Penatalaksanaan Gangguan
Jiwa Psikotik di Puskesmas
Benediktus Elie Lie, dr, SpKJ
Kabupaten Banyuwangi, 10-12 Juli 2017
Psikotik
• Psikotik adalah gangguan jiwa berat yang ditandai oleh adanya: – Halusinasi
– Waham/delusi – Pembicaraan yang kacau – Perilaku katatonik – Gejala negatif
• Dibagi menjadi PSIKOTIK ORGANIK dan PSIKOTIK FUNGSIONAL
• PSIKOTIK ORGANIK: timbulnya gejala psikotik disebabkan oleh adanya
kondisi medis umum yang mempengaruhi fungsi otak
• PSIKOTIK FUNGSIONAL: timbulnya gejala psikotik lebih disebabkan oleh
adanya stresor psikologis dan pada pemeriksaan fisik dan laboratorium konvesional tidak ditemukan adanya kelainan yg secara patofisiologi mempengaruhi fungsi otak
(Gangguan Mental Organik)
•
Batasan:
– Psikotik organik: Gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan pada otak ataupun penyakit sistemik yang menyebabkan disfungsi otak
– DELIRIUM(Psikotik Organik): suatu gangguan mental organik yg terjadi akibat disfungsi metabolisme otak yg menyeluruh, bersifat sementara dan reversibel yg terjadi secara akut
•
Insidens:
– Terjadi pada 5-10% pasien rawat inap medik atau bedah – Penyebab keadaan psikotik yang paling umum di bangsal
perawatan
Etiologi Psikotik Organik
• Gangguan sistemik:
– Infeksi: sepsis, pneumonia, tiphoid
– Gangguan metabolik akut, gang keseimbangan elektrolit – Gagal ginjal, kegagalan fungsi hati, gagal paru
– Gangguan kardiovaskuler • Gangguan pada otak:
– Meningoencephalitis, malaria cerebral, tumor otak, GPDO, epilepsi, trauma pd kepala
Gambaran Klinis
• Gangguan kesadaran: kesadaran berkabut, kewaspadaan yg menurun • Gangguan neuropsikiatri:
– Gangguan pemusatan perhatian – Gang memori jangka pendek, amnesia – Disorientasi
– Gang proses berpikir, inkoheren
• Gangguan persepsi biasanya halusinasi visuil • Gangguan psikomotor, bisa hiperaktif/ hipoaktif • Gangguan mood
• Gangguan pola tidur, tidur utk waktu singkat/ terputus • Gambaran klinis ini terjadinya fluktuasi
Penatalaksanaan
• Perlu observasi ketat di RS
• Perbaiki semua gangguan fisik yang mendasari.
• Terapi simtomatik terhadap manifestasi gejala
psikiatri yang muncul ( Haloperidol 2 x 0,5 mg,
atau bila gelisah diberikan Haloperidol 2,5 mg IM )
•
Manipulasi lingkungan
Ruang tenang, penerangan cukup, nyaman
Suasana familiar
Ditunggui oleh anggota keluarga yg dikenal
pasien
Psikotik Fungsional
(Non-organik)
• Batasan : gangguan jiwa berat yg diakibatkan adanya suatu stresor psikologis
• Jenis Psikotik Fungsional yang sering di temukan:
– Psikotik akut – Skizofrenia – Skizoafektif
– Gangguan Bipolar dgn gejala psikotik – Gangguan waham menetap
Skizofrenia
•
Merupakan gangguan jiwa psikotik fungsional
yang paling sering ditemukan
•
Data di RSJ Menur menunjukan -+ 90 % dari
pasien pasung yang dirawat adalah pasien
skizofrenia
Gejala Skizofrenia
• Gejala Negatif:– Emosi yang datar
– Tidak adanya motivasi dan energi
– Kehilangan minat dan kesenangan dalam aktivitas – Interaksi sosial berkurang – Seringkali gejala negatif
menjadil lebih menonjol pada fase yang lebih lanjut(kronis) • Gejala Positif – Halusinasi – Waham – Kesulitan dalam mempertahankan
percakapan dan/atau tetap fokus pada suatu topik – Perilaku yang tidak biasa
dan aneh serta kesulitan dalam merencanakan dan menyelesaikan aktivitas
Penatalaksanaan gangguan Skizofrenia
Holistik;
Pendekatan biologis
Pendekatan psikologis
Pendekatan sosiologis
Pendekatan Biologis
•
Terdiri dari:
–
Terapi Farmakologik
–
Terapi Kejang Listrik
•
Selama terapi farmakologis perlu monitoring
efek samping obat
Pilihan antipsikotik
• Gejala positif biasanya berespon terhadap pengobatan
dengan antipsikotik baik antipsikotik tipikal maupun antipsikotik atipikal
• Gejala negatif kurang responsif terhadap obat antipsikotik
tipikal
• Gejala negatif lebih responsif terhadap obat antipsikotik
Pemakaian Antipsikotik di PUSKESMAS
• Sebaiknya gunakan satu jenis antipsikotik dalam terapi
• Pada awal terapi, pertimbangkan untuk injeksi intramuskular antipsikotik short acting (Haloperidol 5 mg) jika terapi oral tidak mungkin dilaksanakan.
• Sebaiknya tidak meresepkan injeksi depo/jangka panjang untuk mengontrol gejala-gejala psikotik akut
• Chlorpromazine dan Clozapine diberikan sebagai adjuvant
terapi pada pasien psikotik yg gaduh gelisah dan atau sulit tidur
• Bila antipsikotik tidak memberikan respon dalam dosis yang sudah optimal untuk jangka waktu 4 – 6 minggu maka lakukan evaluasi ulang dan pertimbangkan utk merujuk pasien ke RSJ
Pengaturan dosis terapi antipsikotik
•
DOSIS TERAPI, disarankan “Start low, go slow”:
– Mulai dengan dosis rendah (dosis initial) yang ada dalam kisaran terapeutik, dinaikkan setiap 2 – 3 hari sampai tercapai dosis efektif (mulai nampak peredaan gejala psikotik)
– Evaluasi ulang setiap 2 minggu dan bila perlu dosis dinaikan sampai mencapai dosis optimal dimana pasien tampak stabil, keadaan stabil ini dipertahankan selama 3 – 6 bulan
– Selanjutnya dosis dicoba diturunkan sedikit demi sedikit setiap 2 minggu sampai tercapai dosis maintenance (dosis terendah yang masih mengontrol gejala psikotik
– Pada pasien psikotik akut dosis maintenance dipertahankan 6 bulan – 2 tahun,, sedangkan pada pasien kronis dan pernah kambuh, maka dosis maintenace selama 5 tahun dan bisa seumur hidup
Dosis Antipsikotik
• Nama generik Dosis terapi acuan/hari
Gol Tipikal: Chlorpromazin 100 – 300 mg Haloperidol 5 – 15 mg Trifluoperazin 5 – 15 mg Gol Atipikal: Risperidon 2 – 8 mg Clozapin 25 -100 mg
Penggunaan antipsikotik Long Acting
• Obat antipsikotik long acting di gunakan bila:
– Pasien tidak patuh minum obat – Pasien yang tidak mau minum obat
– Tidak ada keluarga yg bisa memantau minum obat – T idak efektif terhadap medikasi oral
• Dosis dimulai dengan 0,5 cc setiap 2 minggu pada bulan pertama baru ditingkatkan menjadi 1 cc setiap bulan. • Pemberian anti psikosis long acting hanya untuk terapi
Monitoring pengobatan
•
Jika respons tidak adekuat pada lebih dari satu
antipsikotik maka perlu :
– Kaji ulang diagnosis
– Pastikan kesetiaan pengobatan; pertimbangkan injeksi antipsikotik depo
– Pertimbangkan untuk menaikkan dosis medikasi atau menggantinya dengan medikasi lain.
– Pertimbangkan antipsikotik generasi kedua, – Pertimbangkan clozapine bagi mereka yang tidak
berespons pada antipsikotik lain meskipun dalam durasi waktu dan dosis yang adekuat.
Efek Samping Antipsikotik
Extra piramidal sindrom, dapat berupa Parkinsonism, Distonia akut, Akatisia ( sering terjadi pada pemakaian antipsikotik tipikal )
Sindrom Neuroleptika Maligna (SNM)
Otonomik : mulut kering, pandangan kabur, retensi urin, konstipasi
Endokrin : amenorhoe, ginekomastia CVS: hipotensi ortostatik, takikardia Hati : LFT terganggu
Metabolik syndrom ( terutama pada pemakaian antipsikotik golongan olanzapine, clozapine )
ESO antipsikotik…….
•
Sydrom parkinson:
– Gejala: rigiditas, bradikinesia, tremor, muka seperti topeng – Terapi : trihexyphenidil 2 – 3 x 2 mg
•
Distonia akut:
– Gejala: krisis okulogirik, protusio lidah, torticolis, ophistotonus
– Terapi: inj Diphenhidramine 10 – 20 mg iIM
ESO antipsikotik……
•
Akatisia:
– Gejala: rest less leg sindrom
– Terapi: propranolol 2 – 3 x 10 mg, pantau tensi bila tensi rendah ganti dengan diazepam 2 – 3 x 2 mg
•
Sindrom Neuroleptika Maligna:
– Gejala : hiperpirexia, rigiditas yang hebat, penurunan kesadaran, ketidak stabilan sistem otonomik, lab: lekositosi, CPK tinggi
Kapan Pasien Psikotik perlu dirujuk ke RS/RSJ?
•
Pasien psikotik sebaiknya di rawat di rumah sakit bila:
– Menderita Psikotik Organik – Ada Komormid penyakit fisik – Kesulitan penegakan diagnostik – Hambatan dalam medikasi
– Perilaku mecederai diri sendiri atau orang lain yang sulit terkontrol
– perilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Psikoedukasi untuk Orang dengan Psikosis
•
Informasikan bahwa kemampuan orang tersebut dapat
dipulihkan
•
Penting: melanjutkan aktivitas sosial yang biasanya,
pendidikan, dan pekerjaan sejauh memungkinkan
•
Penderitaan dan masalah dapat dikurangi dengan
pengobatan
•
Penting: minum obat secara teratur
•
Dilibatkan dalam setiap keputusan yang diambil
berkaitan dengan pengobatannya
•
Penting: menjaga kesehatan dengan diet sehat,
melakukan aktivitas fisik secara aktif, mempertahankan
perawatan diri.
Psikoedukasi untuk keluarga
• Orang dengan psikosis mungkin mendengar suara-suara atau menyakini secara jelas sesuatu yang salah.
• Orang dengan psikosis sering tidak menyadari bila dirinya sakit dan kadang menjadi bersikap kasar..
• Harus ditekankan: Pentingnya pengenalan akan
kambuhnya/memburuknya gejala-gejala dan perlunya penilaian ulang.
• Perlu ditekankan: pentingnya melibatkan orang dengan psikosis dalam aktivitas keluarga dan sosial lainnya.
Fasilitasi Rehabilitasi di Komunitas
• Dorong secara aktif orang dengan psikosis untuk mencoba kembaliaktivitas sosial, edukasional, dan okupasional yang sesuai dan disarankan oleh anggota keluarga.
• Fasilitasi keterlibatan kembali dalam aktivitas ekonomi dan sosial, termasuk dukungan pekerjaan yang sesuai dengan konteks sosial dan budaya.
• Orang dengan psikosis seringkali didiskriminasi, oleh karenanya penting untuk mengatasi pandangan negatif baik internal maupun eksternal dan bekerja untuk mencapai kemungkinan kualitas hidup terbaik.
• Bekerjasama dengan agen-agen lokal untuk menggali kemungkinan-kemungkinan kerja dan pendidikan, berdasarkan kebutuhan dan tingkat ketrampilan orang tersebut