Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
BAB 3 ARAHAN STRATEGIS NASIONAL
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-2
3.1
Arahan Pembangunan Bidang Cipta Karya dan Arahan Penataan Ruang3.1.1 Arahan Pembangunan Bidang Cipta Karya
3.1.2 Arahan Penataan Ruang
Kebijakan rencana struktur ruang Kabupaten Tanggamus terdiri dari rencana
pembagian Bagian Wilayah Kabupaten dan rencana pusat pelayanan,
sedangkan rencana pola ruang Kabupaten Tanggamus terdiri dari rencana
kawasan budidaya dan rencana kawasan lindung. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3-1 Arahan RTRW Kabupaten Tanggamus
No Arahan Struktur Ruang Arahan Pola Ruang 1 Pusat Pelayanan Kota
Hirarki internal di Kabupaten Tanggamus dalam RTRW 2011-2031 di rencanakan terdiri dari :
1) Pusat Pelayanan Kota,akan diarahkan, yaitu :
a) PPK Sri Kuncoro (Semaka) yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, kawasan lindung;
b) PPK Putih Doh yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian; c) PPK Pulau Panggung yang berfungsi
sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian;
2) Pusat Lingkungan, Kawasan ini
direncanakan hanya akan melayani unit lingkungan/ blok. Jenis kegiatan yang direncanakan di kawasan ini harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat pada blok yang
bersangkutan. Pusat lingkungan akan diarahkan di beberapa kecamatan yang sebagian besar fasilitasnya cenderung berskala kecil (lingkungan), yaitu : a) PPL Ngarib Kecamatan Ulu Belu
yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian; b) PPL Margoyoso Kecamatan
Sumberejo yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian; c) PPL Way Bungur yang berfungsi
sebagai pertanian, peternakan, dan permukiman.
Luas rencana pola ruang kawasan lindung dan budi daya di Kabupaten Tanggamus untuk kurun waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang, adalah :
1. Kawasan Lindung, terdiri dari : a) Hutan Lindung seluas 134.404,11
Ha
b) Sempadan Pantai seluas 1.970 Ha
c) Taman Nasional seluas 10.220 Ha d) Cagar alam laut seluas 3.125 Ha
2. Kawasan Budidaya, terdiri dari : a) Hutan Rakyat seluas 35.383Ha b) Pertanian tanaman pangan
seluas 31.671 Ha
c) Holtikultura seluas 9.957 Ha d) Perkebunan seluas 69.971 Ha e) Tanaman Pangan Berkelanjutan
seluas 20.000 Ha
f) Perikanan seluas 1.325 Ha g) Pariwisata
h) Industri
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
No Arahan Struktur Ruang Arahan Pola Ruang
d) PPL Sukamara Kecamatan Bulok yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian; e) PPL Kuripan Kecamatan Limau yang
berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan perikanan;
f) PPL Napal Kecamatan Kelumbayan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan perikanan;
g) PPL Sidoharjo Kelumbayan Barat yang berfungsi sebagai pusat pengembangan permukiman, perdagangan & jasa, dan pertanian;
2 Rencana Pengembangan Infrastruktur
Air Minum
Pengembangan sistem penyediaan air minum terkait langsung dengan target pencapaian MDGs
(Millenium Development Goals)Kabupaten Tanggamus. Strategi pencapaian
peningkatan pelayanan sektor air minum dilakukan melalui penambahan cakupan pelayanan dengan cara:
1) Pemanfaatan sumber‐sumber air baku permukaan dan air tanah didukung oleh pembangunan, rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana pengelolaan air baku, dalam rangka memenuhi kebutuhan air baku untuk air bersih bagi masyarakat diseluruh Kabupaten Tanggamus, melalui jaringan PDAM
Air Limbah
1) Pengembangan septik tank dengan sistem terpadu untuk kawasan perkotaan;
2) Pengembangan sistem sewerage untuk kawasan industri dan kawasan padat dengan memakai sistem Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang dibuat dengan sistem Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT);
3) Pengembangan jaringan tertutup untuk kawasan lainnya;
4) Mengelola limbah buangan rumah tangga secara terpadu dengan sistem riol (saluran tertutup) pada kawasan padat penduduk sebagai antisipasi jika terjadi lonjakan penduduk, sedangkan pada kawasan permukiman perdesaan
Ketentuan Perauran Zonasi : 1. Ruang Terbuka Hijau
a) Tidak diijinkan atau membiarkan adanya daerah gundul atau terbuka serta menutup areal yang gundul dengan pepohonan atau rumput-rumputan/ semak belukar.
b) Dilarang melakukan penebangan pohon di kawasan ini tanpa seijin instansi atau pejabat yang berwenang.
c) Melakukan penguatan dengan menggunakan tanaman keras terhadap tebing-tebing yang lebih tinggi dari 3 meter dengan kemiringan lebih besar dari 20 %. d) Kegiatan perkotaan yang dapat
diijinkan di kawasan
ruang hijau kota ini hanya berupa kegiatan rekreasi dan olahraga alam.
e) Tidak diperkankan melakukan ahli fungsi lahan menjadi kegiatan budidaya, seperti mall, perkantoran, perumahan dan lainnya.
f) Kegiatan sektor informal diperkenankan dengan menyesuaikan perencanaan yang telah ditetapkan pemerintah.
2. Persampahan :
a) Menerapkan pola 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dalam
pengelolaan persampahan untuk mencapai zero Waste
b) Mengendalikan dampak akibat bau,lalat,tikus dan serangga lainya
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-4
No Arahan Struktur Ruang Arahan Pola Ruang
yang jumlah penduduknya relatif sedikit (kepadatan penduduk < 200 jiwa/Ha) cukup dengan
pengembangan pengalolaan limbah secaraonsite system(saluran terbuka); 5) Menggalakkan program
pemanfaatan septic tank, sebagai sarana pembuangan tinja yang sehat;
6) Penyediaan sarana pendukung, yaitu penyediaan truk tinja untuk membantu masyarakat mengatasi masalah limbah rumah tangga; 7) Membangun sebuah Instalasi
Pengolahan Limbah Tinja untuk melayani seluruh air limbah tinja di Kabupaten Tanggamus.
Persampahan
1) Pengembangan sarana
pengangkutan sampah dengan menggunakan container terutama untuk melayani
lingkungan‐lingkungan permukiman, areal komersial seperti perdagangan dan pasar ;
2) Penyediaan Tempat Penampungan Sementara pada setiap wilayah Kecamatan sebagai tempat pembuangan sampah pasar dan rumah tangga;
3) Mengembangkan pengolahan sampah terpadu melalui sistem Satuan Operasional Kebersihan Lingkungan (SOKLI) ialah
tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilihan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah pada daerah‐daerah permukiman,
khususnya kawasan permukiman kota di pusat‐pusat pelayanan;
4) Pengelolaan sampah dan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku; 5) Meningkatkan jumlah sarana
pengangkutan sampah dan pendistribusian yang proporsional di setiap wilayah atau meningkatkan rotasi pengangkutan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA); 6) Pembangunan TPA di Kecamatan
Gisting dan atau Pugung dengan menggunakan sistem pengolahan sampah sanitary landfill, serta
merubah sistem pengolahan sampah
kesehatan terhadap lingkungan sekitar
d) Berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan jarak bebas dan jarak aman
3. Kawasan Minapolitan
a) Dapat dibangun hunian, fasilitas sosial dan ekonomi secara terbatas & sesuai kebutuhan. b) Kawasan budidaya perikanan
tidak diperkenankan berdekatan dengan kawasan yang bersifat polutif.
c) Dalam kawasan perikanan masih diperkenankan adanya kegiatan lain yang bersifat mendukung kegiatan perikanan dan pembangunan sistem jaringan prasarana sesuai ketentuan yang berlaku.
d) Dalam kawasan perikanan masih diperkenankan dilakukan kegiatan wisata alam secara terbatas, penelitian dan pendidikan.
e) Pengembangan kawasan minapolitan tidak diperkenankan mengganggu atau merusak fungsi lindung.
4. Kawasan Perumahan
a) Menyediakan lingkungan hunian yang sehat, nyaman, selamat, aman dan asri yang didukung oleh prasarana, sarana, dan utilitas minimum.
b) Tidak mengganggu fungsi kawasan lindung serta
memperhatikan aspek kelestarian dan keseimbangan lingkungan. c) Khusus untuk perumahan
pembangunan sarana komersial diperbolehkan maksimum 10% dari jumlah rumah.
d) Pembangunan perumahan baru dengan konsep intensifikasi (vertikal) atau rumah susun / apartemen dengan fungsi kegiatan perumahan
permukiman baik pada lahan belum terbangun maupun sudah terbangun dan terpadu dengan lingkungan sekitarnya.
e) Pengembangan perumahan yang sudah ada dan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
No Arahan Struktur Ruang Arahan Pola Ruang
di TPA Kali Miring menjadi sanitary landfill;
7) Membangun tempat pembuangan sementara atau penyediaan kontainer pada setiap wilayah Kecamatan sebagai tempat pembuangan sampah pasar dan rumah tangga;
8) Mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu (SOKLI) pada daerah‐daerah permukiman, khususnya kawasan permukiman kota di pusat‐pusat pelayanan;
9) Menerapkan pengelolaan sampah dengan pendekatan konsep 4R.
Drainase
1) Pembangunan prasarana drainase dilakukan dengan menggunakan sistem drainase terbuka;
2) Pembangunan prasarana drainase mengikuti jaringan jalan yang ada; 3) Pembangunan prasarana drainase ini
lebih diutamakan pada kecamatan yang mempunyai fungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat
pelayanan jasa perkantoran, pusat permukiman kota, pusat pendidikan, dan pusat pengembangan
permukiman desa. Selain itu juga pada kawasan yang rawan terjadi bencana banjir, banjir bandang, genangan dan gelombang pasang laut seperti pada Kecamatan Kelumbayan, Kelumbayan Barat, Cukuh Balak, Limau, Kota Agung, Kota Agung Barat, Wonosobo, Semaka, Bdr. Negeri Semoung, dan Pematang Sawa. Untuk
kecamatan‐kecamatan lainnya diasumsikan masih dapat menerima air limpasan karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari lahan pertanian, dan ruang terbuka hijau lainnya;
4) Normalisasi dan pengerukkan secara berkala pada sungai yang terjadi pendangkalan karena sungai merupakan drainase primer yang alami; dan
5) Menjaga kelestarian daerah tangkapan air hujan agar dapat maksimal menampung air hujan dan mencegah terjadinya longsor yang mengakibatkan terjadinya
pendangkalan pada sungai‐sungai
lingkungan, dan pembenahan prasarana dan sarana
perumahan.
f) Penataan dan penanganan permukiman kumuh dilakukan dengan pembangunan rumah susun sederhana sehat baik dengan sistem sewa ataupun milik yang dilakukan secara terpadu dengan lingkungan sekitarnya.
g) Pembangunan perumahan dan permukiman lama dilakukan secara terpadu baik fisik maupun sosial ekonomi masyarakat melalui program revitalisasi, rehabilitasi, renovasi, rekonstruksi, atau preservasi.
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-6
a. Pusat Kegiatan Nasional
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Tanggamus
tidak termasuk dalam Pusat Kegiatan Nasional, namun termasuk dalam
kategori kawasan strategis nasional.
b. Pusat Kegiatan Wilayah Pulau
Secara geografi dan administratif, Kabupaten Tanggamus memiliki
wilayah pulau sebagai berikut : Pulau Panggung, Pulau Kilauan. Hal
tersebut berdasarkan hasil verifikasi nama dan jumlah pulau di Provinsi
Lampung oleh Tim Verifikasi dari Tim Nasional Pembakuan Nama
Rupabumi (Ditjen pemerintahan Umum – Depdagri, BAKOSURTANAL,
Departemen Kelautan dan Perikanan, Jawatan Hidro-Oseanografi TNI
AL dan Tim Pakar).
Pulau Panggung Kecil diarahkan untuk kawasan cagar budaya karena
disana terdapat situs megalitikum yaitu patung batu gajah. Di samping
itu Pulau Segama besar juga dapat dimanfaatkan sebagai kawasan
wisata, kawasan wisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan. Di
mana wisatawan dapat melihat peninggalan sejarah serta beristirahat
untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan berlibur. Sedangkan
pulau Kiluan dimanfaatkan sebagai kawasan lindung untuk biota-biota
sensitif dan langka yang terdapat di pulau tersebut seperti habitat
lumba-lumba. Perairan sekitar pulau-pulau kecil tersebut yang mana
terdapat terumbu karang di dalamnya juga harus dilindungi, karena
keberadaan terumbu karang sangat penting sebagai habitat ikan-ikan
pelagis yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu. Jika terumbu
karang terjaga kelestariannya maka jumlah stok ikan yang dapat
ditangkap pun akan melimpah. Sehingga produktivitas perikanan
tangkap laut pun akan meningkat dan juga meningkatkan pendapatan
nelayan dan meningkatkan pendapatan.
c. Pusat Kegiatan Strategis Nasional
Sesuai dengan arahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun
2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara
nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan
negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk
wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Penetapan
Kawasan Strategis Nasional dilakukan berdasarkan beberapa
kepentingan, yaitu:
a) Pertahanan dan keamanan
b) Pertumbuhan ekonomi
c) Sosialdan budaya
d) Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi
e) Fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Kab. Tanggamus termasuk dalam Kawasan Strategis Nasional dari
sudut kepentingan Fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
seperti yang tertuang dalam Perpres No. 86 Tahun 2011 tentang
Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda.
d. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Kawasan strategis provinsi yang ada di Kabupaten Tanggamus adalah
kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi,
kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial budaya dan kawasan
strategis dari sudut kepantingan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup.
1. Kawasan Strategis Agropolitan Gisting.
Kawasan Strategis Agropolitan Gisting merupakan kawasan untuk
kepentingan ekonomi yang di tetapkan Provinsi Lampung di Kabupaten
Tanggamus. Gisting sebagai wilayah Kabupaten Tanggamus memiliki
potensi sektor pertanian, khususnya pertanian holtikultura dengan
komoditas tanaman holtikultura dan palawija dengan tingkat
pelayanan regional(Provinsi Lampung). Dengan penetapan Gisting
sebagai Kawasan Strategis diharapkan akan meningkatkan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-8
wilayah-wilayah disekitarnya, umumnya meningkatkan kondisi
perekonomian Kabupaten Tanggamus.
2. Kawasan Strtategis Batutegi
Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan yang mendukung
keberlangsungan lingkungan hidup, yang ditetapkan di Kabupaten
Tanggamus. Penetapan kawasan tersebut diaharapkan dapat
meningkatkan kondisi lingkungan yang baik di Kabupaten Tanggamus
khususnya, dan Provinsi Lampung pada umumnya. Terkait dengan
penetapan kawasan strategis ini, maka kewenangan dari Pemerintah
Provinsi adalah :
a) Penyusunan Rencana Rinci Kawasan Strategis,
b) Penyusunan masterplan prasarana kawasan, Serta pengelolaannya
c) Kawasan strategis batutegi, kawasan strategis batutegi merupakan
kawasan strategis yang mendukung keberlangsungan lingkungan
hidup di Kabupaten Tanggamus.
3. Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan tempat
perlindungan keanekaragaman hayati dan aset nasional (Kawasan
Lindung Nasional) yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem,
flora dan fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah
yang harus dilindungi dan dilestarikan. Terkait dengan penetapan
kawasan strategis ini,maka kewenangan dari Pemerintah Provinsi
adalah dimulai dari penyusunan Rencana Rinci Kawasan Strategis
serta pengawasannya, penyusunan masterplan prasarana kawasan,
serta pengelolaannya.
e. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Kawasan strategis wilayah Kabupaten Tanggamus merupakan bagian
wilayah kabupaten yang penataan ruangnya diprioritaskan, karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten
terhadap ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Penentuan kawasan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
Kawasan strategis kabupaten berfungsi:
a. Mengembangkan, melestarikan, melindungi, dan/atau
mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan nilai strategis
kawasan yang bersangkutan dalam mendukung penataan ruang
wilayah kabupaten;
b. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi
masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah
kabupaten yang dinilai mempunyai pengaruh sangat penting
terhadap wilayah kabupaten bersangkutan;
c. Untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa
terakomodasi di dalam rencana struktur ruang dan rencana pola
ruang;
d. Sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama
RTRW kabupaten; dan
e. Sebagai dasar penyusunan rencana rinci tata ruang wilayah
kabupaten.
Dengan mempertimbangkan dasar, kriteria dan rencana kawasan strategis
Provinsi Lampung serta potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Tanggamus,
maka terdapat beberapa rencana kawasan strategis yang dapat
dikembangkan di Kabupaten Tanggamus, yaitu :
1. Kawasan strategis dari sudut pandang kepentingan potensi ekonomi
a) Kawasan Strategis Minapolitan
Kawasan Minapolitan merupakan suatu kawasan yang diperuntukan
untuk pengembangan kegiatan perikanan yang ditetapkan di
Kecamatan Wonosobo. Pada dasarnya, kawasan minapolitan
dipersiapkan untuk pengembangan kegiatan perikanan. Pada kawasan
ini diharapkan terjamin keterpaduan antar sektor, baik yang
bersentuhan langsung dengan sektor perikanan maupun yang tidak
langsung, selain adanya integrasi antar kawasan sentra produksi. Terkait
dengan pengembangan Kecamatan Wonosobo sebagai Kawasan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-10
(1) Menyusun masterplan pengembangan kawasan minapolitan,
berikut dengan penyusunan strategi dan upaya pembangunan
kawasan
(2) Penguatan kelembagaan pengelola dan kerjasama pada kegiatan
kawasan minapolitan atau kegiatan perikanan
(3) Pengembangan infrastruktur penunjang kegiatan pada kawasan
minapolitan
(4) Pemberdayaan masyarakat yang terlibat dalam aktivitas kawasan
minapolitan
b) Kawasan Strategis Teluk Kiluan
Kawasan ini merupakan salah satu kawasan tujuan wisata yang terletak
di Kacamatan Kelumbayan. Kawasan Teluk Kilauan memiliki daya tarik
pada aktivitas bahari seperti memancing jenis ikan tertentu seperti blue
merlin dan juga lumba – lumba (dolphin tour). Kawasan ini menjadi
kawasan wisata andalan bagi Kabupaten Tanggamus. Selain itu,
berdekatan dengan kawasan yang ada juga akan di kembangkan
kawasan taman buru. Sehingga kawasan ini dikemudian hari dapat
tumbuh sebagai kawasan ekowisata. Untuk itu perlu dilakukan :
(1) Penyusunan Rencana Pengembangan Obyek Wisata (RIPOW)
(2) Studi mengenai jalur wisata dan pengembangan kegiatan wisata
potensial.
(3) Menciptakan kegiatan (even) khusus yang menarik minat
wisatawan
(4) Memperbaiki infrastruktur dan menjamin kelancaran akses menuju
kawasan.
(5) Mengembangkan beberapa kawasan dan kegiatan pendukung
kegiatan wisata seperti hotel, restourant, cinderamata, dan lain
sebagainya.
2. Kawasan yang memiliki nilai strategis pendayagunaan sumber daya alam
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
a) Kawasan Strategis Ulu Belu
Pembangkit listrik tenaga geothermal (panas bumi) di Kecamatan Ulu
Belu. Seperti halnya pembangkit listrik lainnya, tentunya keberadaan
kawasan ini sangat vital. Secara eksisting sedang dikembangkan
pembangkit dengan kapasitas produk mencapai 2 X 55 Mw. Panas bumi
yang dihasilkan diperkirakan mampu memproduksi hingga mencapai 5
x 55 Mw. Tentunya dengan kapasitas produksi yang demikian dapat
mensuply kebutuhan listrik Provinsi Lampung. Sebagai kawasan yang
memiliki fungsi yang cukup vital, tentunya perlu dilakukan upaya :
(1) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan
(2) Penyusunan rencana penanggulangan dampak
(3) Pemantauan dan pengendalian secara ketat pertumbuhan
kawasan
(4) Perbaikan infrastruktur menuju kawasan.
Pemberdayaan masyarakat yang beraada di sekitar kawasan.
3.1.3 Arahan Wilayah Pengembangan Strategis
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran
kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten ke dalam langkah‐langkah
operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi penataan
ruang wilayah kabupaten berfungsi:
1. Sebagai dasar untuk penyusunan rencana struktur ruang, rencana pola
ruang, dan penetapan kawasan strategis kabupaten;
2. Memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam rtrw
kabupaten; dan
3. Sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten.
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
1. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana wilayah dalam
mendukung sektor‐sektor unggulan;
2. Peningkatan dan pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-12
3. Peningkatan dan pengembangan kawasan minapolitan berdasarkan
potensi.perikanan tangkap dan budidaya;
4. Pemanfaatan potensi pertambangan dengan tetap menjaga kelestarian
dan kestabilan kawasan dalam rangka mewujudkan pembangunan
yang berkelanjutan;
5. Pengembangan ekowisata bertumpu pada wisata bahari;
6. Pengurangan disparitas dan kesenjangan antar wilayah; dan
7. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
Dengan Kebijakan Tersebut di atas, Untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan, maka Stategi penataan Ruang Kabupaten Tanggamus adalah :
1. Strategi peningkatan penyediaan sarana dan prasarana wilayah dalam
mendukung sektorsektor unggulan meliputi :
a) mengembangkan sistem transportasi yang terpadu;
b) mengembangkan sistem jaringan prasarana energi pada pusat‐pusat
pertumbuhan wilayah;
c) mengembangkan sistem jaringan prasarana sumber daya air untuk
menunjang kawasan pertanian, pariwisata dan mengurang esiko
bencana;
d) mengembangkan sistem jaringan prasarana telekomunikasi berbasis
terestrial dan seluler yang menjangkau seluruh wilayah;
e) mengembangkan sistem jaringan prasarana lingkungan yang
mendukung kelestarian lingkungan hidup.
2. Strategi peningkatan dan pengembangan kawasan agropolitan
berdasarkan potensi hortikultura meliputi :
a) meningkatkan produk pertanian hortikultura yang memiliki daya saing
dipasar;
b) meningkatkan pengolahan produk hortikultura disertai dengan
pengemasan untuk peningkatan perluasan pasar;
c) menyediakan infrastruktur penunjang hortikultura;
d) mengembangkan pasar lokal dan regional sebagai satu kesatuan
sistem agropolitan; dan
e) meningkatkan kerjasama dengan lembaga keuangan untuk
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3. Strategi peningkatan dan pengembangan kawasan minapolitan
berdasarkan potensi perikanan tangkap dan budidaya meliputi :
a) meningkatkan jumlah produk dan kualitas perikanan tangkap dan
budidaya;
b) meningkatkan pengolahan produk perikanan sampai beberapa
turunannya;
c) meningkatkan jaringan pemasaran tingkat lokal, regional dan
nasional;
d) meningkatkan penyediaan infrastruktur pengembangan perikanan;
dan
e) meningkatkan kerjasama dengan lembaga keuangan untuk
pembiayaan pengembangan pengolahan hasil perikanan.
4. Strategi pemanfaatan potensi pertambangan dengan tetap menjaga
kelestarian dan kestabilan kawasan dalam rangka mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan meliputi :
a) mengindentifikasi potensi pertambangan;
b) mengelolah hasil pertambangan menjadi bahan jadi/setengah jadi
dengan memberdayakan masyarakat;
c) melakukan pengawasan dan pengontrolan eksploitasi
pertambangan sesuai dengan kemampuan lahan;
d) membatasi penambangan liar;
e) mengembalikan rona alam pada area bekas tambang untuk
kegiatan produktif; dan
f) menjadikan kawasan pertambangan sebagai kawasan pariwisata
dan pendidikan berbasis lingkungan .
5. Strategi pengembangan ekowisata bertumpu pada wisata bahari
meliputi :
a) mengembangkan objek wisata unggulan sebagai satu kesatuan
sistem tujuan wisata;
b) memelihara lingkungan pada kawasan wisata sebagai aset utama
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-14
c) melakukan perluasan kegiatan wisata diikuti lingkage antar objek dan
atraksi wisata;
d) mengembangkan paket wisata sesuai jalur dan potensi unggulan
pariwisata; dan
e) mengembangkan industri wisata disertai promosi yang efisien.
6. Strategi pengurangan disparitas dan kesenjangan antar wilayah meliputi :
a) menjamin ketersediaan fasilitas umum, sosial, dan ekonomi di seluruh
kecamatan;
b) menjamin kelancaran aksesibilitas antar kawasan serta pulau – pulau
kecil;
c) terlayaninya seluruh kawasan dengan sumber daya energi;
d) membentuk simpul – simpul pertumbuhan baru, yang terlayani oleh
akses yang baik, dan fasilitas yang memadai; dan
e) mengoptimalkan pengembangan kawasan perkotaan sebagai pusat
pertumbuhan dan pelayanan kawasan yang berada di sekitarnya.
7. Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan
negara meliputi :
a) mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi
khusus pertahanan dan keamanan;
b) mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di
sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi keamanan
nasional;
c) mengembangkan kawasan lindung dan atau kawasan budidaya
tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang
mempunyai khusus pertahanan dan keamanan dengan kawasan
budidaya terbangun; dan
d) turut serta menjaga dan memelihara aset‐aset pemerintah/TNI.
3.1.4 Indikator Kinerja Pembangunan Infrastruktur
Indikator kinerja daerah sebagai alat ukur tercapainya kinerja kebijakan dan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
1. Meningkatnya jumlah jalan yang kondsisinya mantap (baik);
2. Bertambahnya panjang jalan kota dan jalan lingkungan;
3. Tertatanya daerah bantaran sungai;
4. Berkurangnya sedimentasi sungai dan drainase;
5. Tertatanya kawasan permukiman kumuh;
6. Meningkatnya cakupan pelayanan air bersih mencapai 45%;
7. Tersedianya instalasi penanganan air limbahn yang bersifat komunal;
8. Berkurangnya titik banjir;
9. Berkurangnya titik kemacetan;
10. Bertambahnya fasilitas lalu lintas dan angkutan massal;
11. Meningkatnya kualitas pelayanan pariwisata
12. Meningkatnya sarana dan prasarana wisata;
13. Berkurangnya bangunan yang melanggar peruntukan ruang;
Meningkatnya keindahan dan kenyamanan kota;
3.1.5 Arahan Rencana Pembangunan Daerah
a. Visi
Visi pembangunan yang telah disusun merupakan kondisi akhir daerah
yang dikehendaki oleh seluruh stakeholders sampai tahun 2015. Oleh karenanya penting sekali menjadikan visi Kabupaten Tanggamus menjadi
visi bersama (shared vision). Berdasarkan potensi wilayah, tantangan yang dihadapi sampai tahun 2015, serta mengacu pada Visi Provinsi Lampung
2011-2025 dan Visi Nasional Tahun 2011-2025; maka Visi Kabupaten
Tanggamus 2005-2025 adalah:
“Masyarakat Tanggamus yang Sejahtera, Agamis, Mandiri, Unggul dan
Berdaya Saing Berbasiskan Ekonomi Kerakyatan”
Visi ini memuat lima kata kunci yaitu sejahtera, agamis, mandiri, unggul dan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-16
Masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang telah terpenuhi
kebutuhan hidupnya baik secara jasmani maupun rohani, dan hidup dalam
kedamaian dan ketentraman.
Masyarakat yang agamis adalah masyarakat yang memiliki pemahaman dan
kesadaran beragama sehingga tingkat ketaatan pada ajaran agama makin
baik serta memiliki rasa toleransi antar umat beragama.
Mandiri memiliki arti bahwa Kabupaten Tanggamus harus mampu
menjalankan pembangunan daerah secara mandiri yang ditopang oleh
sumber daya alam yang dimiliki serta pendapatan daerah sebagai
pendanaan pembangunan daerah
Unggul dan berdaya saing mempunyai konotasi lebih baik, lebih kuat, lebih
tangguh, dan lebih ulet daripada lingkungannya, baik dalam skala kawasan
maupun regional. Keunggulan dan daya saing mencakup domain
perekonomian, sains, dan teknologi, pendidikan, dan civilazation (politik dan hukum).
Ekonomi kerakyatan berarti perekonomian yang tumbuh dan brkembang
berbasis pertanian, anmun kemudian bergerak mengarah ke industri,
perdagangan, dan jasa, yang ditopang oleh daya dukung infrastruktur yang
memadai.
b. Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi yang akan dilaksanakan dalam
kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan selama periode 2013-2018, yaitu:
1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam rangka menanggulangi
kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja;
Misi ini adalah upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang
berbasis ekonomi kerakyatan yang bersinergi dengan pemberdayaan
masyarakat, perlindungan sosial yang berbasis keluarga, perluasan
pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah dan
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
2) Meningkatkan akses dan pemerataan kualitas pendidikan dan pelayanan
kesehatan;
Misi ini adalah upaya untuk meningkatkan akses dan pemerataan
pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, terjangkau,
relevan, dan efisien serta penyediaan dan perluasan infrastruktur dasar
masyarakat yang terdiri dari sarana prasarana umum.
3) Mempercepat pembangunan infrastrktur dan pengelolaan energi
terbarukan;
Misi ini adalah upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan
pemanfaatan energi yang memiliki daya gerak terhadap pertumbuhan
ekonomi dan sosial sebagai bentuk dukungan pembangunan kawasan
strategis seperti Kawasan Industri Maritim dan pengembangan intra dan
antar moda transportasi melalui pengembangan Pelabuhan Batu Balai
sebagai penopang Pelabuhan Panjang dan mengantisipasi
pembangunan Jembatan Selat Sunda.
4) Memingkatkan ketahanan pangan melalui revitalisasi pertanian,
perternakan, perkebunan, kehutanan, kelautan dan perikanan;
Misi ini adalah upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui
ravitalisasi pertanian yang menyeluruh dan bersinergi dengan sektor terkait
untuk mewujudkan kemandirian pangan, peningkatan daya saing produk
pertanian, dan peningkatan pendapatan petani.
5) Meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
yang berbasis mitigasi bencana;
Misi ini adalah upaya untuk melaksanakan konservasi dan pemanfaatan
sumber daya alam dan lingkungan yang disertai penguasaan dan
pengelolaan resiko bencana unuk mengantisipasi perubahan iklim.
6) Mengembangkan ekonomi kreatif, kebudayaan, pariwisata dan sistem
inovasi daerah;
Misi ini adalah upaya untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan
perlindungan kebhinekaan budaya, karya seni, dan pariwisata serta
apresiasinya untuk memperkaya khazanah artistik dan intelektual bagi
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-18
pengembangan inovasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi
oleh keunggulan Kabupaten Tanggamus sebagai daerah maritim.
7) Meningkatkan tata kelola pemerintahan serta pemantapan keamanan
dan ketertiban masyarakat yang agamis.
Misi ini adalah upaya untuk memantapkan tata kelola pemerintahan yang
lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu, penuh integritas,
akuntabel, taat kepad hukum yang berwibawa dan transparan, peningkatan
kualitas pelayanan publik yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintahan
dan kapasitas pegawai pemerintah yang memadai, serta mendorong
partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan
tindak kriminal dan peningkatan toleransi antar umat beragama.
3.2
Rencana Strategis Infrastruktur Bidang Cipta Karya3.2.1 Rencana Kawasan Permukiman (RKP)
Visi dan Misi
Berdasarkan mandat dari perangkat peraturan dan undang‐undang terhadap
tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Cipta Karya, maka visi Direktorat Jenderal
Cipta Karya adalah “Terwujudnya permukiman perkotaan dan perdesaan
yang layak, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan”.Adapun makna dari
visi tersebut adalah:
Layak, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang mempunyai
persyaratan kecukupan prasarana dan sarana permukiman sesuai
dengan Standar Pelayanan Minimal sebagai tempat bermukim warga
perkotaan dan perdesaan.
Produktif, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang dapat
menghidupkan kegiatan perekonomian di lingkungan permukiman.
Berdaya saing, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang
dapat menonjolkan kualitas lingkungan permukimannya dengan baik
dan mampu bersaing sebagai lingkungan permukiman yang menarik
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
Berkelanjutan, yaitu: permukiman perkotaan dan perdesaan yang asri,
nyaman dan aman sebagai tempat bermukim warganya untuk jangka
panjang.
Untuk mencapai visi tersebut, maka Misi Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun
2010 – 2014 adalah:
1. Meningkatkan pembangunan infrastruktur permukiman di perkotaan
dan perdesaan untuk mewujudkan permukiman yang layak,
berkeadilan sosial, sejahtera, berbudaya, produktif, berdaya saing dan
berkelanjutan dalam rangka pengembangan wilayah.
2. Mewujudkan kemandirian daerah melalui peningkatan kapasitas
pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha dalam
penyelenggaraan pembangunan infrastruktur permukiman termasuk
pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasinya
3. Melaksanakan pembinaan dalam penataan kawasan serta
pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang memenuhi
standar keandalan bangunan gedung.
4. Menyediakan infrastruktur permukiman bagi kawasan kumuh/nelayan,
daerah perbatasan, kawasan terpencil, pulau‐pulau kecil terluar dan
daerah tertinggal termasuk penyediaan air minum dan sanitasi bagi
masyarakat miskin.
5. Mewujudkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan SDM
yang profesional dengan menerapkan prinsipgood governance. Penetapan Kawasan Permukiman Prioritas
Dalam berbagai studi penentuan kawasan penanganan dan pengembangan
permukiman prioritas dalam suatu wilayah, pada umumnya
mempertimbangkan kriteria aspek fisik, sosial, ekonomi dan kebijakan. Kriteria
ini sesungguhnya dapat dijabarkan dalam indikator-indikator yang sesuai
dengan fokus kegiatan. Dalam konteks kegiatan pembangunan permukiman
dan infrastruktur perkotaan maka berbagai indikator-indikator dalam kriteria
fisik, sosial, ekonomi dan kebijakan, harus dapat menjadi instrumen
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
3-20
Hasil skoring penentuan kawasan prioritas pembangunan permukiman dan
infrastruktur perkotaan menetapkan 3 (tiga) kawasan perkotaan berdasarkan
kesepakatan pokjanis dan identifikasi tim konsultan, untuk kawasan prioritas 1
yaitu Kota Agung yang secara administratif terbagi menjadi kecamatan Kota
Agung Barat dan Timur Tim Pokjanis menyepakati 2 kecamatan ini menjadi 1
prioritas kawasan karena dari sejarah terbentuknya kecamatan, kultur
kebudayaan dan sarana dan prasarana dasar yang saling terkait, adapun
rinciaan kawasan prioritas yang telah ditetapkan sebagai berikut:
1. Kecamatan Kota Agung (Pekon Kuripan, Baros, Dan Pasar Madang),
sedangkan kecamatan Kota Agung Barat dan Timur fokus pada
permukiman tradisioal dan kawasan industri maritim
2. Kecamatan Talang Padang diprioritaskan kelurahan/pekon : Talang
Padang, Suka Negeri Jaya, Sinar Banten, Sinar Semendo
3. Kecamatan Gisting, diprioritaskan di kelurahan/pekon : Purwodadi
Ditinjau dari kriteria A yaitu tingkat strategis lokasi dan komitmen Pemerintah
Daerah, ketiga Kecamatan diatas telah singkron dengan skenario
pengembangan wilayah menurut Rencana Tata Ruang Wilayah yang ada.
Kabupaten Tanggamus yang membutuhkan pusat pertumbuhan yang
diharapkan dapat menjadi pusat orientasi dari Kecamatan sekitarnya. Urutan
prioritas ketiga Kecamatan juga telah sesuai dengan hirarkinya dalam struktur
ruang wilayah. Perkotaan Kecamatan Kota Agung sebagai Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW) merupakan prioritas pertama pembangunan permukiman dan
infrastruktur, diikuti oleh perkotaan Kecamatan Kecamatan Talang Padang
sebagai Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp), serta perkotaan Kecamatan
Gisting sebagai Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp). Sedangkan, kriteria B
yang membandingkan kondisi fisik permukiman dan infrastruktur keempat
Kecamatan memperlihatkan bahwa perkotaan Kecamatan Kota Agung
memperoleh skor tertinggi, karena dinilai memiliki kondisi permukiman dan
infrastruktur yang paling urgen ditangani. Sementara kriteria C dan D yaitu
kondisi sosial dan eknomi masing‐masing menempatkan Kecamatan Talang
Padang dan Gisting sebagai prioritas pembangunan. Total skor dari
kriteria‐kriteria diatas memperlihatkan bahwa ketiga Kecamatan tersebut
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
fungsi sistem pusat kegiatan kabupaten tanggamus yang tertera pada RTRW
kabupaten tanggamus Tahun 2011 – 2031 .
Secara umum kondisi permukiman dan infrastruktur di perkotaan Kecamatan di
Kabupaten Tanggamus belum memadai dan cenderung memperlihatkan
kondisi yang kurang penataan. Penyusunan SPPIP/RP2KP di wilayah Kabupaten
perlu diarahkan pada pembangunan di tingkatan wilayah Kecamatan
terutama pada kawasan yang berkarakter perkotaan. Ketiga Kecamatan
yang menjadi prioritas diatas, memiliki kompleksitas permasalahan
masingmasing sektor yang berbeda. Perbedaan itu umumnya disebabkan oleh
letak perkotaan dalam konstelasi wilayah yang mendukung kegiatan ekonomi
kawasannya. Pada perkotaan yang peisir pantai seperti Kota Agung, Kota
Agung Barat dan Kota Agung Timur akan memperlihatkan kondisi yang
berbeda dengan perkotaan pada daerah dataran. Selain itu, daya tarik
perkotaan terutama untuk kegiatan ekonomi juga turut memperlihatkan
perbedaan antara perkotaan yang satu dengan yang lain. Perkotaan
perdagangan, dan industri tentunya akan memiliki permasalahan yang
berbeda dengan perkotaan sebagai pusat pelayanan pemerintahan.
Sehingga, identifikasi permasalahan permukiman dan infrastruktur perkotaan
dilakukan pada masing‐masing perkotaan Kecamatan yang menjadi prioritas
Draft Akhir - Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPI-JM) Bidang Cipta Karya
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3.2.2 Rencana Induk Penyediaan air Minum (RISPAM)
3.2.3 Rencana Sistem Pelayanan dan Pengembangan
A. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung (Zona 1)
Mengingat sudah adanya jaringan perpipaan di Kecamatan Kota Agung dan
Kecamatan Kota Agung Timur yang merupakan bagian dari zona pelayanan
Cabang Kota Agung, maka direncanakan untuk mengembangkan pelayanan
di kawasan sekitarnya yang belum mendapatkan pelayanan SPAM jaringan
perpipaan. Penambahan debit pengambilan yang direncanakan untuk kedua
kecamatan ini adalah memanfaatkan iddle capacity dari mata air Way Biah1,
Way Biah 2, dan Way Umbul Buah dengan total pengambilan 60 lt/dt dengan
rincian 15 lt/dt untuk Kecamatan Kota Agung Timur, 10 lt/dt untuk Pelabuhan
Pertamina dan 35 lt/dt untuk Kecamatan Kota Agung, untuk rencana
penambahan debit akan diambil dari Way Lamoran sebesar 50 lt/dt.
Gambar 3.2 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung
B. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Talang Padang (Zona 2)
Pada Zona 2 pelayanan SPAM Cabang Talang Padang, jaringan pipa sudah
terpasang di beberapa pekon yaitu sebahagian di Kecamatan Gisting dan
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-2
zona ini berupa pengembangan daerah layanan di pekon- pekon sekitar yang
belum mendapat akses jaringan perpipaan air minum.
Sumber air baku yang digunakan saat ini berasal dari Way Landsbau dan Way
Sukabanjar dengan total pengambilan 40 l/dt. Untuk perencanaan
pengembangan, penambahan debit akan diambil dari sumber air baku Way
Ilahan sebesar 75 lt/dt.
Pada rencana pengembangan zona SPAM Cabang Talang Padang, sumber
air baku renananya akan diambil dari Way Ilahan yang rencananya akan
melayani wilayah Kecamatan Talang Padang, Kecamatan Pulau Panggung
dan Kecamatan Pugung
Gambar 3.3 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Talang Padang
C. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Unit Pemda (Zona 3)
Zona ini direncanakan untuk melayani wilayah perkantoran komplek Pemda
Kabupaten Tanggamus dan pekon-pekon disekitarnya seperti Pekon Kampung
Baru, Pekon Batu Keramat. Sumber air baku yang digunakan saat ini berasal
dari Batu Keramat dengan total pengambilan 5 lt/dt.
Dari hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air, maka diperkirakan pada tahun
2017 kapasitas yang ada sudah tidak mencukupi. Untuk rencana
pengembangan di zona unit pemda ini, debit air baku akan ditambah
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
dengan penambahan pipa dari broncaptering sampai Bak Pelepas Tekan
untuk disalurkan ke Reservoir kapasitas 400 m3.
Gambar 3.4 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Unit Pemda
D. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung
Barat-Wonosobo (Zona 4)
Pada Zona 4 pelayanan Unit Kota Agung Barat - Wonosobo, jaringan pipa
sudah terpasang di beberapa pekon Kecamatan Kota Agung Barat dan
Kecamatan Wonosobo. Perencanaan pada zona ini berupa pengembangan
daerah layanan di pekon- pekon sekitar yang belum mendapat akses jaringan
pipa. Sumber air baku yang digunakan berasal dari Way Biah 3 dengan total
pengambilan 10 l/dt. Untuk perencanaan pengembangan, penambahan
debit akan diambil dari Way Batu Papan sebesar 15 lt/dt dan Way Lamoran
sebesar 100 lt/dt. Berikut Jaringan pipa dan skematik rencana pengembangan
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-4
Gambar 3.5 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung Barat-Wonosobo
E. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Pulau Panggung (Zona 5)
Pada Zona 5 pelayanan SPAM Unit Pulau Panggung saat ini hanya melayani
Kecamatan Pulau Panggung dengan memanfaatkan sumber air baku Way
Gunung Megang dan Way Tanjung Rejo. dengan total pengambilan
masing-masing 5 lt/dt dari Way Gunung Megang dan 5 lt/dt dari Way Tanjung Rejo.
Area pelayanan saat ini mencakup Pekon Tj. Begelung, Pekon Pulau
Panggung, Pekon Kemuning, Pekon Tanjung Rejo, Pekon Sinar Mulyo, Pekon
Gunung Meraksa, Pekon Tekad, Pekon Gedung Agung, Pekon Muara Dua,
Pekon Penantian dan Pekon Sindang Marga. Menurut perhitungan proyeksi
kebutuhan air, maka diperkirakan pada Tahun 2017 kapasitas yang ada saat
ini 10 lt/dt sudah tidak akan mencukupi.
Untuk rencana pengembangan, maka penambahan debit akan diambil dari
sumber air baku Way Ilahan sebesar 75 lt/dt yang akan dialirkan ke Ground
Reservoir kapasitas 1000 M3 dengan tujuan juga akan melayani sebahagian
wilayah Kecamatan Talang Padang dan sebahagian wilayah Kecamatan
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
Gambar 3.6 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Pulau Panggung
F. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung Timur (Zona 6)
Pada Zona 6 pelayanan SPAM Unit Kota Agung Timur saat ini melayani wilayah
Kecamatan Kota Agung Timur dan sebahagian pekon di wilayah Kecamatan
Kota Agung yaitu Pekon Tanjung Anom, Pekon Campang Tiga dan Pekon Kota
Agung. Sumber air baku yang digunakan saat ini berasal dari mata air Way
Kijaan dengan total pengambilan 10 l/dt yang dialirkan ke Reservoir kapasitas
400 m3. Menurut perhitungan proyeksi kebutuhan air, kapasitas yang sudah
ada saat ini sudah mencukupi untuk kebutuhan air minum hingga tahun 2026.
Rencana pengembangan pada zona ini berupa percepatan penambahan
sambungan rumah (SR) pada daerah layanan di pekon-pekon sekitar yang
belum mendapat akses jaringan pipa air minum sehingga iddle capacity yang
ada dapat dimanfaatkan.
Untuk perencanaan pengembangan, penambahan debit dapat diambil dari
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-6
Gambar 3.7 Skematis Pelayanan SPAM Cabang Kota Agung Timur
G. Pengembangan Zona Pelayanan SPAM Cabang Air Naningan (Zona 7)
Pada Zona 7 pelayanan SPAM Unit Air Naningan saat ini hanya melayani
wilayah Kecamatan Air Naningan dengan tingkat pelayanan yang masih
sangat rendah. Saat ini pelayanan masih hanya mencakup Pekon Air
Naningan, Pekon Air Kubang dan Pekon Margomulyo.
Sumber air baku yang digunakan saat ini berasal dari mata air Way Talang
Purwadi dengan total pengambilan 20 l/dt. Pada Zona 7 ini kapasitas debit
yang ada masih mencukupi hingga 20 tahun perencanaan karena iddle
capacity masih sangat besar.
Saat ini PDAM Way Agung harus lebih fokus untuk menambah jumlah
sambungan rumah (SR) karena masih banyak pekon/desa yang belum
terlayani oleh SPAM air minum.
3.2.4 Rencana Penurunan Kebocoran Air Minum
Kehilangan air (non revenue water/NRW) adalah selisih antara jumlah air yang dipasok kedalam jaringan perpipaan dan jumlah air yang dikonsumsi.
Kehilangan air berbeda dengan kebocoran air (water leakage). Tingkat
kehilangan air adalah perbandingan antara kehilangan air dan jumlah air
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
kehilangan air = jumlah air yang dipasok − jumlah air yang dikonsumsi
tingkat kehilangan air = kehilangan air
jumlah air yang dipasok x 100%
Mengikuti pemahaman internasional, maka terdapat dua jenis kehilangan air,
yaitu:
1. Kehilangan air pada sistim distribusi/kehilangan air secara fisik.
Termasuk di dalamnya :
• kebocoran pipa, joint, fitting, kebocoran pada tangki dan reservoir,
• Air yang melipah keluar dari reservoir, dan
• open-drain atau sistem blow-offs yang tidak memadai.
Kehilangan ini disebut sebagai real losses (Thornton, dkk., 2008) atau disebut
sebagai kehilangan teknis. Kehilangan teknis difahami sebagai kehilangan
air secara fisik dari sistem yang bertekanan,sampai dengan titik meter air
pelanggan. Volume kehilangan tahunan berdasarkan semua tipe
kebocoran, pipa pecah dan limpasan tergantung pada frekuensi, debit,
dan rata-rata lamanya kebocoran individu. Dengan catatan, meskipun
kehilangan air secara fisik yang terjadi setelah meter air pelanggan adalah
tidak termasuk dalam perhitungan Kehilangan Air Teknis, namun tetap
berarti, sehingga perlu diperhatikan dalam pengelolaan kebutuhan air.
2. Kehilangan non fisikal/kehilangan non teknis.
yang berakibat kepada kehilangan penerimaan atas pengelolaan air,
termasuk di dalamnya:
• Kesalahan pembacaan dan pencatatan meter air
• Kesalahan/kelemahan pada meter produksi
• Kesalahan/kelemahan pada meter pelanggan
• Pemakaian air tanpa meteran
• Pemakaian air tidak dibayar
• Sambungan liar
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-8
Tabel 3-2Rekomendasi Internasional Water Association Untuk Istilah Kehilangan
Air
Volume input sistem
Konsumsi resmi
Konsumsi resmi berekening
Konsumsi bermeter berekening
Air
Berekening Konsumsi tak bermeter
berekening Konsumsi
resmi tak berekening
Konsumsi bermeter tak berekening
Air tak berekening Konsumsi tak bermeter
tak berekening Kehilangan
air
Kehilangan non fisik/non teknis
Konsumsi tak resmi
Ketidakakuratan meter
pelanggan dan
kesalahan penanganan data
Kehilangan fisik/non teknis
Kebocoran pada pipa transmisi dan pipa induk Kebocoran dan luapan pada tanki reservoir Kebocoran pada pipa dinas hingga pipa pelanggan
Sumber : RISPAM, Tahun 2012
NRW merupakan leveraging factor tertinggi di dalam penyelenggaraan
pelayanan air, karena memberikan kontribusi secara komprehensif. Mulai
dari kontribusi kepada pelanggan,kepada pendapatan usaha, kepada
konservasi lingkungan, hingga penerimaan publik, dan akhirnya
memberikan sebuah kinerja dari pelayanan penyediaan air yang aman
dan terjamin. Pengaruh sekuensial dari penurunan NRW dalam proses
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
Gambar 3.8NRW sebagaikey leveraging factor
Saat ini PDAM Way Guruh memiliki tingkat kehilangan air sebesar 36,16 %.
Angka ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Mengingat pentingnya
penurunan angka kehilangan air, maka PDAM Way Guruh harus mulai
melaksanakan langkah-langkah tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-10
A. Penurunan Kebocoran Teknis
Untuk dapat mengontrol dan melakukan tindakan untuk mengurangi
kehilangan air secara fisik maka diperlukan hal-hal sebagai berikut:
1. Peta jaringan perpipaan yang secara akurat memuat informasi: letak,
dimensi, jenis, tahun pemasangan, dan aksesoris yang terpasang. Akan
lebih baik bila data-data tersebut ditampilkan dalam format GIS
(SIG/Sistem Informasi Geografis) sehingga dapat dipantau, dikendalikan,
dan diperbarui setiap saat.
2. Meteran induk dan meteran di zona distribusi harus berfungsi dengan
baik
3. Peralatan deteksi kebocoran serta peralatan untuk melakukan
perbaikan harus tersedia.
4. Zona-zona distribusi/pelayanan air harus dilengkapi dengan aksesoris
untuk melakukan kontrol kehilangan air dan pelaksanaan perbaikan
5. SDM yang memiliki kemampuan berkaitan perbaikan dan pemasangan
jaringan perpipaan
6. SOP untuk O&M perpipaan
Berdasarkan pengalaman terhadap masalah kehilangan air yang dihadapi
dengan mempertimbangkan kemampuan pengelola yang dimiliki serta
pendekatan yang dianggap berhasil dilihat dari resiko pembiayaan, maka
beberapa metode penanggulangan kebocoran yang dapat diaplikasikan
adalah :
a. Pendeteksian secara langsung
b. Metode isolasi/zone observasi
c. Pemantauan wilayah/sistem distrik
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
Masing-masing metode dapat dijelaskan pada sub bab berikut ini.
1) Pendeteksian Secara Langsung
Pendeteksian kebocoran dilakukan secara langsung dengan
menggunakan detektor kebocoran. Pencarian kebocoran dengan
cara ini bersifat padat karya karena diperlukan banyak tenaga terlatih,
dimana petugas pendeteksi dibagi dalam beberapa kelompok,
masing-masing dibekali dengan peralatan yang diperlukan untuk mendeteksi
kebocoran di lapangan serta peta jaringan distribusi/peta lokasi pipa
yang ada di sektor yang harus disurvey oleh kelompok tersebut. Metode
ini menjadi cukup mahal karena banyaknya pekerja dan detektor
kebocoran yang diperlukan.
2) Metode Isolasi/Zone Observasi
Dalam cara ini ditentukan suatu area/bagian daerah pelayanan yang
diisolir dengan katup-katup penutup aliran. Untuk keperluan pengetesan
dipasang meter air pada pipa supply ke areal tersebut. Pengetesan
dilakukan pada malam hari dengan cara menutup katup-katup yang
terdapat di luar lajur pipa distribusi secara berurutan.
Penentuan lokasi kebocoran pada lajur pipa di areal yang dipantau
dilakukan secara lebih tepat dengan menggunakan detektor.
Pengetesan secara bertahap dapat pula dilakukan setelah pengetesan
menyeluruh (tanpa penutupan katup-katup secara berurutan) terhadap
jaringan di areal yang dipantau untuk mengetahui apakah di areal
tersebut terdapat jalur pipa yang mengalami kebocoran. Bila ternyata
ada kebocoran maka test dilanjutkan dengan pengetesan secara
bertahap dan deteksi lokasi dilakukan dengan menggunakan detektor.
3) Pemantauan Wilayah/Sistem Distrik
Pada metode ini daerah pelayanan dibagi dalam wilayah-wilayah
pemantauan yang relatif luas, dimana pada setiap wilayah dipasang
meter air secara permanen untuk memantau pemakaian air di wilayah
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-12
Pencatatan pemakaian air di seluruh wilayah dilakukan secara berkala,
dimana lonjakan dalam pemakaian air yang terjadi secara tidak
terduga dan yang tidak dapat dikaitkan dengan suatu kegiatan
mungkin dapat menjadi petunjuk mengenai adanya suatu kebocoran
dalam jaringan.
4) Pemantauan Langsung dari Rumah ke Rumah (House to House Survey and Rehabilitation)
Pendekatan kontrol air di lapangan dengan metode ini didasarkan
pada asumsi bahwa kehilangan air yang paling besar terjadi di bagian
sistem yang paling ujung, pada jaringan sistem yang paling kecil, yaitu
sambungan rumah.
Berdasarkan pengalaman, kerusakan dan kehilangan pada pipa-pipa
primer dan sekunder mudah diketahui dan segera dilakukan perbaikan.
Oleh karena itu penanganan langsung ditujukan pada pengamatan
dan penanganan dari rumah ke rumah. Dengan metode ini juga
langsung dapat dilakukan kalibrasi meter air yang ada pada
pelanggan.
B. Penurunan Kebocoran Non Teknis
1) Aspek Keuangan
Masalah keuangan yang harus dikaji untuk mendukung program
penekanan kebocoran/kehilangan air, antara lain adalah pendataan
terhadap pencatatan meter sampai dengan penagihan karena
kesalahan pencatatan atau asumsi pemakaian air pada pelanggan
tertentu akan memberikan dampak terjadinya akumulasi selisih volume
air. Disamping itu perlu dikaji besarnya dana untuk biaya operasi dan
pemeliharaan peralatan teknis.
2) Aspek Administrasi
Program kegiatan yang berkaitan dengan masalah administrasi adalah
mengkaji data sambungan pelanggan yang terletak di zona pilot
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
Nama dan Nomor ID pelanggan
Merek dan Type Water Meter
Tanggal pemasangan, perbaikan, dan penggantian meter
Daerah/zona pilot meter harus memiliki data /gambar/peta lokasi dan
jaringan pelanggan serta semua pelanggan harus memiliki meter air.
Program berikutnya adalah melakukan survey lapangan untuk
merecheck kondisi meter air, tipe meter, kondisi dan segel yang
terpasang. Berbagai penyimpangan terhadap kondisi tersebut harus
segera diatasi dan disesuaikan agar data yang diperoleh kelak akan
valid. Data-data sambungan pelanggan sebaiknya dibentuk dalam
format GIS sehingga dapat dipantau, diubah, diperbarui, dan diakses
setiap saat.
Tingkat akurasi pembacaan, pencatatan, dan pemasukan data meter
air pelanggan kedalam komputer juga merupakan hal yang tak kalah
pentingnya didalam upaya penurunan tingkat kebocoran. Meneliti hasil
pembacaan meter air pelanggan dan secara acak membandingkan
dengan pembacaan langsung di lapangan, merupakan metode yang
direncanakan diterapkan nantinya agar dapat diketahui tingkat akurasi
pembacaan meter air pelanggan.
Sedangkan analisis terhadap akurasi meter dapat dilakukan dengan
mengambil sampling secara acak di jaringan distribusi yang memiliki
daerah yang mempunyai tekanan rendah, tinggi dan menengah.
Meter pelanggan yang diambil kemudian dicheck akurasinya dengan
test bench yang dimiliki Dinas/Badan/Lembaga pengelola air minum.
Dari hasil akurasi meter tersebut diketahui tingkat akurasi meter
pelanggan secara umum untuk seluruh jaringan distribusi.
3) Aspek Non Teknis Lainnya
Kegiatan yang dapat direncanakan dilaksanakan terutama untuk mendukung
seluruh aspek seperti yang diuraikan di atas, yaitu mengkaji berbagai bentuk
pelanggaran yang dilakukan oleh pelanggan, seperti pemasangan meter air
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-14
yang tidak dikalibrasi dan pemasangan pipa retikulasi liar secara pintas
(tapping) jalur, atau bahkan penolakan untuk membayar tagihan. Perlu
peraturan yang jelas dan penindakan yang tegas dalam menyelesaikan
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dilapangan agar pelanggaran
tersebut tidak berkelanjutan.
3.2.5 Strategi Sanitasi Kota (SSK)
3.2.6 Kerangka Pengembangan Sanitasi Kabupaten Tanggamus
Kabupaten Tanggamus memiliki beberapa permasalahan pembangunan.
Antara lain permasalahan lingkungan serta sanitasi yang buruk. Permasalahan
tersebut tidak terlepas dari persoalan kemiskinan yang mempunyai kaitan erat
dengan persoalan sanitasi. Kemiskinan bisa menjadi penyebab buruknya akses
dan layanan sanitasi yang tidak memadai, dimana hal ini akan berdampak
buruk terhadap kondisi kesehatanan dan lingkungan yang pada gilirannya
akan berdampak pada tingkat produktifitas masyarakat. Kondisi ini menjadi
tantangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus untuk membenahi
sanitasi.
Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam
menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan
kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan
dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi seringkali dianggap sebagai urusan
“belakang”, sehingga sering termarjinalkan dari urusan-urusan yang lain,
namun seiring dengan tuntutan peningkatan standart kualitas hidup
masyarakat, semakin tingginya tingkat pencemaran lingkungan dan
keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri menjadikan sanitasi menjadi
salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan.
Salah satu aspek dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang sehat,
perlu diperhatikan masalah drainase, persampahan dan air limbah serta
perilaku Higiene. Masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan
sanitasi, yaitu air limbah, persampahan, drainase, dan perilaku higiene masih
berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing aspek tersebut ditangani secara
terpisah, meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan yaitu sanitasi,
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
sanitasi oleh institusi yang berbeda-beda, yang kadang-kadang
membingungkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan.
Apabila kualitas lingkungan terjaga dengan baik, derajat kesehatan manusia
akan meningkat pula. Oleh karena itu, Pemerintah maupun masyarakat
bertanggungjawab untuk menjaga dan mengelola lingkungannya agar tidak
membawa dampak buruk bagi penghuninya. Dampak tersebut notabene
merupakan efek samping dari aktivitas manusia sehari-hari, sehingga
permasalahan yang timbul biasanya adalah masalah sosial kesehatan
masyarakat itu sendiri.
Tabel 3-3Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Tanggamus
Visi Kabupaten
Tanggamus Misi Kabupaten Tanggamus
Visi Sanitasi Kabupaten Tanggamus
Misi Sanitasi Kabupaten
Tanggamus
“Masyarakat Tanggamus yang Sejahtera,
Agamis, Mandiri, Unggul dan Berdaya Saing Berbasiskan Ekonomi Kerakyatan”
1. Meningkatkan
pertumbuhan ekonomi
dalam rangka
menanggulangi
kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja
2. Meningkatkan akses dan pemerataan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan 3. Mempercepat
pembangunan
infrastrktur dan pengelolaan energi terbarukan.
4. Memingkatkan
ketahanan pangan melalui revitalisasi pertanian, perternakan, perkebunan,
kehutanan, kelautan dan perikanan
5. Meningkatkan
pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berbasis mitigasi bencana
6. Mengembangkan ekonomi kreatif, kebudayaan,
pariwisata dan sistem inovasi daerah
7. Meningkatkan tata kelola pemerintahan serta pemantapan
keamanan dan
“Terwujudnya Lingkungan Kabupaten Tanggamus sehat, lestari, mandiri, dan Berbasis Masyarakat tahun 2018”
Misi Air Limbah
Domestik :
Meningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan air limbah rumah tangga yang berwawasan lingkungan.
Misi Persampahan :
Meningkatkan Pengurangan
timbulan sampah semaksimal mungkin dari hulu ke hilir dengan system pemberdayaan masyarakat.
Misi Drainase :Mengurangi jumlah genangan melalui system drainase terpadu dengan kualitas dan kuantitas yang memadai.
Misi PHBS (Prilaku Hidup Bersih Sehat) :
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
3-16
Visi Kabupaten
Tanggamus Misi Kabupaten Tanggamus
Visi Sanitasi Kabupaten Tanggamus
Misi Sanitasi Kabupaten
Tanggamus
ketertiban masyarakat yang agamis
Sumber : SSK Tanggamus, Tahun 2013
3.2.7 Penetapan Strategi Pembangunan Sanitasi Kabupaten Tanggamus
A. Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengembangan Air Limbah Domestik
Dalam pengembangan sektor air limbah domestik, Kabupaten Tanggamus
memiliki tujuan yaitu meningkatkan akses terhadap Prasarana dan sarana air
limbah domestik dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
menerapkan STOP Buang Air Besar Sembarangan (BABS ) pada tahun 2018.
Untuk sasarannya adalah meningkatkan akses terhadap kepemilikan jamban
pribadi yang memenuhi persyaratan kesehatan dari 62,4% menjadi 100% dan
mengurangi praktik BABS masyarakat dari 49,9% menjadi 0% pada tahun 2018.
Sedangkan untuk strategi dalam pengembangan sektor air limbah domestik
antara lain :
1. meningkatkan cakupan layanan air limbah yang dikelola secara langsung
oleh masyarakat
2. Mendorong peningkatan perioritas pendanaan pemerintah daerah dalam
pengembangan sistem air limbah domestik
3. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dalam
bidang pengolahan air limbah
4. Penyelenggaraan sosialisasi perlunya perilaku hidup bersih dan sehat
5. Pengembangan kapasitas operasi & pemeliharaan sarana & prasarana
terbangun.
Untuk lebih jelasnya mengenai tujuan, sasaran dan strategi pengembangan air
limbah domestik kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut
Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya
Tabel 3-4 Tujuan, Sasaran, dan Tahapan Pencapaian Pengembangan Air
Limbah Domestik
TUJUAN
SASARAN
STRATEGI PERNYATAAN
SASARAN INDIKATOR SASARAN
1. Meningkatkan akses terhadap prasarana dan sarana air limbah domestic tahun BABs dari 49,9% menjadi 0% pada tahun 2018
1. Meningkatkan cakupan pelayanan air limbah yang dikelola secara langsung oleh masyarakat.
2. Fasilitasi peningkatan manajemen sistem air limbah domestik 5. Optimalisasi Peran
Media dalam
6. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dalam bidang pengolahan air limbah
7. Penyelenggaraan sosialisasi perlunya perilaku hidup bersih dan sehat.
8. Pengembangan kapasitas operasi & pemeliharaan sarana & prasarana
terbangun