PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT PISANG KEPOK (Musa Paradisiaca) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN RAGI TAPE
OLEH : SAEPUL ANWAR NIM. 120 500 134
PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA 2016
PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT PISANG KEPOK (Musa Paradisiaca) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN RAGI TAPE
OLEH : SAEPUL ANWAR NIM. 120 500 134
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Sayarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA 2016
PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT PISANG KEPOK (Musa Paradisiaca) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN RAGI TAPE
OLEH : SAEPUL ANWAR NIM. 120 500 134
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Sayarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA 2016
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : Pembuatan Bioetanol Dari Kulit Pisang Kepok (Musa
paradisiaca) Dengan Variasi Penambahan Ragi Tape
Nama : Saepul Anwar
NIM : 120 500 134
Program Studi : Manajemen Lingkungan Jurusan : Manajemen Pertanian
Pembimbing
Furqaan Hamsyani, S.Hut., M.Si. NIP. 19790104 201012 1 002
Penguji I,
Taufiq Rinda Alkas, S.S i., M.Pd. NIP. 19780517 200912 1 002
Penguji II,
Arini Rajab, S.Si., M.Si. NIP. 19880912 201404 2 002
Menyetujui, Ketua Program Studi Manajemen Lingkungan
Ir. Dadang Suprapto, MP NIP. 19620101 198803 1 003 Mengesahkan, Ketua Jurusan Manajemen Pertanian, Ir. M. Masrudy. MP NIP. 10600805 198803 1 003 Lulus
ABSTRAK
SAEPUL ANWAR. Pembuatan Bioetanol Dari Kulit Pisang Kepok (Musa
paradisiaca) Dengan Variasi Penambahan Ragi Tape (di bawah bimbingan
FURQAAN HAMSYANI).
Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih banyaknya sampah atau limbah kulit pisang yang tidak dikelola dengan baik. Kulit pisang ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan bioetanol dengan cara fermentasi dan destilasi.
Maka dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui kadar alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi dari segi jumlah ragi yang berbeda. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan penbgetahuan mengenai manfaat limbah kulit pisang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pebandingan jumlah ragi yang berbeda pada setiap sampel.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa limbah kulit pisang dapat di jadikan bioetanol. Akan tetapi kadar etanol yang dihasilkan kurang baik. Sampel ke tiga mendekati tabel konversi berat jenis menjadi kadar etanol, yaitu 0.992654 g/ml jadi kadar etanol yang di dapatkan sekitar 0.00 s/d 5.00 %
RIWAYAT HIDUP
Saepul Anwar lahir pada 25 Maret 1994 di Desa Paninengan Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Saya merupakan Anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Bapak Muhdirin dan Ibu Jamiyah. Saya memiliki satu orang kaka laki-laki dan satu orang kaka perempuan.
Pada tahun 1999 mulai pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 004 Galam Rabah empat dan lulus pada tahun 2005, pada tahun 2005 melanjukan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 011 Banjarbaru dan lulus pada tahun 2008, dan selanjutnya pada tahun yang sama saya meneruskan sekolah ke Madrasah Aliyah Ar-rahmah Sungai tabuk dan lulus pada tahun 2011.
Pendidikan tinggi saya dimulai di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Jurusan Manajemen Pertanian, Program Studi Manajemen Lingkungan pada tahun 2012. Bulan Maret-Mei 2016 mengikuti program PKL (Praktik Kerja Lapang) di PT.Bhumiku Jadi Abadi Tenggarong Seberang Kalimantan Timur.
KATA PENGANTAR
Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium Kimia Politeknik Negeri Samarinda. Penelitian dan penyusunan Karya Ilmiah ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu dari bulan Juli-September tahun 2016, yang merupakan syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mendapat Gelar Ahli Madya.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan sikap hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Furqaan Hamsyani, S.Hut., M.Si selaku Dosen Pembimbing
2. Taufiq Rinda Alkas, S.Si., M. Pd selaku Dosen Penguji I, dan Ibu Arini Rajab, S.Si., M. Si. selaku Dosen Penguji II
3. Bapak Ir. Dadang Suprapto, MP selaku Ketua Program Studi Manajemen Lingkungan
4. Bapak Ir. M. Masrudy, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian 5. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda
6. Para staf pengajar, adminitrasi dan teknisi di Program Studi Manajemen Lingkungan
7. Seluruh anggota keluarga atas dukungannya serta rekan-rekan seperjuangan Manajemen Lingkungan Angkatan 2013
Dalam menyusun laporan ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi lebih baiknya laporan karya ilmiah ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.
Saepul Anwar
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
A. Sampah... 3
B. Kulit Pisang ... 4
C. Bioetanol ... 5
D. Fermentasi ... 6
E. Destilasi (Penyulingan) ... 7
BAB III METODE PENELITIAN ... 8
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 8
B. Alat dan Bahan yang digunakan ... 8
C. Prosedur Kerja ... 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 14 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh utama Halaman
1. Kandungan Kulit Pisang ... 4
2. Konversi Berat Jenis Menjadi Kadar Etanol (V/V) ... 6
3. Variasi penambahan ragi tape ... 10
4. Sampel Filtrat dan sampel Destilat ... 11
5. Berat jenis Destilat ... 11
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh utama Halaman
1. Grafik hubungan antara jumlah ragi terhadap berat jenis ... 12
2. Limbah Kulit Pisang ... 17
3. Filtrat Kulit Pisang yang telah di beri Ragi ... 17
4. Proses Destilasi (Penyulingan) Sampel ... 18
5. Proses Destilasi (Penyulingan) Sampel ... 18
6. Proses Penimbangan Masa Jenis Cairan Sampel yang di Destilasi .. 18
7. Proses Penimbangan Masa Jenis Cairan Sampel yang di Destilasi .. 18
8. Ragi tape dihaluskan ... 19
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Tubuh utama Halaman
1. Limbah Kulit Pisang ... 17
2. Filtrat Kulit Pisang yang telah di beri Ragi ... 17
3. Proses Destilasi (Penyulingan) Sampel ... 18
4. Proses Destilasi (Penyulingan) Sampel ... 18
5. Proses Penimbangan Masa Jenis Cairan Sampel yang di Destilasi .. 18
6. Proses Penimbangan Masa Jenis Cairan Sampel yang di Destilasi .. 18
7. Ragi tape dihaluskan ... 19
?
BAB I PENDAHULUAN
Pada masa sekarang kecendrungan pemakaian bahan bakar minyak sangat tinggi sedangkan sumber bahan bakar minyak bumi yang di pakai saat ini semakin menipis. Oleh karena itu, perlu adanya bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi. Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pemecahan masalah energi pada saat ini. Saat ini sedang diusahakan secara intensif pemanfaatan bahan-bahan yang mengandung serat kasar dengan karbohidrat yang tinggi, dimana semua bahan yang mengandung karbohidrat dapat diolah menjadi bioethanol. Misalnya ubi kayu, ubi jalar, pisang, dan lain-lain.
Pisang dengan nama Latin Musa paradisiaca merupakan jenis buah-buahan tropis yang sangat banyak dihasilkan di Indonesia (Anonim, 1978). Dari keseluruhan jumlah tersebut terdapat jenis buah pisang yang sering diolah dalam bentuk gorengan, salah satunya pisang kepok. Kulit dari buah pisang kepok biasanya oleh masyarakat hanya dibuang dan hal itu menjadi permasalahan limbah di lingkungan karena akan meningkatkan keasaman tanah dan mencemarkan lingkungan.
Sampah adalah produk akhir dari aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia dan merupakan material tak terpakai. Sampah menjadi masalah yang sering kita temui baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sampah organik merupakan sampah yang tersusun dari bahan-bahan yang dapat terurai (degradable) seperti sisa makanan, daun-daun kering, sayuran, dan sebagainya.
?
Penanganan sampah organik masih belum optimal dalam pemanfaatannya ditambah lagi dengan produksi sampah yang begitu besar setiap harinya semakin memberikan dampak buruk juga bagi lingkungan. Menurut Pramono (2004) dari total sampah organik, sekitar 60 % merupakan sayur-sayuran dan 40 % merupakan daun-daunan, kulit buah-buahan dan sisa makanan. Berdasarkan permasalahan itulah penelitian tentang pengolahan limbah kulit pisang ini dilakukan agar lebih berguna untuk masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui kadar alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi dari segi jumlah ragi yang berbeda. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai manfaat limbah kulit pisang.
?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sampah
Dalam kamus lingkungan (1994) dinyatakan bahwa sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat selama manufaktur; atau materi berkelebihan atau buangan.
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan Untuk Manajemen), (Ecolink 1996).
Dalam Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari -hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat dan sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus.
Berdasarkan karakteristiknya, sampah dapat digolongkan menjadi dua yaitu sebagai berikut.
1. Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui prose salami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet, dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan ranting.
?
2. Sampah Anorganik (non-organik).
Sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati, baik sebagai produk sintetik maupun hasil pengolahan teknologi bahan tambang, hasil olahan baan hayati dan sebagainya.
B. Kulit pisang
Kulit pisang merupakan salah satu bagian dari tanaman pisang yang selama ini keberadaannya terabaikan. Menurut Munadjin (1998) Kulit pisang merupakan bahan buangan (limbah buah pisang) yang yang cukup banyak jumlahnyayaitu kira-kira 1/3 dari buah pisang yang belum dikupas. Kandungan unsur gizi kulit pisang cukup lengkap, seperti karbohidrat, lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C, dan air. Kulit pisang kepok digunakan karena mengandung karbohidrat. kemudian di fermentasi dengan menggunakan
Saccharomyces cereviseae menjadi alkohol.
(Sumber Anonim, 1978)
Berdasarkan tabel 1, komposisi terbanyak kedua pad a kulit pisang adalah karbohidrat. Mengingat akan hal tersebut dan prospek yang baik di masa yang akan datang, maka penyusun mencoba mencari peluang untuk memanfaatkan
?
kulit pisang sebagai bahan baku dalam pembuatan bioethanol (Prescott and Dunn,1959).
C. Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme (Anonim, 2007). Bioetanol diartikan juga sebagai bahan kimia yang diproduksi dari bahan pangan yang mengandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium (Khairani, 2007).
Etanol diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku hayati. Etanol atau Etil Alkohol (lebih dikenal dengan alkohol, dengan rumus kimia (C2H5OH) adalah cairan tak berwarna dengan karakteristik antara lain mudah menguap, mudah terbakar, larut dalam air, tidak karsinogenik dan jika terjadi pencemaran tidak memberikan dampak lingkungan yang signifikan.
Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4° atau temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis: 25°/25°, 25°/4°, dan 4°/4°. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara saat zat ditimbang, angka yang berikutnya menunjukkan temperatur air yang digunakan (Martin dkk., 1983). Berat jenis larutan etanol dapat diukur dengan piknometer. Berat jenis larutan etanol semakin kecil, maka kadar etanol di dalam larutan tersebut semakin besar. Hal ini dikarenakan etanol mempunyai berat jenis lebih kecil daripada air sehingga semakin kecil berat jenis larutan berarti jumlah / kadar
?
etanol semakin banyak. Konversi berat jenis menjadi kadar etanol (v/v) disajikan pada tabel 2.
Tabel 2, Konversi berat jenis menjadi etanol
D. Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses oksidasi karbohidrat anaerob jenih atau anaerob sebagian. Dalam suatu proses fermentasi bahan pangan seperti natrium klorida bermanfaat untuk membatasi pertumbuhan organisme pembusuk dan mencegah pertumbuhan sebagian besar organisme yang lain. Suatu fermentasi yang busuk biasanya adalah fermentasi yang mengalami kontaminasi, sedangkan fermentasi yang normal adalah perubahan karbohidrat menjadi alkohol.
?
Mikroba yang digunakan untuk fermentasi dapat berasal dari makanan tersebut dan dibuat pemupukan terhadapnya. Tetapi cara tersebut biasanya berlangsung agak lambat dan banyak menanggung resiko pertumbuhan mikroba yang tidak dikehendaki lebih cepat. Maka untuk mempercepat perkembangbiakan biasanya ditambahkan mikroba dari luar dalam bentuk kultur murni ataupun starter (bahan yang telah mengalami fermentasi serupa). Manusia memanfaatkan Saccharomyces cereviseae untuk melangsungkan fermentasi, baik dalam makanan maupun dalam minuman yang mengandung alkohol. Jenis mikroba ini mampu mengubah cairan yang mengandung gula menjadi alkohol dan gas CO2 secara cepat dan efisien (Sudarmadji K., 1989).
Proses metabolisme pada Saccharomyces cereviseae merupakan rangkaian reaksi yang terarah yang berlangsung pada sel. Pada proses ini terjadi serangkaian reaksi yang bersifat merombak suatu bahan tertentu dan menghasilkan energi serta serangkaian reaksi lain yang bersifat mensintesis senyawa-senyawa tertentu dengan membutuhkan energi.
Saccharomyces cereviseae sebenarnya tidak mampu langsung melakukan fermentasi terhadap makro molekul seperti karbohidrat, tetapi karena mikroba tersebut memiliki enzim yang mampu memutuskan ikatan glikosida sehingga dapat difermentasi menjadi alkohol atau asam. Fermentasi bioetanol dapat didefenisikan sebagai proses penguraian gula menjadi bioetanol dan karbondioksida yang disebabkan enzim yang dihasilkan oleh massa sel mikroba. E. Destilasi (penyulingan)
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan larutan berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan
?
sehingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Destilasi adalah suatu metode pemisahancampuran yang didasarkan pada perbedaan tingkat volatilitas (kemudahan suatu zat untuk menguap) pada suhu dan tekanan tertentu. Destilasi merupakan poses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi kimia selama proses berlangsung. Dasar utama pemisahan dengan cara destilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu. Proses destilasi biasanya melibatkan suatu penguapan campuran dan diikuti dengan proses pendinginan dan pengembunan.
Dalam penyulingan, campuran zat didihkan sehingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal destilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. (Sudjadi, 1986)
?
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam Laboratorium Kualitas Kayu Analisis Produk Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung dari bulan Juli hingga September 2016. Dalam jangka waktu tersebut kegiatan yang dilakukan antara lain persiapan penelitian, pengambilan data hingga penulisan laporan karya ilmiah.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi : Hot plate Blender Aluminium foil Erlenmeyer 1000 mL dan 250 mL Ember Pisau Gunting Saringan Neraca Analitik Alkohol meter pH meter
sedangkan Bahan yang digunakan adalah : Limbah kulit pisang
??
Ragi (tape) Alkohol Tisu C. Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Kulit pisang dicacah kemudian ditimbang sebanyak 500 g dan ditambahkan 500 mL air kemudian diblender.
3. Bubur kulit pisang direbus hingga mendidih dan didinginkan.
4. Setelah dingin campuran bubur kulit pisang disaring dan fitratnya dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 1000 ml.
5. Siapkan ragi untuk proses fermentasi, ragi dihaluskan dan ditimbang untuk variasi penambahan ragi yang dicampurkan ke dalam bubur kulit pisang.
Tabel 3. Variasi penambahan ragi tape Sampel Ragi (gram)
1 5 g
2 10 g
3 15 g
Setiap sampel dilakukan lima kali ulangan sehingga total keseluruhan sampel sebanyak 15 sampel.
6. Masukkan ragi yang telah ditimbang ke dalam Erlenmeyer yang berisi filtrat. 7. Tutup Erlenmeyer menggunakan alumunium foil.
8. Fermentasi sampel selama 3 hari.
9. Sampel yang telah difermentasi selanjutnya didestilasi dengan suhu destilasi 200 °C.
10. Mengukur kadar alkohol pada destilat dengan menggunakan alkohol meter. 11. Timbang destilat untuk mengetahui berat jenisnya.
??
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang di dapatkan dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Sampel Filtrat dan sampel Destilat
No Sampel Ulangan Filtrat (mL) Destilat (mL)
1 1 I 700 100 2 II 650 100 3 III 750 100 4 IV 750 100 5 V 650 100 6 2 I 600 100 7 II 750 100 8 III 700 100 9 IV 650 100 10 V 650 100 11 3 I 700 100 12 II 750 100 13 III 700 100 14 IV 600 100 15 V 750 100
Tabel 5. Berat jenis Destilat
No Sampel Perlakuan Berat jenis g/ml Ket.
1 1 I 0.99992 Berjamur 2 II 0.99987 3 III 0.99990 4 IV 0.99989 5 V 0.99992 Berjamur 6 2 I 0.99591 7 II 0.99594 Berjamur 8 III 0.99589 9 IV 0.99592 10 V 0.99590 11 3 I 0.99267 12 II 0.99269 13 III 0.99263 14 IV 0.99262 15 V 0.99266
Tabel 6. Berat jenis rata-rata tiap sampel
No Sampel berat jenis rata-rata (g/ml)
1 Sampel 1 0.9999
2 Sampel 2 0.9959
??
Gambar 1. Grafik hubungan antara jumlah ragi terhadap berat jenis
Pada penelitian ini dilakukan variasi pembuatan bioetanol dari kulit pisang kapok dengan variasi penambahan ragi yaitu 5 g, 10 g, dan 15 g. hasil penelitian disajikan pada gambar 1 yang menunjukkan pengaruh jumlah ragi terhadap berat jenis pada tiap sampel . Dari gambar 1 terlihat bahwa semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka berat jenis destilat akan mengalami penurunan, begitu pula sebaliknya apabila semakin sedikit jumlah ragi yang digunakan maka berat jenis destilat akan mengalami kenaikan. Setelah diketahui berat jenis destilat dilakukan pengukuran kadar etanol menggunakan alkohol meter, Akan tetapi kadar etanol tidak terukur pada alat sehingga diambil alternatif untuk menentukan kadar etanol menggunakan tabel konversi berat jenis menjadi kadar etanol.
Dari hasil penentuan berat jenis dengan menggunakan tabel konversi berat jenis kadar etanol diketahui bahwa sampel 2 dan 3 dengan penambahan
?????? ?????? ?????? ????? ????? ????? ????? ????? ????? ????? ????? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ?? ?? ?? ?? ?? ?? Jumlah Ragi (g)
??
ragi 10 g dan 15 g memiliki kadar etanol berkisar antara 0,00 5,00 % sedangkan untuk sampel 1 dengan penambahan ragi 5 g memiliki kadar etanol 0.00 % Rendahnya kadar etanol yang diperoleh dikarenakan tidak dilakukan proses hidrolosis pati dan suhu destilasi tidak dilakukan pada titik didih etanol.
??
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampel ke tiga dengan jumlah ragi 15 g memiliki berat jenis destilat, yaitu 0.992654 g/ml dari hasil tersebut dikonversikan pada tabel konversi berat jenis sehingga diketahui bahwa kadar etanol yang di dapatk an berkisar antara 0.00 - 5.00 %.
Perlunya penelitian lanjutan tentang pembuatan bioe tanol dari limbah kulit pisang proses pembuatan harus disertai dengan pemisahan kadar glukosa terlebih dahulu pada kulit pisang untuk memudahkan proses fermentasi. Sehingga kadar etanol yang didapatkan bisa lebih baik.
??
DAFTAR PUSTAKA
Aulia Dan Atiek Moesriati.2008. Fermentasi Sampah Buah Menjadi Etanol Menggunakan Bakteri Zymomonas mobilis Teknik Lingkungan, ITS Sukolilo, Surabaya.
Dilapanga Shinta, Ishak , dan La Alio. 2010. Pemanfaatan Kulit Pisang Menjadi Etanol dengan Cara Hidrolisis Dan Fermentasi Menggunakan
Saccharomyces cerevisiae Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas
Matematika dan IPA Universitas Negeri. Gorontalo.
Kwartiningsih dan Mulyati. 2005. Fermentasi sari buah nanas menjadi vinegar. EKUILIBRIUM Vol. 4 (No. 1).
Khairani, Rini. 2007. Tanaman Jagung Sebagai Bahan Bio-fuel
http://www.Macklintmip unpad. net/ Biofuel/ Jagung/ Pati.pdf. diakses tanggal 10 Oktober 2001
Prescott, S. G and C. G. Said. 1959. Industrial Microbiology. ed 3, McGraw-Hill Book Company. New York.
Rahim Ar Dicka. 2009. Produksi Etanol oleh Saccharomyces cerevisiae var.
Ellipsoideus Dari sirup dekstrin pati sagu (metroxylon sp.)
MenggunakanMetode aerasi penuh dan aerasi dihentikan. Skripsi. Fakultas teknologi pertanian Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Raudah, Helmi dan Khaidir. 2009. Pembuatan bioetanol dari limbah cair hasil pengolahan basah kopi arabika.
http://snyube2012.pnl.ac.id/download/makalah/R006.pdf diakses tanggal 5 juli 2016
Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi. 1984. Prosedur analisa untuk bahan
??
??
Lampiran 1. Gambar 2 Limbah Kulit Pisang
??
Lampiran 3. Gambar 4 dan 5 Proses Destilasi (Penyulingan) Sampel
Lampiran 4. Gambar 6 dan 7 Proses Penimbangan Berat Jenis Cairan Sampel yang di Destilasi
??
Lampiran 5 gambar 8. Ragi tape dihaluskan