• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi penelitian

Lokasi yang menjadi obyek penelitian adalah lereng di Desa Tambakmerang, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Peneliti memilih lokasi lereng tersebut karena kondisi tanah yang tidak stabil dan sebagian lereng mengalami longsor dan dikhawatirkan longsoran akan semakin parah apabila tidak segera ditangani. Peneliti melakukan penelitian dengan memperhitungkan tingkat keamanan pada lereng. Denah lokasi penelitian dilakukan seperti terlihat pada Gambar 3.1. sebagai berikut :

Sumber : http://www.earth.google.com

(2)

3.2 Data penelitian

Data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder. Data sekunder meliputi properties tanah dan data topografi. Data properties tanah diperoleh dari peneliti sebelumnya yaitu, Prabawa (2015), Universitas Sebelas Maret. Berdasarkan data topografi lereng yang diperoleh dari peneliti sebelumnya, diketahui kondisi topografi lereng memiliki kemiringan sebesar 60° dan ketinggian 14 meter.

3.3 Variasi pada penelitian

Bentuk konfigurasi pemasangan bronjong yang akan dianalisis untuk meningkatkan stabilitas lereng. Pemasangan konfigurasi bronjong yang relatif paling aman untuk ditempatkan pada lereng di Desa Tambakmerang, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri.

a. Variasi I b. Variasi II c. Variasi III d. Variasi IV

Tabel 3.1 dibawah ini menjelaskan variasi pemasangan bronjong yang akan dianalisis, sebagai berikut :

Tabel 3.1 Variasi Konfigurasi Bronjong

No. Variasi Jumlah Bronjong Konfigurasi Bronjong (Undakan) Lebar Bronjong (meter) @Tinggi Bronjong (meter) Total Tinggi (meter) 1 I 18 7 4,00 1,00 7 2 II 16 5 4,00 1,00 5 3 III 11 5 3,00 1,00 5 4 IV 9 4 3,00 1,00 4

(3)

Keterangan :

1. Konfigurasi Variasi I

Gambar 3.2 Konfigurasi bronjong variasi I

2. Konfigurasi Variasi II

(4)

3. Konfigurasi Variasi III

Gambar 3.4 Konfigurasi bronjong variasi III

4. Konfigurasi Variasi IV

(5)

Sketsa profil lereng dengan diperkuat bronjong disimulasikan dengan gambar sesuai keadaan di lapangan yang dapat dilihat pada Gambar 3.6 sampai dengan Gambar 3.9 sebagai berikut :

Gambar 3.6 Sketsa lereng dengan bronjong variasi I

(6)

Gambar 3.8 Sketsa lereng dengan bronjong variasi III

(7)

3.4. Software Geoslope

Geoslope (Slope W) merupakan produk perangkat lunak untuk menghitung faktor keamanan tanah dan kemiringan batuan. Slope W, dapat menganalisis masalah baik secara sederhana maupun kompleks dengan menggunakan salah satu dari delapan metode kesetimbangan batas untuk berbagai permukaan yang miring, kondisi tekanan pori air, sifat tanah dan beban terkonsentrasi serta elemen tekanan pori air yang terbatas, tegangan statis, atau tekanan dinamik pada analisis kestabilan lereng.

Tahapan-tahapan pembuatan analisis kestabilan lereng dengan menggunakan software Geoslope (Slope W) :

1. Membuka software Geostudio 2007, kemudian pilih New, klik SLOPE/W. Seperti terlihat pada Gambar 3.10.

(8)

2. Memasukkan nama pada kotak Name, menentukan Analysis Type yang akan digunakan, kemudian klik Entry and Exit. Seperti terlihat pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11 Menentukan analysis type

3. Klik Set, pilih Page dan pilih Units menggunakan mm, kemudian menentukan Working Area, klik OK. Seperti terlihat pada Gambar 3.12.

(9)

4. Klik Set, pilih Unit and Scale, kemudian menentukan Scale dan Problem Extents, klik OK. Seperti terlihat pada Gambar 3.13.

Gambar 3.13 Menentukan scale dan problem extents

5. Klik Set, memilih Grid, kemudian klik Display Grid dan Snap to Grid. Seperti terlihat pada Gambar 3.14

(10)

6. Klik Sketch, memilih Axes, klik OK. Seperti terlihat pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15 Memilih axes

7. Klik pada satu titik grid, kemudian tarik cursor ke arah ujung berlawanan dari titik awal untuk menentukan garis sumbu Distance dan Elevation. Seperti terlihat pada Gambar 3.16.

(11)

8. Klik Sktech, pilih Polylines, kemudian membuat pemodelan lereng berdasarkan kondisi eksisting pada area kerja. Seperti terlihat pada Gambar 3.17.

Gambar 3.17 Membuat pemodelan lereng

9. Klik Draw, pilih Regions, kemudian membuat garis Regions mengikuti garis polylines yang telah ada. Seperti terlihat pada Gambar 3.18.

(12)

10. Klik Draw, pilih Material, kemudian diberi nama tanah pada kolom Name, pilih Mohr-Coulomb pada kolom Material Model, memasukkan data properties tanah pada Unit Weight, Cohesion, dan Phi. Seperti terlihat pada Gambar 3.19.

Gambar 3.19 Memasukkan data properties tanah

11. Klik pada area sketsa lereng yang telah dibuat di Working Area untuk memasukkan material tanah yang telah dibuat sebelumnya. Seperti terlihat pada Gambar 3.20.

(13)

12. Klik Draw, pilih Slip Surface, kemudian mentukan garis Entry and Exit pada garis permukaan lereng yang terdapat di Working Area, klik Done. Seperti terlihat pada Gambar 3.21.

Gambar 3.21 Menentukan garis entry and exit

13. Klik Tools, memilih Verify/Optimize. Dilihat hasilnya dan memastikan tidak ada kesalahan atau peringatan setelah dilakukan verifikasi. Seperti terlihat pada Gambar 3.22.

(14)

14. Klik Tools, memilih Solve Analysis, klik Start. Seperti terlihat pada Gambar 3.23.

Gambar 3.23 Memilih solve analysis

15. Dari hasil Solve Analysis, akan didapatkan Minimum Factor of Safety. Seperti terlihat pada Gambar 3.24.

(15)

16. Klik Window, pilih CONTOUR. Hasilnya akan tampak irisan pada kelongsoran lereng yang dianalisis. Seperti terlihat pada Gambar 3.25.

Gambar 3.25 Hasil potensial kelongsoran lereng

17. Klik Draw, memilih Slip Surfaces. Pada mode ini dapat dilihat jumlah dan nilai pada irisan yang terjadi dari hasil analisis yang telah dilakukan. Seperti terlihat pada Gambar 3.26.

(16)

18. Klik Select Critical Slip, klik View Slice Info. Maka dapat dilihat hasil analisis kelongsoran kritis yang terjadi pada irisan disertai nilai hasil perhitungan dan diagram irisan yang kritis. Seperti terlihat pada Gambar 3.27.

Gambar 3.27 Nilai hasil perhitungan dan diagram irisan yang kritis

Template SLOPE/W pada software Geoslope memiliki penentuan kelongsoran dengan menggunakan metode Auto-Locate. Berdasarkan pada masalah geometri, SLOPE/W menentukan area Entry and Exit mendekati permukaan tanah dan kemudian melakukan rangkaian percobaan analisis menggunakan metode Entry and Exit. Setelah dapat menentukan perkiraan posisi kelongsoran kritis, SLOPE/W menerapkan cara Optimization untuk menemukan faktor keamanan yang paling kecil.

Metode Auto-Locate adalah gabungan antara metode Entry and Exit dengan metode Optimization, kecuali percobaan otomatis untuk mentukanan kemungkinan posisi Entry and Exit agar dapat menemukan solusi yang mendekati. Keberhasilan pada metode ini tergantung pada perkiraan yang realistis, kemudian solusi akhir harus sangat mirip pada metode Optimization.

Ketika Auto-Located digunakan, SLOPE/W menghasilkan 1000 percobaan kelongsoran untuk menemukan kemungkinan paling kecil kelongsoran sebelum optimization diterapkan. Hasilnya, Auto-Locate akan selalu mengarahkan kepada hasil yang sesuai. Cara Auto-Locate menjadi cara yang penting pada penentuan lokasi kelongsoran kritis.

(17)

3.5. Bronjong

Sifat tampak dari kawat bronjong menurut (SNI 03-0090-1999) antara lain : 1. Harus kokoh.

2. Bentuk anyaman heksagonal dengan lilitan ganda dan berjarak maksimum 40 mm serta harus simetri.

3. Lilitan harus erat, tidak terjadi keseragaman hubungan antara kawat sisi. 4. Kawat anyaman minimum dililit tiga kali sehingga kawat mampu menahan

beban dari segala arah.

Kawat bronjong mempunyai bentuk dan ukuran berbeda – beda. Bentuk dan ukuran kawat bronjong dijelaskan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Bentuk dan ukuran kawat bronjong (SNI 03-0090-1999)

Deskripsi

Bronjong kawat bentuk

I II

Ukuran anyaman 80 mm x 100 mm 60 mm x 80 mm

100 mm x 120 mm 80 mm x 100 mm

Ø kawat anyaman 2,70 mm atau 3,00 mm 2,00 mm atau 2,70 mm Ø kawat sisi 3,40 mm atau 4,00 mm 2,70 mm atau 3,40 mm

Ø kawat pengikat 2,00 mm 2,00 mm

Toleransi ukuran kotak

(panjang, lebar, tinggi) 5% 5%

Keterangan :

= bentuk dan ukuran kawat bronjong yang dipasang di lereng Desa Tambakmerang, Girimarto, Wonogiri.

(18)

Bronjong yang akan dibuat harus sesuai dengan ukuran atau dimensi yang telah ditetapkan. Hal ini seperti pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Dimensi kawat bronjong (SNI 03-0090-1999)

Bentuk I (meter) Bentuk II (meter)

Panjang(m) Lebar (m) Tinggi (m) Panjang(m) Lebar (m) Tinggi (m)

2 1 0,5 6 2 0,17 3 1 0,5 6 2 0,23 4 1 0,5 6 2 0,30 3 1,5 0,5 2 1 1 3 1 1 4 1 1 Keterangan :

= bentuk dan ukuran kawat bronjong yang dipasang di lereng Desa Tambakmerang, Girimarto, Wonogiri.

Menurut SNI 03-0090-1999 bentuk dan ukuran bronjong sebaiknya terlihat seperti Gambar 3.28.

(19)

Batuan pengisi bronjong sangat penting untuk menetukan kekuatan dari pada bronjong itu sendiri. Menurut INT / TN_DT_022 – Rev. 01, Dec. 2013, Unit Weight And Ratio Of Gabion, by Maccaferri, menjelaskan ada beberapa jenis batuan pengisi bronjong. Berat jenis batuan (γs) yang digunakan didalam bronjong

seperti pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Berat Jenis Batuan (Maccaferri, 2013)

Jenis Batuan Berat jenis (kN/m3)

Basal 29

Granit 26

Batu Kapur Keras 26

Batu Alam 25

Batu Belah 23

Batu Kapur Lembut 22 Batuan Beku 17

Berat jenis batuan pengisi bronjong, kemudian dimasukkan data bronjong ke dalam program dengan melakukan pendekatan INT / TN_DT_027 – Rev. 0, July 2013, Values Of Geotechnical Parameters For Gabions In Macstars W, by Maccaferri.

Tipe kawat bronjong mempunyai dimensi yang berbeda – beda. Hal ini dijelaskan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Tipe kawat bronjong

Tipe Dimensi (m) Kawat sisi (mm) Kawat anyam (mm) Lubang mesh (mm) A 2 x 1 x 0,5 3,4 2,7 18 x 20 B 2 x 1 x 0,5 3,4 2,7 15 x 17 C 2 x 1 x 0,5 3,4 2,7 8 x 10 D 2 x 1 x 0,5 3,4 3,0 8 x 10 E 2 x 1 x 1,0 3,4 2,7 18 x 20 F 2 x 1 x 1,0 3,4 2,7 15 x 17 G 2 x 1 x 1,0 3,4 2,7 8 x 10 H 3 x 1 x 0,5 3,4 2,7 18 x 20 I 3 x 1 x 0,5 3,4 2,7 15 x 17 J 3 x 1 x 0,5 3,4 2,7 8 x 10 K 3 x 1 x 0,5 3,4 2,7 8 x 10

(20)

3.4 Diagram alir penelitian

Gambar 3.29 Flow chart metodologi penelitian MULAI

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

DATA TANAH : - Lereng DATA PROFIL LERENG DATA SPESIFIKASI BRONJONG

SKETSA PROFIL LERENG DENGAN VARIASI POSISI BRONJONG YANG

AKAN DIPASANG

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN SELESAI MENGHITUNG SF DENGAN BANTUAN PROGRAM GEOSLOPE (Tanpa Perkuatan) MENGHITUNG SF DENGAN METODE BISHOP YANG DISEDERHANAKAN (Tanpa Perkuatan) MENGHITUNG SF DENGAN BANTUAN PROGRAM GEOSLOPE (Dengan Perkuatan) MENGHITUNG SF DENGAN METODE BISHOP YANG DISEDERHANAKAN (Dengan Perkuatan)

Gambar

Gambar 3.1 Lokasi penelitian
Tabel  3.1  dibawah  ini  menjelaskan  variasi  pemasangan  bronjong  yang  akan dianalisis, sebagai berikut :
Gambar 3.2 Konfigurasi bronjong variasi I
Gambar 3.4 Konfigurasi bronjong variasi III
+7

Referensi

Dokumen terkait

Cara konfigurasinya ialah dengan klik menu Interfaces lalu pilih ether mana yang akan di rename sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan posisi port ethernet

Klik Input Penggunaan Form Input Penggunaan Klik Tambah Klik Simpan Isi Data Data Tersimpan Pilih Data Ubah Data Klik Ubah Pilih Data Klik Hapus Data Terhapus

Untuk membuat Background kita dapat melakukannya dengan menggunakan program Corel Draw X5, yaitu dengan cara: Klik Menu Start  Pilih All Program  Klik Corel Draw X5,

76 dengan Langkah pembuatannya adalah : Buka program Surfer → Klik menu Data → Pilih data yang akan diinterpolasi (data LiDAR/SRTM/ASTER dalam format *.xyz) → Pada Output Grid

Klik Tambah Klik Simpan Isi Data Data Tersimpan Pilih Data Ubah Data Klik Ubah Pilih Data Klik Hapus Data Terhapus Tidak... Activity Diagram Form

Klik Input Penjualan Form Input Penjualan Klik Tambah Klik Simpan Isi Data Data Tersimpan Pilih Data Ubah Data Klik Ubah Pilih Data Klik Hapus Data Terhapus

Penulangan pelat lantai dilakukan dengan menggunakan element slab main bar, lalu menuju ke menu draw dan pilih parametric arrangement seperti terlihat pada Gambar 3.58, setelah memilih

Untuk menguji instrumen tes menggunakan aplikasi SPSS dapat menggunakan langkah – langkah berikut : a Buka aplikasi SPSS b Klik variabel view kemudian input variabel c Klik data view