal adanya rasa, warna, dan bentuk.

3. Kebutuhan dasar memilih. Kebutuhan ini terkait dengan kemampuan manusia untuk menciptakan budaya sehingga melampaui kebutuhan hayatinya.

(Otto Soemarwoto, 2008 : 62-70)

Terkait dengan pemenuhan ketiga kebutuhan dasar tersebut Otto Soemarwoto menyatakan bahwa perkembangan peradaban kemampuan manusia memungkinkan untuk berfilsafat tentang hakekat dan martabat dirinya sebagai pribadi dan dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Penciptanya yang tercermin dalam ajaran agama. (Otto Soemarwoto 2008: 67). Agama mengutip definisi yang dikemukakan Mukti Ali (mantan menteri agama RI) merupakan suatu (sistem) kepercayaan pada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum

(3)

yang diwahyukan kepada utusan-Nya bagi kebahagiaan hidup dunia dan akherat. (Djenar Respati, 2014: 22). Agama merupakan manifestasi hakekat kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan YME. Sehubungan agama terkait langsung dengan hakekat manusia, maka agama termasuk tahap perkembangan awalnya dalam sejarah kehidupan manusia baik itu animism, dinamisme, maupun keyakinan/kepercayaan lainnya selalu mengalami tumbuh kembang sejalan dengan kehidupan manusia.

Agama dipandang dari vista historis di Indonesia gejala mondialisasinya sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Sehingga dapat dikatakan proses globalisasi di bidang agama, khususnya dalam penyebaran agama bukan merupakan hal yang baru. Hanya saja kalau dibandingkan dengan proses mondialisasi yang terjadi sekarang ini melalui waktu yang sungguh cepat dan terus menerus oleh karena semakin majunya teknologi informasi. Dan ini telah terbukti bahwa sejarah kebangsaan Indonesia, mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia kehidupan beragama hidup rukun dan harmonis di kalangan masyarakat. Bahkan pada masanya di mana berbagai agama dianut dalam suatu masyarakat, terbentuk kerukunan kehidupan beragama yang sangat mengesankan.

Kerukunan kehidupan beragama bagi Bangsa Indonesia tersebut sebetulnya bukan datang dengan tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses yang panjang. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo bahwa prinsip-prinsip nasionalisme yang meliputi unity; liberty; equality; personality; dan performance tidak mungkin terwujud dalam satu generasi. Apalagi kalau diingat titik tolak Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multikompleks (Sartono Kartodirdjo 1999: 15).

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa agama menbentuk hukumnya sendiri yang diwahyukan lewat utusan Tuhan. Hukum Tuhan bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan hidup dunia dan akherat. Sebagai hukum maka ada kewajiban, larangan/pantangan, dan hak-hak yang dijanjikan oleh agama, termasuk hal yang penting untuk dijalankan oleh para umatnya adalah kewajiban untuk melakukan peribadatan.

Sejarah Bangsa Indonesia adalah sejarah suatu bangsa yang terdiri orang-orang yang berbeda. Sejak zaman pra agama ke zaman Hindu-Budha, Nasrani sampai dengan masuknya Agama Islam, bahkan termasuk zaman kolonial Belanda dan memasuki era kemerdekaan Bangsa Indonesia telah memiliki pengalaman bersama, meskipun saat dan drajat pengalaman tersebut berlainan pada berbagai kelompok komunitas atau pun suku ang ada. Bahkan dapat dikatakan pengalaman bersama dalam menghadapi pengaruh luar itulah merupakan pengaruh

(4)

pemersatu utama bagi Bangsa Indonesia. (Herqutanto Sosronegoro 1990: 6).

Sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Herqutanto di atas terkait dengan persatuan Bangsa Indonesia adalah apa yang dinyatakan oleh Moedjanto. Menurut Moedjanto integrasi Bangsa Indonesia, merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang. Bangsa Indonesia yang majemuk tergerak untuk bersatu karena berbagai faktor yaitu :

1. Pelayaran dan perniagaan antar pulau;

2. Timbulnya pusat-pusat peradaban dan kekuasaan;

3. Agama Islam yang dianut oleh sebagian besar bangsa Indonesia; 4. Hikmah dari politik kolonial (devide et impera) yang dipetik oleh Bangsa Indonesia;

5. Nasionalisme dan ide-ide baru dari Barat. (Moedjanto, 2000: 2). Oleh karena itu wajarlah apa yang dikatakan Mpu Tantular atas ungkapannya yang sangat populer sampai di era modern ini yakni Bhinneka Tunggak Ika. Ungkapan ini sesungguhnya merupakan pernyataan universal karena jauh sebelumnya sudah dikemukakan symbol pemersatu bangsa yang dikenal dengan istilah E Pluribus Unum yang memiliki makna yang sama. Ni’matul Huda menamakan unity in diversity. (Ni’matul Huda 2014: 11).

Kalau kita menengok pada sisi yang paling dalam manusia, dari segi filsafat manusia itu hakekatnya monopluralisme, dalam arti manusia ini memiliki hakekat jamak (plural), tetapi menyatu dalam diri pribadi manusia. Hal ini disebut sebagai substansia. Pada sisi lain dalam diri manusia juga melekat aksidensia atau hal-hal yang bersifat kebetulan. Lasiyo dan Yuwono menyebut adanya 9 aksidensia manusia yaitu kuantitas; kualitas; relasi; aksi; passi; tempat; keadaan; kedudukan; dan waktu (Lasiyo dan Yuwono: 23-24).

Dalam kaitannya dengan analisis abstraksi keberadaan manusia di atas, maka keyakinan atas agama dan menjalankan ibadah menurut agama adalah menjadi hal yang penting bagi manusia dan kehidupan bernegara. Dalam konteks hak, memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agama tadi merupakan hak azasi manusia (HAM) yang tergolong sebagai non derogable rights. Oleh karena itulah negara terhadap hak-hak tersebut melakukan sekurang-kurangnya to respect, to protect, dan to fulfill. Dalam tataran implementasi kebijakan tadi, harus diakui tiga hal tersebut belum terlaksana secara optimal. Sekedar dapat dikemukakan sebagai contoh adalah peribadatan yang dilakukan umat Gereja Kristen Indonesia, Yasmin, yang dilakukan di sekitar istana negara sejak Februari 2012 sebagai bentuk protes atas ketidakhadiran negara terhadap keterlantaran mereka untuk mendapat tempat beribadah yang layak bagi dalam menunaikan kewajiban agamanya.

(5)

Dengan mendasarkan pada kajian yuridis, peristiwa di atas sebetulnya tidak perlu terjadi. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu menjelang dibentuknya NKRI, Bangsa Indonesia telah memiliki Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI atau yang dikenal dengan Dokuritzu Junbi Cosukai. BPUPKI ini telah berhasil membuat rancangan dasar negara dan rancangan UUD negara. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tugas BPUPKI dilanjutkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI (Dokuritzu Junbi Iinkai) (D. Rini Yunarti, 2003: 1-10).

Rancangan dasar negara dan rancangan UUD rumusan BPUPKI diagendakan untuk dibahas sebagai dasar negara dan UUD negara RI yang sudah diproklamasikan sehari sebelumnya. Salah satu rancangan/rumusan dasar negara yang Sila Pertamanya: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya dianggap merupakan rumusan yang diskrimatif. Sehingga pada waktu sidang PPKI hasil akhir rumusan sila pertama tadi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini suatu rumusan yang bijak yang dapat menjadi wadah bersama Bangsa Indonesia dalam kehidupan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.

Sebagai kita ketahui bahwa Pancasila dari segi filosofis merupakan staatsfondamental norm atau pokok-pokok kaidah negara yang fundamental, yang dalam ilmu hukum mempunyai kedudukan yang tetap, kuat, dan secara yuridis tidak dapat diadakan perubahan terhadapnya. Pancasila yang berkedudukan sebagai staatsfondamental norm nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi dan menjiwai segenap peraturan perundang-undangan baik dalam UUD, UU dan peraturan lainnya. Dan hal ini pun sudah direalisasikan oleh Pasal 28 E ayat (1) UUD 1945 yang antara lain menyatakan “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya …” Demikian halnya dalam rumusan UU. Dalam Pasal 4 UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, “… hak beragama …adalah hak azasi manusia yang tidak boleh dikurangi dalam keadaan apa pun oleh siapa pun.”

Kalau boleh dikatakan apa yang dirumuskan dalam Pancasila, UUD 1945, UU HAM di atas merupakan legalisasi nilai-nilai kerukunan kehidupan beragama yang sudah tertanam dan terlaksana ratusan tahun yang lalu oleh Bangsa Indonesia. Namun demikian bahwa perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai tersebut lebih dapat dijelaskan dan dipahami dari sisi keilmuan yang lebih luas (interdisipliner).

(6)

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai dasar kerukunan, kehidupan, dan keberagaman beragama di Indonesia sudah tumbuh dan berkembang sejalan dengan keberadaan Bangsa Indonesia. Perumusan dalam dasar negara dan peraturan perundang-undangan merupakan legalisasi nilai sesuai dengan tuntutan kehidupan bernegara. Daftar Pustaka

Moedjanto, 2000, Revitalisasi Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa Ditinjau dari Sejarah, makalah seminar, Surakarta, 26 Mei 2000.

Herqutanto Sosronegoro, 1990, Beberapa Ideologi dan Implementasinya dalam Kehidupan Kenegaraan, Cetakan Pertama, Liberty, Yogyakarta.

Sartono Kartodirdjo, 1999, Multi Dimensi Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara Kesatuan, Cetakan ke 1, Kanisius, Yogyakarta.

Djenar Respati, 2014, Sejarah Agama-agama di Indonesia: Mengungkap Proses Masuk dan Perkembangannya, Araska, Yogyakarta.

Otto Soemarwoto, 2008, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Cetakan ke 11, Djambatan, Jakarta.

Lasiyo dan Yuwono, Pancasila (Pendekatan Secara Kefilsafatan), Liberty, Yogyakarta, tanpa tahun penerbitan.

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, 2012, Undang-Undang Dasar 1945, Sekretariat Jendral MPR RI Jakarta.

Ni’matul Huda, 2014, Desentralisasi Asimetris Dalam NKRI: Kajian Terhadap Daerah Istimewa, Daerah Khusus dan Otonomi Khusus, Cetakan Pertama, Nusa Media, Bandung.

D. Rini Yunarti, 2003, BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI, Kompas, Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...