• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASKAH AKADEMIK D I S U S U N OLEH:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NASKAH AKADEMIK D I S U S U N OLEH:"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN QANUN

KABUPATEN ACEH TIMUR TENTANG

PERUBAHAN KEDUA ATAS QANUN

KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 3

TAHUN 2008 TENTANG SUSUNAN

ORGANISASI DAN TATA KERJA

LEMBAGA TEKNIS KABUPATEN

ACEH TIMUR

D

I

S

U

S

U

N

OLEH:

TIM PENYUSUN NASKAH AKADEMIK

BAGIAN HUKUM SETDAKAB. ACEH TIMUR

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya selesailah penulisan Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur. Naskah akademik ini merupakan naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, yang nantinya akan dipergunakan sebagai acuan atau referensi dalam penyusunan dan pembahasan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur.

Disadari bahwa selesainya penulisan Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur ini dikarenakan adanya bantuan, pengarahan, bimbingan serta dorongan yang telah diberikan oleh berbagai pihak, baik secara perseorangan maupun bersama-sama. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih.

Harapan penulis dengan telah selesainya penulisan Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, dapat segera disusun sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Disadari bahwa penulisan Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun teknis penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati diharapkan adanya saran demi kesempurnaannya.

(3)

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Identifikasi Masalah ... 2 C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah

Akademik ... 3 D. Metode ... 4 E. Sistematika ... 4

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoretis ... 6 B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait ... 7 C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan ... 8 D. Kajian Terhadap Implikasi Sosial, Politik dan Ekonomi ... 8

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT ... 10

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis ... 14 B. Landasan Sosiologis ... 15 C. Landasan Yuridis ... 16

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN ... 20

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan ... 23 B. Saran ... 24

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penerapan kebijakan desentralisasi merupakan landasan normatif bagi perubahan penyelenggaraan pemerintahan di daerah, termasuk dalam hal perubahan kewenangan baik di tingkat Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. Perubahan kewenangan ini berimplikasi pada perubahan beban tugas dan struktur organisasi yang melaksanakan kewenangan-kewenangan tersebut yang pada gilirannya menuntut dilakukannya penataan kelembagaan pemerintahan di daerah. Penataan kelembagaan pemerintahan daerah merupakan konsekuensi logis dari perubahan mendasar sistem pemerintahan daerah sebagaimana digariskan dalam kebijakan desentralisasi. Otonomi organisasi menjadi salah satu faktor penting untuk menjamin pelaksanaan otonomi daerah secara keseluruhan. Dalam melaksanakan otonomi organisasi, pemerintah daerah harus memiliki kepekaan dan rasionalitas terhadap kebutuhan dan permasalahan dalam wilayahnya. Karena itu, pemerintah daerah harus memiliki hak untuk menentukan jumlah satuan perangkat (dinas, badan dan lembaga sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah, baik kemampuan keuangan maupun sumber daya manusia yang tersedia.

Analisis terhadap kebutuhan perangkat daerah menghendaki adanya evaluasi terhadap kondisi eksisting organisasi perangkat daerah. Hasil evaluasi akan mengakibatkan perubahan organisasi perangkat daerah, berupa pembentukan unit baru, penggabungan unit-unit yang sudah ada, penghapusan unit-unit yang sudah ada dan perubahan fungsi-fungsi unit yang sudah ada.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, telah memberikan mandat kepada Aceh termasuk Kabupaten/Kota untuk mengurus berbagai kewenangan/urusan yang berbeda dengan daerah lain. Kondisi ini diperkuat dengan lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang didalamnya telah memberikan mandat kepada Pemerintah Daerah untuk

(5)

melakukan evaluasi dan penyesuaian organisasi perangkat daerah. Pembentukan tata kelola Pemerintahan yang akuntabel, transparan, efisien dan efektif merupakan salah satu misi yang diemban oleh Bupati/Wakil Bupati Aceh Timur, sehingga hal tersebut, perlu dirancang desain kelembagaan organisasi perangkat daerah Kabupaten Aceh Timur yang mendukung pencapaian misi tersebut dan juga mendukung pencapaian misi pemerintahan yang melayani masyarakat.

Untuk menjawab permasalahan tersebut dibutuhkan reformasi administrasi publik, karena secara normatif reformasi administrasi publik merupakan bagian dari rekayasa sosial (social re-engineering) guna mengatasi krisis multidimensi yang melanda daerah-daerah di Indonesia. Urgensi reformasi administrasi publik berkaitan dengan adanya tuntutan akan pengelolaan Pemerintahan khususnya Pemerintah Daerah dalam menjalankan fungsinya, yaitu pelayanan kepada masyarakat (services), membuat kebijakan atau ketentuan bagi kepentingan masyarakat (regulation) dan mengupayakan pemberdayaan (empowerment).

Seiring dengan paradigma yang telah dipaparkan di atas dan sejalan dengan peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang dilatarbelakangi kemampuan keuangan daerah yang memadai dan dengan memperhatikan beberapa aspek diatas, maka disusunlah Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur dalam rangka optimalisasi organisasi kelembagaan Pemerintah Daerah yang responsif terhadap perkembangan zaman dan berdasarkan peraturan perundang-undangan sekaligus untuk menjawab tuntutan masyarakat yang makin beragam.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam hal ini dapat diidentifikasi permasalahan yang timbul adalah:

1. Perlu adanya suatu aturan yang memberikan kepastian hukum terhadap pembentukan/perubahan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Aceh Timur;

(6)

2. Perlunya mengikutsertakan masyarakat dalam berbagai tahap dalam pengembangan potensi perangkat daerah yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam Kabupaten Aceh Timur.

3. Memaksimalkan tugas pokok dan fungsi dari Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Aceh Timur agar dapat mendorong koordinasi yang lebih jelas dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.

C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik

Adapun tujuan penulisan Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur adalah:

1. memberi masukan terhadap Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur;

2. menyusun kerangka Naskah Akademik Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur; dan

3. merumuskan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur yang dikaji secara ilmiah dan mencakup segala aspek teknis secara ekonomis serta peran serta masyarakat.

4. pengkajian terhadap penataan organisasi perangkat daerah adalah penataan terhadap kelembagaan dan struktur organisasi perangkat daerah yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan peraturan perundang-undangan.

(7)

Secara umum, kegunaan penulisan naskah akademik adalah memberikan masukan terhadap fungsi dan peran yang sangat strategis dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur serta merupakan identitas jati diri dan kebanggaan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur. Dengan dibentuknya Qanun ini, diharapkan dapat memperkuat kelembagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dalam pelaksanaan pelayanan publik yang efektif, akuntabel dan transparan.

D. Metode

Dalam penyusunan naskah akademik ini, metode atau pendekatan yang digunakan adalah melalui suatu kajian ilmiah secara sistematik dan interdisipliner dengan metodologi sebagai berikut:

1. kajian pustaka yaitu pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur; 2. serangkaian kegiatan diskusi;

3. kaji terap pengalaman kabupaten/kota yang telah menerapkan Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur yang didapatkan melalui proses telaah dokumen-dokumen dari berbagai media (internet, proses seminar, dll);

4. analisis dan evaluasi; dan 5. penyusunan naskah.

Penyusunan materi naskah akademik juga memperhatikan kaidah-kaidah hukum, kelembagaan dan mempertimbangkan peran serta masyarakat.

E. Sistematika

Naskah akademik ini ditulis sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, berisi uraian tentang latar belakang, identifikasi masalah, tujuan dan kegunaan kegiatan penyusunan naskah akademik, metode, dan sistematika.

(8)

Bab II Kajian Teoretis dan Praktik Empiris, berisi uraian tentang kajian teoretis, kajian terhadap asas/prinsip yang terkait, kajian terhadap praktik penyelenggaraan, kajian terhadap implikasi sosial, politik dan ekonomi.

Bab III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-Undangan Terkait, berisi uraian tentang hasil kajian terhadap peraturan perundang-undangan terkait dengan materi dan susunan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur.

Bab IV Landasan Filosofis, Sosiologis dan Yuridis, berisi uraian tentang landasan filosofis, landasan sosiologis dan landasan yuridis.

Bab V Jangkauan, Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup Materi Muatan, berisi uraian tentang sasaran yang akan diwujudkan, arah dan jangkauan pengaturan materi dan susunan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur.

Bab VI Penutup, bagian akhir naskah akademik berisi kesimpulan dan saran hasil kajian analisa naskah akademik.

Daftar Pustaka, memuat buku, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan yang diperoleh dari internet, yang menjadi sumber bahan penyusunan naskah akademik.

(9)

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoretis

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah Provinsi. Daerah Provinsi dibagi lagi atas daerah Kabupaten/Kota. Setiap daerah Provinsi, daerah Kabupaten/Kota mempunyai Pemerintahan Daerah yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah Daerah adalah penyelenggara Pemerintahan Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Perangkat Daerah adalah organisasi atau lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah.

Didalam Organisasi perangkat daerah salah satunya adalah lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dalam bentuk badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah ditegaskan bahwa lembaga teknis daerah mempunyai tugas melaksanakan tugas tertentu yang karena sifatnya tidak tercakup oleh sekretaris daerah dan dinas daerah dalam lingkup tugasnya. Tugas tertentu lembaga teknis daerah meliputi bidang penelitian dan pengembangan, perencanaan, pengawasan, pendidikan dan pelatihan, perpustakaan, kearsipan dan dokumentasi, kependudukan dan pelayanan kesehatan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, lembaga teknis daerah menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya, dan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah

Pada Daerah Kabupaten/Kota, Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, dan Kelurahan. Perangkat Daerah dibentuk oleh masing-masing Daerah

(10)

berdasarkan pertimbangan karakteristik, potensi, dan kebutuhan Daerah. Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Pengendalian organisasi perangkat daerah dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk Provinsi dan oleh Gubernur untuk Kabupaten/Kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

. Pada lembaga teknis daerah dapat dibentuk unit pelaksana teknis tertentu untuk melaksanakan sebagian tugas lembaga teknis daerah yang wilayah kerjanya meliputi lebih dari satu kabupaten/kota untuk unit pelaksana teknis provinsi dan lebih dari satu kecamatan untuk unit pelaksana teknis kabupaten/kota.

B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait

Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur dilakukan dalam rangka optimalisasi organisasi kelembagaan Pemerintah Daerah yang responsif terhadap perkembangan zaman sekaligus untuk menjawab tuntutan masyarakat yang makin beragam yang berdasarkan ketentuan Pasal 45 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, disebutkan bahwa dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi sebagai pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan tugas pemerintahan umum lainnya, Pemerintah Daerah dapat membentuk lembaga lain sebagai bagian dari perangkat daerah.

Disamping itu, pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timu juga telah memenuhi persyaratan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, yang meliputi asas kejelasan tujuan, asas kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat, asas kesesuaian antara jenis, hierarki dan materi muatan, asas

(11)

dapat dilaksanakan, asas kedayagunaan dan kehasilgunaan, asas kejelasan rumusan serta asas keterbukaan.

C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan

Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur dalam penyelenggaraannya harus diupayakan untuk segera dilaksanakan, karena telah memenuhi persyaratan sesuai dengan prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yaitu transparan, akuntabel, profesional, efektif dan efisien.

Selanjutnya, pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur dilakukan dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

D. Kajian Terhadap Implikasi Sosial, Politik dan Ekonomi

Pengkajian terhadap penataan organisasi perangkat daerah adalah penataan terhadap kelembagaan dan struktur organisasi perangkat daerah yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan peraturan perundang-undangan.

Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur secara sosial, politik dan ekonomi merupakan bagian dari pada pengaturan dan penataan untuk meningkatkan fungsi dan peran yang sangat strategis dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur. Disamping itu, pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun

(12)

Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur dilakukan dalam rangka optimalisasi organisasi kelembagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang responsif terhadap perkembangan zaman dan berdasarkan peraturan perundang-undangan serta mengoptimalkan kinerja perangkat daerah dalam mejalankan dan mendukung pemerintahan kabupaten Aceh Timur.

Oleh karena itu, untuk memperkuat kelembagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dalam pelaksanaan pelayanan publik yang efektif, akuntabel dan transparan. maka sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Aceh Timur membentuk Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur.

(13)

BAB III

EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara Hukum, konsekwensi yuridis dari pernyataan tersebut maka setiap tindakan aparatur pemerintah dalam melaksanakan tugasnya harus didasarkan pada aturan hukum.

Pemerintah adalah keseluruhan sistem pelaksanaan kekuasaan dan wewenang, baik mekanisme maupun prosedurnya didalam organisasi kenegaraan yang meliputi eksekutif, legislatif dan yudikatif. Adapun tugas pemerintah adalah menyelenggarakan kepentingan umum. Yang dimaksud dengan kepentingan umum yaitu kepentingan bangsa, masyarakat dan Negara. Pelaksanaan kepentingan umum oleh Negara merupakan tugas pokok Negara dalam rangka pelaksanaan tujuan Negara. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditegaskan bahwa: “Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum …”.

Penyelenggaraan kepentingan umum, dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, tidak akan efektif apabila hanya dilaksanakan secara sentralisasi oleh Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, sebagian tugas-tugas Pemerintah Pusat dilimpahkan kepada daerah sebagai konsekwensi dari pelaksanaan asas desentralisasi. Dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara tegas dinyatakan bahwa: (1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah propinsi

dan daerah propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap propinsi, kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.

(2) Pemerintahan daerah propinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

Dengan demikian tujuan pembagian daerah Indonesia menjadi Provinsi dan Kabupaten/Kota adalah agar daerah yang bersangkutan dapat mengurus sendiri urusan pemerintahan di daerahnya masing-masing atas

(14)

dasar otonomi daerah. Untuk mengimplementasikan otonomi daerah, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang materinya berupa pelimpahan wewenang Pemerintah Pusat kepada daerah otonom dalam semua sektor kehidupan, dengan pembatasan-pembatasan tertentu.

Didalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dinyatakan bahwa:

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah.

(2) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

(3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.

Dengan demikian tujuan pemberian otonomi luas kepada daerah adalah agar daerah dapat mengelola wewenangnya sendiri, sehingga pelayanan umum dapat berjalan dengan baik, daya saing daerah menjadi kuat dan pada akhirnya dapat mempercepat kesejahteraan masyarakat. Pelayanan publik merupakan hal yang penting dan terkait dengan peran Pemerintah Daerah, salah satu komponen pelayanan publik tersebut adalah melakukan pengaturan (regulasi) di daerahnya terhadap seluruh aspek kehidupan.

Adapun penerapan otonomi untuk Aceh ditempuh melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 ditentukan bahwa “Kabupaten/Kota adalah bagian dari Provinsi sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang diberi wewenang khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan-kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

(15)

Selanjutnya dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh ditentukan bahwa “Pemerintahan Aceh dan Kabupaten/Kota berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor publik kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah”. Oleh karena itu maka Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan untuk mengurus semua urusan publik.

Penyelenggaraan kepentingan umum dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, tidak akan efektif apabila hanya dilaksanakan secara sentralisasi oleh Pemerintah Pusat. Oleh karena itu sebagian tugas-tugas Pemerintah Pusat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah sebagai konsekwensi dari pelaksanaan asas desentralisasi. Dengan demikian pembagian daerah Indonesia menjadi Provinsi dan Kabupaten/Kota agar daerah yang bersangkutan dapat mengurus sendiri urusan pemerintahan didaerahnya masing-masing atas dasar otonomi daerah.

Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan, namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Dengan perubahan terminologi pembagian urusan pemerintah yang bersifat konkuren berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka dalam implementasi kelembagaan setidaknya terwadahi fungsi-fungsi pemerintahan tersebut pada masing-masing tingkatan pemerintahan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib, diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten, dan kota, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masing-masing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya untuk optimalisasi organisasi kelembagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang lebih responsif terhadap perkembangan zaman dan berdasarkan peraturan perundang-undangan serta mengoptimalkan

(16)

pengembangan prasarana dan sarana maka sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Aceh Timur membentuk Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur.

(17)

BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis

Selain adanya urusan pemerintahan yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, pembentukan organisasi perangkat daerah juga berkaitan dengan tuntutan perubahan dalam upaya mewujudkan tata Pemerintahan yang baik (Good Governance) yaitu untuk mewujudkan Pemerintahan yang demokratis dan transparan.

Terlebih disadari oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bahwa fungsi utama yang harus dijalankan saat ini adalah : Public Service

Function (fungsi pelayanan masyarakat), development function

(fungsi pembangunan) dan protection function (fungsi perlindungan).

Good Governance akan terwujud apabila setiap aparat pemerintah telah

mampu melaksanakan apa yang disebut sebagai objective and

subjective responsibility. Responsibility objectif bersumber kepada

adanya pengendalian dari luar (external controls) yang mendorong atau memotivasi aparat untuk bekerja keras sehingga tujuan three es

(economy, efficiency and effectiveness) dari organisasi perangkat daerah

dapat tercapai (Denhardt, 2003).

Sedangkan responsibilitas subjektif yang bersumber pada sifat subjektif individu aparat (internal control) lebih mengedepankan nilai-nilai etis dan kemanusiaan yang terangkum dalam EEF (Equity, Equality and

Fairness) dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tugas-

tugas administratif lainnya.

Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur merupakan bagian dari pada pengaturan terhadap kelembagaan organisasi perangkat daerah Kabupaten Aceh Timur yang sesuai dengan perkembangan zaman dan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(18)

B. Landasan Sosiologis

Suatu peraturan perundang-undangan akan berlaku secara efektif apabila dalam pembentukannya dilandasi oleh pertimbangan sosiologis yaitu menyangkut dengan kebutuhan masyarakat/aparatur pemerintah terhadap peraturan tersebut. Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur menjawab permasalahan tentang kepastian hukum terhadap pembentukan/perubahan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Aceh Timur khusunya Lembaga Teknis daerah yang secara khusus mendorong koordinasi yang lebih jelas dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.

Adapun pertimbangan sosiologis pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, yaitu:

1. Secara geografis, demografis dan geologis Kabupaten Aceh Timur merupakan daerah yang sedang dalam proses pembangunan, dibutuhkan biaya yang besar dan penggalian potensi yang baru dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,; dan

2. Kondisi sosial masyarakat yang membutuhkan pelayanan dan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, sehingga melalui Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat, yang tadinya pengembangan prasarana dan sarana dipandang sebagai tugas yang harus dilakukan oleh Pemerintah, dapat dijadikan sebagai kemaslahatan bersama sehingga menggalakkan peran serta masyarakat luas yang pada akhirnya bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.

(19)

C. Landasan Yuridis

Landasan yuridis merupakan pertimbangan secara hukum bahwa Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, harus mempunyai landasan hukum yang kuat untuk diberlakukan di Kabupaten Aceh Timur. Peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum pembentukan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1103);

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

(20)

5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 172, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3893);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan

Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4535);

9. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633); 10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966); 11. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 148, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5067); 12. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5168); 13. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

(21)

Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4702);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pekan dan Kejuaraan Olahraga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4703);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2007 tentang Pendanaan Keolahragaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4704);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4741);

20. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2011 Nomor 11, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 38);

21. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2011 Nomor 11, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 38);

(22)

22. Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Aceh Timur (Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Nomor 12); 23. Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 tentang

Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur (Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Nomor 9) sebagaimana telah diubah dengan Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur Menjadi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Aceh Timur (Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Tahun 2009 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Aceh Timur Nomor 24);

(23)

BAB V

JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN

Arah dan jangkauan pengaturan materi dan susunan Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur, antara lain:

NO. NAMA INSTANSI KEADAAN SAAT INI KEADAAN YANG

DIINGINKAN KETERANGAN 1 2 3 4 5 1. 2. 3. Inspektur

Badan Kesatuan bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat

Badan Pemberdayaan

Masyarakat, Perempuan

dan keluarga Sejahtera

-Inspektur Pembantu Bidang Pemerintahan

-Inspektur Bidang

Pemerintahan Mukim,

Gampong dan

Kemasyarakatan

-Inspektur Pembantu Bidang Keuangan dan Aset

-Inspektur Pembantu Bidang Pembangunan

Bidang Perlindungan Masyarakat berada pada Badan Kesatuan bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat

Terdapat Subbidang

Pengembangan Sumber Daya, Tradisi dan Budaya

-Inspektur Bidang

Pemerintahan dan

Aparatur

-Inspektur Pembantu

Bidang Keuangan dan Aset -Inspektur Bidang Perekonomian dan Pembangunan -Inpektur bidang Kesejahteraan Sosial dan Kemasyarakatan Bidang Perlindungan masyarakat dipindahkan Ke Satuan Polisi

Pamong Praja dan

Wilayatul Hisbah Menjadi Subbidang Pengembangan Sumber Daya Terjadi Perubahan Nomenklatur pada satu Inspektur Pembantu Nomenklatur Badan Kesatuan bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat berubah menjadi Badan Kesatuan bangsa, Politik Penanganan Masalah Tradisi dan Budaya menjadi Tupoksi Dinan Kebudayaan, Pariwisata,

Pemuda dan Olah Raga

(24)

1. 2. 3. 4. 5.

4.

5.

6.

Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pemadam Kebakaran

Satuan Polisi Pamong

Praja dan Wilayatul Hisbah

Badan Penanggulangan

Bencana Daerah

Bidang Pemadam Kebakaran

berada pada Badan

Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pemadam Kebakaran

SOTK serta Esselonnering

setingkat kantor

Bidang Pemadam kebakaran masih berada pada Badan Lingkungan Hidup, kebersihan dan Pemadam kebakaran

-Nomenklatur SKPK

diubah menjadi Badan

Lingkungan Hidup,

Kebersihan dan

Pertamanan

-Bidang Pemadam

Kebakaran dihapus dan

ditetapkan menjadi

Tupoksi Badan

Penanggulangan Bencana Daerah

Perubahan SOTK dan peningkatan

Esselonering untuk

mengoptimalkan kinerja Satuan Polisi Pamong

Praja dan Wilayatul

Hisbah

Bidang Pemadam

kebakaran masih

berada pada Badan

Lingkungan Hidup,

kebersihan dan

Pemadam kebakaran

dihapus dan selanjutnya

ditetapkan menjadi Tupoksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sesuai dengan surat Mendagri Nomor360/3622/SJ Tanggal 2 September 2010, antara lain disebutkan bahwa bencana kebakaran adalah termasuk

bencana non alam

yang merupakan Tupoksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah -Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh -Peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja -Permendagri nomor 40 Tahun 2011 tentang pedoman

Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja -Sesuai dengan surat Mendagri No.360/3622/SJ Tgl 2 September 2010, antara lain disebutkan bahwa Bencana Kebakaran adalah termasuk Bencana

Non alam yang

merupakan Tupoksi Badan

Penanggulangan Bencana Daerah

(25)

Adapun sasaran yang akan diwujudkan dari pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur adalah:

1. memberikan pedoman dan payung hukum yang dapat memberikan kepastian hukum dan sesuai dengan kebutuhan daerah dan berdasarkan peraturan perundang-undangan;

2. untuk optimalisasi organisasi kelembagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang responsif terhadap perkembangan zaman dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta memaksimalkan tugas pokok dan fungsi Lembaga Teknis Daerah agar dapat mendorong koordinasi yang lebih jelas dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.

3. Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Pengendalian organisasi perangkat daerah dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk Provinsi dan oleh Gubernur untuk Kabupaten/Kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(26)

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pembentukan organisasi pemerintah daerah untuk menjalankan urusan/kewenangan didasarkan pada prinsip

money follow function (pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan

yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan). Bentuk dan susunan organisasi pemerintah daerah menurut undang-undang tersebut didasarkan pada kewenangan pemerintahan yang dimiliki daerah; karakteristik, potensi dan kebutuhan daerah; kemampuan keuangan daerah; ketersediaan sumber daya aparatur; pengembangan pola kerjasama antar daerah dan/atau dengan pihak ketiga.

2. Lembaga teknis daerah adalah unsur pelaksana pemerintah daerah. Lembaga teknis daerah mempunyai tugas melaksanakan tugas tertentu yang karena sifatnya tidak tercakup oleh sekretariat daerah dan dinas daerah dalam lingkup tugasnya. Lembaga teknis daerah menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya, serta penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah

3. Penataan organisasi perangkat daerah merupakan bagian dari proses perubahan organisasi (Lembaga Teknis) dalam upaya mengantisipasi berbagai kecenderungan yang berkembang. Melalui penataan organisasi tersebut, dapat mendongkrak kinerja pemerintah daerah menjadi lebih efektif dan efisien.

(27)

B. Saran

1. Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur untuk memenuhi kewajiban Pemerintah Kabupaten Aceh Timur sebagai pelayan masyarakat (public service) serta mengupayakan pemberdayaan (empowerment) akan peningkatan mutu yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur, perlu segera diwujudkan.

2. Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur harus dapat memberikan keamanan, kenyamanan, kepastian hukum, pedoman yang jelas dan sesuai dengan kondisi saat ini.

3. Pembentukan Qanun Kabupaten Aceh Timur tentang Perubahan Kedua Atas Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Kabupaten Aceh Timur diharapkan dapat menjadi sebuah solusi dalam menuju Kabupaten Aceh Timur yang efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, sehingga dengan sendirinya dapat meningkatkan dan mengoptimalkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

1. Prof. DR. H. Sri Soemantri M, SH, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT. Alumni, Bandung, 2006.

2. Rahimullah, SH, M.Si, Hukum Tata Negara Ilmu Perundang-Undangan Versi Amandemen UUD 1945, PT. Gramedia, Jakarta, 2007.

3. Prof. DR. I Gede Pantja Astawa, SH, MH dan Suprin Na’a, SH, MH,

Dinamika Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan di Indonesia, PT. Alumni, Bandung, 2008.

4. Komisi Pemberantasan Korupsi, Meningkatkan Kapasitas Fungsi Legislasi dan Pengawasan DPRD Dalam Konteks Pencegahan Korupsi, Jakarta, 2008.

5. Prof. DR. H. Dahlan Thaib, SH, M.Si, Jazim Hamidi, SH, M.Hum dan

Hj. Ni’matul Huda, SH, M.Hum, Teori dan Hukum Konstitusi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008.

6. Prof. DR. M. Solly Lubis, SH, Ilmu Pengetahuan Perundang-Undangan, CV. Mandar Maju, Bandung, 2009.

7. B. Hestu Cipto Handoyo, Prinsip-Prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2012.

B. Peraturan Perundang-Undangan

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah.

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. 4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-Undangan.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

(29)

C. Internet 1. http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_teknis_daerah 2.httpustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/06/naskah_akademik_ penataan_organisasi_perangkat_daerah.pdf 3. http://ebookbrowse.com/makalah-teknik-pembentukan-organisasi-pdf-d411915313

4. Anonimous, (http://tunas63.wordpress.com /2008/11/24/sifat-dan-visi-misi).

(30)

Tim Penyusun Naskah Akademik Bagian Hukum Setdakab. Aceh Timur: 1. Drs. BAHRUMSYAH, MM 2. ISKANDAR, SH 3. MB. BANDI HARVIRDAUS, SH 4. MUCHSIN MUCHTAR, SH 5. MUHAMMAD AFANDI, SH 6. SAIFUL ADHAR 7. AGUS JUFRIZAL 8. NURHAYATI

Referensi

Dokumen terkait

Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 1 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Utara

Qanun Kabupaten Aceh Utara No.2 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara.. Peraturan Menteri

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota Bandung sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan

Beberapa ketentuan dalam Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 2 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kabupaten Aceh Utara (Lembaran Daerah Kabupaten

bahwa dalam rangka menindaklanjuti Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 3 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah

18 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pembentukan Sekretariat Baitul Mal ditetapkan dengan Qanun

Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Aceh Timur (Lembaran Kabupaten Aceh Timur Tahun 2016 Nomor 4)

Qanun Kabupaten Aceh Timur Nomor 5 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Daerah Kabupaten