• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Banjir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Banjir"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA Banjir

Sunaryo et al (2004) mengemukakan bahwa banjir terjadi ketika volume air tidak lagi tertampung dalam wadah yang seharusnya, sehingga menggenangi daerah atau kawasan lain. Sedangkan menurut Diposaptono (2005) bencana banjir merupakan hasil ulah campur tangan manusia (antropogenic) disebabkan karena pengembangan kota yang sangat cepat akan tetapi tidak diimbangi dengan pembangunan sarana drainase.

Menurut UNESCO (2008) banjir memiliki berbagai dampak yang tidak diinginkan, antara lain berupa dampak fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan.

• Dampak fisik adalah berupa kerusakan pada sarana-sarana umum seperti perkantoran, pertokoan, dan lain-lain.

• Dampak sosial mencakup kematian, resiko kesehatan, trauma mental, menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktifitas pelayanan publik, kekurangan makanan, energi, air, dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya • Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi

(orang tidak dapat pergi bekerja, terlambat kerja) dan lain-lain.

• Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemaran yang dibawa oleh banjir) atau tumbuhan di sekitar sungai yang rusak akibat terbawa air

Green Aceh Institute (2008) mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi akibat banjir biasanya merupakan kalkulasi nilai ekonomi terhadap kerusakan berbagai bidang kehidupan masyarakat. Komponen yang dinilai mencakup sektor perumahan, infrastruktur, sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, pemerintah, dan keuangan perbankan. Secara lebih sederhana, kerugian biasanya dipisahkan menjadi kerugian ekonomi langsung dan kerugian ekonomi yang tidak langsung

Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Banjir

Menurut Maryono (2005), banjir yang terus berlangsung di Indonesia disebabkan oleh empat hal:

(2)

2. Menurunnya resistensi DAS terhadap banjir akibat perubahan tata guna lahan 3. Faktor kesalahan pembangunan alur sungai, seperti: pelurusan sungai,

pembetonan dinding dan pengerasan tepian/sempadan sungai

4. Faktor pendangkalan sungai dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung sungai terhadap air, sehingga tidak mampu lagi mengalirkan air yang melewatinya dan meluap (banjir).

Bencana banjir sering pula sebabkan oleh aktifitas manusia. Aktifitas tersebut, seperti pembalakan hutan yang tak terkendali, pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, pertambangan, dan lain-lain. Aktifitas-aktifitas tersebut menyebabkan semakin luasnya lahan kritis yang berdampak pada semakin meluasnya kawasan lahan terbuka yang biasanya didominasi oleh rerumputan dan tanaman semak. Rehabilitasi lahan kritis itu sendiri membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu pemulihan bertahun-tahun. Kerusakan ini menyebabkan kemampuan DAS dalam menyimpan dan melepas air menjadi menurun, sehingga apabila curah hujan meningkat mulai terjadilah banjir dan sebaliknya pada musim kemarau akan terjadi kekeringan.

Bahaya dan Resiko Banjir

Pengertian bahaya (hazard) dan resiko (risk) perlu dijabarkan disini agar terdapat konsistensi dalam penggunaan dan pembahasannya. Bahaya adalah suatu kejadian yang mengancam atau kejadian yang dapat menyebabkan kerusakan secara potensial pada suatu wilayah (Coburn et al, 1994). Berdasarkan United Nations-International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR), bahaya ini dibedakan menjadi lima kelompok, yaitu:

1. Bahaya berdasarkan aspek geologi, antara lain gempa bumi, tsunami, gunung api, dan longsor.

2. Bahaya berdasarkan aspek hidrometerologi, antara lain: banjir, kekeringan, angin topan, dan gelombang pasang.

3. Bahaya berdasarkan aspek biologi, antara lain: wabah penyakit, hama dan penyakit tanaman.

4. Bahaya berdasarkan aspek teknologi, antara lain: kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, dan kegagalan teknologi.

(3)

5. Bahaya berdasarkan aspek lingkungan, antara lain: kebakaran hutan, kerusakan lingkungan, dan pencemaran limbah.

Resiko adalah akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Menurut Bappenas (2009), pengertian resiko adalah perkiraan kerugian atau kehilangan (nyawa manusia, kerusakan properti dan kerusakan aktifitas ekonomi) yang disebabkan oleh bahaya di suatu wilayah pada waktu tertentu. Resiko suatu daerah atau suatu objek terhadap suatu jenis bahaya dapat diperhitungkan tingkatannya. Perhitungan resiko umumnya mempertimbangkan jenis dan besaran kehilangan atau kerugian. Parameter umum yang digunakan adalah biaya ekonomi, karena beberapa tipe kerugian dapat dikonversikan ke dalam biaya ekonomi. Efek yang dianggap sebagai biaya ekonomi disebut sebagai kerugian tangible (dapat diperhitungkan/dinilai), sedangkan yang tidak dapat dikonversikan ke dalam nilai uang disebut kerugian intangible.

Penggunaan Lahan

Lahan oleh FAO didefinisikan sebagai lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaan di dalamnya, termasuk hasil kegiatan manusia di masa lalu dan sekarang (Hardjowigeno dan Widiatmaka., 2007).

Penggunaan lahan adalah setiap campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhannya, baik material maupun spiritual. Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor ekonomi dan faktor kelembagaan. Faktor ekonomi dicirikan oleh keuntungan, kondisi pasar dan transportasi, sedangkan faktor kelembagaan dicirikan oleh hukum pertanahan, situasi politik, sosial ekonomi, dan secara prosedural dapat dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi seorang perencana, pengetahuan mengenai penggunaan lahan dan penutupan lahan sangatlah penting dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan pengolahan sumberdaya lahan yang memperhatikan aspek lingkungan. Penggunaan lahan (land use) dan penutupan lahan (land cover) merupakan dua istilah yang sering diberikan pengertian yang sama, padahal keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Menurut Lillesand dan Keifer (1994), penggunaan lahan

(4)

berhubungan dengan kegiatan manusia pada sebidang lahan, sedangkan penutup lahan lebih berupa perwujudan fisik objek-objek yang menutupi lahan tanpa mempersoalkan kegiatan manusia pada objek tersebut.

Rustiadi E et al. (1997), menyatakan bahwa penggunaan lahan merupakan refleksi perekonomian dan preferensi masyarakat. Dengan menghubungkan perekonomian dan preferensi masyarakat ini sehingga bersifat dinamis sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan dinamika pembangunan, maka penggunaan lahan pun bersifat dinamis sehingga dapat berkembang ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga sebaliknya.

Perubahan penggunaan lahan dapat menguntungkan secara ekonomi namun pada saat yang sama dari sisi ekologi dapat pula memberikan dampak negative. Sebagai contoh peningkatan jumlah penduduk di Kalimantan Barat tidak sebanding dengan ketersediaan lahan yang begitu luas, namun di Kalimantan Barat lapangan pekerjaan sangat sempit serta minimnya keterampilan dan tingkat pendidikan masyarkat. Hal ini dapat mendorong masyarakat melakukan eksploitasi sumberdaya alam melalui pembalakan hutan (forest logging), pengurangan areal tegakan hutan (deforestasi) dan pembukaan lahan pertanian baru yang intensif di DAS. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak menggunakan kaidah konservasi, sehingga berdampak terhadap meningkatnya erosi dan tanah longsor di kawasan tersebut. Kondisi seperti ini berperan mempercepat proses terjadinya banjir di kawasan hilir DAS.

Geomorfologi

Dalam Wiradisastra et al. (2002) disebutkan bahwa geomorfologi terdiri dari tiga suku kata pembentukannya yaitu Geo, Morpho, dan Logi yang berarti ilmu mengenai bentuk permukaan bumi seperti yang telah banyak didefinisikan oleh para ahli. Menurut Strahler dan Strahler (1987) geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuklahan, termasuk sejarah dan proses pembentukannya. Cooke (1974) mengatakan bahwa geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuklahan, terutama tentang sifat alami, asal mula, proses perkembangan, dan komposisi materialnya.

Jenis bentuklahan yang dikemukakan oleh Verstappen (1977) dan Zuidam (1978) diklasifikasi ke dalam sembilan macam bentuk asal geomorfologi, yaitu

(5)

bentuk asal struktural, gunungapi, denudasional, fluvial, marine, glasial, aeolian, pelarutan, dan bentuk asal organik. Dari ke 9 bentuk asal tersebut masih dapat ditambahkan 2 bentuk asal lain yaitu lakustrin dan antropogenik.

Kajian geomorfologi sangat bermanfaat untuk berbagai bidang kehidupan pembangunan sebagaimana dikemukakan oleh Sutikno (1995), diantaranya adalah dipergunakan sebagai terapan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Lingkungan, Pengembangan dan Perencanaan Pedesaan, Urbanisasi, dan lain-lain. Dalam kaitannya dengan banjir, kajian terhadap bentuklahan menjadi sangat penting karena melalui bentuklahan dapat dilakukan analisis terhadap daerah-daerah yang rentan terhadap banjir, yaitu dengan mempelajari morfogenesisnya, seperti dataran banjir, dataran rawa dan dataran aluvial. Bentuklahan tersebut merupakan bentuklahan fluvial yang rentan terhadap banjir, selain itu dari sisi morfologi bentuklahan-bentuklahan tersebut mempunyai relief yang datar atau kadang-kadang lebih rendah dari tinggi muka air sungai.

Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik terhadap obyek, sehingga menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya dapat diproses dan diinterpetasi guna membuahkan suatu data yang bermanfaat untuk aplikasi di berbagai bidang, seperti Pertanian, Arkeolog, Kehutanan, Goegrafi, Geologi, Perencanaan wilayah (Lo, 1995). Penginderaan jauh dapat didefinisikan sebagai ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah dan fenomena dengan jalan menganalisis langsung terhadap objek, daerah atau fenomena yang diamati (Lillesand dan Kiefer, 1993). Objek yang diindera adalah objek-objek yang ada dipermukaan bumi dan di antariksa. Penginderaan terhadap objek-objek tersebut dilakukan dari jarak jauh oleh karena itu ilmu ini disebut dengan penginderaan jauh (Sutanto, 1984)

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh pada saat ini meningkat dengan pesat. Ada beberapa alasan yang mendasari pemanfaatan penginderaan jauh antara lain adalah (a) citra mengambarkan objek, daerah, gejala permukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang sama dengan permukaan bumi, relatif lengkap, dapat meliputi daerah yang luas, dan bersifat permanen, (b) karakteristik objek yang

(6)

tidak nampak pada citra dimungkinkan untuk dikenali, (c) citra dapat diperoleh secara tepat, dan (d) citra sering dibuat dengan periode ulang yang pendek (Sutanto, 1984).

Penginderaan jauh sangat bermanfaat digunakan dalam kajian bahaya alam dan mitigasi, khususnya untuk membantu dalam proses pemetaan wilayah yang berpotensi terkena bencana alam. Penggunaan teknik penginderaan jauh, diharapkan dapat menginventarisasi potensi sumberdaya alam serta dapat mengetahui wilayah yang berpeluang dilanda bencana alam dalam kaitannya dengan kondisi geomorfologis (bentuklahan).

Ada beberapa contoh mengenai manfaat dari penginderaan jauh. Data penginderaan jauh ini mampu memberikan informasi kondisi bencana banjir melalui pemantauan (Parwati et al, 2008). Sedangkan menurut Haryani et al (2008) pengolahan data MTSAT-IR dapat menghasilkan informasi spasial tentang peluang hujan lebat harian sehingga data ini dapat dijadikan untuk informasi spasial dan pemantauan terhadap daerah rawan banjir secara harian.

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi. SIG dapat diasosiasikan sebagai peta yang berorde tinggi yang juga dapat dioperasikan untuk menyimpan data non spasial. Disebutkan juga bahwa SIG telah terbukti kehandalannya untuk merekam, menyimpan, mengelola, menganalisa serta menampilkan data spasial baik dalam bentuk data biofisik maupun sosial ekonomi. Star dan Estes (1990) dalam Barus dan Wiradisastra (2000) mengemukakan bahwa secara umum SIG menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mengambil, mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta menyediakan hasil baik dalam bentuk grafik maupun dalam bentuk data tabular, pada intinya fungsi utama SIG adalah untuk mengelola data spasial.

SIG sangat bermanfaat dalam kajian bahaya dan resiko banjir, dengan penggunaan teknologi tersebut dapat dilakukan analisis spasial dengan cepat dan efisien, sehingga dapat dijadikan sebagai penyedia informasi mengenai faktor-faktor penyebab kemungkinan terjadinya bahaya dan resiko banjir. Selain hal tersebut SIG juga dapat digunakan untuk menghasilkan peta turunan dari

(7)

peta-peta tematik lainnya berupa peta-peta resiko dan peta-peta bahaya banjir. Proses penggabungan informasi tersebut dapat dilakukan dengan cara tumpang tindih (overlay) untuk menurunkan informasi baru.

Penataan Ruang

Menurut definisi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang, ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk hidup lainnya melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan untuk pengertian wilayah didefinisikan sebagai ruang yang mempunyai kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif atau aspek fungsional. Maka wilayah mengandung arti sebagai aspek fungsional disebut kawasan. Undang-undang tersebut membagi kawasan menjadi dua, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung meliputi hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air, sempadan pantai, sempadan kawasan sekitar waduk/danau, sempadan sungai, daerah sekitar mata air, kawasan suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, dan kawasan rawan bencana (bahaya banjir, aliran lahar, gempa bumi, longsor, tsunami). Kawasan budidaya meliputi kawasan indsutri, kawasan pariwisata, dan kawasan tempat pertahanan keamanan.

Untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam rencana tata ruang wilayah ditetapkan harus mempunyai kawasan hutan paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas daerah aliran sungai. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang RI No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan kehutanan yang bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat adalah dengan meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mempertahankan kecukupan hutan minimal 30 % dari luas DAS dengan sebaran proporsional. Sedangkan yang dimaksud dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, dimana batas

(8)

di darat merupakan pemisah topografis (UU No 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).

Berkaitan dengan penanganan banjir, Dirjen Penataan Ruang Departemen Kimpraswil (2003), mengemukakan upaya penataan ruang yang harus didekati secara sistemik tanpa dibatasi oleh batas-batas kewilayahan dan sektor. Oleh karena itu dirumuskan 4 (Empat) prinsip hal pokok penataan ruang yang perlu dipertimbangkan yaitu ; (a) holistik dan terpadu, (b) keseimbangan kawasan hulu dan hilir, (c) keterpaduan penanganan secara lintas sektor dan lintas wilayah dengan skala provinsi untuk keterpaduan lintas Kabupaten/Kota dan Skala Kabupaten/Kota untuk keterpaduan lintas Kecamatan, serta (d) pelibatan peran serta masyarakat mulai tahap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Hal ini sesuai dengan amanat UU 24/92 yang ditindak lanjuti dengan PP 69/96 tentang pelaksanaan hak dan kewajiban, serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang (CIFOR 2002).

Referensi

Dokumen terkait

Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja ) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak

Penginderaan jauh adalah pengambilan atau pengukuran data dan informasi mengenai sifat dari sebuah fenomena, obyek, atau benda dengan menggunakan sebuah alat perekam tanpa

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu untuk memperoleh informasi tentang objek (permukaan bumi dan perairan) atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh pada jarak

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yakni survey lapangan untuk suhu dan teknik penginderaan jarak jauh yang bertujuan untuk menganalisis

Penginderaan jauh adalah pengambilan atau pengukuran data dan informasi mengenai sifat dari sebuah fenomena, obyek, atau benda dengan menggunakan sebuah alat perekam tanpa

Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui kemampuan teknik penginderaan jauh pada interpretasi Citra Quickbird dalam mengidentifikasi kondisi fisik

Integrasi SIG dengan data penginderaan jarak jauh dapat membantu dalam suatu kegiatan perencanaan (Mainassy, 2005) , seperti informasi mengenai peluang pengembangan berbagai