• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK PERENCANDAN IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBANGUNAN DI WILAYAH PAPUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLITIK PERENCANDAN IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBANGUNAN DI WILAYAH PAPUA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Disampaikan Oleh :

Willem Wandik, S.Sos

Ketum DPP GAMKI/ Wakil Ketum DPP Demokrat/ Kapoksi DPR RI/ Anggota DPR RI Dapil Papua

POLITIK PERENCANDAN IMPLEMENTASI

PROGRAM PEMBANGUNAN

DI WILAYAH PAPUA

(2)

OUTLINE PAPARAN

Kondisi Daerah

Arah dan Kebijakan Infrastruktur Perhubungan Realisasi Infrastruktur Perhubungan 2015-2019 Rencana Infrastruktur Perhubungan 2020-2030 Penutup

(3)

KONDISI WILAYAH PAPUA

DAN PAPUA BARAT

(4)

1) Kondisi geografis wilayah Papua yang cukup beragam, ada daerah yang wilayahnya pegunungan (Puncak Jaya sebagai daerah yang tertinggi di Indoensia), wilayahnya kepulauan baik yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni, wilayahnya lautan/sungai/rawa-rawa dan wilayah yang cukup rawan bencana serta wilayah dengan daerah tertinggal dan kampung tertinggal yang cukup besar posentasenya dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia.

2) Pembangunan di wilayah Papua tidak boleh disamakan dengan wilayah lainnya di

Indoensia, dibutuhkan adanya afirmasi program dan anggaran khususnya

pembangunan konektivitas infrastruktur transportasi anntar wilayah baik darat, laut/sungai/rawa dan udara khususnya ke daerah3T (tertinggal, terluar/perbatasan, terisolir sebagai upaya mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah secara nasional untuk meningkatkan laju perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya (peningkatan SDM).

PENGANTAR : KONDISI DAERAH PAPUA DAN PAPUA BARAT

(5)

3) Kebutuhan pembangunan transportasi bandara udara perintis di setiap distrik di wilayah Papua. Hal ini dsebabkan sebagian besar distrik di Papua hanya dapat dicapai melalui pesawat udara perintis untuk DAPAT sampai ke semua distrik sehingga dapat membuka akses pedalaman di seluruh wilayahPapua. .

PENGANTAR : KONDISI DAERAH PAPUA DAN PAPUA BARAT...2

(6)

• 28 Kab/1 Kota (22 Kab Tertinggal), 560 Kec, 110 Kelurahan, 5.411 Kampung (87% kampung tertinggal) di Papua; • 12 Kab/1 Kota (8 Kab tertinggal), 218

Kec, 106 Kelurahan, 1.742 Kampung (82% kampung tertinggal) di Pabar

•27 sungai

panjang & lebar; 598 pulau

(Papua), •27 sungai

panjang & lebar; 1.954 pulau (Pabar). •4,346,593 Jiwa: 5 Wilayah Adat (Papua); •1,106,289 Jiwa: 2 Wilayah Adat (Pabar) •312,091,62 km2 (Papua); •102,955,15 km2 (Pabar) LUAS WILAYAH JUMLAH PENDUDUK & WILAYAH ADAT WILAYAH PEMERINTAHAN JUMLAH PULAU DAN SUNGAI

(7)

1. Pembangunan infrastruktur untuk perluasan penyediaan pelayanan dasar;

2. Pengembangan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi terutama pada kawasan-kawasan prioritas, dan pembangunan infrastruktur perkotaan.

3. Pembangunan infrastruktur untuk pemerataaan antar wilayah;

4. Pengembangan infrastruktur ketersediaan sarana dan prasarana transformasi serta

penyelenggaraan aksesibilitas transportasi pada daerah tertinggal, terluar dan terdalam (3T), terutama terkait cakupan pelayanan transportasi perintis;

5. Pengembangan dan pemanfaatan konektivitas multimoda dan antarmoda, dilakukan

percepatan dalam rangka menurunkan biaya logistik, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan mobilitas penumpang dan barang, terutama akses menuju simpul transportasi seperti pelabuhan, bandara, stasiun, dan terminal.

6. Peningkatan Konektivitas Multimoda dan Antarmoda untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, melalui: (1) Konektivitas Transportasi Jalan; (2) Konektivitas Transportasi Kereta Api; (3)

Konektivitas Transportasi Laut; (4) Konektivitas Transportasi Udara; dan (5) Konektivitas Transportasi Darat;

ARAH DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERHUBUNGAN

(8)

1. Undang-Uindang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua; 2. Undang-Uindang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Otonomi Khusus Papua Barat;

3. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020 – 2024;

4. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015. tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019;

5. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang. Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat;

6. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2017 tentang. Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat;

7. Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015 – 2019 dan Tahun 2020 – 2024. 8. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 166 Tahun 2019 tentang Tatanan Kebandarudaraan

Nasional;

9. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 432 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional;

10.Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 2128 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional.

DASAR PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERHUBUNGAN WILAYAH PAPUA

(9)

REALISASI PEMBANGUNAN/PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PERHUBUNGAN 2015-2019

(10)

KEPELABUHANAN – PERHUBUNGAN LAUT

Provinsi Papua :

 Pembangunan Pelabuhan Depapre,  Pembangunan Pelabuhan Nabire,  Pembangunan Pelabuhan Pomako,  Pembangunan Pelabuhan Moor, dan  Pembangunan Pelabuhan Serui.

Provinsi Papua Barat :

 Pembangunan Pelabuhan Kaimana

 Pembangunan Pelabuhan Folley, Raja Ampat,

 Pembangunan Pelabuhan Wasior, Teluk Wondama,

 Pembangunan Pelabuhan Sorong (mencapai standar sesuai kriteria  Integrated Port Network – IPN.

(11)

Pembangunan dan mengembangkan infrastruktur transportasi perhubungan udara, di Provinsi

Papua :

Bandara Werur, Tambrauw di Papua Barat (melayani penerbangan perintis rute Werur

-Sorong 1x seminggu);

Bandara Koroway Batu, Boven Digoel di Papua (melayani penerbangan perintis rute Koroway

Batu - Tanah Merah 1x seminggu).  Bandara Ewer,

 Bandara Kepi,  Bandara Ilaga,  Bandara Oksibil,

 Bandara Nabire Baru, dan  Bandara Mopah.

KEBANDARUDARAAN – PERHUBUNGAN UDARA

Provinsi Papua Barat :

 Bandara Rendani, Manokwari;  Bandara Waisai, Raja Ampat;  Bandara Wasior Baru; dan

(12)

BANDAR UDARA EXITING DI PAPUA 1. Frans Kaisiepo 2. Sentani 3. Mopah 4. Dabra 5. Yumf 6. Molof 7. Kumur 8. Kimam 9. Elelim 10. Taive II 11. Bomakia 12. Stevanus Rembewas 13. Senggeh 14. Nabiie 15. Manggclum 16. Wagliele 17. Wamena 18. Sinak 19. Kelila 20. Abovaga 21. Kiwirok 22. Aboy 23. Bilorai 24. Yamruma 25. Bilai

26. Nop Golial Dekai 27. Kebo 28. Kobakma 29. Akimuga 30. Apalapsili 31. Enarolali 32. Kenyam 33. Mararena 34. Mapnduma 35. Tanah Merah 36. Mugi 37. Mulia 38. Paro 39. Oksibil 40. Fawi 41. Moanamam 42. Borome 43. Mindiptana 44. Beoga 45. Kepi 46. Jila 47. Kokonau 48. Jita 49. Bokondini 50. Polowai 51. Ok aba 52. Tsinga 53. Numfor 54. Alama 55. lllaga 56. Wangbc 57. Illu 58. Towchilam 59. Tiom 60. Esvcr 61. Bade 62. Karubaga 63. Senggo 64. Mozes Kilangin Sumber: Kementerian Perhubungan, 2019

(13)

1. Rcndani

2. Dotnine Eduard Osok 3. Torea 4. Bintuni 5. Babo 6. Utarom 7. Wnsior 8. Inanwatan 9. Teminabuan 10. Ayawasi

BANDAR UDARA EXITING DI PAPUA BARAT 11. Ijahabra 12. Mcrdey 13. Anggl 14. Kambuava 15. Wemr 16. Kebar 17. Marinda

(14)

Provinsi Papua :

 Pembangunan Terminal Bus (Penumpang) dan Bus Air Entrop di kota Jayapura,

 Pembangunan Terminal Barang Skouw (Papua),

 Pembangunan dermaga bus air di Danau Sentani,

 Pembangunan Fasilitas Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Skouw,

PERHUBUNGAN DARAT

)

Provinsi Papua Barat:

 Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Klademak, Batanta, Salawati;  Pembangunan Terminal Klademak.

(15)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

PERHUBUNGAN 2020-2030

(16)

Pembangunan Pelabuhan di Provinisi Papua :

 Pelabuhan Sungai Akat, Kabupaten Asmat;  Pelabuhan Sungai Agats; Asmat;

 Pelabuhan Sungai Ewer, Asmat;  Pelabuhan Nabire;

 Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Serui;  Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Moor, Nabire  Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Nabire

(17)

Pembangunan Bandar Udara di Provinsi Papua :  Bandar Udara Manggelum - Boven Digoel,  Bandar Udara Korowai Batu - Merauke,  Bandar Udara Tiom - Lanny Jaya;

 Bandar Udara Kiwirok - Pegunungan Bintang;  Bandar Udara Nabire Baru

Pengembangan Bandara Udara :

 Bandar Udara Enarotali – Enarotali;  Bandar Udara Ewer;

 Bandar Udara Ilaga;

 Bandara Udara Mopah – Merauke;

 Bandar Udara Mozes Kilangin – Timika;  Bandar Udara Oksibil;

 Bandar Udara Tanah Merah;  Bandar Udara Wamena;  Bandar Udara Kepi;

(18)

KEBANDARUDARAAN – PERHUBUNGAN UDARA...2

Provinsi Papua Barat :

 Pengembangan Bandara Babo, Teluk Bintuni;  Pembangunan Bandara Siboru, Fak Fak

 Pembangunan Bandara Wasior Baru;

(19)

 Peningkatan rute pelayanan perintis dan subsidi untuk angkutan udara kargo yang tersebar pada KPA : Timika (7 Rute), Dekai (10 rute), Tanah Merah (5 Rute). Kegiatan Angkutan udara kargo (Jembatan Udara) memastikan bahan kebutuhan pokok yang diangkut melalui tol laut dan jembatan udara dapat

mencapai daerah-daerah pedalaman, terpencil, terluar dan perbatasan dengan prioritas pembangunan dan pemberian subsidi angkutan perintis penumpang dan kargo di wilayah Pegunungan Papua dan perbatasan.

 Penyediaan subsidi angkutan BBM kargo sebanyak 2.191 drum yang tersebar pada KPA : Tanah Merah (1.099 Drum), Dekai (667 Drum).

(20)

Provinsi Papua :

 Penyediaan Bus sebanyak 619 unit-sekaligus untuk mendukung pelaksanaan PON 20 :

 Kota Jayapura : 227 unit (Bus Pengadaan dan Sewa 142 Unit)  Kabupaten Jayapura : 158 unit (Bus Pengadaan Bus Sedang)  Kabupaten Mimika : 145 unit (Bus Pengadaan Bus Sedang)  Kabupaten Merauke : 89 unit (Bus Pengadaan Bus Sedang

 Penyediaan Sarana dan Prasarana di Danau Sentani meliputi penyediaan 2 unit Bus Air, dan Penyediaan 2 dermaga ponton

(21)

Jaringan kereta api antarkota di Pulau Papua difokuskan untuk mendukung layanan angkutan barang.

PERHUBUNGAN PERKERETAAPIAN

Sasaran pengembangan jaringan dan layanan perkeretaapian yang ingin dicapai pada tahun 2030 antara lain:

a. Jaringan perkeretaapian nasional (termasuk Papua);

b. Sarana angkutan penumpang dengan jumlah lokomotif (termasuk Papua); c. Sarana angkutan barang dengan jumlah lokomotif dan gerbong (termasuk

Papua);

d. Peningkatan ekonomi wilayah tiap daerah. e. Peningkatan konektivitas; dan

(22)

 Mewujudkan pemerataan pembangunan perkeretaapian di seluruh wilayah Indonesia (termasuk Pulau Papua). Adapun ruang lingkup program percepatan pembangunan perkeretaapian meliputi:

 Rencana Jaringan Kereta Api Tahun 2030 Papua sepanjang (Km) 100 km;  Pengembangan jaringan kereta api Trans Papua dengan prioritas pertama

penyelesaian dokumen teknis guna mendukung kesiapan rencana pembangunan

jalur KA Trans Papua yaitu untuk lintas Sorong Manokwari, Jayapura -Sarmi.

Rencana Kebutuhan Sarana Perkeretaapian di Pulau Papua tahun 2030, diperlukan lokomotif sebanyak 18 unit dan kereta sebanyak 29 unit untuk mengangkut penumpang sebesar 1.500.000 orang/tahun.

 Untuk angkutan barang dibutuhkan lokomotif sebanyak 70 unit dan gerbong sebanyak 1.212 unit untuk mengangkut barang sebesar 6.500.000 ton/tahun.

 Rencana kebutuhan sarana perkeretaapian tersebut di atas harus didukung fasilitas

perawatan sarana seperti: balai yasa dan depo dengan jumlah yang cukup sesuai dengan standar perawatan sarana perkeretaapian

(23)

 Kebutuhan Kereta Api Perkotaan Kebutuhan kereta api perkotaan di Indonesia dikaji dengan pendekatan bahwa penyediaan layanannya harus tersedia di kota-kota besar yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa atau secara pergerakan

internal kota tersebut sudah memerlukan angkutan massal berupa kereta api perkotaan.

 Kereta api perkotaan ini akan melayani perjalanan komuter penduduk kota tersebut dan perjalanan lokal yang dalam pelayanannya terintegrasi dengan moda transportasi darat lainnya.

 Berikut beberapa kota di Indonesia yang akan dilayani oleh kereta api perkotaan

sampai dengan tahun 2030: • Jabodetabek • Bandung Raya • Surabaya f Semarang • Yogyakarta • Malang • Solo • Denpasar • Banda Aceh • Medan • Batam • Makassar • Padang • Manado • Pekanbaru • JAYAPURA • Palembang • Lampung

(24)

Gambar. Desire line Perjalanan Penumpang dan Barang Menggunakan Moda Kereta Api di Pulau Papua Tahun 2030

(25)
(26)

1. Infrastruktur transfortasi perhubungan udara (bandara) yang dimiliki Papua merupakan terbanyak di Indonesia.

2. Semakin menurunnya APBN dari tahun ke tahun (CATATAN: Tahun 2015, Rp.75 Trilyun dan Tahun 2020 Rp.35 Trilyun) sehingga berdampak pada realisasi pembangunan infrastruktur perhubungan di wilayah Papua.

3. Dengan semakin berkembangnya wilayah dan adanya perencanaan pemekaran wilayah Papua maka perlu adanya pembaharuan dokumen

perencanaan induk bagi pembangunan infrastruktur perhubungan yang saat ini sudah ada.

4. Dalam revisi UU Otonomi Khusus Papua perlu dibuat dalam lampiran secara detail pada Regulasi Teknisnya (Peraturan Pemerintah) terkait

pembangunan/pengembangan infrastruktur perhubungan yang ada di

(27)

TERIMA KASIH

Disampaikan pada acara diskusi publik terkait kebijakan infrastruktur perhubungan di wilayah Papua, yang diselenggarakan oleh Vox Point Indonesia pada tanggal 16 Desember 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Perkebunan kakao rakyat memiliki prospek dalam mendukung usahatani integrasi dengan ternak kambing. Potensi daya dukung mencapai 6,05 ekor ternak kambing dewasa dalam areal luasan

Aplikasi – Aplikasi pada Virtual Reality dengan menggunakan teknologi Leap Motion dan hubungannya dengan Artificial Neural Network dalam Interaksi Manusia dan Komputer (IMK)...

Ketepatan pemilihan kata menuntut pula kesadaran penulis untuk mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referennya. Ketepatan pemilihan kata

Ketiga, Memberikan pertanggungjawaban terhadap dilaksanakan Proklamasi 17 Agustus 1945, yaitu bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia yang diperoleh melalui perjuangan luhur, disusun

Pasien menjalani pemeriksaan rontgen torak dan diperoleh gambaran efusi pleura pada hemitorak kanan, kemudian pasien dilakukan pungsi pleura untuk dilakukan

yang melibatkan sebagian besar dari satu atau kedua rongga pleura. /apat pula terjadi perubahan pleura parietal. =ika nanah yang tertimbun tersebut tidak disalurkan keluar, maka

Hasil foto SEM pada Gambar 4.13 menunjukkan bahwa membran selulosa diasetat dari serat daun nanas dengan komposisi 1% dan waktu penguapan 30 detik merupakan

Sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Al-Muhadzab, karangan Imam al-Syirazi yang merupakan salah satu ulama’ Mazhab Syafi’i yang menjelaskan pendapat