• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUMANIKA Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan, dan Humaniora

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUMANIKA Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan, dan Humaniora"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Tarmizi Akbar, Putut Said Permana Pendidikan Ekonomi, Universitas Pamulang [email protected], [email protected]

Abstrak

Motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan semangat belajar pada siswa, tanpa adanya motivasi tidak akan ada kegiatan belajar. Lingkungan sekolah dan teman sebaya merupakan faktor yang sangat penting untuk mempengaruhi motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan sekolah dan teman sebaya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas ix di SMP Yapia Parung. Dalam pengumpulan data menggunakan angket, observasi, dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukan hal-hal sebagai berikut: (1) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Lingkungan Sekolah (X1) terhadap Motivasi Belajar (Y) yang ditunjukan dari nilai koefisien sebesar 0,321 bernilai positif. Dan nilai t hitung sebesar 2,473 dengan nilai signifikan 0,000<0,05. (2) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Teman Sebaya (X2) terhadap Motivasi Belajar (Y) ditunjukan dari nilai koefisien sebesar 0,864 bernilai positif. Dan nilai t hitung sebesar 8,127 dengan nilai signifikan 0,000<0,05.

Saran untuk penelitian ini adalah sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas sekolah dengan memperbaiki keadaan lingkungan sekolah baik dari segi fasilitas maupun sarana dan prasarana sekolah. Dan orang tua hendaknya dapat membantu dalam meningkatkan motivasi belajar anak-anaknya ketika sedang di rumah, sehingga siswa dapat termotivasi dalam belajar untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.

(2)

2 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh setiap manusia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Pendidikan merupakan hal penting untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam pembangunan bangsa dan negara. Selain itu, pendidikan juga berperan dalam mengembangkan kehidupan manusia dan meningkatkan kemajuan suatu negara. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab IV Pasal 3 telah dijelaskan fungsi dan tujuan pendidikan yang berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengemban kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan bisa diperoleh melalui lembaga-lembaga pendidikan formal, nonformal dan informal yang ada di setiap lingkungan masyarakat mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Setiap lembaga pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk mencetak atau melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sehingga mampu mengembangkan peranannya dalam pembangunan

nasional melalui jalur pendidikan. Lembaga pendidikan diharapkan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh para peserta didik untuk dapat meningkatkan kualitasnya sehingga peserta didik mendapatkan hasil prestasi yang lebih baik.

Menurut Oktaviana dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Kelas V Sekolah Dasar Di Daerah Binaan I Kecamatan Limpung Kabupaten Batang (2015).” Dalam pencapaian tujuan belajar mengajar ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik, sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar peserta didik.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi lingkungan sekolah siswa kelas IX SMP Yapia Parung?

2. Bagaimana kondisi interaksi teman sebaya siswa kelas IX SMP Yapia Parung?

3. Bagaimana kondisi motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung? 4. Apakah terdapat pengaruh lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung?

5. Apakah terdapat pengaruh teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung?

6. Apakah terdapat pengaruh secara simultan lingkungan sekolah dan teman

(3)

3 sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui kondisi lingkungan sekolah siswa kelas IX SMP Yapia Parung

2. Mengetahui kondisi teman sebaya siswa kelas IX SMP Yapia Parung 3. Mengetahui kondisi motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung 4. Mengetahui pengaruh antara lingkungan sekolah dengan motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

5. Mengetahui pengaruh antara teman sebaya dengan motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

6. Mengetahui pengaruh lingkungan sekolah dan teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

D. Hipotesis Penelitian

Ho4: Tidak terdapat pengaruh signifikan lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

Ha4: Terdapat pengaruh signifikan lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

Ho5: Tidak terdapat pengaruh signifikan teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung. Ha5: Terdapat pengaruh signifikan teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung. Ho6: Tidak terdapat pengaruh lingkungan sekolah dan teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

Ha6: Terdapat pengaruh lingkungan sekolah dan teman sebaya terhadap

motivasi belajar siswa kelas IX SMP Yapia Parung.

KAJIAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Hakikat Pendidikan a. Pendidikan

Akar kata pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara harfiah artinya memelihara dan memberi latihan. Sedangkan “pendidikan” adalah tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekeuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

b. Proses Pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling bergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya sarana dan prasarana serta biaya yang cukup, jika tidak ditunjang dengan pengelolaan

(4)

4 yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.

c. Konsep Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Illeris (2000) dan Ormorod (1995) seperti yang dikutip Wikipedia (diakses 2 September 2009) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang membawa bersama-sama pengaruh dan pengalaman kognitif, emosional, dan lingkungan untuk memperoleh, meningkatkan atau membuat perubahan di dalam pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan cara pandang (world views) dari seseorang.

d. Pengertian Pendidikan

Pengertian Pendidikan adalah usaha untuk mendapatkan pengetahuan, baik secara formal melalui sekolah maupun secara informal dari pendidikan di dalam rumah dan masyarakat. Menurut Mudyaahardjo (Wardah, 2017: 13) pengertian pendidikan dibagi menjadi dua definisi yaitu secara mahaluas dan sempit. Secara mahaluas, pendidikan adalah hidup, pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.

2. Lingkungan Sekolah, Teman Sebaya, dan Motivasi Belajar

a. Lingkungan Sekolah

Menurut Munib (Oktaviana, 2015: 19) lingkungan secara umum diartikan sebagai kesatuan dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,

termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan pendidikan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang ada diluar individu maupun didalam individu. Lebih lanjut Siswoyo, dkk (Oktaviana, 2015: 19) menyatakan bahwa ”perguruan atau sekolah atau balai wiyata adalah lingkungan pendidikan yang mengembangkan dan meneruskan pendidikan anak menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan bertingkah laku baik.” Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan. Salah satu lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan yaitu lingkungan sekolah. Di dalam lingkungan sekolah para siswa mengenyam pendidikan dengan mengikuti proses belajar mengajar agar menjadi warga negara yang memiliki kecerdasan, keterampilan dan berprilaku baik. Selain itu, sekolah juga berperan penting dalam meningkatkan pola piker siswanya karena di sekolah para siswa diajarkan bermacam-macam ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan belajar mereka. Lingkungan sekolah merupakan kondisi di dalam dunia pendidikan yang resmi yang mempengaruhi prilaku dan perkembangan siswa.

Lingkungan sekolah ialah tempat dimana siswa menghabiskan waktunya untuk belajar agar dapat meningkatkan kualitasnya dan menjadi warga Negara yang memiliki ilmu pengetahuan serta mampu berinteraksi dengan teman sebaya dan guru di sekolah. Hal tersebut

(5)

5 sependapat dengan Soemanto (Susanti: 2015) bahwa lingkungan mencakup segala sesuatu berupa bahan dan rangsangan yang bersifat fisik, psikis, dan sosial. Sekolah mengambil peran mendidik dan membimbing anak tetapi tidak sepenuhnya, karena sekolah juga bersama-sama dengan keluarga untuk membantu mendidik anak agar menjadi individu yang baik dan berpendidikan. Lingkungan sekolah akan menumbuhkan dorongan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain menguasai metode seorang guru juga harus menguasai kurikulum. Menurut Slameto (2013: 65) kurikulum dapat diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran tersebut. Kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat, dan pembagian materinya tidak seimbang akan menyulitkan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, oleh karena itu materi pelajaran harus diolah secara matang oleh guru dengan memperhatikan karakter materi, metode dan peserta didik yang akan dibelajarkan. Guru harus mampu memahami karakter dan kemampuan siswa agar dapat mengetahui standar pelajaran yang sesuai untuk dipahami oleh siswa. Karena seringkali guru memberikan pelajaran di atas ukuran standar kemampuan siswa, akibatnya hanya sebagian kecil siswa yang dapat memahami materi yang disampaikan. Hal tersebut terjadi pada guru yang masih muda karena belum memiliki pengalaman dalam mengajar sehingga

belum dapat mengukur kemampuan siswanya. Standar pelajaran harus disesuaikan dengan kemampuan siswa di sekolah agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Selanjutnya hal yang paling penting dalam lingkungan sekolah adalah sarana dan prasarana. Menurut Helmawati (2016: 241) Sarana dan Prasarana dalam lingkungan pendidikan hendaknya diperhatikan dengan serius. Ketersediaan ruang yang nyaman serta alat penunjang lainnya yang memadai dan mendukung akan membantu proses pembelajaran anak secara maksimal. Sarana prasarana yang kurang memenuhi syarat, seperti ruang kelas yang sudah roboh tentu selain membuat suasana pembelajaran kurang nyaman, juga akan berakibat mengancam keselamatan anak didik dan pendidikan itu sendiri.

b. Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2014: 73) Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.

METODE PENELITIAN

Pada metode penelitian ini akan diuraikan tentang: Rancangan Penelitian; Populasi dan Sampel; Variabel Penelitian; Instrumen

(6)

6 Penelitian; Pengumpulan Data; Analisis Data; dan Pengujian Hipotesis.

A. RancanganPenelitian

1. Tempat Penelitian Penelitian ini berlokasi di SMP Yapia Parung, Jl. Yapia Rt.001 Rw.003 Desa Waru Jaya Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. 2. Waktu Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti melaksanakan dan memerlukan waktu selama kurang lebih 9 bulan di SMP Yapia Parung yaitu mulai dari bulan Februari sampai bulan Oktober. 3. Pengukuran Variabel Skala pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2015). Likert menggunakan skala ordinal untuk mengurutkan data dari tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya dengan interval yang tidak harus sama. Kemudian indikator tersebut dijadikan tolak ukur untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.

B. Populasi dan Sampel

Pada bagian populasi dan sampel, akan diuraikan tentang populasi penelitian dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini.

1. Populasi

Riduwan (2013: 10) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit pengukuran yang menjadi objek penelitian. Sementara Sugiyono (2013: 119) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi,

populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.

2. Sampel

Sugiyono (2013: 120) menjelaskan bahwa “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Pengambilan sampel harus bersifat representatif (mewakili), karena apa yang dipelajari dalam sampel akan diberlakukan untuk populasi. Rumus perhitungan pengambilan sampel dari jumlah populasi terbatas, menurut Anwar (Wardah: 2017).

C. Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2013: 63) “Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan variabelterikat. Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono 2011: 64). Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi variable penyebab. Variabel bebas dalam penelitian ini ialah lingkungan sekolah (X1), dan teman sebaya (X2). Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono 2011: 64). Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Variabel terikat dalam penelitian ini ialah motivasi belajar (Y).

(7)

7 Dalam suatu penelitian, seorang peneliti harus menggunakan alat ukur yang baik, yang biasanya disebut dengan instrument penelitian. Menurut Widoyoko (2013: 51) ”Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian dengan cara melakukan pengukuran.” Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik (Arikunto 2013: 203). Lebih lanjut Sugiyono (2013: 135) menjelaskan bahwa ”Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti”.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Validitas

Validitas adalah suatu derajat ketetapan instrumen (alat ukur), maksudnya apakah instrumen yang digunakan betul-betul tepat untuk mengukur apa yang akan diukur. Namun, Kerlinger (1986) menjelaskan bahwa validitas instrumen tidak cukup ditentukan oleh derajat ketepatan instrumen untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, tetapi perlu juga dilihat dari tiga kriteria yang lain, yaitu appropriatness, meaningfullness, dan usefullness. Appropriatness menunjukkan kelayakan dari tes sebagai suatu instrumen, yaitu seberapa jauh instrumen dapat menjangkau keragaman aspek perilaku peserta didik. Meaningfullness menunjukkan kemampuan instrumen dalam memberikan keseimbangan soal-soal pengukurannya berdasar tingkat kepentingan dari setiap fenomena.

Usefullnessto inferences menunjukkan sensitif tidaknya instrumen dalam menangkap fenomena perilaku dan tingkat ketelitian yang ditunjukkan dalam membuat kesimpulan.

2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah derajat konsistensi instrumen yang bersangkutan. Reliabilitas berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu instrumen dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu instrumen dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda. Gronlund (1985) mengemukakan ”reliabili ty refers to the result obtained with an evaluation instrument and not to the instrument it self.” Selanjutnya, Kerlinger (1986) mengemukakan reliabilitas dapat diukur dari tiga kriteria, yaitu stability, dependability, dan predictability. Stability menunjukkan keajekan suatu tes dalam mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda. Dependability menunjukkan kemantapan suatu tes atau seberapa jauh tes dapat diandalkan. Predictability menunjukkan kemampuan tes untuk meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya.

a. Uji Multikolinearitas

Menurut Sujarweni (Wardah: 2017) Multikolinearitas diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya variable independen yang memiliki kemiripan antar variable independen dalam suatu model. Kemiripan antar variabel independen akan mengakibatkan korelasi yang sangat kuat. Selain itu untuk uji ini juga, untuk menghindari

(8)

8 kebiasaan dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variable independen terhadap variabel dependen. Jika VIF yang dihasilkan di antara 1-10 maka tidak terjadi multikolinearitas. b. Uji Heteroskedastisitas

Untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi perbedaan variance dari residual data yang ada. Dalam penelitian ini uji heteroskedastisitas dilakukan dengan analisa grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

1. Uji Regresi Linear

Berganda Pengujian asumsi dasar klasik akan menghasilkan model yang terbaik dari suatu regresi. Regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda karena menggunakan satu variabel terikat, yaitu motivasi belajar dan dua variabel bebas, yaitu lingkungan sekolah dan teman sebaya. HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

1. Sejarah Singkat SMP Yapia Parung SMP Yapia Parung beralamat di Jl. Yapia Waru Jaya No.30 Kelurahan Waru Jaya Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. Berdiri pada tahun 1995 hingga saat ini, dipimpin oleh Bapak Drs. E. Nasruddin, M.Pd.I sebagai Kepala Sekolah SMP Yapia Parung, memiliki jumlah siswa 451 orang dengan jumlah rombel sebanyak 13 rombel.

2. Visi Misi dan Tujuan

Sekolah SMP Yapia Parung a. Visi

“Beriman, Bertaqwa, Unggul, Dalam Prestasi, Mulia Dalam Budi Pekerti Dan Sehat Jasmani, Cinta Lingkungan Hidup Di Era Global”

b. Misi

1) Mengoptimalkan pembelajaran dan bimbingan sesuai jadwal.

2) Menumbuhkan suasana religious dalam setiap kegiatan di sekolah.

3) Menumbuhkan semangat meraih prestasi secara intensif kepada semua warga sekolah.

4) Meningkatkan kualitas kegiatan extra dan intra kurikuler.

5) Mendorong dan membantu semua warga sekolah terutama mengenali potensi dirinya agar dapat berkembang dengan optimal.

6) Menumbuhkembangkan kepercayaan kepada semua warga sekolah agar berlaku disiplin dan berbudi pekerti yang luhur sesuai dengan budaya bangsa.

7) Mengoptimalkan peran komite sekolah untuk kemajuan sekolah.

8) Menumbuhkan budaya hidup bersih. 9) Menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.

PENUTUP A. Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari hasil deskripsi data yang diolah dalam angket menunjukan bahwa sebagian besar responden yang menjadi subjek dari penelitian ini memiliki kondisi lingkungan sekolah yang sudah cukup baik dan mendukung terbukti dengan hasil jawaban pada angket sebesar 50% siswa menjawab setuju dibandingkan jawaban lain.

2. Dari hasil deskripsi data menunjukan bahwa sebagian besar responden yang menjadi subjek dari penelitian ini memiliki kondisi teman sebaya yang cukup baik dan mendukung terhadap motivasi belajar siswa terbukti dari hasil

(9)

9 jawaban pada angket sebesar 49% jawaban siswa sangat setuju. Yang berarti bahwa keadaan antar teman sebaya siswa sudah sangat baik.

3. Dari hasil deskripsi data menunjukan bahwa sebagian besar responden yang menjadi subjek dari penelitian ini bahwa kondisi motivasi belajar siswa sudah cukup baik karena dibuktikan dengan hasil jawaban pada angket sebesar 49% dengan jawaban setuju dibandingkan jawaban lain.

4. Dari hasil yang didapatkan bahwa lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar siswa berpengaruh positif dan signifikan yang ditunjukan dengan nilai koefisien 0,321, dan nilai Thitung sebesar 2,473 dengan nilai signifikan kurang dari 0,05 yaitu dengan nilai signifikan 0,000<0,05.

5. Dari hasil yang didapatkan bahwa teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa berpengaruh positif dan signifikan yang ditunjukan dengan nilai koefisien 0,864, dan nilai Thitung sebesar 8,127 dengan nilai signifikan kurang dari 0,05 yaitu dengan nilai signifikan 0,000<0,05. 6. Dari hasil yang didapatkan bahwa lingkungan sekolah dan teman sebaya berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa di SMP Yapia Parung. Dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,649 atau sebesar 64,9%. Hal ini menunjukan bahwa Lingkungan Sekolah (X1) dan Teman Sebaya (X2) berpengaruh terhadap Motivasi Belajar (Y) sebesar 64,9% sedangkan 35,1% dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari penelitian ini. B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan diatas maka dilakukan saran sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

a. Bahwa siswa harus saling membantu untuk meningkatkan motivasi belajar mereka di sekolah.

b. Bahwa siswa harus dapat meningkatkan semangat mereka dalam belajar.

c. Bahwa siswa harus lebih termotivasi lagi dalam belajar agar dapat meraih prestasi dengan baik.

2. Bagi Sekolah

a. Bahwa sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas sekolah baik dengan memperbaiki fasilitas maupun dengan mengembangkan dan menambah fasilitas sekolah itu sendiri.

b. Bahwa sekolah hendaknya mengevaluasi bagaimana kerjasama antar pihak sekolah dengan orang tua siswa dalam rangka menumbuh kembangkan motivasi belajar siswa. c. Bahwa sekolah harus lebih mengoptimalkan lingkungan belajar siswa dengan baik untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMP Yapia Parung.

3. Bagi Orang Tua

a. Bahwa orang tua hendaknya dapat membantu untuk meningkatkan motivasi belajar anak-anak mereka.

b. Bahwa orang tua hendaknya menjalin hubungan dengan pihak sekolah untuk membantu agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.

c. Bahwa orang tua haruslah tetap memperhatikan proses belajar anak-anak mereka ketika dihari libur sekolah. DAFTAR PUSTAKA

Yulikasari, Rizkia. 2016. Pengaruh Kesiapan Belajar Kompetensi Profesional Guru dan Lingkungan Belajar Terhadap Motivasi Belajar Mata Pelajaran Kearsipan. Economic education analysis journal, (Online), p-ISSN 2252 – 6544 (http: // journal.

(10)

10 unnes. ac. Id / sju / index. Php / eeaj), diakses November 2016

Sholekhah, Ika Maratus. 2014. Pengaruh Fasilitas Belajar dan Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Ips Terpadu Melalui Motivasi Belajar SMP Negeri 1 Ambarawa. Economic education analysis journal, (Online), ISSN 2251- 544 (http:/

/journal. unnes. ac. id/

sju/index.php/eeaj), diakses November 2016

Oktavian, Ira. 2015. Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Di Daerah Binaan I Kecamatan Limpung Kabupaten Batang.Skripsi tidak diterbitkan. Semarang : UNNES

Suyono & Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 2012. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif, dan Kombinasi (MixedMethods). Bandung: Alfabet.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Di

prasarana pendukung seperti mushala, toilet, landscaping dan jalan telah dimulai pada tanggal 10 Agustus 2016. B2TKE melakukan rapat koodinasi dengan kontraktor

Barulah pada tanggal 29 September, tampaknya ada sesuatu yang dapat dianggap lebih konkret, dengan munculnya Brigjen Mustafa Sjarif Soepardjo melaporkan kepada

Berdasarkan Tabel 6, dapat disimpulkan bahwa dari ketiga jalur hijau jalan belum mampu menyerap emisi CO yang dihasilkan dari kendaraan bermotor secara maksimal karena masih

Untuk itu, selanjutnya kita akan membahas suatu bentuk integral lain yang juga dapat digunakan untuk mengek- strapolasi gelombang hanya dengan menggunakan nilai P atau (∇P ) saja,

Hawang Menjadi wil.. Abung Surapati Semula wil. Paminggir, Perda No. Paminggir, Perda No. Paminggir, Perda No. Paminggir, Perda No. Paminggir, Perda No. Paminggir, Perda No.

47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dapat menjadi dasar kebijaksanaan dalam upaya menjaga pemanfaatan dan pengelolaan danau dan waduk yang tetap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja dan stres kerja terhadap kinerja karyawan yang dimoderasi oleh beban kerja pada karyawan Rumah