1
Reviktimisasi Perempuan Korban Pemerkosaan Dalam Qanun Jinayat di Aceh
Nursiti1 Abstrak
Reviktimisasi terhadap korban dapat terjadi karena substansi kebijakan. Salah satu kebijakan yang dinilai berpeluang untuk menyebabkan reviktimisasi terhadap korban adalah Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat. Di dalam Qanun Jinayat tersebut diatur larangan terkait 10 (sepuluh) jarimah/tindak pidana dan salah satunya adalah jarimah pemerkosaan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis adanya rumusan kebijakan kriminal yang bertentangan dengan asas keadilan dan kepastian hukum sehingga dapat menyebabkan reviktimisasi bagi korban pemerkosaan. Data dari analisis ini bersumber dari Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat dengan menggunakan metode penelitian normatif. Terdapat perbedaan pengertian tindak pidana pemerkosaan yang diatur di dalam KUHP dengan yang diatur di dalam Qanun Jinayat. Walaupun batasan tindak pidana pemerkosaan di dalam Qanun lebih luas, namun sanksi pidananya lebih rendah jika dibandingkan dengan KUHP. Salah satu rumusan pasal yang dinilai dapat menimbulkan reviktimisasi adalah Pasal 52 ayat (1) yang membebankan korban perkosaan untuk menyerahkan bukti permulaan apabila ingin mengadukan pelaku dari perkosaan yang dialaminya. Kewajiban untuk melengkapi alat bukti adalah tugas dari aparat penegak hukum, bukan menjadi tanggungjawab korban. Pembebanan tanggungjawab untuk menyediakan bukti permulaan tersebut bertentangan dengan ketentuan KUHAP dan akan menyebabkan korban pemerkosaan mengalami reviktimisasi. Karena itu rumusan pasal yang terkait dengan jarimah pemerkosaan harus direvisi agar dapat memberikan keadilan bagi korban.
Kata Kunci: Reviktimisasi, Pemerkosaan, Qanun Jinayat, Aceh
A. PENDAHULUAN
Provinsi Aceh adalah salah satu dari 34 Provinsi yang ada di negara Indonesia yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh memiliki memiliki otonomi khusus dan keistimewaan untuk menerapkan Syariat Islam. Melalui undang-undang tersebut Provinsi Aceh dapat menetapkan peraturan yang berbeda dengan provinsi lainnya di Indonesia termasuk pengaturan tentang hukum pidana yang berdasarkan pada hukum Islam (jinayat). Istilah yang kemudian digunakan di provinsi Aceh
1 Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Mahasiswa Doktoral
untuk peraturan tersebut adalah Qanun, yang di provinsi lain istilah yang digunakan adalah Peraturan Daerah (Perda).
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat
(selanjutnya disebut Qanun Jinayat) disahkan di Banda Aceh pada tanggal 24 September 2014. Sebelumnya pada tahun 2002 sudah pernah diatur secara terpisah-pisah larangan tentang Khamar, Maisir dan Khalwat. Pada awalnya
Qanun Jinayat bertujuan untuk menggabungkan pengaturan dari tiga qanun
yang sudah ada sebelumnya tersebut. Namun dalam perkembangan pembahasannya yang sudah berlangsung sejak tahun 2007, telah terjadi penambahan beberapa tindak pidana lainnya. Tindak pidana yang diatur dalam Qanun Jinayat terdiri dari 10 jarimah2 yaitu khamar3, maisir4, khalwat5, ikhtilat6, zina, pelecehan seksual, pemerkosaan, qadzaf7, liwath8
dan musahaqah9.
Makalah ini secara khusus hanya akan membahas mengenai jarimah pemerkosaan yang diprediksi akan berpeluang menimbulkan ketidakadilan bagi perempuan dan anak korban pemerkosaan. Metodelogi penelititan yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif atau disebut juga dengan penelitian hukum dokrinal. Pada penelitian seperti ini hukum dikonsepkan sebagai sesuatu yang tertulis di dalam perundang-undangan (law
in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaedah atau norma yang
merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.10
Di Indonesia, Tindak pidana pemerkosaan sesungguhnya sudah diatur di dalam beberapa peraturan perundang-undangan seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang-Undang-Undang Penghapusan Kekerasan
2 Jarimah adalah tindak pidana Islam
3 Tindak pidana membuat, menjual, meminum, menyediakan tempat untuk meminum
minuman yang memabukkan.
4
Segala tindak pidana yang berkaitan dengan perjudian
5 Tindak pidana karena berdua-duaan dengan yang berlainan jenis di tempat yang sunyi 6 Tindak pidana bermesraan di depan umum maupun ditempat tertutup bagi yang bukan
suami istri
7 Tindak pidana menuduh orang berzina 8
Tindak pidana berhubungan seksual dengan sesama jenis laki-laki
9 Tindak pidana berhubungan seksual dengan sesama jenis perempuan
10 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metodelogi Penelitian Hukum, Jakarta, Raja
Dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT), dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Namun dalam pembahasan makalah ini hanya akan dilakukan perbandingan pengertian tindak pidana pemerkosaan yang diatur di dalam
Qanun Jinayat dengan pengaturan yang ada di dalam KUHP.
Permasalahan yang diidentifikasi dan akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana perbandingan rumusan kebijakan tindak pidana pemerkosaan di dalam KUHP dan Qanun Jinayat dan apakah ada ketentuan di dalam Qanun Jinayat yang dapat menyebabkan reviktimisasi bagi perempuan dan anak korban pemerkosaan.
Makalah ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pengaturan tentang tindak pidana pemerkosaan yang diatur dalam KUHP dan di dalam
Qanun Jinayat serta menganalisis adanya rumusan kebijakan dalam Qanun Jinayat yang berpeluang untuk menimbulkan reviktimisasi kepada korban
pemerkosaan.
B. PEMBAHASAN
Banyaknya pengaturan tentang tindak pidana pemerkosaan ternyata tidak mengurangi angka pemerkosaan yang dialami oleh perempuan dan anak. Bahkan tahun 2016 sudah dinyatakan oleh Pemerintah Indonesia sebagai tahun darurat kejahatan seksual.
Di Provinsi Aceh, berdasarkan hasil pendokumentasian kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh Jaringan Pemantau Aceh (JPA) 23111, selama 4 tahun terakhir (2011-2014) telah mendampingi 1.100 kasus. Dari 769 kasus di ranah domestik yang terjadi di Aceh sepanjang tahun 2011-2014, 172 diantaranya adalah kejahatan seksual yang terjadi di dalam rumah tangga berupa pemaksaan hubungan seksual. Dan diantara 172 kasus tersebut 53 kasus diantaranya adalah kejahatan seksual dalam bentuk perkosaan sedarah (incest) yang dilakukan oleh anggota keluarga baik ayah
11
JPA 231 adalah jaringan pemantau kasus-kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak perempuan yang beranggotakan organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk isu perempuan dan lembaga-lembaga pemberi layanan bagi perempuan dan anak di Provinsi Aceh.
kandung, ayah tiri, paman, kakek, atau abang. Di ranah publik, kejahatan seksual juga merupakan bentuk kekerasan yang paling tinggi dialami oleh perempuan dan anak perempuan. Dari 331 kasus sepanjang tahun 2011-2014, maka 275 kasus diantaranya adalah kejahatan seksual dengan bentuk kejahatan yang paling tinggi adalah pemerkosaan sebesar 72% (tujuh puluh dua persen)12.
Pengertian perkosaan di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dirumuskan dalam Pasal 285 yang berbunyi “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum karena memperkosa dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun”.
Unsur-unsur dari Pasal 285 KUHP tersebut di atas adalah: a. Perbuatannya: memaksa bersetubuh
b. Caranya: dengan kekerasan atau ancaman kekerasan c. Objeknya: perempuan yang bukan istrinya.
Pengertian perbuatan memaksa (dwingen) adalah perbuatan yang ditujukan pada orang lain dengan menekan kehendak orang tersebut yang bertentangan dengan kehendak hatinya agar dirinya menerima kehendak orang yang menekan atau sama dengan kehendaknya sendiri.13
Dalam Fiqh, pemaksaan dirumuskan sebagai ajakan untuk melakukan suatu perbuatan yang disertai dengan ancaman. Beberapa syarat pemaksaan (ikrah) antara lain adalah pelaku pemaksaan memiliki kekuasaaan untuk merealisasikan ancamannya. Sebaliknya objek pemaksaan (korban) tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya disertai dengan dugaan kuat bahwa penolakan atasnya akan mengakibatkan ancaman tersebut benar-benar dilaksanakan. Abdul Qadir Audah memberikan defenisi paksaan (ikrah) sebagai perbuatan yang diperbuat oleh seseorang karena pengaruh orang lain. Karena itu, hilang kerelaannya dan merusak (tidak sempurna) pilihannya.
12
Balai Syura Ureung Inong Aceh, Laporan Monitoring Pelaksanaan CEDAW di Provinsi Aceh 2012-2015, BSUIA, Banda Aceh, 2016, hlm 8-9.
13 Adami Chazawi, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, Jakarta, Raja Graindo Persada,
Batasan tentang paksaan adalah apabila suatu hukuman (ancaman) dapat dilakukan oleh si pemaksa dengan segera dan cukup mempengaruhi orang yang berakal pikiran sehat untuk mengerjakan apa yang dipaksakan padanya serta timbul dugaan kuat pada diri orang yang dipaksa bahwa ancaman tersebut akan benar-benar dilakukan apabila ia menolak apa yang dipaksakan kepadanya.14
Dalam Pasal 285 KUHP, memaksa disini bertujuan agar perempuan yang menjadi korban bersedia menerima apa yang akan diperbuat terhadap dirinya yaitu bersedia disetubuhi. Makna persetubuhan menurut R. Soesilo, mengacu pada Areest Hooge Raad tanggal 5 Februari 1912 yaitu “peraduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota kemaluan laki-laki harus masuk ke dalam anggota kemaluan perempuan sehingga mengeluarkan air mani”.15
Sejalan dengan R. Soesilo, M.H Tirtaamidjaja mengemukakan pengertian bersetubuh berarti bersentuhan sebelah dalam dari kemaluan si laki-laki dan perempuan, yang pada umumnya dapat menimbulkan kehamilan. Tidak perlu bahwa telah terjadi pengeluaran mani di dalam kemaluan si perempuan.16
Pengertian bersetubuh sebagaimana yang dikemukakan oleh dua ahli tersebut di atas pada saat ini dinilai sudah tidak lagi tepat, karena pemerkosaan yang terjadi dengan cara menyetubuhi korban tidaklah dimaksudkan oleh pelaku untuk tujuan kehamilan atau untuk mendapatkan anak. Karena itu tidaklah menjadi penting apakah sudah terjadi penetrasi antara kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan sampai dengan mengeluarkan mani.
Tindak pidana pemerkosaan tidak semata-mata dilakukan untuk pemuasan nafsu seksual pelaku secara sepihak, tetapi juga ditujukan untuk
14 Ibid, hlm. 221 . 15
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-komentarnya
Lengkap Pasal demi Pasal. Politea, Bogor, 1994, hlm. 209
16 Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya, Jakarta,
menundukkan korban dan menghancurkan harkan dan martabatnya sebagai perempuan dengan cara melakukan kekerasan seksual/pemerkosaan.
Batasan tindak pidana pemerkosaan yang salah satu unsurnya adlaah pemaksanaan untuk bersetubuh dengan pengertian harus terjadinya penetrasi kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan menyebabkan pemerkosaan yang terjadi dengan cara memasukkan objek lain ke dalam kelamin perempuan tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana pemerkosaan berdasarkan KUHP.
Di dalam Qanun Jinayat, pengertian jarimah pemerkosaan diatur dalam Pasal 1 angka 30 yaitu “hubungan seksual terhadap faraj17 atau dubur orang lain sebagai korban dengan zakar18 pelaku atau benda lainnya yang digunakan pelaku atau terhadap faraj atau zakar korban dengan mulut pelaku atau terhadap mulut korban dengan zakar pelaku, dengan kekerasan atau paksaan atau ancaman terhadap korban”.
Berdasarkan rumusan pasal tersebut di atas maka yang menjadi unsur pasal nya adalah:
a. Perbuatannya:
- melakukan hubungan seksual melalui kelamin perempuan atau dubur baik dengan menggunakan kelamin laki-laki atau alat.
- melakukan hubungan seksual dengan menggunakan mulut pelaku terhadap kelamin perempuan atau kelamin laki-laki
- melakukan hubungan seksual dengan menggunakan mulut korban terhadap kelamin laki-laki (pelaku)
b. Caranya: dengan kekerasan atau paksaan atau ancaman terhadap korban c. Objeknya: perempuan dan laki-laki
Jika ditinjau dari rumusan pasal tentang pengertian jarimah pemerkosaan tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa unsur-unsur perbuatannya jauh lebih luas dibandingkan dengan rumusan di dalam KUHP. Jika KUHP memberikan batasan pemerkosaan pada adanya penetrasi kelamin
17 Kelamin perempuan (vagina) 18
laki-laki ke dalam kelamin perempuan, maka dalam rumusan Qanun Jinayat perbuatannya dapat meliputi tindakan penetrasi ke dalam kelamin perempuan ataupun dubur (anal seks) dengan menggunakan kelamin laki-laki atau benda-benda lainnya. Bentuk perbuatan lainnya yang juga dikategorikan sebagai jarimah pemerkosaan adalah hubungan seksual dengan menggunakan mulut (oral seks) pelaku terhadap kelamin korban (bisa perempuan ataupun laki), ataupun menggunakan mulut korban (bisa perempuan ataupun laki-laki) terhadap kelamin pelaku (laki-laki-laki).
Rumusan kebijakan dalam qanun selain memiliki bentuk perbuatan yang lebih luas dibandingkan dengan KUHP juga mengalami perluasan dalam perumusan objeknya. Jika KUHP secara tegas menyebutkan bahwa yang dapat menjadi korban dari tindak pidana pemerkosaan pada Pasal 285 adalah perempuan (dewasa) yang tidak terikat perkawinan dengan pelaku. Hal ini sejalan dengan pembatasan perbuatannya yang menekankan harus terjadinya penetrasi kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan, Dengan demikian pihak yang menyerang adalah laki-laki. Kerena itu menurut KUHP tidak mungkin seorang laki-laki menjadi korban pemerkosaan dan tidak mungkin seorang perempuan menjadi pelaku pemerkosaan.
Dalam rumusan jarimah pemerkosaan yang diatur di dalam Qanun
Jinayah sama sekali tidak ada penyebutan jenis kelamin laki-laki atau
perempuan. Yang disebutkan dalam rumusan pasal tersebut hanyalah alat kelamin laki-laki (zakar) dan perempuan (faraj). Hal tersebut bisa menjadi multi tafsir karena ketika hubungan seksual dilakukan dengan cara oral seks maka korbannya bisa menjadi laki-laki dan perempuan, termasuk juga pelakunya akan bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
Jika KUHP menempatkan dalam satu pasal untuk menjelaskan unsur perbuatan dan sanksi atas tindak pidana pemerkosaan, maka dalam Qanun
Jinayat rumusan tentang sanksi dan bentuk perbuatan pemerkosaan
dirumuskan dalam beberapa pasal lainnya yaitu:
1. Pasal 48: Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Pemerkosaan diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling sedikit 125
(seratus dua puluh lima) kali, paling banyak 175 (seratus tujuh puluh lima) kali atau denda paling sedikit 1.250 (seribu dua ratus lima puluh) gram emas murni, paling banyak 1.750 (seribu tujuh ratus lima puluh) gram emas murni atau penjara paling singkat 125 (seratus dua puluh lima) bulan, paling lama 175 (seratus tujuh puluh lima) bulan.
2. Pasal 49: Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan Mahram dengannya, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling sedikit 150 (seratus lima puluh) kali, paling banyak 200 (dua ratus) kali atau denda paling sedikit 1.500 (seribu lima ratus) gram emas murni, paling banyak 2.000 (dua ribu) gram emas murni atau penjara paling singkat 150 (seratus lima puluh) bulan, paling lama 200 (dua ratus) bulan.
3. Pasal 50: Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Pemerkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 terhadap anak, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling sedikit 150 (seratus lima puluh) kali, paling banyak 200 (dua ratus) kali atau denda paling sedikit 1.500 (seribu lima ratus) gram emas murni, paling banyak 2.000 (dua ribu) gram emas murni atau penjara paling singkat 150 (seratus lima puluh) bulan, paling lama 200 (dua ratus) bulan.
Jika ditinjau dari sanksi yang diterapkan dalam Qanun Jinayat untuk tindak pidana pemerkosaan, maka sanksinya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan sanksi maksimal yang ditetapkan di dalam KUHP. Terlebih lagi jika akan dibandingkan dengan sanksi yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.
Walaupun ada beberapa peraturan perundangan yang ada, namun Pasal 72 Qanun Jinayat ini menetapkan bahwa: “dalam hal ada perbuatan
jarimah sebagaimana yang diatur dalam qanun ini dan diatur juga dalam
KUHP atau ketentuan pidaan di luar KUHP, yang berlaku adalah aturan
jarimah dalam qanun ini.”
Hal lainnya yang juga dapat menimbulkan ketidakadilan bagi korban adalah ketentuan yang diatur di dalam Pasal 52 ayat (1) Qanun Jinayat yang
menyatakan bahwa “setiap orang yang mengaku diperkosa dapat mengajukan pengaduan kepada penyidik tentang orang yang memperkosanya dengan menyertakan alat bukti permulaan”.
Rumusan Pasal 52 ayat (1) tersebut di atas mengandung dua hal penting. Yang pertama adalah jenis delik pemerkosaan menurut Qanun
Jinayat dan yang kedua adalah tentang pembebanan penyertakan alat bukti
permulaan kepada korban.
Dalam Pasal 52 ayat (1) dinyatakan bahwa “setiap orang yang mengaku di perkosa dapat mengajukan pengaduan kepada penyidik…” Adanya rumusan kata “dapat mengajukan pengaduan” memperjelas jenis delik untuk jarimah pemerkosaan dalam ketentuan Qanun Jinayat yaitu sebagai delik aduan.
Delik aduan (klacht) tentunya berbeda dengan pelaporan (aangfte), baik dari sisi siapa yang berhak untuk melakukannya, jenis tindak pidananya maupun persyaratan untuk mengadakan penuntutan. Pelaporan dapat diajukan terhadap segala perbuatan pidana, sedangkan pengaduan hanya mengenai kejahatan-kejahatan tertentu saja yang sudah ditetapkan dalam rumusan perundang-undangan. Karena itu untuk jenis tindak pidana tersebut, adanya pengaduan dari orang yang berhak menjadi persyaratan untuk mengadakan tuntutan.
Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan Tindak Pidana aduan yang merugikannya (Pasal 1 butir 25 KUHAP). Pengaduan yang bersifat khusus, hanya bisa dilakukan oleh pihak tertentu yang berkepentingan, sehingga dapat dicabut sebelum sampai ke persidangan, apabila terjadi perdamaian antara pengadu dan teradu. Jika terjadi pencabutan pengaduan, maka perkara tidak dapat diproses lagi. Pengaduan mempunyai jangka waktu sedangkan laporan dapat dilakukan setiap waktu. Pengaduan merupakan suatu permintaan kepada
penuntut umum agar tersangka dituntut.19 Perbedaan antara pelaporan dan pengaduan adalah siapapun dapat mengajukan pelaporan tentang tindak pidana yang dilihat didengar dan dialami tetapi tidak mengharapkan tindakan selanjutnya hanya sekedar melapor saja berbeda halnya dengan pengaduan menuntut akan tindakan selanjutnya dari pihak yang berwenang.
Rumusan Pasal 52 ayat (1) juga mengatur tentang kewajiban bagi korban yang mengadu dirinya diperkosa untuk memberikan bukti permulaan. Di dalam Pasal 17 KUHAP diatur bahwa perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan alat bukti permulaan yang cukup. Dalam penjelasan Pasal 17 KUHAP disebutkan bahwa yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup ialah bukti permulaan untuk menduga adanya tindak pidana.
Tidak ada pengaturan yang menyebutkan defenisi bukti permulaan yang cukup dalam tahap penangkapan di dalam KUHAP. Namun hal ini diatur dalam Keputusan Bersama Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Kejaksaan Agung, dan Kapolri No. 08/KMA/1984, No. M.02-KP.10.06 Tahun 1984, No. KEP-076/J.A/3/1984, No.PolKEP/04/III/1984 tentang Peningkatan Koordinasi dalam Penanganan Perkara Pidana (Mahkejapol) dan pada Peraturan Kapolri No.Pol.Skep/1205/IX/2000 tentang Pedoman Administrasi Penyidikan Tindak Pidana dimana diatur bahwa bukti permulaan yang cukup merupakan alat bukti untuk menduga adanya suatu tindak pidana dengan mensyaratkan minimal satu laporan polisi ditambah dengan satu alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP. Bukti permulaan bisa berupa alat bukti yang sah yang disebutkan dalam KUHAP dan hukum Acara Qanun Jinayat. Ada sedikit perbedaan tentang alat bukti yang diatur di dalam KUHAP dengan alat bukti yang diatur di dalam Qanun Acara Jinayat. Jenis alat bukti yang diatur di dalam Qanun Acara Jinayat selain sebagaimana yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP yaitu
19 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm.
Saksi, Keterangan Ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa, maka dikenal juga barang bukti, pengakuan terdakwa dan alat bukti elektronik.
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa “penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”.
Pada Pasal 52 ayat (1) Qanun Jinayat menyebutkan bahwa setiap orang yang mengaku diperkosa dapat mengajukan pengaduan kepada penyidik tentang orang yang memperkosanya dengan menyertakan alat bukti permulaan.
Rumusan pasal ini mengandung makna bahwa korban pemerkosaan yang ingin mengadukan siapa yang menjadi pelaku pemerkosaan atas dirinya harus menyertakan tentang bukti permulaan.
Penyidik memiliki fungsi dan kewajiban untuk mengumpulkan alat bukti. Selain itu Pasal 52 ayat (1) ini juga dapat menimbulkan multitafsir sehingga bermakna dalam hal orang yang mengaku diperkosa tidak menyertakan alat bukti permulaan, maka dirinya tidak dapat mengajukan pengaduan kepada penyidik.
Selain itu rumusan Pasal 52 ayat (1) ini juga tidak konsisten dengan rumusan pada Pasal 52 ayat (2) yang menyatakan: “setiap diketahui adanya
jarimah pemerkosaan, penyidik berkewajiban melakukan penyelidikan untuk
menemukan alat bukti permulaan.”
Rumusan dalam ayat (2) ini menghilangkan makna jarimah pemerkosaan sebagai delik aduan, karena itu ketika penyidik mengetahui adanya jarimah pemerkosaan maka penyidik berkewajiban untuk melakukan penyelidikan untuk menemukan alat bukti permulaan. Pada ketentuan ayat (2) ini sudah sejalan dengan ketentuan dalam KUHAP dimana penyidiklah yang diwajibkan untuk mencari bukti-bukti (termasuk bukti permulaan) dan bukan menjadi beban korban pemerkosaan.
Dalam pandangan pembuat kebijakan dan aparat penegak hukum, kewajiban pembebanan alat bukti permulaan kepada korban didasarkan pada pemikiran agar korban tidak sesuka hatinya dalam mengajukan pengaduan. Karena bisa jadi korban tidak diperkosa atau korban hanya ingin menjebak tersangka karena alasan suka atau ingin memfitnah tersangka. Untuk mencegah hal tersebut maka perlu adanya bukti permulaan dalam hal mengajukan pengaduan kepada penyidik.
Berdasarkan pengertian penyelidikan dan penyidikan yang telah dikemukakan di atas bahwa mencari bukti-bukti terkait suatu tindak pidana adalah tugas dari penyidik bukan pelapor maupun pengadu terlebih lagi jika dibebankan sebagai kewajiban.
Hak seseorang yang mengaku diperkosa tidak dapat dibatasi dalam hal melakukan pengaduan atau laporan pidana kepada penyidik. Terlebih lagi apabila pembatasan tersebut didasarkan atas kewajiban seorang yang mengaku diperkosa untuk menyertakan alat bukti permulaan. Hal ini merupakan bentuk diskriminasi pada korban pemerkosaan dalam konteks ini adalah perempuan untuk memperoleh keadilan. Pemberian beban pada korban pemerkosaan menafikan hak-hak korban pemerkosaan. Karena itu dasar pemikiran dalam penyusunan substansi Qanun Jinayat tersebut dapat dikatakan sangat tidak berpersfektif korban dan akan menjadi penyebab terjadinya reviktimisasi terhadap korban pemerkosaan.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
Reviktimisasi terhadap Korban perkosaan bisa disebabkan dari rumusan peraturan perundang-undangan yang tidak memperhatikan hak-hak korban serta multi tafsir sehingga akan berdampak pada rendahnya pemenuhan rasa keadilan bagi korban. Salah satu kebijakan yang dinilai memiliki potensi untuk menyebabkan reviktimisasi terhadap korban adalah Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat khususnya dalam pasal-pasal yang mengatur tentang jarimah perkosaan. Ada perbedaan unsur pasal antara tindak pidana perkosaan yang diatur di dalam KUHP dengan
yang diatur di dalam Qanun Jinayat. Walaupun batasan pengertian jarimah pemerkosaan lebih luas namun sanksi yang diterapkan lebih rendah dari peraturan perundang-undangan lainnya. Persoalan lainnya adalah pembebanan penyediaan alat bukti permulaan kepada korban yang sesungguhnya merupakan kewajiban bagi penyidik (Pasal 52 ayat (1). Ketentuan ini akan menyebabkan korban pemerkosaan akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan keadilan.
Disarankan kepada legislatif bahwa dalam penyusunan kebijakan harus diawali dengan kajian yang komprehensif sehingga rumusan peraturan perundang-undangan yang dibuat tidak menimbulkan reviktimisasi bagi korban. Terhadap untuk Qanun Nomor 6 Tahun 2014 khususnya tentang
jarimah pemerkosaan perlu dilakukan revisi karena menimbulkan
reviktimisasi bagi korban dan menyebabkan korban tidak mendapatkan keadilan.
D. REFERENSI Buku
Abdul, Qadir Audah. Ensiklopedia Hukum Pidana Islam, Kharisma Ilmu, Jakarta, 2008
Abdul Wahid dan Muhamad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan
Seksual, Refika Aditama, Bandung, 2001
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metodelogi Penelitian Hukum, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Balai Syura Ureung Inong Aceh, Laporan Monitoring Pelaksanaan CEDAW di
Provinsi Aceh 2012-2015, BSUIA, Banda Aceh, 2016
Laden Marpaung, KejahatanTerhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya. Cet. 2, Jakarta, Sinar Grafika, 2004
Soesilo, R, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya
Lengkap Pasal Demi Pasal. Politea, Bogor, 1994 Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Qanun Nomor 7 Tahun 2013 Tentang Hukum Acara Jinayat Qanun Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat