• Tidak ada hasil yang ditemukan

KN PRBBK XIII Mataram NTB, September Buku Panduan Peserta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KN PRBBK XIII Mataram NTB, September Buku Panduan Peserta"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

KN PRBBK XIII

Mataram – NTB, 12-14 September 2017

Buku Panduan Peserta

“Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya

Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat

(2)

Daftar Isi

DAFTAR ISI ... 1

KATA PENGANTAR ... 5

SAMBUTAN KETUA PANITIA ... 6

SAMBUTAN SEKJEN MPBI ... 9

SAMBUTAN KEPALA BPBD NTB ... 12

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) ... 15

AGENDA KEGIATAN KN PRBBK XIII ... 26

KUNJUNGAN LAPANGAN KNPRBBK XIII ... 31

PANEL DISKUSI KN PRBBK XIII ... 36

PROFIL PENYELENGGARA ... 41

PERKUMPULAN MASYARAKAT PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA (MPBI) ... 41

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH (BPBD)NTB ... 44

PROFIL PANITIA PENGARAH ... 50

PROFIL PANITIA PENYELEKSI NASKAH ... 55

PROFIL PANITIA PENYELENGGARA ... 61

SEKILAS KOTA MATARAM ... 65

BAHASA SASAK SEHARI-HARI ... 72

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ... 77

DENAHLOKASI KONFERENSI ... 79

PENGINAPAN DI SEKITAR LPMP ... 80

(3)

2 DAFTAR ISI | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII KONTAK PANITIA ... 83 KONTAK PESERTA ... 84 DEKLARASI BANDUNG 2016 ... 91 ABSTRAK / PAPARAN ... 99 KESIAPSIAGAAN BENCANA ... 99

1. Pemodelan Pusat Informasi dan Edukasi Berbasis Teknologi yang Ramah Anak dan Orang Muda Menuju Kelurahan Tangguh Bencana di Kota Jakarta ... 99

2. Mendayagunakan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas ... 100

3. Gaya Kepemimpinan pada Organisasi Relawan Penanggulangan Bencana di Jawa Timur ... 102

4. Sikap Altruisme Relawan Penanggulangan Bencana pada Komunitas Pramuka Peduli di Maluku ... 103

5. Kesiapan dinas Kesehatan dan Kepemimpinan Bupati/ Kepala Daerah dalam Penanggulangan Bencana Pengungsi Gunung Sinabung ... 104

KEDARURATAN BENCANA ... 106

6. Refleksi Tanggap Bencana Banjir di Kabupaten Malaka 2017 Pemulihan Perikehidupan dalam Semangat Partisipatif yang Berkeadilan ... 106

7. Peran dan Pendekatan Paralegal Komunitas dalam Mendampingi Perempuan Korban Tsunami Mendapatkan Hak Kepemilikan ... 107

8. Operasionalisasi Rencana Kontinjensi Banjir Kelurahan Saat Terjadi Bencana Banjir Studi Kasus Kelurahan di DKI Jakarta ... 110

9. Erupsi Tiada Henti Gunung Sinabung: Membantu Komunitas Agar Tangguh terhadap Bencana... 111

10. Apakah Dokumen Rencana Kontinjensi Banjir Kelurahan sudah Menjadi Rujukan saat Situasi Darurat? ... 112

KETANGGUHAN MASYARAKAT ... 114

11. Ketangguhan Pulau: Membangun Ketahanan Masyarakat dan Sekolah Pesisir di Kabupaten Lembata dan Nagekeo ... 114

(4)

12. Kajian Resiliensi Wilayah Pesisir Terhadap Bencana Banjir di Desa Labuhan Jambu, Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat ... 116 13. Kajian Daya Lenting Masyarakat dalam Menghadapi Bencana

Gempabumi ditinjau dari Faktor Kapabilitas Pemerintah Daerah dan Modal Sosial (Studi Kasus Gempabumi Sumatera Barat 2009) ... 118 14. Karakteristik Tanah pada Lereng Rawan Longsor dan Mitigasi

Bencana (Studi Kasus: Bencana Longsor di Kintamani Bali) ... 119 15.Karakteristik Geologi dan Tingkat Kerawanan Bencana Longsor di

Ciptaharja, Kecamatan Cipatat dan Sekitarnya Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Longsor ... 120

KEBIJAKAN PRBAPI ... 121

16. Anggaran Desa untuk Ketangguhan Komunitas di Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara ... 121 17. Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Sebagai Aksi Nyata

Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (Presentasi Lisan) ... 123 18. Pendekatan berbasis Bentang Alam dalam Adaptasi Perubahan

Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana, Peluang dan Tantangan Penerapannya di tingkat Desa ... 125 19. Pemahaman Kebijakan Relokasi Paska Erupsi Merapi 2010: Antara

Negara dan Masyarakat ... 127

PRBINKLUSI ... 129

20. Pembelajaran Keterlibatan Komunitas difabel dalam Kebencanaan di Sukoharjo ... 129 21. Relawan Difabel Klaten Sebuah Pendekatan Pengurangan Risiko

Bencana Berbasis Komunitas ... 130 22. Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Konservasi Inklusi Kampung

Ampiang Parak (Presentasi Lisan) ... 132 23. Partisipasi disabilitas dalam Pengurangan Risiko Bencana Berbasis

Komunitas ... 135

KETANGGUHAN ANAK DAN SEKOLAH ... 137

24. Resiliensi Anak Usia 5-12 Tahun Korban Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Pos Pengungsian Batu Karang Kabupaten Karo ... 137

(5)

4 DAFTAR ISI | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

25. Menguatkan Sinergitas Sumber Daya Komunitas Sekolah dan Masyarakat Menuju Desa Tangguh Bencana: Pembelajaran dari

Aceh ... 139

26. Belajar dari pengalaman: Kegagalan mengelola sumber daya komunitas untuk wujudkan satuan pendidikan aman Bencana .... 141

27. Anak dan Kaum Muda Sahabat PRB-API ... 143

28. Pemberdayaaan Anak Sebagai Pelaku Advokasi PRB-API Melalui CDST ... 145

29. Komplikasi Sekolah Madrasah Tangguh Bencana ... 147

RANCANGAN DEKLARASI KN PRBBK XIII MATARAM ... 150

LEMBAR EVALUASI ... 158

EVALUASI HARIAN KONFERENSI ... 158

EVALUASI AKHIR KNPRBBKXIII ... 159

SIARAN PERS ... 161

(6)

Kata Pengantar

Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas ke XIII (KN PRBBK XIII) tahun ini bertema “Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”. Dari isu ini sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas menjadi isu yang dibicarakan secara terpadu. Panitia berharap kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya dapat dikurangi dan bahkan dihentikan sama sekali. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah dapat dikembalikan menjadi tata kelola bersama masyarakat.

Kegiatan persiapan konferensi sudah dilakukan segera setelah selesai KN PRBBK Ke XII di Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi NTB bersedia menjadi tuan rumah bersama kegiatan ini. Kegiatan ini melibatkan panitia yang berasal dari beragam organisasi. Peserta yang datang juga dari beragam organisasi pemerintah dan non pemerintah.

Buku panduan ini disiapkan oleh ibu Siti Istikanah untuk mendukung kegiatan KN PRBBK XIII, sehingga para peserta lebih mudah mengikuti kegiatan, memetik manfaat dan berjejaring dengan rekan-rekan pemerhati ataupun praktisi PRBBK di Indonesia. Bahan-bahan dikontribusikan oleh panitia dengan caranya masing-masing. Dalam buku panduan ini dimuat sambutan-sambutan, kerangka acuan, tata tertib, jadwal, kunjungan lapangan, panel diskusi, evaluasi harian dan evaluasi akhir, sekilas kota Mataram, bahasa Sasak sehari-hari, profil organisasi, peta lokasi, penginapan, nomor telepon darurat, Deklarasi PRBBK Bandung 2016, Abstrak, daftar kontak, dan lembar isian/catatan.

Selamat bertemu, berjejaring, berdiskusi dan menenun kerjasama mengelola tata kelola sumber daya berbasis komunitas menuju masyarakat tangguh.

H. Iskandar Leman (Ketua Panitia)

(7)

6 SAMBUTAN KETUA PANITIA | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Sambutan Ketua Panitia

Yang terhormat para peserta, serta perwakilan organisasi non pemerintah maupun instansi pemerintah.

Yang terhormat, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Wakil Masyarakat setempat.

Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas ke XIII tahun ini bertema “Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”. Dari isu ini sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas menjadi isu yang dibicarakan secara terpadu. Panitia berharap kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya dapat dikurangi dan bahkan dihentikan sama sekali. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah dapat dikembalikan menjadi tata kelola bersama masyarakat.

Kegiatan persiapan konferensi sudah dilakukan segera setelah selesai KN PRBBK Ke XII di Bandung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi NTB bersedia menjadi tuan rumah bersama kegiatan ini. Kegiatan ini melibatkan panitia yang berasal dari beragam organisasi, yaitu Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, BPBD NTB, Forum PRB NTB, Muslim Aid, KOSLATA, KONSEPSI, Humanitarian Forum Indonesia, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Universitas Manado, Perkumpulan Pikul, perorangan – Dr. Jonathan Lassa, Riyanti Djalante Ph.D, Dompet Dhuafa, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama, Pusat Studi Manajemen Bencana (Dream) UPN Veteran Yogyakarta. Kegiatan ini didukung pendanaannya oleh APBD Provinsi NTB, Islamic Relief, Catholic Relief Service (CRS), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahlatul Utama (LPBI NU), DMC Dompet Dhuafa.Ada

(8)

89 Orang peserta yang mendaftar sebagai peserta dan pemapar, dari Ujung Barat Indonesia – Banda Aceh sampai Papua. Terima kasih untuk seluruh kontribusi organisasi, instansi, dan banyak orang dengan caranya masing-masing, entah sebagai donor, penyandang dana, panitia pengarah, panitia penyeleksi abstrak dan panitia penyelenggara. Semoga Allah SWT berkenan melimpahi berkah melimpah untuk karya-karya yang mengutuhkan kita semua sebagai mahlukNYA.

Segera setelah KNPRBBK XII selesai, panitia penyelenggara menyelesaikan laporan KN PRBBK yang sudah disampaikan kepada para pihak dengan melampirkan Deklarasi Bandung 2016. Pada masa pra-konferensi, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia sudah menawarkan kegiatan pelatihan dasar dan lanjut pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas, namun terpaksa diundur, karena jumlah peminat sampai dengan batas akhir kegiatan tidak mencukupi. MPBI bersama Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial Republik Indonesia sudah lokakarya Data Dasar PRBBK; Perangkat-Indikator-Proses Pemantauan dan Evaluasi PRBBK; dan Perlindungan Pelaku PRBBK dan Kelompok Rentan Berbasis Komunitas di Jakarta, dari tanggal 28-30 Agustus 2017. Kegiatan yang pertama dihadiri 15 orang, yang kedua 27 orang, dan yang ketiga 30 orang. Selama lokakarya-lokakarya itu hadir narasumber dari Muslim Aid, Plan Internasional, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Badan Pusat Statistik, Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Wahana Visi Indonesia, dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Kabupaten Klaten yang didukung oleh Arbeiter Samaritan Bund (ASB). Revisi Panduan PRBBK sudah dilakukan oleh tim yang hasilnya disampaikan pada KNPRBBK XIII ini. Kepada para pihak yang sudah terlibat dengan caranya masing-masing, kami mengucapkan terima kasih. Sungguh merupakan penguatan bagi

(9)

8 SAMBUTAN KETUA PANITIA | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

panitia penyelenggara memperoleh rekan-rekan yang memberikan dukungannya.

Selama konferensi ini ada sambutan, suara warga masyarakat yang berbicara, kunjungan lapangan, pernyataan media, panel pleno, panel kelompok, penyusunan deklarasi 2017 dan ungkapan seni budaya setempat untuk menyatukan pengelolaan risiko bencana dengan seluruh aspek kehidupan. Semoga bersama-sama para peserta, panitia pengarah, narasumber dan panitia penyelenggara dapat mencapai tujuan konferensi , yaitu memetakan persoalan pokok, kebutuhan dan tata kelola sumber daya berbasis komunitas; menyepakati perangkat pemantauan dan evaluasi PRBBK di Indonesia dan kerangka kerja bersama PRBBK tahun 2018 dan tahun 2019.

Selamat berkonferensi. H. Iskandar Leman Ketua Panitia

(10)

Sambutan Sekjen MPBI

Yang terhormat para peserta, serta perwakilan organisasi non pemerintah maupun instansi pemerintah.

Yang terhormat, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Wakil Masyarakat setempat.

Atas nama Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), saya ucapkan selamat datang di Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (KN PRBBK) yang ke XIII.

Tiga belas tahun lalu, 41 (empat puluh satu) pemerhati PRBBK melaksanakan gagasan simposium Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) demi membangkitkan kesadaran kita untuk mendapatkan hak sebagai masyarakat yang berpartisipasi dalam penanggulangan bencana.

Kini, 14 tahun kemudian, kita kembali bertemu di konferensi. Para hadirin sekalian, penanggulangan bencana saat ini masih perlu penguatan peran-serta masyarakat didalamnya. Hanya ada 2 (dua) pasal dalam Undang Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menyebutkan peran-serta masyarakat. Tata kelola sumber daya sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Dalam kenyataan skala permasalahannya menunjukkan kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah merupakan salah satu sumber pemicu kerusakannya. Bentuk dan status penguasaan sumber daya alam dapat dibedakan menjadi 4 yaitu: milik umum (open access), milik negara (state), milik pribadi atau perorangan (private), dan milik bersama (common).

(11)

10 SAMBUTAN SEKJEN MPBI | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Menurut pandangan dunia terhadap beberapa etnis di Indonesia, tidak selamanya sumber daya milik umum tidak ada pemiliknya, sumber daya jenis ini dikuasai oleh suatu komunitas adat atau kelompok etnik. Kelembagaan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam pada berbagai komunitas bersifat sistematik dan holistik karena keberadaan manusia dipandang tidak terpisah dari alam, tetapi sebagai bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari alam. Tetapi, pengeksploitasian sumber daya alam secara berlebih bisa berujung pada terjadinya tragedi.

Ekslpoitasi sumber daya tidak hanya pada sumber daya alam saja, tetapi sejarah mencatat bahwa eksploitasi sumber daya manusia di Indonesia juga pernah terjadi, pada jaman pendudukan Jepang. Kita kenal sebagai kerja rodi. Sumber daya manusia yang terus dieksploitasi masih bisa kita amati saat ini; masih banyak saudara kita yang menjadi buruh di tanah sendiri sedangkan manajer dan pengelola perusahaannya adalah orang asing. Banyak perusahaan Indonesia yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh asing meskipun berlabelkan milik Negara.

Sebuah realita yang begitu ironis, bangsa yang dikatakan kaya tetapi menjadi buruh di negara sendiri dengan hutang mencapai triliyunan rupiah. Rakyat yang tidak tahu apa-apa harus menerima kondisi ini, sementara pihak-pihak tertentu menikmati keuntungan dari hal ini.

Eksploitasi terus menerus dalam jangka panjang pasti akan berdampak pada ekosistem, yang pada akhirnya rakyat yang akan menderita. Sudah jadi buruh, didukung pula oleh dampak negatif yang akan mengancam kehidupan mereka seperti ancaman penyakit, dll. Saat ini bukanlah saatnya mencari siapa yang bersalah akan tetapi bagaimana upaya untuk mencegah eksploitasi ini menjadi sebuah kebiasaan dan bahkan kebutuhan. Pencegahan terhadap eksploitasi ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi

(12)

masyarakat atau komunitas harus berperan untuk mendukung pemerintah melalui berbagai upaya peningkatan informasi dan pemahaman mengenai dampak negatif yang akan diterima apabila hal ini dibiarkan terus-menerus.

Tugas kita, sebagai komunitas PRBBK, adalah bagaimana mengelola sumber daya yang dimiliki melalui konferensi ini. Kita harus bekerja keras menciptakan stabilitas dan keamanan yang jadi prasyarat pembangunan bangsa. Kita juga harus pastikan samudera kita, laut kita, gunung kita, aman bagi lalu lintas perdagangan dunia, dan bermanfaat bagi kita. Ini tugas dan tantangan di hadapan kita yang harus kita rumuskan dalam konferensi nasional ini.

Melalui konferensi ini saya ingin menyampaikan keyakinan saya bahwa masyarakat akan menjadi salah satu tumpuan masa depan Indonesia.

Catur J. Sudiro

(13)

12 SAMBUTAN KEPALA BPBDNTB | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Sambutan Kepala BPBD NTB

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat para peserta, serta perwakilan organisasi non pemerintah maupun instansi pemerintah.

Yang kami hormati, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Wakil Masyarakat setempat.

Puji Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat Rahmat dan Hidayahnya kita bisa menghadiri acara

Konferensi Nasional Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat Bapak/Ibu yang kami hormati,

Seiring dengan skala dan frekuensi bencana cenderung meningkat dan oleh karenanya menimbulkan dampak dan kerusakan yang lebih besar terhadap harta benda, prasarana dan lingkungan serta struktur sosial, belum lagi dampak-dampak lain yang tidak teramati akibat bencana, yaitu munculnya kemiskinan-kemiskinan baru dampak dari bencana tersebut, faktor penyebab antara lain, diakibatkan belum masuknya penanggulangan bencana sebagai agenda pembangunan, baik oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah, sehingga kebijakan dan program pembangunan belum memperhitungkan kerentanan dan risiko terhadap bahaya dan bencana. yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan penduduk yang ada di wilayah terdampak.

Pengembangan kapasitas adalah kebutuhan pada berbagai tataran, antara lain pada tataran program, yaitu pelibatan dan penguatan kapasitas komunitas dalam mengarusutamakan penanggulangan bencana /pengurangan risiko ke dalam strategi dan program kelembagaan serta tataran penguatan kelembagaan, yaitu agar lembaga pelaku Penanggulangan Bencana mempunyai mekanisme, struktur dan sumber daya yang memadai untuk melaksanakan program yang berperspektif pengurangan risiko bencana

(14)

yang disesuaikan dengan konteks kerja serta mandat lembaga masing-masing, Hal ini juga mencakup bagaimana pada tataran penguatan kelembagaan, pelaku Penanggulangan Bencana bisa memiliki pemahaman atas pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas.

Untuk menjawab tantangan-tantangan diatas, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat sudah menyusun Rencana Kontinjensi untuk Gunung Api, Tsunami dan Banjir, disamping itu pula BPBD Prov.NTB bekerjasama dengan JICA-Jepang dalam menyusun Peta Risiko Bencana dan Rencana Penanggulangan Bencana untuk semua Hazard, meng-advokasi dan memfasilitasi peningkatan kapasitas-kapasitas pada tingkat masyarakat yang berada pada garda terdepan pada saat kejadian bencana yaitu dengan Program Pembentukan Desa Tangguh Bencana yang berasal dari BNPB, Kemensos, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten/Kota maupun dari kelompok pemerhati Lingkungan (LSM) yang sampai pada saat ini berjumlah 96 Buah kalau dihitung Per Desa Tangguh Bencana terdapat 30 orang, maka terdapat 2.880 orang relawan siap pakai, belum lagi dari PMI, kelompok perguruan tinggi, kelompok dokter, kelompok perawat, bisa berjumlah 5.000 orang Relawan, Untuk penguatan di tingkat dasar, BPBD memfasilitasi pembentukan Sekolah Aman Bencana dan akan terus bertambah sesuai kebutuhan, sedangkan untuk Hotel, kami sudah menandatangani MOU dengan PHRI tentang Semua Hotel harus mempunyai Protap dan Tim penanggulangan bencana di tempat mereka masing-masing, sehingga para tamu merasa aman dan nyaman.

Pengurangan Risko Bencana Berbasis Komunitas (KNPRRBK) XIII, adalah salah satu bentuk perhatian, betapa pentingnya Kerja Bersama dalam penanggulangan bencana di semua tataran, dan tidak kalah pentingnya adalah bagaimana BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat memperkuat diri dengan membangun jejaring di semua tingkatan baik di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, maupun Kementerian Lembaga lainnya dan tidak lain tujuannya adalah sesuai amanat dari Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bahwa Penanggulangan Bencana adalah tugas bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Lembaga Usaha dan Masyarakat.

(15)

14 SAMBUTAN KEPALA BPBDNTB | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII Semoga Acara Konferensi Nasioanal Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat ( KNPRRBBK) XIII ini membawa pencerahan dan paradigma baru dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana di Nusa Tenggara Barat

Amiiiin

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat Ttd

(16)

Kerangka Acuan Kerja (KAK)

Konferensi Nasional

Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XIII (KN PRBBK XIII)

Mataram, 12-14 September 2017 I.LATAR BELAKANG

Lebih dari 62% wilayah Indonesia memiliki risiko bencana tinggi atau 322 dari 514 kabupaten/kota; dan 34% wilayah memiliki risiko sedang atau 174 dari 514 kabupaten/kota1. Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi geografis, geologis maupun iklim Indonesia. Tiga lempeng bumi aktif yang menghimpit Indonesia menempatkan sebagian besar wilayah Indonesia secara alamiah rawan gempa, tsunami dan longsor. Indonesia menjadi bagian dari cincin api Pasifik (Pacific ring of fire), sehingga berpotensi terhadap erupsi 127 gunungapi aktif. Iklim tropis merupakan konsekwensi posisi Indonesia pada garis khatulistiwa mengakibatkan seluruh wilayah berpotensi terhadap banjir, longsor, kekeringan, angin ribut, wabah atau hama. Kondisi ini selanjutnya diperparah dengan dampak perubahan iklim, pola dan program pembangunan yang tidak berkelanjutan, semakin meningkatnya praktik-praktik ekstraksi sumber daya alam dan perkebunan yang semakin meningkatkan risiko bencana.

Pada periode tahun 2005-2015, Indonesia mengalami perubahan besar dalam penanggulangan bencana (PB). Ada undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri serta peraturan kepala badan setingkat menteri terkait penanggulangan bencana. Ada program penanggulangan bencana yang terencana di Kementerian/Lembaga, ada lembaga setingkat menteri untuk mengurus bencana, dan terbentuk forum-forum pengurangan risiko bencana di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Capaian ini membuat UN ISDR menganugerahi sebuah penghargaan tertinggi berupa Sasakawa Award

1

(17)

16 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII for Disaster Reduction dan Global Champion for DRR. Indonesia menjadi salah satu rujukan dan laboratorium dunia atas berbagai upaya PRB sebagai pengarusutamaan PB maupun pembangunan. Perubahan paradigma PRB menempatkan penanggulangan bencana lebih luas lagi sampai pada aspek-aspek yang memiliki korelasi langsung atau tidak langsung terhadap risiko bencana. Walaupun demikian diakui masih banyak hal perlu dibenahi dalam penanggulangan bencana di Indonesia, misalnya perlunya revisi UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelarasan peraturan dan perundangan terkait penanggulangan bencana, sinkronisasi program-program K/L/SKPD/Dunia Usaha dan masyarakat sipil, pengembangan kapasitas di semua tingkatan, dan koordinasi lintas bidang, program, sektor, dan wilayah.

Hal terpenting dari paradigma PRB adalah komunitas sebagai pelaku utama PB dan lingkungan bagian dari PRB. Komunitas telah menunjukkan peran dan kemampuannya dalam penanganan bencana yang lebih baik, misalnya erupsi gunung Merapi, gunung Kelud, banjir disepanjang sungai Ciliwung atau banjir bandang di Negeri Lima - Maluku Tengah. Kemampuan komunitas mengurangi risiko bencana tergantung pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola ancaman danmengurangi kerentanan meningkatkan kapasitasnya. Di Negara-negara lain pun upaya komunitas merupakan 70% dari seluruh upaya tanggap darurat, pemulihan, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

II.TEMA KONFERENSI &PERKEMBANGAN KONFERENSI

Simposium Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK, Community-based Disaster Risk Management - CBDRM) merupakan media semua untuk saling bertukar pengalaman dan pembelajaran, alat-alat serta kerangka kerja untuk membangun jaringan kerja pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas di Indonesia. Simposium yang kemudian disebut KN-PRBBK ini diprakarsa oleh kalangan organisasi masyarakat sipil pada tahun 2004.

(18)

Simposium CBDRM I pada bulan Agustus 2004 di Yogyakarta memotret berbagai kegiatan PRBBK di lapangan. Simposium CBDRM II di Jakarta menghasilkan Deklarasi Cikini dan sekaligus merumuskan metode, praktik dan kerangka kerja PRBBK. Hasil Simposium CBDRM III digunakan sebagai strategi utama dalam pengurangan risiko bencana nasional yang terangkum dalam buku panduan (Living Guidebook) CBDRM. Simposium CBDRM IV mempromosikan akuntabilitas negara terhadap Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Konferensi2 Nasional PRBBK V di Makassar mendorong pelembagaan gerakan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas sebagai gerakan bersama dengan menjadikan Konferensi Nasional PRBBK yang diselenggarakan secara rutin sebagai salah satu perangkat gerakan ini. Konferensi Nasional PRBBK VI di Jakarta memotret daerah perkotaan sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam hal pengerahan sumberdaya, terutama komunitasnya, terkait dengan Pengurangan Risiko Bencana. Konferensi Nasional PRBBK VII di Yogyakarta digunakan untuk melihat bagaimana proses pemulihan dengan menggunakan perspektif PRBBK. Konferensi Nasional PRBBK VIII dilaksanakan di Kupang NTT dengan mengangkat tema Kepemilikan, Akuntabilitas dan Ketataprajaan PRBBK. KN PRBBK IX bulan Juni tahun 2013 di Padang mendorong visibilitas perempuan dan anak perempuan dalam pembentukan komunitas tangguh bencana, termasuk di dalamnya sebagai gambaran umum atas perhatian dan fakta untuk melindungi perempuan pada sebelum-saat-setelah bencana. Mengangkat pemahaman atas keadilan gender dan inklusifitas gerakan PRBBK dengan tidak selalu menempatkan Perempuan dan Anak Perempuan sebagai objek yang membutuhkan pertolongan. KN PRBBK X di Bengkulu pada bulan Oktober mengangkat tema “Ketangguhan Masyarakat Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Terhadap Bencana dan Perubahan Iklim”. Pemilihan bulan Oktober sebagai bulan PRB juga telah dijadikan agenda rutin oleh BNPB dan BPBD seluruh Indonesia merupakan salah satu upaya proses dan hasil konferensi dapat langsung diangkat pada pertemuan nasional yang dikuti oleh

2

Kata simposium diubah menjadi konferensi, karena dianggap waktu untuk menabur dan menyemai isu PRBBK sudah memadai.Kata konferensi dianggap lebih mewakili situasi dan kondisi per-PRBBK-an di Indonesia.

(19)

18 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII para pihak oleh penyelenggara Negara. Tema integrasi API dalam PRB serta isu kepulauan kecil menjadi sangat krusial untuk menjadi pertimbangan dalam PB. Tahun 2015 KN PRBBK XI mengangkat tema “Membangun Ketangguhan Komunitas dalam Mereduksi Bencana Lingkungan dan Industri” telah menjadi media untuk memperkuat gerakan pengurangan risiko bencana secara komprehensif dan sistematis dengan didukung oleh suatu komitmen yang kuat dari semua pihak (stakeholders).Tahun 2016 KN PRBBK XII mengangkat tema “Perlindungan sebagai Upaya Memastikan Ketangguhan Komunitas”. Tema ini diharapkan dapat menggarap beragam isu perlindungan, dari perlindungan ekosistem, perlindungan sarana dan prasarana vital, perlindungan sumber produksi dan pasar lokal, dan perlindungan kelompok rentan, termasuk isu-isu perlindungan anak.

Tahun 2017 KN PRBBK XIII mengangkat tema “Menguatkan Tata Kelola

Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh

Bencana” . Isu ini sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Dalam kenyataan skala permasalahannya menunjukkan kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah merupakan salah satu sumber pemicu kerusakannya.

III.TUJUAN DAN SASARAN KONFERENSI NASIONAL PRBBKXIII

Tujuan KN PRBBK XIII ini adalah sebagai wahana memantau, memperkuat dan memperluas gerakan pengurangan risiko bencana di Indonesia yang komprehensif. Isu penguatan tata kelola sumber daya sebagai komponen pengurangan risiko bencana perlu diposisikan lebih proporsional dalam PRB di Indonesia, agar manajemen risiko bencana lebih mampu memenuhi keseimbangan sosial, budaya, politik dan ekosistem dalam mewujudkan ketangguhan komunitas secara hakiki sebagai bagian hidup berkelanjutan. Berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui proses dialogis diharapkan mampu menjembatani berbagai kesenjangan dalam upaya PRBBK sekaligus mampu menyuarakan berbagai gagasan dan dukungan yang diperlukan dalam

(20)

memperkuat perwujudan manusia yang bermartabat sebagai tujuan akhir dari PRBBK.

Capaian yang diharapkan di akhir konferensi:

 Terpetakannya berbagai permasalahan pokok, kebutuhan, dan tata kelola sumber daya berbasis komunitas;

 Disepakatinya perangkat pemantauan dan evaluasi PRBBKdi Indonesia;

 Adanya kerangka kerja bersama untuk mencapai capaian PRBBK tahun 2018 dan tahun 2019 seperti termaktub dalam deklarasi Bandung (2016).

IV.TEMPAT DAN WAKTU KONFERENSI NASIONAL PRBBKXIII

Sebelum konferensi dilakukan beragam kegiatan persiapan berupa seminar, diskusi, tour, lokakarya dan pelatihan di berbagai tempat. Bahkan dianjurkan pelaksanaan konferensi tingkat kabupaten dan provinsi mendahului pelaksanaan KN PRBBK XIII.

Kegiatan Waktu Tempat

Lokakarya Perangkat, Indikator, dan Proses Pemantauan dan Evaluasi PRBBK

28 Agustus 2017

Jakarta Lokakarya Data Dasar PRBBK di Indonesia 29 Agustus

2017

Jakarta Advokasi nomenklatur PRBBK dalam APBD

dan APBDDes

Juli-Agustus 2017

Jakarta Lokakarya Perlindungan Pelaku PRBBK dan

Kelompok Rentan

30 Agustus 2017

Jakarta Lokakarya Pemutakhiran Panduan PRBBK

Edisi 2011

Juli-Agustus 2017

Jakarta

Pelatihan Dasar PRBBK September

20173

Jakarta

Pelatihan Lanjut PRBBK September Jakarta

3

Direncanakan tanggal 14-18 Agustus 2017, namun jumlah peserta tidak memenuhi batas minimum, sehingga diundur bulan September 2017

(21)

20 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII 2017

KN PRBBK XIII akan dilaksanakan selama 3 hari mulai hari Selasa tanggal 12 September 2017 sampai dengan hari Kamis tanggal 14 September 2017. Bertempat di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jl. Panji Tilar Negara No. 6, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat

V.KEPANITIAAN KONFERENSI NASIONAL PRBBKXIII Panitia Penyelenggara:

MPBI sebagai pemegang mandat KN PRBBK XII membentuk penyelenggara/kepanitiaan bersama dengan pemerintahan maupun Ornop atau Organisasi kemasyarakatan baik di tingkat Nasional maupun di wilayah Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pengurus Besar Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nadhlatul Ulama, Islamic Relief, Muslim Aid, Dompet Dhuafa, Catholic Relief Service (CRS), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Sosial Republik Indonesia, Forum Pengurangan Risiko Bencana Nusa Tenggara Barat, KONSEPSI, KOSLATA, Suara NTB, Humanitarian Forum Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Pengurus IABI Pusat. Struktur Penyelenggara KN PRBBK XIII sebagai berikut:

Kepanitian terdiri dari:

MPBI, Forum PRB Provinsi Nusa Tenggara Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Rekan-rekan organisasi yang terkait dan peduli terhadap isu perlindungan dan kebencanaan, khususnya di wilayah Mataram dan sekitarnya.

(22)

Panitia Pengarah / Steering Committee (SC)

Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno M.Eng (Ketua Prodi Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta)

Ir. H. Mohammad Rum MT (Kepala BPBD NTB) Kristanto Sinandang M. Si (Presidium MPBI) Ir. Siti Agustini M. Sc (Pengurus IABI Pusat)

Surya Rahman Muhammad S. Psi (Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia)

M. Ali Yusuf (Ketua PB Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama)

Syamsul Ardiansyah S.S (Direktur DMC Dompet Dhuafa) Rahmat Sabani (Ketua Forum PRB NTB)

Panitia Seleksi Naskah

Dr. Jonatan Lassa, (Senior Lecturer Charles Darwin University, Darwin, Australia)

Ir. Avianto Amri MA, Ph.D Candidate (Sekretaris Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Jakarta)

Dicky Pelupessy, Ph.D (Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok)

H. Dwi Vidiarina S.Th. (Presidium Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Jakarta)

Mercy Rampengan Ph.D(Dosen Universitas Negeri Manado, Manado) Ir. Riyanti Djalante M.Sc., Ph.D (Pendidik dan Peneliti di Advance Study of Sustainability United Nations University, Berlin)

Silvia FanggidaE, M.Sc. (Direktur Perkumpulan PIKUL, Kupang)

Panitia Penyelenggara / Organizing Committee (OC)

Ketua H. Iskandar Leman MPBI

Wakil Ketua 1 H. Arifuddin BPBD NTB

Bendahara & Keuangan Siti Istikanah MPBI

(23)

22 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII Hieronymus Kopong Bali MPBI

Sekretaris H. Ridho Ahyana BPBD NTB

Administrasi – kesekretariatan –

Herdianty M.G. Prajitno MPBI Aini Kurniawati Muslim Aid Zurhan Afriadi S Pd KOSLATA

Ramli SPd KOSLATA

Acara: Seminar, Diskusi terarah, Workshop dan pameran

Dewi Andaruni Andy Wahyu Widayat

MPBI Praktisi PB Dear Nugra Bestari

Sinandang

MPBI

Mohammad Taqiuddin KONSEPSI NTB Drs. RujitoMartowiyono KOSLATA Ahmad Junaidi SH KOSLATA Rama Aditya Rahim Muslim Aid Baiq Tutik Yuliana Muslim Aid Bagian Perlengkapan,

Akomodasi dan Transportasi

Bambang Sasongko Mulya Disurya

MPBI MPBI

Humas - media Raka Akriyani Suara NTB

M. Amin Sunarhadi S.Si, MP MPBI/FKIP Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta Sekretariat Penyelenggara:

Jakarta: Sekretariat MPBI, Jl. Kalasan No. 45B, Kel. Pegangsaan, Kec. Menteng, Jakarta 10320, E-mail: [email protected]

Mataram: BPBD Prov. NTB, jl. Dr. Sujono, Lingkar Selatan, Kota Mataram

(24)

VI.PESERTA &NARASUMBER KONFERENSI NASIONAL PRBBKXII Peserta Konferensi

KNPRBBK XIII mensasar 150 orang peminat, pemerhati, praktisi, perekayasa, peneliti dan artis pengurangan risiko bencana berbasis komunitas yang bekerja secara bebas merdeka secara perorangan, di lembaga pemerintahan, di lembaga non-pemerintah, di Dunia Usaha, lembaga pendidikan, Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi keagamaan, atau lembaga pendanaan.

Narasumber dan Fasilitator Konferensi

Narasumber; pembicara kunci maupun pembicara dan fasilitator terdiri dari perwakilan masyarakat, pemerintah nasional, praktisi PRB, akademisi dan organisasi masyarakat sipil. Peran masing-masing terbagi dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi bagian dari agenda KN PRBBK, baik seminar, diskusi tematik, lokakarya, maupun kunjungan lapangan dan perumusan.

VII.PENGUMPULAN ABSTRAK

Pengumpulan abstrak diselenggarakan dari bulan Juli 2017- 7 Agustus 2017. Panitia seleksi naskah akan menyampaikan hasil pilihan abstrak pada tanggal 14 Agustus 2017. Naskah lengkap disampaikan kepada Panitia Penyelenggara selambatnya 16 Agustus 2017. Kumpulan naskah akan disatukan menjadi Prosiding yang disampaikan pada saat penyelenggaraan KN PRBBK XIII.

VIII.JADWAL KEGIATAN KNPRBBKXII

Secara umum, jadwal kegiatan dan proses kegiatan KN PRBBK disusun dalam sebuah alur deduktif. Artinya proses di mulai dari hal umum ke hal khusus. Kegiatan dimulai dengan yang bersifat umum dilakukan melalui seminar denganTopik ““Memperkuat Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”.Hasil seminar selanjutnya didialogkan melalui diskusi tematik. Peserta seminar dibagi dalam kelompok untuk membahas tema-tema yang

(25)

24 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII lebih khusus. Setelah hari pertama, ada diskusi/panel diskusi menggunakan tema-tema seputar penguatan tata kelola sumber daya berbasis komunitas.

IX. Sumberdaya dan Keuangan KN PRBBK XIII

Pembiayaan kegiatan ini berasal dari kontribusi peserta, dan dukungan dari beberapa lembaga/organisasi Pemerintah dan Non-Pemerintah. Masing-masing peserta berkontribusi menanggung biaya kepesertaan. Biaya kepesertaan meliputi dan tidak terbatas pada materi konferensi, sewa ruangan beserta fasilitas pendukungnya, makan dan minum selama jam konferensi berlangsung.

Panitia Penyelenggara TIDAK menanggung biaya transport, akomodasi, maupun komunikasi bagi peserta kegiatan KN PRBBK XIII.

Anggaran biaya sebesar Rp.591.360.000,- dibuat berdasarkan pembelajaran pelaksanaan KNPRBBK XII Tahun 2016 dengan penyesuaian seperlunya. Rincian anggaran dapat dilampirkan jika diperlukan.

Sumber pendanaan:

Kontribusi peserta (perkiraan sementara, tanpa penginapan) Peserta luar kota Rp 1.000.000

Peserta kota Mataram Rp 300.000 (dengan bukti KTP dan tidak menginap)

Mahasiswa / pelajar Rp.100.000 (tidak menginap) Sponsor/donatur

Sisa dana penyelenggaraan KN PRBBK XII

X.MONITORING,EVALUASI DAN PEMBELAJARAN KNPRBBKXIII

Monitoring persiapan pelaksanaan dilakukan secara virtual dan temu muka, melalui surat menyurat elektronik, WhatsApp, dan rapat-rapat persiapan. Pada akhir KNPRBBK XIII peserta akan diminta menulis evaluasi tertulis mencakup pencapaian sasaranKN PRBBK XIII, harapan peserta, mutu fasilitasi, fasilitas KN PRBBK, pembelajaran, informasi pra-selama KN PRBBK.

(26)

XI.TINDAK LANJUT

Panitia penyelenggara dalam jangka 4 minggu akan menyelesaikan laporan penyelenggaraan KN PRBBK dan menyampaikan laporan ini kepada para penderma, peserta dan para pihak terkait, lalu menerbitkan prosiding dalam bentuk tercetak dan elektronik.

XII.RUJUKAN

Panitia Penyelenggara (2016): Laporan Penyelenggaraan KN PRBBK XII, disirkulasikan kepada para pihak.

(27)

26 AGENDA KEGIATAN KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Agenda Kegiatan KN PRBBK XIII

Selasa, 12 September 2017

Jam Kegiatan Hasil capaian

08:00-09:00 Pendaftaran Ulang 09:00-10:00 Pembukaan dan Sambutan

 Doa Pembukaan

 Lagu “Indonesia Raya”

 Laporan Ketua Panitia

 Suara Warga Masyarakat NTB – “Kearifan Lokal Mengelola Sumberdaya Alam”

 Sambutan dan Pembukaan secara resmi KNPRBBK XIII oleh Gubernur NTB

Pembukaan Pengarahan

10:00-10:30 Rehat/ Konferensi Pers – Panitia Pengarah + Gubernur + Kepala BPBD + Wakil

Masyarakat NTB + MPBI

Siaran pers tersebar

10:30-12:00 Pembelajaran dari Penguatan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas:

BNPB, BAPPENAS, ESDM – EBTKE, KLHK, KKP Moderator : Ibu Ir. Siti Agustini M.Sc (Pengurus IABI Pusat)

Pembelajaran Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas 12:00-13:00 Makan siang 13:00-18.00 Ku n ju n gan L ap an gan (K L) (1) Kun ju n gan L ap an gan Kl (2) Kun ju n gan L ap an gan KL (3) Ku n ju n gan L ap an gan KL (4) Ku n ju n gan L ap an gan KL (5) Belajar dari lapangan: 1.Kondisi, Permasalahan, kemampuan, peluang 2.Praktik baik 3.Rekomendasi 18:00-19:30 Makan malam

19:30-21:00 Ekspresi Budaya Lestari Sumberdaya

Rabu, 13 September 2017

Jam Kegiatan Hasil capaian

(28)

Jam Kegiatan Hasil capaian Ibu Ir. Siti Agustini M.Sc (Pengurus IABI Pusat)

08:30-10:00 FGD 1:Hasil KL F: Bpk. Rujito Martowiyono (Koslata FGD 2: Hasil KL F: Bpk. Mohammad Taqiudin (Konsepsi NTB) FGD 3: Hasil KL F: Ibu Baiq Tuti Yuliana (Muslim Aid) 1. Peta PRBBK: pelaku, capaian, masalah 2. Praktik baik 3. Rekomendasi 10:00-10:30 Rehat 10:30-12:00 Pan e l 1: Dat a Das ar d an In d ika to r Komun ita s Tan ggu h F: Bp k. Su ry a Rah m an M u h amm ad S.Ps i (H FI Pan e l 2: P erl in d u n gan P elak u & Ke lomp o k R en ta n P RBB K F: Bp k. Sy ams u l Ard ian sy ah (D o m p et Dh u afa) Pan e l 3: Ad vo ka si, Pem b elaj ar an Ke b ija ka n P RBB K d i In d o n es ia F: Bp k. M. Ali Y u su f (LP BI N U ) Pan e l 4: Pend an aa n , p em an gku Ke p en tin gan , Bu d ge t & E valu asi F: Bp k. Rah m at Sa b an i (F PRB N TB) 1.Kondisi, capaian, permasalahan, kemampuan, peluang 2.Praktik baik 3.Rekomendasi 12:00-13:00 Makan siang 13:00 – 15:00 Pan e l 5 : Ke siap sia gaa n Benca n a F : Bp k. Rama Ad ity a ( Mu sli m Aid ) Pan e l 6 : Ke d ar u ra ta n Benca n a F : Ib u Ir . Siti Agu stin i M. Sc (Pe n gu ru s IABI P u sat ) Pan e l 7 : Ke ta n ggu h an M asya ra ka t; Pa n el 9: Ke b ija ka n AP I PRB, P an el 10: PRB In klu sif F : Bp k. Dr. Ir. Eko Te gu h P ar ip u rn o M .Si (U PN Vet era n Yogy ak ar ta ) Pan e l 8 : Ke ta n ggu h an An ak d an Se ko lah F: Bp k. An d y W ah yu W id ay at 1. Kondisi, capaian, permasalahan, kemampuan, peluang 2.Praktik baik 3.Rekomendasi 15:00-16:00 Rehat

16:00 – 17.30 Panel : Laporan Ringkas tiap FGD & Panel 1. Kondisi, capaian, permasalahan,

(29)

28 AGENDA KEGIATAN KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Jam Kegiatan Hasil capaian

Fasilitator : Bpk. Catur J. Sudiro, MBA (Sekjen MPBI) kemampuan, peluang 2. Praktik baik 3. Rekomendasi 17:30-19:30 Makan malam 19:30-22:00 Rancangan Deklarasi oleh tim perumus F: Bpk. Syamsul Ardiansyah (DD); Bpk. Ali Yusuf (LPBI NU); Bpk. Andy Widayat Mengulas “Living Document – Buku Panduan PRBBK Edisi 2014” Narasumber : Bpk. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M. Eng (UPN Veteran Yogyakarta) 1.Road map/peta jalan (rencana tindak lanjut) 2.Rekomendasi 3.Deklarasi Kamis, 14 September 2017

Jam Kegiatan Hasil capaian

08:00-08:30 Review hari 2 - oleh Bpk. Syamsul Ardiansyah

(Dompet Dhuafa) Ulasan, Arah Hari ke-3 08:30-10:00 Pleno: Kesepakatan Deklarasi KN PRBBK XIII

F: Bpk. Surya Rahman Muhammad (HFI)

Pleno

10:00-10:30 Rehat

10:30-12:00 Pleno: Deklarasi KN PRBBK XIII

Evaluasi KN PRBBK XIII – Kepala BPBD NTB Penutupan KN PRBBK XIII

Penutupan

12:00-13:00 Makan siang, Pembagian sertifikat peserta. Peserta pulang

Sertifikat dibagikan

13:00-19:00 Kegiatan pilihan “Wisata Mataram” Kekerabatan diperkuat 19:00-20:00 Panitia Penyelenggara makan bersama

20:00-21:30 Rapat Panitia Evaluasi dan rancangan laporan

Keterangan :

KL: Kunjungan Lapangan F: Fasilitator

(30)

Tata Tertib Konferensi

Registrasi ulang:

Peserta diwajibkan untuk melakukan Registrasi Ulang. Registrasi dibuka pada tanggal 12 September 2017 mulai pukul 07.00 WIB di ruang pendaftaran bertempat di Lobby Aula LPMP NTB, Jl. Jl. Panji Tilar Negara No. 8 Mataram 83114. Nomor Telp. 0370-631088

Bahasa :

 Konferensi diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia

Kewajiban :

 Peserta wajib mengikuti Konferensi dari awal hingga akhir acara mulai tanggal 12 – 14 September 2017 jam 08.00 s/d 22.00 WIB

 Peserta wajib mengenakan atribut/tanda pengenal (nametag) selamakonferensi berlangsung.

 Peserta wajib menjaga hubungan baik dengan lingkungan, petugas dan masyarakat sekitar.

 Peserta wajib menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan menjaga bebas asap rokok dalam ruang pertemuan.

 Peserta wajib menjaga kesehatan masing-masing.

 Peserta wajib menjaga keamanan barang-barang pribadinya.

 Peserta wajib menghormati kebiasaan dan nilai-nilai yang dijunjung penduduk setempat (kata-kata, cara berpakaian, merokok)

 Peserta wajib menghentikan kegiatan lainnya selama mengikuti proses konferensi (menelepon, menggunakan komputer)

Hak Peserta :

 Mendapatkan seluruh materi dan kit konferensi

 Mendapatkan sertifikat hanya untuk yang mengikuti konferensi secara penuh (selama 3 hari)

(31)

30 AGENDA KEGIATAN KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII Yang tidak ditanggung :

 Akomodasi

 Biaya Transportasi tidak ditanggung panitia

 Biaya lain (laundry, komunikasi & makanan diluar yg panitia) tidak ditanggung panitia

 Uang saku/perdiem tidak ditanggung oleh panitia.

 Pakaian :Rapi dan santai

SARAN & CATATAN PANITIA: Saran :

 Peserta disarankan untuk membawa:

1. Perlengkapan mandi (handuk, sabun mandi, odol, dan lainnya) 2. Obat-obatan pribadi

3. Pakaian lapangan untuk kunjungan lapangan 4. Topi, payung atau jas hujan

 Bagi peserta yang memiliki keahlian medis, diharapkan

(32)

31 K L KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK

Kunjungan Lapangan KNPRBBK XIII

Mataram, 12 September 2017 1. Latar belakang

Tahun 2017 KN PRBBK XIII mengangkat tema “Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”. Isu ini sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Dalam kenyataan skala permasalahannya menunjukkan kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah merupakan salah satu sumber pemicu kerusakannya.

Kegiatan kunjungan lapangan selama KN PRBBK XIII dilakukan pada hari 1 kegiatan, agar memberi kesempatan para peserta mereguk pengalaman lapangan dan membawanya kembali ke ruang konferensi. Di ruang konferensi pembelajaran itu diperbincangkan dan diusulkan agar dapat direplikasi oleh para peserta di lebih banyak tempat. Belajar dari lapangan merupakan kegiatan orang dewasa, belajar dari bukti yang sudah ada, baik itu praktik baik pun praktik buruk, agar dapat diperluas.

2. Keluaran kunjungan lapangan

Pada akhir kunjungan lapangan, para peserta sudah:

1. Memetakan permasalahan pokok, kebutuhan dan tata kelola sumber daya berbasis komunitas;

2. Memahami perangkat pemantauan dan evaluasi PRBBK yang ada; 3. Mengetahui capaian PRBBK yang perlu dicapai pada tahun 2018

dan 2019 di Indonesia 3. Bentuk Kegiatan

Kunjungan, pengamatan, rekaman audiovisual, wawancara, dan diskusi pleno terfokus. Para peserta dianjurkan melakukan rekaman audiovisual selama kunjungan lapangan untuk dijadikan bahan bagi pengalaman dalam kelompok.

(33)

32 KUNJUNGAN LAPANGAN KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Tiap kelompok memilih:

 Ketua :  Juru bicara:  Juru catat:  Kelompok-kelompok Kecil: Misalnya: Kelompok 1 Kelompok 1-1 Kelompok 1-2 Kelompok 1-3 Kelompok 1-3 Ketua Juru bicara Juru catat

Tiap kelompok kecil membuat catatan ringkas kunjungan lapangan untuk disatukan pada kelompok besarnya. Kelompok besar akan melaporkan secara singkat dalam rangkuman hari 1/ulasan hari 1.

4. Peserta

Jumlah peserta dibatasi maksimal 25-40 orang tiap lokasi kunjungan.

5.

Waktu kunjungan lapangan

Kunjungan lapangan dilakukan pada hari Selasa, 12 Agustus 2017, jam 13:01-17:30 WITA (termasuk perjalanan)

6.

Jadwal kunjungan lapangan

Jam Kegiatan Keterangan 13:00-13:30 Berangkat ke

lokasi kunjungan lapangan

 Pemilihan Ketua Kelompok, Juru Bicara, Juru Catat Kelompok dilakukan selama perjalanan.

 Pembagian kelompok kecil dalam kelompok besar dilakukan oleh Ketua Kelompok.

 Kelompok kecil memilih ketua, juru bicara, juru catat kelompok.

(34)

33 K L KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK 13:30-14:30 Kelompok-kelompok kecil melakukan pengamatan dan wawancara

Kelompok kecil sudah berbagi tugas untuk mewawancarai.

14:30-15:30 Diskusi Pleno Terfokus

Seluruh kelompok kecil berkumpul. Pertemuan dipimpin Ketua Kelompok “Besar”. Juru bicara dan juru catat kelompok besar berfungsi selama pertemuan ini. Diskusi terfokus pada pertanyaan kunci.

15:30-16:00 Perjalanan menuju ke lokasi

Konferensi

Kelompok kecil merumuskan capaian pembelajarannya selama kunjungan lapangan

16:00-16:30 Sharing dalam kelompok “besar”

Juru bicara kelompok “kecil” menyampaikan ringkasan pembelajaran kelompoknya selama kunjungan (pakai format)

16:30-17:00 Sharing Pleno Juru bicara kelompok “besar” menyampaikan ringkasan pembelajaran selama kunjungan lapangan (pakai format)

8. Pertanyaan kunci selama kunjungan lapangan

1. Apa latarbelakang kegiatan? Kejadian bencana? Permasalahan? 2. Apa tujuan, sasaran, strategi dan kegiatan yang dilakukan? 3. Darimana asal, besar dan kualifikasi sumber daya yang

digunakan? Orang? Dana? Metoda? Fasilitas? Alat-peralatan? (keterlibatan “orang luar”? masyarakat?

4. Apa yang berhasil dicapai? (kebijakan, manajemen, infrastruktur, tenaga pendamping, pengorganisasian komunitas, praktik, program, pendanaan, kurikulum, kinerja, prosedur, rencana)

5. Apa yang belum berhasil dicapai? 6. Apa yang sudah direncanakan? 7. Apa dukungan yang diperlukan?

(35)

34 KUNJUNGAN LAPANGAN KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

9. Format pelaporan (untuk kelompok kecil, kelompok besar, pleno)

Kelompok Pelaku Kunjungan Lapangan

1. Ketua : 2. Juru Bicara : 3. Juru Catat : 4. Kelompok-kelompok Kecil: Kelompok 1 2 3 4 Ketua Juru Bicara Juru Catat

10. Lokasi Kunjungan Lapangan:

Nama lembaga :

Alamat :

Penghubung :

E-mail :

HP :

11. Yang berhasil ditemui: (daftar nama, jenis kelamin, usia, jabatan/peran)

No. Nama Jenis

Kelamin Usia Jabatan/peran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

12. Catatan ringkas kunjungan lapangan: 1) Latarbelakang kegiatan:

(36)

35 K L KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK 3) Permasalahan:

4) Tujuan, sasaran, strategi dan kegiatan yang dilakukan: 5) Asal, besar dan kualifikasi sumber daya yang digunakan:

a. Orang: b. Dana: c. Metoda: d. Fasilitas: e. Alat-peralatan:

f. Keterlibatan “orang luar”: g. Masyarakat

6) Yang berhasil dicapai: a. Kebijakan: b. Manajemen: c. Infrastruktur d. Pendamping lokal e. Komunitas terorganisir f. Praktik: g. Program: h. Pendanaan i. Kurikulum: j. Kinerja: k. Prosedur: l. Rencana:

7) Yang belum berhasil dicapai: 8) Yang sudah direncanakan:

(37)

36 PANEL DISKUSI KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

Panel Diskusi KN PRBBK XIII

Mataram, 12-14 September 2017 1. Latar belakang

Tahun 2017 KN PRBBK XIII mengangkat tema “Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”. Isu ini sudah sering dibicarakan secara terpisah dari pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Dalam kenyataan skala permasalahannya menunjukkan kerusakan sumber daya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tata kelola sumber daya yang masih berpusat pada pemerintah merupakan salah satu sumber pemicu kerusakannya.

Panel diskusi selama KN PRBBK XIII dilakukan pada hari 1 dan 2 kegiatan. Dalam panel ada lebih dari 1 narasumber sebagai pemantik diskusi. Pada hari 1 ada panel pleno yang menghadirkan pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Pada hari ke-2, ada diskusi kelompok terfokus untuk mengkristalkan pengalaman kunjungan lapangan, 10 panel diskusi dan rancangan deklarasi.

2. Keluaran panel diskusi

Pada akhir panel, para peserta sudah:

1. Memetakan permasalahan pokok, kebutuhan dan tata kelola sumber daya berbasis komunitas;

2. Menyepakati data dasar, perangkat – indikator- proses pemantauan dan evaluasi PRBBK;

3. Menyepakati panduan perlindungan pelaku PRBBK dan kelompok rentan berbasis komunitas;

4. Mengetahui capaian PRBBK yang perlu dicapai pada tahun 2018 dan 2019 di Indonesia; dan

5. Menyampaikan rancangan deklarasi PRBBK Mataram 2017.

3. Bentuk Kegiatan

Paparan dan diskusi pleno. Bila fasilitator dapat mengatur waktu, juga dapat diadakan diskusi kelompok kecil.

(38)

Tiap kelompok memilih:

 Ketua:

 Juru bicara:

 Juru catat:

Tiap kelompok dan moderator/fasilitator membuat catatan ringkas panel untuk disatukan dan disampaikan pada rangkuman harian/ulasan harian.

4. Peserta

Jumlah peserta dibatasi maksimal 30-40 orang tiap panel, kecuali panel pleno.

5. Topik, waktu dan tempat panel

Topik panel dan waktunya

Topic Waktu Tempat

1. Pembelajaran dari Penguatan Tata kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Selasa, 12 September 2017, jam 10:30-12:00 Aula 2. Pembelajaran dari Lapangan (sesuai jumlah kelompok KL)

Rabu, 13

September 2017, jam 08:30-10:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 3. Panel 1: Data dasar dan

indikator komunitas tangguh

Rabu, 13

September 2017, jam 10:30-12:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 4. Panel 2: Perlindungan

Pelaku & Kelompok Rentan PRBBK

Rabu, 13

September 2017, jam 10:30-12:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 5. Panel 3: Pembelajaran Kebijakan PRBBK di Indonesia Rabu, 13 September 2017, jam 10:30-12:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 6. Panel 4: Pendanaan,

pemangku Kepentingan, Budget & Evaluasi

Rabu, 13

September 2017, jam 10:30-12:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 7. Panel 5: Kesiapsiagaan Rabu, 13 Ruang kelas (akan

(39)

38 PANEL DISKUSI KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII Bencana September 2017, jam 13:00-15:00 diinformasikan) 8. Panel 6: Kedaruratan Bencana Rabu, 13 September 2017, jam 13:00-15:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 9. Panel 7: Ketangguhan Masyarakat, Kebijakan API-PRB , PRB Inklusif Rabu, 13 September 2017, jam 13:00-15:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 10. Panel 8: Ketangguhan

Anak dan Sekolah

Rabu, 13

September 2017, jam 16:00-17:30

Ruang kelas (akan diinformasikan) 11. Rancangan Deklarasi (3 kelompok) Rabu, 13 September 2017, jam 19:30-21:00

Ruang kelas (akan diinformasikan) 12. Mengulas “Living

Document Buku Panduan PRBBK Edisi 2014”

Rabu, 13

September 2017, jam 19:30-21:00

Ruang kelas (akan diinformasikan)

13. Pleno Hari 2 Rabu, 13

September 2017, jam 21:00-22:00 Aula 14. (tim perumus menyatukan hasil kelompok) Rabu, 13 September 2017, jam 22:00-selesai

Aula/ ruang kelas

15. Pleno – Kesepakatan Deklarasi Kamis, 14 September 2017, jam 08:30-10:00 Aula 16. Pleno – Deklarasi KN PRBBK XIII Kamis, 14 September 2017, 10:30-12:00 Aula

6. Peran dan langkah fasilitator/moderator

Selama panel, pleno dan kelompok, fasilitator/moderator berperan: 1. Memberikan arah kegiatan (tujuan, capaian yang ingin dicapai) 2. Menciptakan kondisi kondusif untuk berdiskusi secara setara

(40)

3. Mengingatkan pemapar agar focus pada inti/pesan kunci yang ingin disampaikan, membatasi curahan hati (curhat) atau curcol (curah colongan) pada sesi.

4. Mengatur dan mengelola waktu, agar tepat tepat waktu 5. Melancarkan proses Tanya jawab

6. Memberikan rangkuman yang mengarahkan pada permasalahan, kebutuhan, dan kesepakatan

7.

Langkah umum fasilitator/moderator:

Langkah umum fasilitator/moderator:

1. Menyampaikan salam

2. Menjelaskan judul dan sasaran yang ingin dicapai 3. Mengenalkan panelis

4. Mengajak peserta untuk saling memperkenalkan dirinya (dalam panel kelompok)

5. Mengingatkan panelis mengenai waktu paparan (7 – tujuh menit). Untuk pemapar poster diberikan waktu 2 (dua) menit untuk menjelaskan pesan intinya/pesan kunci.

6. Mengatur proses Tanya-jawab – termin (umumnya 3-5 penanya, lalu dijawab). Bila waktu memungkinkan dibuka 2-3 termin/waktu Tanya-jawab

7. Mengingatkan penanya untuk menyebutkan nama, organisasi, dan siapa yang ditanya/dikomentari serta menyampaikannya secara ringkas. Mengingatkan juga apakah ini pertanyaan atau komentar. Bila perlu peserta diminta menuliskan pertanyaan/komentarnya untuk disampaikan kepada pemapar.

8. Membuat ringkasan dan menyampaikannya kepada para peserta secara lisan, secara tertulis disampaikan kepada sekretariat.

8.

Pertanyaan kunci selama panel

1. Apakah permasalahan terkait tata kelola sumber daya berbasis komunitas?

2. Apakah kebutuhan tata kelola sumber daya berbasis komunitas?

(41)

40 PANEL DISKUSI KNPRBBKXIII | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII 3. Apakah rencana bersama terkait tata kelola sumber daya

berbasis komunitas yang perlu dilakukan? Kapankah itu perlu tercapai ? (2018? 2019? 2024? 2030?)

4. Apa dukungan yang diperlukan? Rekomendasi kepada siapakah?

9.

Catatan ringkas panel:

1. Permasalahan: 2. Kebutuhan: 3. Rencana bersama:

(42)

Profil Penyelenggara

Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan

Bencana Indonesia (MPBI)

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), didirikan pada 03.03.03 adalah suatu organisasi nirlaba sebagai tempat berhimpun orang perorangan, praktisi, ilmuwan dan pemerhati penanganan bencana dari sektor pemerintah, lembaga internasional, LSM nasional, para akademisi dan lainnya. MPBI adalah juga sarana penghubung bagi dan di antara organisasi-organisasi dan lembaga penanggulangan bencana di Indonesia. Sebagai suatu perhimpunan para praktisi dan jaringan organsiasi-organisasi PB, MPBI berkiprah lebih pada tataran konsep, kebijakan, strategi dan pengembangan kapasitas PB ketimbang pelaksanaan langsung kegiatan PB di lapangan. MPBI adalah anggota Jaringan Pengurangan dan Respons Bencana di Asia (Asian Disaster Reduction and Response Network/ADRRN) dan Sphere Project Focal Point di Indonesia.

Visi MPBI:Masyarakat Indonesia sejahtera yang secara efektif dapat mengelola risiko bencana

Misi MPBI : Mendorong penanggulangan bencana yang profesional, yaitu yang selaras antara teori dan praktik serta beretika.

Tujuan MPBI:

 Mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia

 Menjadi mitra kritis bagi semua penanggulangan

 Mobilisasi sumberdaya anggota untuk pemulihan dan krisis, termasuk pemutihan status keanggotaan.

(43)

42 PROFIL PENYELENGGARA | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII Program MPBI:

Program 1 Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Bidang Kebencanaan (Center of Knowledge)

Program 2 Advokasi PB

Program 3 Peningkatan Kapasitas dan Penguatan Organisasi & Keanggotaan

Strategi

 Melibatkan anggota dan jejaring MPBI

 Bermitra dengan lembaga yang mempunyai tujuan selaras

PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BIDANG KEBENCANAAN (CENTER OF KNOWLEDGE)

Kegiatan:

1. Pengkajian: pelaksanaan UU PB, pengembangan kriteria PB. a. Pengembangan pengetahuan

i. Publikasi: jurnal/newsletter (CARR), panduan

ii. Penerjemahan dan publikasi:INEE 2010, Sphere 2011, Protection ALNAP 2006, LEGS 2008, Preventing Corruption in Humanitarian Actions, Minimum Standards on Economic Recovery after Crisis, Core Humanitarian Standards

b. Pengembangan situs/website 2. Pelatihan dan modul

3. Penelitian

ADVOKASI PB

Kegiatan:

1. Melakukan advokasi dengan beragam pihak untuk isu-isu akuntabilitas, hutang, PRB bagi PILEG dan PILKADA, pemulihan, tindaklanjut WCDRR, SDG, WHS, perkebunan, pertambangan, dampak pembangunan hasil RPJMN, RENSTRA K/L, RPJMD, RPJM Desa, penerapan standar-standar.

(44)

2. Melanjutkan advokasi dan penyempurnaan Undang-Undang PB dan peraturan turunannya yang sedang berjalan melalui kerjasama dengan DPR dan eksekutif, penguatan koalisi antar lembaga, dan menjaring input melalui konsultasi publik

3. Memastikan produk-produk hukum yang telah ada berjalan sebagaimana mestinya dan mensinkronkan UU PB dengan produk hukum lain yang terkait.

PENINGKATAN KAPASITAS

Kegiatan:

1. Paket-paket penguatan pemerintah dan masyarakat daerah 2. Peningkatan kapasitas organisasi MPBI

PENGUATAN ORGANISASI &KEANGGOTAAN

Sasaran

MPBI mandiri berjejaring bagus, bekerjasama dengan lembaga teknis setempat yang anggota memahami Kode Etik, membayar iuran, dan terlibat aktif dalam kelompok kerja.

Kegiatan:

1. Diskusi PRB-API

2. MPBI Gatherings, Pertemuan tim dan anggota, pergi bersama 3. Belajar dan berbagi pengetahuan – mengunjungi kota/loasi

bencana

4. Pengembangan kapasitas

5. Perayaan hari-hari (misalnya Hari PRB, dll) Mekanisme Organisasi

 Musyawarah anggota sebagai forum tertinggi

 Presidium sebagai pelaksana kebijakan

 Sekretariat Jenderal sebagai pelaksana harian Presidium Periode 2015-2018

(45)

44 PROFIL PENYELENGGARA | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII  DR Ir Eko Teguh Paripurno, M.Eng,.

 Henny Vidiarina, S. Th.

Pengurus Harian Periode 2015-2018

 Sekretaris Jenderal: Catur Sudiro, MBA

 Sekretaris : Avianto Amri

 Bendahara : Siti Istikanah, S. Pd. Sekretariat MPBI:

Jl. Kalasan No. 45 B, Pegangsan, Menteng, Jakarta Pusat Email : [email protected]

Website : www.mpbi.info

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

(BPBD) NTB

BPBD Provinsi NTB beralamat di Jalan Dr. Soedjono Lingkar Selatan Kota Mataram.

Visi BPBD

Mewujudkan Masyarakat Nusa Tenggara Barat Yang Tangguh Adaptif Bencana”.

Misi BPBD

1. Meningkatkan kapasitas pelayanan internal dan data/informasi kebencanaan

2. Memantapkan kecepatan dan ketepatan penanganan bencana; 3. Mempercepat perwujudan kawasan tangguh bencana;

4. Meningkatkan keamanan, keselamatan dan keberlanjutan sarana prasarana wilayah pada kawasan rawan bencana.

(46)

Unsur-unsur organisasi BPBD Provinsi NTB sebagaimana ketentuan Pergub NTB Nomor 14 Tahun 2009 terdiri dari Kepala BPBD, Unsur Pengarah dan Unsur Pelaksana.

a. Kepala Badan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dikepalai oleh seorang kepala badan secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

b. Unsur Pengarah

Pasal 7 Ayat (1) menegaskan bahwa Unsur Pengarah terdiri dari unsur perangkat daerah, instansi pemerintah yang terkait serta masyarakat profesional dan ahli.Pasal 8 Ayat (1) menegaskan bahwa Unsur Pengarah mempunyai tugas menyusun konsep pelaksana kebijakan penanggulangan bencana daerah serta memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan penanggulangan bencana daerah. Dalam melaksanakan tugas, Unsur Pengarah menyelenggarakan fungsi:

1) Penyusunan konsep pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana daerah;

2) Pelaksanaan pemantauan penyelenggaraan bencana daerah; dan

3) Pelaksanaan evaluasi penyelenggaraan penanggulangan bencana daerah.

c. Unsur Pelaksana

1. Pelaksana BPBD

Pelaksana BPBD mempunyai tugas membantu Kepala BPBD dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana secara terintegrasi meliputi prabencana, saat tanggap darurat dan pascabencana. Dalam melaksanakan tugas, Pelaksana BPBD menyelenggarakan fungsi:

a) Penyiapan perumusan kebijakan teknis bidang penanggulangan bencana;

b) Pelaksanaan fungsi koordinasi, pengkomandoan dan pelaksana di bidang penanggulangan bencana;

c) Pembinaan, fasilitasi dan pelaksanaan tugas di bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, penanganan darurat,

(47)

46 PROFIL PENYELENGGARA | Buku Panduan Peserta KN PRBBK XIII

rehabilitasi dan rekonstruksi, logistik dan peralatan lingkup provinsi dan kabupaten/kota;

d) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas; e) Pengelolaan administrasi keuangan, kepegawaian,

perlengkapan, rumah tangga dan ketatausahaan di lingkungan BPBD; dan

f) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Gubernur.

2. Sekretariat

Tugas Sekretariat berdasarkan Pergub NTB Nomor 14 Tahun 2009 adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, umum, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, kehumasan dan keprotokolan.

Dalam melaksanakan tugas, sekretariat menyelenggarakan fungsi : a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan BPBD;

b) Penyiapan koordinasi penyeserasian program BPBD;

c) Pengkoordinasian pelaksanaan tugas unit-unit organisasi di lingkungan Pelaksana BPBD;

d) Penyusunan rencana kerja dan program Pelaksana BPBD; e) Pengkoordinasian pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan; dan

f) Pembinaan dan pengelolaan urusan keuangan, ketatausahaan, kepegawaian, perlengkapan dan kerumahtanggaan.

Sekretariat, membawahi : a) Subbagian Program; b) Subbagian Keuangan; dan

c) Subbagian Umum dan Kepegawaian

Masing-masing Subbagian dipimpin oleh Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Sekretaris.

3. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan

Tugas Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan berdasarkan Pergub NTB Nomor 14 Tahun 2009 adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan yang meliputi penyusunan, pelaksanaan dan pengkoordinasian program dan strategi penanggulangan bencana pada tahapan prabencana.

(48)

Dalam melaksanakan tugas, Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan menyelenggarakan fungsi:

a) Penyusunan kebijakan dan strategi pencegahan, peringatan dini dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

b) Penyusunan rencana kerja dan program pencegahan, peringatan dini dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana; c) Pelaksanaan koordinasi pencegahan, peringatan dini dan

kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

d) Pengkajian dan analisis kemungkinan dampak bencana; e) Pengkajian tindakan pengurangan risiko bencana;

f) Penyusunan prosedur dan mekanisme kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

g) Pelaksanaan koordinasi pemberdayaan dan penguatan ketahanan sosial masyarakat;

h) Pelaksanaan koordinasi penyuluhan dan pelatihan tentang mekanisme tanggap darurat; dan

i) Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan membawahi :

a) Seksi Pencegahan; dan b) Seksi Kesiapsiagaan

Masing-masing Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan.

4. Bidang Kedaruratan dan Logistik

Tugas Bidang Kedaruratan dan Logistik berdasarkan Pergub NTB Nomor 14 Tahun 2009 adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebiajakan yang meliputi penyusunan, pelaksanaan dan pengkoordinasian program dan strategi penanggulangan bencana pada tahapan tanggap darurat.

Dalam melaksanakan tugas, Bidang Kedaruratan dan Logistik menyelenggarakan fungsi :

a) Penyusunan kebijakan dan strategi tanggap darurat dan pengerahan logistik penanggulangan bencana;

b) Penyusunan rencana kerja dan program tanggap darurat dan pengerahan logistik penanggulangan bencana;

Referensi

Dokumen terkait

• Menjelaskan konsep kefarmasian di bidang tanaman obat & simplisia • Membaca & menuliskan nama tanaman & simplisia dalam ejaan latin • Menjelaskan budidaya tanaman

adalah mahasiswa Fakultas Teknik dari 6 jurusan yang masing-masing diambil 15 orang. sehingga total sampel berjumlah 90

Gambaran status gizi berdasarkan indeks tinggi badan per umur pada anak talasemia β mayor di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr.. Djamil Padang memperlihatkan

Berdasarkan hasil analisis yang dilaku- kan dalam penelitian ini, beberapa kesimpul- an yang dapat diambil adalah: (1) motivasi, insentif dan promosi jabatan berpengaruh

Untuk mengembangkan Pelaksanaan Metode Diskusi dalam rangka Pengembangan Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Teori Seni, khususnya dalam materi Problematika Estetika Filosofis, maka

Simpan file dengan nama “Nikel” dan save as .txt (tab delimited) dengan cara klik file, klik save as, isikan pada “file name” Nikel, dan pada “save as type” pilih Text

Stasiun-stasiun berdasarkan kemi- ripan spesies penghuninya, serta sebaran dan kelimpahan spesies ikan target sangat dipengaruhi oleh kondisi terumbu karang- nya,

Untuk melindungi hak ekonomi pencipta atau pemegang hak cipta menurut Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, maka orang lain yang tanpa izin pencipta