1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Remaja adalah masa peralihan anak-anak ke masa dewasa, dengan rentang
usia berkisar antara 12 -20 tahun.1 Meskipun pendangan mengenai usia masa
remaja ini berragam tergantung dari pemahaman parah ahli. Pada masa ini, remaja mengalami suatu peralihan dari lingkungan keluarga ke lingkungan teman sebaya
sampai akhirnya mampu berdiri sendiri sebagai manusia dewasa.2 Dalam masa
remaja, remaja berusaha untuk keluar dari lingkungan keluarga dan berusaha untuk masuk ke dalam lingkungan sosial sehingga mempengharui pola sikap.
Peralihan masa anak-anak ke masa dewasa pada usia remaja diikuti oleh perubahan sikap dan tingkah laku. Misalnya, terjadi pergeseran perilaku remaja dari lingkungan keluarga ke lingkungan teman sebaya. Kondisi ini sebetulnya
normal namun beresiko.3 Maksudnya, jika pengaruh yang diterima itu bersifat
positif, maka remaja akan mengadopsi perilaku positif seperti bersaing secara sehat untuk mendapatkan prestasi dalam pendidikan sebaliknya jika tekanan yang diberikan negatif remaja tersebut akan mengadopsi sifat yang negatif seperti membolos sekolah, merokok, mencuri, menggunakan obat-obatan terlarang dan mengkonsumsi minuman beralkohol, tawuran dan sebagainya yang sering dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Penulis lebih memfokuskan kepada anak usia 15-20 tahun, dikarenakan pada tahap ini remaja sudah mulai berupaya
1
John W. Santrock, Adolescence – Perkembangan Remaja (Jakarta : Erlangga, 2003), 49 2
Kathryn Geldard dan David Geldard, Konseling Remaja- Pendekatan Proaktif untuk
Anak Muda, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), 5
3
2 berpikir mandiri dan terlepas dari orang tua, sedangkan pada usia yang sebelumnya remaja masih ada dalam pengawasan dan lindungan orang tua.
Menurut Jean Piaget usia 11 tahun sampai dewasa merupakan kategori usia
dengan periode operasi berpikir formal.4 Di dalam proses periode ini, kekuatan
baru kognitif mereka bisa mengarah kepada idealisme dan utopianisme yang
mengejutkan. Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam
jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik, sedangkan Utopianisme dari kata utopia yang berarti khayalan. Pikiran idealistik dan utopis seperti itu membawa di dalamnya sejenis egosentrime baru dalam perilaku remaja. Egosentrisme mengacu pada ketidakmampuan untuk membedakan perspektifnya sendiri dari perspektif orang lain. Mereka bermimpi tentang masa depan yang menakjubkan atau mentransformasi dunia lewat ide-ide tanpa berusaha menguji pikiran-pikiran mereka di dalam realitas. Dalam masa-masa pertumbuhan mencari jati diri, tahap perkembangan ini memperlihatkan masa transisi yang berdampak luar biasa terhadap moralitas remaja. Kondisi remaja yang sementara labil ini memicu
berbagai masalah kenakalan remaja.5 Masalah kenakalan remaja sering
menimbulkan kecemasan sosial, sebab profil remaja dalam gambaran masyarakat luas adalah menjadi agen-agen penggerak perubahan. Karena itu diperlukan usaha untuk mengatasi kenakalan remaja. Menghasilkan remaja sebagai agen-agen perubahan yang produktif hanya dapat diperoleh melalui suatu proses pendidikan.
4 Bnd., Jean Piaget dalam William Crain, Teori Perkembangan: Konsep dan Aplikasi,
(Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 2012-2014
5 Istilah kenakalan remaja berasal dari kata dasar “nakal” (bahasa jawa), yang secara
nominal/harfiah muncul dari kata “ana nakal” artinya “ada akal atau timbul akalnya”. Seseorang anak kecil yang mulai timbul akal/pikirannya memiliki semangat ingin tahu yang besar untuk menirukan, lihat, Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis Sosiologis Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 88
3 Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia secara manusiawi, dalam rangka memanusiakan manusia, pendidikan tidak hanya terpusat pada kemampuan otak (aspek kognitif), melainkan juga soft skill dan hard skill. Soft
skill adalah kemampuan mengembangkan diri. Sedangkan hard skil adalah
bagaimana pengetahuan dan kemampuan taktis berperan. Dari pemahaman tersebut menurut penulis, pendidikaan dapat memberdayakan manusia, memanfaatkan kemampuannya secara kreatif dan inofatif. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk memberdayakan manusia baik melalui keluarga, masyrakat dan sekolah. Dalam konteks penelitian ini maka Pendidikan Agama Kristen menjadi suatu pendekatan dalam pembentukan spiritual remaja sebagai salah satu komponen karakter.
Sejalan dengan pemahaman tersebut, dalam bukunya Nuhamara menambahkan tentang elemen-elemen yang ada dalam pendidikan agama Kristen, yang berbeda
dengan pendidikan lainnya:6
Pertama, harus dikatakan bahwa PAK adalah suatu usaha pendidikan. Oleh karena itu, merupakan usaha yang sadar, sistematis, dan berkesinambungan, apapun bentuknya. Kedua PAK merupakan dimensi yang khusus yakni dalam dimensi religius manusia. Ketiga PAK menunjuk kepada persekutuan iman yang melakukan tugas pendidikan agamawi, yakni persekutuan iman kristen. Keempat PAK sebagai usaha pendidikan bagaimanapun juga memiliki hakikat politis. Karena itu PAK juga turut berpantisipasi dalam hakiakat politik pendidikan secara umum. Artinya PAK tidak hanya ada interverensi dalam kehidupan individual seseorang di bidang kerohanian saja, tetapi juga mempengharui cara dan sikap mereka ketika menjalani kehidupan dalam konteks masyrakatnya.
6 Danial Nuhamara. Pembimbing PAK Pendidikan Agama Kristen (Jawa Barat: Jurnal
4 Dari pemahaman tersebut menurut penulis Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang terrencana yang dilakukan untuk membawa remaja dalam pengenalan kepada Tuhan sebagai proses pembentukan spiritual remaja sebagai komponen karakter.
Dalam rangka pembentukan spiritual remaja sebagai komponen karakter diperlukan pendekatan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Ada beberapa pendekatan PAK yang diungkapkan oleh para ahli antara lain Pendekatan keluarga menurut Bushnell, pendekatan sosialisasi menurut Coe dan Marthaler, pendekatan Iman Jmeaat menurut Ellis Nelson, pendekatan komunitas iman jemaat menurut Westheroof III, dan pendekatan satu tubuh oleh L.O Richards.
Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Selain itu kata spiritus dapat mengandung arti sebuah bentuk alkohol yang dimurnikan. Sehingga spiritual
dapat diartikan sebagai sesuatu yang murni. Spiritual menurut Johnston, yang
dikutip oleh Engel diartikan sebagai nilai diri. Spritual atau nilai diri memampukan orang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri dimulai dari dirinya. Maksudnya ialah orang harus bisa mengasihi dan menghargai dirinya sendiri jika
dia mau mencintai dan menghargai orang lain.7
Dengan spiritual yang dimiliki, seseorang harus menghormati diri sendiri dan mau mengakui dirinya. Spiritual mempunyai tiga sumber nilai, yaitu nilai kreatif, nilai pengalaman, dan nilai sikap. Nilai Kreatif adalah apa yang dapat diberikan kepada dunia melalui dimensi spritual. Nilai pengalaman adalah apa yang dapat individu terima dari dunia melalui dimensi spritual. Sedangkan nilai sikap adalah kesadaran untuk mengubah sikap seseorang terhadap keadaan yang
7
5
akan berubah melalui dimensi spritual.8 Yang paling penting dari spiritual adalah
penghargaan akan diri dan nilai diri. Healthy self-esteem atau nilai diri mempunyai pandangan yang seimbang dan akurat mengenai dirinya, menghormati kemampuan diri tetapi juga mengakui kelemahannya serta rasa hormat dari dan
kepada orang lain.9 Menurut Branden, harga diri adalah kepercayaan diri
(keyakinan kapasitas pribadi) dan perasaan nilai pribadi yang didalamnya terkandung nilai spiritual. Setiap orang di satu sisi mempunyai kemampuan menghadapi tantangan hidup, untuk memahami dan memecahkan masalah; disisi lain haknya secara spiritual untuk mencapai kebahagiaan, menghormati, dan
membela kepentingan serta kebutuhannya sendiri.10 Roh bisa diartikan sebagai
energi kehidupan, yang membuat kita dapat hidup, bernapas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar tubuh fisik kita, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter kita (Prijosaksono & Erningpraja, 2003).
Berdasarkan pemaparan di atas, maka spiritual adalah energi kehidupan yang memampukan seseorang untuk bisa berkembang berdasarkan kemampuan yang dimilikinya tetapi juga berkembang dari kelemahan yang ada padanya menjadi yang lebih baik. Berkembangnya pribadi seseorang secara khusus remaja, mempuyai pengaharu yang besar dalam kehidupannya yang secara langsung dapat dilihat melalui karakternya ketika berada di lingkungan masyarakat.
Menurut LiveSley karakter biasanya digunakan untuk merujuk kepada aspek kepribadian yang diasumsikan menjadi produk pembelajaran dan interaksi
dengan lingkungan.11 Remaja yang dibentuk karakternya berdasarkan
8
Jacob Daan Engel, Nilai Dasar Logo Konseling, 2
9 Jacob Daan Engel, Nilai Dasar Logo Konseling, 6 10 Jacob Daan Engel, Nilai Dasar Logo Konseling ,8 11
6 pembelajaran yang diterimnaya melalui keluarga dan sekolah akan dengan mudah berinteraksi dengan baik ketika berada di lingkungan masyarakat. Kestabilan hidup seseorang bergantung kepada karakter yang dimilikinya, karena melalui karakter seorang individu bisa semakin matang, bertangungjawab dan produktif. Sejalan dengan pemikirannya, Lumiak berpendapat karakter merupakan sesuatu yang dapat membedakan individu dengan orang lain. Dengan kata lain karakter merupakan sesuatu yang khas dalam diri seseorang yang dapat membedakan diri
dengan orang lain.12 Hal ini terjadi dikarenakan masing-masing individu memiliki
kebiasaan dan keinginan yang berbeda-beda, kemudian kebiasan dan keinginan ini terus ada dalam diri tanpa disadari oleh individu tersebut bhakan terkadang justru individu larut didalamnya dan hanya orang lain yang bisa menilai hal tersebut. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan moral knonwing, moral felling, dan
moral behavior. Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa
karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan begitupun sebaliknya jikalau karakter yang ditunjukan kurang baik maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan, keinginan dan tindakan kita untuk berbuat baik kurang.
Berdasarkan pemaparan tersebut maka dapat dikatakan karakter adalah ciri dari diri kita yang kita tampakan ketika berinteraksi dengan diri kita sendiri, keluarga kita bahkan masyrakat yang ada di lingkungan kita di dalam keseharian kita. Pemahaman karakter sejalan dengan pemikiran tersebut, maka spiritual sebagai komponen bahkan sebagai inti karakter, dalam pemahaman Eka Damamputra dia terwujud dalam 5 dimensi: yaitu: Dimensi kepercayaan (belief), Dimensi praktis, Dimensi pengalaman (experience), Dimensi pengetahuan
12 Lumiak (2011) INTERNATIONAL JOURNAL OF SOCIAL SCIENCES AND HUMANITY
7 (knowledge), Dimensi etis. Idealnya sebuah kehidupan spiritualitas yang baik dan dewasa adalah bila ke 5 dimensi tersebut berkembang secara seimbang. Sama seperti perkembangan kehidupan manusia. Seorang dikatakan dewasa dan matang, tentu bukan semata-mata karena ciri-ciri fisiknya (sudah tumbuh tinggi besar, keluar jenggotnya, suara yang membesar dsb), tetapi juga akan diukur dari kematangan emosionalnya, kearifannya, dan perilakunya. Oleh karena itu pembangunan spiritualitas tidak bisa hanya menekankan satu aspek saja. Kelima dimensi spiritualitas itu harus mendapatkan perhatian yang sama. dalam pembentukan karakter yang menjadi ciri dari setiap individu kadang terjadi kendala yang timbul dikarenakan masalah-masalah yang ada pada diri remaja itu sendiri, keluarganya bahakan lingkungan tempat dia berada. Kendala-kendala tersebut nampak dalam keseharian para remaja yang ada di lingkungan ini.
Masalah pembentukan spiritual sebagai inti karakter secara konseptual dan praksis terjadi juga pada remaja di GPM Jemaat Rehoboth Ambon. Masalah pembentukan spiritual sebagai inti dan karakter yang ada pada remaja sangat nampak dalam keseharian remaja Batu Gantong Dalam GPM Jemaat Rehoboth. Dalam hal ini penulis memilih GPM Jemaat Rehoboth dikarena pada jemaat tersebut terdapat satu lingkungan yang memiliki tingkat kenakalan remaja yang sangat tinggi dibandingkan lingkungan – lingkungan lain yang ada di Kota Ambon pada umumnya. Pada tahun 2013 dan 2014 tingkat tawuran yang disebabkan atau melibatkan oleh remaja Batu Gantong Dalam ialah sebesar 35x tawuran baik dalam komplex maupun diluar komplex bahkan di sekolah tempat mereka berada. Data ini diperoleh dari salah satu sumber di kepolisian Perigi Lima Ambon.
8 Kurangnya keinginan untuk meningkatkan pembentukan karakter yang positif nampak dari perilaku keseharian para remaja, dimana remaja yang merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya mewarisi nilai-nilai yang baik dan kemudian mempraktekan perilaku tersebut dalam keseharian mereka tampaknya tidak berjalan dengan baik di lingkungan ini. Remaja-remaja yang ada di Batu Gantong Dalam, di dalam melakukan aktifitas kesehariannya sering terlibat dengan perilaku yang negatif dan mengancam dirinya tetapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Tindakan-tindakan yang membahayakan ini antara lain, para remaja cenderung terlibat dalam perkelahian baik individu maupun kelompok (tawuran), suka minum-minuman keras (miras), judi, pemalakan, seks bebas, balapan liar, bahkan narkoba tidak terlepas pisahkan dari kehidupan remaja yang ada di lingkungan ini.
Dalam pergaulan sehari-hari dengan teman-teman, kita sering duduk di depan jalan sambil minum minuman keras, kadang juga kita minum setelah pulang dari balapan atau sebelum pergi tauran, maklumlah kak, kalo tidak minum nanti di cap banci, mkananya biar tidak kuat minum ya minum aja13.
Pergaulan sehari-hari kita itu sering ikut balapan liar pada waktu malam bahkan terkadang sampai pulang pagi, dan karena pulang pagi itu yang buat samapai malas pergi ibadah minggu, karena kita sering balapan sampai pagi, kalo tidak pergi kan nanti kurang teman dan kurang gaul.
Berdasarkan pemaparan hasil wawancara di atas nampak bahwa pengaruh dari teman-teman sanggat kuat dang mempengharui mereka dalam pergaulannya. Padahal selain tindakan yang negatif ini, remaja batu gantung mempunyai kemampuan dalam pengembangan diri mereka berdasarkan bakat yang ada pada mereka. Kemampuan melukis, bermain bola dan juga tarian juga tidak terpisahkan dari diri mereka. Yang menjadi masalah ialah mereka lebih sering melakukan perilaku yang negatif dibandingkan melakukan tindakan-tindakan yang positif yang bisa membanggakan diri mereka, keluarga bahkan lingkungan mereka.
13
9 Dalam keseharian saya juga sering terlibat dalam perkelahian (tawuran), karena kalau saya tidak ikut dalam hal tersebut berarti nanti teman-teman dan kaka-kaka akan mengejek saya.14 Dalam pergaulan yang ada di lingkungan ini, yang sering menjadi subjek ejekan ya mereka-mereka yang tidak pernah ikut-ikutan kalo ada tawuran. Selain itu kalo soal balap liar, saya dan teman-teman ikut karena disana itu banyak orang dan bisa dikenal oleh mereka semua.15
Dalam hasil wawancara di atas nampak jelas bahwa pembentukan karakter dari remaja juga dipengharui oleh lingkungan sekitar, baik lingkungan rumah, lingkungan pergaulan atau juga lingkungan masyrakat.
Berdasarkan pemaparan data di atas, maka karakter remaja yang mau diteliti disini adalah spiritual sebagai salah satu komponen dari karakter. Penulis melihat pentingnya pendidikan dalam pembentukan karakter remaja, sehingga penulis tertarik untuk meneliti dan menulis hal ini lebih lanjut dalam kajian tesis:
PENDEKATAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) TERHADAP PEMBENTUKAN SPIRITUAL SEBAGAI KOMPONEN KARAKTER
REMAJA DI GPM JEMAAT REHOBOT BATU GANTONG DALAM
B. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah ialah sebagai berikut:
Bagaimana Pendekatan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pembentukan Spiritual Sebagai Komponen Karakter Remaja Batu Gantong Dalam.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis Pendekatan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pembentukan Spiritual Sebagai Komponen Karakter Remaja Batu Gantong Dalam Ambon
14 Hasil wawancara dengan PB, pada tanggal 14 desember 2014. 15
10
D. Signifikasi Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut diatas, maka penulis mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat berguna sebagai berikut:
1. Memberikan sebuah pemahaman tentang pentingnya karakter bagi remaja, dalam menjalani kehidupannya terkhusus bagi remaja Batu Gantong Dalam. 2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi Magister Sosiologi Agama
Universitas Kristn Satya Wacana dalam mengembangkan pembelajaan spiritualitas Kristen dalam pengembangan karakter.
E. Metodologi Penelitian
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan dan lain–lain secara holistik.16 Pendekatan kualitatif menghasilkan
data deskripsi berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Dapat juga berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati.17
Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a) teknik Wawancara.
Wawancara bertujuan untuk mencoba mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang respondent, dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan responden. Wawancara ini pun bermaksud mengumpulkan
16 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002, 6.
17 Robert C. Bogdan & Sari Bikien, Quality Research for Education: An Introduction to
11 keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat serta
pendirian-pendirian mereka.18
b) Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Jenis observasi yang dipakai yaitu observasi partisipasi dimana pihak yang melaksanakan observasi terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti.
c) Studi Pustaka
Studi kepustkaan bermanfaat untuk menyusun landasan teoritis yang akan menjadi tolak ukur untuk menganalisa hasil interpretasi data peneletian lapangan. Hal ini berhubungan dengan beberapa teori yang dipakai untuk mengkaji hasil penelitian.penulis juga mengunakan teori dari Branden, harga diri adalah kepercayaan diri (keyakinan kapasitas pribadi) dan perasaan nilai pribadi yang didalamnya terkandung nilai spiritual. menurutnya Setiap orang di satu sisi mempunyai kemampuan menghadapi tantangan hidup, untuk memahami dan memecahkan masalah; disisi lain haknya secara spiritual untuk mencapai kebahagiaan,
menghormati, dan membela kepentingan serta kebutuhannya sendiri19.
Tempat penelitian yang penulis pilih adalah GPM Jemaat Rehoboth Batu Gantong Dalam klasis Pulau Ambon. Penulis memilih lokasi tersebut karena telah melakukan pra penelitian terkait dengan pembentukan
spiritual sebagai komponen karakter
18 Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1981),
162
19
12 G. Sistematika Penulisan
Penulisan tesis ini terdiri dari 4 bab, bab pertama terdiri dari pendahuluan menguraikan tentang, latar belakang rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penulisan, metodologi penelitian, lokasi penelitian, dan sistematika penelitian. Bab dua yang meliputi defenisi tentang PAK, spiritual remaja yang meliputi pendekatan – pendekatan PAK, area perkembangan spritual remaja, faktor pembentukan spiritual remaja sebagai komponen karakter. Bab tiga ini berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi deskripsi dan analisis serta saran-saran berupa kontribusi dan rekomendasi untuk penelitian lanjutan. Bab empat berisi penutup yang meliputi kesimpulan berupa temuan-temuan dari hasil penelitian, pembahasn dan saran tentang hasil penelitian.